• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV GAMBARAN UMUM SEKOLAH

C. Kurikulum Satuan Pendidikan

Pada tahun pelajaran 2008/2009 SMA Bopkri 2 Yogyakarta menerapkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan menjadi rintisan Sekolah Kategori Mandiri (SKM).

Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Tujuan tertentu ini meliputi tujuan pendidikan nasional serta

kesesuaian dengan kekhasan, kondisi dan potensi daerah, satuan pendidikan dan peserta didik. Oleh sebab itu kurikulum disusun oleh satuan pendidikan untuk memungkinkan penyesuaian program pendidikan dengan kebutuhan dan potensi yang ada di daerah.

Pengembangan Kurikulum SMA BOPKRI 2 Yogyakarta (KTSP) yang beragam mengacu pada standar nasional pendidikan untuk menjamin pencapaian tujuan pendidikan nasional. Standar nasional pendidikan terdiri atas standar isi, proses, kompetensi lulusan, tenaga pendidik dan tenaga kependidikan, sarana prasarana, pengelolaan, pembiayaan dan pedoman penilaian pendidikan. Dua dari delapan standar nasional pendidikan tersebut, yaitu Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) merupakan acuan utama bagi satuan pendidikan dalam mengembangkan kurikulum.

Penyelenggaraan pendidikan di SMA BOPKRI 2 Yogyakarta dinilai berhasil apabila kegiatan belajar mampu membentuk pola tingkah laku peserta didik sesuai dengan tujuan pendidikan, serta dapat dievaluasi melalui pengukuran dengan menggunakan tes dan non tes. Proses pembelajaran akan efektif apabila dilakukan melalui persiapan yang cukup dan terencana dengan baik supaya dapat diterima untuk memenuhi:

1. Kebutuhan masyarakat setempat dan masyarakat global,

2. Mempersiapkan peserta didik dalam menghadapi perkembangan dunia global,

D. Sumber daya manusia satuan pendidikan SMA BOPKRI 2

SMA Bopkri 2 Yogyakarta pada tahun ajaran 2008/2009 memiliki sumber daya manusia yang unggul yang memiliki jabatan dan tugas masing- masing. Personil SMA Bopkri 2 Yogyakarta dapat bekerjasama dengan baik sebagai keluarga SMA Bopkri 2 Yogyakarta.

Jumlah seluruh personil di SMA Bopkri 2 Yogyakarta sebanyak 86 orang yang terdiri atas Kepala Sekolah 1 orang, Guru Tetap 22 orang, Guru Tidak Tetap 30 orang, Pegawai Tetap 9 orang, dan Pegawai Tidak Tetap 24 orang.

E. Kondisi Fisik dan Lingkungan

SMA Bopkri 2 Yogyakarta berlokasi di Jalan Jendral Sudirman 87, Yogyakarta. SMA Bopkri 2 Yogyakarta memiliki luas bangunan 3.211,5 meter persegi. Kondisi gedungnya sudah permanen dan secara umum sudah baik. Terdapat 2 gedung yaitu gedung sebelah utara dan gedung sebelah selatan. Gedung sebelah utara terdiri dari 3 lantai dan gedung sebelah selatan terdiri dari 2 lantai. Bangunan sudah terbuat dari tembok seluruh atap menggunakan genteng merah, dan untuk langit-langitnya terbuat dari tembok untuk lantai 1 dan 2. Untuk lantai paling atas, langit-langitnya terbuat dari eternit.

Halaman SMA Bopkri 2 Yogyakarta cukup luas. Halaman tersebut masih terlihat gersang karena kurangnya tumbuhan disekitar lapangan. Meskipun letak sekolah berdekatan dengan jalan raya, tetapi suara bising

kendaraan tidak terlalu mengganggu proses belajar mengajar, karena penempatan kelas-kelas tidak terlalu dekat dengan pintu utama sekolah, sehingga proses belajar mengajar siswa dan guru di kelas bisa berjalan dengan cukup baik.

SMA Bopkri 2 Yogyakarta memiliki beberapa unit ruang yang terdiri dari ruang teori/kelas, ruang guru, ruang kepala sekolah, laboratorium, perpustakaan, dan lain-lain.

