170
Tugas manusia untuk menggunakan alam dan berkuasa di atas alam perlu dipisahkan dari tugasnya untuk memelihara alam. Di negara-negara industri tugas menaklukkan alam sering diutamakan dengan mengabaikan tugas menjaga, merawat, dan mengagumi alam. Sebagai akibat teknologi dan industri, penaklukan alam sering disertai sikap yang terlalu keras dan eksploitatif terhadap alam. Manusia modern sering kehilangan sikap yang lembut dan ramah terhadap alam. Ia menggunakan alam tetapi kurang menyayangi alam.
Tugas manusia dalam dunia diberikan oleh Allah, dan ia bertanggung jawab kepada Allah atas pelaksanaan tugas itu. Prinsip utama yang mendasari pandangan orang Kristen tentang lingkungan ialah bahwa dunia adalah milik Tuhan. Ia yang menciptakan dan memelihara dunia juga memiliki alam dan mempunyai kewibawaan tertinggi atasnya. “Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya dan dunia serta yang diam di dalamnya. Sebab Dialah yang mendasarkannya di atas lautan dan menegakkannya di atas sungai-sungai”
(Mzm. 24:1-2). Manusia tidak mempunyai hak milik yang mutlak atas bumi. Ia hanya menjadi pengurus atau manajer. Bumi dipercayakan kepada manusia untuk diolah dan diurusnya.
Simaklah renungan berikut ini yang berjudul Lagi-lagi Bencana Alam (Ismail 2012, 65-67). Negeri apa yang paling banyak gunung berapinya? Indonesia.
Gunung apinya ada 129. Negeri apa yang frekuensi gempanya paling kerap dan paling kontinu sepanjang tahun? Juga Indonesia.
171
Di peta tampak gunung api berderet sepanjang Sumatera terus ke Jawa, Nusa Tenggara, Banda, Sulawesi, dan Halmahera. Selain itu, benturan lempeng juga mengakibatkan adanya zona sesar yang lemah sehingga rawan gempa. Di peta geologi terlihat sayatan sesar itu bagaikan menyayat perut bumi Indonesia sampai ke Papua. Oleh sebab itulah, kita sering terkena bencana letusan gunung api dan gempa yang kadang-kadang juga mengakibatkan tsunami.
Tetapi, itu baru sedikit. Sebagian besar bencana alam justru terjadi di luar kaitan gunung api dan gempa. Di Indonesia 65% dari bencana alam adalah bencana hidrometeorologi, yaitu berhubungan dengan iklim dan curah hujan seperti banjir, longsor, angin topan, air pasang, kekeringan, kebakaran hutan, dan gelombang laut.
Berbeda dengan letusan gunung dan gempa yang tidak dapat dicegah, sebaliknya kebanyakan bencana iklim dan hujan sebetulnya dapat dicegah karena penyebabnya adalah kita sendiri. Banjir terjadi karena kita menebangi pohon, sehingga air hujan tidak tersimpan di dalam tanah. Lalu kita pun sembarangan membuang sampah, sehingga saluran air tersumbat dan sungai dangkal. Longsor terjadi karena kita menebangi pohon di lereng. Naiknya air pasang ke daratan terjadi karena kita merusak hutan bakau di pesisir.
Akhir-akhir ini muncul pula jenis bencana alam lain. Di tengah musim kemarau tiba-tiba turun hujan lebat dan badai berhari-hari. Atau sebaliknya, di tengah musim hujan terjadi kekeringan. Akibatnya panen gagal. Jenis bencana alam ini karena pemanasan global atau krisis iklim, dan pemanasan global ini yang paling berbahaya karena mengancam keberlangsungan hidup di bumi.
