5. Menjumlahkan Data
1.1. Latar Belakang
I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Jakarta merupakan ibukota Negara Indonesia dan pusat pemerintahan, dimana hampir semua aktifitas ekonomi dipusatkan di Jakarta. Hal ini secara tidak langsung menjadi daya tarik masyarakat untuk mencari nafkah dan tinggal di Jakarta, sehingga menimbulkan banyak persoalanantara lain masalah urbanisasi, kemacetan, konversi lahan, banjir, dan kerusakan lingkungan.
Sekitar 40 % atau ± 24 000 ha dari seluruh wilayah DKI Jakarta adalah dataran yang letaknya lebih rendah dari permukaan laut (Firman et al. 2010). Dataran yang rendah ini dialiri oleh 13 sungai yang bermuara di Laut Jawa. Ketiga belas sungai tersebut adalah S. Mookervaart, S. Angke, S. Pesanggrahan, S. Grogol, S. Krukut, S. Baru Barat, S. Ciliwung, S. Baru Timur, S. Cipinang, S. Sunter, S. Buaran, S. Jati Keramat dan S. Cakung. Saat ini Jakarta merupakan kota dengan kepadatan penduduk tertinggi di Indonesia dan jumlah ini terus bertambah karena daya tarik kota ini sebagai pusat perekonomian Indonesia. Jumlah penduduk Jakarta tahun 2010 sebesar 9 588 198 jiwa (BPS 2010). Data statistik Dinas Kependudukan DKI Jakarta pada Maret tahun 2011 menunjukkan bahwa rata-rata kepadatan penduduk Jakarta adalah 13 995 orang/km2, sementara luas Jakarta hanya 661.52 km2. Hal ini menjadikan Jakarta sebagai kota terpadat di Indonesia atau ke empat di dunia1.
Tingkat pertambahan penduduk yang tinggi ini menimbulkan tekanan pada lingkungan hidup Jakarta yang semakin lama semakin berat. Perpaduan antara
1
http://www.koleksiweb.com/opini-n-note/10-kota-terpadat-di-dunia-termasuk-jakarta.html diakses 26 Januari 2011
2 kondisi topografi yang rendah dan dialiri oleh banyak sungai serta semakin rusaknya lingkungan hidup akibat tekanan pertumbuhan penduduk, menyebabkan Jakarta semakin lama semakin rentan terhadap ancaman bencana banjir. Perkembangan penduduk yang pesat di DKI Jakarta memberikan konsekuensi terjadinya alih fungsi lahan bagi pemenuhan kebutuhan masyarakat seperti fungsi perumahan, perdagangan dan industri. Luas ruang terbuka hijau (RTH) DKI Jakarta tahun 2007 diperkirakan tersisa 6.2 % karena semua ruang tersisa sudah dikonversi atau dikomersialisasi. Hal ini berdampak pada menurunnya daya resap air oleh tanah ketika turun hujan. Ekstraksi air tanah di Jakarta semakin tidak terkendali. Batas pengambilan air bawah tanah Jakarta hanya berkisar 186.2 juta m3/tahun. Namun, volume air tanah yang diambil mencapai 251.8 juta m3 per tahun. Defisit pengambilan air tanah telah mencapai 66.6 juta m3/tahun2. Banyaknya air yang diekstraksi dari dalam tanah dan minimnya air yang terserap ke dalam tanah akibat minimnya RTH menyebabkan timbulnya ruang kosong. Hal ini semakin ditambah dengan gedung-gedung tinggi yang membuat penurunan permukaan tanah di Jakarta berlangsung cepat.
Perubahan tata guna lahan memberikan kontribusi dominan kepada aliran permukaan (run-off) (Kodoatie dan Sjarief 2008). Lahan terbuka digantikan oleh rumah dan bangunan. Tanah yang tersisa pun ditutupi oleh jalan aspal atau pelataran parkir sehingga tidak mampu menyerap air. Air hujan yang tidak terserap berubah menjadi aliran permukaan yang mengalir ke sungai, selanjutnya dialirkan ke laut sesuai kapasitas sungai-sungai yang ada dalam menampung air. Curah hujan yang tinggi tidak dapat tertampung, sehingga menjadi banjir.
2
3 Terjadinya banjir akan tergantung pada tingginya curah hujan di hulu dan di wilayah Jakarta. Selain itu volume sampah yang tinggi yang membuat sungai-sungai menjadi tersumbat dan dangkal.
