BAB II KAJIAN TEORI
B. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar. Secara tradisional kurikulum biasa dimengerti sebagai serangkaian program yang berisi rencana-rencana pelajaran yang telah disusun sedemikian rupa yang dapat dipakai secara langsung oleh guru untuk mengajar. Dalam arti kontemporer kurikulum diartikan secara lebih luas karena kurikulum tidak lagi menekankan pada daftar isi materi rencana pelajaran yang dimiliki topik-topik yang telah disusun tapi lebih menekankan kepada pengalaman-pengalaman proses belajar mengajar yang dapat diberikan kepada murid dalam konteks dimana murid-murid berada.4
Istilah kurikulum mulai dikenal di Amerika Serikat sejak tahun 1920 ditinjau dari asal katanya kurikulum berasal dari bahasa latin dari kata curere yang artinya lari. Dengan demikian maka kurikulum pada awalnya mempunyai pengertian course of race (arena pacuan). Secara tradisional, kurikulum
4
Dakir, Perencanaan dan Pengembangan Kurikulum, (Jakarta, Rineka Cipta, 2010), hal 2 & 3
mempunyai pengertian yaitu mata pelajaran atau arena pelatihan untuk suatu produksi pendidikan.5
Beberapa pengertian kurikulum yang lain :
a. Kumpulan materi yang harus disampaikan pelatih atau yang harus dipelajari oleh peserta didik untuk menjadi terampil.6
b. Seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan.7
Kurikulum mempunyai fungsi yang terdiri dari :
1. Fungsi Penyesuaian (The adductive of Adaptive Function)
Individu hidup dalam lingkungan. Setiap individu harus mampu menyesuaikan diri terhadap lingkungannya secara menyeluruh. Karena lingkungan sendiri senantiasa berubah dan bersifat dinamis, maka masing-masing individu pun harus memiliki kemampuan menyesuaikan diri secara dinamis pula. Di balik itu, lingkungan pun harus disesuaikan dengan kondisi perorangan. Disinilah letak fungsi kurikulum sebagai alat pendidikan, sehingga individu bersifat well-adjusted.
2. Fungsi Integrasi (The Integrating Function)
Kurikulum berfungsi mendidik pribadi-pribadi yang terintegrasi. Karena individu sendiri merupakan bagian dari masyarakat, maka pribadi yang
5
Dakir, Perencanaan dan Pengembangan Kurikulum, (Jakarta, Rineka Cipta, 2010), hal 2 & 3
6
Pusdiklat Kesehatan, Pengembangan Kurikulum, (2000)
7
terintegrasi itu akan memberikan sumbangan dalam pembentukan atau pengintegrasian masyarakat.
3. Fungsi Diferensiasi (The Differentiating Function)
Kurikulum perlu memberikan pelayanan terhadap perbedaan di antara setiap orang dalam masyarakat. Pada dasarnya, diferensiasi akan mendorong orang berfikir kritis dan kreatif, sehingga akan mendorong kemajuan sosial dalam masyarakat. Akan tetapi, adanya diferensiasi tidak berarti mengabaikan solidaritas sosial dan integrasi, karena diferensiasi juga dapat menghindarkan terjadinya
stagnasi sosial.
4. Fungsi Persiapan (The Prepardeutic Function)
Kurikulum berfungsi mempersiapkan siswa agar mampu melanjutkan studi lebih lanjut untuk suatu jangkauan yang lebih jauh, misal melanjutkan studi ke sekolah yang lebih tinggi atau persiapan belajar di dalam masyarakat. Persiapan kemampuan belajar lebih lanjut ini sangat diperlukan, mengingat sekolah tidak mungkin memberikan semua yang diperlukan siswa atau apapun yang menarik perhatian mereka.
5. Fungsi Pemilihan (The Selective Function)
Perbedaan (deferensiasi) dan pemilihan (seleksi) adalah dua hal yang saling berkaitan. Pengakuan atas perbedaan berarti memberikan kesempatan bagi seseorang untuk memilih apa yang diinginkan dan menarik minatnya. Kedua hal tersebut merupakan kebutuhan bagi masyarakat yang menganut sistem demokratis. Untuk mengembangkan berbagai kemampuan tersebut, maka kurikulum perlu disusun secara luas dan fleksibel.