Duduk perkaranya begini. Es yang ada di Kutub Utara dan Selatan sejak ribuan tahun lalu kini mulai mencair karena suhu semakin panas. Akibatnya, permukaan air laut di seluruh dunia sedikit demi sedikit naik. Ada kemungkinan permukaan laut akan naik sampai tujuh meter sehingga pantai dan dataran rendah di seluruh dunia akan tenggelam. Gejala lain adalah terjadinya cuaca ekstrem. Cuaca jadi sulit diprediksi. Terjadi banjir di satu tempat dan kekeringan di lain tempat atau suhu sangat dingin di satu tempat dan sangat panas di tempat lain.
Siapa penyebabnya? Kita! Pemanasan global dan krisis iklim terjadi akibat perbuatan kita. Asap mobil dan motor, pabrik, pembangkit tenaga listrik, peternakan, dan penumpukan sampah memproduksi beberapa macam gas yang memicu pemanasan global.
Kebanyakan bencana alam terjadi akibat sikap kita yang keliru. Kita merasa diri mampu berbuat sewenang-wenang terhadap alam. Kita merasa diri kuat sehingga bersikap kasar terhadap alam, sama seperti kita merasa diri kuat
172
sehingga bersikap kasar terhadap kelompok minoritas. Bagaikan hukum karma, bencana demi bencana timbul.
Kita memang mempunyai dua pilihan dalam bersikap terhadap bumi, yaitu bersikap kasar dan sewenang-wenang, atau bersikap harmonis. Cerita penciptaan di Alkitab bagaikan menawarkan dua macam pilihan itu. Cerita penciptaan menurut mazhab Imam (Kej. 1:1-2:4a) yang ditulis pada awal masa pembuangan Babel abad ke-6 SM menawarkan manusia untuk “menaklukkan dan menguasai”
(Kej. 1:28; Ibrani kabash artinya ‘mengalahkan,’ dan radah artinya ‘menginjak-injak’). Sebaliknya, cerita penciptaan menurut mazhab Yahwis (Kej. 2:4b-3:24) yang ditulis pada masa kerajaan Daud abad ke-10 SM, menawarkan manusia untuk “mengusahakan dan memelihara” (Kej. 2:15; Ibrani abad artinya
‘mengabdi,’ dan syamar artinya ‘melestarikan’). Cerita penciptaan tradisi imam berkonteks bumi yang basah dan hijau, sedangkan cerita tradisi Yahwis berkonteks bumi yang gersang. Lalu kedua versi itu disambung menjadi satu sebagaimana yang ada pada kita sekarang oleh para editor di Babel pada akhir masa pembuangan, atau pasca pembuangan sekitar tahun 530 SM.”
Memang ada dua pilihan. Pertama, kita mencemari dan merusak bumi. Kedua, kita menyayangi dan memelihara bumi. Kita boleh memilih. Pilihannya terpulang pada kita. Setelah menyimak renungan tersebut, menurut Anda, mengapa pemanasan global dan krisis iklim terjadi? Apa akibatnya jika pemanasan global dan krisis iklim terjadi? Apa yang perlu Anda lakukan agar pemanasan global dan krisis iklim tidak terjadi? Silakan Anda mengumpulkan informasi yang sebanyak-banyaknya dari berbagai buku dan sumber belajar yang lain mengenai dasar teologis dari pemahaman mengenai keutuhan ciptaan.
Seorang sejarawan Amerika Serikat yang bernama Lynn White, Jr. pernah mengajukan pertanyaan berikut ini (Singgih 1993, 245). Apakah ada kesalahan yang dibuat di dalam sistem ajaran Kristen mengenai manusia dan dunia sehingga menyebabkan terangsangnya orang Kristen di masa lalu untuk mengeksploitasi dunia ini sehabis-habisnya “demi nama Tuhan?” Ia menjawab sendiri pertanyaan tersebut secara positif “ya.”
