• Tidak ada hasil yang ditemukan

Non Performing Financing (NPF)

Dalam dokumen Jihan Amanda Putri (Halaman 42-0)

BAB II LANDASAN TEORI DAN TELAAH LITERATUR

2.2. T ELAAH L ITERATUR

2.2.6. Non Performing Financing (NPF)

Non Performing Loan (NPL) pada bank konvensional atau pada bank Syariah disebut Non Performing Financing (NPF), merupakan rasio keuangan

yang berkaitan dengan risiko pembiayaan yang diberikan oleh bank, sehingga rasio ini menunjukkan kemampuan manajemen bank dalam mengelola pembiayaan bermasalah yang diberikan oleh bank kepada nasabah. (Rivai &

Arviyan, 2010) menyatakan bahwa pembiayaan bank menurut kualitasnya pada hakikatnya didasarkan atas risiko kemungkinan menurut bank terhadap kondisi dan kepatuhan nasabah pembiayaan dalam memenuhi kewajiban-kewajiban untuk membayar bagi hasil, mengangsur, serta melunasi pembiayaan kepada bank. Jadi, unsur utama dalam menentukan kualitas tersebut meliputi waktu pembiayaan bagi hasil, pembayaran angsuran maupun pelunasan pokok pembiayaan dan diperinci sebagai berikut:

1. Pembiayaan Lancar (Pass)

Pembiayaan yang digolongkan kedalam pembiayaan lancar apabila memenuhi kriteria di bawah ini:

a. Pembayaran angsuran pokok dan bunga tepat waktu b. Memiliki mutasi rekening yang aktif

c. Bagian dari pembiayaan yang dijamin dengan angunan tunai (cash collateral)

2. Perhatian Khusus (Special Mention)

Pembiayaan yang digolongkan ke dalam pembiayaan dalam perhatian khusus apabila memenuhi kriteria di bawah ini:

a. Terdapat tunggakan angsuran pokok dan bunga yang belum melampaui 90 hari

b. Mutasi rekening relatif aktif

28

c. Jarang terjadi pelanggaran terhadap kontrak yang diperjanjikan d. Didukung oleh pinjaman baru

3. Kurang Lancar (Substandard) Capital Adequacy Ratio (CAR)

Modal merupakan faktor penting dalam rangka pengembangan usaha bisnis dan menampung risiko kerugian, semakin tinggi CAR maka semakin kuat kemampuan bank tersebut untuk menanggung risiko dari setiap kredit/ aktiva produktif yang berisiko. Modal disini meliputi: modal disetor maupun dana setoran modal, cadangan umum, cadangan lainnya, sisa laba tahun lalu, dan laba tahun berjalan. Pembiayaan yang digolongkan ke dalam pembiayaan kurang lancar apabila memenuhi kriteria di bawah ini:

a. Terdapat tunggakan angsuran pokok dan bunga yang telah melampaui 90 hari

b. Sering terjadi cerukan

c. Frekuensi mutasi rekening relatif rendah

d. Terjadi pelanggaran terhadap kontrak yang diperjanjikan lebih dari 90 hari

e. Terdapat indikasi masalah keuangan yang dihadapi debitur f. Dokumentasi pinjaman yang lemah

4. Diragukan (Doubtful) Pembiayaan yang digolongkan kedalam pembiayaan diragukan apabila memenuhi kriteria di bawah ini:

a. Terdapat tunggakan angsuran pokok dan bunga yang telah melampaui 180 hari

b. Terjadi cerukan yang bersifat permanen

c. Terjadi wanprestasi lebih dari 180 hari d. Terjadi kapitalisasi bunga

e. Dokumentasi hukum yang lemah baik untuk perjanjian pembiayaan maupun peningkatan jaminan

5.2.1. Macet (Loss) Pembiayaan yang digolongkan ke dalam pembiayaan macet apabila memenuhi kriteria di bawah ini:

a. Terdapat tunggakan angsuran pokok dan bunga yang telah melampaui 270 hari

b. Kerugian operasional ditutup dengan pinjaman baru

c. Dari segi hukum maupun kondisi pasar, jaminan tidak dapat dicairkan pada nilai wajar

(Sumber: Rivai dan Veithzal, 2008)

Dari sekian kriteria kualitas pembiayaan di atas, maka akan dapat menentukan rasio Non Performing Financing (NPF). Semakin tinggi rasio NPF maka semakin buruk kualitas kredit bank yang menyebabkan jumlah kredit bermasalah semakin besar, maka kemungkinan suatu bank dalam kondisi bermasalah semakin besar. Total pembiayaan dalam hal ini adalah pembiayaan yang diberikan kepada pihak ketiga tidak termasuk pembiayaan pada bank lain.

