HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum Sekolah
E. Lainnya 2 Bulu Tangkis 1 Pramuka 3 Tenis Lapangan
3. Pasus
4. Bela Diri Silat
Waktu belajar mengajar untuk kelas 5 dimulai pada pukul 07.00-12.15 WIB. Terdapat dua kali waktu istirahat, yaitu pada pukul 09.00-09.30 WIB untuk istirahat pertama dan pada pukul 11.00-11.15 WIB untuk istirahat kedua. Jam berakhirnya sekolah yaitu pada pukul 12.15 WIB.
Jumlah ruangan yang terdapat di SD Negeri Pengadilan 5 Bogor sebanyak 10 ruang, yang terdiri atas 1 buah ruang kepala sekolah, 1 buah ruang guru, 1 buah ruang komputer, 1 buah perpustakaan, 1 buah mushola, dan 5 buah kamar mandi.
SD Bina Insani Bogor
Sekolah Dasar Bina Insani berdiri pada tahun 1990, didirikan oleh H. Muchtar Mandala, SE selaku Ketua Yayasan Bina Insani. Sekolah Dasar Bina Insani terletak di Jalan KH. Sholeh Iskandar, Tanah Sereal Bogor. Kepala Sekolah Dasar Bina Insani pertama kali dipegang oleh Hj. Enah Suhaenah (almarhumah). Saat ini Kepala Sekolah Dasar Bina Insani dipegang oleh Subana Hazarpriadi, S. Pd SD. Kepala Sekolah tersebut membawahi tiga bidang yang meliputi Bidang Kurikulum, Bidang Kesiswaan, serta Bidang Administrasi Keuangan dan Umum. Visi dari SD Bina Insani yaitu “Menjadikan Sekolah Dasar yang Berkualitas Bernapaskan Islam, Dipercaya, Diminati Oleh
Masyarakat dan Berorientasi Global”. Misi dari SD Bina Insani, yaitu:
1. Menyelenggarakan sekolah dasar yang bermutu dengan konsep pendidikan berbasis kompetensi
2. Turut serta dalam membangun dan membentuk generasi muslim yang tangguh dan siap menghadapi tantangan zaman
3. Menciptakan suasana belajar yang kondusif guna berkembangnya kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual 4. Menghasilkan lulusan yang berakhlak mulia, fasih membaca Al-Quran.
Tenaga pengajar SD Bina Insani berjumlah 47 orang, yaitu 46 orang guru tetap dan 1 orang guru honorer. Terdapat 5 Rombel (rombongan belajar) kelas 5 di SD Bina Insani, yaitu kelas 5A, 5B, 5C, 5D, dan 5E. Jumlah keseluruhan siswa/i kelas 5, yaitu 100 siswa dan 62 siswi.
Waktu belajar mengajar pada siswa/i kelas 5 selama 5 hari (Senin-
disediakan sebanyak dua kali, yaitu pada pukul 09.00-09.30 WIB dan pada pukul 11.45-12.15 WIB. Kurikulum yang digunakan SD Bina Insani yaitu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).
Sekolah Dasar Bina Insani menyediakan pelayanan katering bagi siswa/i kelas 5 untuk makan siang. Pelayanan katering diserahkan kepada Jasa Katering. Seluruh tanggung jawab menu dan porsi makan diserahkan sepenuhnya pada pihak katering. Jumlah katering yang menjadi rekanan SD Bina Insani berjumlah 1 buah. Siswa/i SD Bina Insani diberikan kebebasan untuk memesan makanan melalui katering.
Sarana pembelajaran yang disediakan oleh SD Bina Insani meliputi Lab Komputer, Perpustakaan Digital, Masjid, Kantin, dan Lapangan Olahraga. Bagi anak yang memiliki karakteristik Cerdas Istimewa (CI) dikelola dalam Program Akselerasi. Program ini untuk melayani siswa yang mempunyai kemampuan istimewa/tinggi di bidang MIPA dengan masa studi selama 5 tahun. Kegiatan kesiswaan yang terdapat di SD Bina Insani meliputi Outdoor Study CIBI, Robotic, Pramuka, Keagamaan, Upacara Bendera, Drum Band, dan UKS.