Menurut dia kesalahan itu terdapat dalam doktrin penciptaan di dunia Kristen Barat yang membedakan tajam sekali di antara manusia sebagai gambar Allah (imago Dei) dan dunia sebagai ciptaan yang bukan gambar Allah. Penghayatan terhadap doktrin ini menghasilkan rasa superioritas dan transenden dari
173
manusia terhadap alam yang sedemikian rupa, sehingga manusia dilihat sebagai penguasa alam, sedangkan alam hanya menjadi objek untuk kepentingan manusia. Apa yang dikatakan White menimbulkan kegemparan di kalangan orang Kristen. Kegemparan tersebut dapat dimengerti sebab orang mempertanyakan suatu doktrin atau interpretasi suatu doktrin keagamaan, yang biasanya oleh kalangan penganut agama tersebut tidak dipermasalahkan sama sekali. Biasanya doktrin dianggap “tidak bisa salah.”
John Macquarrie dan James Barr berusaha membuktikan bahwa tuduhan mengenai Alkitab sebagai pokok gara-gara yang menyebabkan kerusakan alam bukan merupakan tuduhan yang kuat, sekaligus kedua orang ini bersedia mengakui bahwa dalam perkembangan sejarah ada penafsiran tertentu terhadap manusia sebagai penguasa yang eksploitatif, dan bahwa gambaran ini tidak cocok dengan apa yang terdapat dalam teks Alkitab itu. Penafsiran ini sama sekali tidak sesuai dengan teks Alkitab. Manusia diakui sebagai yang utama, sebagai penguasa, tetapi pengakuan ini oleh penafsir tertentu di kemudian hari diberi penekanan berlebih-lebihan, sehingga akhirnya
“menguasai” berarti “mengeksploitasi.”
Menurut Macquarrie ada hubungan organik antara Allah dan dunia. Macquarrie memulai uraiannya dengan mencatat kecenderungan para teolog modern untuk mengusut asal-usul ilmu pengetahuan dan teknologi dari Alkitab dan dari doktrin Kristen mengenai penciptaan. Kalau alam dilihat sebagai ciptaan, alam yang tadinya dianggap ilahi dapat dilihat secara objektif sebagai alam semata-mata. Dengan demikian, alam dapat dipelajari dan dimanfaatkan untuk kepentingan manusia.
Pada waktu mereka merumuskan pandangan ini, dunia berada dalam dekade 60-an. Orang sedang jenuh terhadap tekanan pada keselamatan di dalam sejarah dan mulai kembali memerhatikan pokok penciptaan. Belum ada kritik terhadap teknologi. Bahkan teknologi dihargai tinggi sekali. Kalau teknologi yang mulia ini dapat diusut sebagai berasal dari penghayatan iman Kristen atau bahkan dari penghayatan iman di Alkitab, agama Kristen dapat dihargai tinggi pula oleh dunia.
Tanpa diduga sebelumnya, segera timbul reaksi keras terhadap kecenderungan teologis ini. Teknologi tiba-tiba menjadi bulan-bulanan,
174
dianggap sebagai sumber pelbagai kesulitan dan kerugian manusia, misalnya kerusakan serius pada lingkungan hidup dan hancurnya hidup kebersamaan dalam masyarakat akibat perkembangan individualisme yang diakibatkan oleh penerapan teknologi. Ironisnya, reaksi yang muncul itu tetap mempertahankan bahwa teknologi berasal dari Alkitab dan doktrin penciptaan. Hanya saja kalau pandangan sebelumnya menilainya amat positif, kecenderungan baru ini menilainya amat negatif. Kalau iptek menghasilkan begitu banyak kerugian, pasti ada yang salah pada sumbernya.
Kecenderungan baru ini menganjurkan penggantian tekanan dalam hubungan antara Allah, manusia dan dunia. Hubungan ini harus dirumuskan ulang.