Pembiayaan bermasalah adalah pembiayaan dengan kualitas kurang lancar, diragukan, dan macet. (Muhammad, 2005) menyatakan besarnya nilai NPF suatu bank dapat dihitung dengan rumus di bawah ini:

30

Rasio tersebut ditujukan untuk mengukur tingkat permasalahan pembiayaan yang dihadapi bank syariah. Dimana semakin tinggi rasio ini menunjukkan kualitas pembiayaan bank syariah semakin buruk. Nilai rasio ini kemudian dibandingkan dengan kriteria kesehatan NPF bank syariah yang ditetapkan oleh Bank Indonesia seperti yang tertera dalam Tabel 2.3

Tabel 2.3 Kriteria Kesehatan Non Performing Financing (NPF)

No. Nilai NPF Predikat

1 NPF>2% Sehat

2 2%≤NPF≤8% Sehat

3 5%≤NPF≤8% Cukup Sehat

4 8%≤NPF≤12% Kurang Sehat

Besarnya NPF menjadi salah satu penghambat tersalurnya pembiayaan perbankan. Peningkatan pembiayaan bermasalah ini menimbulkan pembentukan cadangan pembiayaan bermasalah ini menjadi semakin besar. Kerugian pembiayaan merupakan biaya yang berarti menurunkan laba. Tingginya nilai NPF dapat berdampak pada kesehatan bank. Semakin besar NPF maka semakin besar pula kerugian yang dialami bank, yang kemudian akan mengakibatkan berkurangnya keuntungan bank. Keuntungan yang berkurang akan mengakibatkan total asset bank tersebut juga ikut berkurang (Medina & Rina, 2018). Penelitian ini konsisten dengan hasil penelitian (Nugroho, 2011) menyatakan bahwa NPF berpengaruh negatif signifikan terhadap ROA.

BAB III

KERANGKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN

3.1. Kerangka Penelitian

Berdasarkan uraian yang telah dijelaskan, kemudian disusun konsep penelitian yang merupakan hubungan logis dari landasan teori dan kajian empiris yang0dapat0digambarkan0sebagai0berikut:

b

Gambar 3.1 Kerangka Konseptual

Penelitian ini mengukur pembiayaan murabahah, pembiayaan mudharabah, pembiayaan musyarakah, capital adequacy ratio terhadap profitabilitas bank umum syariah dengan ratio non performing financing memoderasi. Penelitian ini diukur melalui laporan keuangan dan annual report yang di publis ke publik.

Pengungkapan yang baik oleh bank syariah diharapkan mampu menjawab ekspetasi deposan terkait sumber dana untuk melakukan operasional dan pengelolaan dana yang sesuai dengan aturan aturan syariah.

Pembiayaan Murabahah (X1)

Pembiayaan Mudharabah (X2)

Pembiayaan Musyarakah (X3)

Capital Adequacy Ratio (X4)

Profitabilitas Bank Umum Syari’ah

(Y)

Non Perfoming Financing

(NPF)

32

3.2. Hipotesis Penelitian

Hipotesis adalah jawaban sementara dari permasalahan yang menjadi objek penelitian dimana kebenarannya masih perlu untuk diuji. Penulis mengemukakan hipotesis sebagai berikut :

3.2.1 Pengaruh Pembiayaan Murabahah Terhadap Profitabilitas Bank Umum Syariah Di Indonesia

Murabahah adalah akad jual beli barang dengan menyatakan harga perolehan dan keuntungan (margin) yang disepakati oleh penjual dan pembeli (Adiwarman, 2008).

