KUR bagi TKI yang selanjutnya disebut KUR TKI, adalah skema KUR yang disalurkan kepada TKI untuk memenuhi pembiayaan yang menjadi tanggung-jawabnya dalam proses penempatan ke luar negeri.
8. KUR TKI Mikro:
KUR TKI dengan plafon sampai dengan Rp 20.000.000,- (dua puluh juta rupiah) dikenakan suku bunga kredit/marjin pembiayaan maksimal sebesar/setara 22% (dua puluh dua persen) efektif per tahun.
9. KUR TKI Ritel:
KUR TKI dengan plafon diatas Rp 20.000.000,- (dua puluh juta rupiah) sampai dengan Rp 500.000.000,- (lima ratus juta rupiah) dikenakan suku bunga kredit/marjin pembiayaan, maksimal sebesar/setara 14% (empat belas persen) efektif per tahun.
10.Penempatan TKI:
Penempatan TKI adalah kegiatan pelayanan untuk mempertemukan TKI sesuai bakat, minat dan kemampuannya dengan pemberi kerja di luar negeri yang meliputi keseluruhan proses perekrutan, pengurusan dokumen, pendidikan dan pelatihan, penampungan, persiapan pemberangkatan, pemberangkatan sampai ke negara tujuan dan pemulangan dari negara tujuan.
11.Pelaksana Penempatan Tenaga Kerja Indonesia Swasta (PPTKIS):
Pelaksana Penempatan TKI Swasta adalah badan hukum yang telah memperoleh izin tertulis dari Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi.
12.Bank Koresponden:
Bank Koresponden adalah bank yang mempunyai hubungan test key arrangement dengan Bank Pelaksana KUR baik dalam bentuk authorized signature list , telex test key arrangement , maupun SWIFT authentication key.
13.Mitra Usaha:
Instansi atau badan usaha berbentuk badan hukum di negara tujuan yang bertanggung jawab menempatkan TKI pada Pengguna.
14.Pengguna Jasa TKI:
Pengguna Jasa TKI yang selanjutnya disebut dengan Pengguna adalah Instansi, badan usaha berbentuk badan hukum dan/atau Perseorangan di negara tujuan yang mempekerjakan TKI.
15.Perjanjian Kerja Sama Penempatan:
Perjanjian tertulis antara Pelaksana Penempatan TKI Swasta (PPTKIS) dengan Mitra Usaha atau Pengguna yang memuat hak dan kewajiban masing-masing pihak dalam rangka penempatan serta perlindungan TKI di negara tujuan.
16.Perjanjian Kerja:
Perjanjian tertulis antara TKI dengan Pengguna yang memuat syarat-syarat kerja, hak dan kewajiban masing-masing pihak.
BAB I BAB IBAB I BAB IIIII PELAKSANAAN KUR PELAKSANAAN KUR PELAKSANAAN KUR PELAKSANAAN KUR TKITKITKITKI
A. A. A.
A. Ketentuan UmumKetentuan UmumKetentuan UmumKetentuan Umum
Kredit Usaha Rakyat (KUR) bagi TKI adalah kredit/pembiayaan modal kerja kepada TKI yang dijamin oleh Perusahaan Penjamin. Penyaluran KUR TKI ditujukan untuk
membantu pembiayaan penempatan TKI.
Sumber dana KUR TKI adalah 100% (seratus persen) berasal dari dana Bank Pelaksana. KUR yang disalurkan oleh Bank Pelaksana dijamin secara otomatis bersyarat (conditional automatic cover ) oleh Perusahaan Penjamin dengan nilai penjaminan sebesar 80% (delapan puluh persen).
Besarnya pinjaman KUR TKI dapat diberikan maksimal 100% (seratus persen) dari biaya penempatan yang mencakup biaya:
a. pengurusan dokumen jati diri;
b. pemeriksaan kesehatan dan psikologi,
c. pelatihan kerja dan sertifikasi kompetensi kerja; dan
d. biaya lain yang diatur lebih lanjut dengan Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi
Mekanisme penyaluran KUR TKI diatur sebagai berikut:
a) Bank melakukan penilaian secara individu terhadap TKI. Apabila dinilai layak dan disetujui, maka TKI menandatangani Perjanjian Kredit .
b) Bank mengajukan permohonan penjaminan kepada Perusahaan Penjamin sebesar 80% (delapan puluh persen) dan selanjutnya Perusahaan Penjamin menerbitkan Sertifikat Penjaminan.
