• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II ANALISIS TOKOH, PENOKOHAN, DAN LATAR TERHADAP

2.2 Latar

Latar dalam sebuah cerita biasanya meliputi latar tempat, latar waktu, dan latar sosial. Dalam novel ini yang paling dominan adalah latar waktu.

2.2.1 Latar Tempat

Latar tempat dalam novel ini berada di Jakarta, khususnya di perusahaan Bonafid, hal ini dapat dilihat dalam kutipan berikut:

(88) Jakarta, Akhir September 2004...(hlm.11).

(89) Aku masih ingat, setahun yang lalu aku bertemu muka dengan Farid di sini, di perusahaan idaman ku ini. Sejak kuliah aku sudah mengincar untuk bekerja di sini. Perusaaah Bonafid yang bergengsi (hlm.13).

Selain di Jakarta latar tempat novel ini terjadi di Mojotengah yaitu di rumah Melodi. Latar tempat di rumah Melodi meliputi kamar tidur Melodi, kamar orang tua Melodi, di ranjang. Hal tersebut dapat di lihat dalam kutipan berikut ini:

(90) Mojotengah, Oktober 2004

Kepulanganku disambut dengan penuh kebahagiaan oleh ayah dan ibu. Pelukan ayah dan air mata kerinduan ibu. Aku sungguh-sungguh menikmati kedamaian yang hilang selama kurang lebih tujuh tahun dalam hidupku yang penuh keriuhan dan hingar bingar metropolitan (hlm.19).

(91) Malam itu aku tak bisa tidur. Mataku terlalu lelah untuk menangis. Tapi tak juga kelelahan ini mampu mengantarku ke gerbang mimpi. Dalam kesunyian malam, telingaku menangkap isak tangis dari kamar sebelah (hlm.23).

(92) Aku bangkit dari tidurku. Aku ketuk pintu kamar mereka. Ternyata tidak dikunci. Aku melihat ayah berdiri menghadap tembok dengan rokok disela jari dan asap deras mengepul dari mulutnya. Ibu duduk terpekur disisi ranjang. Melihatku, ia datang menghampiri dan memelukku dengan penuh kasih. Ibu membimbing dan mendudukan aku ditepi ranjang (hlm.24).

Latar tempat novel ini juga terjadi di klinik Dokter Sanusi. Hal tersebut dapat dilihat pada kutipan berikut ini:

(93) Klinik Dokter Sanusi semacam rumah sakit bersalin yang ditanganio oleh beberapa perawat. Dokter Sanusi sendiri hanya berada di klinik itu tiap hari Sabtu dan Minggu (hlm.31).

Latar tempat juga terjadi di halaman rumah kosong, di atas pohon mangga. Hal tersebut dapat dilihat pada kutipan berikut ini:

(94) Di halamannya yang super luas itu ditanami bermacam pohon buah. Ada rambutan, kelengkeng, manggis, kweni (sejenis mangga dengan daging buahnya yang berserat), jambu, dan masih banyak lagi. Favorit kami adalah pohon mangga dengan buah yang sangat lebat. Pohon kekar dengan cabang yang nyaman diduduki, kami betah berlama-lama diatasnya. Sering kami membawa pisau dan memetik serta mengupas dan memakannya langsung dari atas pohon (hlm.50).

Latar tempat terjadi di dalam mobil Denis Deo, saat Denis menemani Melodi untuk menyelidi Ayahnya.. Hal tersebut dapat ditunjukan dalam kutipan berikut ini:

(95) Dalam mobil Denis Deo aku melepas semua emosiku. Kemarahanku.

Kekecewaanku. Kesedihanku. Kehilanganku...(hlm.48).

Latar tempat terjadi di terminal dan di dalam bis. Di terminal, saat Melodi ingin pergi mencari pekerjaan dan diantar oleh Denis. Hal tersebut dapat ditunjukan dalam kutipan berikut ini:

(96) Diiringi pelukan dan ciuman penuh cinta dari ibu dan tatapan yang tak dapat terdefinisikan dari ayah, aku diantar Denis Deo sampai terminal. Ada sebongkah harapan yang menyenangkan untuk menyambut hari baru (hlm.55).

