• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE PENELITIAN

3.3 Laporan Hasil Penelitian

Seluruh tahapan metode penelitian yang telah dilakukan, akhirnya hasil kajian dan analisis penulis akan dipaparkan dalam sebuah bentuk karya tulis ilmiah atau laporan hasil penelitian. Tahap ini merupakan tahap paling akhir dalam sebuah penelitian dimana penulis menampilkan keseluruh hasil kerjanya secara utuh serta menggambarkan tentang keseimpulan dari hasil penelitiannya. Dalam penulisan laporan hasi penelitian ini, penulis harus dapat mendeskripsikan seluruh pemikiran dan hasil analisinya ke dalam bentuk narasi yang sesuai dengan penulisan karya tulis ilmiah yang baik dan benar.

Pada tahap ini, peran pembimbing skrisi sangat penting berkaitan dengan cara penulisan karya ilmiah yang sesuai dengan aturan yang berlaku dalam dunia akademik. Dalam penulisan skripsi yang berjudul “ Pertambangan Batubara Rakyat Di Kecamatan Samboja Kabupaten Kutai Kartanegara (Kajian Historis Tahun 1999-2013) menggunakan buku Pedoman Karya Ilmiah (UPI) 2014

sebagai panduan dalam menyelesaikan skripsi ini. Penulisan skripsi ini merupakan tulisan karya ilmiah pertama penulis, sehingga penulis merasa masih banyak kekurangan baik dalam penulisan maupun fakta. Oleh karena itu, penulis mengharapkan berbagai masukan demi penyempurnaan karya tulis ini. Mengenai penyusunan skripsi ini, sesuai dengan Buku Pedoman Penulisan Karya Ilmiah UPI tahun 2014, penulis membagi pokok-pokok pikiran utama pada ksripsi ini ke dalam lima bab dengan struktur organisasi skripsi sebagai berikut:

1. BAB I Latar Belakang Penelitian

Bab I, berisi latar belakang penelitian, memaparkan alasan mengapa penulis memilih tema pertambangan batubara rakyat di Kecamatan Sambja, memeparkan keresahan penulis , dan jelaskan tujuan penulis dalam memilih tema

serta menguraikan beberapa pertanyaan utama penelitian. Dalam bab ini juga dibahas rumusan masalah yang bertujuan agar pembahasannya lebih terfokus. Rumusan masalah merupakan fokus utama yang diangkat serta uraian dari sebuah maslaah utama. Selain itu, bab ini juga memuat tujuan penulisan yang menjelaskan tentang hal-hal yang akan disampaikan untuk menjawab berbagai permasalahan yang telah ditentukan. Selanjutnya mengenai sistematika penulisan. Pokok pemikiran utama pada bab ini ialah gambaran umum keseluruhan isi kajian skripsi serta sistematika penulisan yang digunakan dalam penyusunan karya ilmiah ini.

2. Kajian Pustaka

Bab II menjelaskan tentang literature yang digunakan penulis dalam menyelesaikan penelitian serta gambaran umum mengenai resensi buku sumber yang digunakan sebagai referensi pemikiran penulisnya. Pada bab ini juga terdapat konsep-konsep yang sesuai dengan variabel penelitian penulis, selanjutnya dibuat kerangka konsep yang lebih terarah. Penggunaan konsep ini untuk memudahkan penulis dalam proses analisis hasil kajian serta menguji kesesuaian fakta demi mendapatkan gambaran sejarah yang utuh. Pokok pikiran utama pada bab ini ialah penjelasan mnegenai sumber-sumber bacaan yang relevan dengan penelitian penulis.

3. Metode Penelitian

Bab II, di dalam menjelaskan tentang metode penelitian yang digunakan penulis, yaitu metode historis dengan cara studi literature dan wawancara. Pada bab ini penulis menggunakan kesimpulan terhadap beberapa permaslaahn yang telah diajukan sebelumnya. Dijelaskan juga menenai tahapan metodelogi penelitian sejarah yang terdiri dari heuristic, kritik sumber (eksternal dan internal),, interpretasi dan historiografi. Pada bab ini dielaskan mengenai langkah-langkah penelitian yang dilakukan penulis hingga menghasilkan karya tulisn ilmiah yang baik dan sesuai dan benar.