6. Fungsi Diagnotis (The Diagnostic Function)
Salah satu segi pelayanan pendidikan adalah membantu dan mengarahkan siswa untuk mampu memahami dan menerima dirinya, sehingga dapat mengembangkan seluruh potensi yang dimilikinya. Hal ini dapat dilakukan jika siswa menyadari semua kelemahan dan kekuatan yang dimilikinya melalui proses eksplorasi. Selanjutnya siswa sendiri yang memperbaiki kelemahan tersebut dan mengembangkan sendiri kekuatan yang ada. Fungsi ini merupakan fungsi diagnosis kurikulum dan akan membimbing siswa untuk dapat berkembang secara optimal.8
2. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)
Mulyasa menyatakan bahwa KTSP adalah sebuah kurikulum operasional pendidikan yang disusun dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan. KTSP ditandatangani pada 23 Mei 2006 dan diberlakukan di Indonesia mulai tahun ajaran 2006/2007. KTSP terdiri dari tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan, struktur dan muatan kurikulum tingkat satuan pendidikan, kalender pendidikan, dan silabus.9
KTSP diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. KTSP berlaku pada jenjang pendidikan dasar (Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama) dan menengah (Sekolah Menengah Atas dan Sekolah Menengah Kejuruan) dan disusun oleh
8 Jamal Ma’mur Asmani, Tips Efektif Aplikasi KTSP di Sekolah, (Jogjakarta, Bening, 2010). Hal 36 - 38
9
E. Mulyasa, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, (Bandung, PT Remaja Rosdakarya, 2009). Hal 19
satuan pendidikan dengan mengacu kepada Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) serta berpedoman pada panduan yang disusun oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP).
Standar isi adalah ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi yang dituangkan dalam kompetensi tamatan, kompetensi bahan kajian,kompetensi mata pelajaran, dan silabus pembelajaran yang harus dipenuhi peserta didik pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Standar Isi merupakan pedoman untuk pengembangan kurikulum tingkat satuan pendidikan yang memuat : kerangka dasar dan struktur kurikulum, beban belajar, kurikulum tingkat satuan pendidikan, dan kalender pendidikan. Standar kompetensi lulusan (SKL) digunakan sebagai pedoman penilaian dalam penentuan kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan. SKL meliputi kompetensi untuk seluruh mata pelajaran atau kelompok mata pelajaran. Kompetensi lulusan merupakan kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan sesuai dengan standar nasional yang telah disepakati.
Tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan, tujuan pendidikan dasar adalah meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. Tujuan pendidikan menengah adalah meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. Tujuan pendidikan menengah kejuruan adalah meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejurusannya.
Pemberlakuan KTSP didasarkan pada peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 24 Tahun 2006. Penyusunan KTSP SD, SMP, SMA dan SMK terdiri atas guru. konselor, kepala sekolah, komite sekolah, dan nara sumber dengan kepala sekolah sebagai ketua merangkap anggota, dan di supervisi oleh kabupaten/kota dan provinsi yang bertanggung jawab dibidang pendidikan.10
Landasan KTSP
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan dilandasi oleh undang-undang dan peraturan pemerintah sebagai berikut :
1. Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas.
2. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.
3. Permendiknas No. 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi.
4. Permendiknas No. 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan.
5. Permendiknas No. 24 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan Permendiknas No. 22 dan No. 23.11
Acuan operasional penyusunan KTSP :
1. Peningkatan iman dan takwa serta akhlak mulia.
Keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia menjadi dasar pembentukan kepribadian peserta didik secara utuh. Kurikulum disusun yang memungkinkan setiap mata pelajaran dapat menunjang peningkatan iman dan takwa serta akhlak mulia.
10
Sutiah dan Sugeng Listyo Prabowo, Pengembangan Model Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan pada Sekolah Madrasah, (Jakarta, Rajawali Pers, 2008), hal 3
11
Masnur Muchlis, KTSP Dasar Pemahaman dan Pengembangan, (Jakarta, PT. Bumi Aksara, 2007), hal 1
2. Peningkatan potensi, kecerdasan dan minat sesuai dengan tingkat perkembangan dan kemampuan peserta didik.
Kurikulum disusun agar memungkinkan pengembangan keragaman potensi, minat, kecerdasan intelektual dan emosional peserta didik secara optimal sesuai dengan tingkat perkembangannya.