1. Ruang Teori/Kelas

Jumlah ruang kelas untuk kelas X ada 7 kelas (A/B/C/D/E/F/G), kelas XI ada 8 kelas (XI Bahasa, XI IPA1, XI IPA2, XI IPA3, XI IPS1, XI IPS2, XI IPS3, XI IPS4) dan kelas XII ada 8 kelas(XII Bahasa, XII IPA1, XII IPA2, XII IPA3, XII IPS1, XII IPS2, XII IPS3, XII IPS 4). Jumlah seluruhnya ada 23 kelas dengan fasilitas :

a) Luas per ruang 56 m2 b) Meja dan kursi terpisah c) Penerangan cukup

d) Papan tulis dan papan pengumuman cukup 2. Kantor

Ruang kantor terdiri dari : a) Kantor Kepala Sekolah

b) Kantor Wakil Kepala Sekolah c) Kantor Guru

e) Kantor Yayasan Bopkri

3. Ruang dan Alat Penunjang Pendidikan Alat penunjang pendidikan meliputi : a) Foto copy dan pengganda

b) Wartel c) Ruang data d) Studio Musik e) Ruang OSIS f) Gudang

g) Kamar mandi/WC putra dan putri h) Peta

i) Jadwal Pelajaran j) Gambar Pahlawan k) Papan Pengumuman l) Papan Presensi

m) Ruang Pembimbing Konseling

4. Laboratorium

SMA BOPKRI 2 memiliki 7 laboratorium, yaitu : a) Laboratorium Bahasa

b) Laboratorium Fisika c) Laboratorium Kimia d) Laboratorium Biologi e) Laboratorium Audio Visual

f) Laboratorium TI dan Komputer g) Laboratorium Internet

5. Perpustakaan

Perpustakaan terletak di lantai satu, dalam pelayanan sirkulasi buku petugasnya ada empat orang.

6. Usaha Kesehatan Sekolah

Melayani siswa yang kesehatannya terganggu pada saat belajar di sekolah. Pelayanan sekolah dilakukan tiap hari dan dijaga oleh seorang petugas kesehatan. Di sana menyediakan obat-obatan sebagai pertolongan pertama, namun bila menderita sakit yang cukup mengkhawatirkan pihak sekolah segera memberitahu orang tua/wali untuk segera mengambil tindakan selanjutnya.

7. Kantin dan Koperasi Sekolah

Koperasi dan Kantin sekolah menyediakan kebutuhan siswa seperti alat tulis, foto copy, makanan, minuman, dan lain-lain. Dengan adanya fasilitas tersebut akan mempermudah siswa dan guru dalam mendapatkan kebutuhannya.

8. Lapangan Olah Raga

Lapangan ini bisa digunakan untuk berbagai kegiatan. Misalnya: untuk olah raga, upacara, pramuka atau acara-acara intern lainnya yang menyangkut kegiatan sekolah.

9. Parkir Kendaraan

Secara keseluruhan, lingkungan fisik SMA Bopkri 2 Yogyakarta sudah cukup kondusif untuk proses belajar-mengajar di sekolah. Letaknya yang berada di pusat kota memudahkan peserta didik untuk menjangkau sekolah.

49

BAB V

ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Data

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November 2008. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas XI IPS SMA Bopkri 2 Yogyakarta. Jumlah siswa kelas XI IPS adalah 127, sedangkan kuesioner yang kembali berjumlah 104 sehingga peneliti hanya mengambil 104 responden. Keseluruhan responden tersebut telah mengisi secara lengkap sehingga jumlah sumber data penelitian ini adalah 104 kuesioner. Berikut ini disajikan tabel yang memuat uraian tentang responden.

Tabel 5.1 Responden Penelitian

Kelas Jumlah Frekuensi Relatif (%)

XI IPS 1 23 22,12

XI IPS 2 29 27,88

XI IPS 3 24 23,08

XI IPS 4 28 26,92

Jumlah 104 100

Berikut ini disajikan deskripsi data variabel-variabel penelitian ini 1. Kemandirian Belajar

Deskripsi kemandirian belajar didasarkan pada Pedoman Acuan Patokan (PAP) tipe II :

Tabel 5.2

Sebaran Klasifikasi Kemandirian Belajar

Skor Frekuensi Persentase (%) Kriteria

98 - 112 43 41,35 Tinggi

88 - 97 5 4,81 Sedang

79 - 87 2 1,92 Rendah

< 79 0 0 Sangat Rendah

Jumlah 104 100

Sumber : Deskripsi Data Penelitian (Lampiran viii, hal 106)

Dari tabel 5.2 menunjukkan bahwa 54 siswa atau 51,92% mempunyai kemandirian belajar yang sangat tinggi, 43 siswa atau 41,35% mempunyai kemandirian belajar tinggi, 5 siswa atau 4,81% mempunyai kemandirian sedang, 2 siswa atau 1,92% mempunyai kemandirian rendah dan tidak ada siswa yang memiliki sikap kemandirian belajar yang sangat rendah. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sebagian besar siswa mempunyai kemandirian belajar yang sangat tinggi.

