TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Multivariate Analysis of Variance (MANOVA)
4. Uji Data Outlier
1.1 Latar Belakang
Statistik sekarang ini sudah menjadi kebutuhan bagi masyarakat global, baik kalangan akademis, ilmuan, praktisi bisnis, medis-psikologi, terutama kalangan peneliti. Statistik merupakan suatu metode untuk mengumpulkan, menginterpretasikan, mengolah, menganalisis dan mengambil infrensi dari data. Dalam perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) saat ini, bahwa ilmu statistik telah memengaruhi hampir seluruh aspek kehidupan manusia. Hampir semua kebijakan publik maupun masalah kehidupan sehari-hari yang diambil oleh pakar ilmu pengetahuan didasarkan dengan metode statistik serta hasil analisis dan interprestasi data baik secara kualitatif maupun kuantitatif (Kuncoro, 2007).
Masalah dalam kehidupan sehari-hari tidak hanya didasarkan pada hubungan satu variabel atau dua variabel saja, akan tetapi cenderung melibatkan banyak variabel. Analisis tentang banyak variabel dikaji secara mendalam dalam analisis multivariat (Nuningsih, 2010). Analisis multivariat merupakan analisis lanjutan dari analisis univariat maupun bivariat. Secara ilmiah, untuk menjelaskan fenomena kesehatan perlu dilakukan pengumpulan dan analisis data. Analisis data yang dikumpulkan dari pengamatan, akan menghasilkan modifikasi penjelasan dari fenomena tersebut. Selama dalam masa pengumpulan, sering kali akan terjadi penambahan dan penguranan variabel. Dengan demikian, maka akan timbullah masalah yang semakin kompleks sehingga dibutuhkan lebih banyak variabel yang
berbeda. Karena dalam data akan terdapat pengaruh beberapa variabel terhadap variabel lainnya dalam waktu bersamaan.
Menurut Santoso (2010), analisis multivariat dapat didefenisikan secara sederhana sebagai metode pengolahan variabel dalam jumlah banyak untuk mencari pengaruhnya terhadap suatu objek secara silmutan. Analisis multivariat adalah metode-metode statistik yang mengolah beberapa pengukuran menyangkut individu atau objek sekaligus. Teknik analisis multivariat diklasifikasikan menjadi dua yaitu analisis dependensi/ketergantungan dan analisis interdependensi/saling ketergantungan. Analisis dependensi bertujuan untuk menerangkan atau memprediksi variabel tergantung dengan menggunakan dua atau lebih variabel bebas, yang termasuk dalam klasifikasi ini ialah analisis regresi linear berganda, analisis diskriminan, Multivariate analysis of varians (MANOVA) dan analisis korelasi kanonik. Sedangkan analisis interdependensi bertujuan untuk memberikan makna terhadap seperangkat variabel atau membuat kelompok-kelompok secara bersama-sama, yang termasuk dalam klasifikasi ini ialah analisis faktor, analisis cluster/gerombol, dan multidimensional scaling (Narimawati, 2008).
Multivariat Analysis of Varians (MANOVA) merupakan analisis statistika multivariat yang digunakan dalam menganalisis lebih dari satu variabel dependen untuk mengetahui apakah rata-rata kelompok berbeda secara signifikan, dimana variabel dependennya bertipe metrik dan variabel independennya bertipe nonmetrik adalah. Pada umumnya manova memiliki variabel dependen yang lebih dari satu maka diasumsikan bahwa variabel dependen seharusnya berdistribusi normal (Tabachnick, 1983).
Dalam perkembangannya MANOVA pertama kali dikembangkan sebagai konstruk teoritis oleh S.S. Wilks pada tahun 1932. MANOVA merupakan multivariat perluasan dari konsep dan teknik univariat analisys of varians (ANOVA) yang digunakan untuk menganalisis perbedaan antara rata-rata (mean) kelompok. Perbedaan antara ANOVA dan MANOVA terletak pada jumlah variabel dependennya. ANOVA digunakan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan pengaruh perlakuan terhadap satu variabel dependen, sedangkan MANOVA digunakan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan pengaruh terhadap lebih dari satu variabel dependen (Tabachnick, 1983).
Multivariate Analysis of Varians (MANOVA) merupakan salah satu uji multivariat yang banyak digunakan dalam berbagai bidang disiplin ilmu seperti matematika, ekonomi, pemasaran, bisnis, kesehatan, dan lain-lain tetapi masih jarang digunakan. Analisis manova merupakan metode analisis data yang digunakan untuk melihat perbedaan rata-rata kelompok (Sarwono, 2007).