SD Islam Terpadu Ummul Quro’ Bogor
Yayasan Ummul Quro’ didirikan pada tanggal 3 Februari 1996 dan
berlokasi di Jalan Baru Salabenda no.1, Parakan Jaya, Kemang Bogor. Yayasan ini didirikan di atas tanah waqaf dari H. M. Nawir (almarhum) seluas 1111 m2 dan dari dr. H. Mursidin (almarhum) seluas 1130 m2. Bangunan masjid berlantai dua berukuran 20 x 20 didirikan di atas tanah ini dan satu unit gedung sekolah berlantai dua (6 lokal) yang sebagian dananya merupakan bantuan dari lembaga Rabithah Alam Islami.
Pada perkembangannya, kegiatan pendidikan yang pada tahun 1996 berawal program SDIT sebanyak 5 kelas (kelas 2 – 6 yang dilimpahkan dari SDIT
Sholahuddin YPI Annizariyah), maka pada tahun 1998 berdiri TKIT Ummul Quro’, pada tahun 2002 berdiri SMPIT Ummul Quro’, dan pada tahun 2011 berdiri
SMAIT Ummul Quro’. Sehingga jumlah siswa sampai tahun 2010 mencapai 1225 siswa, yang terdiri dari: Siswa TKIT sebanyak 117 siswa, siswa SDIT sebanyak 764 siswa, siswa SMPIT sebanyak 344 siswa.
Kurikulum yang digunakan adalah Kurikulum Terpadu, yaitu Kurikulum Nasional yang telah diperkaya dengan kurikulum lokal dan sistem pendekatan yang Islami. Kurikulum ini mencakup: Kurikulum Depdiknas, Kurikulum Madah
Diniyah, Kurikulum Al Qur’an (Tahsin Tilawah dan Tahfidz), dan Kurikulum Ekstra Kurikuler. Sistem pendidikan di Lembaga Pendidikan Ummul Quro’ dilakukan dengan pendekatan PAKEM (Pengajaran yang Aktif, Kreatif dan Menyenangkan) dan dengan memperpanjang waktu belajar di sekolah (Full Day School).
SDIT Ummul Quro’ yang semula bernama SDIT Sholahuddin YPI Annizariyah menjadi bagian dari Yayasan Ummul Quro’ yang telah mempunyai institusi tersendiri. SDIT Ummul Quro’ dikepalai oleh seorang Kepala Sekolah
yang bernama Entin Sutini, A.Ma. Kepala Sekolah tersebut membawahi Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan dan
Wakil Kepala Sekolah Bidang Al Qur’an. Berikut ini merupakan Visi, Misi, dan Tujuan SDIT Ummul Quro’.
Visi
:
“Menjadi sekolah terbaik dalam membentuk generasi saleh dancendekia”
Misi :
1. Menjadikan SDIT Ummul Quro’ sebagai lembaga pendidikan Islami 2. Menjadikan SDIT Ummul Quro’ Bogor sebagai lingkungan yang baik 3. Menjadikan SDIT Ummul Quro’ Bogor sebagai sekolah percontohan Tujuan : “Membentuk generasi saleh dan cendekia”
Terdapat dua blok dalam bidang pembelajaran Al Qur’an, yaitu Blok I
untuk kelas 1, 2, dan 3 serta Blok II untuk kelas 4, 5, dan 6. Masing-masing tingkatan kelas dipegang oleh seorang koordinator level yang terbagi menjadi 6 level, yaitu level I untuk kelas 1, level II untuk kelas 2, level III untuk kelas 3, level IV untuk kelas 4, level V untuk kelas 5, dan level VI untuk kelas 6. Koordinator level V dipegang oleh Gun Gun Gunawan, S. Hut yang membawahi empat wali kelas 5. Terdapat 4 Rombel (rombongan belajar) untuk kelas 5 SDIT Ummul
Quro’. Keempat rombongan belajar tersebut terdiri atas kelas 5A, 5B, 5C, dan
5D.