0 10 20 30 40 50 60 Kemandirian Belajar Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat Rendah

Gambar 5.1 Sebaran Klasifikasi Kemandirian Belajar

2. Jumlah Jam Belajar

Deskripsi jumlah jam belajar didasarkan pada Pedoman Acuan Patokan (PAP) tipe II :

Tabel 5.3

Sebaran Klasifikasi Jumlah Jam Belajar

Skor Frekuensi Persentase (%) Kriteria

14 – 16 8 7,69 Sangat Tinggi

11 23 22,12 Sedang

10 20 19,23 Rendah

<10 26 25 Sangat Rendah

Jumlah 104 100

Sumber : Deskripsi Data Penelitian (Lampiran viii, hal 107)

Dari tabel 5.3 menunjukkkan bahwa 8 siswa atau 7,69% mempunyai jumlah jam belajar yang sangat tinggi, 27 siswa atau 25,96% jumlah mempunyai jam belajar tinggi, 23 siswa atau 22,12% mempunyai jumlah jam belajar sedang, 20 siswa atau 19,23% mempunyai jumlah jam belajar rendah dan 26 siswa atau 25% mempunyai jumlah jam belajar sangat rendah. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sebagian besar siswa mempunyai jumlah jam belajar tinggi.

0 5 10 15 20 25 30 Jumlah Jam Belajar % Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat Rendah

Gambar 5.2 Sebaran Klasifikasi Jumlah Jam Belajar

3. Prestasi Belajar Akuntansi

Deskripsi prestasi belajar akuntansi didasarkan pada Pedoman Acuan Patokan (PAP) tipe II :

Tabel 5.4

Sebaran Klasifikasi Prestasi Belajar Akuntansi

Skor Frekuensi Persentase (%) Kriteria

81– 100 5 4,81 Sangat Baik

66 – 80 91 87,5 Baik

46 – 55 1 0,96 Kurang Baik < 46 0 0 Sangat Kurang Baik

Jumlah 104 100

Sumber : Deskripsi Data Penelitian (Lampiran viii, hal 107)

Dari tabel 5.4 menunjukkan bahwa ada 5 siswa atau 4,81% yang mempunyai nilai pada kategori sangat baik, 91 siswa atau 87,5% mempunyai nilai pada kategori baik, 7 siswa atau 6,73% mempunyai nilai pada kategori cukup, 1 siswa atau 0,96% mempunyai nilai pada kategori kurang baik dan tidak ada siswa yang mempunyai kategori sangat kurang baik. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sebagian besar siswa mempunyai nilai pada kategori baik.

0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 Prestasi Belajar Sangat Baik Baik Cukup Kurang Sangat Kurang

Gambar 5.3 Sebaran Klasifikasi Prestasi Belajar Akuntansi

B. Analisis Data

1. Pengujian Prasyarat Analisis Data a) Pengujian Normalitas

Pengujian normalitas dimaksudkan untuk mengetahui apakah data berdistribusi normal atau tidak. Dalam penelitian ini pengujian normalitas didasarkan pada uji One Sample Kolmogorov Smirnov

dengan bantuan program SPSS versi 12,0. Berikut ini disajikan rangkuman hasil pengujian:

Tabel 5.5

Rangkuman Pengujian Normalitas Masing-masing Variabel Penelitian

No Variabel Asymp

Sig2-tailed α Kesimpulan

1 Kemandirian Belajar 0,062 0,05 Normal 2 Jumlah Jam Belajar 0,070 0,05 Normal 3 Prestasi Belajar 0,131 0,05 Normal

Sumber : Data Penelitian (Lampiran vi, hal 102)

Tabel 5.5 menunjukkan bahwa nilai-nilai probabilitas (asymptot significance) variabel kemandirian belajar = 0,062. Nilai probabilitas tersebut lebih besar dari α = 0,05. Hal tersebut berarti distribusi data kemandirian belajar adalah normal. Nilai probabilitas jumlah jam belajar = 0,070. Nilai probabilitas tersebut lebih besar dari

α = 0,05. Hal tersebut berarti distribusi data jumlah jam belajar siswa adalah normal. Nilai probabilitas prestasi belajar = 0,131. Nilai probabilitas tersebut lebih besar dari α = 0,05. Hal tersebut berarti distribusi data prestasi belajar akuntansi adalah normal.

