• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hipotesis Penelitian

Dalam dokumen T E S I S. Oleh DAUD WIJAYA SITORUS /PWD (Halaman 46-0)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.10. Hipotesis Penelitian

Berdasarkan kerangka pemikiran di atas, maka hipotesis penelitian ini adalah :

1. Pembangunan Kawasan Industri Sei Mangkei mempunyai peranan terhadap penyerapan tenaga kerja di Kecamatan Bosar Maligas.

2. Pembangunan Kawasan Industri Sei Mangkei mempunyai peranan terhadap perkembangan Tempat-tempat usaha di Kecamatan Bosar Maligas.

3. Pembangunan Kawasan Industri Sei Mangkei mempunyai peranan terhadap pendapatan masyarakat di Kecamatan Bosar Maligas.

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan di Kawasan Industri Sei Mangkei pada Nagori Sei Mangkei, Kecamatan Bosar Maligas, Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara yang didasarkan pada pertimbangan bahwa Nagori Sei Mangkei tersebut merupakan tempat yang terkena dampak kegiatan tersebut. Lokasi penelitian dapat dilihat pada lampiran 6. Sedangkan waktu penelitian dilakukan pada bulan September sampai dengan Nopember 2012.

3.2. Populasi dan Sampel 3.2.1. Populasi

Populasi merupakan jumlah keseluruhan dari unit analisa yang ciri-cirinya akan di duga. Populasi juga merupakan wilayah generalisasi yang terdiri dari objek dan subjek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang diterapkan oleh peneliti untuk mempelajari serta menarik kesimpulannya (Sugiyono, 2008).

Populasi dalam penelitian ini meliputi kepala keluarga yang bermukim lebih dari 5 tahun di Nagori Sei Mangkei. Karena Pembangunan Kawasan Industri Sei Mangkei ini dimulai Tahun 2009, maka untuk mengetahui ada atau tidaknya peranan kegiatan pembangunan kawasan industri ini, dibutuhkan informasi dari masyarakat yang telah bermukim sebelum adanya kegiatan pembangunan kawasan industri ini.

Berdasarkan Data Badan Pusat Statistik Kabupaten Simalungun (2011), Jumlah Penduduk dan Rumah Tangga di Nagori Sei Mangkei Kecamatan Bosar Maligas Tahun 2010 sebagai berikut :

Tabel 3.1. Jumlah Penduduk dan Rumah Tangga di Nagori Sei Mangkei Kecamatan Bosar Maligas Tahun 2010

Nagori Jumlah Rumah Tangga (KK)

Laki-laki (jiwa)

Perempuan (jiwa)

Jumlah (jiwa)

Sei Mangkei 600 1.591 1.533 3.124

Sumber : BPS Kecamatan Bosar Maligas Dalam Angka 2011

3.2.2. Sampel

Metode yang digunakan dalam penarikan sampel adalah pengambilan sampel secara purposive sampling yaitu teknik penentuan sampel dengan tujuan tertentu saja (Sugiyono, 2008). Pengambilan sampel secara purposive sampling ditentukan berdasarkan pada ciri tertentu yang dianggap mempunyai hubungan yang erat dengan ciri populasi. Dengan kata lain unit sampel yang diambil disesuaikan dengan kriteria-kriteria terutama yang ditetapkan berdasarkan tujuan penelitian.

Sampel (responden) yang diambil adalah kepala keluarga (bapak atau ibu).

Adapun pertimbangan yang digunakan dalam penentuan sampel dalam penelitian ini adalah Rumah Tangga (KK) yang telah bermukim lebih dari 5 tahun.

Berdasarkan informasi dari Kantor Pangulu Nagori Sei Mangkei, jumlah rumah tangga (KK) yang telah bermukim lebih dari 5 tahun adalah sebanyak 500 KK.

Penggambilan sampel sebesar 10 % dari 500, maka jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 50 KK. Pengambilan sampel ini berdasarkan pendapat Sugiarto, dkk (2001) bahwa pada umumnya sampel diambil sekitar 10 % dari total populasi, bilamana jumlah ini masih dianggap besar (lebih dari 30) maka biasanya sampel ditetapkan sebanyak 30 dengan pertimbangan ukuran sampel tersebut telah dapat memberikan ragam populasi.

Jumlah sampel ini di anggap telah memenuhi syarat sesuai dengan pendapat Roscoe (dalam Sugiyono, 2008) bahwa dalam penelitian sosial, ukuran sampel yang layak digunakan antara 30 hingga 500 responden.

