• Tidak ada hasil yang ditemukan

LANGKAH KEBIJAKAN DAN HASIL-HASIL YANG DICAPAI

Dalam dokumen Tahun 2010 merupakan tahun pertama pemer (Halaman 25-36)

Indonesia memandang berbagai tantangan di abad 21 ini sebagai motivator untuk terus memacu bangsa agar dapat berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa lainnya di dunia. Tanpa mengecilkan makna prinsip all direction foreign policy yang dianut Indonesia, kebijakan politik luar negeri Indonesia difokuskan pada lingkaran konsentris pertama, yakni kawasan Asia Tenggara. Untuk itu, Indonesia tanpa henti-henti berupaya untuk menjadi aktor utama dalam transformasi Association of Southeast Asia Nations (ASEAN) menjadi salah satu arsitektur kerjasama regional yang kokoh, dinamis dan menguntungkan. Komunitas ASEAN akan diwujudkan pada tahun 2015 melalui implementasi Cetak Biru tiga pilar Komunitas ASEAN yakni Komunitas Politik Keamanan ASEAN, Komunitas Ekonomi ASEAN dan Komunitas Sosial Budaya ASEAN.

Tahun 2011 merupakan tahapan penting bagi Indonesia karena pada tahun 2011 Indonesia akan menjadi Ketua ASEAN. Indonesia bukan saja harus mampu memimpin ASEAN untuk memantapkan komitmen negara anggota mewujudkan Komunitas ASEAN (ASEAN Community) 2015, melainkan juga harus mampu memberikan arah yang lebih terencana dan landasan yang lebih kokoh untuk mewujudkan ASEAN Community melalui tiga pilar ASEAN yang telah disepakati.

8 - 26

Dalam rangka memperluas pemahaman publik domestik terhadap pembentukan Komunitas ASEAN 2015, pada tahun 2009 telah dilakukan 103 kegiatan sosialisasi di berbagai daerah. Selain untuk memperluas pemahaman publik terhadap pembentukan komunitas ASEAN 2015, sosialisasi juga dilakukan untuk menumbuhkan dan memperkuat komitmen pemerintah daerah dan masyarakat dalam melaksanakan berbagai kewajiban yang telah disepakati dalam Piagam ASEAN dan Komunitas ASEAN 2015.

Terkait dengan pelaksanaan Kawasan Perdagangan Bebas ASEAN-China atau ASEAN-China Free-Trade Area yang sudah mulai berjalan sejak 2010, sejumlah upaya telah dilakukan dalam rangka menanggulangi dampak buruknya terhadap produk Indonesia seperti besi, baja dan tekstil. Upaya tersebut, di antaranya, adalah pembentukan tim khusus di bawah Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian (Kemenko Perekonomian) yang bertugas, antara lain, untuk melakukan renegoisiasi dan meningkatkan daya saing produk Indonesia.

Terkait dengan kemungkinan keterlibatan Rusia dan Amerika Serikat dengan East Asia Summit, pada Pertemuan ke-43 para Menlu ASEAN di Ha Noi, Vietnam, disepakati bahwa para Menlu ASEAN akan merekomendasikan kepada para Pemimpin ASEAN pada KTT ke-17 ASEAN di Ha Noi bulan Oktober 2010 agar secara resmi mengundang Amerika Serikat dan Rusia untuk bergabung dengan EAS melalui modalitas dan waktu yang tepat. Sejalan dengan hal tersebut, para Menlu EAS pada EAS Foreign Ministers Informal Consultations di Ha Noi, Vietnam, tanggal 21 Juli 2010 menegaskan agar expansion EAS tetap menjaga sentralitas ASEAN dan mempertimbangkan nature EAS yang bersifat Leaders-led forum, terbuka, inklusif, dan transparan.

