BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Landasan Teori
2.1.5. Model Transportasi
2.1.5.2 Langkah-langkah Model Transportasi
Menurut Siswanto dalam Sarjono (2010), model transportasi pada saat dikenali pertama kali, diselesaikan secara manual dengan menggunakan algoritma yang dikenal sebagai algoritma transportasi.
1. Diagnosis masalah dimulai dengan pengenalan sumber, tujuan, parameter, dan variabel.
2. Seluruh informasi tersebut kemudian dituangkan ke dalam matriks transportasi. Dengan syarat :
a. Bila kapasitas seluruh sumber lebih besar dari permintaan seluruh tujuan maka sebuah kolom (dummy) perlu ditambahkan untuk menampung kelebihan kapasitas itu.
b. Bila kapasitas seluruh sumber lebih kecil dari seluruh permintaan tujuan maka sebuah baris perlu ditambahkan untuk menyediakan kapasitas semu yang akan memenuhi kelebihan permintaan itu. Jelas sekali bahwa kelebihan permintaan itu tidak bisa dipenuhi.
3. Setelah matriks transportasi terbentuk kemudian dimulai menyusun tabel awal. Alogaritma transportasi mengenal tiga macam metode untuk menyusun tabel awal, yaitu :
a. Metode Biaya Terkecil atau Least Cost Method
b. Metode Sudut Barat Laut atau North West Corner Rule Method c. VAM atau Vogel’s Approximation Method
Ketiga metode di atas masing-masing berfungsi untuk menentukan alokasi distribusi awal yang akan membuat seluruh kapasitas sumber teralokasi ke seluruh tujuan.
4. Setelah penyusunan tabel awal selesai maka sebagai langkah selanjutnya adalah pengujian optimalitas tabel untuk mengetahui apakah biaya distribusi total telah minimum. Secara matematis, pengujian ini dilakukan untuk menjamin bahwa nilai fungsi tujuan minimum telah tercapai. Ada dua macam pengujian optimalitas alogaritma transportasi :
a. Stepping Stone Method
b. MODI atau Modified Distribution
5. Langkah yang terakhir adalah revisi tabel bila dalam langkah keempat terbukti bahwa tabel belum optimal atau biaya distribusi total masih mungkin diturunkan lagi. Dengan demikian, jelas sekali bahwa langkah kelima ini tidak akan dilakukan apabila pada langkah keempat telah membuktikan bahwa tabel telah optimal.
Dalam penyelesaian persoalan transportasi, harus dilakukan langkah- langkah sebagai berikut :
a. Tentukan solusi feasible awal.
b. Tentukan entering variable dari variable-variabel non basis. Bila semua variable sudah memenuhi kondisi optimum, STOP. Bila belum, lanjutkan langkah c.
c. Tentukan leaving variable di antara variable-variebel basis yang ada, kemudian hitung solusi baru. Kembali ke langkah b.
2.1.5.3 Langkah-langkah Menentukan Solusi Feasible Awal
Ada beberapa metode yang digunakan untuk menentukan solusi feasibel awal yaitu :
1. Metode North West Corner Method
Metode North West Corner Method diperkenalkan oleh Charnes dan Cooper, kemudian dikembangkan oleh Danzig. Caranya sebagai berikut :
a. Pengisian dimulai dari sel kosong yang terletak pada sudut kiri atas.
b. Alokasikan ke dalam sel tersebut sebanyak mungkin dengan memerhatikan keseimbangan antara demand dan supply.
c. Kolom yang sudah terpenuhi dapat diberi tanda dan selanjutnya diabaikan.
d. Pengisian selanjutnya adalah pada sel kosong terdekat berikutnya dengan memerhatikan keseimbangan antara demand dan supply.
e. Ulangi langkah a – d.
