BAB I PENDAHULUAN
F. Metode Penelitian
5. Landasan Konseptual dan Teoritik
Secara garis besar penelitian ini menggunakan pendekatan teori Penerimaan Aktif dalam studi komunikasi sebagaimana dikembangkan oleh sejumlah ahli seperti Lee Thayer, Ravault, dan Andi Faisal Bakti. Dialektika antara pendakwah Salafi serta Jamaah Tabligh dengan para selebritas hijrah merupakan bentuk komunikasi dalam konteks penyampaian ajaran Islam (baca: dakwah). Dalam proses komunikasi ini, teori Resepsi Aktif melihat bagaimana para selebritas sebagai komunikan bersikap aktif mencari, menerima, menolak, atau menegosiasikan pesan keagamaan dari para dai Salafi dan Jamaah Tabligh.74 Untuk mengaplikasikan teori ini, Bakti berdasarkan pada Thayer dan Ravault, menawarkan empat konsep utama yang meliputi: coerseduction, panacea, bullet effect, boomerang effect, dan negotiation.
Coerseduction adalah upaya memengaruhi seseorang secara langsung, baik melalui cara pemaksaan maupun bujukan. Banyak orang berfikir bahwa komunikasi merupakan jalan keluar dari berbagai masalah manusia. Inilah yang kemudian
70 Penjelasan mengenai penelitian kualitatif lihat Soejono dan Abdurrahman, Metode Penelitian: Suatu Pemikiran dan Penerapan, (Jakarta: Penerbit Rineka Cipta), h. 26-36.
71 Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1993), h. 4-8; Sharan B. Merriam, Qualitative Research: A Guide to Design and Implementation, (San Franciso: Jossey-Bass, 2009), h. 5-7; Sumadi Suryabrata, Metodologi Penelitian, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada), h. 3-6
72 Consule G. Sevilla (ed.), Pengantar Metode Penelitian, (Jakarta: Penerbit UI Press, 1993), h. 198-203
73 Penelitian kualitatif memiliki beberapa metode pengumpulan data, di antaranya adalah metode wawancara, dokumenter, observasi, bahan visual, dan penelusuran online. Lihat H. M. Burhan Bungin, Penelitian Kualitatif, (Jakarta: Kencana, 2012), h. 110-130.
74 Andi Faisal Bakti, Communication and Family Planning in Islam in Indonesia: South Sulawesi Muslim Perceptions of Global Development Program, (Leiden: INIS, 2004), h. 108.
19
menempatkan komunikasi sebagai semacam obat penyembuh (panacea). Bakti menggunakan konsep ini untuk masuk ke dalam analisis lebih jauh apakah komunikasi dapat menjadi panacea (obat) atau ada faktor lain yang memungkinkan manusia menyelesaikan persoalannya. Dalam konteks dakwah Salafi dan Jamaah Tabligh, apakah para selebritas menemukan pemecahan masalah dari proses komunikasinya dengan para pendakwah tersebut atau justru ada faktor lain yang memberi pengaruh perubahan sikap mereka.
Bullet (peluru) dimaksudkan bahwa tindakan receiver diasumsikan senantiasa sesuai dengan tujuan yang diinginkan oleh sender. Dalam kasus selebritas hijrah, apakah perilaku mereka sesuai dengan yang diinginkan para pendakwah Salafi dan Jamaah Tabligh atau seperti apa. Boomerang adalah ketika receiver bertindak berkebalikan dengan yang menjadi tujuan sender. Efek bumerang mengasumsikan bahwa receiver adalah individu yang aktif menafsirkan pesan dan memiliki pertimbangan yang rumit dalam menentukan tindakan atau timbal baliknya. Negotiation adalah proses tarik ulur informasi dalam kesadaran receiver. Proses ini mengasumsikan individu receiver mengaitkan informasi yang diperolehnya dengan informasi yang sudah ada dalam pikirannya, menyeleksinya dan menentukan apakah pesan tersebut diterima atau ditolak.75 Dalam konteks penelitian ini, proses negosiasi adalah proses di mana seorang selebritas hijrah menerima pesan para pendakwah Salafi dan Jamaah Tabligh atau justru menolaknya. Lihat gambar 0.1 tentang alur pendekatan penelitian.
20
Gambar 0.1 Alur pendekatan penelitianKonteks sosial para selebritas hijrah tak dapat dilepaskan dari fenomena religious turn ‘kebangkitan agama’, conservative turn, atau born again Muslims. Istilah lain yang hampir senada adalah reislamisasi atau santrinisasi di mana masyarakat mulai menekuni kembali kehidupan keagamaan setelah sebelumnya mengabaikannya. Ini adalah fenomena global yang dibuktikan dengan mulai dipertimbangannya sentimen agama dalam analisis kebijakan negara-negara maju di tingkat global. Krisis sandera di Iran pada 1979 menunjukkan kegagalan Amerika dalam membaca perubahan dalam masyarakat Iran dalam aspek sentimen keagamaan karena terlalu memperhatikan faktor-faktor sekuler-strategis. Kebijakan luar negeri Amerika berubah pada 1985 ketika menyikapi perang Afganistan dengan mendukung Mujahidin dan membuat aliansi dengan negara-negara muslim. Sentimen keagamaan mulai dipertimbangkan dalam merumuskan kebijakan dalam hubungan internasional. Di Indonesia hari ini, tren kehidupan keagamaan tumbuh di masyarakat kelas menengah muslim, salah satunya kelompok selebritas.