Indonesia juga giat menjalin kerjasama dengan negara-negara di kawasan lain baik dalam kerangka bilateral maupun dalam kerangka ASEAN, antara lain, ASEAN+, The Asia – Europe Meeting (ASEM), KTT Asia Timur, ASEAN Regional Forum (ARF), dan Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC), IOR-ARC, FEALAC, dan ASEM. Indonesia juga terus membina hubungan baik di kawasan melalui Pacific Islands Forum (PIF) dan Southwest Pacific Dialogue (SwPD), yang merupakan bagian dari look east policy

8 - 27 Indonesia. Meningkatnya kerjasama dan saling memahami di antara Indonesia dengan negara-negara Pasifik tersebut diharapkan dapat mengurangi potensi dukungan negara-negara Pasifik terhadap gerakan-gerakan separatis yang mengancam keutuhan NKRI.

Pada tataran multilateral, Indonesia secara konsisten mendukung pembahasan reformasi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa Bangsa (DK PBB) yang inklusif serta mempertimbangkan masukan dari seluruh negara anggota. Indonesia juga terus menekankan pentingnya keseimbangan kawasan dan peradaban serta keterwakilan negara berkembang dalam keanggotaan DK PBB. Indonesia ingin melihat DK PBB sebagai lembaga yang demokratis, adil, efektif, dan representatif. Oleh karena itu, Indonesia mendukung pengaturan penggunaan hak veto di DK PBB.

Dalam upaya menjaga perdamaian dunia, atas permintaan PBB, pemerintah Indonesia telah mengirimkan kontingen Garuda XXIII-A pada tahun 2006 sampai dengan Garuda XXIII-C pada tahun 2009 ke Lebanon, serta Force Protection Company dan Force HQ Support Unit (Konga XXVI-A), Military Police Task Force (Konga XXV-A), dan satu korvet KRI Dipenogoro untuk bergabung dalam UNIFIL. Partisipasi Indonesia terus berlanjut di bawah resolusi DK PBB No. 1884 pada tahun 2009 yang memperpanjang mandat UNIFIL hingga akhir tahun 2010. Peningkatan partisipasi Indonesia dalam operasi pemeliharaan perdamaian didukung dengan pembentukan Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian (PMPP) sebagai forum koordinasi dan kerja sama antarinstansi terkait.

Dalam upaya mewujudkan perdamaian dunia dan memperjuangkan kemerdekaan sebagai hak segala bangsa sebagaimana diamanatkan oleh Pembukaan UUD 1945, Indonesia secara konsisten mendukung proses perdamaian di Timur Tengah dan mendorong berdirinya sebuah negara Palestina yang bebas merdeka. Indonesia mendukung penyelesaian konflik Israel-Palestina melalui two-state solution, sesuai dengan semangat yang terkandung dalam Resolusi Dewan Keamanan PBB No. 242 Tahun 1967, No 338 Tahun 1973, Arab Peace Initiative Tahun 2002, Peace Roadmap Tahun 2003, dan kerangka Annapolis Tahun 2007.

8 - 28

Di samping itu, Indonesia merupakan negara dengan pengalaman yang sangat kaya, tidak hanya dalam pemeliharaan perdamaian dan bina damai pascakonflik (post-conflict peacebuilding) yang bersifat multidimensional, melainkan juga cara-cara lain penciptaan perdamaian — termasuk peningkatan rasa percaya (confidence-building), diplomasi preventif, dan resolusi konflik. Dari berbagai pengalaman tersebut, pemerintah Indonesia telah mengembangkan berbagai keahlian yang dapat berguna bagi penciptaan perdamaian, dan Indonesia ingin membagi berbagai keahlian ini dengan bagian dunia lainnya. Indonesia bersedia membagi berbagai pengalaman dan keahlian ini karena Indonesia ingin memastikan bahwa perdamaian tercipta tidak hanya di kawasan Indonesia saja tetapi juga di seluruh dunia.