3. Perkembangan potensi dan karakteristik daerah dan lingkungan.
Daerah memiliki keragaman potensi, kebutuhan, tantangan, dan keragaman karakteristik lingkungan, oleh karena itu kurikulum harus memuat keragaman tersebut untuk menghasilkan lulusan yang dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan daerah.
4. Tuntutan pembangunan daerah dan nasional.
Pengembangan kurikulum harus memperhatikan keseimbangan tuntutan pembangunan daerah dan nasional.
5. Tuntutan dunia kerja.
Kurikulum harus memuatkecakapan hidup untuk membekali peserta didik memasuki dunia kerja sesuai dengan tingkat perkembangan peserta didik dan kebutuhan dunia kerja khususnya bagi mereka yang tidak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.
6. Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.
Kurikulum harus dikembangkan secara berkala dan berkesinambungan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. 7. Agama.
Kurikulum harus dikembangkan untuk meningkatkan toleransi dan kerukunan umat beragama, dan memperhatikan norma agama yang berlaku di lingkungan sekolah.
8. Dinamika Perkembangan Global.
Kurikulum harus dikembangkan agar peserta didik mampu bersaing secara global dan hidup berdampingan dengan bangsa lain.
9. Persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan.
Kurikulum harus mendorong wawasan dan sikap kebangsaan dan persatuan nasional untuk memperkuat keutuhan bangsa dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.
10.Kondisi sosial budaya masyarakat setempat.
Kurikulum harus dikembangkan dengan memperhatikan karakteristik sosial budaya masyarakat setempat dan menunjang kelestarian keragaman budaya.
11.Kesetaraan jender.
Kurikulum harus diarahkan kepada pendidikan yang berkeadilan dan mendorong tumbuh kembangnya kesetaraan jender.
12.Karakteristik satuan pendidikan.
Kurikulum harus dikembangkan sesuai dengan visi, misi, tujuan, kondisi, dan ciri khas satuan pendidikan.12
Ciri-ciri penting KTSP :
1. KTSP menganut prinsip fleksibilitas, yaitu sekolah diberi kebebasan menambah 4 jam pelajaran tambahan per minggu, yang bisa diisi dengan apa saja baik yang wajib atau muatan lokal.
2. KTSP membutuhkan pemahaman dan keinginan sekolah untuk mengubah kebiasaan lama yakni kebergantungan pada birokrat.
12
http://lecgarut.wordpress.com/2007/12/10/acuan-operasional-penyusunan-tingkat-satuan-pendidikan/
3. Guru kreatif dan siswa aktif.
4. KTSP menganut prinsip diversifikasi, artinya dalam kurikulum ini standar isi dan standar kompetensi lulusan yang dibuat BSNP itu dijabarkan dengan memasukkan muatan lokal, yakni lokal provinsi, lokal kabupaten/kota, dan lokal sekolah.
5. KTSP sejalan dengan konsep desentralisasi pendidikan dan manajemen berbasis sekolah (school-based management).
6. KTSP tanggap terhadap perkembangan iptek dan seni. 7. KTSP beragam dan terpadu.13
Teknik penilaian dalam KTSP : penilaian tertulis, penilaian penampilan (missal : penampilan dalam praktek pidato, praktek olahraga, dan lain-lain), tugas dan proyek, penilaian produk (penilaian hasil kerja siswa yang menitikberatkan pada keterampilan dan hasil akhir).
3. Penerapan KTSP
Kurikulum sekolah satu dengan yang lainnya bisa saja berbeda. Pasalnya, penerapan KTSP mulai tahun 2006/2007 memberi peluang sekolah menyusun kurikulum sendiri. Hanya menurut anggota BSNP, Prof. Dr. Mungin Eddy Wibowo, M.PdKons, kurikulum yang dibuat sekolah tetap mengacu pada BSNP. Menurut beliau, KTSP sebagai kurikulum operasional sekolah disusun berdasarkan standar isi dan kompetensi lulusan yang dikembangkan dengan prinsip diversifikasi. Dikatakan, kurikulum harus disesuaikan dengan satuan pendidikan, potensi daerah, dan peserta didik. Meski sekolah memiliki
13
kewenangan luas, acuan tetap pada BSNP sesuai standar isi dan kompetensi lulusan.