Pembiayaan dengan prinsip jual beli pada bank syariah dilakukan salah satunya melalui akad murabahah. Salah satu akad dari pembiayaan jual beli yaitu akad murabahah merupakan produk yang paling populer dalam industri perbankan syariah (Muhammad, 2005). Bedasarkan penelitian (Arfan, 2014) menyatakan pembiayaan murabahah berpengaruh positif terhadap profitabilitas BPR Syariah di Indonesia. Dapat disimpulkan bila pembiayaan murabahah meningkat 1% dari total pembiayaan, maka profitabilitas akan naik sebesar 2,4%.

Penelitian ini sejalan dengan bukti empiris dari (Wicaksana, 2011) menyatakan bahwa semakin tinggi pembiayaan murabahah yang merupakan salah satu jenis pembiayaan jual beli, maka semakin tinggi profitabilitas bank umum syariah yang diproksikan dengan Return on Asset. Bedasarkan penjelasan diatas, maka hipotesis dalam penelitian ini sebagai berikut:

H1: Pembiayaan Murabahah Berpengaruh Positif Terhadap Profitabilitas Bank Umum Syari’ah Di Indonesia.

3.2.2 Pengaruh Pembiayaan Mudharabah Terhadap profitabilitas Bank Umum Syariah Di Indonesia

Mudharabah adalah bentuk kerja sama antara dua pihak atau lebih dimana pemilik modal (shahib al-mal) mempercayakan sejumlah modal kepada pengelola (mudharib) dengan suatu perjanjian keuntungan.

Bedasarkan penelitian (Fadholi, 2015) menyatakan bahwa pembiayaan mudharabah memberikan pengaruh positif dan signifikan terhadap ROA.

Penelitian ini sejalan dengan bukti empiris dari (Wicaksana, 2011) menyatakan bahwa semakin tinggi pembiayaan mudharabah maka semakin tinggi profitabilitas bank umum syariah yang diproksikan dengan Return on Asset. Bedasarkan penjelasan diatas, maka hipotesis dalam penelitian ini sebagai berikut:

H2: Pembiayaan Mudharabah Berpengaruh Positif Terhadap Profitabilitas Bank Umum Syari’ah Di Indonesia.

3.2.3 Pengaruh Pembiayaan Musyarakah Terhadap profitabilitas Bank Umum Syariah Di Indonesia

Pembiayaan musyarakah adalah kerjasama antara kedua pihak atau lebih untuk suatu usaha tertentu dimana masing-masing pihak memberikan konstribusi dana dengan keuntungan dan risiko akan ditanggung bersama sesuai dengan kesepakatan.

(Karim, 2004) menyatakan bahwa pembiayaan musyarakah merupakan semua bentuk usaha yang melibatkan dua pihak atau lebih dimana mereka secara bersama-sama memadukan seluruh bentuk sumber daya baik yang berwujud maupun tidak berwujud.

Keuntungan dan kerugian ditanggung bersama-sama sesuai dengan proporsi yang telah

34

ditetapkan sebelumnya. Melalu pembiayaan bagi hasil yang disalurkan, bank syariah akan memperoleh pendapatan berupa bagi hasil yang menjadi bagian bank.

Bedasarkan penelitian (Rivai, 2017) menyatakan bahwa pembiayaan musyarakah berpengaruh positif dan signifikan terhadap profitabilitas bank umum syariah.

Penelitian ini sejalan dengan Bukti empiris dari (Wicaksana, 2011) menyatakan bahwa semakin tinggi pembiayaan musyarakah maka semakin tinggi profitabilitas bank umum syariah yang diproksikan dengan Return on Asset. Bedasarkan penjelasan diatas, maka hipotesis dalam penelitian ini sebagai berikut:

H3: Pembiayaan Musyarakah Berpengaruh Positif Terhadap Profitabilitas Bank Umum Syari’ah Di Indonesia.

3.2.4 Pengaruh Capital Adequacy Ratio (CAR) Terhadap profitabilitas Bank Umum Syariah Di Indonesia

Capital Adequacy Ratio (CAR) adalah rasio yang memperlihatkan seberapa jauh seluruh aktiva bank yang mengandung resiko (kredit, penyertaan, surat berharga, tagihan pada bank lain) ikut dibiayai dari dana modal sendiri bank di samping memperoleh dana-dana dari sumber-sumber di luar bank seperti dana-dana masyarakat, pinjaman (utang), dan lain-lain. Dengan kata lain CAR adalah rasio kinerja bank untuk mengukur kecukupan modal yang dimiliki bank untuk menunjang aktiva yang mengandung atau menghasilkan risiko.