Dalam isu nuklir, Indonesia menjalankan perannya sebagai bridge builder untuk menjembatani berbagai kelompok yang berbeda pandangan dalam isu-isu perlucutan senjata dan non-proliferasi. Peran ini dapat dijalankan dengan baik karena adanya pengakuan dari negara-negara anggota PBB atas posisi Indonesia yang dipandang moderat serta komitmen Indonesia yang dianggap tinggi terhadap prinsip-prinsip multilateralisme yang berlaku. Posisi Indonesia ini disadari oleh pemain utama (key players) yang ingin melakukan hubungan (engagement) dengan negara-negara berkembang lain yang sering dipandang berhaluan keras. Dalam hal ini, Indonesia menekankan pentingnya multilateralisme sebagai “prinsip utama” atau “core principle” dalam perundingan non-proliferasi dan perlucutan senjata, dan menegaskan bahwa pencapaian tujuan non-proliferasi dan perlucutan senjata perlu ditempuh melalui jalur hukum atau “lawful” berdasarkan hukum internasional yang berlaku dan di bawah kerangka PBB.

Terkait dengan diplomasi perbatasan, Pemerintah Indonesia terus melakukan proses perundingan perbatasan dengan negara-negara tetangga. Demarkasi batas darat RI - Timor Leste telah berhasil diselesaikan dan telah dituangkan ke dalam perjanjian batas darat kedua negara tahun 2005. Demikian pula batas darat antara RI dengan PNG. Perundingan batas darat Indonesia – Malaysia saat ini masih terus berlangsung.

8 - 29 Dalam hal perbatasan maritim dengan sepuluh negara, ada sejumlah di antaranya yang sama sekali belum ditetapkan, yaitu dengan Filipina, Palau dan Timor Leste. Dengan Palau baru dimulai proses awal untuk memulai proses perundingan batas laut pada 22-23 April 2010 untuk menetapkan batas Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) dan landas kontinen, sedangkan dengan Filipina telah dilakukan pertemuan penjajakan lanjutan batas maritim Indonesia- Filipina pada akhir bulan April 2010 yang membahas penetapan batas ZEE dan landas kontinen di Laut Sulawesi.

Ratifikasi Perjanjian Batas Laut Kontinen (BLK) RI-Vietnam telah dilaksanakan pada Mei 2007 di Jakarta dan diharapkan kedua negara dapat segera memulai perundingan perbatasan ZEE sebagai payung hukum bagi pemajuan kerja sama perikanan RI-Vietnam serta penegakan hukum untuk memberantas illegal, unreported and unregulated fishing. Pada tahun 2010, Pemerintah Indonesia telah melakukan dua kali perundingan batas maritim dengan Vietnam, yaitu pertemuan penjajakan penetapan batas maritim RI-Vietnam pada bulan Februari dan Mei 2010.

Perundingan batas maritim dengan Malaysia telah dilaksanakan 15 (lima belas) kali sampai dengan tahun 2009, sedangkan pada tahun 2010, telah dilaksanakan dua kali perundingan perbatasan dengan Malaysia, yaitu perundingan Investigating Refixation Maintenance (IRM) RI-Malaysia pada bulan Januari 2010 dan perundingan Rapat Nasional Perbatasan Darat RI-Malaysia pada awal bulan Juni 2010. Dengan Singapura, pada tanggal 10 Maret 2009 telah ditandatangani Perjanjian antara Republik Indonesia dan Republik Singapura tentang Penetapan Garis Batas Laut wilayah kedua negara di bagian barat Selat Singapura. Garis batas ini telah diratifikasi oleh DPR RI pada tanggal 1 Juni 2010. Dengan selesainya batas laut pada segmen barat ini, antara RI-Singapura masih terdapat segmen timur 1 (di wilayah Batam-Changi) dan segmen timur 2 (wilayah sekitar Bintan-South Ledge/Middle Rock/Pedra Branca) yang masih perlu dirundingkan.

Upaya perlindungan dan pelayanan WNI Indonesia menjadi salah satu fokus diplomasi Indonesia. Perlindungan terhadap WNI yang telah dilaksanakan oleh pemerintah Indonesia terbagi dalam dua kategori, yaitu perlindungan terhadap WNI yang menjadi

8 - 30

korban, dan perlindungan terhadap WNI yang menjadi pelaku atau terlibat dalam kegiatan kejahatan atau pelanggaran hukum di luar negeri. Bagi kategori pertama, perlindungan diarahkan untuk memenuhi hak-hak warga negara Indonesia sesuai dengan peraturan yang berlaku, baik peraturan di negara bersangkutan maupun peraturan nasional. Sementara itu, bagi WNI yang terlibat dalam kejahatan, perlindungan diarahkan untuk memperoleh perlakuan yang layak sesuai dengan standar kemanusiaan dan menghindarkan kemungkinan hukuman maksimum.