2. Pengujian Hipotesis

a) Hubungan kemandirian belajar dengan prestasi belajar akuntansi 1) Rumusan Hipotesis

Ho : Tidak ada hubungan positif antara kemandirian belajar dengan prestasi belajar akuntansi

Ha : Ada hubungan positif antara kemandirian belajar dengan prestasi belajar akuntansi

Tabel 5.6 Correlations Kemandirian Belajar Prestasi Belajar Kemandirian Belajar Pearson Correlation 1 .486(**) Sig. (1-tailed) . .000

N 104 104

Prestasi Belajar Pearson Correlation .486(**) 1 Sig. (1-tailed) .000 .

N 104 104

** Correlation is significant at the 0.01 level (1-tailed).

Sumber : Data Penelitian (Lampiran vii, hal 104).

2) Pengujian Hipotesis

Hasil perhitungan untuk kemandirian belajar menunjukkan bahwa besarnya r hitung = 0,486. koefisien sebesar 0,486

menunjukkan bahwa hubungan antara kemandirian belajar dengan prestasi belajar akuntansi adalah positif dengan kategori derajat hubungan sedang. Sementara hasil pengujian signifikansi pada taraf 5% diperoleh hasil perhitungan Signifikansi = 0,000 dengan nilaiα = 0,05. Dari analisis tesebut menunjukkan bahwa nilai Signifikansi = 0,000 < α 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan menerima Ha. Hal ini berarti bahwa ada hubungan positif antara kemandirian belajar dengan prestasi belajar akuntansi.

b) Hubungan jumlah jam belajar dengan prestasi belajar akuntansi 1) Rumusan Hipotesis

Ho : Tidak ada hubungan positif antara jumlah jam belajar dengan prestasi belajar akuntansi

Ha : Ada hubungan positif antara jumlah jam belajar dengan prestasi belajar akuntansi

Tabel 5.7 Correlations Jumlah Jam Belajar Prestasi Belajar Jumlah Jam Belajar Pearson Correlation 1 .500(**) Sig. (1-tailed) . .000

N 104 104

Prestasi Belajar Pearson Correlation .500(**) 1 Sig. (1-tailed) .000 .

N 104 104

** Correlation is significant at the 0.01 level (1-tailed).

Sumber : Data Penelitian (Lampiran vii, hal 104)

2) Pengujian Hipotesis

Hasil perhitungan untuk jumlah jam belajar menunjukkan bahwa besarnya r hitung = 0,500. Koefisien sebesar 0,500 menunjukkan

bahwa hubungan antara jumlah jam belajar dengan prestasi belajar akuntansi adalah positif dengan kategori derajat hubungan sedang. Sementara hasil pengujian signifikansi pada taraf 5% diperoleh hasil perhitungan signifikansi = 0,000 dengan nilai α = 0,05. Dari analisis menunjukkan bahwa nilai signifikansi = 0,000 < α 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan menerima Ha. Hal ini berarti bahwa ada hubungan positif antara jumlah jam belajar dengan prestasi belajar akuntansi.

C. Pembahasan

1. Hipotesis pertama ”Hubungan Kemandirian Belajar dengan Prestasi Belajar Akuntansi”

Hasil analisis hubungan antara kemandirian belajar dengan prestasi belajar akuntansi menunjukkan besarnya rhitung = 0,486 dan hasil pengujian nilai signifikansi menunjukkan nilai Asymp Sig = 0,000 kurang dari α 0,05. Hal ini berarti bahwa ada hubungan positif dan signifikan antara kemandirian belajar dengan prestasi belajar akuntansi.

