BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.10 Interaksi Sosial Warga Binaan Dalam Kelompok Yang
4.11.2 Interaksi Sosial Warga Binaan Penduduk Setempat
Suatu Lembaga permasyarakatan tidak dapat dipisahkan dengan adanya warga binaan, sebagaimana tujuan dari terbentuknya LP itu sendiri ialah untuk membina dan meresosialisasikan pelaku kejahatan sebelum dikembalikan kedalam masyarakat. Warga binaan yang berada di dalam LP kelas II/A Pematang Siantar pada dasarnya dikategorikan berdasarkan jenis pelanggaran dan ditempatkan di dalam sel warga binaan berdasarkan kasus pelanggaran hukumnya tersebut. Namun melalui proses interaksi sosial yang terjadi di dalam LP, secara tidak langsung warga binaan mengelompokkan dirinya kedalam dua kelompok, yaitu kelompok PS (penduduk setempat) dan Kelompok pendatang (warga binaan kiriman).
Kelompok PS adalah warga binaan yang berasal dan berdomisili dari wilayah Siantar-Simalungun dan tidak merupakan warga binaan kiriman, artinya ketika menjadi tahanan kemudian divonis menjadi warga binaan mereka sudah ditempatkan diLP kelas II/A Pematang Siantar. Sedangkan kelompok warga binaan kiriman adalah para warga binaan yang merupakan kiriman dari lembaga permasyarakatan yang lain, yang proses pengiriman warga binaan ini dapat terjadi karena kelebihan kapasitas dilembaga sebelumnya atau pengiriman dilakukan sebagai bentuk sanksi kepada warga binaan tersebut.
Kelompok PS dan kelompok kiriman yang ada di dalam LP pada dasarnya bukanlah kelompok sosial yang dijalankan secara terorganisir dan terstruktur, namun kelompok tersebut lahir atas rasa solidaritas yang dilandaskan atas dasar asal usul daerah yang sama, yaitu berasal dari Siantar Simalungun. Kehadiran kelompok atau genk di dalam LP dianggap petugas permasyarakatan sebagai musuh dan harus dimusnahkan, hal tersebut sebagai upaya untuk menghindari terjadinya aksi pembangkangan dan perlawan serta kerusuhan secara massal dari warga binaan, baik antara sesama warga binaan maupun antara warga binaan permasyarakatan dengan petugas permasyarakatan. mengingat perbandingan jumlah warga binaan serta para tahanan dengan petugas permasyarakatan (sipir) yang bertugas setiap harinya tidaklah seimbang.
Dalam proses interaksi sosial yang terjadi sehari-hari, kelompok penduduk setempat (PS) dengan kelompok warga binaan kiriman pada dasarnya sulit untuk dibedakan secara langsung. Dalam aktivitasnya sehari-hari, warga binaan tidak membentuk grup atau perkumpulan-perkumpulan, baik di dalam sel ataupun di halaman LP, karena pada umumnya seluruh warga binaan berupaya untuk saling membaurkan diri satu sama lainnya, dengan tidak ingin menarik perhatian petugas permasyarakatan dengan adanya kelompok-kelompok di dalam LP. Sebagaimana peraturan yang melarang adanya kelompok-kelompok sosial atau genk atas dasar apapun, baik marga, agama, kedaerahan dan lain-lain di dalam LP. Warga binaan diharuskan untuk mampu saling membaurkan diri satu dengan yang lainnya, baik di dalam sel warga binaan maupun di dalam blok permasyarakatan. Sebagaimana yang disampaikan oleh bapak Danielpin Damanik, yaitu:
“Kelompok-kelompok yang ada di dalam penjara pak pada umumnya didasarkan atas nama blok sama kamar pak, tapi kalau dilihat secara langsung itu tidak kelihatan pak, bahkan itu ngak ada. Karna itu memang bukanlah kelompok atau genk, cuma karna udah kompak solid jadi macam keluarga lah pak biasanya satu kamar narapidana.
Baru ada kelompok ps sama kiriman pak, kelompok ps itu kelompok penduduk setempat lah pak, orang-orang siantar. Tapi kelompok itu muncul pas ada masalahnya, baru muncul ini pak. misalnya ps sama pendatanglah pak, muncul kalau ada keributan, misalnya kalau ribut orang Siantar sama orang dari Sibolga atau napi kiriman pak. nanti secara langsung berkumpul ini semua yang satu daerah (anak Siantar) korbanlah pendatang ini.”
