DAFTAR LAMPIRAN
1 BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kesuksesan perempuan dalam berbagai bidang kehidupan patut dibanggakan akan tetapi apresiasi untuk mereka tidak sebanding dengan kontribusi yang telah mereka berikan. Para peneliti, misalnya, kurang memberikan perhatian proporsional pada kontribusi perempuan dan segala persoalan yang mereka hadapi dalam kehidupan domestik, sosial, dan politik, seolah-olah apa yang mereka lakukan dianggap sesuatu yang wajar terjadi atau taken for granted. Kontribusi perempuan dalam pembangunan kepariwisataan pun, seperti yang terjadi di Indonesia dianggap hal yang biasa,buktinya kurang banyak dikaji. Dalam konteks inilah, mudah dipahami mengapa Deklarasi United Nations Decade for Women (1976-1985) mendorong para peneliti untuk melakukan kajian-kajian tentang perempuan.
Pada awalnya, Deklarasi United Nations Decades for Women yangdiselenggarakan di Mexico city (1976) melalui World Conference International Year of Women oleh PBBitu menghasilkan deklarasi kesetaraan antara perempuan dan laki-laki.Deklarasi itu hendak dijadikan dasar untuk dikembangkan dan dijabarkan ke dalam berbagai program untuk pemberdayaan perempuan (Women Empowerment Program) lalu dikembangkan menjadi Women in Development(WID) (United Nations, 1976). Pada tahun 1980 di Copenhagen diselenggarakan kembali World Conference UN Mid Decade of Women yang
mengesahkan UN Convention on Elimination of All Forms of Discrimination Againts Women (CEDAW) yang isinya tentang peniadaan seluruh bentuk diskriminasi terhadap perempuan (United Nations, 1980)
Pada tahun 1985, World Conference on Result on Ten Years Movement, yang menghasilkan The Nairobi Looking Foward Strategies for the Advancement of Women yang bertujuan untuk mengkaji mengapa terjadi ketimpangan antara perempuan dan laki-laki dalam berbagai bidang kehidupan. Konferensi ini juga membentuk badan The United Nations Funds For Women (UNIFEM) untuk melakukan studi kegiatan gender secara international.Berdasarkan studi tersebut program Women in Development (WID) dikembangkan menjadi Women and Development (WAD) yang kemudian menjadi Gender and Development (GAD) yang merupakan paradigma hubungan kemitraan dan keharmonisan antara perempuan dan laki-laki. Kemitraan dan keharmonisan yang dimaksud adalah perempuan dan laki-laki di dunia industri dapat saling mendukung sehingga kesuksesan tercapai. Hasil-hasil Deklarasi ini cukup kuat menekankan bahwa dunia sangat memperhatikan perempuan diberbagai bidang serta mendukung agar perempuan dapat meningkatkan peranannya dalam membangun bangsa (United Nations, 1985).
Memberikan apresiasi yang tepat terhadap pencapaian perempuan dalam pembangunan bukan saja merupakan penghargaan atas haknya tetapi juga sebagai salah satu strategi pemberdayaan perempuan dalam konteks untuk lebih memotivasi mereka dalam bekerja dan mengabdi. Nyatanya, apresiasi demikian sangat kurang termasuk apa yang bisa dilihat di Bali.Perempuan Bali banyak
berkontribusi terhadap pembangunan pariwisata akan tetapi kurang apresiasi. Sebagai contoh, penganugerahan Karya Karana Pariwisata oleh Pemerintah Provinsi Bali melalui Dinas Pariwisata sejak tahun 2003. Anugerah ini diberikan setiap tahun kepada tokoh pariwisata Bali yang dinilai berhasil dalam tiga kategori yaitu sebagai pelopor, pengembang, dan pengabdi dalam kepariwisataan di Bali. Antara tahun 2003 sampai 2007, yakni dalam kurun waktu lima tahun, Pemerintah Provinsi Bali telah memberikan anugerah Karya Karana Pariwisata kepada 35 orang, sebagian besar laki-laki, faktanya hanya tiga tokoh perempuan yaitu I Wayan Taman (2004, pendiri biro perjalanan wisata Bali Indonesia Murni Ltd.), Makiko Iskandar (2006, Presiden Direktur Rama Tours), dan Ni Made Rempi (2006, perintis perhotelan asal Desa Kuta). Bila dibandingkan dengan jumlah tokoh pariwisata laki-laki, maka 3 perempuan tokoh pariwisata ini tidak sebanding dengan 32 tokoh laki-laki yang juga memperoleh penghargaan Karya Karana.