Kemandirian sangatlah berhubungan dengan perkembangan anak. Didalam perkembangannya kemandirian muncul sebagai hasil suatu proses belajar yang dipengaruhi oleh faktor gen atau keturunan orang tua, orang tua yang memiliki sifat kemandirian yang tinggi sering kali menurun pada anaknya sehingga anak memiliki kemandirian yang tinggi juga; pola asuh orang tua yaitu cara orang tua mengasuh atau mendidik anak akan berpengaruh terhadap perkembangan kemandirian anak; sistem pendidikan di sekolah, dalam proses pendidikan di sekolah yang tidak mengembangkan demokratisasi pendidikan, akan cenderung menekankan indokrinasi tanpa argumen akan menghambat kemandirian anak; sistem kehidupan di masyarakat, di dalam sistem kehidupan bermasyarakat yang terlalu menekankan pentingnya hirarki struktur sosial.

Jadi keadaan mandiri akan muncul bila seseorang belajar, sebaliknya kemandirian tidak akan muncul apabila siswa tidak dibekali dengan ilmu yang cukup. Dari analisis data diketaui bahwa kemandirian

belajar siswa sangat tinggi. Jadi seorang siswa yang memiliki tingkat kemandirian belajar yang sangat tinggi dapat dikatakan bahwa siswa mampu mengatur dan mengendalikan kegiatan belajarnya, atas dasar pertimbangan dan tanggung jawab sendiri dan akhirnya akan mempengaruhi hasil belajar siswa atau prestasi belajar siswa. Sedangkan siswa yang memiliki kemandirian belajar rendah dapat disimpulkan bahwa siswa belum sepenuhnya mempunyai sikap kemandirian dalam belajar, hal ini dikarenakan kurangnya kesempatan, dukungan dan dorongan dari keluarga dan lingkungan di sekitar. Maka usaha yang dapat dilakukan agar siswa memiliki sikap kemandirian yang tinggi yaitu hendaknya orang tua mengajarkan kemandirian sejak dini pada anak sesuai kemampuannya, memberikan kesempatan pada anak agar dapat mengembangkan kemampuan yang dimilikinya, belajar mengambil inisiatif, mengambil keputusan mengenai apa yang ingin dilakukan dan belajar mempertanggungjawabkan segala perbuatannya. Selain itu sekolah juga memberikan latihan atau tugas-tugas sehingga siswa dapat belajar secara mandiri sehingga terbentuklah kemandirian dalam diri siswa. Jika kemandirian dimiliki oleh setiap siswa maka dapat dengan mudah pencapaian prestasi belajar. Jadi dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi kemandirian belajar maka prestasi belajar tinggi.

Dengan demikian, dari hasil analisis tersebut dapat disimpulkan bahwa kemandirian belajar dengan prestasi belajar akuntansi memiliki hubungan yang positif.

2. Hipotesis kedua “Hubungan Jumlah Jam Belajar dengan Prestasi Belajar Akuntansi”

Hasil analisis hubungan antara jumlah jam belajar dengan prestasi belajar akuntansi menunjukkkan bahwa besarnnya rhitung = 0,500 dan hasil pengujian nilai signifikansi menunjukkan nilai Asymp Sig = 0,000 kurang dari nilai α 0,05. Hal ini berarti bahwa ada hubungan positif dan signifikan antara jumlah jam belajar dengan prestasi belajar akuntansi.

Jumlah jam/waktu yang dipergunakan oleh siswa dalam kegiatan belajar juga sangat terkait dengan hasil yang akan diperoleh karena semakin banyak waktu atau jumlah jam yang digunakan untuk belajar maka prestasi yang diperoleh semakin tinggi. Jadi siswa yang mampu mengelola waktu dengan baik dan memanfaatkan waktu untuk belajar maka prestasi yang dicapai dalam belajar cenderung tinggi. Begitu pula sebaliknya siswa yang memiliki kebiasaan yang tidak baik yaitu menunda- nunda waktu untuk belajar atau mengerjakan tugas prestasinya cenderung kurang baik. Jadi seorang siswa yang unggul memiliki kebiasaan baik untuk melakukan studi mulai sekarang juga dan pada setiap saat yang tersedia. Dengan demikian, siswa yang unggul akan kelebihan waktu sehingga dapat meningkatkan prestasi studinya.

Dari hasil analisis data diketahui bahwa jumlah jam belajar siswa tinggi, hal ini dikarenakan sebagian besar siswa telah memperhatikan pentingnya waktu dalam belajar. Jadi dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi jumlah jam yang dipergunakan atau dimanfaatkan untuk belajar

maka semakin tinggi pula prestasi belajar akuntansi. Dengan demikian, hasil analisis tersebut dapat disimpulkan bahwa jumlah jam belajar dengan prestasi belajar akuntansi memiliki hubungan positif.

