• Tidak ada hasil yang ditemukan

Landasan Filosofis Pendidikan

Dalam dokumen Filsafat (Halaman 104-112)

Substansi Pendidikan

D. Asas dan Landasan Pendidikan

1. Landasan Filosofis Pendidikan

Landasan filosofis merupakan asumsi filosofis yang dapat dijadikan ukuran dalam wilayah studi dan praktek pendidikan. Sebab pada dasarnya karakteristik berpikir filsafat yang utama adalah sifat ‗menyeluruh‘, dimana menurut Jujun Suriasumantri (2010:20), seorang ilmuwan tidak akan puas mengenal ilmu hanya dari segi pandang ilmu itu sendiri. Karena hakikat ilmu dalam konstelasi pengetahuan lainnya juga menjadi sesuatu yang sangat penting. Seperti kaitan ilmu dengan moral, ilmu dengan agama, dsb. Filsafat mulai dikenal sejak zaman Yunani kuno, dengan tiga tokoh yang terkenal pada saat itu, yaitu Socrates (469-399 SM), Plato (427-347 SM) dan Aristoteles (384-322 SM). Saat itu Socrates mengajarkan bahwa manusia harus mencari kebenaran dan kebijakan dengan menggunakan cara berpikir (pemikiran) dialektis.

Plato sendiri menyatakan bahwa kebenaran hanya ada di alam ide yang bisa diselami akal. Sedangkan Aristoteles merupakan peletak dasar empirisme, yaitu kebenaran harus di cari melalui panca indra (Pidarta 2009:76).

89

-Berdasarkan pemikiran tiga tokoh utama filsafat ini, maka hal yang pertama harus dipahami bahwa, filsafat tidak akan mampu berdiri tegak tanpa sistem keyakinan yang terstruktur. Karena itu, langkah awal filsafat akan selalu ditandai dengan pertanyaan: Apakah hakikat dari realitas? Selanjutnya maka serpihan-serpihan logika dan penalaran akan menjadi bagian terpenting untuk dapat meletakkan term kebenaran, kebajikan, pengetahuan, belajar dan lain sebagainya. Dan syaratnya adalah realitas harus mendapat tempat yang konkrit dan proporsional dalam mendefinisikan segala sesuatunya.

Menarik untuk dipahami lebih dulu bahwa salah satu masalah menggunakan pengetahuan filsafat ini, menurut Dewey (1929/1988) dalam Gredler (2011:7), adalah fokusnya yang seperti menatap pada kaca spion. Padahal faktor-faktor yang memberikan nilai pada pikiran atau ide bukanlah asal muasal pengetahuan, melainkan hanya hasil yang diproduksi oleh gagasan. Fenomena ini juga diperkuat ketika pada pertengahan abad ke-16, Galileo memperkenalkan percobaannya, dengan objek sebagai metode dalam mengembangkan pengetahuan tentang dunia fisik, dan lahirlah ilmu fisika. Pada saat itu prinsip

90

-dan hukum alam yang reliabel kemudian perlahan namun pasti menggantikan keyakinan mistis dan pepatah yang belum teruji. Dimana ilmu kimia menjadi praktek alkemis dan metode astrologi digantikan oleh ilmu astronomi.

Tetapi saat itu riset tentang ‗pikiran‘ belum di bahas.

Sebagaimana saat itu masyarakat menganggap pikiran adalah anugerah Tuhan sendiri dan melakukan riset terhadap pikiran adalah mempertanyakan anugerah sakral itu. Disini peran utama pikiran lebih diarahkan pada realitas dasar dan filsafat—yang dianggap memadai untuk menjalankan tugas pemikiran realitas dasar—tetapi yang sebenarnya justru mengesampingkan unsur lain seperti ide dan perasaan. Jelas sekali bahwa upaya-upaya awal memahami belajar adalah melalui kebijakan tradisional, yang di dasarkan pada realitas—pengalaman melalui pintu filsafat. Persoalannya kebijaksanaan tradisional ini adalah merupakan informasi yang kemudian ditafsirkan dengan cara berbeda-beda.

