Latar Belakang Sosio Historis

Dalam dokumen Manis yang belum sudah : identitas dan subjektivitas pakaian bekas di Yogyakarta. (Halaman 96-101)

PERGERAKAN DAN KOMODIFIKASI PAKAIAN BEKAS

A. Pertumbuhan dan Pergerakan Perdagangan Pakaian Bekas

A.1. Latar Belakang Sosio Historis

Sebagaimana disinggung pada Bab II perdagangan pakaian bekas yang dimaksudkan adalah dalam bentuknya sebagaimana sekarang. Perdagangan yang tidak lagi mengambil tempat di trotoar-trotoar jalan, emperan toko (pérko), dan los- los pasar tradisional seperti pada pertengahan hingga akhir tahun 1990-an, melainkan dalam bentuk gerai atau kios dengan tampilan yang lebih layak dan lebih menarik. Secara genealogis, pakaian bekas itu sendiri merupakan percampuran antara pakaian bekas pakai dan pakaian reject atau pakaian yang tidak lolos uji kelayakan import dari perusahaan pakaian karena mengalami kecacatan. Kedua jenis pakaian bekas itu didatangkan oleh para importir pakaian bekas dari sejumlah negara Eropa, Amerika, Australia, dan Asia.1 Dalam masyarakat Yogyakarta pakaian bekas itu kemudian dipromosikan sendiri oleh para pedagangnya dalam beberapa nama atau sebutan seperti: “pakaian import”, “pakaian ex import”, “pakaian second”, atau “second hand clothes”.

1 Sebagai perbandingan periksa B. Linne Milgram (2005) “Ukay-ukay Chic: Tales of Second Hand Clothing Fashion and trade in the Philppine Cordillera” dalam Alexander Palmer dan Hazel Clark (eds.), OldClothes, New Looks: Second Hand Fashion. Oxford-New York: BERG, hlm. 135-153. Lihat kembali bagian tinjauan pustaka dalam Bab I.

78

Pasca “testing the water” selama satu tahun (1998-1999), perdagangan pakaian bekas di Yogyakarta mengalami masa keemasan (booming). Sejak akhir 90- an hingga pertengahan tahun 2000-an perdagangan pakaian bekas berkembang pesat. Hampir di setiap pojok kota berderet gerai-gerai pakaian bekas. Selama lima tahun ke belakang jumlah gerai pakaian yang ada diperkirakan lebih dari 400 buah. Penurunan baru tampak pada tahun 2005 dan sesudahnya.2 Sejauh ini ada dua sebab yang mengontribusi penurunan tersebut. Pertama, terkait dengan terbitnya Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan (Kepmenperindag) No. 642/MPP/ Kep./9/ 2002 yang ditandatangani oleh menteri Rini Soewandy yang intinya melarang aktivitas perdagangan pakaian bekas.3 Larangan itu merupakan respons atas protes para pengusaha tekstil tanah air yang tergabung dalam Asosisasi Pertekstilan Indonesia (API) yang menolak perdagangan pakaian bekas karena dianggap “berpotensi mengancam industri garmen tanah air”.4 Implikasinya perdagangan pakaian bekas pun kemudian masuk dalam kategori sebagai kegiatan kriminal.

Pasca pemberlakukan Kepmen tersebut penyitaan, dan pembakaran berbal- bal pakaian bekas, dan penutupan jalur masuk atau import pakaian bekas secara

2 Perkiraan ini disampaikan Fadel, pemilik gerai “Sandang Murah”, yang waktu itu berperan sebagai salah satu distributor. Ia menyatakan bahwa permintaan para pengecer awalnya dicatat rapi dalam sebuah buku. Belakangan buku itu hilang sehingga pendokumentasian hanya dilakukan apa adanya, yakni hanya dalam sobekan kertas atau bekas kalender. Wawancara pada 14 Mei 2010.

3 Keputusan itu merupakan pembaharuan Kepmerindag No. 230/MPP/Kep./7/1997 yang diperbarui lagi menjadi Kepmenperindag No. 732/MPP/Kep./10/2002, Kepmendag No. 44/M-Dag/Per./10/2008, dan Kepmendag No.56/M-Dag/Per./12/2008. Perubahan terkait dengan pemisahan Kementerian Perdagangan dan Kementerian Perindustrian menjadi Departemen Perindustrian dan Departemen Perdagangan pada tahun 2007. Periksa http://www. kemendag.go. id /publikasi _regulasi/; diakses pada 12 Mei 2010.

