• Tidak ada hasil yang ditemukan

Latar Belakang

Dalam dokumen M.Nuryadin Adam 05/189812/SP/21250 (Halaman 12-0)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Manusia dalam kehidupannya akan berusaha untuk mencapai kesejahteraan yang lebih baik,atau minimal menghindari keadaan yang buruk, dan untuk mencapai hal tersebut berbagai upaya dijalankan. Pembangunan merupakan hal yang tidak dapat dihindari dalam rangka menjaga maupun meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dari waktu ke waktu kebutuhan masyarakat semakin meningkat sehingga diperlukan tindakan-tindakan tertentu untuk dapat memenuhinya.

Kelancaran arus distribusi orang dan barang merupakan faktor penting dalam peningkatan kesejahteraan sosial ekonomi masyarakat. Arus transportasi yang baik dapat mendorong perkembangan suatu wilayah, lebih lanjut juga mendorong pada modernisasi kehidupan masyarakat suatu daerah. Seringkali daerah yang letaknya tidak jauh dari pusat pemerintahan dan pusat kegiatan ekonomi menjadi daerah yang tertinggal dalam hal kesejahteraan penduduknya dikarenakan sarana dan prasarana transportasi yang kurang baik sehingga arus manusia dan barang menjadi tidak lancar maupun berbiaya tinggi, untuk mengatasi hal yang demikian pembangunan fisik perlu dilakukan.

Kabupaten Paser yang letaknya di ujung selatan Provinsi kalimantan Timur memiliki kondisi fisiografis perbukitan di daerah utara dan barat, sedangkan daerah selatan dan timur merupakan daerah dataran rendah dan pesisir.

2 Kabupaten Paser mempunyai puluhan sungai dan anak sungai yang menyebar ke seluruh pelosok kabupaten tersebut, beberapa sungai cukup panjang dan lebar, diantaranya Sungai kandilo yang panjangnya 615 Km, Sungai Telake 430 Km, Sungai Kerang 190 Km dan Sungai Apar 95 km yang kesemuanya bermuara di Selat Makasar. Sungai-sungai tersebut selain untuk sarana perhubungan juga dimanfaatkan untuk pengairan dan penangkapan ikan

Dengan kondisi alam yang banyak daerahnya dilalui oleh sungai yang cukup lebar, beberapa daerah di Kabupaten Paser menjadi lambat perkembangannya, salah satunya adalah Desa Sungai Tuak yang terletak di Kecamatan Tanah Grogot. Desa sungai Tuak terletak sangat dekat dari Ibu Kota Kecamatan Tanah Grogot, hanya terpisahkan oleh Sungai Kandilo yang lebarnya berkisar 80 meter sehingga sehari-hari masyarakat desa tersebut harus menggunakan perahu ataupun kapal kecil untuk menuju kota Tanah grogot, pilihan lain adalah melalui jalur darat namun tidak efisien karena harus memutar melalui desa lain dengan jarak sekitar 10 km dengan kondisi jalan tanah yang sulit dilalui terutama saat musim penghujan. Sebagai akibatnya, Desa Sungai Tuak yang berdampingan dengan kota Tanah Grogot terlihat kontras sekali dalam pembangunan dimana di sisi kota Tanah Grogot Pemerintah daerah Sibuk mempercantik kawasan tepian, sementara di sisi Desa Sungai Tuak masih terlihat rumah-rumah sederhana milik penduduk.

Pada tahun 2006, Pemerintah Kabupaten Paser merencanakan pembangunan jembatan yang menghubungkan kota Tanah Grogot dengan desa Sungai Tuak, rencana ini kemudian disetujui oleh DPRD Kabupaten Paser dan

3 dijadikan proyek multiyears selama 4 tahun dengan biaya total Rp. 90 Miliar dengan sumber dana 100% dari APBD Kabupaten Paser. Jembatan tersebut diharapkan selesai dan bisa digunakan pada tahun 2010, namun dalam perkembangannya proses pembangunan mengalami hambatan seputar pembebasan lahan hingga akhirnya baru selesai dibangun pada tahun 2011.