2. Metode Ongkos Terkecil (Least Cost Method)
Langkah-langkah pengerjaannya adalah sebagai berikut :
a. Identifikasi sel dalam tabel transportasi dengan biaya terendah, dan alokasikan sebanyak mungkin arus sel lain. Bila ada pertalian, pilih sel yang berhubungan dengan busur dimana paling banyak unit yang dikirim. Bila masih terdapat pertalian, pilih salah satu dari sel yang bertalian.
b. Kurangi baris penawaran dan kolom permintaan sebesar jumlah arus yang dilokasikan ke sel yang diidentifikasikan dalam langkah a.
c. Bila semua baris penawaran dan kolom permintaan telah habis, STOP. Bila tidak, dilanjutkan dengan d.
d. Bila baris penawaran sekarang nol, hapus garis itu dari pertimbangan lebih lanjut dengan menggambar satu garis melaluinya. Jika kolom permintaan nol, hapus kolom itu dan menggambar garis yang melaluinya.
e. Teruskan dengan langkah a untuk semua baris dan kolom yang tidak bergaris.
3. Metode Vogel atau Vogel’s Approximation Method (VAM)
Metode Vogel merupakan metode yang lebih mudah dan lebih cepat untuk mengatur alokasi dari beberapa sumber ke beberapa daerah yang membutuhkan.
Langkah-langkah untuk mengerjakannya adalah sebagai berikut :
a. Susunlah kebutuhan, kapasitas masing-masing sumber dan biaya pengangkutan ke dalam matriks.
b. Carilah perbedaan dari dua biaya terkecil (dari nilai absolute), yaitu biaya terkecil kedua untuk setiap baris dan kolom.
c. Pilih nilai yang terbesar diantara semua nilai perbedaan pada kolom dan baris.
d. Isilah pada satu segi empat yang termasuk dalam kolom atau baris terpilih, yaitu pada segi empat yang biayanya terendah di antara segi empat yang lain pada kolom atau baris itu. Isinya sebanyak mungkin yang bisa dilakukan.
e. Hilangkan baris atau kolom tersebut karena baris atau kolom tersebut sudah diisi sepenuhnya sehingga tidak mungkin diisi lagi.
f. Tentukan kembali perbedan (selisih) biaya pada langkah b untuk kolom dan baris yang belum terisi. Ulangi langkah c sampai dengan langkah e, sampai semua kolom dan baris teralokasi.
g. Setelah terisi semua, hitung biaya transportasi secara keseluruhan.
2.1.5.4 Penyelesaian Optimasi
Menurut Haningsih (2013), metode yang digunakan untuk uji optimalisasi adalah:
1. Metode Batu Loncatan (Stepping Stone)
Untuk menentukan entering variable dan leaving variable terlebih dahulu dibuat suatu loop tertutup bagi setiap variable non basis. Loop tersebut berawal dan berakhir pada variable non basis, di mana setiap sudut loop haruslah merupakan titik-titik yang ditempati oleh variable-variabel basis dalam tabel transportasi. Loop digunakan untuk memeriksa kemungkinan diperolehnya penurunan ongkos jika variable non basis dimasukkan menjadi basis. Cara yang dilakukan adalah dengan memeriksa semua variabel non basis yang terdapat dalam suatu interaksi, sehingga dapat ditentukan entering variable. Adapun langkah-langkah penyelesaiannya sebagai berikut:
a. Mencari sel yang kosong.
b. Melakukan loncatan pada sel yang terisi.
Keterangan:
1) Loncatan dapat dilakukan secara vertikal/horizontal.
2) Dalam suatu loncatan tidak boleh dilakukan lebih dari satu kali loncatan pada baris/kolom yang sama tersebut.
3) Loncatan dapat dilakukan melewati sel lain selama sel tersebut terisi.
4) Setelah loncatan pada baris langkah selanjutnya loncatan pada kolom atau sebaliknya.
5) Jumlah loncatan bersifat genap (dapat berjumlah sel 4,6,8, dst).
