• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kurikulum Program Studi Magister Manajemen - -Mata Kuliah Etika Bisnis

SOSIAL-MANAJEMEN

RENTANG PEMIKIRAN IDCP DALAM MATA KULIAH KULIAH ETIKA BISNIS

2. Kurikulum Program Studi Magister Manajemen - -Mata Kuliah Etika Bisnis

Secara umum kurikulum jenjang magister diarahkan agar peserta didik dapat menguasai teori dan teori aplikasi bidang pengetahuan tertentu, menguasai teori aplikasi bidang pengetahuan dan keterampilan tertentu. Pada program magister manajemen biasanya tujuan pendidikan diarahkan agar lulusan yang memiliki kompetensi dibidang ilmu manajemen dan memiliki keterampilan manajerial dan pengambilan keputusan yang berwawasan luas, berintegritas dan berkarakter. Maka mahasiswa program magister manajemen atau lulusan program magister manajemen, disamping dituntut untuk memahami dan terampil secara manajerial juga dituntut untuk berintegritas dan berkarakter. Untuk mencapai tujuan tersebut maka salah satu mata kuliah yang harus dipelajari adalah etika bisnis.

Secara umum, etika (ethics) adalah disiplin yang menguji standar moral seseorang atau standar moral suatu masyarakat untuk mengevaluasi kelayakan atau kewajaran dan implikasinya bagi kehidupan seseorang. Ini dapat berarti juga sebuah standar perilaku yang memberi tahu kita bagaimana manusia harus bertindak dalam banyak situasi di mana mereka menemukan diri mereka sebagai teman, orang tua, anak, warga negara, pebisnis, guru, profesional, dan sebagainya.

09

Ada kalanya memang tidak mudah memahami etika.

Etika tidak sama dengan perasaan karena perasaan dapat memberikan informasi penting untuk pilihan etis.

Beberapa orang memiliki perasaan yang cukup peka, mereka merasa kecewa ketika mereka melakukan sesuatu yang salah, tetapi banyak orang merasa baik-baik saja meskipun mereka melakukan sesuatu yang salah. Etika juga bukan agama walaupun didalam setiap agama penuh dengan nilai-nilai etika. Banyak orang mungkin tidak religius atau bahkan bisa mengaku sebagai non-believer, tetapi mereka tetap bisa melakukan pilihan etika yang baik. Agama mendukung standar etika yang tinggi tetapi kadang-kadang tidak mengatasi semua jenis masalah yang kita hadapi. Etika tidak selalu mengikuti hukum. Sistem hukum yang baik memang memasukkan banyak standar etika, tetapi hukum bisa menyimpang dari apa yang etis.

Aturan-aturan hukum dapat juga menjadi rusak secara etis, sebagaimana beberapa rezim totaliter membuatnya.

Hukum dapat menjadi fungsi kekuasaan sendiri dan dirancang untuk melayani kepentingan kelompok-kelompok sempit. Hukum mungkin mengalami kesulitan merancang atau menegakkan standar di beberapa bidang penting, dan mungkin lambat untuk mengatasi masalah yang memiliki dilema etika yang tinggi. Etika juga tidak mengikuti norma yang diterima secara budaya. Beberapa nilai budaya benilai etika yang tinggi, tetapi yang lain bisa menjadi korup - atau tidak dapat menangkap masalah etika tertentu.

Etika bisnis dapat di golongkan sebagai ilmu etika terapan atau etika profesional, yang mempelajari prinsip-prinsip etika dan masalah moral atau etika yang dapat muncul dalam lingkungan bisnis. Ini dapat berlaku untuk semua aspek perilaku bisnis dan relevan dalam sebuah organisasi berikut perilaku individu didalamnya. Etika dapat berasal dari individu, organisasi atau dari sistem hukum. Norma, nilai, etika, dan praktik etis ini adalah prinsip yang memandu para pelaku bisnis, membantu para pelaku bisnis dalam menjaga hubungan yang lebih baik dengan para pemangku kepentingan mereka. Adapun prinsip-prinsip etika yang biasa digunakan untuk memandu pengambilan keputusan bisnis adalah utilitarianism, rights dan fairness atau justice.

