• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.2 Landasan Teori

Dalam penelitian ini, penulis berlandaskan pada bidang ilmu sosiolinguistik sebagai dasar ilmu kajian dalam meneliti campur kode, oleh karena itu, tentu saja pengenalan secara mendalam terkait ilmu sosiolinguistik ini sangat diperlukan.

Sosiolinguistik merupakan ilmu antardisiplin antara sosiologi dan linguistik, kedua bidang ilmu tersebut merupakan ilmu empiris yang mempunyai kaitan yang sangat erat. Chaer dan Agustina (2010: 2) mengungkapkan bahwa sosiologi (sociologie) berasal dari kata socius (bahasa Latin) yang artinya ―teman― atau ―bersama orang lain‖ dan logos (bahasa Yunani) yang berarti ―studi mengenai‖, dengan demikian sosiologi diartikan sebagai satu ilmu yang mempelajari masyarakat. Sosiologi

pertama kali digunakan dalam suatu manuskrip yang tidak dipublikasikan oleh seorang penulis esai Perancis pada tahun 1780 yaitu Emmanuel Joseph Sieyes (http://en.wikipedia.org/wiki/sociology). Istilah itu kemudian dipakai oleh August Comte (1798 – 1857) yang dianggap sebagai pendiri sosiologi karena merintis analisis tentang tatanan sosial.. Menurut Comte sosiologi tidak hanya mengungkapkan prinsip-prinsip sosial, tetapi juga akan menerapkannya pada reformasi sosial (Henslin. 2007: 6). Merujuk pada teori yang disampaikan Compte, maka sosiologi adalah ilmu yang berfokus pada Masyarakat, perilaku masyarakat, perilaku sosial manusia dengan mengamati perilaku kelompok yang dibangunnya.

Kelompok yang dimaksudkan mencakup keluarga, suku bangsa, negara, dan berbagai organisasi politik, ekonomi, sosial.

Bidang ilmu lainnya yaitu linguistik yang menurut Aslinda dan syafyahya (2007 : 6) berarti ilmu bahasa. Kata linguistik berasal dari kata Latin lingua yang berarti bahasa. Orang yang ahli dalam ilmu linguistik disebut linguis. Ilmu linguistik sering juga disebut dengan linguistik umum (general linguistic) karena tidak hanya mengkaji sebuah bahasa saja. Ferdinand De Saussure seorang sarjana Swiss dianggap sebagai pelopor linguistik modern. Bukunya yang terkenal adalah Cours de linguistique generale (1916). Buku tersebut dianggap sebagai dasar linguistik modern. Beberapa istilah yang digunakan olehnya menjadi istilah yang digunakan dalam linguistik. Istilah tersebut adalah langue, language, dan parole. Langue berarti bahasa tertentu seperti pada frase bahasa Indonesia, bahasa batak, dan sebagainya.

Langguage berarti bahasa pada umumnya, seperti kutipan dalam kalimat seperti

―manusia mempunyai bahasa sedangkan binatang tidak mempunyai bahasa.‖ Adapun

parole adalah bahasa dalam wujudnya yang nyata, konkret, yaitu berbentuk ujaran.

Disimpulkan bahwa linguistik adalah ilmu tentang bahasa atau ilmu yang mejadikan bahasa sebagai objek kajiannya.

Kedua bidang ilmu yang disebutkan diatas baik Sosiologi maupun linguistik memiliki hubungan yang sangat erat karena sosiologi yang berfokus mengkaji manusia dalam masyarakat dengan tujuan mengetahui cara-cara manusia menyesuaikan diri dengan lingkungannya, bagaimana mereka bersosialisasi, dan menempatkan diri dalam tempatnya masing-masing di dalam masyarakat. Sedangkan linguistik yang mempelajari bahasa sebagai objek kajiannya. Dengan demikian maka sosiolinguistik adalah bidang ilmu antardisiplin yang mempelajari bahasa dalam kaitannya dengan penggunaan bahasa tersebut di dalam masyarakat.