4 Protes API ini dikemukakan kepada Presiden Megawati dalam pertemuan dengan HIPMI (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia) di Jakarta. Banyak pengamat menganggap keputusan itu berlebihan, karena garmen adalah sektor industri yang sangat tergantung pada import dan paling parah terkena krisis. Lihat, “API Protes Peredaran Pakaian Bekas”, Kompas.com, 19 Februari 2003; diakses pada 12 Mei 2010.

79

langsung di daerah-daerah perbatasan Indonesia dengan negara tetangga terutama Malaysia, seperti di Entikong di Kalimantan, marak dilakukan oleh polisi atau pihak pabean.5 Reaksi pemerintah itu mendapat kritik dan penentangan dari banyak pihak terutama pedagang pakaian bekas. Protes terbesar datang dari pedagang pakaian bekas di Surabaya. Para pedagang yang tergabung dalam Asosiasi Pedagang Pakaian Bekas (APPB) Jawa Timur dan Front Aksi Mahasiswa memrotes kedatangan Menteri Perdagangan yang baru, Marie Pangestu, saat melakukan inspeksi mendadak ke Pasar Genteng, Surabaya pada 27 Oktober 2004. Meski mendapat banyak protes, rupanya ia lebih memilih berdiri di pihak API, dan tetap memberlakukan surat keputusan yang telah dikeluarkan oleh seniornya.6

Meski menerima hambatan keras dari pihak aparat pemerintah berupa penyitaan dan pembakaran sebagaimana gencar dilakukan sejak tahun 2004, aktivitas perdagangan pakaian bekas dalam masyarakat tidak total terhenti. Seiring dengan meningkatnya represi pemerintah, perdagangan pakaian bekas masih tetap berjalan.7 Akan tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa tindakan pemerintah itu secara signifikan ikut mengontribusi menurunnya tingkat perkembangan dan pergerakan perdagangan pakaian bekas dalam masyarakat. Penurunan itu salah satunya bisa dilihat dengan sangat jelas dari melambatnya laju pertumbuhan dan persebaran gerai pakaian bekas. Sebagai ilustrasi, apabila sebelum terbitnya larangan oleh pemerintah pertumbuhan gerai pakaian bekas baru bisa mencapai 8-9 buah per bulan, maka

5 Lihat

Pintu Impor Melalui Pos Lintas Batas Entikong Ditutup Perdagangan Turun Drastis”,

Kompas.com; diakses pada 12 Mei 2010.

6 Lihat, “Pedagang Pakaian Bekas Demo Marie Pangestu”, www.gatra.com edisi 29/10/2004 diakses pada 20 Mei 2009.

7 Lihat, “Perdagangan Pakaian Bekas Impor Tetap Marak di Senen.”, bisnisjakarta.com, edisi 28 Juli 2004, diakses pada 20 Mei 2009. Meski dikategorikan sebagai kegiatan kriminal, faktanya belum satu pedagang pakaian bekas pun dikabarkan media ditangkap oleh aparat pemerintah.

80

setelah pelarangan pertumbuhan kemudian menurun menjadi hanya 1-2 buah per bulan.8 Penurunan juga tampak dari lambatnya perputaran pakaian bekas dalam

masyarakat. Jika sebelumnya perputaran pakaian bekasbisa mencapai 14-15 bal per bulan, pasca larangan menurun drastis menjadi 5-7 bal per bulan.9

Represi pemerintah mengakibatkan volume pakaian bekas yang beredar di pasar mengalami penyusutan secara signifikan. Hampir semua pedagang kemudian mengalami kesulitan mencari atau kulakan pakaian bekas di jaringan pasar yang biasa mereka lakukan. Ketika barang ada di tangan, muncul problem baru. Harga

kulakan pakaian bekas itu kini menjadi sangat tinggi. Jika sebelumnya harga

kulakan hanya berada dalam kisaran Rp. 400.000 hingga Rp. 450.000 per-bal, sesudah adanya larangan pemerintah, harga itu melonjak hingga menembus angka Rp. 1,9 juta sampai Rp 2 juta per-bal. Seiring dengan kenaikan harga kulakan, para pedagang pakaian bekas itu pun mau tidak mau harus menaikkan harga jual barang dagangan mereka. Soal penyesuaian harga itu cukup disikapi dengan hati-hati oleh para pedagang, karena apabila dagangan mereka tidak bisa terserap di pasar atau dikonsumsi orang karena kendala harga, maka hal itu sudah pasti bisa menjadi bumerang bagi keberlanjutan usaha mereka.