Penelitian ini mengkaji kontribusi perempuan Bali yang bergerak di bidang usaha kuliner dalam upaya mendukung perkembangan kepariwisataan Bali. Alasan penelelitian in adalah ketimpangan apresiasi terhadap prestasi perempuan seperti diuraikan di atas dan juga karena realitas berlanjut mengenai siginifikannya peran perempuan khususnya pengusaha kuliner lokal Bali dalam berbagai hal. Kenyataan menunjukkan ada banyak perempuan Bali yang sukses mengembangkan usahanya di bidang kepariwisataan dalam jangka waktu panjang dan membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat (Putra 2014). Minimnya jumlah perempuan yang mendapatkan anugerah Karya Karana Pariwisata
menunjukkan kurangnya apresiasi terhadap perempuan Bali yang terus dan telah sukses mengabdikan tenaga, keterampilan, dan keahliannya di bidang pariwisata. Sejak tahun 2008, anugerah Karya Karana Pariwisata tidak lagi diberikan, dengan alasan yang tidak jelas, padahal Perda 2/2012 tentang Kepariwisataan Budaya Bali pada Bab XI Pasal 29 menyebutkan:
Gubernur memberikan penghargaan kepada perseorangan, organisasi pariwisata, serta badan usaha yang berprestasi luar biasa atau berjasa besar dalam meningkatkan pembangunan, kepeloporan, dan pengabdian di bidang Kepariwisataan Budaya Bali.
Jika amanat Perda Kepariwisataan Budaya ini diterapkan, saatnya perhatian diberikan kepada perempuan yang telah tampil memberikan jasanya pada perkembangan kepariwisataan Bali.
Para peneliti sudah mulai memberikan perhatian padaperempuan dalam dunia kepariwisataan. Hal ini terjadi sejak tahun 1990-an yang tampaknya bisa dipahami sebagai imbas dari deklrasi perempuan badan internasional PBB dekade sebelumnya. Pelopor penelitian perempuan dalam bidang pariwisata dan bidang kehidupan lainnya dilakukan antropolog dari luar negeri seperti Miller dan Branson (1989), Kinnaird dan Hall (1994), Cukier, Norris, dan Wall (1996), Long Kindon (1997), Nakatani (1999). Sarjana Bali pun mulai meneliti tentang perempuan dalam pariwisata dan kehidupan sosial lainnya seperti Arjani (1998), Suryani (2003), Putra (2007), Astiti (2004), dan Widanti (2011).
Di satu sisi, perhatian para peneliti terhadap perempuan ini patut di apresiasi, pada saat yang sama perlu ditegaskan bahwa masih banyak hasil penelitian mereka yang mengungkapkan peran dan kontribusi perempuan dalam industri hanya saja fokus penelitian lebih banyak pada pekerja perempuan dan
problematika yang dihadapinya. Kajian tentang perempuan mulai bermunculan dan mereka mengungkapkan berbagai permasalahan-permasalahan yang dihadapi perempuan seperti perempuan yang bekerja sebagai buruh tani; perempuan dalam industri skala kecil; dampak negatif ideologi gender pada evaluasi kerja perempuan; tekanan dari kebijakan pembangunan nasional yang tidak hanya menentukan orientasi umum proses industri tetapi peran dan karakter perempuan (Nakatani,1999). Hasil-hasil penelitian tersebut secara umum menunjukkan perempuan masih sulit mencapai posisi sejajar dengan laki-laki terutama dalam bidang pekerjaan dengan berbagai latar belakang alasan yang mewarnai lemahnya kontribusi perempuan. Padahal, banyak perempuan yang menunjukkan peran sebagai pelopor pariwisata yang tidak kalah atau paling tidak mencapai posisi yang dapat dikatakan setara dengan laki-laki.
