HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Landuse dan Aktivitas
Pola penggunaan lahan di Kampung Lengkong Kyai berkembang seiring dengan perkembangan zaman dan aktivitas penduduk kampung yang bergerak dinamis. Menurut sejarah, Kampung Lengkong Kyai pada masa lalu merupakan sebuah pesantren tempat ulama-ulama di wilayah Tangerang menuntut ilmu agama Islam pada masa Kesultanan Banten (sekitar abad ke 17-18). Pemilihan lokasi pesantren di wilayah tersebut disebabkan letaknya yang strategis tersembunyi dan terlindungi oleh alam (hutan bambu) dan dilingkungi Sungai Cisadane dan kali kecil yang juga merupakan upaya Raden Arya Wangsakara untuk menghidar dari ancaman VOC (Khamdevi 2012). Pembentukan pesantren diawali pada tahun 1633 dengan pembangunan musala serta beberapa pondok- pondok santri (Mian 1983). Pada tahun 1640 perkembangan agama Islam di Lengkong amat pesat yang ditandai dengan banyaknya ulama Banten dan santri dari luar daerah yang berorientasi ke Lengkong. Selanjutnya pada masa itu dibangun sebuah masjid untuk menampung jamaah yang lebih banyak dan sebagai tempat berdakwah dalam menyiarkan agama Islam. Kemudian pada tahun 1720 Raden Arya Wangsakara wafat dalam pertempuran melawan VOC dan dimakamkan di Kampung Lengkong Kyai. Makam Raden Arya Wangsakara bersebelahan dengan makam-makam ulama lain dalam suatu area pemakaman. Area pemakaman tersebut menurut penjaga makam saat ini, Ahmad Hamdan sudah ada sekitar 300 tahun yang lalu dengan makam tertua yang ditemukan yaitu makam Ahmad Syeikh Balar.
Pada masa perjuangan revolusi (sekitar abad ke 19-20) keberadaan Lengkong yang dahulu merupakan sebuah pesantren telah berkembang dan menjadi sebuah kampung dengan banyaknya ulama dan santri yang menetap dan membangun pondok-pondok. Pondok-pondok santri yang sebelumnya bertipe panggung dengan atap julang ngapak berubah menjadi rumah-rumah hingga membentuk sebuah permukiman kampung (Mian 1983, dalam Khamdevi 2012). Rumah-rumah tersebut secara arsitektural menampakan kemiripan dengan rumah- rumah betawi tempo dulu yang dapat diamati dari rumah tradisional yang masih ada hingga sekarang dengan usia sekitar 100 tahun. Aktivitas penduduk Kampung Lengkong Kyai pada masa itu pun semakin kompleks. Berdasarkan wawancara dengan H. Mukri Mian pada masa tersebut diketahui terdapat aktivitas pertanian pada lahan sawah di Kampung Lengkong Kyai. Aktivitas pertanian tersebut merupakan upaya penduduk kampung yang kian bertambah untuk memenuhi
kebutuhan pangan. Keberadaan hutan bambu yang menutupi Kampung Lengkong Kyai pun dimanfaatkan penduduk untuk menghasilkan batang bambu sebagai bahan pembuatan barang-barang kebutuhan sehari-hari seperti alat transportasi (getek), pagar, kerajinan rumah tangga serta sebagai bahan bangunan. Batang bambu tersebut juga diperjualbelikan keluar kampung dengan sistem pendistribusian memanfaatkan aliran sungai. Selain sebagai tempat pendidikan agama Islam eksistensi Kampung Lengkong Kyai juga mendukung perjuangan revolusi bangsa Indonesia dengan dijadikannya Kampung Lengkong Kyai sebagai basis pertahanan laskar rakyat melawan tentara Belanda pada tahun 1946. Kegiatan pendidikan Kampung Lengkong Kyai pun kian berkembang dengan dibangunnya madrasah pada tahun 1949 dan majelis taklim pada tahun 1984. Berkembangnya aktivitas penduduk yang kompleks sebagai sebuah kampung kian memudarkan fungsi awalnya sebagai sebuah pesantren ditandai dengan mulai berkurangnya jumlah santri pada tahun 1949 hingga aktivitas pesantren yang hilang total pada tahun 1957. Upaya pemugaran fasilitas-fasilitas ibadah dilakukan yaitu pada tahun 1936. Masjid Jami Al Muttaqin dipugar untuk pertama kalinya dan konstruksinya diganti dari yang sebelumnya berbahan dasar kayu dan bambu menjadi bahan beton. Selanjutnya pada tahun 1963 dibangun menara sebagai kelengkapan bangunan masjid.
