• Tidak ada hasil yang ditemukan

'' Ibid, Pasal6

G. Langkah Antisipasi yang Diperlukan Untuk Masa Mendatang

Seperti yang telah diketahui, bahwa landasan dasar pemerintah Indonesia masuk dalam sistem perdagangan global adalah untuk menjadi salah satu Negara industri baru di kawasan Asia pasifik, karenanya Indonesia harus melakukan trasportasi di bidang perekonomian dengan mengubah prioritas dari sektor pertanian menjadi sektor indutri. Akan tetapi hams diingat konsekuensi dari meningkatnya pertumbuhan ekonomi tersebut besar kemungkinan akan mempunyai dampak pada sektor lain seperti lingkungan hidup, keterbukaan pasar, peningkatan persaingan antar pasar domestik dan pasar modern

Oleh karena itulah untuk mecegah keberlanjutan darnpak tersebut kearah yang negatif, maka Indonesia harus mempunyai strategi jangka panjang yang diantaranya berupa peningkatan kualitas wawasan internasional pembuat kebijakan atau perunding, meminimalisir ketergantungan terhadap produk impor, mengembangkan industri domestik serta memaksimalkan irnplementasi norma-norma yang telah ada.

1. Peningkatan kwalitas wawasan internasional pembuat kebijakan dan pelaksana kebijakan

Dalarn era perdagangan bebas dan era globalisasi, setiap pembuat kebijakan dibidang perdagangan internasional beserta para pelaksana kebijakan tersebut dituntut untuk memiliki wawasan intemasional yang luas, dalam arti bahwa penguasaan instnunen-

74 Ida Susanti dan Bayu Seto, Aspek Hukum dari Perdagangan Bebas, cetakan pertama pandung: PT. Citra Aditiya Bakti, 2003), hlm 43 1

instrumen hukum intemasional yang terkait dengan penunusan kebijakan dan pelaksanaan kegiatan dilapangan.75 Hal tersebut diperlukan agar mampu meminimalisir kecerobohan para pengambil kebijakan dalam memutuskan sebuah solusi sebagai akibat dari dampak negatif perdagangan bebas tersebut. Jangan sarnpai para pengambil kebijakan memperjuangkan sesuatu yang tidak menunjukan realitas di Indonesia yang akhimya hanya akan merugikan bangsa Indonesia sendiri khususnya untuk para pelaku usaha.

2. Meminimalisir ketergantungan terhadap produk impor.

Dari kecendrungan-kecendrungan yang tengah berlangsung di arena intemasional, haruslah disadari bahwa kepentingan nasional perlu diperjuangkan dengan baik dalam konteks upaya untuk mengurangi ketergantungan para konsurnen terhadap barang dan jasa dari l w dan mulai membiasakan mengkonsumsi barang dan jasa buatan negeri sendiri. Secara teoritis sangat sulit untuk membuat atau mengarahkan masyarakat kepada kecintaan untuk memanfaatkan produk industri sendiri, karena alasan budaya, gaya hidup, keluarga, kelas sosial atapun alasan lain yang dapat mengontrol konsurnen untuk memenuhi kebutuhannya dengan produk impor. Tidak ada aturan yang dapat mernaksa selera seseorang untuk memenuhi kebutuhannya. Semuanya kembali kepada kesadaran para konsurnen

75 Mohammad Sood, Hukum Perdagangan Internasional, cetakan pertama (Jakarta: PT.

Raja Grafindo Persada, 201 l), hlm. 283

itu sendiri. Akan tetapi pemerintah dapat melakukan beberapa upaya prefentif untuk mengurangi ketergantungan tersebut salah satunya dengan meningkatkan kualitas pasar domestik agar mampu bersaing dengan produk-produk luar yang masuk ke Indonesia. Hal tersebut untuk memberikan pilihan bagi konsurnen apabila terjadi persaingan barang sejenis antara produk impor dan produk domestik.