Meskipun jalanan di desa Sungai Tuak belum ditingkatkan (masih berupa jalan tanah yang tidak lebar), masyarakat sudah mulai ramai melintasi jembatan Kandilo, dan jembatan tersebut juga ramai dikunjungi warga yang ingin menyaksikan pemandangan tepian kota Tanah grogot dari atas jembatan yang memang cukup tinggi dari permukaan sungai.

Gambar 1.1

Jembatan Kandilo yang menghubungkan Kota Tanah Grogot dengan Desa Sungai Tuak

Foto Oleh : HeliAgus Panoramio, Tahun 2011

4 Prasarana fisik mempunyai peranan yang sangat penting untuk menunjang berbagai kegiatan ekonomi dan sosial dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi, pemerataan dan kesejahteraan rakyat. Sektor Prasarana akan menjadi leading sector yang akan memudahkan perkembangan sektor lainnya.

(Adisasmita, 2006 : 89-90). Pembangunan Jembatan Kandilo sudah pasti akan meningkatkan arus modal dan barang yang akan menjadikan kegiatan perekonomian desa Sungai Tuak semakin tumbuh. Meningkatnya kegiatan perekonomian suatu daerah tidak serta-merta meningkatkan kesejahteraan penduduk daerah tersebut, bisa jadi penduduk asli hanya menjadi penonton atas pemilik modal yang berasal dari luar daerah, atau keuntungan bagi warga setempat hanya dinikmati sebagian kecil warga saja. Pembangunan lingkungan fisik harus disertai pembangunan lingkungan sosial agar pembangunan yang bertujuan mengantar pada kehidupan yang lebih baik dapat terwujud, pada titik inilah evaluasi dampak sosial dari pembangunan fisik perlu dilakukan agar perubahan lingkungan sosial masyarakat menjadi terukur sehingga dapat menjadi masukan bagi pengembangan lingkungan sosial tersebut.

Dampak sosial adalah perubahan yang terjadi pada manusia dan masyarakat yang diakibatkan oleh aktivitas pembangunan, dimana aktivitas tersebut akan mempengaruhi keseimbangan sistem (masyarakat). Pengaruh itu bisa bernilai positif maupun negatif dan hanya dapat diuji dari nilai, norma, aspirasi dan kebiasaan dari masyarakat yang bersangkutan.( Hadi, 2005:23-24).

Kegiatan proyek Jembatan Kandilo berpotensi menimbulkan perubahan pola hidup atau kebiasaan masyarakat di lingkungan sekitar proyek sejak dari tahap

5 perencanaan, persiapan, pekerjaan hingga setelah proyek selesai. Lingkungan sosial masyarakat pada akhirnya akan mengalami perubahan sebagai akibat dari adanya pembangunan jembatan tersebut, baik berlangsung secara cepat maupun perlahan.

Semakin lancarnya arus orang dan barang antara kota Tanah Grogot dan desa Sungai Tuak akan membawa perubahan bagi kehidupan masyarakat.

Interaksi antara desa dengan kota yang semakin lancar akan memberikan gejala baru pada bidang pendidikan, kesehatan, keamanan, kegiatan ekonomi, pola kepemilikan dan pemanfaatan lahan, serta interaksi sosial masyarakat.

Perubahan adalah suatu hal yang pasti terjadi, namun apakah perubahan tersebut menuju keadaan yang lebih baik atau tidak masih harus diteliti, karena itu kita perlu untuk melihat bagaimana perubahan yang terjadi di masyarakat desa Sungai Tuak sebagai akibat dari keberadaan Jembatan Kandilo dan bagaimana nilai perubahan tersebut bagi masyarakat desa Sungai Tuak, namun karena jembatan ini relatif baru, serta keterbatasan sumber daya peneliti maka penelitian ini dibatasi hanya pada aspek sosial ekonomi saja (dalam hal ini meliputi kesempatan berusaha, pola mata pencaharian, tingkat pendapatan keluarga, serta pola kepemilikan dan pemanfaatan lahan), hal ini peneliti anggap lebih sesuai karena perubahan kepemilikan dan penggunaan lahan mulai terjadi pada tahun 2006 dimana mulai dilakukan pembebasan lahan untuk pelaksanaan proyek jembatan tersebut, dan masyarakat yang lahan pertaniannya terkena pembebasan lahan mulai beralih mata pencaharian.