Awalnya kajian perempuan, termasuk penelitian-penelitian di Indonesia, mengkaji kasus-kasus terkait fenomena “domestication” (urusan yang bersifat domestik) dan housewifization (urusan perempuan sebagai istri), perjuangan emansipasi yang terpusat di Jawa (Suryakusuma, 2012). Para peneliti mengamati fenomena yang menunjukkan terjadinya perubahan utama dalam kegiatan perempuan dan persoalan-persoalan yang dihadapi perempuan. Pertama, para peneliti seperti (Grijns 1987; Ong 1987; Robinson 1998; Wolf 1992) mengungkapkan keterpinggiran perempuan dalam pekerjaannya dimana perempuan sebagai penghasil sumber pendapatan kedua atau non-utama dalam keluarga. Pemerintah Indonesia khususnya dengan sangat jelas mengkategorikan perempuan dalam dua bentuk peranan sebagai seorang ibu dan istri. Konsep ini
telah dikembangkan kedalam program yang disebut pembinaan kesejahteraan keluarga (PKK). Kedua, perempuan yang pada awalnya cenderung dikaitkan dengan peran domestik saja, secara perlahan kemudian diakui perannya dalam dunia industri sehingga menunjukkan adanya kesetaraan dengan laki-laki (Nakatani, 1999).
Widanti dalam bukunya Model Kebijakan Pemberdayaan Perempuan di Bali (2011) memfokuskan kajian pada ketidakadilan yang dialami perempuan dalam sistem ekonomi, politik, dan budaya. Secara leluasa perempuan disingkirkan dengan membangun dikotomi antara ranah publik dan ranah domestik. Ketika perempuan memasuki dunia kerja, sering mendapat pekerjaan yang sulit dan upah yang rendah. Tidak sedikit juga perempuan yang mengalami kekerasan dan pelecehan seksual. Dalam media pun perempuan digambarkan dengan citra makhluk yang cantik atau sensual saja. Jika perempuan bergelut dalam dunia bisnis beban penindasan disebut-sebut terhapus bahkan terkurangi karena citra yang terbentuk adalah perempuan kaya dan perempuan eksekutif namun citra perempuan berkelas dikatakan mempermudah perempuan untuk melakukan penindasan terhadap perempuan kelas bawah.
Minat sarjana untuk meneliti kesetaraan gender pada industri kepariwisataan mulai mengaplikasikan teori feminisme, yang sebelumnya banyak digunakan dalam mengkaji kedudukan perempuan dalam sosial dan politik. Penelitian mengenai gender dalam pariwisata yang muncul agak awal adalah studi oleh Vivian Kinnaird dan Dereck Hall (1994) yang mendefinisikan gender dalam pariwisata melalui sudut pandang pengembangan pariwisata dimana
pengembangan pariwisata memiliki pengaruh yang signifikan dalam perubahan sosial dan merupakan perwujudan dari praktek-praktek sosial yang terjadi di masyarakat.
Industri pariwisata adalah salah satu sektor jasa yang perkembangannya sangat pesat dan menjadi sumber devisa kedua didunia setelah industri minyak. Industri pariwisata juga telah membuka peluang besar bagi perempuan di dunia untuk ikut berperan dalam pengembangannya seperti yang disampaikan oleh UNWTO pada peringatan Hari Pariwisata sedunia 27 September 2007 dengan mengangkat tema Tourism Opens Doors for Women (pariwisata membuka pintu-pintu bagi perempuan). Pada konferensi ini terdapat dua hal penting yang ditetapkan. Pertama, pariwisata dapat meningkatkan kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan, pemerintahan dan organisasi terkait pariwisata berkomitmen untuk kesetaraan gender yang ditetapkan dengan serangkaian proses pembentukan kebijakan yang akan mengatur perempuan dan laki-laki di industri pariwisata. Kedua, perhatian besar akan diberikan pada perempuan, status dan upah rendah dalam pariwisata menyebabkan kontribusi mereka tidak dirasakan manfaatnya. Memberdayakan perempuan untuk berpartisipasi dalam perekonomian sangat diperlukan penting dalam memperkuat perekonomian.