Peran dai Salafi dan Jamaah Tabligh sangat penting dalam transformasi kehidupan keagamaan para selebritas hijrah. Terlebih terkait dengan penggunaan berbagai simbol keagamaan seperti pembentukan komunitas pengajian, model pakaian, pilihan politik, layanan keuangan, reorientasi profesi, dan pilihan hiburan yang disesuaikan dengan tuntunan Islam. Tema-tema ini seringkali menjadi pembeda antara komunitas hijrah dengan komunitas lainnya.
(Pen)dakwah Salafi (Pen)dakwah JT
Pesan keagamaan Pesan keagamaan
Selebriti Selebriti
Selebriti Hijrah
Situation
Reference group
Concecuences anticipated by receiver
Koerseduksi vs iman Panacea vs imunitas Bullet effect vs boomerang effect
Negotiation vs indoctrination Meta komunikasi Coding Encoding Rejection Negotiation Domination Intention,need, purpose Conservative turn, religious turn, born again
Hijrah, Pengajian, pakaian Muslim, politik, ekonomi, Musik,
Peneliti sebagai insider/ outsider
21
Bagaimana cara para selebritas hijrah menanggapi pesan dakwah para dai Salafi dan Jamaah Tabligh sangat ditentukan sejumlah hal, yang paling mendasar adalah soal kebutuhan akan informasi keagamaan terpercaya. Kebutuhan ini merupakan dampak dari meningkatnya semangat keagamaan dalam diri mereka. Semangat ini terus berkembang dan membuat mereka haus akan wawasan keagamaan. Di antara berbagai macam pilihan yang tersedia, bagaimana cara mereka memilihnya, juga ditentukan oleh grup rujukan (reference group). Artinya, siapa yang menjadi idola mereka, bagaimana sosok tersebut menjadi idola, dan apa yang menjadi pandangan sang idola. Syarat utama idola ini harus terkenal dan memiliki banyak channel untuk diakses publik dan hampir tidak ada idola yang menjadi representasi organisasi Islam besar seperti NU dan Muhammadiyah.
Teknis penelitian ini berusaha menggabungkan penelitian teoretis dan empiris. Sumber yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari kajian literatur dan pengamatan lapangan. Dalam melakukan penelitian, peneliti mengumpulkan berbagai literatur terkait pembentukan komunitas kelas menengah Muslim kota, pertumbuhan gerakan Salafi dan Jamaah Tabligh di negara asalnya dan bagaimana keduanya masuk dan berkembang pesat di Indonesia, serta proses kedua kelompok dakwah tersebut masuk ke kalangan selebritas sebagai perwakilan kelas menengah muslim. Terakhir, respons para selebritas yang menjadi audiens dakwah kedua kelompok tersebut. Untuk mendapatkan data-data, selain literatur, penulis juga melakukan kunjungan (observasi) dan wawancara acak (random-sampling) terhadap sejumlah ustaz Salafi dan Jamaah Tabligh serta para selebritas yang terafiliasi dengan kedua gerakan dakwah tersebut. Peneliti juga mengikuti beberapa forum pengajian yang diadakan komunitas selebritas untuk melakukan pengamatan secara langsung (participatory observation).
Teori penerimaan aktif ini sejalan dengan teori stukturalisme-konstruktif Bourdieu yang mengansumsikan bahwa manusia bukanlah subjek yang pasif ataupun individu yang bebas, tanpa dipengaruhi struktur sosial. Ada hubungan saling memengaruhi antara individu dan realitas sosial, subjektivitas dan objektivitas, agen dan struktur. Bourdieu mengembangkan dua konsep kunci: habitus dan field. Kesalingterkaitan antara habitus dan field melahirkan praktik (baca: gaya hidup).76 Teori penerimaan aktif juga sesuai dengan hermeneutika filosofis Gadamer yang menitikberatkan pemahaman terhadap teks sangat terkait dengan wawasan pengetahuan dan subjektifitas penafsir.77 Teori penerimaan hampir sama dengan teori double hermeneutics yang meyakini proses interpretasi mengalami proses dua level: bagaimana seorang mendefenisikan pengamalan dan pengalaman mereka, lalu bagaimana dia menjelaskan definisi tersebut. Dalam konteks tafsir misalnya, bagaimana penafsir klasik menjelaskan ayat pada masanya dan pada masa Nabi dan Sahabat, lalu bagaimana mufasir kontemporer menggunakan tafsir-tafsir tersebut sambil melihat konteks masa Nabi dan masa
76 Habitus, field dan modal merupakan istilah kunci dalam pemikiran Bourdieu. Lihat Akhyar Yusuf Lubis, Postmodernisme: Teori dan Metode, (Jakarta: Rajawali Press, 2014), h. 108-116.
77 Akhyar Yusuf Lubis, Filsafat Ilmu: Klasik Hingga Kontemporer, (Jakarta: Rajawali Press, 2014), h. 200.
22
kontemporer. 78 Teori penerimaan aktif ini sejalan dengan teori konstruksi sosial Peter L. Berger dan Thomas Luckmann,79 dekonstruksi Derrida,80 Semiotika Umberto Eco,81 dan teori post-modernisme lainnya.