6) Perhatikan sel yang terisi pada loncatan berikutnya untuk memastikan proses tidak terhambat.
c. Lakukan perhitungan biaya pada sel yang kosong tersebut, dimulai dari sel yang kosong.
d. Perhitungan dilakukan dengan cara menghitung biaya, sel yang kosong diberi tanda positif selanjutnya negatif, positif, negatif.
e. Apabila semua sudah bernilai positif berarti solusi awal yang telah dikerjakan sebelumnya telah menghasilkan biaya transportasi minimum, tetapi apabila masih terdapat nilai negatif, maka dicari nilai negatif terbesar (penghematan biaya terbesar).
f. Apabila terdapat tanda negatif, alokasikan produk dengan melihat proses, akan tetapi yang dilihat adalah isi dari sel tersebut. Tambahkan dan kurangkan dengan isi sel negatif terkecil pada seluruh sel.
g. Lakukan langkah yang sama dengan mengulang dari langkah b sampai hasil perhitungan biaya tidak ada yang bernilai negatif.
2. Metode MODI (Modified Distribution)
Metode MODI sama dengan algoritma batu loncatan (Stepping Stone) dengan teknik yang sudah diperhalus untuk menghitung indeks
yang akan ditingkatkan. Perbedaan antara kedua cara ini terletak pada langkah-langkah yang digunakan untuk menyelesaikan persoalan yang mana terdapat jejak tertutup yang akan ditelusuri. Metode MODI menghitung indeks yang akan ditingkatkan ialah tanpa menggambarkan semua jejak tertutup. Cara MODI cukup menelusuri satu saja jejak tertutup. Sama seperti pada batu loncatan, dalam cara MODI dengan aturan pojok barat laut. Sesudah itu baru diteruskan dengan cara MODI dengan melakukan langkah-langkah penyelesaian secara berurutan.
Adapun langkah- langkahya sebagai berikut :
a. Mengetes kemerosotan, alat tes ialah dengan menguji apakah (m + n – 1) sama dengan jumlah sel yang terisi di mana “m” adalah jumlah sumber dan “n” adalah jumlah tujuan . Apabila jumlah sel yang terisi sama maka bukan persoalan merosot, tapi bila jumlah sel yang terisi tidak sama (lebih kecil), maka persoalan merosot yaitu terjadi degenerasi, untuk mengatasinya dapat ditambahkan muatan semu sebesar 0 (nol) ke dalam sel kosong yang memiliki biaya transportasi terkecil.
b. Menghitung harga indeks A dan T.
Langkah kedua adalah menghitung bilangan indeks, baik indeks baris (Ai) maupun indeks kolom (Tj). Ini dilaksanakan dengan menitik beratkan pada sel yang sudah terisi, dimana berlaku rumus :
Ai + Tj = Cij Dimana:
Ai = Indeks baris Tj = Indeks kolom
Cij = Harga dari tiap sel (i, j) yang terisi
c. Menghitung indeks yang ditingkatkan atau sel yang tidak terisi.
Langkah ini dilakukan begitu harga baris dan kolom sudah dihitungmenggunakan sel yang sudah terisi. Langkah ini dapat dilakukan dengan menggunakan rumus :
Iij = Cij – Ai – Tj Dimana :
Iij = Indeks yang akan ditingkatkan untuk tiap sel yang belum terisi Cij = Biaya pada baris ke i dan kolom ke j yang belum terisi
Ai = Baris ke i Tj = Kolom ke j d. Solusi Optimal
Solusi optimal tercapai apabila hasil perhitungan indeks seluruhnya sudah positif.
2.1.6 Program Linear
Menurut Heizer (2007), “Pemrograman Linier adalah sebuah teknik matematik yang mendesain untuk membantu para manajer operasi dalam merencanakan dan membuat keputusan yang diperlukan untuk mengalokasikan sumber daya.”
Menurut Mulyono (1999), “Program Linier merupakan metode matematik dalam mengalokasikan sumber daya yang langka untuk mencapai suatu tujuan seperti memaksimumkan keuntungan atau meminimumkan biaya.” LP banyak diterapkan dalam membantu menyelesaikan masalah ekonomi, industri, militer, sosial, dll.
Menurut Yuwono (2007), “Program linier (LP) adalah salah satu metode matematika yang digunakan untuk menyelesaikan masalah optimisasi, yaitu memaksimumkan atau meminimumkan fungsi tujuan yang bergantung pada sejumlah variabel input.” Hal terpenting yang perlu kita lakukan adalah mencari tahu tujuan penyelesaian masalah dan apa penyebab masalah tersebut.