Walaupun sesungguhnya kepariwisataan telah membuka pintu pada perempuan sejak awal tumbuhnya industri ini, bukan berarti pilihan tema UNWTO tahun 2007 terlambat waktunya, tetapi harus dilihat sebagai usaha terus-menerus untuk mengakui kontribusi dari perempuan dalam industri kepariwisataan. Belakangan, pengakuan terhadap kontribusi perempuan dalam
perkembangan kepariwisataan mulai bermunculan. Kumari (2014) menyatakan peran perempuan diakui sangat penting dan berkontribusi dalam pengembangan industri pariwisata dengan cara mereka yang unik yakni sesuai karakter mereka pada dunia kerja domestik dan kerja hospitaliti. Perempuan dianggap sangat tulus, berdedikasi dan berkomitmen, mampu mengerjakan berbagai hal dengan mudah bahkan lebih baik dari laki-laki. Industri pariwisata, seperti disampaikan Rani (2013), menjadi sektor penting bagi perempuan. Persentase perempuan yang bekerja pada industri pariwisatadi seluruh dunia secara keseluruhan mencapai 46 persen. Persentase ini pada kenyataannya lebih tinggi daripada di industri lainnya yang hanyamencapai 34,40 persen (Rani 2013:1).
Perkembangan kepariwisataan dan keterlibatan perempuan di dalamnya berlangsung dalam dinamika mutualistik, di satu pihak semakin banyak perempuan mendapat pekerjaan dari industri kepariwisataan, pada saat yang sama semakin nyata dukungan perempuan untuk keberlanjutan pariwisata yang menyediakan lowongan pekerjaan untuk mereka. Data dari Badan Pusat Statistika (BPS) Provinsi Bali 2015 menunjukkan bahwa di Bali, perempuan yang bekerja pada jenis usaha perdagangan, hotel, dan rumah makan berjumlah 355.178 orang sedangkan laki-laki berjumlah 303.134 orang. Jumlah tersebut semakin menegaskan bahwa perempuan lebih banyak diserap sebagai tenaga kerja pada industri pariwisata. Fakta ini tidak saja menunjukkan bahwa pariwisata menjadi sangat penting bagi perempuan, tetapi perempuan turut serta mewarnai industri pariwisata, tidak saja sebagai pekerja tetapi juga sebagai manajer dan bahkan pengusaha.
Hal serupa diungkapkan pada survei yang dilakukan majalah International New York Times yang berjudul “Women in Hospitality and Tourism” (2014:14) menyebutkan sebuah perusahaan akan sukses bila perempuan yang menjadi pemimpinnya, sepuluh tahun tahun kedepan hampir 55 persen pekerjaan sektor pariwisata akan dikuasai oleh perempuan. Hal ini disebabkan semakin banyak perempuan yang merupakan lulusan universitas dengan standar pendidikan yang terbaik di dunia dan diprediksi hampir satu juta perempuan di dunia mendominasi dunia pekerjaan.
Pernyataan diatas akan menjadi berbeda artinya apabila posisi perempuan dalam pekerjaannya dikaitkan dengan “piramida gender” yang dalam hal ini menganggap perempuan memiliki prospek kedepan yang rendah sebatas sebagai pekerjalevel menengah ke bawah dibandingkan dengan laki-laki. Jenis pekerjaan perempuan di industri pariwisata dibagi menjadi dua golongan yaitu horizontal dan vertikal.