Kelompok PS dan kelompok kiriman terbentuk atas dasar rasa solidaritas sebagai suatu warga binaan yang berasal dari daerah yang sama, keduanya akan dapat dikenali ketika terjadi pertikaian antar dua warga binaan yang berasal dari dua daerah yang berbeda. Misalnya, terjadi perkelahian oleh dua orang warga binaan, satu berasal dari kota Siantar Simalungun dan satu lagi berasal dari luar kota Siantar-Simalungun, ketika perkelahian terjadi, secara langsung hal tersebut akan menjadi tontonan dan mengundang perhatian warga binaan lainnya, dengan didasari atas rasa solidaritas yang berasal dari satu daerah yang sama, warga binaan secara langsung membentuk kubu-kubu tertentu dalam jumlah besar, namun pembentukan kubu (kerumunan massa dalam jumlah besar) pada umumnya hanya dilakukan oleh kelompok PS. Sedangkan warga binaan kiriman lainnya berupaya untuk menghindar dan tidak ingin terlibat dalam permasalahan yang terjadi.
Kelompok PS diuntungkan dengan jumlah warga binaan yang didominasi warga binaan yang berasal dari daerah Siantar-Simalungun, sehingga secara tidak langsung kelompok PS merupakan kelompok dengan jumlah massa yang sangat besar. Kedekatan wilayah dan kultur budaya yang hampir sama, dimanfaatkan sesama warga binaan PS dalam mempermudah membangun jaringan interaksi
sosial yang intensif. Ciri-ciri dari warga binaan penduduk setempat pada umumnya dapat dikenali dari sikap yang lebih leluasa, berbicara sesuka hati namun canderung menggunakan caci makian sebagai bentuk kedekatan satu sama lain, dan lebih aktif bergerak di dalam LP. Seperti hal yang disampaikan oleh bapak Dedi Irawan, warga binaan kiriman yaitu:
“Kelompok yang ada didalam penjara ini pak, kelompok orang-orang sinilah, sama kelompok orang-orang kiriman pak. Biasanya kalau orang-orang sini pak lebih lelusanya didalam penjara, maklumlah seperti pemilik rumah sendirinya didalam pak kalau orang-orang sini.
Ia, karna kenalannya didalampun sudah pasti lebih banyaklah pak, baik satu marga, satu kampung atau kenalan udah pastilah itu pak.
biasanya gampang nya mengenali orang ini pak, kalau ngomongnya udah dicampur-campur sama caci maki, oh udah orang siantar lah itu pak, ngak usah dicampuri. Ya kalau kiriman diam ajalah kebanyakan didalam kamar pak, kalau ngak jumpa atau bergaul sama orang sepengiriman, tapi biasanya pak membaurnya sama orang-orang siantar, orang-orang-orang-orang sinipun sebenarnya ngak pala pedulinya dan ngak mau tau sama kita pak, Cuma kalau udah ada masalah, keluarlah itu semua pak”
Warga binaan PS dalam kesehariannya memiliki pergerakan yang lebih leluasa di dalam LP dan itu dapat terjadi karena penduduk setempat lebih banyak memiliki kenalan yang tersebar diseluruh sel maupun blok warga binaan, yaitu sesama warga binaan yang berasal dari kota Siantar-simalungun. Munculnya istilah kelompok PS merupakan salah satu cara untuk medapatkan rasa aman maupun perlindungan, dimana secara tidak langsung warga binaan yang berasal dari Kota Siantar Simalungun atau PS lebih saling menghormati dan menyegani satu sama lainnya jika dibandingkan dengan warga binaan kiriman.
Secara tidak langsung warga binaan kiriman dianggap sebagai warga binaan paling lemah dan sering dijadikan sebagai bulan-bulanan oleh para warga binaan tanpa sepengetahuan petugas permasyarakatan. Sebagai warga binaan kiriman,
sebagaimana telah diuraikan di atas, ketika memasuki LP yang baru, warga binaan kiriman wajib memulai segala sesuatunya dari nol di dalam sel. Selain wajib menjalani pengenalan LP melalui ruang isolasi ketika pertama dikirim, warga binaan kiriman juga mengalami tekan secara fisik maupun mental di dalam mengawali interaksi sosial dalam sel baru dimana ia ditempatkan.