4. Pembahasan

Bab IV merupakan bagian utama dalam struktur organisasi skripsi yang menjadi kajian penelitian. Pada bab ini dibahas bagian-bagian penting dari konten pembahasan sesuai dengan judul yang diangkat. Bagian ini menjadi pokok pikiran penulis dalam menganalisa permaslaahn yang diangkat. Bab ini juga untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dalam rumusan masalah. selain itu juga memaparkan secara rinci mengenai pertambangan batubara rakyat di Kecamatan Samboja Kabupaten Kutai Katanegara. Menjelaskan pula kondisi social ekonomi awal otonomi daerah, perkembangan awal pertambangan rakyat, berbagai upaya yang dilakukan penambang rakyat untuk tetap bertahan, dan kontribusi pertambangan terhadap lingkungan sosial maupun geologis.

5. Simpulan dan Saran

Pad bab ini berisi mengenai simpulan penulis mengenai kajian “Pertambangan Batubara Rakyat Di Kecamatan Samboja Kabupaten Kutai

Kartanegara (Kajian Historis Tahun 1999-2013)” bedasarkan perspektif penulis. Bab ini juga berisi saran dari penulis berkenaan dengan tindak lanjut penelitian maupun berkaitan dengan pemanfaatan yang terkadung dalam skripsi. Pemahaman secara utuh dipaparkan pada bagian ini yang merupakan pemikiran dan hasil analisi penulis.

BAB V

Kesimpulan dan Saran

Berdasarka hasil penelitian dan pembahasan skripsi mengenai ‘Pertambangan Batubara Rakyat Di Kecamatan Smaboja Kabupaten Kutai Kartanegara (Kajian Historis Tahun 1999-2013), maka dapat dikemukakan beberapa kesimpulan dan rekomendasi mengenai hasil penelitian sebagai berikut:

5.1 Kesimpulan

Pertama, wilayah Kecamatan Samboja yang berada di daerah pesisir

Kabupaten Kutai Kartanegara Propinsi Kalimantan Timur. Kecamatan Samboja memiliki luas wilayah 1.161,13 km2 terbagi menjadi 23 kelurahan/desa. Sebagai daerah penyangga pembangunan bagi Kota Balikpapan maupun Kota Samarinda. Kecamatan Samboja terbagi menjadi 2 zona berdasarkan potensi alamnya, yaitu pertama wilayah pesisir pantai yang kaya akan hasil laut, perkebunan kelapa ( kopra), dan pertambangan migas. Kedua, wilayah perbukitan yang kaya akan pertambangan batubara, hasil hutan, dan pertanian (dalam arti luas meliputi hortikultura dan perternakan unggas). Secara umum penduduka Samboja berprofesi sebagai petani, peternak, penambang dan nelayan pada awal masa otonomi daerah tahun 2000. Dengan penduduk yang multi suku yaitu Jawa, Bugis, Dayak. Dalam perkembangannya suku-suku tersebut dapat berbaur untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi samboja dengan bukti perkembangan usaha batubara rakyat yang melibatkan berbagai suku

Kedua, Pertambangan batubara dilirik kembali setelah masa bisnis logging

berakhir dikarenakan terbatasnya bahan baku kayu hutan dan keluarnya ketentuan disertai sanksi yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999. Dimana dengan berdirinya KUD Rukun Sentosa yang merupakan Koperasi Tambang pertama di Kecamatan Samboja yang berdiri pada tahun 1999 dengan KP seluas 88 ha di Kelurahan Margomulyo menjadi penggerak awal tumbuhnya minat masyarakat mengusahakan pertambangan batubara. Kegiatan pertambangan

batubara diusahakan secara massif oleh masyarakat setempat setelah mendapatkan momentum yang tepat dengan adanya kenaikan harga batubara, kebutuhan pasar yang meningkat untuk memenuhi industri di jawa, sulawesi serta luarnegei, terbentuknya Koperasi Tambang Rukun Sentosa yang memiliki KP, serta dukungan aparat pemerintah yang membutuhkan uang tambahan.