Sebutan “Linier” dalam Linier Programming berarti hubungan-hubungan antara faktor-faktor adalah bersifat linier atau konstan, atau fungsi- fungsi matematik yang disajikan dalam model haruslah fungsi-fungsi linier. Hubungan-hubungan linier berarti bila satu faktor berubah maka suatu faktor lain berubah dengan jumlah yang konstan secara proporsional.
Selain itu, menurut Asyari dalam Sarjono (2010), “Linier Programming merupakan salah satu model yang dapat dipergunakan untuk mengadakan optimisasi kombinasi produksi.”
Kemudian menurut Levin dalam Sarjono (2010), “Program Linier merupakan teknik matematik untuk mendapatkan alternatif penggunaan terbaik atas sumber-sumber organisasi.”
Sebenarnya bukan hanya masalah kombinasi produksi saja yang dapat diselesaikan dengan mempergunakan model programasi pangkat satu ini, melainkan segala jenis optimisasi pemanfaatan sumber daya, optimisasi masukan (input) serta optimisasi keluaran (output) dan lain sebagainya.
Metode Linier Programming antara lain, yaitu : a. Metode Grafik untuk pemecahan program linier
Masalah LP dapat diilustrasikan dan dipecahkan dengan grafik jika ia hanya memiliki dua variabel keputusan. Meski masalah-masalah dengan dua variabel keputusan jarang terjadi dalam dunia nyata, penafsiran geometris dari metode grafis ini sangat bermanfaat. Dari sini, kita dapat menarik kesimpulan yang akan menjadi dasar untuk pambentukan metode pemecahan (solusi) yang umum melalui alogaritma simpleks.
b. Metode Simplex
Apabila suatu masalah LP hanya mengandung 2 (dua) kegiatan (atau variabel-variabel keputusan) saja, maka akan dapat diselesaikan dengan metode grafik. Tetapi bila melibatkan lebih dari dua kegiatan maka metode grafik tidak dapat digunakan lagi, sehingga diperlukan metode
simplex. Metode simplex merupakan suatu cara yang lazim dipakai untuk menentukan kombinasi optimal dari tiga variabel atau lebih.
c. Metode Transportasi
Metode transportasi merupakan suatu metode yang digunakan untuk mengatur distribusi dari sumber-sumber yang menyediakan produk yang sama, ke tempat-tempat yang membutuhkan secara optimal. Alokasi produk ini harus diatur sedemikian rupa, karena terdapat perbedaan biaya-biaya alokasi dari satu sumber ke tempat-tempat tujuan berbeda-beda, dan dari beberapa sumber ke suatu tempat tujuan juga berbeda-beda. Di samping itu, metode transportasi juga dapat digunakan untuk memecahkan masalah-masalah dunia usaha (bisnis) lainnya, seperti masalah-masalah yang meliputi pengiklanan, pembelanjaan modal (capital financing) dari alokasi dana untuk investasi, analisis lokasi, keseimbangan lini perakitan dan perencanaan serta scheduling produksi. Ada beberapa macam metode transportasi, yang semuanya terarah pada penyelesaian optimal dari masalah-masalah transportasi yang terjadi.
d. Metode Penugasan
Seperti masalah transportasi, masalah penugasan (assignment problem) merupakan suatu kasus khusus dari masalah linier programming pada umumnya.
Dalam dunia usaha (bisnis) dan industri, manajemen sering menghadapi masalah-masalah yang berhubungan dengan penugasan optimal dari bermacam-macam sumber yang produktif atau personalia yang mempunyai tingkat efisiensi yang berbeda-beda untuk tugas yang berbeda-beda pula.