Waktu belajar mengajar pada siswa/i kelas 5 selama 5 hari (Senin-
Jum’at) dimulai pada pukul 07.15-16.00 WIB. Waktu istirahat untuk para siswa disediakan sebanyak dua kali, yaitu pada pukul 09.00-09.30 WIB dan pada pukul 11.45-12.15 WIB. Pihak sekolah menyediakan pelayanan katering bagi siswa/i kelas 5. Semua tanggung jawab menu dan porsi makan siswa/i diberikan sepenuhnya kepada pihak pengelola katering yang menjadi rekanan SDIT
Ummul Quro’. Keikutsertaan pemesanan katering diberikan kebebasan memilih
kepada siswa/i.
Sarana dan prasarana yang dimiliki oleh SDIT Ummul Quro’ meliputi 1 buah masjid, 1 buah lapangan olahraga, 1 buah perpustakaan, 1 buah ruang kepala sekolah, 1 buah ruang tata usaha, 1 ruang koordinator level, 1 buah ruang Lab Multimedia, kamar mandi, dan kantin.
Karakteristik Siswi Umur Siswi
Siswi dalam penelitian ini dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu siswi yang telah mengalami menstruasi dan siswi yang belum mengalami menstruasi. Siswi merupakan siswi kelas 5 Sekolah Dasar dari empat SD di Bogor yang mempunyai karakteristik ekonomi yang baik, baik untuk siswi yang telah mengalami menstruasi maupun siswi yang belum mengalami menstruasi. Berikut ini merupakan sebaran siswi menurut umur pada siswi yang telah mengalami menstruasi dan siswi yang belum mengalami menstruasi.
Tabel 10 Sebaran siswi menurut umur (tahun)
Umur Sudah Menstruasi Belum Menstruasi n % n % 9 tahun 1 2.6 0 0.0 10 tahun 14 36.8 18 47.4 11 tahun 23 60.5 20 52.6 Total 38 100 38 100 Rata-rata ± SD (tahun) 10.4 ± 1.8 10.5 ± 0.5
Berdasarkan Tabel 2, dapat diketahui bahwa sebanyak 60.5% siswi yang sudah menstruasi berada pada usia 11 tahun. Sebaran siswi yang belum menstruasi diperoleh sebanyak 52.6% berada pada usia 11 tahun. Menurut klasifikasi World Health Organization (WHO) (2000) dalam Nugroho (2001), umur tersebut merupakan awal siswi memasuki masa remaja atau umur dimulainya masa remaja. Rata-rata umur siswi yang sudah menstruasi yaitu (10.4 ± 1.8) tahun sedangkan rata-rata umur siswi yang belum menstruasi berada pada angka (10.5 ± 0.5) tahun. Berdasarkan uji independent t-test diperoleh hasil tidak terdapat perbedaan umur siswi yang signifikan pada uji ini, p= 0.666.
Uang Saku Siswi
Setiap anak yang bersekolah dibekali uang saku oleh orang tuanya sebagai uang untuk pegangan anak selama di sekolah. Uang saku tersebut
umumnya digunakan anak sekolah untuk membeli jajanan sekolah baik berupa makanan maupun non makanan (Muasyaroh 2006). Berikut ini disajikan tabel sebaran siswi menurut besarnya uang saku.