Pada saat ini Kampung Lengkong Kyai menjadi sebuah kampung yang berada di tengah-tengah pengembangan kota baru. Lahan-lahan dan kampung- kampung lain di sekitar Kampung Lengkong Kyai telah beralih fungsi menjadi permukiman modern dan sarana-sarana pelengkapnya. Aktivitas pertanian penduduk Kampung Lengkong Kyai pun telah hilang seiring alih fungsi lahan sawah menjadi permukiman. Tepatnya pada tahun 2010 dibangun permukiman relokasi di bagian Barat Kampung Lengkong Kyai untuk menampung penduduk- penduduk kampung lain yang tergusur. Hutan bambu yang menutupi kampung pada masa lalu pun kini sudah menyusut hingga hanya tersisa patch-patch berukuran kecil. Jumlah rumah yang ada di Kampung Lengkong Kyai semakin bertambah dan mulai meninggalkan pola dan bentuk-bentuk tradisional. Menurut H. Mukri Mian fasilitas-fasilitas ibadah yang ada seperti masjid dan musala sudah jauh berubah dari bentuk aslinya pada masa lalu dan telah beberapa kali mengalami pemugaran. Usaha pemerintah daerah untuk pelestarian kampung telah dilakukan, salah satunya dengan menetapkan area pemakaman di Kampung Lengkong Kyai sebagai Taman Makam Pahlawan (TMP) Kabupaten Tangerang pada tahun 2012. Pemugaran terhadap makam dilakukan dengan renovasi bangunan makam Raden Arya Wangsakara, pemugaran makam-makam kuno, pemugaran pagar area pemakaman dan pembangunan jalan, gerbang dan lapangan pada area pemakaman. Selain itu saat ini makam Raden Arya Wangsakara dan satu rumah tradisional di Kampung Lengkong Kyai telah ditetapkan sebagai cagar budaya oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Banten. Pada Tabel 10 diuraikan perkembangan landuse dan aktivitas di Kampung Lengkong Kyai berdasarkan periode.
Tabel 10 Perkembangan landuse dan aktivitas di Kampung Lengkong Kyai berdasarkan periode
Masa Kesultanan Banten (abad ke 17-18)
Masa perjuangan revolusi (abad 19-20)
Masa sekarang
Pada masa awal
pembentukannya, lokasi Kampung Lengkong Kyai tersembunyi dan terlindungi oleh alam (hutan bambu) dan dilingkungi Sungai Cisadane dan kali kecil (Khamdevi 2012)
Tahun 1633 R.A. Wangsakara mendirikan pesantren (musala) di tepi Sungai Cisadane (sekarang Kampung Lengkong Kyai) atas restu dari Sultan Banten (Mian 1983)
Tahun 1640 dibangun masjid untuk
menampung santri-santri yang datang (Mian 1983)
Pembangunan masjid diikuti berdirinya pondok-pondok santri bertipe panggung dengan atap julang ngapak di sekitar masjid
(Khamdevi 2012)
Tahun 1720 R.A. Wangsakara wafat dan dimakamkan di Kampung Lengkong Kyai (wawancara dengan H. Mukri Mian)
Area pemakaman sudah ada sekitar 300 tahun yang lalu (wawancara dengan penjaga makam, Ahmad Hamdan)
Terdapat aktivitas pertanian pada lahan sawah di Kampung Lengkong Kyai (wawancara dengan H. Mukri Mian)
Pemanfaatan hutan bambu sebagai penghasil batang bambu (wawancara dengan H. Mukri Mian)
Rumah-rumah penduduk menampakan kemiripan dengan rumah betawi tempo dulu (Khamdevi 2012)
Tahun 1936 Masjid dipugar dan konstruksinya diganti dengan bahan beton (Mian 1983)
Tahun 1946 Kampung Lengkong Kyai menjadi basis pertahanan laskar rakyat melawan tentara Belanda (wawancara dengan H. Mukri Mian)
Tahun 1949 dibangun madrasah di Kampung Lengkong Kyai (Mian 1983) Tahun 1957 aktivitas pesantren hilang (wawancara dengan H. Mukri Mian) Tahun 1963 dibangun menara sebagai kelengkapan bangunan masjid (Mian 1983) Tahun 1984 dibangun majelis taklimdi dekat masjid (Mian 1983)
Vegetasi bambu yang menutupi kampung menyusut (wawancara dengan H. Mukri Mian dan pengamatan)
Lahan pertanian dialih fungsikan menjadi permukiman (wawancara dengan H. Mukri Mian dan pengamatan)
Tahun 2010 dibangun permukiman relokasi di bagian Barat Kampung Lengkong Kyai (wawancara dengan H. Mukri Mian dan pengamatan)
Tahun 2012 area
pemakaman di Kampung Lengkong Kyai
ditetapkan sebagai Taman Makam Pahlawan (TMP) Kabupaten Tangerang (wawancara dengan H. Mukri Mian)
Tahun 2012 Makam R.A. Wangsakara dijadikan cagar budaya (Disbudpar Provinsi Banten)
Tersisa satu rumah tradisional yang masih bertahan dan juga ditetapkan sebagai cagar budaya pada tahun 2012 (wawancara dengan H. Mukri Mian dan pengamatan)