Berdasarkan sejarahnya, Haugen mengemukakan, dalam makalahnya di sebuah buku yang berjudul Issues In Sociolinguistics, bahwa istilah sosiolinguistik pertama kali diperkenalkan oleh Haver C. Currie yaitu seorang guru besar (Profesor) di Universitas Houston, Texas 1952. Istilah ini kemudian dipublikasikan di Amerika oleh William Bright dan dipresentasikan dalam sebuah kongres Linguistik Internasional VIII di Cambridge 1962, kemudian dikembangkan lagi dalam sebuah Konferensi Internasional yang lebih formal di Los Angles, California 1962, dan menjadi populer hingga sekarang (Abdurrahman 2008: 21) selain itu dalam artikelnya juga, Abdurrahman (2008: 22) menyebutkan bahwa bahasa tidak saja dari sudut penturnya, tetapi juga dari sudut pendengarnya, karena pemakaian bahasa pada hakekatnya adalah proses interaksi verbal antara penutur dan pendenganrnya. Dalam proses interaksi, baik penutur maupun pendengar selalu mempertimbangkan kepada

siapa ia berbicara, di mana, kapan, mengenai masalah apa, dan dalam situasi bagaimana, dan sebagainya, seperti yang telah dijelaskan oleh Fishman (1972: 15).

bahwa yang dipersoalkan dalam sosiolinguistik antara lain: ‚who speak to speak (or write), what language (or what language variety), to whom, when, to what end.

Berikut beberapa teori sosiolinguistik menurut beberapa ahli:

1. Hudson (1996: 1) menyatakan ‖Sociolinguistic is studi of language in relation to society‖ (Sosiolinguistik mengkaji bahasa di dalam hubungannya dengan faktor-faktor kemasyarakatan/sosial).

2. Nababan (1993:2) menjelaskan sosiolinguistik ialah studi bahasa yang berhubungan dengan penutur bahasa sebagai anggota masyarakat, atau mempelajari aspek-aspek kemasyarakatan bahasa yang berkaitan dengan faktor-faktor kemasyarakatan/sosial. Selanjutnya ia menambahkan bahwa sosiolinguistik mengkaji bahasa dalam konteks sosial kebudayaan, menghubungkan faktor-faktor budaya, serta mengkaji fungsi sosial dan pemakaian bahasa dalam masyarakat.

3. Chaer dan Agustina (2010: 3) menyatakan bahwa sosiolinguistik adalah bidang ilmu antardisiplin yang mempelajari bahasa dalam kaitannya dengan penggunaan bahasa itu di dalam masyarakat. Sebagai objek dalam sosiolinguistik, bahasa diperlukan manusia dalam kegiatan kemasyarakatan, yaitu mulai dari upacara pemberian nama pada bayi yang baru lahir sampai upacara pemakaman jenazah. Oleh karena itu, sosiolinguistik tidak akan terlepas dari persoalan hubungan bahasa dengan kegiatan atau aspek-aspek kemasyarakatan.

4. menurut Fishman (1972 :4)

“Sosiolinguistics is the study of the caracteristics of language varieties, the carakteristics of their functions,and the characteristics of their speakers as these three constlantly interact, change and change one another within a speech community”

Menurutnya sosiolinguistik adalah kajian tentang ciri khas variasi bahasa, fungsi–fungsi variasi bahasa, dan pemakai bahasa karena ketiga unsur ini selalu berinteraksi, berubah, dan saling mengubah satu sama lain dalam satu masyarakat.

Dalam penelitian ini sendiri, jika dilihat beberapa teori yang disebutkan diatas, penulis mengacu pada teori Fishman, tetap didukung dengan teori-teori para ahli lainnya, karena teori tersebut tidak hanya sekedar menunjukkan bagaimanaa bahasa dalam konteks sosial di ruang lingkup masyarakat, namun lebih lanjut lagi, secara spesifik fishman juga menjelaskan bagaimana proses interaksi, fungsi, dan pemakaian bahasanya, serta peranan antara penutur, lawan bicara, dan topik yang di bicarakan.