Warga binaan kiriman kerap kali dijadikan bulan-bulanan oleh PS, untuk dimanfaatkan demi mendapatkan keuntungan bersama. Proses terjadinya tindakan memanfaatkan warga binaan kiriman hampir sama dengan cara “konsep” yang dilakukan oleh warga binaan di dalam sel. Pertamanya, kelompok warga binaan PS akan mencoba menciptakan permasalahan dengan warga binaan kiriman, lalu memperpanjang permasalahan yang ada hingga mengundang perhatian warga binaan lainnya. Setelah itu kelompok warga binaan PS akan secara bersama-sama mengintimidasi warga binaan kiriman secara beramai-ramai, sehingga terjadi ketidak seimbangan jumlah. Pada kesempatan inilah kelompok PS akan memanfaatkan keadaan dengan cara menawarkan perdamaian yang diikuti dengan pemenuhan permintaan baik berupa uang, minuman, makanan maupun rokok yang harus dituruti oleh siwarga binaan kiriman tersebut, jika ingin menyelesaikan permasalahan yang ada.
Secara tidak langsung, mau tidak mau ketika sudah terjebak dalam perangkap “konsep” tidak ada alasan lain untuk menghindar, selain mengikuti dan mencoba mencari jalan damai. Warga binaan kiriman secara sadar menyadari, ketika semakin melakukan perlawanan terhadap PS maka akan semakin banyak pertikaian yang dihadapinya dikemudian hari, baik secara fisik maupun secara non-fisik. Dalam kondisi tersebut, setiap warga binaan menyadari tidak banyak hal
yang dapat dilakukan, bahkan untuk melaporkan kepada petugas permasyarakatan hanya akan memperburuk keadaan, selain kedua belah pihak yang akan mendapatkan hukuman trapsel dari petugas permasyarakatan, yang mengadu kepada petugas akan dianggap sebagai pengecut/gibus dan akan terus-menerus dimusuhi oleh seluruh warga binaan. Seperti yang disampaikan oleh bapak Saiman bin Ridwan, yaitu:
“Di dalam ada dua kelompok pak, tapi itu ngak kelihatan dan memang sama sekali bukan seperti kelompok yang ada pemimpinnya atau bosnya pak. kan kita itu ngak diperbolehkan ada komunitas, grup atau geng-geng didalam pak sama petugas, kalau ada langsung diculiki itu orangnya lalu dipidahkan (dikirim pak). Cuma didalam ada kelompok penduduk setempat sama kiriman pak, kelompok ini ngak kelihatan tapi terasa pak, memang ini ngak ada bos nya cuma ini pengkotak-kotakan secara tidak langsung oleh sesama napi pak. ya kalau ps, nampaklah pak, sok jago, sok gaul, sok akrap, sok-sok an lah, walaupun ngak semuanya ya pak. kalau kiriman ya nampaklah diam-diam aja, dikamar aja itu keseringan pak. ini muncul kalau ada masalah pak, masuk dikonsep lah ini, cemmanalah biar diperas orang-orang lemah pak, disitulah nampak mana ps mana kiriman pak.”
Interaksi sosial antar warga binaan yang berlangsung di dalam LP terjadi sesuai kemauan dari sipelaku interaksi itu sendiri, dalam hal ini yang dimaksud adalah interaksi yang terjadi murni dari kemauan sipelaku itu sendiri tanpa ada intervensi atau hal apapun yang mampu mempengaruhinya. Interaksi sosial yang terjadi tidak didasarkan oleh apapun, baik oleh lama atau singkatnya masa hukuman, jenis pelanggaran atau jenis pidana, marga, agama ataupun sel dan blok apa,murni interaksi sosial yang terjadi muncul dari kesadaran dan kemauan secara pribadi. Munculnya istilah kelompok penduduk setempat (PS) selain sebagai wujud rasa solidaritas atas dasar daerah asal usul yang sama, istilah ini juga bertujuan untuk menciptakan rasa aman dari seluruh warga binaan di dalam LP, sedangkan istilah kelompok kiriman merupakan diskriminasi untuk warga binaan
yang berasal dari LP lain. Interaksi antar kelompok PS dengan kelompok kiriman hanya terjadi ketika terjadi permasalahan (konflik) antara warga binaan PS dengan napi kiriman.