Menurut UNDP dalam Marschiavelli (2008) terdapat korelasi yang sangat kuat antara peningkatan jumlah penduduk dengan tingkat kerusakan akibat bencana. Arus urbanisasi ke Jakarta telah menciptakan lokasi-lokasi permukiman kumuh yang hampir semuanya ilegal. Permukiman semacam itu banyak dibangun di bantaran sungai sehingga menimbulkan penyempitan sungai-sungai di Jakarta. Bila hujan deras turun di hulu atau pun di Jakarta, volume air akan meningkat tinggi sehingga tidak dapat tertampung oleh sungai-sungai yang telah mengalami penyempitan akibat berdirinya pemukiman kumuh. Hal ini mengakibatkan pengaliran air ke laut terhambat lalu banjir pun terjadi. Perilaku warga yang sering membuang sampah ke sungai juga memicu pendangkalan sungai yang dapat mengakibatkan banjir. Hal tersebut dapat meningkatkan kerentanan terhadap terjadinya banjir di Jakarta. Menurut Rashed and Weeks dalam Marschiavelli (2008) kerentanan merupakan fungsi dari kebiasaan manusia, yang menjelaskan bagaimana aset fisik dan karakteristik sosial ekonomi di daerah perkotaan baik yang rentan atau tahan terhadap dampak bencana. Kerentanan bervariasi antara ruang dan waktu karena selalu berubah oleh aktivitas manusia, pengetahuan, dan sosial capital (Marschiavelli 2008).
Terdapat banyak tindakan struktural dan non struktural yang dapat diterapkan untuk mengurangi dampak dari bencana banjir, seperti pembuatan tanggul atau bendungan, early warning system, peramalan banjir, dan peraturan penggunaan lahan (Marschiavelli 2008). Penanganan banjir di DKI Jakarta telah
4 berlangsung lama mulai dari masa kolonial Belanda yang membangun banjir kanal barat (BKB) sepanjang 17.5 km. Saat itu kanal ini cukup mampu mengatur air yang masuk ke Kota Batavia dan menampung air S. Ciliwung, S. Cideng, S. Krukut, dan S. Grogol. Setelah pembangunan BKB pemerintah DKI pun membangun banjir kanal timur (BKT) yang direncanakan dapat menampung aliran S. Ciliwung, S. Cililitan, S. Cipinang, S. Sunter, S. Buaran, S. Jati Kramat, dan S. Cakung3. Selain banjir kanal solusi untuk menanggulangi banjir seperti rencana pembangunan waduk, pembangunan polder, perbaikan drainase, pompanisasi, dan normalisasi sungai.
Umumnya untuk mengurangi banjir atau genangan yang terjadi dilakukan perbaikan penampang sungai atau disebut dengan normalisasi. Perbaikan sungai yang dilakukan umumnya dengan melebarkan atau memperdalam (pengerukan) sungai (Kodoatie dan Sjarief 2008). Lima sungai makro yang tersebar di wilayah DKI Jakarta akan dilebarkan tahun 2011 untuk mengatasi banjir di ibukota. Kelima sungai itu yakni, S. Sunter, S. Pesanggrahan, S. Krukut, S. Cipinang, dan S. Grogol. Pelebaran ke lima sungai makro itu, tidak sepenuhnya dilakukan Pemprov DKI Jakarta, sebab empat diantaranya menjadi kewenangan pemerintah pusat. Pemprov DKI Jakarta hanya memiliki kewenangan melebarkan satu sungai yakni, S. Grogol. Namun, pembebasan lahan untuk keperluan pelebaran sungai tetap menjadi kewenangan Pemprov DKI Jakarta4.
Pelebaran sungai tergantung dari tata guna lahan di sekitarnya. Apabila sudah dipadati penduduk maka masalah utama yang terjadi adalah pembebasan lahan. Semakin padat penduduk dan semakin strategis lokasinya, biaya
3
http:/www.wikipedia.com/BANJIR/Banjir_Kanal_Jakarta.htm diakses 26 Januari 2011
4
5 pembebasan akan semakin mahal (Kodoatie dan Sjarief 2008). Pelebaran sungai tentunya akan menggusur pemukiman-pemukiman yang berdiri di sepanjang bantaran sungai. Masalah yang sampai saat ini menghambat pelaksanaan normalisasi sungai adalah masalah ganti rugi lahan. Hal ini karena sulitnya untuk mencapai kesepakatan antara masyarakat dan pemerintah dalam menentukan besaran ganti rugi.