3. Mengembangkan industri dornestik

Melihat kondisi yang ada, Indonesia perlu segera mempertajam orientasi kebijakan pembangunan industri, agar lebih searah dengan tantangan persaingan ke depan. Tanpa daya saing, potensi pasar Indonesia yang kini menduduki ranking 15 dunia hanya akan d i i a t i produk asing.

Dengan jurnlah penduduk yang besar dan terus bertambah, hdonesia sangat membutuhkan keberadaan industri yang kuat, berdaya saing di pasar dalam negeri maupun global. Industri adalah kunci bagi peningkatan kualitas hidup bangsa, sekaligus kunci bagi ketahanan perekonomian nasional. Perlu kebijakan yang didukung seluruh pemangku kepentingan, untuk menempatkan pasar dalam negeri sebagai basis pengembangan industri dalarn negeri.76

Oleh sebab itu dalam menghadapi diberlakukannya sistern Liberalisasi Pasar Global pemerintah diiarapkan melihat masalah

76 Rahmat Gobel, Meningkatkan Daya Suing Industri Nasional Menghadapi Persaingan Global, Inspirasi Blog.com

yang dihadapi industri nasional dalam sudut pandang yang lebih luas. Jangan hanya sekadar dengan langkah protektif.

Sesungguhnya banyak di antara produk industri nasional yang berdaya saing cukup bagus, bahkan mampu menembus pasar negara maju. Namun, mereka sering kehilangan daya saing di pasar dalam negeri sendiri akibat iklim persaingan tidak sehat, baik akibat peredaran produk ilegal maupun karena tak adanya standarisasi produk. Produk domestik harus didorong agar dapat bersaing dengan barang impor. Untuk itu, program insentif industri harus terus dilanjutkan, seperti kebijakan pembatasan pelabuhan impor untuk produk tertentu. Di sisi lain, perlu larangan ekspor segala jenis bahan baku mentah agar industri lokal tercukupi kebutuhannya. Pengembangan industri hilir (pengolahan) juga harus dilanjutkan. Insentif pengembangan industri tertentu dan di daerah tertentu harus diperluas.

Perlu terobosan percepatan proses dan penerapan standar nasional Indonesia (SNI), terrnasuk ko~lsistensi pengawasan barang beredar.

Menurut data Badan Penelitian dan Pengembangan Industri Departemen Perindustrian, per Januari 2009 hanya 84 produk industri yang menerapkan s h d a r nasional Indonesia (SNI), dari sekitar 4.000 produk manufaktur yang beredar. Dari 84 SNI itu,

hanya 39 produk yang telah diberlakukan SNI wajib clan sudah d i n o t i - f h i ke W T O . ~ ~

Terobosan percepatan implementasi harmonisasi tarif dan berbagai kebijakan fiskalpun diperlukan. Dalam ha1 ini, berbagai instrumen fiskal yang memungklnkan untuk menekan biaya produksi clan biaya usaha perlu dirnanf'aatkan untuk meningkatkan daya saing produk industri nasional. Misalnya, fasilitas pajak pertambahan nilai (PPN) serta bea masuk (BM) bahan baku dan bahan baku penolong.

Pemerintah juga perlu memperkuat peran dan fungsi Komite Anti Dumping Indonesia (KADI), karena selama ini komite ini kurang optimal. Padahal, perannya sangat penting agar Indonesia bisa menerapkan bea masuk antidumping (BMAD), guna rnernbentengi pasar dari persaingan tidak sehat berupa dumping (harga jual eltspor lebih murah dibanding ke pasar dalam negeri). Peran KADI kian penting karena sangat mungkin di tengah arus perdagangan bebas, banyak negara yang membeii insentif, baik secara langsutlg maupun tidak langsung, kepada industrinya, melalui berbagai kebijakan di dalam negerinya.

