• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

C. Murabahah (Jual-Beli)

2. Landasan Hukum Murabahah

a) Al-Quran Surat Al-Baqarah ayat 275

ٌَ ُْٕهُكْؤَي ٍَْيِزَّن ٱ

17 Fatwa DSN No. 04/DSN-MUI/IV/2000

18 Sofyan S, Harahap, Akuntansi Perbankan Syariah, Jakarta: LPFE Usakti, 2004, hal. 93.

24

“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jualbeli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jualbeli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba) maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal didalamnya”. (QS. Al-Baqarah ayat 275)

b) Hadits

Telah menceritakan kepada kami Aswad bin Amir, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Syarik dari Wa’il dari Jumai bin Umair dari pamannya Nabi saw ditanya tentang penghasilan yang paling utama. Beliau bersabda: “Sebaik-baiknya penghasilan adalah jualbeli yang sah, tidak terdapat unsur penipuan dan usaha seseorang dengan tangannya”.

(H.R. Ahmad Nomor 15276)19

c) Menurut Fatwa DSN MUI tahun 2000

Ketentuan akad murabahah yang selaras dengan ketentuan fatwa DSN MUI dapat dibagi jadi beberapa bagian antara lain:

1) Ketentuan akad murabahah dalam bank syariah 20 (a) Bank dan nasabah harus harus melakukan akad

murabahaah yang terbebas dari riba.

(b) Barang yang diperjualbelikan tidak diharamkan oleh oleh syariah islam.

19 https://islam.wikia.org/id/wiki (Diakses pada hari Jumat 29 Mei 2020 pada pukul 21.35 WIB).

20 Fatwa DSN No. 04/DSN-MUI/IV/2000

25

(c) Bank membiayai sebagian atau seluruh harga pembelian barang yang telah disepakati kualifikasinya.

(d) Bank membeli barang yang diperlukan nasabah atas nama bank sendiri, dan pembelian ini harus sah dan bebas riba.

(e) Bank harus menyampaikan semua hal yang berkaitan dengan pembelian, misalnya jika pembelian dilakukan secara berutang.

(f) Bank kemudian menjual barang tersebut kepada nasabah (pemesan) dengan harga jual senilai harga beli ditambah dengan keuntungannya. Dalam kaitan ini bank harus memberi tahu secara jujur harga pokok barang kepada nasabah beserta biaya yang diperlukan.

(g) Nasabah membayar harga barang yang telah disepakati tersebut dalam jangka waktu tertentu yang telah disepakati kedua belah pihak.

(h) Untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan atau kerusakan akad tersebut, pihak bank dapat mengadakan perjanjian khusus dengan nasabah berupa pengikatan agunan/jaminan dan atau asuransi.

(i) Jika pihak bank hendak mewakilkan kepada nasabah untuk membeli barang dari pihak ketiga (akad waakalah), akad jualbeli murabahah harus dilakukan setelah barang, secara prinsip, menjadi milik bank.

2) Ketentuan akad murabahah kepada nasabah21

21 Fatwa DSN No. 04/DSN-MUI/IV/2000

26

(a) Nasabah mengajukan permohonan dan perjanjian pembelian suatu barang atau aset kepada bank.

(b) Jika bank menerima permohonan tersebut, maka ia harus membeli terlebih dahulu aset yang dipesannya secara sah dengan pedagang.

(c) Pihak bank kemudian menawarkan aset tersebut kepada nasabah dan nasabah harus menerima (membeli)-nya sesuai dengan perjanjian yang telah disepakatinya, karena secara hukum perjanjian tersebut mengikat kedua belah pihak.

(d) Dalam jualbeli pihak bank diperbolehkan meminta nasabah untuk membayar uang muka saat menandatangani kesepakatan awal pemesanan.

(e) Jika nasabah kemudian menolak untuk membeli barang tersebut, biaya riil bank harus dibayar dari uang muka tersebut.

3) Ketentuan agunan/jaminan dalam akad murabahah22 (a) Agunan/jaminan dalam akad murabahah

diperbolehkan, agar nasabah serius dengan pesanannya.

(b) Pihak bank dapat meminta pihak nasabah untuk menyediakan agunan/jaminan yang dapat dipegang.

4) Ketentuan utang dalam akad murabahah 23

(a) Secara prinsip, penyelesaian utang pihak nasabah dalam transaksi muraabahah tidak ada kaitannya dengan transaksi lain yang dilakukan pihak nasabah dengan pihak ketiga

22 Fatwa DSN No. 04/DSN-MUI/IV/2000

23 Fatwa DSN No. 04/DSN-MUI/IV/2000

27

atas barang tersebut. Jika pihak nasabah menjual kembali barang tersebut dengan keuntungan atau kerugian, ia tetap berkewajiban untuk menyelesaikan utangnya kepada pihak bank.

(b) Jika pihak nasabah menjual barang tersebut sebelum masa angsuran berakhir, ia tidak wajib segera melunasi keseluruhannya.

(c) Jika penjualan barang tersebut menyebabkan kerugian, pihak nasabah tetap harus menyelesaikan utangnya sesuai kesepakatan awal. Ia tidak boleh memperlambat pembayaran angsuran atau meminta kerugian itu diperhitungkan.