Salah satu disiplin ilmu yang mempergunakan analisis manova saat ini adalah bidang kesehatan yaitu untuk melihat perbedaan kualitas pelayanan di rumah sakit sangat penting untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan terpadu. Upaya peningkatan pelayanan rumah sakit perlu dilakukan secara bersama-sama oleh para pelayanan kesehatan, pemerintah dan masyarakat yang peduli kesehatan.
Pelayanan kesehatan yang diberikan dalam hal meningkatkan daya saing harus berkualitas. Berkualitasnya pelayanan tersebut sudah menjadi tuntutan semua pihak yang terkait, termasuk masyarakat yang menjadi pemakai jasa. Oleh karena itu
masalah kualitas pelayanan kesehatan selalu menjadi perhatian. Rumah sakit salah satu institusi yang memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Kualitas pelayanan yang diberikan tidak akan pernah sempurna, karena setiap pasien adalah pribadi yang unik, sehingga pelayanan tidak selalu dapat memuaskan, karena kualitas pelayanan terhadap kepuasan pasien sangat ditentukan oleh pelaksana pelayanan itu sendiri (Anjaryani, 2009).
Menurut Hanjon (2000) dikutip oleh Puspita (2009) ada tujuh dimensi kualitas dalam pelayanan kesehatan, yaitu jaminan, empati, kehandalan, daya tanggap, tampilan fisik, pelayanan medis dan profesionalisme. Sedangkan menurut Gronroos (2000) memaparkan ada tiga dimensi utama yang dipergunakan konsumen dalam menilai kualitas yaitu outcome-related (technical quality), process-related (functional quality), dan image-related.
Pemanfaatan fasilitas kesehatan rumah sakit di Indonesia hingga saat ini nampaknya masih belum optimal. Berdasarkan data statistik jumlah penduduk yang berobat jalan dengan menggunakan fasilitas rumah sakit tahun 2004 hanya 7,1 %. Jumlah ini masih jauh di bawah puskesmas dan puskesmas pembantu yang mencapai angka 33,4 % maupun praktek dokter mencapai 27,5 %. Disamping itu kategori lain seperti BOR (Bed Occupancy Rate) atau persentase yang menunjukan rata-rata tempat tidur yang dipakai setiap harinya, yang ada selama ini masih berada di bawah standar yang seharusnya dicapai. Tingkat BOR yang dicapai oleh rumah sakit umum yang ada di Indonesia sekarang ini masih berada di kisaran 50 %. Padahal standar yang harus dicapai adalah 60 – 85 %. Nilai standar ini dihasilkan dari perbandingan antara jumlah
pasien yang menginap dengan jumlah operasional rumah sakit secara keseluruhan (Depkes RI, 2005 dikutip oleh Widaryanto, 2005).
Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sultan Sulaiman sebagai rumah sakit umum Kelas C berdasarkan Kepmenkes RI No 001/Menkes/SK/I/2008 tanggal 02 Januari 2008 dan izin operasional berdasarkan Kepmenkes RI No.HK.07.06/III/01/2008 tanggal 02 Januari 2008. Hal tersebut secara regulasi memberikan dukungan untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat di Kabupaten Serdang Bedagai, pencapaian kinerjanya dengan berbagai upaya yang dilandasi dengan pergeseran paradigma yang memperhatikan nilai-nilai kebutuhan dan kepuasan pelanggan, yang dituangkan dalam visi : menjadikan Rumah Sakit Umum Daerah terbaik 2015 di Sumatera Utara yang menyediakan pelayanan kesehatan yang berkualitas dan terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat.
Adapun penilaian rumah sakit, secara umum menggunakan indikator-indikator BOR (Bed Occupancy Rate) atau persentase tempat tidur digunakan, LOS (Length of Stay) atau rata-rata lama dirawat, TOI (Turn Over Interval) atau interval penggunaan tempat tidur, BTO (Bed Trun Over) atau frekuensi penggunaan tempat tidur (Depkes RI, 2005 dikutip oleh Widaryanto, 2005). Adapun cakupan nilai indikator rumah sakit dapat dilihat pada Tabel 1.1 berikut :
Tabel 1.1 Pencapaian Indikator Rumah Sakit (Tahun 2009 s/d 2011)
Sumber : Rekam Medik RSU Sultan Sulaiman, 2012
Indikator 2009 2010 2011 Standar*
BOR 24% 22% 32% 60-85%
LOS 4 Hari 4 Hari 3 Hari 6-9 hari
TOI 13 Hari 13 Hari 12 Hari 1 - 3 hari
Berdasarkan Tabel 1.1 di atas menunjukkan bahwa nilai BOR (Bed Occupancy Rate) atau persentase tempat tidur digunakan di RSUD Sultan Sulaiman masih jauh di bawah target yang direkomendasikan Depkes RI yaitu masih di bawah 60%, demikian juga dengan nilai LOS (Length of Stay) atau rata-rata lama di rawat yang rendah masih di bawah standar yang ditetapkan yaitu 6-9 hari, TOI (Turn Over Interval) atau interval tempat tidur tidak digunakan yang sangat tinggi yaitu 12- 13 hari lebih dari standar yaitu 1-3 hari menunjukan bahwa sedikitnya pasien yang menggunakan pelayanan rawat inap, BTO (Bed Trun Over) atau frekuensi pergantian pasien per tempat tidur juga masih di bawah standar yang diharapkan.