Bedasarkan penelitian (Nusantara, 2009) yang menguji pengaruh CAR terhadap ROA, dimana hasil penelitiannya menunjukkan bahwa CAR mempunyai pengaruh yang positif terhadap ROA bank.

Penelitian ini sejalan dengan Bukti empiris dari (Imam, 2017) menyatakan bahwa capital adequacy ratio berpengaruh positif dan signifikan terhadap return on asset.

Bedasarkan penjelasan diatas, maka hipotesis dalam penelitian ini sebagai berikut:

H4: Capital Adequacy Ratio (CAR) Berpengaruh Positif Terhadap Profitabilitas Bank Umum Syari’ah Di Indonesia.

3.2.5 Pengaruh Hubungan Ratio Non Performing Financing Memoderasi Pengaruh Pembiayaan Murabahah Terhadap Profitabilitas Bank Umum Syariah Di Indonesia

Secara umum, semakin meningkatnya rasio dari NPF maka pengaruhnya terhadap pembiayaan murabahah akan semakin menurun. Non performing financing dengan non performing loan merefleksikan besarnya risiko kredit yang dihadapi bank, semakin kecil rasio ini, maka semakin kecil pula risiko kredit yang ditanggung pihak bank. Dengan demikian apabila suatu bank syariah mempunyai non performing financing yang tinggi, menunjukkan bahwa bank tersebut tidak profesional dalam pengelolaan kreditnya, sekaligus memberikan indikasi bahwa tingkat resiko atas pemberian kredit pada bank tersebut cukup tinggi searah dengan tingginya non performing loan yang dihadapi bank (Riyadi, 2006). Bedasarkan penjelasan diatas, maka hipotesis dalam penelitian ini sebagai berikut:

H5: Hubungan Ratio Non Performing Financing Memoderasi Pengaruh Pembiayaan Murabahah Terhadap Profitabilitas Bank Umum Syari’ah

3.2.6 Pengaruh Hubungan Ratio Non Performing Financing Memoderasi Pengaruh Pembiayaan Mudharabah Terhadap Profitabilitas Bank Umum Syariah Di Indonesia Secara umum, semakin meningkatnya rasio dari NPF maka pengaruhnya terhadap pembiayaan mudharabah akan semakin menurun. Non performing financing dengan non

36

performing loan merefleksikan besarnya risiko kredit yang dihadapi bank, semakin kecil rasio ini, maka semakin kecil pula risiko kredit yang ditanggung pihak bank. Dengan demikian apabila suatu bank syariah mempunyai non performing financing yang tinggi, menunjukkan bahwa bank tersebut tidak profesional dalam pengelolaan kreditnya, sekaligus memberikan indikasi bahwa tingkat resiko atas pemberian kredit pada bank tersebut cukup tinggi searah dengan tingginya non performing loan yang dihadapi bank (Riyadi, 2006). Bedasarkan penjelasan diatas, maka hipotesis dalam penelitian ini sebagai berikut:

H6: Hubungan Ratio Non Performing Financing Memoderasi Pengaruh Pembiayaan Mudharabah Terhadap Profitabilitas Bank Umum Syari’ah Di Indonesia.

3.2.7 Pengaruh Hubungan Ratio Non Performing Financing Memoderasi Pengaruh Pembiayaan Musyarakah Terhadap Profitabilitas Bank Umum Syariah Di Indonesia Secara umum, semakin meningkatnya rasio dari NPF maka pengaruhnya terhadap pembiayaan musyarakah akan semakin menurun. Non performing financing dengan non performing loan merefleksikan besarnya risiko kredit yang dihadapi bank, semakin kecil rasio ini, maka semakin kecil pula risiko kredit yang ditanggung pihak bank. Dengan demikian apabila suatu bank syariah mempunyai non performing financing yang tinggi, menunjukkan bahwa bank tersebut tidak profesional dalam pengelolaan kreditnya, sekaligus memberikan indikasi bahwa tingkat resiko atas pemberian kredit pada bank tersebut cukup tinggi searah dengan tingginya non performing loan yang dihadapi bank (Riyadi, 2006). Bedasarkan penjelasan diatas, maka hipotesis dalam penelitian ini sebagai berikut:

H7: Hubungan Ratio Non Performing Financing Memoderasi Pengaruh Pembiayaan Musyarakah Terhadap Profitabilitas Bank Umum Syari’ah Di Indonesia.

