• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kuman Lala Bohang

Dalam dokumen Perkara Mengirim Senja - first draft (Halaman 47-55)

Apa kurangnya dia?” “Tidak ada.”

“Lalu kenapa sekarang kamu ada di sini?” “Karena aku juga cinta sama kamu.”

***

BAHWA cinta memiliki kemampuan menggandakan diri untuk dua orang berbeda dalam kadar yang sama, baru saja terkuak. Aku sempat mengira jatuh cinta itu semata-mata aksi menyelamatkan diri dari hal-hal yang tidak perlu. One night stand yang diikuti sesal di pagi hari, atau flirting sia-sia setiap Sabtu malam. Jika ternyata kesakralan cinta pun sekusut ini, lebih baik aku menghabiskan malam bersama lelaki berbeda untuk menikmati rentetan nafsu yang tidak mengenal rasa.

Pertemuan dengan seorang bartender kurang ajar mengawali semuanya.

Setiap malam, dia mencampur cinta pada minum-an yminum-ang diraciknya untukku. Meludahinya, mengen-cinginya, dan memberakinya dengan cinta. Bukannya aku tak tahu itu, hanya saja tubuh ini sudah terlalu lelah dan dikuasai dahaga untuk peduli. Tiga puluh tahun mencicipi hidup, belum pernah sekalipun aku dijenguk cinta. Jadi, tidak salah bukan jika aku merasa hati kedaluarsa ini tidak perlu takut teracuni? Perasa-an intim hPerasa-anya muncul saat mendengar lenguhPerasa-an panjang para lelaki. Ada rasa hangat aneh yang

men-jadi candu, ingin lagi dan lagi. Terkadang aku mem-balas dengan rintihan singkat, atas nama sopan san-tun. Ibu pernah bilang kalau cinta seorang pria dapat diukur dari kadar lenguhannya, semakin panjang se-buah lenguhan maka akan semakin banyak cinta yang dikucurkan malam itu. Ya, satu malam saja.

Bartender kurang ajar itu bahkan tidak mendekati sedikit pun kriteria lelaki yang sering kuhadiahi le-nguhan. Setengah wajahnya dihiasi bekas luka bakar dan kakinya pendek sebelah, Aku tidak pernah peduli apa yang menyebabkannya. Setiap malam, aku dibuat risih dengan tatapannya yang siap menelan saat aku bernyanyi dan bergoyang di atas panggung. Dia akan berdiri mematung di belakang meja bar, di balik kabut kepulan asap rokok, memandang diam-diam tanpa terselip secuil pun hasrat. Dan aku selalu berhasil mengabaikannya tanpa usaha berarti.

Pada satu sore yang biasa saat bersiap untuk be-kerja, bongkahan di balik dadaku berdetak cepat da-lam irama yang tidak dapat kuikuti. Begitu kencang-nya, seolah-olah ia siap meloncat keluar. Aku begitu gentar karena tidak siap mati. Dengan bibir yang ter-oles gincu merah menyala, dalam becak aku meng-ubah haluanku menuju rumah sakit terdekat.

”Kamu bukan sakit jantung, ini jatuh cinta.” “Tapi aku tidak sedang jatuh cinta, Dok.” “Jadi kamu lebih pilih sakit jantung?” “Pilih yang tidak mahal, Dok.”

Aku pulang masih de-ngan jantung yang berdetak lincah. Keringat dingin mem-basahi seluruh tubuhku dalam gigil yang menyiksa. Ternyata jatuh cinta hanyalah semacam penyakit demam kurang ajar yang melonjak-lonjakkan jantungku seperti ingin melarikan diri dari rongga dada. Tak ada kupu-kupu cantik beterbangan dalam perut. Aku tak mengerti orang-orang berbahagia karena jatuh cinta.

***

Dia mendekap tanpa jarak, seakan tubuh ini terbuat dari porselen yang mudah pecah. Malam itu dia berbaring tenang di sebelahku. Matanya sesekali menatap langit yang sedang dibanjiri bintang.

Ka-sar wajahnya aki-bat bekas luka

yang bau apak

me-nempel rapat

pada pipiku yang merah muda. Aku merasa jijik se-kaligus menikmatinya. Sebelah kakinya yang lebih pendek mendekap erat betisku yang mulus. Kepalaku pening karena mual, tapi tidak ingin lepas

Seharusnya aku cukup kuat untuk membunuh kuman cinta yang tidak berguna ini. Aku mencium-nya. Aku tidak mau tahu, kuman cinta ini harus mampu menghidupi dan memberiku makan setiap hari. Oh, dan tentu saja membelikan gincu merah. Aku menciumnya sekali lagi dengan penuh hasrat.

