• Tidak ada hasil yang ditemukan

LARUT malam Gelap Perempuan menapak dari timur

Dalam dokumen Televisi Jam Wajib Belajar (Halaman 49-51)

ke barat. Lelaki datang dari arah matahari terbit menuju arah mata- hari terbenam. Perempuan berada di depan. Tak peduli ada lelaki di belakangnya. Lelaki tak bermak- sud mengejar perempuan. Kota dipenuhi tumpukan gedung tak beraturan.

Perempuan menghentikan lang- kahnya. Tak berselang lama lelaki pun sampai di tempat sama dan menyudahi ayunan kakinya. Di bawah mercury perempuan dan

lelaki tegak. Keduanya saling tatap, saling curiga, tapi juga saling dongkol karena sama-sama tak bisa melihat dengan jelas. Telah lebih seminggu pe-el-en belum juga puas dari “cuti” terangnya. “Kau siapa?” perempuan bertanya. Lelaki hanya membalas dengan senyum. Perempuan tak melihat tarikan garis keras namun manis di sudut bibir lelaki.

“Kau mengikutiku?” perempuan menambah pertanyaannya. Lelaki menggelengkan kepala. Cahaya lampu kendaraan yang melintas membantu perempuan

menangkap gerak kepala lelaki. “Kenapa kau berjalan dari timur ke barat seperti aku?” perempuan jadi penasaran. Lelaki tak hirau.

“Kenapa kau juga berhenti di tem- pat aku menghentikan langkahku?” Tak ada jawaban dari lelaki.

“Kenapa?!”

Cuma tarikan napas berat terden- gar meronta.

“Katakanlah, kenapa semua ini kau lakukan?”

Hempasan napas perempuan dan lelaki bertubruk di hadapan kedu- anya.

A

k u

I

n g i n

M

e n i k a h i m u

“Aku tau kau lelaki. Aku tau kau berjalan dari timur ke barat. Aku tau kau melangkah di belakangku. Aku tau kau berhenti di tempat ini setelah aku berhenti. Aku tau kau lelaki baik. Kau orang baik-baik. Tapi aku tak tau siapa kau. Apa yang kau cari?”

Lagi, lelaki menarik napas dalam dan melepaskannya dengan san- gat lega.

“Sekarang aku akan mengatakan- nya,” lelaki mulai mengeluarkan kata-kata. Teramat lembut dira- sakan perempuan menyelusup di telinganya.

“Sejak tadi aku sudah bersiap untuk mendengar kata-katamu. Segeralah,” perempuan menyam- but penuh semangat.

“Semua kata-kata yang tadi kau ucapkan, yang kau tanyakan kepadaku, juga ada padaku. Tadi aku juga bermaksud berkata dan bertanya kepadamu seperti yang telah kau lakukan.”

“Jadi?!”

“Begitulah kenyataan yang terjadi pada diriku saat ini. Dan untuk

setiap pertanyaan yang kau lon- tarkan tadi, aku cuma punya satu jawaban. Aku tak tau! Itulah jawa- banku. Kalaupun ada yang kutau, sekarang rasa kehilangan meng- gumpal dan menyesak dadaku. Aku kehilangan namaku. Sudah lama sekali namaku hilang dan aku pun lupa siapa namaku itu.”

Perempuan dan lelaki sama-sama terenyum. Tapi juga sama-sama dibalut gelap, sehingga perempuan tak bisa melihat senyum lelaki dan lelaki tak bisa melihat senyum perempuan.

“Kalaupun tadi kau bertanya lebih dulu dariku, aku akan diam, karena jawaban yang kumiliki sama sep- erti yang kau punya. Aku tak tau! Aku juga sudah lama kehilangan namaku dan sampai sekarang aku lupa siapa namaku sebenarnya.” “Seperti kau katakan tentang aku, aku juga tau kau perempuan baik. Kau orang baik-baik.”

Perempuan diam. Lelaki diam. Perempuan duduk di trotoar. Lelaki juga duduk, di sebelah perempuan. Sepi. Tinggal sesekali kendaraan melintasi jalan raya di hadapan mereka. Lelaki sedikit merapatkan duduknya. Tinggal sedikit jarak di antara keduanya. Bahkan bahu mereka nyaris bersentuhan. Dingin yang mulai menusuk tulang dan rasa kehilangan yang sama mam- pu menumbuhkan keakraban. “Rasanya seperti tak mungkin kenyataan yang sama-sama kita alami ini. Kau berjalan dari timur ke barat, aku juga. Kau menghentikan langkahmu di sini, aku pun begitu. Kau mengatakan aku lelaki baik- baik, aku juga merasa kau per- empuan baik-baik. Akh, sungguh, seperti tak mungkin!”

