com/watch?v=Dpj02CUNnsM
Lagu ini cukup dinyanyikan bagian chorusnya saja, sementara solonya tidak usah dinyanyikan. Dalam buku siswa diberikan kedua versi dalam bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Lagu ini dinyanyikan berulang-ulang sebanyak lima kali, dua kali dalam bahasa Inggris, dan tiga kali dalam bahasa Indonesia. Namun, apabila guru atau siswa menghadapi kesulitan dengan lagu dalam bahasa Inggris, nyanyikan saja dalam bahasa Indonesia.
Selama ini mungkin kita sudah mengenal Roh Kudus lewat karunia- karunia-Nya, misalnya karunia untuk menyembuhkan, karunia untuk bernubuat, karunia berbahasa Roh, dan lain lain. Mereka yang berasal dari latar belakang gereja-gereja Pentakostal (Gereja Pantekosta di Indonesia, Gereja Pantekosta Pusat Surabaya, GBI, Bethany, dan lain lain) kemungkinan besar sering mendengar penekanan pada karunia-karunia Roh ini.
Di dalam Alkitab disebutkan ada dua jenis karunia dari Roh Kudus. Karunia-karunia yang pertama adalah karunia-karunia yang dimaksudkan untuk menguduskan mereka yang menerimanya. Karunia-karunia yang kedua, lebih tepat disebut sebagai karismata (dari kata charismata dalam bahasa Yunani, yang artinya “anugerah yang memberikan sukacita, keindahan, bahagia.” Karismata ini adalah pemberian istimewa yang dianugerahkan untuk menolong orang lain, namun tidak dengan sendirinya menghasilkan pengudusan. Bahkan karunia ini bisa terpisah pula dari anugerah yang menguduskan.
Karunia-karunia yang menguduskan ada enam, seperti yang disebutkan oleh Yesaya (11:2). Karunia-karunia itu adalah hikmat, pengertian, nasihat, keperkasaan, pengenalan, dan takut akan TUHAN.
Karunia-karunia dari kelompok yang kedua atau karismata, sebagian kita ketahui dari Paulus, dan sebagian lagi dari sejarah gereja perdana. Dari
Paulus kita dapat menemukannya khususnya dalam 1 Korintus 12:6-11 dan 12:28-31; serta Roma 12:6-8.
Dalam 1 Korintus 12:6-11 kita menemukan sembilan karismata (anugerah), yaitu karunia berkata-kata dengan hikmat, karunia berkata-kata dengan pengetahuan, iman, karunia untuk menyembuhkan, karunia untuk mengadakan mujizat, karunia untuk bernubuat, karunia untuk membedakan bermacam-macam roh, karunia untuk berkata-kata dengan bahasa roh, dan karunia untuk menafsirkan bahasa roh itu.
Dari 1 Korintus 12:28 kita menemukan beberapa karunia yang lain yaitu karunia untuk mengadakan melayani dan untuk memimpin – selain karunia- karunia lain yang sudah disebutkan dalam 1 Korintus 12:6-11.
Dalam Roma 12:6-8 disebutkan karunia-karunia yang lain, yaitu karunia melayani, karunia mengajar, dan karunia menasihati.
Dari gambaran di atas kita dapat menyimpulkan bahwa Roh Kudus bekerja dalam cara yang berbeda-beda. Setiap jemaat mendapatkan karunia yang berbeda-beda. Setidak-tidaknya kita menemukan bahwa jemaat di Korintus mendapatkan karunia yang tidak persis sama dengan karunia yang diperoleh oleh jemaat di Roma. Kebutuhan jemaat Korintus tidak sama dengan kebutuhan jemaat di Roma sehingga karunia yang diberikan pun berbeda.
Hal ini dapat di bandingkan dengan karunia-karunia yang Allah berikan kepada bangsa-bangsa di dunia. Karunia-karunia itu berbeda-beda, sesuai
dengan kondisi geografis, kondisi fisik bangsa itu, kebutuhan mereka
sehari-hari, dan lain lain. Misalnya, kepada bangsa-bangsa yang tinggal di daerah Kutub Utara diberikan karunia untuk bertahan di udara yang dingin, sementara mereka yang tinggal di daerah gurun dan padang pasir dikaruniai daya tahan yang lebih tinggi untuk menghadapi udara panas. Di tempat yang mataharinya bersinar lebih lama dan terik, seperti di daerah tropis warna kulit penduduknya umumnya lebih gelap untuk melindungi mereka dari radiasi cahaya ultraviolet dari matahari yang biasanya sangat kuat. Kulit memiliki lapisan melanin yang berfungsi untuk melindungi kulit manusia dari radiasi tersebut sehingga kulit mereka tidak mengalami luka bakar yang bisa menyebabkan perubahan-perubahan pada DNA dan menimbulkan kanker kulit yang berbahaya.