Situasi yang dibahas dalam matakuliah ini cukup sulit karena melibatkan masalah kontroversial yang berada di luar keahlian sebagian besar manajer dan tidak mudah dimasukkan ke dalam proses pengambilan keputusan sehari-hari. Namun, nilai-nilai tertentu, seperti kejujuran (honesty), kepercayaan (trust), rasa hormat (respect), dan keadilan (just), sangat penting dalam hubungan bisnis, dan keputusan bisnis memengaruhi kesejahteraan dan hak-hak berbagai pihak, termasuk pemegang saham, karyawan, pelanggan, pemasok, dan masyarakat. Karena alasan ini, masalah etika tidak dapat dihindari dalam pengambilan keputusan bisnis, dan manajer memikul tanggung jawab besar tidak hanya untuk perilaku mereka sendiri tetapi juga untuk iklim etika organisasi mereka dan dampak dari aktivitas bisnis pada masyarakat.

09

Tujuan dari matakuliah ini, sesuai dengan taksonomi Bloom, adalah pengembangan pengetahuan (knowledge), dan keterampilan (skill) dan sikap (attitude) yang memungkinkan manajer untuk mengambil keputusan etis dan keberlanjutan dan menerapkannya secara efektif dalam pengelolaan organisasi. Matakuliah ini tidak dimaksudkan untuk memberi saran keputusan tertentu atau memaksakan nilai atau standar tertentu tetapi sebaliknya memberikan kesempatan untuk menguji keyakinan moral seseorang dan orang lain dan untuk mengeksplorasi bagaimana mereka dapat diintegrasikan etika ke dalam praktik manajemen.

Secara khusus tujuan matakuliah, dari sisi pengembangan pengetahuan (knowledge) adalah adalah agar mahasiswa (a) dapat memahami dimensi bisnis yang keberlanjutan, (b) mengetahui masalah etika yang muncul sebagai bagian integral dari manajemen, latar belakang faktualnya dan bagaimana masalah etika umumnya dianalisis, (c) mengenal konsep dan prinsip-prinsip penalaran etis yang telah dikembangkan dalam teori etika, dan untuk dapat menerapkan konsep-konsep dan prinsip-prinsip ini untuk masalah etika yang muncul, (d) mengenali peluang dan hambatan yang tidak terhindarkan dalam pengambilan keputusan yang memiliki dilema etis dalam situasi bisnis dan pasar yang kompetitif, (e) memahami struktur hukum dan peraturan bisnis yang terkait dengan masalah etika di mana hukum dan peraturan yang ada juga terbuka untuk dikritik dari sudut pandang etis, (f) memahami dasar etika organisasi bisnis dan tata kelolanya, termasuk argumen etis-nya dan yang tidak bertentangan dengan konsep

tanggung jawab sosial perusahaan, (g) dapat memahami masalah etika yang muncul dalam bisnis internasional, dan untuk mengembangkan kerangka kerja dalam pengambilan keputusan etis dilingkungan lintas budaya Dari sisi pengembangan ketrampilan (skill), mahasiswa diharapkan dapat (a) mengenali masalah etika dalam pengalaman pribadi dan orang lain dan menganalisisnya dengan benar berdasar pada teori dan prinsip etika, (b) membuat keputusan manajerial etis dan dapat mengimplementasikan keputusan itu dalam konteks organisasi dan pasar bisnis yang kompetitif, (c) berkomunikasi dengan orang lain untuk mengemukakan pandangan, nilai-nilai dan standar etika yang dipegang, dan (d) melibatkan orang lain dalam refleksi moral, dan untuk mengembangkan konsensus tentang tindakan bisnis yang etis, (e) memberikan kepemimpinan dalam menciptakan dan mempertahankan iklim etika dalam suatu organisasi dan dapat memenuhi tanggung jawab terhadap pemegang saham, karyawan, pelanggan, pemasok, dan masyarakat umum.

Sedangkan untuk pengembangan sikap (attitude) diharapkan mahasiswa dapat (a) menghargai peran penting nilai-nilai etika dalam hubungan bisnis dan pentingnya perlakuan etis untuk orang lain untuk kesuksesan individu dan efektivitas organisasi, (b) menerima tanggung jawab sebagai manajer atas perilaku mereka pribadi, juga jawab terhadap iklim etika organisasi yang berdampak aktivitas bisnis pada kelompok lain di masyarakat, (c) mengakui legitimasi tuntutan masyarakat

09

pada perusahaan dan sistem bisnis Indonesia dan bertanggung jawab agar secara umum bermanfaat bagi banyak pihak, (d) mengembangkan rasa hormat terhadap struktur hukum dan peraturan bisnis serta menghargai adanya keterbatasan dalam hukum dan peraturan yang ada, (e) menumbuhkan integritas pribadi, termasuk kesadaran adanya signifikansi moral dari tindakan dan keberanian untuk bertindak sesuai dengan keyakinan moral yang dipegang.

MENGINFUSIKAN ICDP DALAM MATA KULIAH