Langkah-langkah yang ditempuh untuk memberikan perlindungan yang lebih baik kepada WNI di luar negeri, antara lain, dengan memberikan pelayanan yang lebih baik dan lebih cepat kepada warga negara Indonesia yang memerlukan, melalui pembentukan Sistem Pelayanan Warga (Citizen Service Unit) di beberapa Perwakilan RI di negara-negara konsentrasi keberadaan WNI/TKI. Sampai saat ini sudah terdapat unit pelayanan publik di 24 Perwakilan RI di luar negeri, antara lain, di Singapura, Bandar Seri Begawan, Kuala Lumpur, Damaskus, Amman, Doha, Seoul, Abu Dhabi, Kuwait City, Kuala Lumpur, Riyadh, KJRI Jeddah, Dubai, Kota Kinibalu, Johor Bahru, Hongkong, Kuching, dan Penang.

Di samping itu, Indonesia juga mengadakan perjanjian mengenai Mandatory Consular Notification (MCN) dengan negara-negara pengguna jasa TKI, yaitu suatu bentuk kesepakatan yang mengharuskan negara pengguna jasa TKI untuk segera memberitahukan kepada Perwakilan RI di negara tersebut bilamana terjadi kasus yang menimpa warga negara Indonesia.

Pemerintah juga membantu pemulangan warga negara Indonesia/TKI yang bermasalah dari sejumlah tempat di luar negeri untuk kembali ke tanah air. Sampai dengan 100 hari masa kerja kabinet Indonesia Bersatu II, tidak kurang dari 1500 TKI bermasalah telah berhasil dibantu pemulangannya ke tanah air.

Saat ini, dalam rangka peningkatan perlindungan dan pelayanan WNI/BHI di luar negeri, sedang dilakukan proses penyusunan grand design yang diharapkan dapat digunakan dalam rangka meningkatkan kualitas perlindungan dan pelayanan.

8 - 31 Berkenaan dengan hal itu, upaya penyebarluasan tentang pentingnya penataan dan pengelolaan pelayanan di dalam negeri terhadap calon tenaga kerja juga telah dilakukan di berbagai daerah. Kegiatan ini juga dimaksudkan untuk melakukan pemetaan permasalahan serta menjaring masukan dari pemangku kepentingan (stakeholder) terkait, antara lain pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, Disnakertrans, BNP2TKI, perwakilan PJTKI, LSM, serta beberapa perwakilan KBRI di luar negeri. Sosialisasi tersebut dilaksanakan di Surabaya, Banjarmasin, dan Makassar. Selain itu, telah dilakukan pula 11 kali diseminasi melalui radio di berbagai kota di Indonesia.

Terkait dengan perlindungan target penguatan 9 Citizen Service, pada tanggal 3 Mei 2010 telah diresmikan bangunan fisik untuk pelayanan warga sebagai bagian dari KBRI Seoul. Dengan demikian, target yang telah dicapai adalah sebesar 11,11 %. Sementara itu, terkait dengan repatriasi dan pemberian bantuan hukum bagi WNI di luar negeri, sampai dengan tanggal 18 Juni 2010 jumlah WNI yang telah direpatriasi dan mendapatkan bantuan hukum adalah 1.042 orang (104,2 %), dari target sebesar 1.000 orang hingga bulan Juni, sedangkan target hingga akhir tahun 2010 adalah 3.000 orang.