Konferensi sosiolinguistik pertama yang berlangsung di University of California, Los Angeles di tahun 1964 telah merumuskan adanya 7 dimensi dalam penelitian sosiolinguistik. Yaitu (1) identitas sosial dari penutur, (2) identitas sosial dari pendengar yang terlibat dalam proses komunikasi, (3) lingkungan sosial tempat peristiwa tutur terjadi, (4) analisis sinkronik dan diakronik dari dialek-dialek sosial, (5) penilaian sosial yang berbeda oleh penutur akan perilaku bentuk-bentuk ujaran, (6) tingkatan variasi dan ragam linguistik, dan (7) penerapan praktis dari penelitian sosiolinguistik. Adapun identitas sosial dari penutur dapat diketahui dari pertanyaan dan siapa penutur tersebut serta hubungannya dengan lawan tutur, sehingga penutur

dan pendengar saling mempengaruhi pilihan kode dalam bertutur. Lingkungan sosial akan mempengaruhi pilihan kode dan gaya bertutur. Analisis diakronik dan sinkronik dari dialek-dialek sosial berupa deskripsi pola-pola dialek sosial itu, dialek sosial ini digunakan oleh para penutur sehubungan dengan kedudukan mereka sebagai anggota kelas-kelas tertentu di dalam masyarakat. Penilaian sosial dari penutur bisa saja sama ataupun berbeda dari kelas sosialnya. Tingkatan variasi disebabkan oleh susunan suatu masyarakat tutur yang bersifat heterogen, sehingga bahasa yang dihasilkan juga sangat bervariatif, sesuai dengan fungsi sosialnya sendiri. Sedangkan yang terakhir, penerapan praktis dari penelitian sosiolinguistik, berfokus pada kegunaan penelitian sosiolinguistik itu sendiri untuk mengatasi masalah-masalah praktis di dalam masyarakat, seperti dalam pengajaran bahasa, pembakuan bahasa, penerjemahan, dan sebagainya. Ketujuh dimensi yang disebutkan diatas tentu saja menjadi indikator penting dalam penelitian ini mengingat olah data yang dilakukan dilapangan meliputi beberapa ataupun keseluruhan dimensi tersebut.

Guna mendapatkan jawaban dari permasalahan-permasalahan yang menjadi topik penelitian dalam tulisan ini, maka digunakan beberapa teori, yaitu Kachru (1982 :39) yang menyatakan bahwa code mixing is the use of two or more languages by inserting the language inserted and totally only supported a function. Ia mengatakan bahwa campur kode adalah penggunaan dua bahasa atau lebih dengan cara memasukkan satu unsur bahasa kedalam struktur bahasa lain dan berfungsi sebagai unsur pendukung struktur bahasa tersebut. Kachru ( 1982 : 39 ), membagi campur kode ke dalam 5 bentuk yaitu 1) Unit Insertion , 2) Unit Hybridization ,3 ) Sentence Insertion, 4) Idiom and Collocation Insertion and 5) reduplication.

1. Penyisipan unsur yang berwujud kata (Unit Insertion)

Kata adalah (1) morfem atau kombinasi morfem yang oleh bahasawan dianggap sebagai satuan terkecil yang dapat diujarkan sebagai bentuk yang bebas; (2) satuan bahasa yang dapat berdiri sendiri, terjadi dari morfem tunggal (3) satuan terkecil dalam sintaksis yang berasal dari leksem yang telah mengalami proses morfologis (Kridalaksana, 2008:110). Masyarakat yang beragam dan multilingual memungkinkan terjadinya campur kode. Salah satu campur kode ialah dengan menyisipkan unsur kata dari bahasa asing atau serumpun ke dalam struktur bahasa penutur. Berikut adalah contoh campur kode berupa penyisipan unsur berupa kata.

Contoh :

Monsieur Rohali was arrive.