3.2.8 Pengaruh Hubungan Ratio Non Performing Financing Memoderasi Pengaruh Capital Adequacy Ratio Terhadap Profitabilitas Bank Umum Syariah Di Indonesia Secara umum, semakin meningkatnya rasio dari NPF maka pengaruhnya terhadap Capital Adequacy Ratio (CAR) akan semakin menurun. Non performing financing dengan non performing loan merefleksikan besarnya risiko kredit yang dihadapi bank, semakin kecil rasio ini, maka semakin kecil pula risiko kredit yang ditanggung pihak bank. Dengan demikian apabila suatu bank syariah mempunyai non performing financing yang tinggi, menunjukkan bahwa bank tersebut tidak profesional dalam pengelolaan kreditnya, sekaligus memberikan indikasi bahwa tingkat resiko atas pemberian kredit pada bank tersebut cukup tinggi searah dengan tingginya non performing loan yang dihadapi bank (Riyadi, 2006). Bedasarkan penjelasan diatas, maka hipotesis dalam penelitian ini sebagai berikut:

H8: Hubungan Ratio Non Performing Financing Memoderasi Pengaruh Capital Adequacy Ratio (CAR) Terhadap Profitabilitas Bank Umum Syari’ah Di Indonesia.

BAB IV

METODE PENELITIAN

4.1. Jenis dan Sumber Data 4.1.1. Jenis Data

Jenis data yang digunakan adalah data kuantitatif. Penelitian ini terdiri dari empat variabel yaitu, pembiayaan murabahah, mudharabah, musyarakah, dan Capital Adequacy Ratio (CAR) sebagai variabel bebas (independen) dan profitabilitas sebagai variabel terikat (dependen). Serta variabel Ratio Non Performing Financing (NPF) sebagai variabel moderating.

4.1.2. Sumber Data

Sumber data yang digunakan adalah data sekunder yaitu data yang diperoleh dalam bentuk yang sudah jadi dan diambil langsung dari Bank Indonesia. Jenis data yang diambil dalam penelitian ini adalah time series dan cros section atau sering disebut dengan data panel.

Data panel merupakan sekelompok data individual yang diteliti selama rentang waktu tertentu sehingga data panel memberikan informasi observasi setiap individu dalam sampel. Keuntungan menggunakan panel data yaitu dapat meningkatkan jumlah sampel populasi dan mempebesar degree of freedom, serta pengabungan informasi yang berkaitan dengan variabel cross section dan time series.

4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan terhadap Bank Umum Syariah Indonesia yang terdaftar di Bank Indonesia periode 2008-2017 diperoleh dari media internet dengan cara mendownload melalui situs bank masing masing untuk memperoleh data mengenai laporan keuangan yang telah dipublikasikan.

4.2. Populasi dan Sampel Penelitian

Populasi merujuk pada sekumpulan orang atau objek yang memiliki kesamaan dalam satu atau beberapa hal dan membentuk masalah pokok dalam suatu riset khusus (Tjiptono, 2002). Populasi yang menjadi objek dalam penelitian ini meliputi seluruh bank umum syariah yang ada di Indonesia.

Populasi dalam penelitian ini adalah laporan keuangan tahunan mengenai perbankan syariah yang diambil dari laporan keuangan masing-masing bank periode 2008-2017.

Penentuan sampel dilakukan Sampling jenuh adalah teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. Hal ini sering dilakukan bila jumlah populasinya relatif kecil, kurang dari 30. Sampel jenuh disebut juga dengan istilah sensus, dimana semua anggota populasi dijadikan sampel.

Instrumen penelitiannya adalah pedoman dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis regresi berganda dan uji asumsi klasik (uji normalitas, heterokedastisitas, multikoliniearitas, autokorelasi) serta uji signifikansi (uji t, uji F, koefisien determinasi).