6 1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang dikemukakan di awal, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah Bagaimana dampak sosial ekonomi yang timbul akibat Pembangunan Jembatan Kandilo bagi masyarakat Desa Sungai Tuak?

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan dari Penelitian ini adalah untuk mengevaluasi dampak sosial ekonomi pembangunan Jembatan Kandilo bagi masyarakat Desa Sungai Tuak, kabupaten Paser, Kalimantan Timur.

1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Secara Teoritis

Secara teoritis penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan bacaan untuk menambah pengetahuan dan wawasan mengenai dampak sosial ekonomi pembangunan jembatan Kandilo di desa Sungai Tuak.

1.4.2. Secara Praktis

Secara praktis penelitian ini dapat bermanfaat bagi:

1.4.2.1. Pemerintah

Menjadi masukan informasi bagi Pemerintah Daerah dalam evaluasi terhadap program pembangunan Jembatan Kandilo yang menghubungkan desa Sungai Tuak dengan Kota Tanah Grogot di Kabupaten Paser, Kalimantan Timur. informasi yang ada terkait

7 perubahan sosial ekonomi, yaitu perubahan terkait kesempatan berusaha, pola mata pencaharian, tingkat pendapatan keluarga, serta pola kepemilikan dan pemanfaatan lahan, sehingga dapat menjadi bahan pertimbangan dalam menyusun kebijakan terkait terkait di masa yang akan datang.

1.4.2.2. Masyarakat

Masyarakat desa Sungai tuak diharapkan menjadi lebih mengetahui secara lebih dalam mengenai perubahan lingkungan sosial ekonomi di desa tersebut sehingga dapat mengidentifikasi peluang dan tantangan kehidupan sosial ekonomi yang ada

8 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Interaksi Desa- kota

Interaksi merupakan suatu proses yang sifatnya timbal-balik dan mempunyai pengaruh terhadap perilaku dari pihak-pihak yang bersangkutan melalui kontak langsung, melalui berita yang didengar atau melalui surat kabar.

Interaksi dapat dilihat sebagai proses sosial, proses ekonomi, proses budaya ataupun proses politik dan sejenisnya yang lambat atau cepat akan menimbulkan suatu realita atau kenyataan. (Bintarto, 1983:61-62). Interaksi antara desa dan kota didorong oleh berbagai faktor, diantaranya tersedianya jaringan jalan, dan adanya kebutuhan timbal-balik (perdagangan barang-jasa, wisata, lapangan kerja,dsb).

Meskipun interaksi tersebut sifatnya timbal-balik, kenyataan yang timbul adalah kota lebih kuat mempengaruhi perubahan nilai di desa dibanding sebaliknya.

Sebagian besar desa di Indonesia merupakan desa agraris, dimana mayoritas masyarakatnya bertumpu pada kegiatan pertanian dan corak kehidupan warga juga masih sederhana. Jumlah warga yang relatif tidak banyak menjadikan warga desa memiliki ikatan kekeluargaan yang kuat, serta budaya gotong royong yang tumbuh dari kesadaran akan adanya kepentingan untuk saling menguatkan dalam kondisi sumber daya yang terbatas, sebagai contoh adalah gotong royong saat panen sawah/tambak. Apa yang ditunjukkan dari proses kehidupan bersama (collective life process) warga desa tidak lain beresensikan kemandirian, kesukarelaan, kemampuan untuk mengorganisasikan diri untuk memperjuangkan

9 kepentingan, dan ketaatan warga desa terhadap aturan main yang berupa norma dan hukum yang berlaku. (Ali, 2007:2). Proses kehidupan bersama tersebut akan dipengaruhi oleh perubahan lingkungan fisik dimana proses tersebut berlangsung.