J'écoute any sorte de musique

Sumber, (Rohali, 2018: 6) 2. Penyisipan unsur yang berwujud frasa (Unit Hybridization)

frasa dibentuk dari dua buah kata atau lebih; dan mengisi salah satu fungsi sintaksis. Terdapat dua macam frasa, yaitu frasa endosentris dan eksosentris. Frasa endosentris adalah frasa yang hubungannya sangat erat sehingga kedua unsurnya tidak dapat dipisahkan sebagai pengisi fungsi sintaksis. Berbeda dengan frasa endosentris, frasa eksosentris adalah frasa yang jika salah satu komponennya dihilangkan akan menjadi tidak dipahami. Frasa eksosentris lebih erat dengan menggunakan kata depan. Kaitannya dengan campur kode ialah adanya campur kode berbentuk frasa, yaitu penyisipan frasa bahasa asing atau serumpun ke dalam

struktur bahasa penutur. Di bawah ini merupakan contoh campur kode berupa penyisipan frasa.

nobody fait ça / ça vient plate everywhere j'ai pas le temps whatever

Sumber, (Rohali, 2018: 6) 3. Penyisipan Unsur yang berwujud klausa. (Sentence Insertion)

klausa merupakan sebuah konstruksi ketatabahasaan yang dapat dikembangkan menjadi kalimat. Berikut ini adalah contoh campur kode berupa penyisipan klausa.

Kaitannya dengan campur kode ialah adanya campur kode berbentuk klausa.

Campur kode klausa adalah penyisipan klausa bahasa asing atau serumpun ke dalam struktur bahasa penutur. Contoh campur kode berwujud sisipan klausa adalah

I guess c'est vraiment beau I hope que mon père a call-é ma mère

Sumber, (Rohali, 2018: 7) 4. Penyisipan unsur yang berwujud idiom. (Idiom and Collocation Insertion)

Idiom adalah 1) konstruksi dari unsur-unsur yang saling memilih, masing- masing anggota memunyai makna yang ada hanya karena bersama yang lain, serta konstruksi yang maknanya tidak sama dengan gabungan makna anggota- anggotanya. Contoh kambing hitam (Kridalaksana, 2008: 90). Kaitannya dengan campur kode ialah adanya campur kode berbentuk ungkapan. Campur kode ungkapan adalah penyisipan ungkapan bahasa asing atau serumpun ke dalam

struktur bahasa penutur. Berikut ini adalah contoh campur kode berupa idiom atau ungkapan. Contoh campur kode berwujud sisipan idiom adalah

Payah emang, notre section de plus en plus pire

Sumber, (Rohali, 2018: 11) 5. Penyisipan unsur yang berwujud perulangan kata. (reduplication)

Perulangan merupakan proses dan hasil pengulangan satuan bahasa sebagai akibat fonologis atau gramatikal; mis. rumah-rumah, tetamu, bolak-balik, dsb (Kridalaksana, 2008:193). Campur kode berbentuk perulangan kata ialah penyisipan perulangan kata dari bahasa asing atau serumpun ke dalam struktur bahasa penutur. Terdapat empat macam perulangan kata berdasarkan perulangan akar, yaitu pengulangan utuh, pengulangan sebagian, pengulangan dengan perubahan bunyi, dan pengulangan dengan infiks (Chaer, 2004: 181). Perulangan utuh adalah perulangan bentuk dasar tsnps merubah bentuk fisik dari akar itu.

Misalnya, meja-meja (meja), kuning-kuning (kuning). Berbeda dengan perulangan utuh, perulangan sebagian adalah perulangan bentuk dasar yang dilakukan pada salah satu suku katanya saja disertai dengan ―pelemahan‖ bunyi. Misalnya, leluhur (luhur), tetangga (tangga), dan lelaki (laki-laki). Sementara itu, perulangan dengan perubahan bunyi adalah bentuk dasar yang diulang tapi disertai dengan perubahan bunyi. Misalnya, bolak-balik, corat- coret, dan kelap-kelip. Terakhir adalah perulangan dengan infiks, perulangan tersebut merupakan perulangan sebuah akar tetapi diberi infiks pada unsur ulangannya. Misalnya, turun-temurun, tali-temali, dan sinar-seminar. Berikut contoh campur kode perulangan kata. Contoh campur kode berwujud perulangan kata adalah

C’est une marché barang-barang antique.