Masalah-masalah yang merupakan dampak penerapan teknologi tidak dapat diselesaikan dengan hanya menciptakan teknologi yang lebih baik, melainkan dengan menyediakan suatu struktur pemikiran yang dapat menjadi landasan bertolak bagi tingkah laku manusia. Di sinilah menurut Macquarrie seorang teolog dapat berperan di dalam krisis ekologi. Bagaimana bentuknya sumbangan itu? Yang harus dilakukan ialah meninjau kembali tradisi Kristen dan memeriksa mana tahap-tahap perkembangan tradisi itu yang telah terjadi distorsi karena tekanan yang terlampau dilebih-lebihkan, dan menanyakan apakah di dalam tradisi ini tidak ada sumber-sumber yang laten, yang dapat menjawab kebutuhan masa kini. Tindakan selanjutnya adalah mengoreksi tekanan yang berlebih-lebihan ini dan mempromosikan apa yang tadinya laten. Macquarrie mengajak untuk melihat ke penciptaan di dalam Alkitab.
Bahwa konsep penciptaan akan melahirkan teknologi tidak dapat dibuktikan jika ditinjau dari Alkitab. Orang Ibrani tidak menelurkan teknologi. Mesir dan Mesopotamia lah yang menjadi pelopor teknologi. Orang Kristen mula-mula juga tidak melahirkan teknologi meskipun mengambil alih doktrin penciptaan dari Perjanjian Lama. Hal itu malah terjadi di Yunani. Ini berarti bahwa hubungan antara doktrin penciptaan dengan teknologi baru terjadi sebagai perkembangan kemudian, di dalam kebudayaan Eropa Barat.
Ada kecenderungan untuk melihat hubungan antara Allah – manusia – dunia sebagai hubungan penguasaan. Model ini disebut model monarkhis. Model ini dominan, ditekankan secara berlebih-lebihan. Menurut model monarkhis Allah tanpa dunia = Allah. Sebaliknya dunia tanpa Allah = nol. Kita bisa setuju bahwa dunia tanpa Allah = nol, namun kita tidak bisa setuju bahwa Allah tanpa dunia
175
= Allah. Tanpa dunia/bumi/ciptaan, Allah tidak bermakna apa-apa. Allah berada dalam hubungan dengan bumi sejak semula. Hakikat Allah adalah bahwa Ia pencipta. Tanpa hakikat-Nya sebagai Pencipta, Ia bukan Allah.
Macquarrie menyatakan bahwa ada model lain yang laten, yakni model organis. Model organis inilah yang perlu dipromosikan. Menurut model organis, dunia ini berhubungan secara organis dengan Tuhan. Bahkan Tuhan berada di dalam dunia ini. Macquarrie tidak menganjurkan panteisme yang berpandangan Allah = Dunia, tetapi model organis menuntut agar paling tidak Tuhan dilihat secara integral, sebagai yang transenden sekaligus yang imanen.
Selama ini apologetika Kristen mencoba membela dan mempertahankan doktrin penciptaan dari tuduhan sebagai sumber penyebab kerusakan ekologi dengan menunjuk pada konsep penatalayanan (stewardship). Bagi Macquarrie hal ini belum memuaskan sebab penatalayanan masih menganggap bahwa dunia ini milik manusia, jadi berarti manusia masih lebih tinggi daripada alam, masih tetap penguasa alam. Padahal model organis menaikkan derajat alam dan menurunkan derajat manusia, sehingga hasil akhir adalah suatu keseimbangan. Manusia dan alam, kedua-duanya bersumberkan Tuhan.
Menurut James Barr perlu ada penafsiran baru terhadap pemahaman manusia mengenai “gambar Allah.” Barr sadar bahwa terdapat tuduhan-tuduhan serius yang melemparkan tanggung jawab kerusakan ekologis masa kini ke atas Perjanjian Lama. Kerusakan ini disebabkan oleh teknologi, yang dilahirkan oleh ilmu pengetahuan, sedangkan pada gilirannya ilmu pengetahuan lahir dari sikap religius Yahudi-Kristen terhadap alam. Sikap ini adalah menganggap alam sebagai objek yang harus dikuasai dan dilumpuhkan oleh manusia. Sama seperti Macquarrie, ia mencatat bahwa para teolog pada umumnya menganggap hubungan IPTEK dengan Alkitab sebagai sesuatu yang positif, sedangkan para sejarawan menilainya sebagai sesuatu yang negatif. Barr mengusulkan untuk melihat kembali ke dalam Kitab Kejadian secara khusus dan Perjanjian Lama secara umum, agar dapat dipastikan apakah hubungan di antara keduanya ini betul merupakan hasil penafsiran yang tepat dan apakah dalam sejarah memang ada hubungan antara Alkitab dan IPTEK.