Untuk mengatasi persoalan tidak lengkapnya dokumentasi tentang warga negara Indonesia di luar negeri, langkah kebijakan yang perlu segera diambil adalah menyusun dan memutakhirkan data WNI di luar negeri secara lebih cermat dan rutin dengan membangun sistem basis data yang komprehensif dan terpadu

Situasi dunia saat ini masih ditandai dengan terjadinya ketegangan etnik dan agama, kekerasan komunal, prasangka buruk, kesalahpahaman, dan kesalahpengertian. Situasi bertambah buruk ketika prasangka etnik dan agama dikaitkan dengan persaingan ekonomi, politik, dan perlakuan yang tidak termaafkan. Di luar masalah prasangka, konflik, dan ketegangan, dunia saat ini menghadapi kekerasan keji lainnya, yakni terorisme. Karena itu, diperlukan sebuah komitmen dan kepedulian bersama untuk membangun masyarakat guna menghancurkan budaya kekerasan yang disebarkan dan dilakukan para teroris.

8 - 32

Indonesia secara tegas menolak pengaitan agama atau budaya tertentu dengan terorisme. Indonesia menyadari bahwa upaya memberantas terorisme perlu melibatkan dan memberdayakan kaum moderat (empowering the moderates) dengan mengikis akar terorisme yang muncul dari radikalisme dan manipulasi terhadap agama. Di sepanjang tahun 2009, Indonesia telah bekerjasama menyelenggarakan sejumlah kegiatan Dialog Antar Agama (Interfaith Dialogue/IFD), antara lain, di Austria, Rusia, Italia, Inggris, Belanda, Republik Korea dan Australia, guna membantu menciptakan dunia yang lebih aman dan damai. Dalam kerangka ASEM, Indonesia telah mengadakan pertemuan ASEM Interfaith Intercultural Retreat for Religious Leaders pada tahun 2009. Sebagai co-sponsor sekaligus inisiator ASEM IFD, peran Indonesia turut menentukan langkah dan arah keputusan-keputusan strategis dalam ASEM IFD. Dialog lintas agama ini juga dilaksanakan dalam kerangka regional, melalui forum Asia Pacific Interfaith Dialogue, APEC Inter-Cultural and Faith Symposium, International Conference of Islamic Conference (ICIS), dan World Peace Forum (WPF).

Terkait dengan perannya sebagai moderating voice sekaligus fasilitator perdamaian, di sepanjang tahun 2009 Indonesia telah menyelenggarakan sejumlah kegiatan Dialog Antar Agama (Interfaith Dialogue/IFD) dalam kerangka bilateral, dan regional. Dialog antar agama merupakan gerbang menuju kehidupan bermasyarakat yang adil, sejahtera dan harmonis. Dengan mengedepankan upaya-upaya ini, oleh berbagai kalangan yang berbeda, mulai dari Pemerintah Negara Palestina hingga Presiden Amerika Serikat, Indonesia telah dikenal sebagai negara Islam yang mampu menjadi jembatan dalam dialog antarperadaban sekaligus berpotensi menjadi role model bagi negara-negara Islam lainnya.

Di samping itu, terkait dengan perkembangan politik di dalam negeri yang berpengaruh besar terhadap profil Indonesia di mata internasional, keberhasilan Indonesia melaksanakan pemilihan umum demokratis pada tahun 2004 dan 2009 telah menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara yang dianggap berhasil dalam membangun demokrasi. Keunggulan ini ditambah lagi dengan fakta bahwa Indonesia merupakan negara dengan penduduk mayoritas muslim

8 - 33 terbesar di dunia. Keberhasilan Indonesia melaksanakan pemilihan umum menunjukkan kepada dunia internasional bahwa nilai-nilai demokrasi dan Islam dapat berdampingan secara damai dalam konstelasi yang harmoni. Pada saat di banyak negara di dunia, hubungan antara demokrasi dan Islam mendapatkan gugatan, Indonesia justru memposisikan diri sebagai negara yang dapat menyandingkan keduanya.

