HASIL DAN PEMBAHASAN
2. Land use and Buildings
Analisis Aspek Kuantitatif Land use and Buildings
Kota Surabaya sebagai ibukota provinsi Jawa Timur memiliki potensi serta kendala yang harus dihadapai, salah satunya penduduk. Jumlah penduduk Kota Surabaya pada tahun 2012 mencapai 3 110 187 jiwa, dengan kepadatan hingga 417 586 jiwa/Km2. Kepadatan yang tinggi memiliki potensi dalam sektor ekonomi, namun tidak dalam sektor ekologi. Butuh adanya kebijakan dalam menata kepadatan yang disesuaikan dengan luas wilayah kota, untuk menghindari terjadinya degradasi lingkungan. Berikut tabel kuantitatif Land use and Buildings yang tersaji dalam Tabel 11.
Tabel 11 Aspek kuantitatif Land use and Buildings
Kategori Indikator Hasil Baku Mutu Bobot Land use and
Buildings Kepadatan penduduk (25%) 8911 org/Km2 10 000 org/Km2 2.5% Jumlah ruang terbuka
hijau (RTH) (25%)
10 575 360 m2 (32%)
30% 25%
Kepadatan penduduk yang semakin tinggi berbanding lurus dengan peningkatan ekonomi, namun jika tidak diimbangi oleh aspek ekologi maka akan menyebabkan kerusakan lingkungan. Asian Green City Index memberikan sebuah penyelesaian terhadap kedapatan penduduk dengan menyeimbangkan ketiga aspek yaitu ekologi, ekonomi, dan sosial sehingga dengan kepadatan yang cukup tinggi dapat memanfaatkan sumber daya manusia secara efektif sehingga tercipta suatu kota yang berkelanjutan.
Kepadatan penduduk
Kepadatan penduduk yang dimiliki oleh Kota Surabaya adalah sebesar 8911 org/km2. Perhitungan yang digunakan untuk mengetahui tingkat kepadatan penduduk Kota Surabaya adalah perhitungan yang menyatakan bahwa semakin tinggi kepadatan penduduk maka akan semakin buruk. Baku mutu yang dipakai dalam kategori kepadatan penduduk ini yaitu berdasarkan WHO dalam Asian Green City Index. Adapun baku mutu yang digunakan adalah 10 000 org/km2. Berikut perhitungannya,
( − org/km org/km ) × % = − . × % = . %
Bobot tersebut menjelaskan bahwa untuk bobot kepadatan penduduk di Kota Surabaya tergolong tinggi dilihat dari persentase keburukan yaitu 0% hampir mendekati baku mutu dan jauh dari 25%. Hal ini dikarenakan kurangnnya pemerataan terhadap jumlah penduduk yang menyebabkan terjadinya urban sprawl. Perlunya upaya pemerintah dan kerjasama pihak swasta/pengembang dalam menekan dan memeratakan jumlah penduduk dengan konsep yang ramah lingkungan dan menerapkan hunian vertikal.
Mixed use development merupakan suatu pengembangan produk properti yang terdiri dari produk perkantoran, hotel, tempat tinggal, komersial yang dikembangkan menjadi satu kesatuan atau minimal dua produk properti yang dibangun dalam satu kesatuan. Konsep mixed used menjawab kebutuhan optimalisasi lahan dalam pengembangan produk properti. Konsep ini juga menjawab permasalahan pengembangan infrastruktur dan properti pada suatu wilayah perkotaan seperti keterbatasan lahan & nilai lahan, keterbatasan sumber daya, peraturan, tata nilai perkotaan, urbanisasi, penyediaan prasarana dasar, dan jumlah penduduk yang besar (P2KH).