4.11.3 Interaksi Warga Binaan Kriminal Umum Dengan Warga Binaan Kasus Khusus
Secara keseluruhan warga binaan pada umumnya dikategorikan kriminal umum, narkotika dan kriminal kasus khusus. Yang dimaksud dengan kriminal umum adalah warga binaan yang berasal dari kasus seperti penipuan, pencurian, perjudian, kekerasan dalam rumah tangga, pemerkosaan, pembunuhan dan kekerasan lainnya, sedangkan kriminal kasus khusus adalah warga binaan yang berasal dari latar belakang pelanggaran hukum khusus seperti illegal loging, tracfiking, korupsi dan terorisme. Secara keseluruhan saling terintegrasi dengan baik, saling membaur. Hubungan timbal balik yang baik dan harmonis antar warbinaan tergantung pada bagaimana warga binaan tersebut bertingkah laku sehari-hari. Ketika warga binaan tersebut pandai bergaul, bertingkah laku baik kepada warga binaan dan suka menolong, maka warga binaan tersebut akan menerima perlakuan yang sama. “Apa yang kita tanam itu yang akan kita tuai.”
Namun di dalam LP kelas II/A Pematang Siantar terdapat beberapa jenis pelanggaran hukum yang dianggap berbeda dan mempengaruhi pola interaksi sosial warga binaan yang terjadi didalamnya.
Walaupun berada di dalam LP, warga binaan memiliki sudut pandang tersendiri dalam melihat dan menilai pelanggaran hukum yang dilakukan oleh sesamanya. Terdapat warga binaan dengan pelanggaran hukum yang dianggap
disegani dan dihormati dan ada juga pelanggaran hukum yang dianggap sangat rendah dan dibenci oleh seluruh warga binaan. Warga binaan dengan kasus pembunuhan (pembunuhan preman, bukan dibawah umurnya) dianggap disegani, kasus kriminal umum (pencurian, perampokan, perjudian) dianggap lebih terhormat daripada kasus pengguna narkotika, karena para pengguna narkotika di dalam penjara dianggap sebagai penyakit masyarakat dan kejahatan kelas rendahan. Serta terdapat kasus pelanggaran hukum yang paling dibenci diantaranya yaitu informan (gibus), pencuri dari tempat ibadah dan kasus perlindungan anak dan pencabulan, sedangkan korupsi/koruptor dianggap sebagai kejahatan khusus.
Meskipun terdapat perbedaan perlakukan yang diterima oleh setiap warga binaan berdasarkan jenis pelanggaran yang dilakukannya, namun secara keseluruhan warga binaan tetap mengalami pola interaksi seperti pada pola interaksi tahap pertama di dalam sel dan tahap kedua di LP secara umum, sebagaimana yang telah diuraikan diatas. Warga binaan dengan latar belakang pelanggaran hukum kriminal umum dan narkotika tidak mendapatkan perlakukan khusus dalam pola interaksi sosial sehari-hari, berbeda dengan informan (gibus) dan kasus perlindungan anak. Warga binaan dengan latar belakang hukum sebagai gibus, di dalam penjara dianggap sebagai musuh dan kerap kali menerima kekerasan secara fisik yang dilakukan oleh warga binaan lainnya sebagai bentuk balas dendam. Gibus pada umumnya dijauhi oleh warga binaan dan dianggap sebagai musuh bersama, dalam hal ini warga binaan tersebut tidak dipedulikan oleh sesama warga binaan lainnya namun warga binaan lain akan menjadi sangat
sensitif jika warga binaan tersebut melakukan sedikit kesalahan atau masalah.
Sebagaimana yang disampaikan oleh bapak Paulus Panangian Tambunan, yaitu:
“Penjara memang ada tradisi-tradisi, itulah yang ada didalam masing-masing kamar pak. Tapi masih ada memang tradisi tergantung kasusnya pak, karna didalam penjarapun kita adanya aturannya pak.