Diam. Perempuan menatap le- laki, bertepatan lelaki pun sedang menatap perempuan. Dalam gelap tatapan mereka saling bertaut. Meski tak tampak jelas di mata keduanya, mereka sama-sama melepas senyum. Lelaki meraih

lembut tangan perempuan. Ikhlas pula perempuan mengulurkan tangannya. Lelaki menggenggam jemari tangan perempuan penuh kelembutan. Tiba-tiba rasa takut menyergap lelaki maupun perem- puan. Tiba-tiba mereka takut kalau perpisahan melepas jarak di antara keduanya. Tiba-tiba sekali, seperti pertemuan yang kini menjadikan keduanya merasa bersatu.

“Siapa aku harus memanggilmu?” tanya lelaki.

“Siapa pula aku harus memanggil- mu?” balas perempuan.

“Kita butuh nama walau tanpa arti sama sekali.”

“Ya! Walau tanpa arti. Dengan nama yang kita miliki maka diri kita akan punya arti. Setidaknya bagi diri kita sendiri.”

“Bagaimana kalau aku meman- ggilmu, Bulan?”

“Kalau aku memanggilmu, Mata- hari, bagaimana?”

Lelaki kian erat menggenggam jemari tangan perempuan.

“Senang sekali aku mengenalmu. Sungguh, di mataku kau perem- puan bijaksana. Aku suka menda- patkan nama Matahari darimu.” “Aku juga begitu. Apa yang kau rasakan, begitu jugalah yang ada dalam diriku. Aku terima nama pemberianmu. Bulan. Kau Mataha- ri dan aku Bulan, adalah lambang persatuan, kebersamaan.”

Angin malam semakin menam- bah dinginnya. Kegelapan tak selamanya mencekam. Seperti yang berlangsung di trotoar jalan raya itu, di tengah kota yang terus dibenahi, namun bertumpuk daki datang silih berganti. Sementara pe-el-en berulang berjanji men- cabut “cuti” terangnya, tapi entah kapan yang pasti. Di situ, di bawah mercury yang mati, sepasang manusia yang berjalan dari satu arah dan berhenti di tempat sama, saling memberi nama. Matahari untuk yang lelaki, Bulan untuk perempuan.

YS Rat

Seiring rasa tak ingin berpisah yang kian mendera, lelaki dan per- empuan saling dekap. Mesra bagi keduanya. Hingga mewujud bagai perahu di lautan. Oleng ke kiri dan kanan, namun gemulai. Makin jauh ke tengah, bertambah ken- cang angin menerpa. Ombak pun kian besar, berganti gelombang pasang. Peluh mengucur. Napas berkejaran. Lelaki dan perempuan terhempas dalam kecamuk, mem- buah kesadaran masing-masing. Di ufuk timur cahaya kuning me- nawan mulai mengintai.

“Siapa kau?” tanya perempuan. “Kau siapa?” tanya lelaki pula. “Ke mana cahaya matahari yang tadi kau sematkan di jemariku?” “Sinar bulan yang tadi kau curah- kan di mataku, ke mana perginya?” “Kalau kuminta, kau mau mem- berikan cahaya matahari untukku lagi?”

Lelaki menjawab dengan anggu- kan setuju.

“Kalau aku juga meminta, apa kau mau memberikan sinar bulan untukku lagi?”

Seperti lelaki, perempuan pun

mengangguk setuju.

Lelaki berdiri. Perempuan melaku- kan hal serupa. Mereka berjalan sambil bergandengan tangan. Perempuan menggelayut mesra di lengan kiri lelaki.

“Aku ingin menikahimu,” bisik lelaki di telinga perempuan.

Lelaki dan perempuan terus me- nyusuri trotoar. Kian jauh ke arah barat. Mencari siapa yang bersedia jadi penghulu atas perkawinan mereka. Mereka sepasang gelan- dangan pada sebuah kota. *

BERSEKOLAH DI KEBON BELANDA

Dalam dokumen Televisi Jam Wajib Belajar (Halaman 49-51)