Horizontally, women are being employed as waitressess, chambermaids, cleaners, travel agencies sales person, flight attendances, etc. Vertically, the typical gender pyramid is prevalend in the tourism sector-lower levels and occupation with view career development opportunities being dominated by women and key managerial posisition being dominated by men (Rani,2013:1)
Seperti dalam kutipan diatas, Rani (2013) menegaskan bahwa secara horisontal jenis pekerjaan perempuan dalam industri pariwisata adalah sebagai pelayan direstoran, pelayan kamar, bagian penjualan dari biro perjalanan pariwisata, pramugari, dan lain-lainnya. Secara vertikal dalam piramida gender, perempuan lazimnya berpeluang dalam pengembangan karir yang terbatassedangkan laki-laki lebih mendominasi posisi manajerial. Fenomena
terbatasnya karier perempuan dalam pariwisata merupakan refleksi dari keadaan serupa di profesi bidang lainnya. Dalam pariwisata kondisinya penuh kontras karena jumlah perempuan yang bekerja di sektor ini cukup besar, sementara posisi manajerial ke atas bagi mereka sangat terbatas karena didominasi pekerja laki-laki.
Pariwisata dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk mengungkapkan citra dan fakta kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan pada tingkat rumah tangga, masyarakat, nasional, dan global. Pada saat yang sama, semakin baik kesetaraan gender yang terjadi maka akan berkontribusi pada kualitas pengalaman wisatawan, yang berdampak besar pada keuntungan dan aspek-aspek dalam industri pariwisata. Pariwisata berpotensi sebagai sarana untuk memberdayakan perempuan dengan menyediakan peluang kepada perempuan untuk berpartisipasi dalam dunia kerja, kewirausahaan, kepemimpinan dan menawarkan jalan tengah kepada perempuan untuk sukses (UNWTO, 2011).Perempuan sangat terampil dalam dunia hospitality karena urusan ini merupakan bagian dari urusan domestik yang merupakan aktivitas sehari-hari perempuan. Jika perempuan diberikan kesempatan berkarier diruang publik seperti di bidang industri hospitality ini, kompetensi mereka tidak perlu diragukan lagi.
Posisi perempuan dalam dunia pariwisata mengalami pergeseran sesuai dengan perjalanan waktu dan perkembangan industri ini. Dalam perkembangan kepariwisataan di Bali, era 1970-an perempuan dalam industri pariwisata hanya dapat dijumpai pada sektor-sektor tertentu namun sekarang perempuan dapat ditemukan pada sektor pariwisata apapun mulai dari kementerian pariwisata di
berbagai negara, manajer pada hotel-hotel besar, melayani proses pembuatan visa, agen perjalanan wisata, dan banyak dari mereka adalah pemilik dan pengelola dalam industri pariwisata (Kumari,2014).
Keterlibatan perempuan dalam dunia pariwisata, khususnya dibidang kewirausahaan turut diungkapkan oleh Adhiti (2003) yang menyatakan perempuan membuka usaha-usaha berskala kecil seperti berjualan souvenir, pedagang makanan dan minuman yang dapat menambah penghasilan suami dan memenuhi kebutuhan keluarga. Berwirausaha yang dilakukan oleh perempuan menurut Misango dan Ongiti (2013) juga dapat mengurangi kemiskinan dan juga berdampak positif bagi perempuan karena dapat meningkatkan kemampuan diri dalam mengelola usahanya. Nakatami (1999) dalam penelitiannya pada tukang atau pengrajin songket di Sidemen, Karangasem, menunjukkan pentingnya posisi perempuan sebagai sumber pendapatan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, baik kebutuhan sehari-hari maupun kebutuhan biaya upacara yang sambung-menyambung.