Meningkatnya kesempatan berusaha membawa kesibukan baru bagi beberapa anggota masyarakat yang dapat berakibat menurunnya kohesi sosial anggota masyarakat.

Keberadaan desa ditinjau dari segi geografi adalah suatu hasil perpaduan antara kegiatan sekelompok manusia dengan lingkungannya. Hasil dari perpaduan itu ialah suatu ujud atau kenampakan di muka bumi yang ditimbulkan oleh unsur-unsur fisiografi, sosial, ekonomi, politik dan kultural yang saling berinteraksi antar unsur tersebut dan juga dalam hubungannya dengan daerah-daerah lain.

(Bintarto, 1983:11).

Hal yang penting untuk diperhatikan dari suatu desa adalah unsur-unsur desa , yaitu :

1. Daerah, dalam arti tanah-tanah yang produktif dan yang tidak, beserta penggunaannya, termasuk juga unsur lokasi, luas dan batas yang merupakan lingkungan geografi setempat.

2. Penduduk, adalah hal yang meliputi jumlah, pertambahan, kepadatan, persebaran dan mata pencaharian penduduk setempat.

3. tata kehidupan, dalam hal ini pola pergaulan dan ikatan-ikatan pergaulan warga desa. Jadi, menyangkut seluk-beluk kehidupan masyarakat desa (rural society). (Bintarto dalam Bintarto, 1983:13-14).

10 Maju Mundurnya suatu desa dapat tergantung pada beberapa faktor, antara lain :

1. Potensi Desa yang mencakup potensi sumber daya alam dan potensi penduduk warga desa beserta pamongnya.

2. Interaksi antar desa dengan kota, antara desa dengan desa tercakup di dalamnya perkembangan komunikasi dan transportasi.

3. Lokasi desa terhadap daerah-daerah di sekitarnya yang lebih maju.

(Bintarto, 1983:18)

Desa memiliki fungsi dan peranan sebagai berikut :

1. Pertama, dalam hubungannya dengan kota, maka desa yang merupakan

‘Hinterland’ atau daerah dukung berfungsi sebagai suatu daerah pemberi makan pokok seperti padi, jagung, ketela, di samping bahan makan lain seperti kacang, kedelai buah-buahan, dan bahan makan lain yang berasal dari hewan.

2. Kedua, desa ditinjau dari segi potensi ekonomi berfungsi sebagai lumbung bahan mentah (raw material) dan tenaga kerja (man power) yang tidak kecil artinya.

3. Ketiga, dari segi kegiatan kerja (occupation) desa dapat merupakan desa agraris, desa manufaktur, desa nelayan, dan sebagainya. (Bintarto, 1983 : 15-16)

Desa mempunyai potensi fisis dan nonfisis. Potensi fisis meliputi antara lain : 1. tanah, dalam arti sumber tambang dan mineral, sumber tanaman yang

merupakan sumber mata pencaharian dan penghidupan.

11 2. Air, dalam arti sumber air, keadaan dan kualitas air dan tata airnya untuk

kepentingan irigasi, pertanian dan keperluan sehari-hari 3. Iklim, yang merupakan peranan penting bagi desa agraris.

4. ternak, dalam arti fungsi ternak di desa sebagai sumber tanaga, sumber bahan makan dan sumber keuangan.

5. Manusia, dalam arti tenaga kerja sebagai pengolah tanah dan sebagai produsen. tenaga kerja di desa-desa merupakan unsur penting.

Potensi Nonfisis desa meliputi antara lain :

1. Masyarakat desa yang hidup berdasarkan gotong-royong dan dapat merupakan suatu kekuatan berproduksi dan kekuatan membangun atas dasar kerja sama dan saling pengertian.