(97) Aku menatapnya dengan perasaan campur-campur. Bahagia. Haru. Biru. Aku menggenggam secarik kertas kecil dari tangannya. Aku masih menatap Denis Deo dari jendela sampai kelokan jalan memudarkan sosoknya (hlm.56).

Latar tempat novel ini terjadi di Surabaya. Meliputi perusahaan Pinastika Production, Sunday cafe, di dalam mobil Melodi, tempat clubbing, dan warnet. Hal tersebut dapat ditunjukan dalam kutipan berikut ini:

(98) Surabaya, Juni 2005

Aku belum pernah bertemu orang setampan pria di hadapanku ini. Aku mengakui...(hlm.58).

(99) “Pinastika Production, selamat siang. Dengan Melodi, ada yang bisa saya bantu?” sapaku di telepon.

“Disini Pinastika Production juga. Selamat siang juga. Disitu Melodi, disini Memori,”...(hlm.63).

(100) AC mobil kupasang maksimal. Lagu jazz lembut mengiringi perjalanan kami menuju Sunday Cafe yang hanya buka setiap Minggu pagi sampai sore hari dengan menu-menu makanan ringan (hlm.69).

(101) Kania sedang tidak berada dirumah. Kania menginap disalah satu

teman setelah sebelumnya clubbing. Aku terlalu lelah. Lagi pula hari hujan(hlm.76).

Latar tempat juga terjadi di paviliun Melodi, tempat tinggal Melodi saat bekerja di Surabaya. Meliputi dapur, kamar mandi, di luar pintu kamar mandi, kamar tidur, dan di sofa bed. Hal tersebut dapat ditunjukan dalam kutipan berikut ini:

(102) Pernah seharian penuh dihari Minggu Firdaus menjadi teman kencanku karena Kania sedang pulang ke Sukabumi. Tempat kost ini berupa Paviliun yang memungkinkan Firdaus mengeksplorasi setiap sudut rumahku, kecuali kamar pribadiku. Dengan sigap ia membantuku di dapur (hlm.73).

(103) Firdaus masuk ke kamar mandi cukup lama. Aku berinisiatif

meminjamkannya kaos oblong yang cukup besar untuk ukuran tubuhnya (hlm.77).

(104) “ FIRDAUS, LEPAS SAJA KAOSMU LALU CUCI DAN

KERINGKAN DI MESIN CUCI. KAMU SEMENTARA PAKAI KAOSKU,” kataku setengah berteriak di luar pintu kamar mandi (hlm.77).

Latar tempat novel ini juga terjadi di paviliun Kania. Meliputi kamar tidur, sudut dapur, dan meja dapur. Hal tersebut dapat ditunjukan dalam kutipan berikut ini:

(106) Beberapa malam terakhir ini aku memaksa menemani tidurnya. Kini, aku yang lebih sering tidur di paviliunnya. Aku kuatir sesuatu terjadi padanya (hlm.91).

(107) Sampai suatu malam ketika aku terlelap disandingnya, HP Kania

berdering. Kania yang ternyata belum terlelap, segera meraihnya. Awalnya ia berbicara dengan berbisik. Lalu ia keluar dari kamar. Aku meneruskan tidurku (hlm.91-92).

(108) Ternyata Kania berada disana. ‘Berdua’ ia mojok di udut dapur dengan seseorang di seberang. Aku tak berkomentar,...(hlm.92).

(109) Aku membayangkan hal-hal buruk terjadi pada Kania. Aku

menemukannya tertidur di meja dapur. Di tangannya terdapat sebotol obat-obatan (hlm.105).

Latar tempat novel ini juga terjadi di warnet, saat Melodi mencari informasi tentang aborsi. Hal tersebut dapat ditunjukan dalam kutipan berikut ini:

(110) Malam itu aku pulang dari warnet sangat larut. Aku merasa tubuhku sangat lelah. Aku ingin segera menenggelamkan tubuhku dalam selimut dan bantal yang empuk (hlm.104-105).