Kontribusi perempuan dalam pengembangan industri pariwisata sangat penting karena perempuan memiliki fungsi yang sama dalam rumah tangga dengan sebutan “ibu rumah tangga”. Perempuan memiliki tanggung jawab yang besar untuk keberlangsungan rumah tangganya dan hal ini tidak ada bedanya dengan posisi perempuan di industri pariwisata. Pada artikel yang berjudul “Empat Srikandi di Kuliner Bali: Peran Perempuan dalam Pembangunan Pariwisata Berkelanjutan” (Putra, 2014), ditunjukkan fakta adanya sejumlah perempuan Bali yang tampil sebagai srikandi yang berhasil menggali,
mengembangkan kuliner-kuliner Bali, dan menawarkannya ke dunia pariwisata. Istilah “srikandi” yang dipakai di sini bermakna “pahlawan” atau orang yang berusaha keras berjuang dan “berhasil” dalam memperkenalkan kuliner Bali ke dunia pariwisata yang diminati wisatawan dan juga membanggakan masyarakatnya. Yang termasuk dalam barisan srikandi ini adalah Ibu Oka (pedagang nasi babi guling di Ubud), Made Masih (pemilik Made‟s Warung, Kuta-Seminyak), Ny Warti Buleleng (Katering Bu Buleleng), dan Men Tempeh (almarhum, penemu ayam betutu gilimanuk) (Putra 2014:68). Dalam kajiannya, Putra (2014) berkesimpulan:
Kesuksesan perempuan Bali sebagai pioner dalam industri pariwisata adalah perempuan Bali yang semakin inovatif dan kreatif dalam mengembangkan industri pariwisataterkait dengan karakteristik kegiatan perempuan secara tradisional. Perempuan bekerja di dunia publik tetapi bidang yang ditekuninya berkaitan dengan masak-memasak, pelayanan, dan hospitality. Kontribusi perempuan Bali dalam industri pariwisata memang sangat penting terbukti dengan adanya sejarah-sejarah yang mengungkapkan bahwa pada saat itu selain sebagai daya tarik Pulau Bali perempuan juga memberikan sumbangan pada perkembangan pariwisata. Pada makalah yang disampaikan Putra (2012) dengan judul “The Role of Creative Women in Bali‟s Tourism Development” tercatat perempuan Bali yang berkontribusi dalam pengembangan pariwisata sejak tahun 1930 misalnya Anak Agung Mirah Astuti Kompiang (bidang jasa perhotelan) beliau adalah perempuan Bali yang mengelola usaha jasa akomodasi “Segara Village Hotel” sejak tahun 1956. Ni Pollok, yang merupakan istri pelukis termasyur Le Mayeur dan juga seorang penari Bali yang dalam penampilannya di Singapura telah mempromosikan kesenian Bali pada tahun
1932. Seorang perempuan Amerika kelahiran Skotlandia datang ke Bali pada tahun 1932 diadopsi oleh Raja Bangli dan diberi nama K‟tut Tantri yang mendirikan hotel pertama di Kuta “Suara Segara” sekarang Inna Kuta Beach (Vickers,1989; Picard,2006). Tantri kenal dengan Ni Made Rempi di Kuta dan Rempi mengatakan dia mendapat inspirasi dari K‟tut Tantri mendirikan hotel di Kuta (Karya Karana Pariwisata, 2007).
Sedikit mengulas tentang perjuangan perempuan Bali, tahun 1930-an adalah tahun penting bagi perempuan Bali, tidak saja mulai dikenal di dunia pariwisata tapi pada tahun ini dianggap sebagai awal permulaan perempuan Bali menunjukkan diri dalam gerakan sosial menentang ketidak adilan gender. Di tahun 1950-an, Putra (2007), mengungkapkan bahwa perempuan Bali mulai mengalami “krisis” dampak dari modernitas. Citra perempuan pada era ini sangat negatif karena pengaruh gaya barat seperti pergaulan bebas sehingga situasinya dianggap mengkhawatirkan. Tetapi perkembangannya tidak seburuk itu karena tidak semua perempuan Bali kenyataannya seperti itu. Citra perempuan yang kala itu terkesan negatif tidak menghalangi perempuan Bali tetap berjuang untuk kesetaraan dirinya dengan mencerdaskan diri dan berkarya diberbagai bidang.