Jumlah ruang terbuka hijau
Pemerintah Kota Surabaya berupaya dalam meningkatkan jumlah ruang terbuka hijau (RTH) dengan mereklamasi bantaran sungai dan SPBU yang tidak terpakai. Upaya ini didorong oleh isu pemanasan global yang semakin marak diperbincangkan, disamping Peraturan Pemerintah No. 15 Tahun 2010 tentang penataan ruang dan No. 26 Tahun 2007 tentang Ruang Terbuka Hijau. Kota Surabaya dengan luas 33.048 Ha memiliki ruang terbuka hijau publik 22 % dan ruang terbuka privat 10% terhadap luasan kota. Luasan ruang terbuka hijau publik terdiri dari beragam jenis RTH, yaitu RTH makam, RTH kawasan lindung, RTH lapangan, RTH hutan kota, RTH taman kota, RTH jalur hijau, serta RTH sempadan sungai dan boezem atau waduk, sedangkan untuk RTH privat berasal dari pekarangan pemukiman. Gambar 5 merupakan contoh penerapan jalur hijau jalan yang berlokasi di samping Balaikota dan Gambar 6 merupakan tampilan untuk Taman Bungkul saat siang dan malam hari.
Gambar 5 Jalur hijau jalan samping Balaikota
Selain berfungsi sebagai pereduksi emisi karbon, dan penyerap limpasan air, RTH juga memilki fungsi visual dan terdapat nilai estetik untuk mempercantik kota. Bobot RTH untuk Kota Surabaya cukup tinggi jika dilihat dari luasan kota, dikarenakan upaya pemerintah dalam meningkatkan RTH serta hasil yang berupa penghargaan atas upaya-upaya tersebut. Bobot penilaian dapat dilihat dalam perhitungan berikut.
m %
m = .
Dari hasil perhitungan, didapatkan hasil 1.06 dari total RTH 10 575 360 m2atau 32%. Pada AGCI, bobot untuk RTH adalah 25% dan hasil yang didapatkan melebihi rentang 0-1 yang menjelaskan bahwa penerapan telah mencapai 100%. Hasil ini didapatkan dari kerja keras pemerintah dalam mengoptimalkan RTH di Kota Surabaya, dan upaya ini tidak terlepas dari kerjasama swasta, pengembang dan masyarakat kota.
Analisis Aspek Kualitatif Land use and Buildings
Permasalahan atau kendala yang dihadapi oleh Kota Surabaya adalah kepadatan penduduk. Perlu adanya upaya pemerintah kota serta kerjasama dengan pihak swasta dalam mengatasi masalah tersebut. Perencanaan kota yang sesuai dengan RTRW merupakan perencanaan yang dibutuhkan dalam menangani pola penggunaan lahan. Pihak swasta atau pengembang wajib mengikuti RTRW yang telah dibuat oleh pemerintah, agar dapat mencegah terjadinya penyalahgunaan lahan, degradasi lingkungan, pencemaran, pemukiman kumuh dan lain sebagainya. Adapun upaya-upaya pemerintah dalam merencanakan serta menerapkan penggunaan lahan dan tata bangunan tertuang dalam Tabel 12,
Tabel 12 Aspek kualitatif Land use and Buildings Indikator Usaha yang dilakukan Bobot
AGCI Skoring 0 1 2 3 Kebijakan Eco Buildings
1. Pelaksanaan Green Building
Awareness Award 25% √
2. Kepemilikan IMB √
Nilai total/nilai maksimum x Total Bobot AGCI 4/6 x 25% = 16.6%
Kebijakan Penggunaan Lahan
1. Ekspansi dan opitimisasi ruang terbuka hijau
25%
√
2. Pengembangan wilayah waterfront city di wilayah pesisir (Kenjeran)
√
3. Optimisasi kawasan lindung
(Pamurbaya) √
Nilai total/nilai maksimum x Total Bobot AGCI 7/9 x 25% = 19.4% Total bobot = 30%
Kebijakan eco buildings
AGCI menerapkan upaya kualitatif berupa kebijakan eco buildings sebagai salah satu penilaian upaya pemerintah dalam tata bangunan kota.
Kota Surabaya mendukung program penataan bangunan yang berbasis lingkungan, seperti diantaranya Sosialisasi Green Building, pelaksanaan Green Building Awareness Award dan Kepemilikan IMB.