60

BAB VI

KESIMPULAN, KETERBATASAN PENELITIAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Setelah mengadakan penelitian dan analisis data, maka penelitian ini menyimpulkan bahwa :

1. Ada hubungan positif antara kemandirian belajar dengan prestasi belajar akuntansi. Hal ini didukung oleh hasil perhitungan analisis koefisien korelasi menunjukkan rhitung = 0,486 dan hasil pengujian nilai signifikiansi menunjukkan nilai signifikansi = 0,000 kurang dariα 0,05.

2. Ada hubungan positif antara jumlah jam belajar dengan prestasi belajar akuntansi. Hal ini didukung oleh hasil perhitungan analisis koefisien korelasi menunjukkan rhitung = 0,500 dan hasil pengujian nilai signifikansi menunjukkan nilai signifikansi = 0,000 kurang dari nilai α 0,05

B. Keterbatasan Penelitian

Penulis menyadari bahwa dalam melakukan penelitian dan penyajian hasil penelitian memiliki keterbatasan dan kelemahan. Beberapa keterbatasan dan kelemahan penulis sebagai berikut :

1. Penulis tidak dapat melacak kebenaran dan kejujuran responden dalam menjawab kuesioner, meskipun sebelumnya peneliti sudah berusaha untuk meyakinkan bahwa jawaban responden akan dijamin kerahasiaannya, namun demikian penulis tetap menggunakan data asli dari responden. 2. Keterbatasan pengetahuan dan kemampuan penulis yang masih kurang.

3. Terdapat faktor-faktor lain yang berhubungan dengan prestasi selain kemandirian belajar dan jumlah jam belajar, namun karena keterbatasan kemampuan sehingga peneliti hanya mengambil dua variabel tersebut.

C. Saran

Setelah mengadakan penelitian dan berdasarkan kesimpulan diatas maka peneliti, mencoba memberikan beberapa saran.

1. Bagi Sekolah

Sekolah sebagai pelaksana pendidikan hendaknya memberikan dan memelihara sarana dan prasarana yang sudah ada sehingga mendorong proses belajar yang lebih baik.

2. Bagi Orang tua

Peran orang tua sangatlah besar dalam proses pembentukan kemandirian. Orang tua diharapkan dapat memberikan kesempatan pada anak agar dapat mengembangkan kemampuan yang dimilikinya, belajar mengambil inisiatif, mengambil keputusan mengenai apa yang ingin dilakukan dan belajar mempertanggungjawabkan segala perbuatannya. Dengan demikian anak akan dapat mengalami perubahan dari keadaan yang sepenuhnya tergantung pada orang tua menjadi mandiri. Selain itu orang tua juga diharapkan ikut mengontrol pemanfaatan waktu yang baik.

3. Bagi Siswa

Kemandirian belajar hendaknya dimiliki oleh setiap siswa. Jika tidak memiliki kemandirian dalam belajar maka tidak beruntung untuk

melanjutkan studi di perguruan tinggi dan bila terjun ke tengah masyarakat pasti akan menambah angka pengangguran dan untuk kesudahannya akan menjadi parasit dalam sosial. Ketidakmandirian merupakan batu penyandung untuk mencapai kemantapan sumber daya manusia, maka setiap siswa hendaknya melakukan usaha kemandirian dalam belajar, menambah ilmu dan keterampilan-keterampilan lain dalam peningkatan pencapaian prestasi. Selain itu siswa juga diharapkan mengelola waktu dengan baik dan memanfaatkan waktu belajar seoptimal mungkin dalam usaha pencapaian prestasi.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik.

Jakarta : Rineka Cipta.

Consuelo, dkk. 1993. Pengantar Metode Penelitian. Jakarta : UI-PRESS.

Ghozali, Iman. 2002. Satistik Non Parametris. Semarang : Universitas Diponegoro.

Gulo, W. 2002. Metodologi Penelitian. Jakarta : Gramedia Widiasarana Indonesia.

Hamalik, Oemar. 2003. Proses Belajar Mengajar . Jakarta : Bumi Aksara. http://www.e-psikologi.com/epsi/individual detail.asp?id=383)

Masrun, dkk., 1986. Studi Mengenai Kemandirian pada Penduduk di Tiga Suku Bangsa (Jawa, Batak, Bugis). Laporan Penelitian. Kantor Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup dan Fakultas Psikologi UGM. Miarso, Yusufhadi. 2004. Menyemai Benih Teknologi Pendidikan. Jakarta :

Kencana.