40

Tabel 4.1 Populasi dan Sampel Penelitian No. Nama Bank Syariah

1 PT. Bank Aceh

2 PT. Bank Muamalat Indonesia 3 PT. Bank Victoria Syariah 4 PT. Bank BRI Syariah

5 PT. Bank Jabar Banten Syariah 6 PT. Bank BNI Syariah

7 PT. Bank Syariah Mandiri 8 PT. Bank Mega Syariah 9 PT. Bank Panin Syariah 10 PT. Bank Syariah Bukopin 11 PT. BCA Syariah

12 PT. Maybank Syariah Indonesia

13 PT. Bank Tabungan Pensiunan Nasional Syariah Sumber : Statistik Perbankan Syariah OJK

4.3. Batasan Penelitian

Penelitian ini memiliki batasan yaitu:

1. Penelitian dilakukan dari tahun 2008 sampai 2017.

2. Penelitian ini menggunakan empat variabel independen yaitu pembiayaan murabahah, pembiayaan mudharabah, pembiayaan musyarakah, serta capital adequacy ratio dan satu variabel dependen yaitu profitabilitas, serta non performing financing sebagai variabel moderating.

3. Penelitian ini meneliti Bank Umum Syariah di Indonesia.

4.4. Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan cara studi dokumenter. Dimana dokumentasi yang di dapat melalui media internet dengan cara mendownload dari situs Bank masing masing.

Untuk memperoleh laporan keuangan tahunan perusahaan perbankan yang digunakan dalam penelitian. Selain itu juga menggunakan studi dokumenter dari laporan tahunan Bank Umum Syariah yang terdiri dari yaitu PT Bank Aceh Syariah, PT Bank Muamalat Syariah, PT Bank Syariah BRI, PT Bank Jabar Banten Syariah, PT Bank Bni Syariah, PT Bank Mega Syariah, PT Bank Panin Dubai Syariah, PT Bank Syariah Bukopin, PT Bank Bca Syariah, PT. Bank Syariah Mandiri, PT. Maybank Syariah Indonesia, PT. Bank Tabungan Pensiunan, PT. Bank Victoria Syariah, selama periode 2008 sampai dengan tahun 2017 melalui situs bank masing masing.

4.5. Definisi Operasional Variabel

Variabel penelitian adalah suatu atribut atau sifat atau nilai dari objek atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Jadi, variabel adalah konsep yang mempunyai bermacam-macam nilai, berupa kuantitatif maupun kualitatif yang nilainya dapat berubah-ubah.

Dalam penelitian ini terdapat empat variabel yaitu, variabel independen yaitu Pembiayaan Murabahah , Pembiayaan Mudharabah , Pembiayaan Musyarakah, dan Capital Adequacy Ratio (CAR) sebagai variabel (X), dan variabel profitabilitas

42

sebagai variabel (Y), serta Rasio Non Performing Financing (NPF) sebagai variabel (Z).

4.5.1. Variabel Independen (X)

Variabel independen adalah variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen (Sugiyono, 2008).

Variabel independen dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Pembiayaan Murabahah

Murabahah adalah transaksi jual beli dimana bank menyebut jumlah keuntungannya. Bank bertindak sebagai penjual, sementara nasabah bertindak sebagai pembeli.

Harga jual adalah harga beli bank dari pemasok ditambah keuntungan (margin). Dalam perbankan murabahah selalu dilakukan dengan cara pembayaran cicilan. Pembiayaan murabahah yang dimaksud dalam penelitian ini adalah total pembiayaan murabahah yang disalurkan bank syariah. Total pembiayaan murabahah diukur dengan logaritma natural dari nilai pembiayaan murabahah pada akhir tiap tahun. Penggunaan logaritma natural bertujuan agar hasilnya tidak menimbulkan bias, mengingat besarnya nilai pembiayaan murabahah antar bank syariah yang berbeda-beda. Selain itu, penggunaan logaritma natural juga dimaksudkan agar data total pembiayaan murabahah dapat terdistribusi normal dan memiliki standar eror koefisien regresi minimal (Harjanti, 2007).