Filsuf matematikawan Perancis yang juga dikenal sebagai bapak filsafat modern, Rene Descartes (2012:26-27), menjelaskan dalam bukunya ―Discourse on Method‖, bahwa secara merata dan alami, semua orang memiliki

91

-akal sehat atau nalar yang nantinya dapat ia gunakan untuk membedakan antara apa yang benar dan salah.

Bahwa keanekaragaman pendapat dapat timbul bukan karena seorang lebih memiliki kemampuan untuk bernalar dari orang yang lainnya, melainkan semata-mata karena cara penalaran manusia memang berlainan, dan hal-hal yang menjadi pertimbangan juga tidak sama. Karena itu memiliki nalar yang baik tidak cukup jika tidak ditunjang pula dengan penggunaan nalar secara baik.

..―Cogito ergo sum‖, bahwa ―aku berpikir karena itu aku ada‖, secara tegas Descartes membedakan antara konsep subjek (kepala—cogito—pikiran) dengan dunia (hidup—sum—ada). Dimana antara kepala dan dunia di hubungkan oleh ilmu pengetahuan (sebagai ergo), yaitu melalui aktivitas berfikir. Sehingga jika tidak di pikirkan (―olehku‖) maka dunia pun tidak ada. Dalam hal ini penalaran Descartes adalah sementara ‗saya‘ berpikir bahwa semuanya tidak benar, maka saya sebagai yang memikirkannya adalah sesuatu. Sehingga saya berpikir, karena itu saya ada. Jadi kenyataannya bahwa ‗saya‘

meragukan sesuatu justru membuktikan dengan jelas dan pasti bahwa saya ada. Sebaliknya, seandainya saya

92

-berhenti berpikir, walaupun hal lainnya yang saya bayangkan memang ada, maka saya tidak mempunyai alasan apapun untuk menyatakan bahwa saya ada.

Berdasarkan hal ini, maka saya adalah substansi yang seluruh esensi atau kodratnya hanyalah ―berpikir‖. Dan untuk keberadaannya, sangat tidak membutuhkan ruang sedikitpun dan tidak bergantung pada benda materi apa pun. Dengan demikian, maka (―saya‖) ini adalah jiwa—

yang membuat saya sebagaimana adanya—sama sekali berlainan dengan badan dan bahkan lebih mudah dikenali daripada badan. Dan sekalipun badan tidak ada, jiwa akan tetap sebagaimana adanya. Dalam wilayah religi, hal ini tentu dapat di mulai dengan kalimat ―berpikir‖ (cogito) yang disandingkan dengan kata ―meragu‖ (dubito), yang tentu berpikir adalah meragukan yang dapat berdampak pada pemahaman sosial yang berbeda. Sehingga jika didasarkan pada persoalan kepercayaan religius: ―aku berpikir (tentang) Tuhan, maka Tuhan ada‖ jelas berbeda dengan ―aku meragukan Tuhan maka Tuhan itu ada‖.

Dengan pengetahuan jenis ini, Decartes menawarkan ―le maitres et possesseurs de la nature‖, yaitu pangeran yang gilang-gemilang dengan cahaya ilmu dan yang menjadi

93

-penguasa dunia Decartes (2012:72-73). Tampak sekali Descartes memang sosok pendobrak gaya justifikasi model Aristotelian. Dimana ia tidak bertolak dari objek, melainkan dari subjek. Apa artinya bertolak dari subjek?

Artinya bahwa bertolak dari apa yang paling melukiskan subjektivitasnya yaitu rasio, akal budi, kesadaran diri.

Filsafat Descartes seringkali disebutkan sebagai filsafat kesadaran, semata-mata karena ia melucuti pengetahuan dari dimensi objektifnya. Menurut Decartes, pengetahuan itu urusan kesadaran, yaitu sebuah urusan yang paling menentukan subjektivitas seseorang. Misalnya, seseorang dapat mengetahui sebuah meja, tentu saja hal itu berarti akal budi orang itu sedang ‗menyadari‘ tentang meja.

Descartes berkata dengan benar, cogito ergo sum (saya berpikir maka saya ada). Kesadaran mendahului ada.