3.3. Jenis dan Sumber Data

Data yang dipergunakan dalam penelitian ini meliputi data primer dan data sekunder baik yang bersifat kualitatif dan kuantitatif. Data primer yang bersifat kualitatif bersumber dari hasil pengamatan lapangan serta wawancara dan kuisioner yang diberikan kepada responden. Data sekunder yang bersumber dari studi kepustakaan dan instansi-instansi terkait seperti : Pemerintah Kabupaten Simalungun atau Bappeda, Kantor Pertanahan Kabupaten Simalungun dan Badan Pusat Statistik Kabupaten Simalungun.

3.4. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dilakukan sesuai dengan jenis data yang digunakan. Data primer dikumpulkan dengan teknik survei dengan menggunakan daftar pertanyaan kuisioner, wawancara tidak berstruktur dan pengamatan lapangan. Data sekunder di peroleh dengan cara studi kepustakaan dan data

Pemerintah Kabupaten Simalungun atau Bappeda, Kantor Pertanahan Kabupaten Simalungun dan Badan Pusat Statistik Kabupaten Simalungun.

Data primer untuk variabel penyerapan tenaga kerja, perkembangan Tempat-tempat usaha dan pendapatan masyarakat, data yang dikumpulkan sebagai berikut : Umur kepala keluarga; pendidikan terakhir kepala keluarga;

pekerjaan kepala keluarga; lama bertempat tinggal; tenaga kerja pada saat pembangunan Kawasan Industri Sei Mangkei; Tempat-tempat usaha pada saat pembangunan Kawasan Industri Sei Mangkei dan pendapatan masyarakat pada saat pembangunan Kawasan Industri Sei Mangkei. Semua data-data primer yang diperoleh merupakan persepsi masyarakat yang akan di kaji.

3.5. Variabel Penelitian

Adapun yang menjadi variabel penelitian terdiri dari : Variabel bebas (Independent Variable), yaitu : - Pembangunan Kawasan Industri Sei Mangkei Variabel Terikat (Dependent Variable), yaitu : - Penyerapan tenaga kerja;

- Perkembangan Tempat-tempat usaha;

- Pendapatan masyarakat.

3.6. Metode dan Teknik Analisis Data 3.6.1. Metode Analisis Data

Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi linear sederhana. Menurut Priyatno (2011) Analisis regresi linear sederhana digunakan untuk mengetahui pengaruh antara satu variabel independen dengan satu variabel dependen yang ditampilkan dalam bentuk persamaan regresi. Sugiyono (2008) menguraikan jenis-jenis paradigma penelitian, salah satu diantaranya adalah paradigma ganda dengan satu variabel independen (bebas) dan dua variabel dependen (terikat), dimana untuk mencari besarnya hubungan variabel digunakan analisis regresi linear sederhana. Persamaan regresi linear sederhana dalam penelitian ini diformulasikan sebagai berikut :

Y1 = a + bX + e Y2 = a + bX + e Y3 = a + bX + e

Dimana : X = Pembangunan Kawasan Industri Sei Mangkei (Skala Likert) Y1 = Penyerapan Tenaga Kerja (Skala Likert)

Y2 = Perkembangan Tempat-tempat Usaha (Skala Likert) Y3 = Pendapatan Masyarakat (Skala Likert)

a = Konstanta

b = Koefisien Regresi e = Term of Error

Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan program komputer Statistical Package for Social Studies (SPSS) versi 17.

3.6.2. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan penelitian ini dengan menggunakan model regresi. Penelitian ini di uji dengan beberapa alat uji statistik menggunakan SPSS versi 17 yang terdiri dari : uji kualitas data, uji penyimpangan asumsi klasik dan uji hipotesis.

3.6.2.1. Uji Kualitas Data

Ada dua konsep mengukur kualitas data, yaitu : validitas dan reliabilitas.

Data yang telah dikumpulkan berdasarkan persepsi responden kemudian dikuantitatifkan agar dapat dilakukan uji statistik. Untuk menguji kesahihan persepsi responden digunakan uji kualitas data kuesioner kepada seluruh responden (Indriantoro dan Supomo, 1999).

a. Uji Validitas

Uji validitas digunakan untuk mengukur ketepatan suatu item dalam kuesioner atau skala, apakah item-item pada kuesioner tersebut sudah tepat dalam mengukur apa yang ingin di ukur. Alat analisis yang digunakan adalah Korelasi Bivariate Pearson (Produk Moment Pearson) dan Corrected Item-Total Correlation, dengan kriteria pengujian (Priyatno, 2011) :

 Jika r-hitung ≥ r-tabel (uji 2 sisi dengan Sig. 0,05), maka instrument atau item-item pernyataan berkorelasi signifikan terhadap skor total, maka item pernyataan dinyatakan valid.