Tabel 11 Sebaran siswi menurut besarnya uang saku Uang Saku Sudah Menstruasi Belum Menstruasi
n % n % ≤ Rp 5000 14 36.8 11 28.9 Rp 6000-Rp 10000 20 52.6 17 44.7 Rp 11000-15000 2 5.3 5 13.2 > Rp 15000 2 5.3 5 13.2 Total 38 100 38 100 Rata-rata ± SD (Rp) 5435 ± 3716 10158 ± 5233
Sebaran siswi menurut besarnya uang saku dapat diketahui pada tabel di atas bahwa persentase tertinggi berada pada kisaran nominal Rp 6000-Rp 10000, baik pada siswi yang sudah menstruasi maupun yang belum menstruasi. Secara berturut-turut persentase uang saku siswi tertinggi yaitu 52.6% dan 44.7% dengan rata-rata Rp 5435 ± 3716 dan Rp 10158 ± 5233. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Widjayanti (1989) dalam Mardayanti (2008) tentang alokasi uang saku pada siswa sekolah di Bogor menyimpulkan bahwa semakin besar pendapatan keluarga maka semakin besar uang saku yang diterima oleh anak.
Tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada uang saku siswi yang sudah menstruasi dengan siswi yang belum menstruasi. Nilai signifikansi untuk uji t yang diperoleh yaitu p= 0.097.
Status Gizi Siswi
Status gizi siswi dihitung menurut TB/U dan IMT/U. IMT/U direkomendasikan sebagai indikator terbaik yang dapat digunakan pada remaja (WHO 2008). Perhitungan status gizi menggunakan Z-score untuk remaja umur 9-12 tahun. Sebaran status gizi siswi menurut TB/U pada siswi yang sudah menstruasi diperoleh sebanyak 97.4% memiliki status gizi normal dan sebanyak 2.6% berstatus gizi lebih. Status gizi normal pada siswi yang belum menstruasi diperoleh sebanyak 92.1% dan siswi yang berstatus gizi pendek sebanyak 7.9%. Sebanyak 76.3% siswi yang sudah menstruasi berstatus gizi normal menurut IMT/U dan sebanyak 23.7% berstatus gizi risiko overweight. Sebaran status gizi pada siswi yang belum menstruasi diperoleh sebanyak 71.0% yang berstatus gizi normal sedangkan untuk status gizi risiko overweight sebanyak
18.4% dan overweight sebanyak 5.3%. Terdapat siswi yang memiliki status gizi underweight pada kelompok ini, yaitu sebanyak 5.3%. Tabel 12 di bawah ini merupakan sebaran status gizi siswi menurut TB/U dan IMT/U.
Tabel 12 Sebaran status gizi siswi menurut TB/U dan IMT/U
Status Gizi Sudah Menstruasi Belum Menstruasi n (38) % (100) n (38) % (100) TB/U Pendek 0 0.00 3 7.9 Normal 37 97.4 35 92.1 Lebih 1 2.6 0 0.0 IMT/U Underweight 0 0.0 2 5.3 Normal 29 76.3 27 71.0 Risiko Overweight 9 23.7 7 18.4 Overweight 0 0.0 2 5.3
Pemenuhan gizi yang baik pada anak akan berdampak pada perkembangan pubertal di masa remaja. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Buyken et al. (2009) bahwa komposisi tubuh prepubertas pada anak laki-laki dan perempuan yang sehat mempunyai efek terhadap kemajuan perkembangan pubertas. Berdasarkan hasil perhitungan yang disajikan pada tabel di atas terdapat siswi yang memiliki status gizi tidak normal baik pada kelompok siswi yang sudah menstruasi maupun kelompok siswi yang belum menstruasi. Hal ini dapat mempengaruhi waktu pubertas pada siswi (Sunarto&Mayasari 2010). Pengetahuan Gizi Siswi
Pengetahuan gizi mempunyai peranan penting dalam pembentukan kebiasaan makan seseorang, sebab hal ini akan mempengaruhi seseorang dalam memilih jenis dan jumlah makanan yang dikonsumsi (Harper et al. 1985). Pengetahuan gizi pada siswi dilakukan dengan memberikan 20 butir soal pilihan ganda. Skor 1 untuk jawaban benar dan skor 0 untuk jawaban salah.
