Pilihlah salah satu ensiklik Ajaran Sosial Gereja dan buatlah refleksi berdasarkan ensiklik yang kamu pilih itu!
2. Aksi
Buatlah rencana aksi untuk melaksanakan Ajaran Sosial Gereja dalam hidupmu sehari-hari. Misalnya, berlaku adil pada teman-temannya atau saudara dan saudarinya di rumah, atau menjaga kebersihan lingkungan alam sekitar, membuang sampah pada tempatnya (semangat Laudato Si)
Doa Penutup
Dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus. Amin.
Bapa, Pencipta umat manusia, kami dapat mengucapkan syukur kepada-Mu, karena melalui berkat yang senantiasa berlimpah dalam kehidupan kami.
Bapa, berkatilah kami agar senantiasa terbuka, memahami, dan menghayati serta ikut memerjuangkan cinta kasih, keadilan, kedamaian,
dan kesejahteraan bagi sesama dan juga dalam kehidupan kami.
Kemuliaan kepada Bapa dan Putra dan Roh Kudus...
Dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus. Amin.
Rangkuman
- Ajaran Sosial Gereja (ASG) adalah ajaran mengenai hak dan kewajiban berbagai anggota masyarakat dalam hubungannya dengan kebaikan bersama, baik dalam lingkup nasional maupun internasional. Ajaran sosial Gereja merupakan tanggapan Gereja terhadap fenomena atau persoalan-persoalan yang dihadapi oleh umat manusia dalam bentuk himbauan, kritik atau dukungan. Dengan kata lain, ajaran sosial Gereja merupakan bentuk keprihatinan Gereja terhadap dunia dan umat manusia dalam wujud dokumen yang perlu disosialisasikan.
Karena masalah-masalah yang dihadapi oleh manusia beragama bervariasi, dan ini dipengaruhi oleh semangat dan kebutuhan zaman, maka tanggapan Gereja juga bervariasi sesuai dengan isu sosial yang muncul.
- Tujuan ASG adalah menghadirkan kepada manusia rencana Allah bagi realitas duniawi dan menerangi serta membimbing manusia dalam membangun dunia seturut rencana Tuhan. ASG dimaksudkan untuk menjadi pedoman, dorongan dan bekal bagi banyak orang Katolik dalam perjuangannya ikut serta menciptakan dunia kerja dan beragam relasi manusia yang terhormat dan masyarakat sejahtera yang bersahabat dan bermartabat. Dengan bekal dan pedoman ajaran sosial, mereka diharapkan menjadi rasul awam yang tangguh dan terus berkembang di tengah kehidupan nyata.
C. HAM dalam Terang Ajaran Kitab Suci dan Ajaran Gereja
Tujuan Pembelajaran
Peserta didik mampu memahami, HAM dalam terang Kitab Suci dan Ajaran Gereja dan dapat mewujudkannya dalam hidup sehari-hari di tengah masyarakat.
Pengantar
Ajaran Sosial Gereja menegaskan: “karena semua manusia mempunyai jiwa berbudi dan diciptakan menurut citra Allah, karena mempunyai kodrat dan asal yang sama, serta karena penebusan Kristus, mempunyai panggilan dan tujuan ilahi yang sama, maka kesamaan asasi antara manusia harus senantiasa diakui” (GS 29). Dari ajaran tersebut tampak jelas pandangan Gereja tentang hak asasi, yakni hak yang melekat pada diri manusia sebagai insan ciptaan Allah. Hak ini tidak diberikan kepada seseorang karena kedudukan, pangkat atau situasi. Hak ini dimiliki setiap orang sejak lahir, karena dia seorang manusia. Hak ini bersifat asasi bagi manusia, karena kalau hak ini diambil, ia tidak dapat hidup sebagai manusia lagi. Oleh karena itu, hak asasi manusia merupakan tolok ukur dan pedoman yang tidak dapat diganggu gugat dan harus ditempatkan di atas segala aturan hukum. Gereja mendesak diatasinya dan dihapuskannya “setiap bentuk diskriminasi, entah yang bersifat sosial atau kebudayaan, entah yang didasarkan pada jenis kelamin, warna kulit, suku, keadaan sosial, bahasa ataupun agama, karena berlawanan dengan maksud dan kehendak Allah” (GS 29).
Pada kesempatan ini, kalian akan belajar tentang hak asasi manusia dalam terang ajaran Kitab Suci, Injil dan ajaran Gereja Katolik, dengan demikian diharapkan kalian dapat menghayatinya dan mewujudkannya dalam hidupmu sehari-hari.
Doa Pembuka
Marilah mengawali kegiatan belajar dengan berdoa!
Dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus. Amin.
Bapa yang penuh kasih, Engkau menciptakan umat manusia sebagai insan yang mulia, yang secitra atau segambar dengan diri-Mu sendiri. Bapa di surga, dalam dunia ini sering terjadi penyelewengan dan perlakuan yang tidak manusiawi terhadap ciptaan-Mu, martabatnya dihina, dicaci-maki demi keegoisan semata. Dalam pembelajaran ini, melalui ajaran sosial Gereja-Mu, buatlah kami menjadi Gereja yang hidup dan Gereja yang berkurban bagi sesama kami. Doa ini kami satukan dengan doa yang diajarkan oleh Yesus sendiri kepada kami, Bapa kami yang ada di surga....” Amin.
Dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus. Amin.
Langkah Pertama: Menggali Pengalaman Hidup
1. Bacalah cerita berikut ini!Romo Mangunwijaya, Pr Romo Mangun terlahir dengan nama lengkap Yusuf Bilyarta Mangunwijaya pada 6 Mei 1929 di Semarang. Ia pernah mengalami masa revolusi fisik melawan Belanda untuk membebaskan negeri ini dari belenggu penjajahan yang menyengsarakan rakyat. Beliau pernah bergabung ke dalam prajurit Tentara Keamanan Rakyat (TKR) batalyon X divisi III yang bertugas di Benteng Vrederburg, Yogyakarta. Ia sempat ikut dalam pertempuran di Ambarawa, Magelang, Mr. Anggen. Rangkaian peristiwa hidup tersebut membuat Romo Mangun
Gambar 5.17. Rm. Mangunwijaya, Pr Sumber: Dok. Komkat KWI
mengenal arti humanisme.
Ia menyaksikan sendiri rakyat Indonesia menderita, kelaparan, terancam jiwanya, dan bahkan mati sia-sia akibat aksi militer Belanda yang mencaplok wilayah Republik.
Berangkat dari pengalaman hidup inilah, Romo Mangun bertekad untuk sepenuhnya mengabdikan diri pada rakyat. Putu Wijaya, seorang dramawan dan novelis pernah bertutur, “Romo Mangun adalah seorang yang sangat dekat dengan rakyat. Dia selalu berpihak kepada mereka yang tertindas. Contohnya,
kepeduliannya pada warga Kali Code dan Kedung Ombo. Perhatiannya selalu kepada rakyat sederhana, miskin, disingkirkan, dan tertindas.”
Karya arsitekturalnya di Kali Code menjadi salah satu “monumen” Romo Mangun. Ia membangun kawasan pemukiman warga pinggiran itu tidak sebatas pembangunan fisik, tapi sampai pada fase memanusiakan manusia. Romo Mangun, yang dikenal juga sebagai bapak dari masyarakat “Girli” (pinggir kali) mengenai
“monumen”-nya tersebut. Penataan lingkungan di Kali Code itu pun membuahkan The Aga Khan Award for Architecture pada tahun 1992. Tiga tahun kemudian, karya yang sama ini membuahkan penghargaan dari Stockholm, Swedia, The Ruth and Ralph Erskine Fellowship Award untuk kategori arsitektur demi rakyat yang tak diperhatikan.
Pada tahun 1986, ia mendampingi warga Kedung Ombo yang kala itu memerjuangkan lahannya dari pembangunan waduk. Pembelaannya kepada nasib penduduk Kedung Ombo menyebabkan presiden, yang saat itu masih dijabat oleh Soeharto, menuduhnya sebagai komunis yang mengaku sebagai rohaniawan.
Berbagai teror dan intimidasi menghampirinya pula. “Kalau saya dituduh melakukan kristenisasi kepada para santri, silakan tanyakan langsung kepada warga Kedung Ombo. Kalau saya dikatakan sebagai warga negara yang tidak taat kepada pemerintah, saya jawab, ketaatan itu harus pada hal yang baik. Orang tidak diandaikan untuk menaati perintah yang buruk. Apa yang saya kerjakan sesuai dengan Mukadimah UUD 1945 dan Pancasila,” komentarnya tenang.
Upaya yang tidak sia-sia mengingat pada tanggal 5 Juli 1994, akhirnya Mahkamah Agung RI mengabulkan tuntutan kasasi 34 warga Kedung Ombo tersebut. Malahan warga memeroleh ganti rugi yang nilainya lebih besar daripada tuntutan semula.
Sumber:blog.djarumbeasiswaplus.org (2014) dengan berapa tambahan keterangan dari berbagai sumber.
2. Pendalaman
Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut ini!
1) Siapakah Romo Mangunwijaya itu?
2) Apa saja yang telah diperjuangkannya dalam hidupnya sebagai pengikut Yesus?
3) Sebutkan tokoh-tokoh Katolik lain yang kamu kenal dan dimana mereka ber-juang untuk nasib hidup orang lain yang tertindas!
3. Penjelasan
- Romo Mangunwijaya, merupakan salah satu pejuang HAM di Indonesia.
Sebagai pengikut Yesus, ia berkomitmen untuk membela orang-orang kecil, orang miskin, serta orang-orang yang tertindas sampai akhir hayat hidupnya.
- Pandangan Gereja tentang hak asasi, yakni hak yang melekat pada diri manusia sebagai insan ciptaan Allah. “Hak ini tidak diberikan kepada seseorang karena kedudukan, pangkat atau situasi; hak ini dimiliki setiap orang sejak lahir, karena dia seorang manusia. Hak ini bersifat asasi bagi manusia, karena jika hak ini diambil, ia tidak dapat hidup sebagai manusia lagi. Oleh karena itu, hak asasi manusia merupakan tolok ukur dan pedoman yang tidak dapat diganggu gugat dan harus ditempatkan di atas segala aturan hukum.