Oh, kumanmu ini sungguh tidak berguna! Kami

ber-gumul hingga mentari mengintip malu-malu.

***

“Kamu cinta sama dia?” “Cinta setengah mati.”

“Katanya kamu jijik sama wajah cacat dia?” “Iya jijik, tapi cinta setengah mati.”

***

Setiap malam, si bartender kurang ajar setia melayang-kan tatapan yang sama ketika aku bernyanyi dan bergoyang di atas panggung. Hanya saja sekarang aku juga bernyanyi dan bergoyang untuknya. Beberapa waktu sekelompok lelaki pelenguh yang patah hati menatap nanar pada getaran tubuhku, memohon un-tuk dikasihani. Aku hanya menginginkan malam

ber-sama bartender kurang ajar. Selalu terbayang lenguhan pendeknya dan jeritan panjangku yang tidak pernah gagal memecah malam. Kala siang dan malam, hujan dan kemarau, aku menghabiskan hidup dengannya tanpa keluh dan tuntutan.

“Kalau kamu ingin menghabiskan malam dengan yang lain aku tak mengapa.”

Hatiku hancur seperti sedang dirajam. “Kenapa kamu bilang begitu?”

Dia mengusap bekas lukanya yang berminyak karena peluh. Titik-titik keringat sebesar kacang tanah bermunculan di tengkuknya.

“Kamu cantik seperti bidadari, dan itu tidak ber-langsung selamanya. Sudah semestinya bidadari me-nikmati waktunya dengan dewa yang gagah.”

Dia diam.

“Ketika waktumu menjadi bidadari telah usai, kamu akan terus bersamaku sampai kita berdua habis dimakan usia.”

***

Bartender kurang ajar itu sudah tahu sejak awal. Sang dewa gagah menampakkan sosoknya pada hari ber-ikutnya, ketika senja tengah bersiap mencumbu ma-lam. Tubuhnya memendarkan cahaya oranye mema-bukkan. Aku mengejang dalam diam sampai

melupakan kalimat yang kusenandungkan setiap hari, berharap mata tajam itu singgah

dan menelanjangi tubuhku. Seisi bar dibuat terpesona olehnya hingga menciptakan hening yang menggelitik. Lelaki dan perempuan menatap tanpa kedip. Konon, dewa gagah adalah putra seorang raja di negeri yang tidak mengenal istilah waktu dan kematian. Dia da-tang untuk membawa pulang seorang mempelai yang akan menyempurnakan keabadiannya.

Bartender kurang ajar menatap dari balik meja bar dan kepulan asap rokok. Matanya tetap sama, dengan setitik rasa kehilangan di sana.

Dadaku berdegup kencang, jauh lebih kencang dan tidak berirama daripada yang pertama kali. Aku menggelengkan kepala. Bukankah cinta hanya terjadi satu kali? Setidaknya itulah yang diajarkan dongeng picisan dengan akhir cerita bahagia. Aku sudah baha-gia dengan si bartender kurang ajar, kenapa mesti berdetak tanpa aku suruh? Dasar organ bodoh!

“Kamu jatuh cinta lagi.”

”Tapi aku sudah jatuh cinta, Dok ... waktu itu.” “Iya, tapi sekarang kamu jatuh cinta lagi.” “Tapi kenapa cinta yang sebelumnya tetap ada?” “Begitulah cinta.”

Marah sekali dengan cinta. Aku meninggalkan rumah sakit yang sumpek beraroma orang mati de-ngan rasa penat yang tidak dapat kutahan. Barangkali

 Dari cerpen Seno Gumira Ajidarma: Hujan, Senja, dan Cinta (001). Karakter bartender dan penyanyinya terinspirasi dari karakter di cerita pendek Seno Gumira Ajidarma: Lipstick, Atas Nama Malam (1)

mereka semua tewas karena kelelahan harus jatuh cinta berkali-kali dalam kehidupan yang begitu sing-kat. Hanya dua kali, dan aku sudah seperti mayat hidup. Aku ingin sekali kembali ke rentetan malam yang cuma dipenuhi lenguhan.

***

“Kamu lebih cinta aku atau dia?” ”Kalian berdua.”

”Tidak boleh harus memilih.” ”Aku mau dua-duanya.”

***

Bartender kurang ajar berdiri diam di balik jendela berembun, sabar menunggu sang waktu merenggut so-sok bidadari yang menyelimutiku. Aku menatap wajah buruknya penuh cinta dan kasih, lalu merangkul dewa gagah yang telah menghadiahiku keabadian.

Ulang

Dalam dokumen Perkara Mengirim Senja - first draft (Halaman 47-55)