Latar tempat terjadi di Yayasan. Saat Lenvin di kirim ke Yayasan untuk dirawat.. Latar tempat juga terjadi di kuburan, saat ibu Lenvin dikuburkan. Hal ini dapat ditunjukan dalam kutipan berikut ini:

(111) Tuhan mengirim orang-orang untuk mengurus hidupku. Ibu dikuburkan. Aku dikirim ke yayasan (hlm.158).

2.2.2 Latar Waktu

Latar waktu dalam novel ini adalah akhir September tahun 2004. Hal tersebut dapat ditunjukan dalam kutipan berikut ini:

(112) Jakarta, akhir September 2004

Pria tampan di hadapanku berdiri kaku menatapku dengan tatapan tegang. Ia menahan napasnya...(hlm.11).

Latar waktu terjadi pada bulan Oktober tahun 2004 dan Juni tahun 2005. Hal tersebut dapat ditunjukan dalam kutipan berikut ini:

(113) Mojotengah, Oktober 2004

Kepulanganku disambut dengan penuh kebahagiaan oleh ayah dan ibu (hlm.19).

(114) Surabaya, Juni 2005

Aku belum pernah bertemu orang setampan pria di hadapanku ini. Aku mengakui...(hlm. 58).

Latar waktu juga terjadi pada bulan Mei tahun 2006, tanggal 13, 14 dan 16. Saat Melodi berkenalan pertama kali dengan Lenvin. Melodi membaca email dari Lenvin dan bertanya lebih banyak mengenai aborsi serta solusinya. Hal tersebut dapat ditunjukan dala kutipan berikut ini:

(115) 13 Mei

Salam persahabatan , Genta!

Aku telah menerima emailmu (hlm.102).

(116) 13 Mei

Lenvin, pada usia berapa sesungguhnya janin memiliki nyawa? (hlm.103).

(117) 14 Mei

Tolong, Lenvin!

Bagaimana aku harus meyakinkan sahabatku untuk tidak melakukan aborsi?Aku tetap survive mempertahankan bahwa ia tidak boleh

(118) 16 Mei

Tuhan tidak pernah memberikan cobaan diluar kemampuan kita untuk

mengatasinya. Ingat: aborsi bukanlah JALAN KELUAR! Aborsi

hanya akan membuat masalahnya semakin besar (hlm.104).

Latar waktu terjadi pada bulan Mei tahun 2006, tanggal 20 dan 22. Saat Lenvin mengirim email kepada Melodi. Lenvin membujuk Melodi untuk bergabung ke dalam komunitas anti aborsi tetapi Melodi menolaknya. Hal tersebut dapat ditunjukan dalam kutipan berikut ini:

(119) 20 Mei

Mereka ingin mengenalmu lebih dekat. Atau lebih tepatnya, mengajakmu bergabung dengan kami.

Semangatmu kami butuhkan disini untuk mengajak sahabat-sahabat yang lain untuk menentang praktek aborsi ilegal. Bagaimana, tertarik? (hlm.121).

(120) 22 Mei

Lenvin, Sahabatku

Terus terang aku tertarik dengan tawaran teman-teman disana. Tapi aku tak cukup percaya diri untuk menjadi salah satu pemberi solusi atau sekedar pemberi semangat dalam komunitas resmi kalian (hlm.121).

Latar waktu terjadi pada bulan Agustus tahun 2006, tanggal 25 dan 31. Kemudian latar waktu terjadi pada bulan Sepember tanggal 8 dan 9. Saat Melodi mengirim email kepada Lenvin untuk bertemu dan memberitahukan hari ulang tahun serta dirinya dimasa lalu. Hal tersebut dapat ditunjukan dalam kutipan berikut ini:

(121) 25 Agustus Dear Lenvin

Kau belum membalas emailku. Kau juga belum menjawab pertanyaanku. Aku ingin bertemu denganmu. Ada yang harus aku bicarakan denganmu (hlm.137).

(122) 31 Agustus

Lenvin, Sahabatku.