Terdapat tiga kategori untuk penilaian tingkat pengetahuan gizi, yaitu kategori kurang, sedang, dan baik. Siswi yang mendapatkan total skor <60% dikategorikan kurang. Jika siswi mendapatkan total skor antara 60 sampai 80% maka termasuk kategori sedang dan jika siswi mendapatkan total skor >80% maka termasuk kategori baik (Khomsan 2000).
Penting bagi anak dan remaja untuk memperoleh pengetahuan gizi dari berbagai sumber informasi karena perilaku yang didasarkan pada pengetahuan
akan bertahan lebih lama (Amelia 2008). Pengetahuan gizi pada siswi yang sudah menstruasi berada pada kategori kurang sampai dengan sedang. Berikut disajikan sebaran siswi yang menjawab pertanyaan dengan benar.
Tabel 13 Sebaran siswi yang menjawab pertanyaan pengetahuan gizi dengan benar Pertanyaan Sudah Menstruasi Belum Menstruasi
n % n %
Istilah lain dari gizi adalah nutrisi 35 92.1 30 78.9 Susunan menu seimbang yaitu
nasi, telur, tumis kangkung, buah semangka
36 94.7 37 97.4
Protein merupakan kumpulan-
kumpulan dari asam amino 7 18.4 11 28.9
Jenis protein menurut asalnya yaitu
protein hewani dan protein nabati 37 97.4 38 100
Zat gizi yang berfungsi sebagai zat pembangun dan pengatur adalah protein
14 36.8 8 21.1
Fungsi zat gizi pembangun yaitu
pembentuk jaringan baru 4 10.5 5 13.2
Kandungan zat gizi pada ikan
adalah protein 37 97.4 37 97.4
Pangan sumber protein hewani
adalah ikan 37 97.4 38 100
Konsumsi protein berlebihan akan berdampak tidak baik bagi
kesehatan
36 94.7 36 94.7
KEP, penyakit akibat kekurangan
protein 24 63.2 36 94.7
Akibat dari kekurangan protein
timbul penyakit kwashiorkor 5 13.2 14 36.8
Jenis protein yang kandungan asam amino esensialnya lengkap adalah protein hewani
9 23.7 9 23.7
Pangan hewani berasal dari hewan 35 92.1 37 97.4 Sumber protein hewani tertinggi
terdapat pada telur 11 28.9 19 50
Dampak dari konsumsi pangan sumber protein hewani yang kurang adalah anemia
7 18.4 9 23.7
Kelompok usia yang paling banyak membutuhkan protein adalah anak- anak dan remaja
35 92.1 34 89.5
Fungsi protein untuk anak-anak dan remaja adalah untuk kecerdasan dan pertumbuhan
35 92.1 37 97.4
Kandungan zat gizi yang banyak
terdapat pada telur adalah protein 15 39.5 19 50
Keju merupakan pangan sumber
protein 12 31.6 17 44.7
Kecukupan protein harus selalu terpenuhi pada remaja dan anak- anak
Pengetahuan gizi pada siswi yang belum menstruasi berada pada ketiga kategori, yaitu kurang, sedang, dan baik. Sebanyak 36.8% siswi yang sudah menstruasi memiliki pengetahuan gizi kategori kurang dan sebanyak 63.2% memiliki pengetahuan gizi kategori sedang. Siswi yang belum menstruasi memiliki sebaran pengetahuan gizi untuk kategori kurang sebanyak 23.7%, sedang sebanyak 55.3%, dan baik sebanyak 21.1%. Sebaran pengetahuan gizi siswi yang berbeda pada kedua kelompok siswi diduga karena adanya perbedaan informasi yang diperoleh tentang gizi dan lingkungan sekitar yang mendukung sehingga tingkat pengetahuan gizi yang dimiliki masih terbatas.