Pengakuan internasional terhadap posisi Indonesia dalam peta demokrasi dunia merupakan modal kuat dalam mengimplementasikan politik luar negeri Indonesia pada masa mendatang. Kepercayaan internasional terhadap motif Indonesia dan kepemimpinan Indonesia di kawasan Asia Tenggara dalam isu demokrasi dan hak asasi manusia merupakan citra baru Indonesia dalam pergaulan internasional. Hal itu, antara lain, tampak dari penyelenggaraan Bali Democracy Forum (BDF) dan pembentukan Institute for Peace and Democracy.

Kedua forum tersebut akan menjadi wadah bagi pertukaran informasi dan gagasan bagi para intelektual dan praktisi dari berbagai negara dalam isu-isu demokrasi sebagai wadah untuk menyediakan pelatihan bagi para praktisi dalam mengelola implementasi demokrasi (pemilihan umum, partai politik, dan lain-lain), dan melaksanakan kegiatan-kegiatan bersama dengan negara-negara lain untuk memperkuat implementasi demokrasi. Penularan pengalaman Indonesia dalam membangun demokrasi, khususnya di kawasan Asia, diharapkan membawa gairah bagi negara-negara sahabat untuk menjunjung nilai-nilai demokrasi sebagai prinsip kesetaraan, toleransi, dan keadilan.

Kemajuan proses demokratisasi dan penghormatan hak-hak sipil politik dalam negeri menciptakan peluang bagi Indonesia untuk dapat bekerjasama dan mengembangkan kemitraan dengan negara-negara barat di fora hak asasi manusia (HAM) internasional. Di samping itu, sebagai negara anggota Organisasi Konferensi Islam (OKI), Indonesia akan terus aktif memperjuangkan penghormatan prinsip dan nilai Islam yang terkait dengan pembahasan HAM bersama negara-negara OKI lainnya.

8 - 34

Beberapa tahun terakhir ini, Indonesia telah memainkan peran yang cukup penting dalam pembahasan isu krisis pangan tingkat global dan regional. Indonesia telah mendorong isu ketahanan pangan dan pembangunan pertanian sebagai isu sentral di PBB dengan menjadi inisiator dan fasilitator resolusi mengenai Agriculture Development and Food Security pada Sidang Majelis Umum (SMU) PBB ke-63 tahun 2008 dan ke-64 tahun 2009.

Menyusul sukses dalam menyelenggarakan Konferensi Negara Pihak pada United Nations Convention on Climate Change (UNFCCC) di Bali yang menghasilkan sejumlah terobosan dalam penanggulangan perubahan iklim, Indonesia kembali memperoleh apresiasi dari banyak negara dengan telah ditandatanganinya Letter of Intent antara Indonesia dan Norwegia di bidang Reducing Emissions from Deforestration and Degraration (REDD) + Partnership. Dalam hal ini, Indonesia dipandang sebagai model negara berkembang yang progresif dalam memberikan kontribusi bagi upaya global memerangi perubahan iklim, dan layak untuk menjadi contoh bagi negara-negara berkembang lain.

Hubungan bilateral Indonesia dengan negara-negara sahabat di berbagai kawasan telah mengalami peningkatan yang sangat signifikan dengan dibentuknya skema Kemitraan Strategis dan Komprehensif antara Indonesia dan negara-negara sahabat. Skema kemitraan tersebut menjadi payung kerjasama bilateral yang saling menguntungkan di berbagai bidang dalam upaya mencapai kemakmuran. Sejauh ini Indonesia telah memiliki perjanjian kemitraan dengan sejumlah negara di kawasan Asia Pasifik seperti Korea Selatan, China, Jepang, Amerika Serikat, Brazil, Afrika Selatan, dan lain-lain. Dalam kerangka ASEAN juga diadakan bentuk-bentuk kemitraan dengan Uni Eropa, Jepang, Korea Selatan dan China.

Peningkatan hubungan bilateral dengan negara-negara sahabat tersebut juga ditunjukkan dengan tingginya intensitas kunjungan resmi ataupun kenegaraan pada kurun waktu 2009 – 2010. Pada periode tersebut, Presiden RI telah menerima tujuh belas kali kunjungan resmi ataupun kenegaraan dari negara-negara sahabat, dan Presiden RI telah melakukan enam belas kali kunjungan resmi ataupun kenegaraan ke berbagai belahan dunia.