Kau marah padaku karena aku mengharap pertemuan?

Ataukah terlalu banyak kesibukanmu sehingga tak sempat membuka dan membalas emailku? (hlm.137).

(123) 8 September Dear Lenvin.

Besok adalah hari ulang tahunku. Ada seseorang hendak melamarku. Dia pria yang sangat baik (hlm.137).

(124) 9 September

Lenvin yang baik,

Pernahkah aku cerita mangapa aku menolak bergabung dalam forum kalian! Aku tak cukup percaya diri. Aku seorang pendosa. Inilah rahasia hidup yang kupendam dalam diam. Hanya padamu aku rela membukanya kembali. Lenvin, aku pernah mengugurkan bayiku...(hlm.139).

Latar waktu terjadi pada bulan Juni tahun 2007 tanggal 9 dan Desember tanggal 1. Saat Lenvin mengirim email kepada Melodi memberitahukan mengapa ia menolak bertemu sebelum Melodi menikah dan mereka pun sepakat untuk bertemu disebuah cafe. Hal tersebut dapat ditunjukan dalam kutipan berikut ini :

(125) 09 Juni

Karena biasanya orang yang akan menikah selalu mengalami masa-masa kebimbangan...

Kalau memang dia pria yang baik dalam hidupmu dan benar-benar mencintaimu, terima dia sebagai pasanganmu. Setelah itu aku akan menemuimu. Jadi aku bisa menjaga sikap pada seseorang yang berstatus sebagai istri orang (hlm.140).

(126) Saat ini aku berdiri di front desk sunview Cafe di jantung kota Jakarta. Menebar pandang ke seluruh sudut mencari sosok manusia dengan kriteria yang telah disepakati.

01 Desember

Temui aku di sunview Cafe. 10 Dec, 01.00 Lunch time. Dress-code warna biru. No reservation (hlm.144).

Latar waktu terjadi pada pagi hari saat tokoh Melodi memeriksakan kandungannya di klinik dan pada pukul dua dini hari saat tokoh Firdaus datang menemui Kania. Hal tersebut dapat ditunjukan dalam kutipan berikut ini:

(128) Beberapa jam kemudian laki-laki tampan penuh pesona itu sudah tiba di depan paviliun Kania. Jam menunjukan pukul dua dini hari. Aku membukakan pintu untuknya (hlm.110).

Latar waktu terjadi pada siang hari pukul 11.25 saaat Kania mengajak Melodi untuk makan siang dan Minggu siang saat Kania dan Melodi pergi ke cafe untuk makan siang. Hal tersebut dapat ditunjukan dalam kutipan berikut ini:

(129) “PAGI, Nona Manis? Ini sudah jam sebelas lebih. Aku mau mengajakmu makan siang. Ada apa denganmu? Kamu sakit?”

Aku terperanjat. Spontan melihat jam dinding yang menunjukan angka 11.25 (hlm.79-80).

(130) Ada kejadian siang ini.

Hari minggu ini tidak seperti biasa. Suhu udara panas luar biasa. Aku mengajak Kania untuk makan siang diluar (hlm.69).

Latar waktu juga terjadi pada malam hari. Saat Melodi mendengar ibunya menangis karena kecewa dengan Melodi dan saat Melodi pulang dari warnet. Hal tersebut dapat ditunjukan dalam kutipan berikut ini:

(131) Dalam kesunyian malam, telingaku menangkap isak tangis dari kamar sebelah. Ayah dan ibu sedang berdiskusi. Aku tahu mereka sedang membicarakan aku (hlm.23).

(132) Malam itu aku pulang dari warnet sangat larut. Aku merasa tubuhku sangat lelah (hlm.105).

2.2.3 Latar Sosial

Latar sosial dalam novel ini adalah masyarakat modern. Hal ini dibuktikan dengan adanya dokter pribadi Ayah, mobil mewah, istilah-istilah asing, dan perbedaan status sosial, Hal tersebut dapat ditunjukan dalam kutipan berikut ini:

(133) Dokter Sanusi berpraktek di rumah sakit terbesar di Semarang. Tapi demi aku hari ini Dokter Sanusi berada di klinik pribadinya ini (hlm.31).