5) Ketentuan penundaan pembayaran dalam akad murabahah24

(a) Pihak nasabah yang memiliki kemampuan tidak dibenarkan untuk menunda penyelesaian utangnya.

(b) Jika pihak nasabah menunda-nunda pembayaran dengan sengaja, atau jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya, maka penyelesaiannya dilakukan melalui Badan Arbitrase Syariah setelah tidak tercapainya kesepakatan melalui musyawarah.

6) Ketentuan bangkrut dalam akad murabahah

Jika pihak nasabah telah dinyatakan pailit dan gagal dalam menyelesaikan utangnya, pihak bank harus menunda tagihan utang sampai ia sanggup kembali, atau berdasarkan kesepakatan. 25

24 Fatwa DSN No. 04/DSN-MUI/IV/2000

25 Fatwa DSN No. 04/DSN-MUI/IV/2000

28

(a) Uang muka dalam akad murabahah26

 Dalam akad penyaluran dana murabahah, LKS dibolehkan untuk meminta uang muka apabila kedua belah pihak bersepakat.

 Besar jumlah uang muka ditentukan berdasarkan kesepakatan.

 Jika nasabah membatalkan akad murabahah, nasabah harus memberikan ganti rugi kepada LKS dari uang muka tersebut.

 Jika jumlah uang muka lebih kecil dari kerugian, LKS dapat meminta tambahan kepada pihak nasabah.

 Jika jumlah uang muka lebih besar dari kerugian, LKS harus mengembalikan kelebihannya kepada pihak nasabah.

(b) Diskon dalam akad murabahah27

 Harga (tsaman) dalam jualbeli adalah suatu jumlah yang disepakati oleh kedua belah pihak, baik sama dengan nilai (qimah) benda yang menjadi obyek jualbeli, lebih tinggi maupun lebih rendah.

 Harga dalam jualbeli murabahah adalah harga beli dan biaya yang diperlukan ditambah keuntungan sesuai dengan kesepakatan.

 Jika dalam jualbeli murabahah LKS mendapat diskon dari supplier, harga sebenarnya adalah harga setelah diskon karena itu, diskon adalah hak nasabah.

26 Fatwa DSN No. 13/DSN-MUI/IX/2000

27 Fatwa DSN No. 16/DSN-MUI/IX/2000

29

 Jika pemberian diskon terjadi setelah akad, maka pembagian diskon tersebut dilakukan berdasarkan perjanjian (persetujuan) yang dimuat dalam akad.

 Dalam akad, pembagian diskon setelah akad hendaklah diperjanjikan dan ditandatangani.

(c) Sanksi atas nasabah mampu yang menunda-nunda pembayaran 28

Sanksi yang disebutkan dalam fatwa ini adalah sanksi yang dikenakan LKS kepada pihak nasabah yang mampu membayar, tetapi menunda-nunda pembayaran dengan disengaja.

 Nasabah yang tidak/belum mampu membayar disebabkan force majeur tidak boleh dikenakan sanksi.

 Nasabah mampu yang menunda-nunda pembayaran dan/atau tidak mempunyai kemauan dan itikad baik untuk membayar utangnya boleh dikenakan sanksi.

 Sanksi didasarkan pada prinsip ta‟zir, yaitu bertujuan agar pihak nasabah lebih disiplin dalam melakukan kewajibannya.

 Sanksi dapat berupa denda sejumlah uang yang besarnya ditentukan atas dasar kesepakatan dan dibuat saat akad berlangsung dan ditandatangani

 Dana yang berasal dari denda diperuntukkan sebagai dana sosial.

(d) Potongan pelunasan dalam akad murabahah29

28 Fatwa DSN No. 17/DSN-MUI/IX/2000.

30

 Jika pihak nasabah dalam transaksi muurabahah melakukan pelunasan pembayaran tepat waktu atau lebih cepat dari waktu yang disepakati, LKS boleh memberikan potongan dari kewajiban pembayaran tersebut, dengan syarat tidak diperjanjikan dalam akad.

 Besarnya potongan sebagaimana dimaksud diatas diserahkan pada kebijakan dan pertimbangan LKS.

(e) Ketentuan gantu rugi (ta’widh) 30

 Pihak bank mengenakan ganti rugi (ta’widh) hanya atas kerugian riil yang dapat diperhitungkan dengan jelas kepada nasabah yang dengan sengaja atau karena kelalaian melakukan sesuatu yang menyimpang dari ketentuan akaddan mengakibatkan kerugian pada pihak bank.

 Besarnya ganti rugi yang dapat diakui sebagai pendapatan bank adalah sesuai nilai kerugian riil (real loss) yang berkaitan dengan upaya pihak bank untuk memperoleh pembayaran dari nasabah dan bukan kerugian yang diperkirakan akan terjadi (potential loss) karena adanya peluang yang hilang (opportunity loss/ al-furshah al-dha-i’ah).

 Klausal pengenaan ganti rugi harus ditetapkan secara jelas dalam akad dan dipahami oleh pihak nasabah.

29 Fatwa DSN No. 23/DSN-MUI/III/2002.

30 PBI 7/46

31

 Besarnya ganti rugi atas kerugian riil ditetapkan berdasarkan kesepakatanantara pihak bank dengan pihak nasabah.

Dokumen terkait