2.2Kerangka Konseptual
Gambar 2.1 Bagan Kerangka Konseptual
Adapun kerangka konseptual di atas terdiri dari hal-hal sebagai berikut : 1. Input, merupakan dasar permasalahan yang di butuhkan untuk dilakukan
tindak lanjutnya. Pada proposal penelitian ini peneliti menemukan beberapa hal yang menjadi landasan penelitian ini yakni :
a. Biaya Transportasi
b. Sumber dan tujuan transportasi c. Jumlah unit yang dikirim
2. Proses, merupakan langkah yang akan dilakukan sehingga menghasilkan output dari penelitian ini. Adapun proses langkah-langkah yang dilakukan tersebut adalah dengan menggunakan metode model transportasi yaitu sebagai berikut :
b. LC c. VAM 2. Solusi akhir
a. Stepping stone b. MODI
3. Output, yakni hasil dari proses yang telah dilakukan. Output yang diharapkan dalam penelitian ini adalah Penerapan model transportasi yang cocok untuk meminimalkan biaya distribusi.
37 3.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang di lakukan penulis adalah penelitian deskriptif kuantitatif yaitu pengolahan data yang berupa angka pada suatu perusahaan atau industri yang nantinya data akan dikumpulkan dan diolah sehingga memberikan informasi yang berguna dengan menggunakan perumusan matematika. Tujuan dari penelitian deskriptif ini adalah untuk membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, factual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang diselidiki. (Moh.Nazir,2005).
3.2 Tempat dan Waktu Penelitian
Dalam pelaksanaan penelitian ini, pengambilan data dilakukan di CV DH Permata Sentosa. Penelitian dilaksanakan pada bulan Desember 2017.
3.3 Variabel Penelitian
Variabel-variabel yang diteliti adalah : 1. Data biaya transportasi.
2. Daerah tujuan.
3. Jumlah unit transportasi yang dikirim.
4. Jumlah permintaan.
3.4 Data dan Sumber Data 3.4.1 Data
Data kuantitatif yaitu data yang diperoleh dari perusahaan dalam bentuk angka-angka mengenai jumlah barang-barang yang akan didistribusikan ke daerah tujuan. Data-data tersebut adalah :
1. Data sekunder dari perusahaan.
2. Data primer yaitu data langsung dari lapangan.
3.4.2 Sumber Data
Sumber data yang digunakan dalam penelitian merupakan data primer.
Data primer yaitu data yang diperoleh langsung dari objek penelitian dengan mengadakan pengamatan langsung atau wawancara.
3.5 Teknik Pengolahan dan Analisis Data 3.5.1 Solusi Awal
3.5.1.1 Metode NWCR (North West Corner Method)
Metode North West Corner Method diperkenalkan oleh Charnes dan Cooper, kemudian dikembangkan oleh Danzig. Caranya sebagai berikut :
f. Pengisian dimulai dari sel kosong yang terletak pada sudut kiri atas.
g. Alokasikan ke dalam sel tersebut sebanyak mungkin dengan memerhatikan keseimbangan antara demand dan supply.
h. Kolom yang sudah terpenuhi dapat diberi tanda dan selanjutnya diabaikan.
i. Pengisian selanjutnya adalah pada sel kosong terdekat berikutnya dengan memerhatikan keseimbangan antara demand dan supply.
j. Ulangi langkah a – d.
3.5.1.2 Metode LC ( Least Cost Method)
Langkah-langkah pengerjaannya adalah sebagai berikut :
f. Identifikasi sel dalam tabel transportasi dengan biaya terendah, dan alokasikan sebanyak mungkin arus sel lain. Bila ada pertalian, pilih sel yang berhubungan dengan busur dimana paling banyak unit yang dikirim.
Bila masih terdapat pertalian, pilih salah satu dari sel yang bertalian.
g. Kurangi baris penawaran dan kolom permintaan sebesar jumlah arus yang dilokasikan ke sel yang diidentifikasikan dalam langkah a.
h. Bila semua baris penawaran dan kolom permintaan telah habis, STOP.
Bila tidak, dilanjutkan dengan d.
i. Bila baris penawaran sekarang nol, hapus garis itu dari pertimbangan lebih lanjut dengan menggambar satu garis melaluinya. Jika kolom permintaan nol, hapus kolom itu dan menggambar garis yang melaluinya.
j. Teruskan dengan langkah a untuk semua baris dan kolom yang tidak bergaris.