Oleh karena White mengkritik doktrin Kristen dengan bertitik tolak dari pokok yang disetujui juga oleh para teolog, yakni hubungan di antara Alkitab dan
176
IPTEK, menurut Barr kita harus meninggalkan pokok ini. Sebab kritik terhadap suatu pokok dari titik tolak yang sama biasanya sulit ditangkis. Untuk melakukan hal ini kita tidak perlu memutuskan hubungan antara konsep penciptaan dan IPTEK. Pandangan hidup Kristen bisa memengaruhi perkembangan IPTEK. Kenyataan berbicara bahwa IPTEK mengalami perkembangannya di dunia Barat yang berlatar belakang Kristen. Agak berlebih-lebihan kalau kita merumuskan bahwa konsep penciptaan mengakibatkan lahirnya IPTEK.
Barr meninjau masalah istilah “gambar Allah” yang terdapat di dalam Kejadian 1:26-28. Kecenderungan umum adalah melihat di dalam istilah ini ada dominasi atas alam. Karena Tuhan memerintahkan segala sesuatu, demikian juga manusia sebagai gambar Allah memerintahkan ciptaan lain.
Gambar Allah memperlihatkan relasi yang bersifat analogikal. Menurut Barr, tafsiran seperti ini tidak tepat. Istilah gambar Allah sebenarnya mau memberi jalan keluar bagi permasalahan di Israel, sampai seberapa jauh kemiripan manusia dengan Allah. Memang ada hubungan antara gambar Allah dan penguasaan alam, tetapi bukan dalam arti bahwa gambar itu semata-mata terdiri dari penguasaan. Relasinya lebih bersifat konsekuential: oleh karena manusia adalah gambar Allah, biarlah ia berkuasa.
Berbicara mengenai penguasaan, tekanan umumnya diletakkan pada kekuatan manusia dan kegiatan-kegiatannya yang eksploitatif. Jadi kata rada,
‘berkuasa’ ditarik sampai ke etimologinya yang memang melukiskan proses penginjak-injakkan buah anggur untuk dijadikan minuman. Demikian pula kata kabasy, ’menaklukkan’ diartikan sebagai “menindas.” Sebenarnya konteks tidak menunjuk makna yang sekeras itu. Dalam Kejadian 1, manusia adalah vegetarian. Baru sesudah Air Bah, manusia boleh makan daging (Kej. 9).
Jadi di dalam Kejadian 1 penguasaan terhadap alam tidak mengandung unsur kekuatan yang mengorbankan binatang dan bagian dunia yang lain. Rada lebih baik diartikan sebagai ’menaungi,’’mengayomi.’ Kabasy menurut etimologinya memang berarti menginjak-injak, menindas. Konteksnya di sini berhubungan dengan bumi, “penuhilah bumi dengan anak cucumu dan taklukanlah itu.” Apakah mengusahakan bumi/tanah dapat dianggap sebagai eksploitasi?
Dapat saja ditafsirkan seperti itu jika menuruti tafsiran yang dominan, tetapi tidak mesti begitu. Salah satu prinsip penafsiran Alkitab yang elementer
177
adalah bahwa arti kata-kata tidak boleh semata-mata ditetapkan berdasarkan etimologinya saja, melainkan juga berdasarkan caranya kata-kata itu dipakai dalam konteksnya.