Tabel 14 Sebaran siswi menurut pengetahuan gizi
Variabel Sudah Menstruasi Belum Menstruasi n % n % Kurang (<60%) 14 36.8 9 23.7 Sedang (60-80%) 24 63.2 21 55.3 Baik (>80%) 0 0.0 8 21.1 Total 38 100 38 100 Rata-rata ± SD (%) 60.5 ± 10.7 65.5 ± 11.1
Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara pengetahuan gizi siswi yang sudah menstruasi dengan siswi yang belum menstruasi. Hal tersebut ditunjukkan oleh nilai signifikansi uji t sebesar p= 0.330.
Karakteristik Keluarga Siswi Umur Orang Tua Siswi
Umur orang tua menentukan besarnya pengalaman keluarga dan anak dalam mengkonsumsi makanan terutama konsumsi pangan hewani. Tingkat umur dapat mempengaruhi cara berpikir serta bertindak dan emosi seseorang, karena seseorang yang mempunyai umur lebih dewasa relatif lebih stabil emosinya dibandingkan dengan orang yang lebih muda (Hurlock 1980). Menurut Ghozaly (2011) umur orang tua siswi dapat dikelompokkan ke dalam usia dewasa muda (20-40 tahun), dewasa madya (41-60 tahun), dan dewasa akhir atau usia lanjut (>60 tahun).
Sebaran siswi yang sudah mengalami menstruasi untuk umur orang tua pada ayah yang paling tinggi dengan persentase 50.0% berada pada kisaran umur 35-44 tahun, sedangkan sebaran siswi yang belum mengalami menstruasi untuk umur orang tua pada ayah paling tinggi dengan persentase 57.9% berada
pada kisaran umur yang sama dengan siswi yang sudah menstruasi. Berikut ini merupakan hasil pengamatan terhadap sebaran siswi menurut umur orang tua.
Tabel 15 Sebaran siswi menurut umur orang tua
Umur Sudah Menstruasi Belum Menstruasi n (38) % (100) n (38) % (100) Ayah < 35 tahun 2 5.3 0 0.00 35-44 tahun 19 50.0 22 57.9 45-54 tahun 17 44.7 15 39.5 > 54 tahun 0 0.00 1 2.6 Ibu < 30 tahun 0 0.00 0 0.00 30-39 tahun 15 39.5 5 52.6 40-49 tahun 22 57.9 18 47.4 >49 tahun 1 2.6 0 0.00
Umur ibu pada sebaran siswi yang sudah menstruasi dan yang belum menstruasi persentase tertinggi berada pada kisaran umur 40-49 tahun dengan persentase secara berturut-turut 57.9% dan 47.4%. Berdasarkan uji Mann- Whitney diketahui bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara umur orang tua kedua kelompok siswi. Nilai signifikansi yang ditunjukkan untuk semua variabel umur orang tua siswi yaitu p > 0.05.
Pendidikan Orang Tua Siswi
Sebaran siswi untuk pendidikan akhir orang tua pada kedua siswi memiliki persentase tertinggi pada pendidikan Sarjana baik untuk pendidikan ayah maupun pendidikan ibu. Persentase sebesar 63.2% terdapat pada siswi yang sudah menstruasi untuk pendidikan ayah (Sarjana) sedangkan persentase sebesar 55.4% terdapat pada siswi yang belum menstruasi untuk pendidikan ayah.
Pendidikan ibu (Sarjana) pada siswi yang sudah menstruasi diperoleh persentase 39.5%, sedangkan pada siswi yang belum menstruasi diperoleh persentase 47.4%. Secara keseluruhan pendidikan orang tua siswi dapat dikatakan termasuk kategori baik. Semakin baik pendidikan dan pengetahuan gizi orang tua maka keadaan gizi anak akan baik pula (Riyadi et al. 2006). Tabel 16 di bawah ini menyajikan sebaran siswi menurut pendidikan orang tua pada masing-masing siswi.
Berdasarkan uji Mann-Whitney diketahui bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara pendidikan orang tua kedua kelompok siswi. Nilai
signifikansi yang ditunjukkan untuk semua variabel pendidikan orang tua kedua keompok siswi yaitu p > 0.05.