Kondisi di atas pada menjadikan perdagangan pakaian bekas berkembang dalam skema darwinisme, the survival of the fittest. Jika sebelumnya kelangsungan perdagangan pakaian bekas semata-mata hanya ditentukan oleh kekuatan para pedagang dalam memutarkan dagangannya, kini juga ditentukan oleh kemampuan

8Wawancara dengan Fadel pada 14 Mei 2010.

9 Bal adalah ukuran yang lazim dalam dunia garment. Volume bal bergantung pada jenis dan jumlah pakaian yang dimuatnya. Untuk kaos dan kemeja, 1 bal kurang lebih berisi 500 potong; untuk celana berbahan katun kurang lebih 350 potong; celana berbahan denim/jeans kurang lebih 120-150 potong, dan jaket (berbahan denim atau kulit) 1 bal kurang lebih 100-130 potong. Wawancara dengan Dedi, pemilik gerai NN (tanpa nama) di Senuko, Godean pada 10 Mei 2010.

81

mereka dalam menjaga kontinyuitas akses terhadap pakaian bekas di pasar yang harganya menjadi semakin mahal. Bagi pedagang bermodal cukup hal yang demikian bukan merupakan persoalan sehingga mereka tetap bisa bertahan. Akan tetapi sebaliknya, bagi pedagang yang tidak kuat secara permodalan hal itu akan menimbulkan masalah yang tidak sederhana. Menghadapi hal semacam itu ada sebagian pedagang yang kemudian menempuh upaya penyelamatan dengan cara menjual satu jenis pakaian bekas tertentu. Sementara sebagian lainnya secara tragis terpaksa harus gulung tikar. Para pedagang ini harus menjual sisa rombengan berikut gerainya kepada pedagang lain yang memiliki modal lebih besar.10

Kedua, berkenaan dengan keterlibatan Indonesia di dalam persepakatan perdagangan bebas negara-negara ASEAN dengan China (ACFTA, ASEAN-China Free Trade Agreement); yang ditandatangani oleh presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 27 November 2009. Sebuah persepakatan yang tidak saja berimplikasi pada membanjirnya pelbagai produk China, termasuk pakaian, ke Indonesia, tetapi juga membuka kemungkinan kepada para pedagang garmen Indonesia beralih profesi sebagai importir.11 Harga yang sangat kompetitif (baca: murah) dan jaminan legalisasi secara Government to Government yang menjanjikan keleluasaan akses dan keberlanjutan usaha tak pelak mampu menyedot animo para pedagang pakaian. Hal itu pulalah yang kemudian mendorong sebagian pedagang

10 Fadel adalah satu-satunya pedagang pakaian bekas yang paling ulet dan masih tetap berjaya hingga saat kini. Di bawah nama atau bendera “Sandang Murah”sampai sekarang ini Fadel memiliki atau menggoperasikan 9 gerai pakaian bekas sebagaimana tersebar di beberapa lokasi di Yogyakarta. Sebagian gerainya dibeli dari temannya yang beralih usaha atau gulung tikar. Wawancara, pada 14 Mei 2010.

11 Selain pakaian, juga kendaraan bermotor, alat-alat elektronik, makanan, dan buah-buahan. Lihat “Presiden: ACFTA Bukan Ancaman, Tapi Peluang”, Kompas.com 2 April 2010. Juga “ACFTA Diteken, Realisasi Investasi China ke Indonesia Meningkat”, Kompas.com 3 April 2010. Keduanya diakses pada 11 April 2010.

82

pakaian bekas meninggalkan usaha lamanya dan terlibat sebagai distributor dan pengecer. Di pasar Beringharjo, sampai saat ini, aktivitas perdagangan pakaian asal China itu banyak melibatkan para eks pedagang pakaian bekas.

Dalam dokumen Manis yang belum sudah : identitas dan subjektivitas pakaian bekas di Yogyakarta. (Halaman 96-101)