(134) Menu empek-empek dan buble tea menjadi tujuanku. AC mobil kupasang maksimal. Lagu jazz lembut mengiring perjalanan kami menuju Sunday cafe (hlm.69).

(135) Malam itu aku hangout out sendiri. Aku sengaja datang sendirikarena satu-satunya teman clubbing yang mengasyikan sedang menjalani ‘karantina’. Yah , maksudku Kania. Tentu saja Kania yang sedang dalam kondisi hamil besartidak mungkin ikut aku nongkrong di cafe menjadi perokok pasif, right (hlm.123).

(136) Saat itu ayah Denis Deo menjadi orang terkaya di desaku...

Tapi kekayaan ayah tidak dapat ditandingkan dengan kekayaan keluarga Denis Deo yang sangat berlimpah. Tapi bagaimanapun, ayah lebih terpandang terbukti ketika pemilihan kepala desa, ayahlah yang terpilih (hlm.49).

Latar sosial masyarakat modern juga ditunjukan dengan gaya hidup yang modern. Gaya hidup yang modern itu misalnya selalu hidup sehat, pergi ketempat-tempat hiburan, suka musik yang berkelas. Hal tersebut dapat ditunjukan dalam kutipan berikut ini:

(137) Pertemanan kami betul-betul bersih. Kami doyan olahraga. Kami berdua cinta hidup sehat. Setiap Selasa dan Jumat berenang. Rabu senam aerobic (hlm.65).

(138) Setiap week end aku dan Kania hang out mencoba tempat-tempat

clubbing baru. Sekedar menikmati live music. Tanpa rokok tanpa alkhohol (hlm.65).

(139) Shoot the Moon-Norah Jones mengalun lembut. Suara Kania yang jernih terdengar senandung ringan (hlm.70).

Latar sosial modern juga ditunjukan dengan adanya fasilitas yang mewah seperti paviliun, mesin cuci, menggunakan alat komunikasi dan teknologi. Hal tersebut ditunjukan dalam kutipan berikut:

(140) Aku tinggal di sebuah rumah kontrakan berbentuk paviliun yang terdiri dari rumah-rumah kecil. Maksudku, semacam kamar tapi memiliki fasilitas yang lengkap. Ada kamar dalam, ruang tamu, ruang tengah dan dapur (hlm.65).

(141) “FIRDAUS, LEPASKAN SAJA KAOSMU LALU CUCI DAN KERINGKAN DI MESIN CUCI. KAMU SEMENTARA PAKAI KAOSKU,” kataku setengah berteriak di luar pintu kamar mandi (hlm.77).

(142) Ponsel mungilku bergetar, tanpa nada. Nomor Genta (hlm.152). (143) Siang itu aku browsing web-site tentang aborsi (hlm.96). (144) Aku menyelusuri situs tentang aborsi (hlm.97).

Setelah menganalisis latar, penulis dapat menyimpulkan bahwa latar dalam novel Aborsi meliputi latar tempat, latar waktu, dan latar sosial. Latar tempat dibagi menjadi tiga tempat yaitu di Jakarta, Mojotengah, dan Surabaya. Latar tempat yang berkaitan dengan aborsi yaitu di Jakarta, dimana Jakarta merupakan ibu kota dan tempat pergaulan yang bebas. Seperti di Perusahaan Bonafit, tempat Melodi bekerja. Tokoh Melodi menjalin hubungan dengan Farid hingga Melodi hamil di luar nikah, yang mengakibatkan aborsi. Mojotengah, merupakan desa yang masih kental dengan adat dan norma-norma masyarakat. Melodi telah melanggar norma masyarakat, yaitu hamil di luar nikah, agar tidak dicemooh oleh masyarakat Ayah menyuruh Melodi untuk mengaborsi kandungannya. Di klinik Dokter Sanusi, di mana Melodi diaborsi paksa oleh Dokter Sanusi. Surabaya, hampir sama seperti di Jakarta, merupakan kota besar di mana banyak terdapat pergaulan bebas. Seperti tokoh Kania yang menjalin hubungan dengan Firdaus hingga menyebabkan Kania hamil dan Firdaus menyuruhnya untuk aborsi.