B. Penyaluran … B.
B. B.
B. Penyaluran KUR Penyaluran KUR Penyaluran KUR Penyaluran KUR TKITKITKITKI Bank Pelaksana TKI a Perusahaan Penjamin b
Untuk melaksanakan KUR TKI, diatur hal-hal sebagai berikut: 1. dapat disalurkan oleh semua Bank Pelaksana KUR.
2. tidak diwajibkan untuk dilakukan pengecekan pada Sistem Informasi Debitur untuk KUR TKI Mikro.
3. suku bunga kredit/marjin pembiayaan maksimal sebesar/setara 22% (dua puluh dua persen) efektif per tahun untuk KUR TKI Mikro dan maksimal sebesar/setara 14% (empat belas persen) efektif per tahun untuk KUR TKI Ritel.
C. C. C.
C. TKI yang dapat mengajukan KUR TKI yang dapat mengajukan KUR TKI yang dapat mengajukan KUR TKI yang dapat mengajukan KUR
1. Berusia sekurang-kurangnya 18 (delapan belas) tahun, dibuktikan dengan Kartu Tanda Penduduk (KTP) atau akte kelahiran/Surat Kenal Lahir dari instansi yang berwenang.
2. Surat ijin dari suami/istri/orang tua/wali untuk bekerja di luar negeri.
3. Surat hasil Medical Check-Up yang menyatakan fit untuk bekerja dari rumah sakit/ medical cente r yang ditunjuk oleh pemerintah.
4. Berpendidikan sekurang-kurangnya lulus Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) atau yang sederajat, dengan bukti melampirkan salinan ijazah pendidikan terakhir. 5. Memiliki Perjanjian Penempatan dengan PPTKIS.
6. Memiliki Perjanjian Kerja dengan Pengguna bagi TKI yang ditempatkan oleh PPTKIS, Pemerintah, dan TKI yang bekerja secara perseorangan.
7. Memiliki Kartu Tenaga Kerja Luar Negeri (KTKLN) yang dikeluarkan oleh Pemerintah.
D. D. D.
D. PersyaratanPersyaratanPersyaratanPersyaratan Bank PelaksanaBank PelaksanaBank PelaksanaBank Pelaksana KUR TKIKUR TKIKUR TKIKUR TKI 1. Bank Pelaksana harus menyusun
a. Rencana bisnis minimal selama 1 (satu) tahun. b. SOP Penyaluran KUR TKI
c. Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan PPTKIS antara lain mengatur hak dan kewajiban PPTKIS
2. SOP Penyaluran KUR TKI yang disusun Bank Pelaksana mengatur antara lain: a. Gaji TKI akan dibayar langsung melalui rekening TKI di bank koresponden
b. Kewajiban pengguna perorangan untuk menempatkan deposit minimal sebesar 6 (enam) bulan gaji TKI pada bank koresponden
c. PPTKIS wajib menempatkan deposit pada Bank Pelaksana
3. Bank Pelaksana wajib menghentikan penyaluran KUR TKI apabila tingkat NPL mencapai maksimal 5% (lima persen). Bank Pelaksana dapat kembali menyalurkan KUR TKI setelah melakukan perbaikan mekanisme penyaluran KUR TKI.