Artinya sesama preman diluar sanakan ada nya apa yang benar dan apa yang salah, dan semuanya orang tau itu pak. Ada jelas kasus tertentu yang dibenci didalam pak, ya kasus bokboklah pak (perlindungan anak/ tali air) pencabulan, mencuri dari tempat ibadat, baru sama gibus lah pak. Mayoritas menjauhi itu pak, alau kasus bokbok ya biasanya kekeran fisik sama sikis pak (senadainya kalau anak kukorbannya) ya jelas ada keterikatan emosional sama semua orang tua yang punya anak didalam pak, konsekuensinya berkepanjangan pak, asal lewat dibuli (blok-blok), kalau ngak masuk sel pengasinganlah pak demi keamanannya. Jadi kalau orang-orang ini salah dikit didalam langsung dihabisi itu pak, dipukuli itu langsung sama napi lain.”
Warga binaan dengan latar belakang kasus sebagai gibus dianggap sebagai musuh bersama, karena dipandang sebagai kaki tangan yang mendapatkan keuntungan dengan melapor kepada kepolisian. Selain itu terdapat warga binaan dengan kasus kekerasan seksual terhadap anak, yang sulit diterima sebagai anggota baru di dalam LP. Warga binaan dengan kasus bokbok atau kekerasan seksual terhadap anak sering dijadikan sebagai ajang pelampiasan kemarahan oleh setiap warga binaan dimana ia ditempatkan. Hal tersebut juga disampaikan oleh bapak Lasrikardo Siahaan, yaitu:
“Memang banyak kasus di dalam penjara pak, tapi sampai sejauh ini, kasus bokboklah paing menjijikkan didalam pak. Ngak ada yang menerima itu pak. Semua orang memusuhi itu, kalau pertama masuk disiksa itu pak, ya biasanya disuruh coli pake balsem dan cabbai pak, baru bakar plastik ditetesi kealat vitalnya pak, disuluti kepalanya pakai api, kadang disodomi pak dilakukan yang homo sex, disuruh joget-jogetlah pak pas perkenalan, telanjang atau bugil pak, baru kolornya dimasukkan kekepalanya pak.”
Hal yang sama juga disampaikan oleh bapak Josua Renold Pandapotan Simajuntak, yaitu:
“Kasus paling dibenci di dalam bang, kasus bokboklah bang (pemerkosaan terhadap anak anak) oh didalam itu, ngak ada ampun itu pak sama napi lain bang. Kalau udah didalam disiksai itu bang, kadang disuruh menggigit sabun, kemaluannya dibakar pakai rokok bang, dipukuli didalam bang baru disuruh ngerjakan ini-itu termasuk mangkusuti napi lain bang. Itu bang jadi ajang pelampiasan kemarahan orang-orang yang didalam lah bang, itu dikerjai itu bagaimanalah supaya petugas ngak tahu, nanti kalau teriak teriak, satu kamar itu ilang ngak ada apa apa pak, dibilang nya itu nanti ngigau atau udah gila, jadi petugas tak bisa berbuat apa apa pak”
Tindakan sosial yang dilakukan oleh warga binaan terhadap narapidana dengan kasus gibus dan kasus perlindungan anak, cenderung berupaya untuk menghindari terjadinya interaksi sosial, karena dianggap sebagai orang yang tidak disukai di dalam penjara dan tidak layak untuk dijadikan sebagai teman. Bahkan dalam kesehariannya warga binaan dengan kasus gibus dan perlindungan anak sering menerima perlakukan yang tidak pantas dari sesama warga binaan, seperti diolok-olok atau dibuli, hingga dimanfaatkan serta menjadikannya sebagai pelampiasan kemarahan dalam bentuk kekerasan fisik.
Hal-hal yang pada umumnya diterima oleh warga binaan dengan kasus perlindungan anak ketika pertama kali masuk penjara ialah perkenalan, dan ketika petugas permasyarakatan meninggalkan sel, pada saat itulah terjadi kekerasan terhadap warga binaan tersebut. Pada umumnya perlakukan yang diterima warga binaan kasus kekerasan seksual terhadap anak ialah dibuli, disuruh menyanyi di dalam kamar dalam keadaan bugil atau tanpa busana, melakukan onani dengan cara melumurkan balsem atau cabai kesekitar area kemaluan si warga binaan
tersebut hingga disulut atau dibakar menggunakan bara api rokok dan tetesan pastik yang dibakar.