Pertambangan Batubara di Kecamatan Samboja merupakan usaha yang melibatkan berbagai unsur masyarakat. Menurut perannya, pihak yang terlibat dalam kegiatan pertambangan batubara rakyat dapat dibedakan menurut perannya masing-masing, yaitu pemodal, penambang (pemilik tambang rakyat dan buruh), pengepul/kolektor, dan pemasok. Pemodal merupakan orang atau sekelompok orang yang menyediakan modal seluruh proses penambangan atau yang memiliki Ijin Usaha Pertambangan (IUP). Pemodal berasal dari berbagai kalangan mulai dari penambang lokal yang sukses, pejabat lokal sampai pengusaha Tionghoa dari Surabaya. Berdasarkan teknologi, pertambangan batubara rakyat dibedakan dalam 2 masa, di masa awal masih menggunakan alat-alat manual berupa cangkul, linggis dan lainnya yang terjadi sebelum tahun 2006. Masa selanjutnya, sejak 2006 pertambangan batubara rakyat menggunakan alat-alat berat untuk mengupas tanah dan pengambilan batubara tapi tetap dengan melibatkan buruh tambang yang banyak untuk mengarungi batubara dan mengangkutnya ke truk pengangkut. Besarnya keterlibatan buruh tambang sebagai ciri dari pertambangan rakyat. Berdasarkan pertumbuhan penambang maka tahun 2009 merupakan masa paling subur pertambangan kecil yang mencapai 171 penambang sedangkan tahun 2013 tinggal 16 penambang yang dikenal sebagai tahun kematian bagi pertambangan batubara yang disebabkan oleh turunnya harga dan permintaan batubara.

Ketiga, pertambangan batubara merupakan salah satu usaha yang paling

menjanjikan dalam kekayaan di Kalimantan. Namun, juga memiliki tantangan tersendiri baik internal maupun eksternal. Tantangan internal bagi penambang rakyat diantaranya karena keterbatasan modal, legalitas, kurangnya keamanan selama buruh melakukan penambang, dan buruknya manajemen usaha pemilik tambang rakyat.Tantangan eksternal yang harus dihadapi penambang rakyat yaitu LSM Lingkungan yang selalu menganngap pertambangan rakyat merupakan

pertambangan paling merusak, Perusahaan Swasta yang membatasi gerakan penambang rakyat dengan dalil legalitas, dan pungutan liar yang marak terjadi dilokasi tambang maupun di pelabuhan.

Keempat, usaha pertambangan batubara rakyat memberikan kontribusi

positif maupun negatif terhadap lingkungan sekitar. Lingkungan sosial merasakan dampak positif terutama sosial ekonomi dimana peningkatan pendapatan bagi penambang maupun usaha yang mendukung tambang yaitu rumah makan. Pertambangan tumbuh dengan pesat hingga memunculkan beberapa orang kaya baru pada tahun 2009 sepeti pak Hasyim, Aziz, dan Andi. Namun, ketika tahun 2013 yang mampu bertahan diusaha pertambangan batubara hanya pak Aziz dengan kondisi keuangan yang cukup stabil, berbeda dnegan pak Hasyim yang bangkrut sehingga seluruh asetnya disita bank. Sedangkan pak Andi memutuskan beralih menjadi penjual sembako untuk tetap bertahan hidup. Ketika tahun 2007-2009 pertambangan tumbuh baik, usaha warung makan merasakan dampaknya sepeti pak Cipto pemiliki warung makan yang sampai mendapatkan omset 80-100 juta/bulan. Namun ketika usaha pertambangan mengalami kejatuhan omset pak Cipto turun hingga hanya mencapai omset 19-25 juta/bulan begitu pula dengan warung makan lainnya bahkan ada yang sampai tutup.

Secara dampak lingkungan geologis, pertambangan merupakan penyebab utama kerusakan yang terjadi di kecamatan Samboja. Berdasarkan kerusakan lingkungan yang dirasakan masyarakat yaitu dengan rusaknya bentang alam dimana bekas tambang tidak lagi bisa ditanami tumbuhan, rutinitas banjir setiap kali hujan turun sejak beroperasinya pertambangan batubara dan jalan publik yang rusak menyebabkan banyaknya terjadi tingkat kecelakaan.