Sebaliknya, mereka yang tinggal di daerah yang mataharinya bersinar lebih singkat, seperti di daerah sub-tropis atau bahkan kutub, warna kulit penduduknya umumnya lebih terang agar kulit mereka dapat menyerap lebih banyak cahaya ultraviolet dari matahari yang sangat dibutuhkan tubuh manusia untuk kesehatannya. Dalam bahasa ilmiah, orang menyebutnya
sebagai hasil seleksi alam, namun secara teologis kita memahaminya sebagai karya Allah yang memberikan karunia yang berbeda-beda kepada setiap manusia sesuai dengan kebutuhannya dan konteks hidupnya.
Dari perbandingan di atas mudah-mudahan siswa dapat bisa mengerti mengapa gereja-gereja sangat bervariasi. Gereja tidak semuanya sama. Begitu pula karunia-karunia yang dimiliki oleh orang-orang Kristen yang menjadi anggota-anggota gereja tersebut.
Dari semua karunia itu, Rasul Paulus menjelaskan bahwa ada tiga hal yang paling penting daripada semuanya, yaitu iman, pengharapan, dan kasih. Ia mengatakan, “demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih” (1 Korintus 13:13).
Apabila karunia yang terbesar adalah kasih maka kasih pun seharusnya menjadi ciri yang paling menonjol dalam kehidupan setiap gereja dan orang Kristen. Apakah di dalam keluarga dan gereja ada kasih, ada kesediaan untuk berkorban demi orang lain, ada kerendahan hati untuk menganggap yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri (Filipi 2:3)? Semua ini adalah tanda- tanda hadirnya pekerjaan Allah melalui Roh Kudus-Nya yang membentuk dan membangun pribadi masing-masing sehingga akan semakin bertumbuh ke arah Kristus (Efesus 4:15).
Pada pelajaran ini tidak akan membahas semua karunia Roh Kudus itu, melainkan hanya akan membatasinya pada peranan Roh Kudus dalam menopang hidup sebagai orang-orang beriman agar memperoleh kekuatan dalam menghadapi berbagai tantangan dan pencobaan.
C. Tuhan Yesus Menjanjikan Roh Kudus yang
Menguatkan
Roh Allah telah sejak lama bekerja di dalam kehidupan manusia. Bahkan sebelum sesuatu dijadikan, Roh itu sudah ada. Dalam Kejadian 1:2 dikatakan,
“Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air.” Sebelum Tuhan Yesus menjalankan tugas-Nya, Roh itu menampakkan diri-Nya pada peristiwa pembaptisan Yesus di Sungai Yordan (Markus 1:10), dan memimpin Yesus ke padang gurun untuk dicobai (Markus 1:12).
Menjelang kematian-Nya, kebangkitan, dan kembali-Nya Yesus ke surga, Ia menjanjikan seorang penolong bagi murid-murid dan semua pengikut- Nya. Kata-Nya kepada murid-murid-Nya, “…Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala
sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.” (Yohanes 14:26).
Dalam bahasa Yunani, bahasa yang digunakan untuk menulis kitab- kitab Perjanjian Baru, Roh Kudus disebut sebagai parakletos, yang artinya “dipanggil untuk menolong, menasihati”. Dengan demikian, Roh Kudus akan
menjalankan peranan sebagai pengganti Tuhan Yesus yang secara fisik sudah
kembali kepada Bapa di surga.
Sebuah janji Roh Kudus yang sangat penting bagi orang-orang Kristen di Indonesia dan di berbagai
belahan dunia lainnya adalah kekuatan. Sejak awal Gereja terbentuk, sejak murid-murid Tuhan Yesus mendapatkan pencurahan Roh Kudus, mereka memperoleh kekuatan yang luar biasa yang memungkinkan mereka berdiri tegak tanpa takut di Yerusalem dan berbicara kepada orang banyak tentang siapa Yesus yang mereka salibkan (Kisah Para Rasul 2).
Kekuatan yang diberikan oleh Roh Kudus itu terbukti dalam kehidupan berbagai tokoh dalam Alkitab maupun
sejarah gereja. Dalam bagian ini diangkat pengalaman Rasul Paulus sendiri yang sering menghadapi masalah-masalah yang berat, serangan dari kiri dan kanan, dan sebagainya.