E. E. E.
E. TugasTugasTugasTugas KementerianKementerianKementerian Tenaga Kerja dan TransmigrasiKementerian Tenaga Kerja dan TransmigrasiTenaga Kerja dan TransmigrasiTenaga Kerja dan Transmigrasi
1. Melakukan pelatihan keuangan kepada TKI yang akan ditempatkan sehingga memahami produk bank, khususnya kredit
2. Memantau kinerja PPTKIS yang bekerjasama dengan bank pelaksana KUR TKI
3. Menerbitkan dan mensosialisasikan ketentuan pembukaan deposit minimal sebesar 6 (enam) bulan gaji TKI bagi Pengguna Perorangan
4. Menerbitkan dan mensosialisasikan ketentuan pembukaan rekening bank koresponden oleh Pengguna untuk pembayaran gaji TKI
F. F. F.
F. Jangka Waktu Jangka Waktu Jangka Waktu Jangka Waktu
Jangka waktu KUR TKI ditetapkan maksimal sesuai dengan masa kontrak kerja dan tidak melebihi 3 (tiga) tahun.
G. G. G.
G. Imbal JasaImbal JasaImbal JasaImbal Jasa PenjaminanPenjaminanPenjaminanPenjaminan
1. Imbal Jasa Penjaminan menjadi beban Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN), dihitung dari Nilai Penjaminan yang diperjanjikan. Tarif Imbal Jasa Penjaminan ditentukan dalam Peraturan Menteri Keuangan
2. Tata cara penagihan dan pembayaran Imbal Jasa Penjaminan diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan.
3. SOP tentang Verifikasi Pembayaran Imbal Jasa Penjaminan KUR dan Pembayaran Imbal Jasa Penjaminan KUR mengikuti ketentuan dalam Peraturan Menteri Keuangan.
H. H. H.
H. Ketentuan PenjaminanKetentuan PenjaminanKetentuan PenjaminanKetentuan Penjaminan 1. Syarat Klaim
Klaim dapat diajukan kepada Perusahaan penjamin setelah:
a. Perjanjian kredit jatuh tempo dan Debitur KUR TKI tidak melunasi kewajiban pengembalian pinjaman, atau
b. KUR TKI yang bersangkutan dalam kolektibilitas kredit 4 (diragukan) sesuai ketentuan Bank Indonesia, atau
2. Besarnya Klaim
Klaim penjaminan yang dapat diajukan oleh Bank Pelaksana adalah 80% (delapan puluh persen) x (sisa pokok + bunga pada saat pengajuan klaim + denda) dengan setinggi-tingginya sebesar 80% (delapan puluh persen) x plafon KUR.
3. Resiko Kerugian Debitur KUR TKI yang tidak dijamin, yaitu:
a. Bencana alam nasional (dan/atau wabah penyakit menular pada manusia/ hewan berkuku/unggas) yang ditetapkan oleh Pemerintah negara penempatan. b. Reaksi nuklir, sentuhan radio aktif, radiasi reaksi inti atom yang langsung
mengakibatkan kegagalan usaha Debitur untuk melunasi KUR TKI tanpa memandang bagaimana dan dimana terjadinya.
c. Peperangan baik dinyatakan maupun tidak di wilayah negara penempatan yang dinyatakan dalam keadaan bahaya atau dalam keadaan darurat perang.
d. Huru-hara yang berkaitan dengan gerakan atau kerusuhan politik yang secara langsung mengakibatkan kegagalan debitur untuk melunasi KUR TKI.
e. Tindakan hukum yang dilakukan oleh Pemerintah Republik Indonesia terhadap debitur dan/atau bank yang mengakibatkan debitur wanprestasi.
Kecuali ditetapkan lain oleh Komite Kebijakan. 4. Subrogasi
a. Klaim yang telah dibayar oleh Perusahaan Penjamin kepada Bank Pelaksana tidak membebaskan debitur dari kewajibannya untuk melunasi kredit/ pembiayaan.
b. Dalam hal Perusahaan Penjamin telah membayar klaim kepada Bank Pelaksana maka hak tagih dan hasil penjualan agunan beralih menjadi hak subrogasi yang dibagi secara proporsional antara Perusahaan Penjamin dan Bank Pelaksana. c. Berdasarkan pertimbangan dan untuk kepentingan Debitur KUR TKI, antara lain
dalam hal pemenuhan agunan tambahan, maka Kementerian Keuangan melalui Peraturan Menteri Keuangan dapat mengatur kembali mengenai ketentuan dan pelaksanaan subrogasi tersebut diatas.