2. Lembaga-lembaga sosial, pendidikan dan organsiasi-organisasi sosial desa yang dapat memberikan bantuan sosial serta bimbingan dalam arti positif 3. Aparatur atau pamong desa yang menjadi sumber kelancaran dan tertibnya

pemerintahan desa. (Bintarto, 1977:19-20)

Meskipun interaksi antara kota dan desa merupakan suatu hubungan timbal-balik, besarnya pengaruh antara keduanya tidaklah berimbang. Kota pada umumnya dipandang sebagai pusat pendidikan, pusat kegiatan ekonomi, pusat pemerintahan dan sebagainya. Jadi fungsi dan peranannya atau sumber pengaruh banyak berasal dari kota. (Bintarto, 1983:25). Kota menjanjikan lapangan kerja, pendapatan yang lebih tinggi, taraf hidup yang lebih baik, peluang melanjutkan studi dan lainnya sehingga menjadi daya tarik bagi penduduk yang berdomisili di

12 luar kota yang bersangkutan, sehingga arus urbanisasi semakin kuat. Jadi suatu kota memiliki fungsi primer memberikan pelayanan kepada kota-kota lain (hubungan eksternal), sedangkan fungsi sekundernya adalah memberikan pelayanan kepada warga kotanya (hubungan internal). (Adisasmita, 2006:138)

Perkembangan prasarana dan sarana transportasi yang menghubungkan desa dengan kota akan mempengaruhi berbagai bidang, misalnya saja di bidang kesehatan, masyarakat dapat lebih mudah menjangkau fasilitas kesehatan yang memadai sehingga kesehatan masyarakat bisa ditingkatkan, begitu juga di bidang pendidikan, akes ke sekolah-sekolah akan makin mudah sehingga lebih banyak warga yang bersekolah, ataupun semakin banyak tenaga pendidik dari kota yang mau masuk mengajar di desa karena kelancaran transportasi memungkinkan mereka untuk tetap tinggal di kota dan tidak harus tinggal di desa yang bisa jadi menimbulkan rasa bosan. Masyarakat desa juga semakin mudah mengakses lapangan pekerjaan di kota tanpa harus berpindah tempat tinggal, hal ini juga akan membuat masyarakat desa lebih terbuka akan kemungkinan-kemungkinan lapangan pekerjaan yang baru dan bergeser dari kehidupan agraris ke sektor non formal lainnya atau bahkan memasuki sektor formal.

Semakin beragamnya aktifitas sebagai hasil dari kelancaran transportasi antara desa dan kota juga akan mendorong perubahan tata guna lahan. Lahan yang berada di daerah yang tergolong strategis untuk kegiatan perdagangan sangat mungkin akan beralih fungsi menjadi dari ladang menjadi pasar, terutama saat masyarakat desa mulai meninggalkan kehidupan berladang untuk berkerja di kota.

13 Bintarto dalam bukunya Interaksi Desa-Kota (1983:98-99), mengemukakan bahwa Interaksi antara kota dan desa dapat menimbulkan pengaruh positif maupun negatif terhadap desa dan kota termasuk penghuninya.

Pengaruh positif yang dimaksud antara lain :

1. Cakrawala pengetahuan penduduk desa menjadi lebih meningkat, karena di desa semakin banyak Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah. Berbagai pengetahuan mengenai kemajuan di berbagai bidang juga masuk melalui institusi atau lembaga-lembaga yang ada di desa, misanya pengetahuan mengenai pemilihan bibit unggul, pengetahuan mengenai kegiatan usaha lain non agraris juga mulai menyebar.

2. Banyaknya sekolah dan guru-guru desa yang tersedia di daerah pedesaan dengan pengetahuan yang cukup luas mengenai masalah pembangunan dapat menjadi penggerak kemajuan warga desa yang bersekolah. Jumlah penduduk buta huruf akan menurun sehingga akan lebih memudahkan usaha pembangunan.

3. Prasarana dan sarana transportasi yang semakin lancar sangat meningkatkan frekuensi hubungan sosial-ekonomi warga desa dengan warga kota, sehingga stagnansi suplai bahan pangan dapat dihindarkan.

Transfer pengetahuan juga akan semakin meningkat.

4. Teknologi tepat guna di bidang pertanian dan peternakan meningkatkan produksi desa, sehingga penghasilan penduduk akan bertambah.