Kini banyak perempuan yang sukses menjadi pengusaha dan berhasil memposisikan dirinya dalam kehidupan berkeluarga karena fleksibilitas perempuan dirumah tangga ataupun pekerjaannya. Tidak hanya kreatifitasnya, perempuan Bali juga mampu berinovasi dalam mengembangkan produk-produk lokal yang diminati wisatawan khususnya perawatan kecantikan. Krause (1998),
dalam Picard (2006:40) mengeskpresikan kekaguman pada kecantikan perempuan Bali adalah sebagai berikut:
Perempuan Bali sangat cantik, secantik yang dapat kita bayangkan; kecantikan itu anggun dan sederhana secara fisiologis, penuh kemuliaan dari Timur dan kesucian alami.
Lebih lanjut Picard (2006) mengungkapkan kecantikan perempuan Bali bahkan sudah terkenal sejak abad ke-20 yang diterbitkan dalam sejumlah buku oleh Miguel Covarrubias dan Vicki Baum yaitu Tale from Bali (1937), Island of Bali (1937). Covarrubias juga mengungkapkan sosok “puteri” Bali bernama Fatimah yang pada saat itu telah memiliki usaha kain, perak dan kendaraan untuk disewakan bagi para wisatawan.
Dulu perempuan lebih banyak bekerja di sektor informal yang tidak memerlukan ketrampilan khusus. Berbeda dengan perempuan sekarang yang pada era global ini lebih banyak berjuang untuk menyatakan diri dalam berbagai posisi di Industri pariwisata dan berani menunjukkan diri sebagai pemimpin. Tidak sedikit perempuan kini yang telah berhasil menjadi pioner dalam industri pariwisata dan berhasil meningkatkan pemberdayaan perempuan sebagai tenaga kerja terampil dalam industri ini. Perempuan juga membentuk asosiasi profesi yang anggotanya khusus perempuan seperti Ikatakan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) dan Ikatan Wanita Pariwisata (IWATA), organisasi profesi yang menunjukkan pentingnya kontribusi perempuan dalam dunia usaha pada umumnya dan dunia hospitality pada khususnya.
Perempuan di Bali khususnya, memiliki potensi besar untuk berkontribusi dalam penyelenggaraan pelestarian dan pengembangan budaya serta pariwisata.
Hanya saja keadaan perempuan pada kenyataannya tetap tertinggal dibandingkan laki-laki. Hal ini disebabkan oleh kondisi sosial budaya yang seringkali merupakan hambatan bagi perempuan untuk mengembangkan dirinya supaya dapat sejajar dengan laki-laki di Industri pariwisata. Oleh karena itu, perempuan perlu diberdayakan agar terus dapat berkontribusi serta secara optimal sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Perempuan juga harus meningkatkan kualitas diri melalui pendidikan, meningkatkan rasa percaya diri dan kemandirinya. Berbagai ketrampilan misalnya membuat makanan dan minuman tradisional juga dilirik menjadi peluang kerja karena aneka makanan dan minuman tradisional sekarang diminati oleh wisatawan (Astiti, 2001).
Dalam pengembangan makanan dan minuman tradisional sebagai bisnis restoran dan warung makan, Rumadana (2013) menyatakan sampai saat ini keadaannya masih jalan ditempat, maksudnya pertumbuhan restoran dan warung makan yang dibangun tetapi produk yang dijual bukan makanan tradisional Bali melainkan makanan Korea, India, China, dan Italy. Hidangan khas Bali belum berperan secara berarti dalam pariwisata Bali. Demikian pula dengan makanan cepat saji produk Amerika dimana masyarakat Bali hanya berperan sebagai karyawan perusahaan tersebut. Jadi masyarakat Bali tidak memegang posisi indutri jasa boga ini.
Diketahui beberapa warung makan dan restoran yang terletak pada wilayah Sanur, Kuta, dan Ubud selalu didatangi oleh wisatawan dan beberapa sudah berdiri empat puluh tahun lamanya. Warung makan tersebut didirikan dan dikelola pada awalnya oleh perempuan-perempuan yang berani mengangkat
kegiatan domestik perempuan sebagai bagian dari industri pariwisata.