Latar waktu, yang berkaitan dengan aborsi yaitu pagi, malam, dan tgl 13 Mei. Latar waktu yang berkaitan dengan aborsi seperti waktu pagi hari di klinik Dokter Sanusi masih terlihat sepi dan Dokter mengaborsi kandungan Melodi. Malam, saat Melodi di warnet mencari informasi tentang aborsi serta saat Ayah

dan Ibu mencari solusi untuk kandungan Melodi. Tanggal 13 Mei, Melodi berkenalan dengan Lenvin lewat internet. Melalui Lenvin, Melodi dapat mengetahui lebih banyak informasi tentang aborsi. Latar sosial, masyarakat modern terdapat mobil pribadi, internet, klinik pribadi. Terlihat pada Dokter Sanusi yang memiliki klinik pribadi, klinik tempat Melodi diaborsi.

Berdasarkan hasil analisis di dalam Bab II ini, diketahui bahwa cerita dalam novel Aborsi, disajikan Idayu Kristanti dalam satu penceritaan yang berkaitan dengan aborsi dimana penceritaan tersebut terfokus pada semua tokoh. Setiap tokoh memiliki peran masing-masing, terdapat tokoh protagonis, tokoh antagonis, dan tokoh tambahan.

Penulis dalam kajiannya terhadap novel Aborsi karya Idayu Kristanti memfokuskan permasalahan pada pandangan-padangan tokoh terhadap aborsi. Dalam novel Aborsi terdapat banyak tokoh dan peneliti memaparkan semua tokoh tetapi hanya tokoh-tokoh yang berkaitan dengan aborsi yang akan dianalisis dalam bab berikutnya.

Di samping menyajikan tokoh dan penokohan yang lengkap, Idayu Kristanti juga membuat latar cerita yang detail, mulai dari latar tempat dan waktu sampai penggambaran latar sosial tokoh-tokohnya. Latar-latar inilah yang merupakan media di mana tokoh-tokoh dapat tergambarkan dengan lengkap.

Penggambaran latar tempat dan waktu yang sangat detail tersebut sengaja dibuat untuk mempermudah para pembaca memahami cerita dalam novel Aborsi. Pembaca akan lebih tertarik jika latar tempat dapat digambarkan secara detail karena proses penceritaan tidak monoton hanya di beberapa tempat saja.

Latar tempat dan waktu yang disajikan secara detail membuat pengkisahan tokoh-tokoh bisa terwujud karena dalam latar tempat dan latar waktu mendukung proses cerita. Latar tempat berfungsi untuk menjelaskan bagaimana keseharian para tokoh yang hidup di kota Jakarta, Surabaya, dan Mojotengah. Latar tempat memberi kenyataan bahwa aborsi erat hubungannya dengan keseharian hidup manusia, aborsi sudah menjadi bagian dalam kehidupan manusia walaupun hal itu masih dilakukan secara tertutup. Kenyataan inilah yang membuat latar tempat menjadi sarana pengungkapan realita tersebut.

Latar waktu dalam kaitannya dengan kajian peneliti dimaksudkan untuk menggambarkan bagaimana di waktu-waktu tersebut, tokoh-tokoh dalam Aborsi menjalani kehidupan mereka terutama kehidupan yang berkaitan dengan aborsi.

Sama halnya dengan fungsi latar tempat dan latar waktu, penggambaran latar sosial berfungsi untuk menjelaskan tentang kehidupan masing-masing tokoh tersebut. Kehidupan para tokoh yang berkaitan dengan aborsi. Dalam novel Aborsi terdapat kehidupan manusia yang anti-aborsi dan pro-aborsi dimana terdapat pelaku dan korban aborsi. Masing-masing tokoh dihadapkan dalam permasalahan yang sama yaitu aborsi.

Dokumen terkait