Tabel 16 Sebaran siswi menurut pendidikan orang tua
Pendidikan Sudah Menstruasi Belum Menstruasi n (38) % (100) n (38) %(100) Ayah SMA/sederajat 2 5.3 4 10.5 Diploma/Akademi 4 10.5 4 10.5 Sarjana 24 63.2 21 55.4 Pasca Sarjana 8 21.1 9 23.6 Ibu SMP/sederajat 1 2.6 1 2.6 SMA/sederajat 8 21.1 7 18.4 Diploma/Akademi 10 26.3 9 23.7 Sarjana 15 39.5 18 47.4 Pasca Sarjana 4 10.5 3 7.9
Pekerjaan Orang Tua Siswi
Pendidikan yang tinggi akan memberikan peluang yang lebih besar untuk mendapatkan pekerjaan yang baik. Menurut Suhardjo et al (1988), makin tinggi tingkat pendidikan yang diperoleh maka kesempatan untuk memperoleh pekerjaan yang lebih baik juga semakin besar sehingga akan mempengaruhi tingkat pendapatan yang diperoleh oleh seseorang.
Tabel 17 Sebaran siswi menurut pekerjaan orang tua
Pekerjaan Sudah Menstruasi Belum Menstruasi n (38) % (100) n (38) %(100) Ayah PNS 7 18.4 11 28.9 Pegawai Swasta 18 47.4 12 31.6 BUMN 2 5.3 4 10.5 TNI/Polri 1 2.6 0 0.0 Wiraswasta 6 15.8 9 23.7 Lainnya 4 10.5 2 5.3 Ibu PNS 7 18.4 6 15.8 Pegawai Swasta 2 5.3 3 7.9 BUMN 0 0.0 2 5.3 TNI/Polri 1 2.6 0 0.0 Wiraswasta 4 10.5 2 5.3
Ibu Rumah Tangga 23 60.5 22 57.9
Berdasarkan Tabel 17 diketahui bahwa pekerjaan ayah pada kedua kelompok contoh memiliki nilai tertinggi untuk jenis pekerjaan pegawai swasta dengan persentase berturut-turut sebesar 47.4% dan 31.6%. Pekerjaan ibu pada kedua kelompok siswi juga memiliki nilai tertinggi yang sama pada jenis pekerjaan ibu rumah tangga. Secara berturut-turut persentase sebaran siswi untuk pekerjaan ibu sebagai ibu rumah tangga yaitu 60.5% dan 57.9%. Berikut ini disajikan tabel sebaran siswi menurut pekerjaan orang tua.
Berdasarkan uji Mann-Whitney diketahui bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara pekerjaan orang tua kedua kelompok siswi. Nilai signifikansi yang ditunjukkan untuk semua variabel pekerjaan orang tua kedua kelompok siswi yaitu p > 0.05.
Kepemilikan Kendaraan Pribadi dan Alat Elektronik
Kepemilikan kendaraan pribadi dan sejumlah alat elektronik menjadi indikator dalam menilai penghasilan orang tua siswi. Menurut Rifusua (2010), tingkat pendapatan dapat diketahui melalui pendekatan kepemilikan kendaraan pribadi. Semakin tinggi pendapatan seseorang maka kemampuan daya belinya semakin meningkat. Penggunaan kepemilikan kendaraan pribadi sebagai pendekatan dalam menentukan penghasilan orang tua siswi dalam penelitian dilakukan sebab dari empat lokasi penelitian terdapat satu sekolah yang tidak bersedia memberikan keterangan mengenai penghasilan orang tua sehingga agar data yang diperoleh seragam maka untuk penghasilan orang tua siswi pada semua lokasi menggunakan pendekatan terhadap kepemilikan kendaraan pribadi dan alat elektronik.
Terdapat 12 unit kendaraan dan alat elektronik yang diberikan kepada siswi untuk selanjutnya diisi jenis dan banyaknya barang tersebut yang dimiliki. Berikut ini merupakan tabel sebaran siswi menurut kepemilikan kendaraan pribadi dan alat elektronik.
