Van den Akker dan Nieveen (Rochmad. 2011: 14) menyatakan bahwa dalam penelitian dan pengembangan perlu memperhatikan kriteria kualitas. Untuk menguji kualitas kelayakan produk dengan
48
memenuhi syararat kevalidan, kepraktisan, dan keefektifan. Kualitas produk dikatakan layak apabila memenuhi kriteria –kriteria berikut :
a. Kevalidan
Menurut Suharsimi Arikunto (2002) validitas adalah suatu ukuran yang menunjukan tingkat kevalidan atas kesahihan suatu instrumen. Sebuah instrumen dikatakan valid apabila mampu mengukur apa yang diinginkan. Sebuah instrumen dikatakan valid apabila dapat mengungkap data dari variabel yang diteliti secara tepat. Menurut Nieveen (1999) aspek validitas dapat dilihat dari: (1) apakah perangkat pembelajaran yang dikembangkan telah sesuai dengan teoritiknya; dan (2) apakah terdapat konsistensi internal pada setiap komponennya.
Sementara itu, Van den Akker (1999: 10) menyatakan: “validity refers to the extent that design of the intervention is based on state-of-the art knowledge (content validity) and that the various components of the intervention are consistently linked toeach other(construct validity).” Validitas mengacu pada apakah produk yang dikembangkan sesuai desain yang didasarkan pada pengetahuan (validitas ini) dan berbagai macam komponen yang berkaitan satu dengan lainya (validitas konstruk).
Dalam penelitian ini perangkat pembelajaran berupa RPP dan LKS dinyatakan valid jika dinyatakan layak digunakan dengan revisi atau tanpa revisi oleh dosen. Kelayakan RPP dinilai dari aspek
49
kelengkapan yang mengacu permendikna No 41 tahun 2007 dan kesesuaian dengan pendekatakan saintifik berbasis problem based learning. Sedangkan kelayakan LKS dinilai dari tiga aspek kelayakan yang dinyatakan oleh Hendro Darmojo dan RE Kaligis yang terdiri dari aspek didaktik, aspek kontruksi, dan aspek teknis. b. Aspek kepraktisan
Van den Akker (1999: 10) menyatakan: “practically refers to the extent that user (or otherexperts) consider the intervention as appealing and usable in normal conditions.” kurang lebih artinya kepraktisan mengacu pada tingkat bahwa pengguna (atau ahli) menganggap perangkat pembelajaran dapat digunakan dan disukai pada kondisi normal. Sedangkan menurut Nieveen (1999) berkaitan dengan pengembangan materi pembelajaran, Nieven mengukur tingkat kepraktisan dilihat dari apakah guru (atau ahli) menganggap materi mudah dan dapat digunakan oleh guru dan siswa.
Dalam penelitian ini, Perangkat pembelajaran dikatakan praktis jika peserta didik dan guru memberikan respon baik terhadap penggunaan perangkat pembelajaran. Respon yang dimaksud adalah terkait dengan keterbantuan dan kemudahan dalam penggunaan perangkat pembelajaran.
50
van den Akker (1999: 10) menyatakan:“effectiveness refer to the extent that the experiences and outcomes with the intervention are consistent with the intended aims.” Keefektifan mengacu pada tingkatan berdasarkan pengalaman menggunakan dan hasil konsisten dengan tujuan yang dimaksud. Sedangkan Chomsin dan Jasmadi (2008 : 48) Efektif berarti membawa pengaruh atau hasil sesuai dengan tujuan. Perangkat pembelajaran dikatakan efektif jika RPP dan LKS yang digunakan dapa membantu siswa mencapai kompetensi yang harus dimilikinya.
Menurut Nieveen (1999) keefektifan dilihat dari tingkat penghargaan siswa dalam mempelajari program dan keinginan siswa untuk terus menggunakan program tersebut. Dalam penelitian pengembangan di bidang pembelajaran, indikator untuk menyatakan bahwa keterlaksanaan model dikatakan efektif misalnya dapat dilihat dari komponen-komponen: (1) hasil belajar siswa; (2) aktivitas siswa; dan (3) kemampuan siswa dalam matematika.