Selain itu perlu kemudahan akses pembiayaan bagi industri (untuk permodalan revitalisasi permesinanlpabrik) meski tingkat bunga kredit kecil kemungkinan dapat serendah di negara kompetitor.

Perhatian perbankan terhadap sektor industri tergolong minim

n Rahmat Gobel, Meningkatkan Daya Saing Industri Nasional Menghadapi Persai~zgan Global, Inspirasi Blog.com

sehinggga pembiayaan untuk revitalisasi pabrik sangat sulit diperoleh. Padahal revitalisasi sangat penting dilakukan untuk meningkat daya saing karena banyak diantara industri nasional yang mesin-mesinnya sudah

Selain itu juga perlu sinkronisasi pengembangan riset dan teknologi dengan industri agar kebijakannya sejalan dan fokus. Dalam ha1 ini hams ada insentif bagi industri yang melakukan pengembangan riset dan teknologi guna menarik investasi dengan teknologi yang lebih maju.

Dari sedemikian kompleksnya permasalahan yang di hadapi sektor industri manufaktur, hal yang paling mendesak diselesaikan segera adalah pembenahan masalah infiastruktur, termasuk jaminan pasokan energi. Pemerintah hams menjamin kecukupan pasokan energi (termasuk gas dam) dan memberi insentif terhadap setiap upaya diversifikasi energi yang lebih ramah lingkungan. Di sisi lain, percepatan realisasi inf?aslxuktw lainnya yang sempat tertunda, terutama akses jalan ke pelabuhan dan kawasan industri, juga harus diselesaikan. Dalam hal ini, sinkronisasi kebijakan pusat clan daerah perlu ditingkatkan. Ini dilakukan agar bisa tenvujud percepatan pembangman infiastruktur dan jaminan pasokan energi seperti list~ik.~'

78 Rahmat Gobel, Meningkatkan Daya Suing Industri Nasional Menghadapi Persaingan Global, Inspirasi BIog.com

79 Rah mat Gobel, Meningkutkan Daya Suing Industri Nasional Menghadapi Persaingan Global, Inspirasi Blog.com

4. Memaksimalkan implementasi norrna-norma yang telah ada.

Era perdagangan bebas yang sedang berlangsung di dunia melibatkan Indonesia dalam suatu hubungan internasional yang semakin luas dan intensif sebagai akibat dari keterbukaan pasar.80 Sebagai salah satu konsekuensi logis adalah bahwa Indonesia akm semakin membutuhkan perlindungan industri domestiknya guna mengamankan kepentingan-kepentingannya dari berbagai darnpak negatif yang lahir akibat hubungan perdagangan tersebut.

Seperti yang telah dijelaskan sebelumya sebagai salah satu Negara yang ikut serta dalam perdagangan bebas, pemerintah Indonesia telah melakukan beberapa upaya untuk mengamankan industri dalam negerinya dari ancaman kerugian atau kerugian yang disebabkan oeh lonjakan impor, lonjakan barang dumping atau jenis-jenis ancaman kerugian lainnya. Hal tersebut dibulctikan dengan beberapa pengaturan yang menjanjikan kearnanan bagi industri domestik. Akan tetapi banyak dari aturan-aturan tersebut yang belurn dapat berjalan secara optimal dalam implementasinya dikarenakan beberapa alasan seperti yang telah dijelaskan s e b e l m y a .

Oleh karena itulah agar dapat memberikan jaminan keamanan secara optimal pemerintah seharusnya mampu membenahi atau mengevaluasi ulang terhadap kebijakan-kebijakan yang telah

Hata, Perdagangan Internasional Dalam Sistem GAlT dun WTO, Aspek-Aspek Hukumdan Non Hukum, eetakan pe$ama (Bandung: PT. Refika Aditama, 2006), hlm. 236

diambil atau terhadap para pelaksana dari kebijakan tersebut. Hal tersebut sebagai bekal pemerintah mtuk menyiapkan rencana jangka panjang dalam bidang perdagangan internasional.

BAF3 W