BAB III LEMBAGA SENSOR FILM
2. Latar Belakang Berdirinya Lembaga Sensor Film
Kebijakan dalam bentuk peraturan perundang-undangan menyangkut pemeberlakuan sensor film di Indonesia mempunyai sejraha yang panjang. Yaitu pada tahun 1916, sekitar 16 tahun sejak pertama kali ada film dipertunjukan di Indonesia. Sebagai perbandingan, lembaga senosr muncul pertama di Inggris (1909), Swedia (1911) dan Amerika (1915). Di Indonesia yang waktu itu bernam Hindia Belanda dicetuskan tahun 1912, tetapi baru terwujud pada tahun 1918.41
Pada tahun 1916 itu Pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan Ordonais Film: (a) No 276 tentang Pegawasan Pertunjukan, (b) No 277 tentang Pengawasan
40
JB.Kristanto,Katalog Film Indonesia.Jakarta:Penerbit Nalar,2005,h.55
41
Pertunjukan di Batavia, Semarang, Surabaya, dan Medan. Di kota-kota tersebut dibentuk Komisi Sensor Film dengan tugas meneyeleksi film-film yang masuk ke wilayah Hindia Belanda, dengan tujuan agar menjaga citra orang Belanda dan tingkah laku burk yang ditampilkan dalam film. Sensor diberlakukan dengan cara menolak pemutaran atau melalui pengguntingan/pemotongan film.42
Motivasi yang menyebabkan munculnya kebijakan pemerintah mengenai Komisi Sensor Film tahun 1961 ini juga dikarenakan banyaknya film cerita bisu yang masuk ke Hindia Belanda yang isi dan gambarnya memperlihatkan prilaku hidup orang Barat yang penuh dengan perkelahian, pembunuhan perkosaan, dan kebebasan seks.43
Selanjutnya kronologis dasar hukum pemberlakuan sensor film semasa Pemerintahan Hindia Belanda bisa dirunut sebagai berikut:
Tahun 1919 dikeluarkan (a) Ordonansi Film No. 377 tentang Bioskop, (b) Ordonansi Film No. 378 tentang Hukum dan Meterai Bioskop, (c) Ordonansi Film No. 742 tentang Batasan Usia penonton. Pada masa ini ada tiga klasifikasi sensor yakni lolos sensor, lolos sementara, penolakan pemutaran. Tahun 1925 dikeluarkan Ordonansi Film 668 tentang Film-film yang boleh dipertunjukan di bioskop. Tahun 1926 dikeluarkan Ordonansi Film No 7 tentang Perubahan Ordonansi Film 1925, yang selanjutnya disempurnakan pada athun 1930 melalui
42
Bambang Irawanto, Menguak Peta Perfilman Indonesia, Kementriaan Kebudayaan dan Pariwisata,2004,hal 40-41.
43
M Sarief Arief, Manimbang Kahariady, Yayan Hadiyat, Permasalahan Sensor dan Pertanggungjawaban Etika Produksi, BP2N, 1997, hal 57.
dikeluarkannya Ordonansi Film No 447 tentang perubahan dan Penyempurnaan Ordonansi Film 1926.
Pemerintah Hindia Belanda pada masa itu menjalankan Politik Etis terhadap bumi putera, berusaha mengangkat inlander, maka sensor menggunting adegan nyonya-nyonya dalam busana malam, ratu-ratu kencantikan di pantai, tangan dan betis yang telanjang, adegan ciuman, adegan kaum wanita melakukan senam. Selanjutnya tiap adegan yang ada pisau (kecuali pisau dapur) di gunting, tiappencurian rumah ditolak. Adegan-adegan pemberontakan digunting tanpa ampun. Jelaslah sensor Hindia Belanda terutama melihat bahaya dalam pelecehan gengsi orang Eropa dan terutama wanita Eropa. Yang pasti film tidka boleh menimbullkan dorongan dan kecendrungan memberontak dan melakukan tindakan kekerasan pada penduduk pribumi.44
Sejak saat itu lembaga sensor dianggap momok, soal judul juga disensor. Film lari ka arab (1930) tadinya berjudul Lari ka Mekah (ka=ke). Soalnya Mekah adalah kota suci orang Islam. Begitu pula dengan Kartinah (1940) dari The Teng Chun (1902-1977) semula adalah kartini.45
Tahun 1942 Pemerintah Militer jepang mengubah Komisi Film (de Film Commissie) menjadi Hodohan Nippon Sidosho (Pusat Kebudayaan dan Propaganda Pemerintahan Militer Jepang di Indonesia). Lembaga ini anatarta lain berfungsi sebagai lembaga peneyensoran terhadap pemutaran film-film produksi Jepang. Di masa pendudukan Jepang (1942-1945) sensor amat ketat. Perusahaan
44
Rosihan Anwar, Sensor Film di Zaman Penjajahan. Suara Karya, Sinematek Indonesia, 24 Agustus 1992.