5.2 Rekomendasi

Berdasarkan penelitian yang penulis lakukan mengenai Pertambangan baatubara rakyat di Kecamatan Samboja ada beberapa rekomendasi, yaitu:

1. Penulis berharap agar penelitian ini dapat dimanfaatkan bagi pengembangan kebijakan pemerintah di bidang pertambangan batubara

rakyat. Khususnya yang berhubungan dengan perijinan pertambangan batubara, penyuluhan pengelolaan lingkungan hidup.

2. Penulis berharap semakin banyak penelitian mengenai pertambangan batubara rakyat khususnya di Kalimantan Timur dikarenakan untuk saat ini sulit ditemukan karya ilmiah yang mengkaji lebih dalam tema tersebut. Padahal sejarah pertambangan khususnya basis energi memiliki peranan penting dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia khususnya wilayah yang mengandalkan sumber daya alam seperti Kecamatan Samboja Kabupaten Kutai Kartanegara.

3. Berdasarkan fakta dilapangan karena daerah penelitian merupakan daerah pertanian dan pemukiman penduduk, sehingga perlu diperhatikan dampak negatif yang akan ditimbulkan akibat pertambangan batubara. maka dibutuhkan kerjasama berbagai pihak untuk mengatasi permasalahn tersebut.

4. Bila dianalisa dampak pada lingkungan, tambang batubara sangat merusak kualitas lingkungan geografis sehingga untuk membangun usaha berbasis energi dapat dilakukan beberapa alternatif seperti biomassa dari kayu yang dikenal dengan wood pellet yang tersedia cukup banyak di Kecamatan Samboja dan Biogas sebagai alternatif energi dari kotoran hewan ternak.

5. Skripsi ini diharapkan mampu memberikan sumbangan pengetahuan mengenai sejarah lokal khususnya mengenai sejarah lokal di Kabupaten Kutai Kartanegara. Selain itu, juga dapat menambah referensi bagi siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) kelas XII mengenai pelajaran sejarah pada materi ‘Kehidupan politik dan ekonomi Bangsa Indonesia pada

amasa awal Reformasi’Materi pokok tersebut didukung dengan

Kompetensi Dasar sebagai berikut (3.6) Mengevaluasi kehidupan politik dan ekonomi bangsa Indonesia pada masa awal Reformasi. (4.6) Melakukan penelitian sederhana tentang kehidupan politik dan ekonomi bangsa Indonesia pada masa awal Reformasi dan menyajikannya dalam bentuk laporan tertulis

Sumber Buku:

Abdurrahman, D. (1999). Metodologi Penelitian Sejarah. Jakarta : PT Logos. Aziz, I dkk. (2010). Pembangunan Berkelanjutan: Peran dan kontribusi emil

salim. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.

Baky, A.L. (2007). Pengaruh Pengaturan Pertambangan Umum Pra dan Pasca

Berlakunya Otonomi Daerah Terhadap Investasi Di Sektor Pertambangan Umum. UGM Press : Tesis Jurusan Hukum Bisnis

Darmono, J. dkk. (2009). Mineral dan Energi Kekayaan Bangsa: Sejarah

pertamabngan dan energi Indonesia. Jakarta: Terbitan Departemen Energi

dan Sumber Daya Alam.

Djajadiningrat, Surna Tjahya. (2001). Pemikiran, Tantangan dan Permasalahan

Lingkungan. Bandung : Studi Tekno Ekonomi Depatemen Teknik Industri

ITB.

Fauzi, A. (2006). Ekonomi Sumber Daya Alam dan Lingkungan. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Gottschalk, L. (1985). Mengerti Sejarah: Pengantar Metode Sejarah [Terjemahan: Nugroho Notosusanto]. Jakarta: Yayasan Penerbit UI.

Hoover, E.M. and F. Giarratani. (1984). An Introduction to Regional Economics. Third Edition, Alfred A. Knopf, Inc., New York

Ismaun. ( 2005). Pengantar Belajar Sejarah Sebagai Ilmu dan Wahana

Pendidikan. Bandung : Historia Utama Press

______. (2005b). Sejarah Sebagai Ilmu. Bandung : Historia Utama Press. Koentjaraningrat. (1992). Beberapa Pokok Antropologi Sosial. Jakarta: Dian. Kuntowijoyo. (2003). Metodologi Sejarah Edisi kedua. Yogyakarta : Tirta

Wacana Yogya.