Dalam penelitian ini, hasil belajar siswa dan kemampuan siswa dalam matematika menunjukan dengan tes prestasi belajar. Sehingga perangkar pembelajaran dikatakan efektif ditinjau dari presrasi belajar jika rata-rata nilai tes presrasi belajar siswa lebih dari KKM, yaitu 72. Sedangkan aktivitas siswa ditunjukan dengan kemandirian belajar, Sehingga perangkat pembelajaran dikatakan efektif ditinjau dari kemandirian belajar, jika rata-rata skor
51
kemandirian belajar yang dicapai minimal pada skor kemandirian belajar yang dicapai minimal pada kategori baik yaitu lebih dari 84. B. Penelitian yang Relevan
Beberapa Penelitian yang relevan dengan penelitian ini antara lain
1. Penelitian yang dilakukan oleh Oktaviana Mutia Dewi (2013) tentang pengembangan perangkat pembelajaran matematika berbasis masalah untuk siswa SMP kelas VII. Hasil penelitian menunjukan kualitas perangkat pembelajaran yang dikembangkan dinilai dari segi kevalidan, kepraktisan dan keefektifan memiiliki kriteria baik, dapat diterapkan pada proses pembelajaran.
2. Penelitian yang dilakukan oleh Anis Senja Arsita (2014) tentang pengembangan LKS berbasis masalah pada materi persamaan dan fungsi kuadrat untuk SMA kelas X dengan kurikulum 2013. Hasil penelitian menunjukan kualitas LKS yang dikembangkan dinilai dari segi kevalidan, kepraktisan dan keefektifan memiiliki kriteria baik, dapat diterapkan pada proses pembelajaran. Penelitian ini menggunakan kurikulum 2013 yang menerapkan pendekatan saintifik. Sehingga penelitian ini sangat relevan. 3. Penelitian yang dilakukan oleh Lina Dwi Astuti (2014) tentang penerapan
problem based learning dalam meningkatan kemandirian belajar dan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa kelas VII B SMP Negeri 2 Yogyakarta. Hasil penelitian menunjukan bahwa dengan menggunakan Problem Based Learning, peresentase kemandirian belajar siswa Kelas VII B SMP Negeri 2 Yogyakarta meningkat.
52
4. Penelitian yang dilakukan oleh Sopiyan (2010) tentang efektifitas model pembelajaran problem based learning terhadap hasil belajar siswa SMP kelas VII. Hasil penelitian ini menunujukan bahwa penggunaan model pembelajaran problem based learning lebih efektif dibandingkan dengan model pembelajaran langsung terhadap hasil belajar siswa. Walaupun penelitian ini meneliti tentang hasil belajar, namun pnelitian ini masih relevan. Hal ini dikarenakan hasil belajar digunakan untuk mengukur prestasi belajar.
5. Penelitian yang dilakukan oleh Ermawati (2014) tentang pengaruh penerapan pembelajaran berbasis scientifik terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran matematika kelas VII di SMP N 1 Margahayu. Hasil penelitian menunjukan bahwa pembelajaran matematika menggunakan pendekatan saintifik memiliki pengaruh yang signifikan terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran matematika kelas VII di SMP N 1 Margahayu, Jawa Barat.
6. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Syamsir Kamal (2014) tentang implementasi pendekatan scientifik untuk meningkat kemandirian belajar siswa kelas X SMA Negeri 10 Banjarmasin. Hasil penelitian menunjukan bahwa pembelajaran menggunakan pendekatan scientifik dapat meningkatkan kemandirian belajar siswa yang terdiri dari lima langkah pembelajaran, yaitu mengamati, menanya, mengasosiasi, mengumpulkan informasi dan mengomunikasikan mampu meningkatkan kemandirian belajar matematika siswa. Hal ini tampak adanya peningkatan percaya
53
diri, peningkatan inisiatif, peningkatan tanggung jawab dan peningkatan motivasi dalam belajar matematika. Walaupun penelitian ini untuk siswa SMA kelas X, namun penelitian ini masih relevan. Hal ini dikarenakan siswa SMA kelas X masih dalam tahap perkembangan kognitif operasional formal sama halnya dengan siswa SMP kelas VII.
7. Penelitian yang dilakukan oleh Etherington. M.B (2011) dengan judul “Investigative Primery Science: A Problem Based Learning Approach”. Hasil penelitian menunjukan bahwa hasil belajar sains dengan menggunakan problem based learning sangat baik. Selain itu, diqrekomendasikan agar dapat menggunakan pembelajaran dengan problem based learning.
8. Penelitian yang dilakukan oleh Frank Quinn (2012) dengan judul “A Science of learning Approach to Mathematic Education”. Hasil penelitian menunjukan bahwa siswa mudah memahami matematika dengan menggunakan pendekatan saintifik. Hal ini dikarenakan siswa menemukan sendiri konsep matematika pada pembelajaran.
54 C. Kerangka Berpikir
55