5. Masuknya para ahli di berbagai bidang disiplin ilmu pengetahuan telah banyak sekali bermanfaat bagi warga desa dalam meletarikan lingkungan

14 pedesaan khususnya pencegahan erosi dan pencarian sumber air bersih dan bidang pengairan.

6. Campur tangan pemerintah pusat atau dan pemerintah daerah telah meningkatkan kualitas dan kuantitas di bidang wiraswasta seperti kerajinan tangan, industri rumah tangga, peternak unggas dan sapi, dan bidang teknik pertukangan.

7. Pengetahuan tentang masalah kependudukan telah lebih merata di daerah pedesaan, sehingga kesadaran untuk mempunyai keluarga kecil semakin meningkat yang turut berperan pada peningkatan kualitas hidup masyarakat.

8. Berkembangnya koperasi dan organisasi sosial di pedesaan yang membantu meringankan beban penghidupan masyarakat desa.

Pengaruh negatif yang dapat dilihat di daerah pedesaan antara lain :

1. Modernisasi kota, misalnya pengaruh fashion show atau berbagai kontes kecantikan telah ditiru juga oleh gadis-gadis dan para wanita di beberapa pedesaan sehingga dikhawatirkan meninggalkan orientasi pertanian yang menjadi pokok kehidupan mereka.

2. Peningkatan bahaya kriminalitas sebagai pengaruh dari pemberitaan televisi maupun film-film yang berbau kejahatan.

3. Pemuda desa mulai beralih ke bidang lain di luar pertanian sehingga yang tertinggal di desa hanyalah orang-orang tua yang kurang produktif.

15 4. Perluasan kota dan masuknya orang-orang kota berharta ke daerah pedesaan telah banyak mengubah tata guna lahan di pedesaan terutama di daerah yang berbatasan dengan kota, banyak daerah hijau telah beralih menjadi daerah pemukiman atau bangunan lainnya.

5. Penetrasi kebudayaan kota ke desa yang kurang atau tidak sesuai dengan kebudayaan ataupun tradisi desa cenderung mengganggu tata pergaulan atau seni budaya desa.

6. Problema lain yang timbul sebagai akibat interaksi yang kurang mengungtungkan antara lain : problema pangan, problema pengangguran, problema lingkungan, dan beberapa lainnya.

2.2 Pembangunan Desa dan Permasalahannya

Terdapat banyak kata yang memiliki makna sama dengan ‘pembangunan’, misalnya perubahan sosial, pertumbuhan, industrialisasi, transformasi, dan modernisasi. Dari kata tersebut, pembangunan lebih sering digunakan untuk menggambarkan dan memberi makna pada perubahan ke arah positif dan lebih maju dibandingkan keadaan sebelumnya. (Suharto, 2008:2)

Proses pembangunan melahirkan perubahan-perubahan yang mengandung tiga dimensi pokok, yang satu sama lain saling berkaitan, dan ketiga dimensi tersebut harus diteliti dan dicari titik-titik keterkaitannya untuk dapat memahami permasalahan pembangunan. Ketiga dimensi yang dimaksud adalah :

1. Dimensi kebudayaan. Melalui dimensi ini dapat dipelajari sistem nilai yang berlaku yang mempengaruhi sikap dan pola tingkah laku

16 anggota-anggota masyarakat, dan bagaiaman kesesuaian sistem nilai yang berlaku dengan sistem nilai yang dicita-citakan.

2. Dimensi sistem, untuk melihat apakah sistem-sistem kemasyarakatan yang berlaku menghambat atau menghalangi proses terwujudnya sistem nilai yang dicita-citakan

3. Dimensi proses,yaitu cara bagaimana anggota-anggota masyarakat dengan berbagai sistemnya menyelesaikan atau mengelola konflik-konflik yang mungkin muncul sebagai akibat pertumbuhannya.