Pada dasarnya, interaksi sosial yang terjadi antara seluruh warga binaan dengan warga binaan kasus gibus dan kasus perlindungan anak cenderung satu arah, dimana interaksi sosial didominasi oleh warga binaan dengan kasus bukan gibus dan kasus perlindungan anak. Warga binaan pada umumnya berupaya untuk menghindari interaksi sosial dengan narapidana kasus gibus dan perlindungan anak, namun pada sisi yang lain warga binaan memanfatkan jasanya untuk keuntungan pribadi atau keuntungan bersama seperti memaksa untuk membersihkan sel, kamar mandi, pekarangan atau bahkan untuk menyediakan makanan bagi warga binaan lain.
Disisi lain, di dalam LP terdapat perkampungan khusus atau esklusif, yaitu sebuah ruangan yang khusus dihuni oleh para warga binaan dengan kasus pelanggaran hukum kosupsi atau koruptor. Yang membedakannya dengan sel warga binaan yang lain ialah, sel warga binaan pada umumnya dihuni oleh warga binaan dengan berbagai kasus yang berbeda, sedangkan sel warga binaan koruptor hanya diisi oleh warga binaan dengan kasus pelanggaran hukum korupsi. Dalam kesehariannya, dalam hal beriteraksi sosial memiliki kemiripan dengan dengan warga binaan dengan kasus kriminal umum, bahwa interaksi yang terjadi tergantung dari kemauan warga binaan itu sendiri, apakah ia bersedia untuk berinteraksi atau sebaliknya. Hal yang membedakan warga binaan koruptor dengan warga binaan kriminal umum lainnya ialah warga binaan koruptor bebas berkunjung keareal blok atau sel warga binaan kriminal umum, sedangkan kriminal umum, atau napi lainnya tidak dapat memasuki areal wilayah warga
binaan korupsi. Seperti yang disampaikan oleh bapak Johnny Arifin Siahaan, yaitu”
“Pertama masuk langsung masuk ruangan napilah, masuk ruangan warga binaan tipikor obed. 8 orang didalam cukup bersahabat, pertama masuk berbicara langsung sama palkam, karna kasus tipikor itu rasanya semua sudah tua, jadi ngak ada lagi acara acara perkenalan, dan dikamarpun sudah saling mengenali sewaktu diluar.
Sudah tau sama taunya. Lebih saling menghargai didalam , saling mendukung, bersahabatlah. Ya interaksinya mengalir sendiri, martutur ma, marboru marhula-hula (bersilsilah orang batak). Kalau napi umum mana ada yang brani masuk kekamar tipikor, udah adatnya itu. ya kitalah yang menjumpai orang itu, kadang pas lari-lari pagi siap makan, kadang pas lagi ibadah digereja ataupun kalau keluar kamarlah. Jarang napi lain brani masuk kedalam obed.”
Larangan masuk kesel tipikor tersebut pada dasarnya tidaklah diatur melalui peraturan perundang-undangan ataupun peraturan dari lembaga permasyarakatan kelas II/A Pematang Siantar, namun aturan itu lahir dari inisiatif warga binaan itu sendiri. Warga binaan didalam penjara mengganggap bahwa warga binaan atas kasus pelanggaran hukum tindak pidana korupsi sebagai orang-orang yang memiliki pengaruh di lingkungan LP dan berpendidikan tinggi (intelektual), sehingga secara tidak langsung, pelaku korupsi dianggap sebagai warga binaan elit.
4.12 Penjara Sebagai Tempat Belajar
Terhimpunnya anggota masyarakat yang terdiri dari berbagai macam jenis latar belakang kejahatan atau kriminal dalam satu ruang lingkup yang sama, menciptakan persepsi dan pandangan para pelaku tindakan kriminal bahwa kejahatan dianggap biasa saja dan cenderung mencari alasan untuk membenarkan diri, membenarkan tindakan maupun kejahatan yang dilakukan. Kondisi sosial yang menyebabkan para anggota masyarakat berada di dalam LP secara tidak