45
film swasta ditutup, peralatannya disita. Pembikinan film (propaganda) dikuasai penuh oleh Jepang, biar sandiwara digalakan, dengan pemainnya kebanyakan orang-orang film tapi naskah harus tertulis dan diperiksakan dulu ke pihak yang berwajib.46
Pada 5 September 1946, setahun setelah proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, Pemerintah republik Indonesia membentuk Komisi Pemeriksaan Film, sebulan kemudian dirumuskan garis-garis besar dan wewenang badan sensor dengan ketentuan Kewajiban Badan Sensor ialah menyensor segala macam penerbitan, siaran, percetakan, poster, plakat, semboyan, potret, klise, sandiwara, surat dengan perantaraan pos dan kawat, dan pembicaraan-pembicaraan dengan perantaraan telepon.47
Pada 21 Maret 1950 dibentuk Panitia Pengawas Film (PPF), dengan anggota sebanyak 32 orang, dan berada di bawah Kementriaan (Departemen) Dalam Negeri. Selanjutnya pada 28 November 1951 dipindahkan ke Kementriaan Pengajaran, Pendidikan, dan Kebudayaan (PP dan K) lewat peraturan pemerintah (PP) No. 23/1951. Selanjutnya melalui Penpres No.1 (5 Maret) 1964, PPF berada di bawah Kementriaan (Departemen) Penerangan. Hal itu dipertegas melalui SK Menpen No.46 (21 Mei) 1965, dan diberi nama Badan Sensor Film (BSF).
Dalam Bab IX Tentang Ketentuan Peralihan, disebutkan pasal 17 hal-hal yang tidak diatur dengan tegas oleh peratutan ini diselesaikan dengan berpedoman
46
M Sarief Arief, Manimbang Kahariady, Yayan Hadiyat, Permasalahan Sensor dan Pertanggungjawaban Etika Produksi, BP2N, 1997, hal 95.
47
M Sarief Arief, Manimbang Kahariady, Yayan Hadiyat, Permasalahan Sensor dan Pertanggungjawaban Etika Produksi, BP2N, 1997, hal 101.
kepada film Ordonantie 1940 dan lain-lain peraturan tersendiri, sementara menunggu adanya Undang-undang Perfilman. Dengan begitu Ordonansi 1940 masih merupakan landasan hukum yang dipergunakan untuk kebijakan sensor film di Indonesia.48
BSF berada dalam lingkungan Departemen Penerangan sepanjang periode 1993-1995. Pada periode tersebut, lahir UU No.8/1992 tentang Perfilman dimana disebutkan lembaga sensor film tidak lagi BSF melainkan berubah menjadi Lembaga Sensor Film (LSF) dengan anggota diangkat berdasar Keputusan Presiden yang mulai berlaku 1995. Pada tahun 1999 ketika Departemen Penerangan dibubarkan oleh pemerintahan pimpinan Presiden Abdurrachman Wahid. LSF ditempatkan dalam lingkungan Departemen Pendidikan Nasional, selanjutnya pada tahun 2000 ditempatkan di lingkungan Kementriaan Kebudayaan dan Pariwisata pada tahun 2005 sampai sekarang dan LSF tetap berada di lingkungannya.
Dasar hukum pemberlakuan sensor film di Indonesia yang sekarang ini, tertuang dalam Bab V tentang Sensor Film UU No. 8 tahun 1992 tentang perfilman, meliputi pasal 33 dan pasal 34. Lalu ada hasil revisi yang terbaru pada UU No 33 tahun 2009 tentang Perfilman. Sedangkan mengenai Lembaga Sensor Film sebagai lembaga yang berwenang melakukan penyensoran, dasar hukumnya adalah peraturan pemerintah Nomor 7 tahun 1994. Diuraikan disana bahwa
48
Lembaga Sensor Film adalah lembaga non struktural yang dibentuk pemeintah yang berkedudukan di ibukota Negara Republik Indonesia.49