Muhamad Ali, dkk., 2004. Psikologi Remaja Pekembangan Peserta Didik. Jakarta : Bumi Aksara.

Panen, Paillina. 1994. Belajar Mandiri (Mengejar di Perguruan Tinggi), PAU- PPAI, (Dirjen Dikti, Depdikbud).

Purwadarminta, WJS. 1976. Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Slameto, Drs. 1987. Belajar dan fakto-faktor yang mempengaruhinya. Jakarta : Bina Angkasa

____________1991. Belajar dan fakto-faktor yang mempengaruhinya. Jakarta : Rineka Cipta

Suardiman. 1984. Bimbingan Orang Tua Tehadap Anak Yogyakarta : Studing Pers.

Sugiyono. 2003. Statistika untuk Penelitian. Bandung : Alfabeta. ________. 1999. Metode Penelitian Bisnis. Bandung : Alfabeta. ________. 2005. Metode Penelitian Bisnis. Bandung : Alfabeta

Sumadi Suryabrata. 1984. Pengantar Psikologi Pendidikan. Jakarta : CV Rajawali.

Sutrisno Hadi. 1981. Metodologi Research Jilid II dan III cetakan XI. Yogyakarta : Yayasan Penerbitan Fakultas Psikologi UGM.

Suyata. 1982. Pola Asuh Anak-anak Remaja pada Bebagai Kelompok Sosial di DIY. Laporan Penelitian.

The Liang Gie. 1995. Cara Belajar yang Efisien. Yogyakarta : Liberty Utomo, Jacob. 1990. Membangun Harga Diri. Jakarta : Gramedia. Winkel. W.S. 1987. Psikologi Pengajaran. Jakarta : Gramedia

LAMPIRAN I

IJIN PENELITIAN

LAMPIRAN II

KUESIONER

Kepada Yth. Siswa-siswi SMA Bopkri 2 Yogyakarta Dengan Hormat,

Saya mahasiswi Program Studi Pendidikan Akuntansi, Jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial, FKIP, Universitas Sanata Dharma. Saya bermaksud mengadakan kegiatan penelitian dengan judul “ Hubungan Kemandirian Belajar, Jumlah Jam Belajar dengan Prestasi Belajar Akuntansi” . Bagi saya penelitian ini dilaksanakan dalam rangka penyusunan tugas akhir (skripsi).

Sehubungan dengan hal tersebut, saya mohon kesediaan saudara menjadi responden penelitian ini. Saya berharap saudara berkenan untuk menjawab keseluruhan pertanyaan sesuai dengan keadaan yang sesungguhnya. Sejalan dengan etika penelitian, saya akan menjamin kerahasiaan jawaban Saudara dan memastikan bahwa jawaban Saudara hanyalah semata-mata untuk mencapai tujuan penelitian ilmiah ini.

Saya menyadari bahwa pengisian kuesioner ini sedikit banyak mengganggu aktivitas Saudara. Oleh sebab itu, saya mohon maaf sebelumnya. Demikian permohonan saya. Atas perhatian dan kerja sama Saudara, saya mengucapkan terima kasih.

Yogyakarta, November 2008 Hormat saya,

Mengetahui Peneliti

Drs. Bambang Purnomo, S.E.,M.si Theresia Septriani

Identitas

Nama :

Kelas/nomor absen :

Petunjuk:

Bacalah masing-masing pertanyaan berikut dengan teliti! Kemudian jawablah pertanyaan yang ada dengan memberi tanda silang ( × ) pada kolom jawaban yang telah tersedia sesuai dengan jawaban anda.

Alternatif jawaban adalah sebagai berikut:

(a) : skor 1 (c) : skor 3 (b) : skor 2 (d ) : skor 4

A. Kemandirian Belajar

1. Pemenuhan saya sebagai seorang siswa adalah belajar untuk melakukan kegiatan belajar tersebut karena…..

a. Disuruh orang tua b. Mengikuti ajakan teman c. Takut mendapat nilai jelek

d. Kasadaran diri dan keharusan sebagai siswa

2. Ketika tidak ada ulangan tindakan yang dapat saya lakukan agar nilai-nilai saya tetap baik adalah...…

a. Tidak belajar karena saya percaya dengan kemampuan yang saya miliki

Dokumen terkait