2. Pembiayaan Mudharabah

Mudharabah adalah bentuk kerja sama antara dua pihak atau lebih dimana pemilik modal (shahib al-mal) mempercayakan sejumlah modal kepada pengelola (mudharib) dengan suatu perjanjian keuntungan. Bentuk ini menegaskan paduan kontribusi 100% modal kas dari shahib al-mal dan keahlian dari mudharib.

Pembiayaan mudharabah yang dimaksud dalam penelitian ini adalah total pembiayaan mudharabah yang disalurkan bank syariah. Total pembiayaan mudharabah diukur dengan logaritma natural dari nilai pembiayaan mudharabah pada akhir tiap tahun. Penggunaan logaritma natural bertujuan agar hasilnya tidak menimbulkan bias, mengingat besarnya nilai pembiayaan mudharabah antar bank syariah yang berbeda-beda. Selain itu, dimaksudkan agar data total pembiayaan mudharabah dapat terdistribusi normal dan memiliki standar eror koefisien regresi minimal (Harjanti, 2007).

3. Pembiayaan Musyarakah

Transaksi musyarakah dilandasi adanya keinginan para pihak yang bekerja sama untuk meningkatkan nilai aset yang mereka miliki secara bersama sama. Semua bentuk usaha yang melibatkan dua pihak atau lebih di mana mereka secara bersama-sama memadukan seluruh bentuk sumber daya baik yang berwujud maupun tidak berwujud.

Pembiayaan musyarakah yang dimaksud dalam penelitian ini adalah total pembiayaan musyarakah yang disalurkan bank syariah. Total pembiayaan musyarakah diukur dengan logaritma natural dari nilai pembiayaan musyarakah pada akhir tiap tahun. Penggunaan logaritma natural bertujuan

44

agar hasilnya tidak menimbulkan bias, mengingat besarnya nilai pembiayaan musyarakah antar bank syariah yang berbeda-beda. Selain itu, dimaksudkan agar data total pembiayaan musyarakah dapat terdistribusi normal dan memiliki standar eror koefisien regresi minimal (Harjanti, 2007).

4. Capital Adequacy Ratio (CAR)

Menurut (Suhardjono, 2002) mengemukakan bahwa CAR adalah rasio kecukupan modal yang harus disediakan untuk menjamin dana deposan.

Tujuannya adalah agar likuiditas/kemampuan bank membayar kepada deposan cukup terjamin. Modal merupakan salah satu faktor penting dalam rangka pengembangan usaha bisnis dan menampung resiko kerugian, semakin tinggi CAR maka semakin kuat kemampuan bank tersebut untuk menanggung resiko dari setiap kredit/aktiva produktif yang berisiko.

4.5.2. Variabel Dependen (Y)

Variabel dependen merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas (Sugiyono, 2008). Variabel dependen dalam penelitian ini adalah profitabilitas bank umum syariah yang diproksikan dengan Return on Asset (ROA). ROA dipilih karena merupakan salah satu rasio profitabilitas yang digunakan untuk mengukur efektivitas perusahaan dalam menghasilkan keuntungan dengan memanfaatkan total aset

yang dimilikinya. Perhitungan ROA berdasarkan Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 12/11/DPNP tanggal 31 Maret 2010, diperoleh dengan rumus:

4.5.3. Variabel Moderating (Z)

Variabel moderating adalah variabel yang memperkuat atau memperlemah hubungan antara suatu variabel dengan variabel lain (Situmorang, 2012). Variabel moderating dalam penelitian ini adalah Non Performing Financing adalah rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen bank dalam mengelola pembiayaan bermasalah yang ada dapat dipenuhi dengan aktiva produktif yang dimiliki oleh suatu bank (Mulyono, 1995).

Non Performing Financing (NPF) adalah tingkat pengembalian pembiayaan yang diberikan deposan kepada bank dengan kata lain NPF merupakan tingkat pembiayaan macet pada bank tersebut. NPF diketahui dengan

Non Performing Financing (NPF) adalah tingkat pengembalian pembiayaan yang diberikan deposan kepada bank dengan kata lain NPF merupakan tingkat pembiayaan macet pada bank tersebut. NPF diketahui dengan

Dalam dokumen Jihan Amanda Putri (Halaman 42-0)

Dokumen terkait