Jadi, kalau kita mau menjawab tuduhan White, di masa depan pemahaman terhadap kata-kata rada dan kabasy haruslah melepaskan tekanan yang berlebih- lebihan pada nada keras dan kuat yang eksploitatif. Kalau pada mulanya kedua kata ini tidak eksploitatif, sebenarnya teks Kejadian 1:26-28 tidak dapat dijadikan bulan-bulanan sebagai penyebab kerusakan terhadap alam. Kisah-kisah penciptaan Perjanjian Lama tidak memperlihatkan perhatian teknologis dan metode-metodenya. Jika ada uraian mengenai hal itu, seperti misalnya dalam kisah Kain dan Habel serta keturunan Kain, bagian itu diinspirasikan oleh cerita- cerita kuno di luar Israel yang memang gemar pada teknologi. Menurut Barr tradisi Yahudi-Kristen tidak langsung berhubungan dengan teknologi, dan karena itu terlebih-lebih lagi tidak bersangkut paut dengan kerusakan ekologi. Barr tidak mengungkapkan hal ini untuk melepaskan diri dari tanggung jawab, tetapi sebagai bagian dari tanggung jawab akademis untuk mengungkapkan kebenaran ilmiah. Kalau begitu siapa yang bertanggung jawab atas kerusakan ekologis? Menurut Barr, eksploitasi habis-habisan terhadapalam dilakukan di dalam alam humanisme liberal yang berpandangan manusia tidak lagi menganggap diri sebagai berada di bawah naungan sang Pencipta. Pengaruh humanisme liberal inilah yang dimasukkan ke dalam pemahaman mengenai Kejadian 1:26-28 dan pada pandangan Perjanjian Lama terhadap alam. Kalau begitu, apa peran kisah penciptaan bagi masa kini yang sedang mengalami krisis ekologis?
Sumber: http://smpksantostanislaus.wordpress.com/2013/06/05/dampak-rokok-pada-peringatan-hari-lingkungan-hidup-sedunia-di-smpk-st-stanislaus/
178
Pertama kita menekankan bahwa ciptaan itu baik adanya. Kita bertanggung jawab untuk mengontrol dan membatasi pelbagai usaha kita untuk mengelola danmemanfaatkan alam ini, sehingga kebaikan alam ciptaan tetap terjaga. Kedua, kisah penciptaan di dalam Kitab Kejadian mengungkapkan dunia ini sebagai dunia yang teratur. Alam dibagi-bagi atas fungsi dan jenis. Prinsip- prinsip IPTEK tidak berasal dari Kitab Kejadian, tetapi apa yang kita lihat di dalam Kitab Kejadian mempunyai keparalelan dengan apa yang kita lihat di bidang IPTEK. Ketiga, kerangka Kejadian 1 menunjukkan tempat manusia. Manusia adalah manusia apabila ia berada pada tempatnya di dalam alam. Tempatnya adalah tempat yang utama, tetapi sebagai pemelihara alam. Keempat, kita melihat bahwa Israel melakukan alih teknologi dari luar Israel. Orang Israel tidak mengklaim teknologi sebagai
“anak” mereka. Mereka bisa hidup dengan “orang lain.” Bukankah ini contoh yang baik bagi kita yang memiliki tradisi penciptaan Yahudi-Kristen untuk hidup berdampingan dengan dunia IPTEK tanpa mengklaimnya sebagai
“anak?”
Bumi ini milik Allah sekaligus milik manusia. Bumi adalah milik Allah sebab Ia yang menciptakannya, milik kita sebab Ia telah memberikannya kepada kita (lih. Mzm. 115:16). Jelas Allah bukan memberikannya kepada kita sedemikian tuntas sehingga Ia sama sekali tak punya hak dan tak punya kontrol lagi atasnya, melainkan memberikannya kepada kita supaya kita menguasainya atas nama Dia. Itulah sebabnya penguasaan kita atas bumi ini adalah berdasarkan hak pakai, bukan berdasarkan hak milik. Kita hanya penggarap saja, Allah sendiri tetap “Tuan tanahnya,” Tuan atas semua tanah.
Simaklah renungan berikut ini yang berjudul Bumi Hampir Punah? (Ismail 2009, 65-68).