On peut acheter les statues antique et barang-barang antik lain

Sumber, (Rohali, 2018: 16) Sebagai dampak dalam mempelajari suatu bahasa baru, atau bahasa kedua yang dalam penelitian ini merupakan bahasa Perancis, tentu saja banyak penemuan-penemuan bahasa baru yang melekat di dalam mahasiswa Prodi Perancis khususnya dalam kegiatan berbahasa, sehingga sering kali terjadi peristiwa campur kode dalam peristiwa percakapan. Salah satunya yaitu dalam tuturan sapa diantara mahasiswa Prodi Perancis yang lebih terbiasa menyapa sesama mahasiswa atau dosen dengan kata sapaan bonjour/bonsoir dan tidak dengan ucapan selamat pagi/selamat siang.

Dan sebutan Madame/Monsieur yang lebih sering digunakan daripada Ibu/Bapak Dosen.

Campur kode merupakan penyisipan suatu bahasa ke dalam bahasa lain yang lebih dominan dalam suatu wacana. Faktor terjadinya campur kode bermacam- macam. Mulai dari keterbatasan kata dalam bahasa Indonesia sehingga penutur menggunakan sisipan bahasa lain sebagai pengganti. Penulis merujuk pada teori Hoffmann (1991: 115-116) yang menjelaskan 10 alasan utama terjadinya campur kode. Sebagai berikut:

1. Berbicara tentang topik tertentu ( Talking About a Particular Topic)

Dalam suatu peristiwa tutur dalam kehidupan sehari-hari, pembicara merasa bebas dan lebih nyaman untuk mengungkapkan perasaan emosionalnya ke dalam bahasa seharinya.

2. Mengutip orang lain (Quoting Somebody Else)

Seorang yang bilingual mengutip ungkapan terkenal, pepatah, atau mengatakan dari beberapa tokoh terkenal sebagian besar dari beberapa negara berbahasa sumber. Kemudian, mengutip kalimat tersebut serta ekspresi dan ucapan lalu dikutip utuh dalam bahasa sasaran mereka.

3. Menjadi tegas tentang sesuatu (mengungkapkan solidaritas) (Being Emphatic about Something)

Seseorang berbicara menggunakan bahasa yang bukan bahasa asli tiba-tiba ingin menjadi tegas tentang sesuatu, baik sengaja atau tidak sengaja akan beralih dari bahasa kedua atau bahasa pertamanya. Dikarenakan merasa lebih nyaman dan tegas dalam bahasa kedua atau bahasa pertamanya.

4. Kata Seru (memasukkan pengisi kalimat atau konektor kalimat) (Interjection) Kata seru dimasukkan dalam kalimat untuk menyampaikan kejutan, emosi yang kuat, atau untuk mendapatkan perhatian. Contonhya: sialan! Hey! Nah! Lihatlah!

Mereka tidak memiliki nilai gramatikal, mereka yang mendengarnya cukup sering, biasanya terjadi pada pembicaraan di banding tertulis. Ini mungkin terjadi secara tidak sengaja atau sebagai konektor kalimat.

5. Pengulangan digunakan untuk klarifikasi (Repetition used for Clarification)

Ketika seorang bilingual ingin mengklarifikasi percakapannya supaya dipahami oleh pendengar, terkadang ia menggunakan dua bahasa. Sering, pesan dalam satu kode diulang dalam kode harfiah. Sebuah pengulangan tidak hanya berfungsi untuk memperjelas apa yang dikatakan, tapi juga untuk memperkuat atau menekankan pesan.