Kunjungan-8 - 35 kunjungan ini tidak hanya menunjukkan tingginya intensitas hubungan bilateral dengan negara-negara sahabat, tetapi juga digunakan untuk meningkatkan kerjasama bilateral di berbagai isu guna memperkuat diplomasi Indonesia, meningkatkan postur serta citra Indonesia, meningkatkan kesejahteraan rakyat kedua negara serta mencari alternatif-alternatif pemecahan baru untuk mengatasi masalah-masalah internasional yang menjadi keprihatinan bersama.

Terkait dengan kiprah diplomasi ekonomi, Indonesia terpilih sebagai satu-satunya negara kawasan Asia Tenggara yang menjadi anggota G-20. Dalam forum tersebut, Indonesia memberikan kontribusi yang penting dengan menyuarakan pandangan dan kepentingan negara-negara bekembang, antara lain, menekankan pentingnya menjamin likuiditas keuangan global, kepercayaan terhadap perbankan, dan upaya menjamin aliran kredit perbankan. Tantangan pengelolaan diplomasi ekonomi akan semakin meningkat sejalan dengan terjadinya krisis ekonomi global yang diakibatkan oleh krisis kredit perumahan (subprime mortgage crisis) di AS. Dampak krisis ekonomi telah menimbulkan merosotnya ekonomi di banyak negara termasuk negara maju. Namun, sejauh ini Indonesia tetap mampu menjaga momentum pertumbuhan ekonomi yang positif.

Keanggotaan Indonesia dalam G-20 bukan saja merupakan pengakuan terhadap keberhasilan pembangunan ekonomi Indonesia, melainkan juga pengakuan terhadap kemampuan dan kepemimpinan (leadership) Indonesia dalam penanganan berbagai permasalahan global. Keberadaan Indonesia dalam G-20 memberi kesempatan kepada Indonesia untuk memainkan peran dan memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap upaya masyarakat internasional mencari solusi berbagai persoalan yang dihadapi baik di bidang ekonomi, keuangan, perdagangan, lingkungan hidup, dan masalah-masalah sosial lainnya.

Terkait dengan partisipasi Indonesia dalam forum organisasi standar di tingkat internasional, Indonesia mendapat kepercayaan menjadi anggota ISO Council untuk periode 2009-2010, serta menjadi Ketua Developing Country Chair Advisory Group (DEVCO) periode 2010. Posisi sebagai anggota ISO Council memberi kesempatan bagi Indonesia untuk ikut menentukan

8 - 36

kebijakan ISO, sedangkan posisi sebagai Ketua DEVCO memberi kesempatan bagi Indonesia untuk merencanakan ISO Action Plan for Developing Countries yang akan memberi banyak peluang bagi negara berkembang untuk mengambil peranan yang berarti pada proses pengembangan standar internasional yang selama ini banyak didominasi oleh negara maju.

Kerjasama Selatan-Selatan (KSS) adalah suatu bentuk alternatif kerja sama pembangunan untuk konteks negara berpenghasilan menengah (middle income country) pada level yang lebih rendah seperti halnya kondisi Indonesia. Komitmen Indonesia untuk berperan dalam Kerja sama Selatan-Selatan juga ditunjukkan dengan masuknya topik Kerja sama Selatan-Selatan dalam Jakarta Commitment Aid for Development Effectivenes yang ditandatangani oleh Pemerintah Indonesia dan segenap partner pembangunan pada awal tahun 2009. Posisi Indonesia relatif strategis untuk melakukan kerja sama tripartit dengan negara maju sebagai donor, negara berkembang sebagai penerima bantuan, dan Indonesia sebagai katalisator kerja sama tersebut baik dalam memberikan dukungan teknik maupun finansial.

Dalam rangka memperkuat KSS Pemerintah sedang melakukan peninjauan dasar hukum dan kajian peraturan

Dalam dokumen Tahun 2010 merupakan tahun pertama pemer (Halaman 25-36)

Dokumen terkait