(Alfian,1986:22)

Usaha pemerintah ke arah mengembangkan atau membangun desa ialah : pertama, menempatkan warga desa dalam wadah Indonesia, artinya tidak ada perbedaan status antara penduduk desa dengan penduduk kota seperti zaman kolonial. kedua, mengusahakan agar corak kehidupan dan penghidupan warga desa dapat ditingkatkan atas dasar alam pikiran yang logis, fragmatis dan rasional.

ketiga, mengusahakan agar warga desa dapat lebih bersifat kreatif dinamis dan fleksibel dalam menghadapi kesulitan-kesulitan yang dihadapi sehingga dapat lebih meningkatkan semangat pembangunannya. (Bintarto, 1983:18-19).

Pembangunan sudah semestinya menempatkan manusia sebagai sasaran utamanya, artinya pembangunan tidak boleh hanya diukur dengan sarana dan prasarana fisik, dan sebagainya. Kehidupan manusia yang harus dijadikan acuan dalam menilai pembangunan, bagaimana individu menjalani kehidupannya di masyarakat, bagaimana masyarakat bersama-sama mengatasi masalah yang timbul dari berbagai perubahan, dan berbagai aspek sosial lainnya.

17 Pada masa pemerintahan Orde Baru, program-program pembangunan dijalankan dengan pendekatan Top Down, yang lebih sering ‘’memobilisasi’’

komunitas desa, menempatkan manusia dan masyarakat sebagai objek – layaknya benda mati – yang harus mengikuti apa yang telah digariskan oleh program (pembangunan), walaupun tak relevan dengan potensi dan kebutuhan pengembangan diri mereka. ( Mubyarto dalam Ali, 2007:38). Pembangunan lebih mengejar pada perubahan lahiriah – fisik, artifisial, material – dan mengesampingkan tumbuhnya daya kesediaan – mental, spiritual, esensial – dan martabat manusia1. Hal yang demikian dapat menghilangkan modal sosial yang dimiliki masyarakat desa. Pendekatan tersebut digunakan Pemerintah Pusat selama 3 dekade dan ada kemungkinan saat ini masih juga terjadi di level pemerintahan yang lebih rendah.

Perubahan merupakan hal yang tidak dapat dihindarkan, baik itu yang sifatnya material maupun nonmaterial, berlangsung cepat maupun lambat. Suatu perubahan dapat membawa ke arah perbaikan (positif) ataupun kemunduran (negatif), tergantung bagaimana pengaruh dari luar yang masuk dan diolah oleh penduduk setempat. Perubahan tersebut bisa berupa perubahan sosial, perubahan ekonomi, perubahan teknologi, perubahan budaya, dan sebagainya. (Bintarto, 1983:71). Perubahan ini dapat digolongkan sebagai berikut :

1. Perubahan yang lambat atau cepat, tetapi terus maju.

1 Lihat Ali, Madekhan. Orang Desa Anak Tiri Perubahan, Averroes Press, Malang, 2007. Ali mengkritik pendekatan pembangunan top down yang dilakukan oleh Pemerintahan Order baru dalam pengembangan desa yang dianggap sebagai ‘malpraktek’ pembangunan dan menjadi sumber pelemahan keberdayaan masyarakat desa.

18 2. Perubahan ke arah kemajuan, tetapi pada suatu saat terjadi kemunduran

yang tidak terduga.

3. Perubahan yang kadang-kadang maju, kadang-kadang mundur. (Bintarto, 1983:72).

Jadi dalam hal ini selain pengaruh lalu-lintas, tingkat perubahan juga ditentukan oleh unsur manusianya.

Aktivitas manusia di tengah-tengah lingkungannya dapat dibedakan ke dalam 3 bidang, yaitu : (1) Aktivitas di bidang keluarga, (2) Aktivitas di bidang usaha, dan (3) Aktivitas di bidang sosial dan kemasyarakatan. Perubahan pada

Aktivitas manusia di tengah-tengah lingkungannya dapat dibedakan ke dalam 3 bidang, yaitu : (1) Aktivitas di bidang keluarga, (2) Aktivitas di bidang usaha, dan (3) Aktivitas di bidang sosial dan kemasyarakatan. Perubahan pada

Dalam dokumen M.Nuryadin Adam 05/189812/SP/21250 (Halaman 12-0)