BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Negara Indonesia dengan kondisi geografi dan jumlah populasi yang cukup besar, memiliki potensi untuk melakukan perluasan akses layanan sistem pembayaran. Kelancaran sistem pembayaran melalui transaksi non tunai merupakan faktor penentu keberhasilan terciptanya stabilitas sistem keuangan yang efektif. Mengacu kepada hal tersebut, Bank Indonesia sebagai regulator sekaligus bank sentral di Indonesia mengemukakan ide penggunaan instrumen pembayaran non tunai dengan membuat sebuah kampanye bertema “Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT)”.
Salah satu tujuan Gerakan Nasional Non Tunai ialah mewujudkan “good governance clean government” pemerintah telah berupaya untuk memaksimalkan kebijakan transaksi non tunai. Pemerintah Provinsi Sumatera Utara saat ini juga telah sepakat bekerja sama dengan Bank Indonesia dan Bank Pembangunan Daerah untuk mengembangkan transaksi keuangan non tunai di seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di Provinsi Sumatera Utara untuk mewujudkan masyarakat tanpa transaksi tunai.
Pada tahun 2019, wabah coronavirus disease (Covid-19) mulai terdeteksi di Wuhan, China. WHO menyatakan penyakit tersebut sebagai pandemi dan mulai masuk ke Indonesia pada 2 Maret 2020. Tidak hanya di Indonesia, tetapi seluruh dunia merasakan dampaknya. Akibat adanya wabah pandemi Covid-19 secara nasional mengakibatkan pendapatan asli daerah mengalami penurunan.
Implementasi Elektronifikasi Transaksi Pemerintah Daerah selama pandemi menjadi momentum bagi pemerintah daerah dalam melakukan elektronifikasi dalam mendorong penerimaan pendapatan asli daerah. Kebijakan pemerintah yang memberlakukan pembatasan interaksi sosial, telah memaksa masyarakat untuk segera beralih ke tren transaksi ekonomi nirsentuh (contactless economy). Saat ini hampir seluruh layanan publik, transaksi perdagangan dan keuangan didorong untuk dilakukan dengan prosedur tanpa tatap muka (face to face). Hal ini tercermin pada sejumlah data yang menyatakan bahwa kegiatan pembayaran non tunai semakin meningkat di tengah pandemi Covid-19. Salah satunya adalah pencapaian target inklusi keuangan yang mencapai 76,19 persen pada tahun 2019 dan mengalami peningkatan pada tahun 2020 mencapai 84,1 persen, hal tersebut telah melebihi target yang telah ditetapkan sebesar 75 persen. Kegiatan elektronifikasi pada setiap transaksi pemerintah daerah menjadi salah satu strategi pemerintah dalam mencapai target tingkat inklusi keuangan pada tahun 2024 sebesar 90 persen. Pencapaian tersebut membutuhkan langkah koordinasi dan sinergitas antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah.
Bank Indonesia memanfaatkan momentum ini sebagai peluang untuk percepatan dan perluasan elektronifikasi di pemerintahan daerah. Pemerintah daerah dituntut untuk mampu memanfaatkan kemajuan teknologi melalui pelayanan publik berbasis digital. Perkembangan sistem informasi dan teknologi perlu dijadikan salah satu strategi bagi pemerintah daerah untuk memperoleh keunggulan kompetitif di era digitalisasi. Perluasan elektronifikasi transaksi di lingkungan pemerintah daerah merupakan salah satu program strategis Bank Indonesia bertujuan untuk
mendorong transaksi keuangan secara elektronik di lingkungan pemerintah daerah. Program ini diarahkan untuk mewujudkan tata kelola keuangan yang lebih baik dan meningkatkan potensi penerimaan pemerintah daerah.
Dengan diterbitkannya Keputusan Presiden No.3 Tahun 2021 tentang Satuan Tugas Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah, dinilai mampu membuka kesempatan bagi pemerintah daerah menuju era transaksi digital di perangkat birokrasi. Bersamaan dengan itu Bank Indonesia sebagai bank sentral membentuk strategi percepatan dan perluasan implementasi elektronifikasi transaksi daerah. Strategi percepatan dan perluasan elektronifikasi transaksi pemerintah daerah sendiri diterapkan untuk membangun ekosistem digital di lingkungan pemerintahan daerah. Penentuan transaksi yang dilakukan elektronifikasi dapat dilakukan berdasarkan kontribusinya pada penerimaan asli daerah, frekuensi pembayaran, dan nominal transaksi. Perlu adanya kolaborasi dengan pengembangan elektronifikasi transaksi sesuai dengan kebutuhan daerah.
Guna meningkatkan optimalisasi penggunaan, perlu adanya dorongan dan komitmen dari seluruh pihak terkait.
Hal ini menjadi solusi dalam mewujudkan Elektronifikasi Transaksi Pemerintah Daerah (ETPD) yang merupakan salah satu visi pemerintah daerah ke depan. Dalam hal ini Pemerintah Provinsi Sumatera Utara mendukung upaya percepatan dan perluasan digitalisasi daerah, terutama implementasi ETPD dengan membentuk Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi (TP2DD) Sumatera Utara. Tim ini berperan dalam mendukung pengembangan transaksi pembayaran digital.
Elektronifikasi Transaksi Pemerintah Daerah (ETPD) merupakan suatu upaya yang terpadu dan terintegrasi untuk mengubah transaksi belanja dan pendapatan pemerintah daerah dari tunai menjadi non tunai. Hal tersebut mulai masif dilakukan sejak pemerintah memberlakukan penyaluran bantuan sosial melalui mekanisme non tunai, antara lain berupa bantuan Program Kerja Harapan (PKH) dan bantuan sembako atau Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT).