3.5.1.3 Metode VAM
Menurut Yuwono (2007), solusi awal menggunakan metode pendekatan VAM ditentukan dengan mengikuti langkah berikut :
1. Cari perbedaan dua biaya terkecil, yaitu terkecil pertama dan kedua (kolom dan baris).
2. Pilih perbedaan terbesar antara baris dan kolom.
3. Pilih biaya terendah.
4. Isi sebanyak mungkin yang bisa dilakukan.
5. Hilangkan baris/kolom yang terisi penuh.
6. Ulangi langkah a – e ampai semua baris dan kolom teralokasikan.
Sedangkan menurut (Siswanto dalam Sarjono, 2010), Langkah- langkah metode VAM dapat diringkas sebagai berikut :
1. Buatlah matrik yang menunjukkan kebutuhan masing-masing sumber dan biaya transportsi per unit.
2. Carilah selisih antara dua biaya terkecil di masing-masing kolom baris.
3. Pilih selisih terbesar di antara selisih-selisih yang telah dihitung pada langkah pertama.
4. Sesuaikan penawaran dan permintaan untuk menunjukkan alokasi yang sudah dilakukan. Hilangkan semua baris dan kolom di mana penawaran dan permintaan telah dihabis.
5. Jika semua penawaran dan permintaan belum terpenuhi, kembali ke langkah a, jika semua penawaran dan permintaan solusi awal terperoleh.
3.5.2 Solusi Akhir
3.5.2.1 Metode Stepping Stone
Adapun langkah-langkah penyelesaiannya sebagai berikut:
h. Mencari sel yang kosong.
i. Melakukan loncatan pada sel yang terisi.
Keterangan:
7) Loncatan dapat dilakukan secara vertikal/horizontal.
8) Dalam suatu loncatan tidak boleh dilakukan lebih dari satu kali loncatan pada baris/kolom yang sama tersebut.
9) Loncatan dapat dilakukan melewati sel lain selama sel tersebut terisi.
10) Setelah loncatan pada baris langkah selanjutnya loncatan pada kolom atau sebaliknya.
11) Jumlah loncatan bersifat genap (dapat berjumlah sel 4,6,8, dst).
12) Perhatikan sel yang terisi pada loncatan berikutnya untuk memastikan proses tidak terhambat.
j. Lakukan perhitungan biaya pada sel yang kosong tersebut, dimulai dari sel yang kosong.
k. Perhitungan dilakukan dengan cara menghitung biaya, sel yang kosong diberi tanda positif selanjutnya negatif, positif, negatif.
l. Apabila semua sudah bernilai positif berarti solusi awal yang telah dikerjakan sebelumnya telah menghasilkan biaya transportasi minimum, tetapi apabila masih terdapat nilai negatif, maka dicari nilai negatif terbesar (penghematan biaya terbesar).
m. Apabila terdapat tanda negatif, alokasikan produk dengan melihat proses, akan tetapi yang dilihat adalah isi dari sel tersebut. Tambahkan dan kurangkan dengan isi sel negatif terkecil pada seluruh sel.
n. Lakukan langkah yang sama dengan mengulang dari langkah b sampai hasil perhitungan biaya tidak ada yang bernilai negatif.
3.5.2.2 Metode MODI
Menurut Mulyono (1999), metode MODI dapat diringkas dalam langkah-langkah berikut :
1. Tentukan nilai-nilai Ui untuk setiap baris dan nilai-nilai Vj untuk setiap kolom dengan menggunakan hubungan Cij - Ui - Vj untuk semua variabel basis dan tetapkan nilai nol untuk Ui.
2. Hitung perubahan biaya Cij untuk setiap variabel nonbasis dengan menggunakan rumus Cij = Cij - Ui - Vj.
3. Jika terdapat nilai Cij negatif, solusi belum optimal. Pilih variabel Xij dengan nilai Cij negatif terbesar sebagai entering variable.
4. Alokasikan barang ke entering variable, Xij, sesuai proses stepping stone.
Kembali ke langkah a.