Atau, cogito (saya menyadari, berpikir) mendahului sum (realitas ada saya). Karena itu, tidak berlebihan kiranya jika disebutkan bahwa filsafat Descartes adalah filsafat Cogito, yaitu filsafat ‗saya berpikir‘, atau dengan kata lain filsafat kesadaran. Ergo Sum (maka saya ada) lantas mengalir dari kesadaran seseorang. Pada level ini, saya berpikir atau menyadari, akan mendahului realitas ada

94

-saya. Sehingga ketika saya berpikir, maka suanggi (baca:setan) pun tidak dapat menyangkalnya. Atau ketika saya bertanya, apakah saya sedang berpikir, justru hal itu menunjukkan bahwa saya memang sedang berpikir atau menyadari. Dalam pemikiran Descartes, seluruh elaborasi mengenai ada saya berangkat dari kesadaran. Karena kesadaran memiliki karakter subjektif, maka juga soal pengetahun benar atau salah sangat berurusan dengan subjektivitas. Dalam arti bahwa dalam cara berpikir demikian, objektivitas (kebenaran yang berkaitan dengan objeknya) akan mulai ditinggalkan.

Sehingga akhirnya Descartes menegaskan bahwa apa yang disebut dengan pengetahuan adalah ingatan sejauh manusia menyadarinya. Pengetahuan manusia adalah

‗bawaan‘ sejak lahir. Mengenal atau mengetahui berarti mengingat kembali ide-ide bawaan sejak lahir tersebut, seperti gagasan Plato, but let‘s go on. Descartes memang telah mendobrak filsafat Aristotelian, dimana sejak masa Descartes, tampak bahwa peran rasio makin mengemuka dan menguasai berbagai kajian ilmu saat itu. Sehingga, akal budi manusia memang benar-benar hampir menjadi segalanya dalam tataran filsafat.

95

-Rasionalisme dalam konteks epistemologis, praktis menunjuk filsafat Descartes. Kepastian ilmu pengetahuan bukan lagi perkara relasi atau kaitan rasio dengan realitas, melainkan perkara kesadaran rasional manusia.

Kerja tentang perkara sesuai atau tidaknya antara akal budi dengan objek realnya ditinggalkan. Ide tentang subjektivitas atau subjektivisme (kalau itu berurusan dengan paham) berangkat dari filsafat Cartesius (Rene Descartes).

Dengan demikin maka ‗filsafat pendidikan‘ berbeda dengan ‗pendidikan filsafat‘, demikian pun juga berbeda dengan ‗teori pendidikan‘. Sehingga pengertiannya tidak mudah didefinisikan. Sebab filsafat pendidikan tidak sama dengan teori pendidikan dan tidak didefinisikan secara khusus dalam hal penerapan filsafat untuk menjawab pertanyaan yang berhubungan dengan praktik pendidikan (Kuswana Sunaryo W, 2013:27). Dengan demikian filsafat pendidikan adalah merupakan bidang filsafat terapan yang merupakan bagian tak terpisahkan dari transformasi filsafat tradisional (ontologi, etika, epistemologi), serta pendekatan kelembagaan (filsafat spekulatif, perspektif dan atau analitik), yang diperlukan untuk merumuskan

96

-hal-hal yang berhubungan dengan kebijakan pendidikan, pembangunan sumber daya manusia, teori kurikulum dan pembelajaran serta aspek-aspek pendidikan lainnya.

Sementara ilmu (termasuk ilmu pendidikan) lahir dari filsafat umum melalui perantaranya, yaitu filsafat ilmu berdasarkan kajian ilmunya masing-masing. Dalam hal ini kelahiran ilmu pendidikan di bantu filsafat pendidikan.

Sehingga pemahaman filsafat pendidikan adalah hasil dari pemikiran dan perenungan secara mendalam hingga ke akar-akarnya, untuk dapat mengenal pendidikan. Dalam hal ini akan menjawab tiga pertanyaan pokok (Ateng Sutisna, 1990; dalam Pidarta, 2009:83-85), tentang: (1) Apa itu pendidikan? ; (2) Apa yang hendak ia capai? ; (3) Bagaimana cara terbaik merealisasikan tujuan-tujuannya?

Sedangkan bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Pancasila adalah filsafat pendidikannya. Pancasila merupakan dasar segala dasar tata hidup sehingga yang jadi dasar tata hidup bidang pendidikan adalah Pancasila.

Dalam dokumen Filsafat (Halaman 104-112)

Dokumen terkait