5. Pelaksanaan pembayaran klaim:
a. Dalam hal terjadi tuntutan klaim dari bank pelaksana dan persyaratan klaim telah terpenuhi untuk dibayar sedangkan pihak penjamin belum menerima Imbal Jasa Penjaminan dari pemerintah, maka perusahaan penjamin harus melakukan pembayaran atas tuntutan klaim tersebut
b. Secara keseluruhan pembayaran klaim maksimum yang dapat dilakukan oleh Perusahaan penjamin adalah sebesar maksimum dana Penyertaan Modal Negara (PMN) yang ditempatkan pada Perusahaan Penjamin ditambah hasil investasi dari modal PMN dan imbalan jasa penjaminan setelah dikurangi biaya operasional.
6. Tata cara pengajuan penjaminan, tata cara pengajuan klaim, gugurnya hak klaim, subrogasi dan lain-lain agar mengacu pada Perjanjian Kerjasama yang ditandatangani oleh Bank Pelaksana dengan Perusahaan Penjamin.
I. I. I.
I. Monitoring, Evaluasi, dan PengawasanMonitoring, Evaluasi, dan PengawasanMonitoring, Evaluasi, dan PengawasanMonitoring, Evaluasi, dan Pengawasan
1. Komite Kebijakan melakukan monitoring dan evaluasi setiap 3 (tiga) bulan. Hasil kegiatan tersebut disampaikan dalam bentuk laporan.
2. Pengawasan
a. Komite Kebijakan melakukan pengawasan atas pelaksanaan Kredit Usaha Rakyat sebagai tindakan yang bersifat preventif dan melakukan verifikasi secara selektif melalui Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP).
b. Dalam melakukan pengawasan tersebut, BPKP akan bekerjasama dengan unit audit internal Bank Pelaksana dan Perusahaan Penjamin.
c. Pelaksanaan pengawasan oleh BPKP akan diatur tersendiri dalam SOP Pengawasan KUR dengan berpedoman pada SOP Pelaksanaan KUR TKI dan Perjanjian Kerjasama antara Bank Pelaksana dengan Perusahaan penjamin.
J. J. J.
J. PelaporanPelaporanPelaporanPelaporan
1. Bank Pelaksana KUR TKI melaporkan penyaluran kredit/pembiayaan setiap bulan kepada Komite Kebijakan melalui Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian selaku Ketua Tim Pelaksana Komite Kebijakan dengan tembusan kepada Perusahaan Penjamin dengan format laporan sebagai berikut:
a. Realisasi total penyaluran dan baki debet dari KUR TKI Mikro dan KUR TKI Ritel, termasuk jumlah debiturnya;
b. Realisasi penyaluran KUR TKI menurut sektor lapangan kerja TKI, termasuk jumlah debiturnya;
c. Realisasi penyaluran KUR TKI menurut provinsi asal TKI, termasuk jumlah debiturnya;
d. Realisasi penyaluran KUR TKI menurut negara tujuan TKI, termasuk jumlah debiturnya;
e. Jumlah Kredit Bermasalah (Non Performing Loan = NPL), termasuk jumlah debitur, sektor lapangan kerja, provinsi asal, dan negara tujuan TKI.
2. Perusahaan Penjamin setiap bulannya melaporkan pengajuan dan realisasi klaim dari setiap Bank Pelaksana kepada Komite Kebijakan melalui Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian selaku Ketua Tim Pelaksana, dengan tembusan kepada Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan, Kementerian Keuangan selaku regulator dan kepada Bank Pelaksana dengan format laporan sebagai berikut:
a. Pengajuan Penjaminan kredit/pembiayaan; b. Pengajuan Klaim kredit/pembiayaan;
c. Realisasi pembayaran Klaim, persentase Non Performing Guarantee (NPG); d. Klaim yang masih dalam proses;
e. Klaim yang ditolak.
3. Laporan sebagaimana dimaksud angka 1) dan angka 2) berisi data posisi akhir bulan dan disampaikan paling lambat tgl 10 bulan berikutnya.