Dalam KTSP, pihak sekolah memiliki kewenangan menentukan muatan lokal. Selama ini muatan lokal ada tiga, yakni dari provinsi, kabupaten/kota, dan pihak sekolah. Dengan menentukan sendiri, seharusnya menjadi keunggulan sekolah itu sendiri. Dengan pemberlakuan KTSP, pemberdayaan gurupun akan lebih baik. Sebagai contoh, guru yang selama ini hanya mengajar karena kurikulumnya sudah tersedia akan dituntun memiliki kemampuan menyusun kurikulum yang sesuai dan tepat bagi peserta didiknya.
Menurut pakar kurikulum Dr. Karnadi dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ) dan Prof. Dr. Ansyar dari Universitas Negeri Padang (Unan). Penerapan KTSP di sekolah akan membuat guru semakin pintar, karena mereka dituntut harus mampu merencanakan sendiri materi pelajarannya untuk mencapai kompetensi yang telah ditetapkan. Kurikulum yang selama ini dibuat dari pusat, menyebabkan kreativitas guru kurang terpupuk tetapi dengan KTSP kreativitas guru bisa berkembang.
4. Indikator Keberhasilan KTSP
Keberanian siswa untuk bertanya dan berdebat adalah indikator keberhasilan belajar dengan menerapkan KTSP. Evaluasi untuk program pelaksanaan pengembangan kurikulum di daerah memerlukan indikator keberhasilan sebagai tolak ukur pencapaian pelaksanaan kurikulum.
Indikator keberhasilan kurikulum mencakup : a. Indikator keberhasilan sosialisasi kurikulum
Indikator keberhasilan kurikulum, antara lain : sekolah menyatakan siap melaksanakan kurikulum tersebut, guru memahami kurikulum tersebut, dan guru dapat mengimplikasikannya dalam kegiatan belajar mengajar.
b. Indikator keberhasilan penyusunan silabus
Indikator keberhasilan penyusunan silabus, antara lain : silabus disusun berdasarkan kerangka dasar kurikulum dan standar kompetensi lulusan, dibawah supervise dinas kabupaten/kota/provinsi yang bertanggung jawab dibidang pendidikan guru memahami semua perangkat yang berhubungan dengan penyusunan silabus seperti standar isi yang berhubungan dengan mata pelajaran yang bersangkutan dan standar kompetensi lulusan serta KTSP.
c. Indikator keberhasilan penyusunan program tahunan dan semester. Indikator keberhasilan penyusunan program tahunan dan semester, antara lain : adanya kesesuaian antara hasil pelaksanaan kegiatan pembelajaran dengan program semester dan tahunan yang dirancang berdasarkan kemampuan awal siswa, program tahunan dan semester dapat dijadikan panduan bagi sekolah.
d. Indikator Keberhasilan penyusunan rencana pembelajaran
Indikator keberhasilan rencana pembelajaran, antara lain : rencana pembelajaran yang disusun sesuai dengan silabus atau berpedoman pada silabus yang telah disusun sebelumnya, memuat sekurang-kurangnya tujuan pembelajaran, materi ajar, metode pengajaran, sumber belajar dan penilaian hasil belajar.
e. Indikator keberhasilan penyusunan bahan ajar
Indikator keberhasilan penyusunan bahan ajar, antara lain : menimbulkan minat baca, ditulis dan dirancang untuk siswa, memberi kesempatan pada siswa
untuk berlatih, memberikan rangkuman, gaya penulisan komunikatif dan semi formal, menjelaskan cara mempelajari bahan ajar, dan lain-lain.
f. Indikator pelaksanaan kegiatan belajar mengajar
Indikator pelaksanaan kegiatan belajar mengajar, antara lain : peserta didik memiliki kemampuan membaca lebih cepat dan lebih banyak, mempunyai rasa ingin tahu yang kuat, mempunyai minat yang luas, memberikan jawaban yang baik, memberikan banyak gagasan, berpikir kritis, daya ingat yang kuat, tidak cepat puas dengan prestasinya, dan lain-lain.14
C. Pelajaran Aqidah Akhlak