Berdasarkan survei pendahuluan di RSUD Sultan Sulaiman masyarakat yang menggunakan pelayanan kesehatan RSUD Sultan Sulaiman kebanyakan untuk penyakit-penyakit yang ringan dan untuk penyakit yang kronis atau berat biasanya masyarakat menggunakan rumah sakit yang ada di Kota Medan yang jaraknya tidak terlalu jauh hal tersebut terjadi dikarenakan kurangnya kepercayaan masyarakat terhadap kualitas pelayanan di RSUD Sultan Sulaiman sehingga kurangnya minat masyarakat untuk menggunakan pelayanan RSUD Sultan Sulaiman. Jumlah pasien yang dirawat inap dijelaskan berdasarkan Tabel 1.2 berikut :
Tabel 1. 2. Jumlah Pasien Rawat Inap Per Bulan Rumah Sakit
NO Pasien Jan Feb Mar Apr Mei Jun
1 UMUM 44 51 75 64 52 59 2 ASKES 28 27 22 19 20 25 3 JAMKESMAS 45 52 40 39 45 48 4 JAMKESDA 63 35 22 26 23 25 5 JAMSOSTEK 1 0 3 0 2 0 Total 181 165 162 148 142 157
Tabel 1.2 Lanjutan
No Pasien Jul Agust Sept Okt Nov Des TOTAL
1 UMUM 55 45 57 51 61 57 671 2 ASKES 21 29 30 21 21 21 284 3 JAMKESMAS 42 26 40 33 39 31 480 4 JAMKESDA 35 32 44 25 45 44 419 5 JAMSOSTEK 3 1 2 1 2 1 16 Total 156 133 173 131 168 154 1870
Sumber : Profil RSUD Sultan Sulaiman tahun 2012
Berdasarkan Tabel 1.2 dapat dilihat pada bahwa kategori pasien yang dirawat di pelayanan rawat inap ada dua kategori pasien yang dirawat merupakan rujukan dari petugas kesehatan dimana diarahkan oleh petugas kesehatan dan pasien yang memilih di rawat atas kemauan sendiri/keluarga.
Dari data tahun 2012 pada kategori pasien yang dirujuk oleh petugas kesehatan lebih banyak yaitu 1199 pasien (64,12%) dibandingkan dengan kategori pasien yang dirawat atas kemauan sendiri sebanyak 671 pasien (35,88%) hal ini menunjukan masih rendahnya kepercayaan masyarakat terhadap kualitas pelayanan di RSUD Sultan Sulaiman.
Berdasarkan indikator penilaian di RSUD Sultan Sulaiman yang masih rendah dan merupakan satu-satunya rumah sakit pemerintah yang ada didaerah Kabupaten Serdang Bedagai sehingga perlu dilakukan penelitian persepsi pasien terhadap kualitas pelayanan di RSUD Sultan Sulaiman untuk meningkatkan angka kunjungan pasien ke rumah sakit. Adapun kualitas pelayanan harus menampilkan dan memberikan pelayanan kesehatan yang mengandung unsur-unsur, diantaranya kehandalan (reliability), daya tanggap (responsiveness), jaminan (assurance), empati (emphaty). Kepuasan pasien dalam pelayanan yuang baik akan mendorong seseorang akan membeli dan memanfaatkan ulang serta merekomendasikan fasilitas pelayanan
kesehatan yang pernah dia gunakan. Hal itu merupakan sikap dan prilaku yang penting dalam strategi pemasaran pelayanan kesehatan.
Selama ini MANOVA masih jarang digunakan dibandingkan ANOVA atau analisis lainnya dalam penelitian kesehatan. Dalam penelitian ini misalnya biasanya di buat analisis menggunakan uji t-independen yaitu untuk melihat perbedaan kualitas pelayanan secara keseluruhan, sehingga perlu dilakukan penggunaan MANOVA untuk melihat perbedaan kualitas pelayanan berdasarkan aspek (kehandalan (reliability), daya tanggap (responsiveness), jaminan (assurance), empati (emphaty), faktor fisik (tangibles) antara pasien rawat inap dengan kemauan sendiri dan rujukan dari pelayanan kesehatan di Rumah sakit umum daerah (RSUD) Sultan Sulaiman kabupaten Serdang Bedagai Tahun 2013.