Tabel 18 Sebaran siswi menurut kepemilikan kendaraan pribadi dan alat elektronik Kepemilikan
Kendaraan Pribadi dan Alat Elektronik
Sudah Menstruasi Belum Menstruasi
n % n % ≤ 10 unit 5 13.2 7 18.4 11-15 unit 8 21.1 11 28.9 16-20 unit 9 23.7 9 23.7 21-25 unit 11 28.9 3 7.9 >25 unit 5 13.1 8 21.1 Total 38 100 38 100
Persentase tertinggi (28.9%) terdapat pada kepemilikan kendaraan pribadi dan alat elektronik sebanyak 21-25 unit pada siswi yang sudah menstruasi sedangkan persentase tertinggi (28.9%) terdapat pada kepemilikan kendaraan pribadi dan alat elektronik sebanyak 11-15 unit pada siswi yang belum menstruasi. Hal ini dapat diasumsikan bahwa siswi yang sudah menstruasi memiliki penghasilan orang tua yang lebih baik dibandingkan dengan penghasilan orang tua pada siswi yang belum menstruasi.
Berdasarkan uji Mann-Whitney diketahui bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara kepemilikan kendaraan pribadi dan alat elektronik kedua kelompok siswi. Nilai signifikansi yang ditunjukkan untuk semua variabel kepemilikan kendaraan pribadi dan alat elektronik kedua kelompok siswi yaitu p > 0.05.
Jumlah Anggota Keluarga
Menurut Sediaoetama (2006) pengaturan pengeluaran untuk pangan sehari-hari akan lebih sulit jika jumlah anggota keluarga banyak. Hal ini menyebabkan kualitas dan kuantitas pangan yang dikonsumsi anggota keluarga tidak mencukupi kebutuhan. Berikut ini disajikan tabel sebaran siswi menurut jumlah anggota keluarga.
Tabel 19 Sebaran siswi menurut jumlah anggota keluarga
Baik pada siswi yang sudah menstruasi maupun siswi yang belum menstruasi, jumlah anggota keluarga memiliki persentase tertinggi pada kategori sedang dengan jumlah anggota keluarga sebanyak 4-5 orang. Secara berturut- turut persentase tertinggi untuk siswi yang sudah menstruasi maupun yang belum menstruasi yaitu 55.3% dan 68.4%. Berdasarkan jumlah anggota keluarga menurut Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) (1997), maka pada keluarga kedua kelompok siswi termasuk keluarga sedang.
Jumlah Anggota Keluarga
Sudah Menstruasi Belum Menstruasi n % n %
Kecil (≤ 4 orang) 10 26.3 7 18.4
Sedang (5-6 orang) 21 55.3 26 68.4 Besar (> 6 orang) 7 18.4 5 13.2
Kebiasaan Makan Siswi Frekuensi Makan Siswi Sehari
Frekuensi makan yang baik adalah 3 kali makan utama dalam sehari (Khomsan 2005). Sebaran siswi menurut frekuensi makan sehari pada kedua kelompok siswi dapat dilihat bahwa persentase tertinggi terdapat pada frekuensi sebanyak 3 kali. Artinya sebagian besar siswi mengonsumsi makan utama dalam sehari sebanyak 3 kali. Secara berturut-turut persentase frekuensi makan sehari (3 kali) pada siswi yang sudah menstruasi dan yang belum menstruasi yaitu 84.2% dan 73.7%. Nilai persentase pada siswi yang sudah menstruasi untuk frekuensi makan 3 kali sehari lebih besar daripada nilai persentase pada siswi yang belum menstruasi. Rata-rata siswi yang sudah menstruasi dan siswi yang belum menstruasi secara berturut-turut memiliki frekuensi makan harian sebanyak 2.9 ± 0.4 kali dan 2.8 ± 0.5 kali.
Berdasarkan data yang diperoleh dari kedua kelompok siswi, frekuensi makan siswi dalam sehari disajikan pada tabel di bawah ini.