3.6 Kerangka Metodologi
Kerangka metodologi dalam penelitian ini adalah seperti berikut :
Survey Lapangan 1. Interview
2. Observasi
StudiLiteratur
Mempelajari buku jurnal, diktat, yang berkaitan dengan Metodologi Penelitian, biaya pengiriman serta metoda yang digunakan
Mulai
IdentifikasiMasalah
1. Persaingan yang semakin kompetitif memerlukan perusahaan untuk memiliki strategi yang tepat.
2. Terjadinya ketidak seimbangan permintaan melebihi ketersediaan sarana transportasi.
3. Tuntutan terhadap perusahaan untuk meminimalkan total biaya transportasi.
4. Perlunya melakukan evaluasi terhadap saluran distribusi untuk mencari biaya pendistribusian yang optimal.
X
X
3. Jumlah unit transportasi yang dikirim 4. Jumlahpermintaan
RumusanMasalah
Bagaimana penerapan model transportasi yang cocok untuk meminimalkan biaya distribusi pada CV DH Permata Sentosa
TujuanPenelitian
penerapan model transportasi yang cocokuntuk meminimalkan biaya distribusi pada CV DH Permata Sentosa.
PROSES
Model Penugasan (Assignment Model) X
44
BAB IV
PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA
4.1
Pengumpulan DataBerdasarkan latar belakang perumusan masalah yang telah dikemukakan maka dilakukan pengumpulan data-data yang digunakan untuk meminimalkan biaya pada CV DH Permata Sentosa. Data - data tersebut berupa: alamat gudang, kapasitas dan permintaan, jenis transportasi dan biaya transportasi. Data yang diperlukan tersebut dijelaskan sebagai berikut :
4.1.1 Alamat Gudang / Sumber
CV DH Permata Sentosa memiliki tiga gudang yang tersebar diberbagai daerah di Sumatera Barat. Berikut adalah alamatnya :
1. Gudang 1
Terletak di Kota Padang 2. Gudang 2
Terletak di Kota Payakumbuh 3. Gudang 3
Terletak di Kota Kiliran Jao 4.1.2 Kapasitas dan Permintaan
Adapun kapasitas setiap gudang dan permintaan kebutuhan setiap daerah adalah sebagai berikut :
1. Kapasitas setiap gudang
a. Padang = 2400 sak
b. Payakumbuh = 1200 sak c. Kiliranjawo = 800 sak 2. Permintaan kebutuhan daerah
a. Pekanbaru = 1800 sak b. Pasir Pangaraian = 1600 sak c. Rengat = 1000 sak 4.1.3 Jenis Transportasi
Dalam mendistribusikan produk ke setiap daerah CV DH Permata Sentosa menggunakan mobil dengan jenis Truk.
4.1.4 Biaya Transportasi
Biaya transportasi yang dikeluarkan CV DH Permata Sentosa dalam mendistribusikan suatu produk ke setiap daerah adalah sebagai berikut :
1. Padang – Pekanbaru = Rp 1.700.000,- per truk 2. Padang – Pasir Pengaraian = Rp 1.750.000,- per truk 3. Padang – Rengat = Rp 2.350.000,- per truk 4. Payakumbuh – Pekanbaru = Rp 850.000,- per truk 5. Payakumbuh – Pasir Pengaraian = Rp 900.000,- per truk 6. Payakumbuh – Rengat = Rp 3.000.000,- per truk 7. Kiliran jao – Pekanbaru = Rp 2.350.000,- per truk 8. Kiliran jao – Pasir Pengaraian = Rp 2.600.000,- per truk 9. Kiliran jao – Rengat = Rp 1.600.000,- per truk
Adapun kapasitas setiap truk adalah 400 sak semen. Jadi, biaya transportasi per sak adalah :
1. Padang – Pekanbaru = Rp 1.700.000,- per truk / 400 sak
= Rp 4.250/ sak
2. Padang – Pasir Pengaraian = Rp 1.750.000,- per truk/ 400 sak
= Rp 4.375/sak
3. Padang – Rengat = Rp 2.350.000,- per truk/ 400 sak
= Rp 5.875/sak
= Rp 5.875/sak