6. Niat mengklarifikasi isi percakapan (Intention of Clarifying the Speech Content for Interlucutor)

Seorang yang bilingual membuat percakapannya berjalan lancar dan dapat dipahami oleh pendengar. Sebuah pesan dalam satu kode diulang dalam kode lain dalam bentuk agak dimodifikasi.

7. Mengekspresikan identitas kelompok (Expressing Group Identity)

Cara komunikasi orang akademis dalam pengelompokan disiplin mereka jelas berbeda dari kelompok lain untuk mengekspresikan identitas kelompok.

8. Untuk melembutkan atau memperkuat permintaan atau perintah (To soften or Strengthen Request or Command)

Bagi orang Indonesia, pencampuran Indonesia ke dalam bahasa Inggris juga bisa berfungsi sebagai permintaan karena bahasa Inggris bukan bahasa ibu mereka, sehingga tidak terdengar sebagai langsung sebagai Indonesia. Namun, campur kode juga dapat memperkuat perintah sejak pembicara dapat merasa lebih kuat daripada pendengar karena dia bisa menggunakan bahasa yang semua orang tidak bisa.

9. Karena kebutuhan leksikal nyata (Because of Real Lexical Need)

Ketika sebuah bilingual Inggris-Indonesia memiliki sebuah kata yang kurang dalam bahasa Inggris, dia akan merasa lebih mudah untuk mengatakan itu di Indonesia. Dan sebaliknya, saat ia memiliki sebuah kata yang kurang dalam Indonesia, ia akan menggunakan istilah bahasa Inggris.

10. Untuk mengecualikan orang lain ketika komentar ditujukan hanya untuk penonton terbatas (To exclude Other People When a Comment is intended for only a Limited Audience)

Kadang-kadang orang ingin berkomunikasi hanya untuk orang-orang atau komunitas tertentu milik pribadi.Untuk menghindari gangguan komunikasi, mereka mungkin mencoba untuk mengecualikan orangorang dengan menggunakan bahasa yang tidak semua orang tahu.

Selain kedua teori tersebut, penelitian ini juga merujuk pada teori Parera (1986:

6) dengan tujuan mendeskripsikan realiasasi campur kode dalam pembelajaran bahasa khususnya bahasa Perancis. Parera mengungkapkan empat konsep utama pembelajaran bahasa berdasarkan peranan sosiolinguistik. Empat konsep utama tersebut ialah: (1) Bahasa mengacu pada pembelajaran bahasa yang memerlukan konsep tentang hakekat bahasa. Secara implicit dan ekplisit seorang pendidik bahasa bekerja berdasar teori tentang bahasa. Teori bahasa ditemukan dalam bidang ilmu linguistik, psikolinguistik dan sosiolinguistik. (2) Pembelajaran bahasa yang menuntut pandangan tentang pembelajaran bahasa dan bahan ajar bahasa. Hal tersebut meliputi siapa yang sedang belajar bahasa dan bahan ajar apa yang paling tepat diberikan padanya. Konsep tersebut dijabarkan dalam psikologi pendidikan, psikolinguistik dan sosiolinguistik. (3) Bahan ajar mencangkup keterlibatan seorang pendidik (guru/dosen) dengan strategi pengajarannya dalam proses pembelajaran.

Konsep tersebut meliputi peran seorang pendidik dalam pembelajaran bahasa oleh peserta didik serta proses pembelajaran bahasa tersebut. (4) Konteks yang menentukan situasi tertentu saat proses pembelajaran bahasa. Kegiatan berbahasa,

belajar bahasa dan mengajar bahasa harus dilihat dalam konteks apa, bagaimana setting pendidikanya, dan apa latar belakang dilakukannya pembelajaran bahasa. Hal tersebut mengacu pada penggunaan bahasa pertama seorang peserta didik dan bahasa sasaran disesuaikan dengan konteks situasi baik dalam konteks sosial, kultural dan politik tertentu yang termuat dalam pembelajaran bahasa.

Dokumen terkait