Maimunah, S. (2014). Mencari Makroman Di Tanah Pinjaman : Perempuan

Makroman di Tengah Perubahan Agraria dan Perjuangan Komunitas Menghadapi Pengerukan Batubara. Bogor: Sajogyo Institute.

Partomo, T.S dan Soejoedono, A.R. (2004). Ekonomi Kecil/Menengah dan

Koperasi. Jakarta : Ghalia Indonesia.

Shafer, R.J . (1974). A Guide to Historical Method. Illionis : The Dorsey Press Sjamsuddin, H. (2007). Metodologi Sejarah. Yogyakarta : Ombak.

Soekanto, S. (1990). Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Raja Grafindo Persada Soemarwotto, O. (1991). Ekologi, Lingkungan Hidup Dan Pembangunan. Jakarta:

Penerbit Djambatan.

Sukandarrumidi. (2008). Bahan Galian Industri. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Syamtasiyah, A. ( 2013). Kesultanan Kutai 825-1910: Politik dan ekonomi akibat

penetrasi kekuasaan belanda. Tangerang: Serat Alam Media.

Taneko, S.B. (1990). Struktur dan Proses Sosial. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Zulkarnain, I dkk (2003). Konflik di kawasan Pertambangan Emas: kasus

Pongkor dan Cikotok. Jakarta: LIPI Press

Sjafrizal. (2008). Ekonomi Regional : Teori dan aplikasi. Jakarta: Niaga Swadaya. Suyanto, B. (2013). Sosiologi Ekonomi: Kapitalisme dan Konsumsi di Era

Mayarakat Post-Modernisme. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Zulkarnain, I dkk. 2004. Konflik di Daerah Pertambangan: menuju penyusunan

konsep solusi awal dengan kasus pada pertambangan emas dan batubara.

Jakarta : LIPI Press.

Laporan Penelitian

Haug, Michaela. (2007). Kemiskinan dan Desentralisasi di Kutai Barat : Dampak

Otonomi Daerah terhadap Kesejahteraan Dayak Benuaq. Bogor: Center for

Internastional Forestry Research (CIFOR).

Herman, D. (2006). Pertambangan Tanpa Izin (PETI) Dan Kemungkinan Alih

Status Menjadi Pertambangan Skala Kecil. Jakarta: Pusat Sumber Daya

Pengembangan Sosial Ekonomi dan Lingkungan di Kabupaten Kutai Kartanegara. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian

Dalam Negeri. Laporan Penelitian.

Universitas Pendidikan Indonesia. (2014). Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.

Skripsi

Aliyah, F. (2011). Pertambangan Timah Rakyat Di Pulau Belitung (Kajian

Historis Tahun 1999-2005). (Skripsi). Bandung: Departemen Pendidin

Sejarah FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia.

Anggarini, N. (2014). Pengaruh Penambangan Pasir Terhadap Kualitas

Lingkungan Di Kecamatan Sukaratu Kabupaten Tasikmalaya. (Skripsi).

Bandung : Departemen Pendidikan Geografi FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia.

Suprihatin, I. (2014). Perubahan Perilaku Bergotong Royong Masyarakat Sekitar

Perusahaan Tambang Batubara Di Desa Mulawarman Kecamatan Tenggarong Seberang. (Skripsi). Samarinda: Jurusan Sosiologi FISIP

Universitas Mulawarman.

Internet

___ . (2015). Diskusi : Pertambangan Ilegal di Indonesia dan Tantangannya

Menuju Ekonomi ASEAN. [Online]. Diakses dari [http://www.iesr.or.id/2013/10/diskusi-pertambangan-ilegal-di-indonesia-dan-tantangannya-menuju-ekonomi-asean-2/] pada tanggal 8 September 2015.

____. (2015). Sumber Daya Alam Kalimantan Timur. Diakses dari www.bappedakaltim.com/headlines/225-,p3ei.html pada tanggal 23 mei 2015.

Dokumen terkait