Pengalaman dalam penyaluran program bantuan melalui mekanisme non tunai telah meningkatkan tingkat inklusi keuangan di kalangan masyarakat prasejahtera yang selama ini menutup diri terhadap layanan jasa perbankan.
Dalam rangka mengukur tingkat capaian implementasi ETPD telah dikembangkan metode asesmen baru yakni Indeks Elektronifikasi Transaksi Pemerintah Daerah (IETPD). Dalam pengimplementasiannya, elektronifikasi transaksi di lingkungan pemerintah daerah dipetakan berdasarkan 3 (tiga) indeks yakni tingkat implementasi, realisasi atau kontribusi terhadap pendapatan asli daerah, serta kesiapan dan dukungan strategis yang kemudian diukur dengan menggunakan skala 1-100 dan dibagi menjadi 4 (empat) tingkatan diantaranya:
Inisiasi (0-10), Berkembang (>10-40), Maju (>40-70) dan Digital apabila telah mencapai (>70-100). Dalam hal mendukung transparansi dalam sistem pembayaran, Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara memiliki wilayah kerja beserta skor IETPD.
Tabel 1.1
Hasil Pemetaan Indeks Elektronifikasi Transaksi Pemerintah
No Nama Daerah Skor IETPD
1 Kota Medan 84.23%
2 Kota Binjai 80.03%
3 Kota Tebing Tinggi 80.03%
4 Kab.Dairi 84.23%
5 Kab.Deli Serdang 80.03%
6 Kab.Karo 80.03%
7 Kab.Langkat 80.03%
8 Kab.Pakpak Bharat 80.03%
9 Kab.Serdang Bedagai 80.03%
Sumber: Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara.2021
Saat ini seluruh kabupaten/kota wilayah kerja Bank Indonesia Sumatera Utara telah memasuki pada kategori digital. Secara umum, mayoritas transaksi pendapatan pajak dan retribusi daerah telah dilakukan secara non tunai dengan memanfaatkan kanal basic (teller, loket bank) dan medium (ATM, EDC, sms/mobile/internet banking). Meskipun demikian pemerintah daerah terus mendorong perluasan elektronifikasi dengan memanfaatkan kanal pembayaran advance (fintech, e-commerce, ritel, QRIS) di seluruh transaksi penerimaan.
Sementara itu, arah kebijakan bank sentral dalam mengatur pembayaran non tunai terbukti sebagai langkah konkrit dan efektif dalam mengakselerasi sistem pembayaran non tunai secara nasional. Sebagai satu-satunya otoritas di bidang sistem pembayaran, Bank Indonesia terus mendorong implementasi elektronifikasi transaksi keuangan di daerah. Salah satu wujud perluasan yang dilakukannya adalah rencana sentralisasi aktivitas transaksi pembayaran retribusi dan pajak melalui koordinasi perdagangan elektronik (e-commerce). Hal ini ditunjang oleh tingginya antusiasme masyarakat dalam melakukan pembelian
melalui aplikasi e-commerce sebagai langkah one step shopping dalam aktivitas pembayaran ritel.
Selain manfaat diatas, program elektronifikasi transaksi di lingkungan pemerintah daerah diawali dengan penerbitan Instruksi Presiden Nomor 10 Tahun 2016 tentang Aksi Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi. Strategi nasional pencegahan korupsi antara lain dilakukan melalui pemberantasan transaksi tunai sebagaimana tertuang dalam Peraturan Presiden No.54 Tahun 2018. Salah satu besarnya kerugian negara diakibatkan adanya korupsi pada pemerintah daerah.
Menurut Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mencatat, kasus pidana korupsi sejak 2016 sampai Juni 2021 di pemerintahan daerah mencapai 58 persen dari total kasus yang ditangani KPK. Indonesian Corruption Watch (ICW) menilai Sumatera Utara menempati peringkat ketiga sebagai provinsi yang paling banyak terjadi kasus dugaan praktik korupsi dengan 49 kasus dan kerugian negara sekitar Rp 286 miliar. Salah satu penyebab menjamurnya korupsi di daerah adalah lemahnya pengawasan pemerintah pusat. Minimnya sistem check and balances mengakibatkan penyalahgunaan wewenang sering terjadi.
Dalam pengembangan serta perluasannya di lapangan, nyatanya masih ditemukan berbagai tantangan. Permasalahan klasik seperti keterbatasan infrastruktur dan jaringan masih menjadi kendala bagi sebagian pemerintah daerah, terutama yang berada di wilayah terpencil. Selain itu, masih rendahnya literasi masyarakat terhadap transaksi non tunai juga masih menjadi tantangan untuk mendorong penggunaan layanan pembayaran non tunai sehingga sampai saat ini peran ETPD dalam meningkatkan optimalisasi pendapatan asli daerah
belum dapat berjalan maksimal. Atas dasar permasalahan tersebut mendorong peneliti untuk melakukan penelitian sesuai dengan kemampuan dan pengetahuan peneliti, maka peneliti tertarik untuk menulis penelitian dengan judul “Analisis Percepatan dan Perluasan Implementasi Elektronifikasi Transaksi Pemerintahan Daerah Provinsi Sumatera Utara (Studi Pada Pemerintah Daerah Wilayah Kerja Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara)”.