 Jika r-hitung < r-tabel (uji 2 sisi dengan Sig. 0,05), maka instrument atau item-item pernyataan tidak berkorelasi signifikan terhadap skor total, maka item pernyataan dinyatakan tidak valid.

b. Uji Reliabilitas

Menurut Sekaran dalam Erlina (2011), reliabilitas adalah tingkat seberapa besar suatu pengukur, mengukur dengan stabil dan konsisten. Lebih lanjut, Priyatno (2011) mengemukakan bahwa uji realibilitas digunakan untuk mengetahui apakah alat pengukur yang digunakan dapat diandalkan dan konsisten jika pengukuran tersebut di ulang. Alat analisis atau metode uji realibilitas yang sering digunakan adalah Cronbach’s Alpha, dengan kriteria pengujian (Ghozali, 2005) :

 Jika Alpha > 0,6, maka instrumen pengamatan dinyatakan reliabel.

 Jika Alpha < 0,6, maka instrumen pengamatan dinyatakan tidak reliabel.

3.6.2.2. Uji Penyimpangan Asumsi Klasik

Pengujian penyimpangan asumsi klasik harus dilakukan terlebih dahulu sebelum menguji hipotesis yang menggunakan model analisis regresi. Uji penyimpangan asumsi klasik yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji normalitas dan heteroskedastisitas, sedangkan pengujian multikolinearitas tidak dilakukan oleh karena variabel bebas (Independent Variable) yang digunakan hanya satu, demikian juga halnya uji autokorelasi tidak dilakukan oleh karena jangka waktu pengamatan tidak bersifat time-series. Penjelasan analisis uji penyimpangan asumsi klasik adalah sebagai berikut :

a. Uji Normalitas

Uji normalitas pada model regresi yang digunakan untuk menguji apakah nilai residual terdistribusi secara normal atau tidak. Model regresi yang baik adalah yang memiliki nilai residual yang terdistribusi secara normal. Asumsi

distribusi normal diperiksa dengan menggunakan grafik Histogram. Data terdistribusi normal, apabila grafik histogram berbentuk lonceng yang hampir sempurna (simetris), sedangkan jika grafik histogram pola distribusi menceng ke kiri tidak normal. Untuk menghindari subjektivitas pengamatan juga digunakan alat analisis pengujian normalitas dengan metode One Sample Kolmogorov-Smirnov Test dengan kriteria pengujian : jika nilai signifikansinya (Asymp.Sig) >

0,05, maka dinyatakan bahwa variabel penelitian terdistribusi secara normal (Priyatno, 2011).

b. Uji Heteroskedastisitas

Prasyarat yang harus terpenuhi dalam model regresi adalah tidak adanya masalah heteroskedastisitas. Uji heteroskedastisitas digunakan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan varian dari residual pada satu pengamatan ke pengamatan lain. Metode pengujian heteroskedastisitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah Grafik Scatterplot, dengan kriteria pengujian : jika titik menyebar secara acak serta tersebar baik di atas maupun di bawah angka 0 (nol) pada sumbu Y dan tidak membentuk pola tertentu yang teratur, maka dinyatakan model regresi tidak terdapat (terbebas) dari heteroskedastisitas (Priyatno, 2011). Uji statistik dilakukan dengan Glejser, suatu data dikatakan terbebas dari penyimpangan heteroskedastisitas apabila secara statistik variabel bebas tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel terikat Absolut Ut (AbsUt) atau jika nilai signifikan antara variabel bebas dengan residual lebih besar dari 0,05 atau 5 % (Ghozali, 2005).

3.6.2.3. Uji Hipotesis

Uji hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : a. Koefisien Determinsi (R2)

Analisis koefisien determinasi merupakan suatu analisis yang digunakan untuk mengetahui kekuatan variabel bebas (Independent Variable) menjelaskan varibel terikat (Dependent Variable). Analisis koefisien determinasi dilakukan secara parsial, yaitu dengan melakukan pengamatan indikator R2 untuk menyatakan koefisien determinasi parsial variabel bebas (Independent Variable) terhadap varibel terikat (Dependent Variable). Hasil analisis koefisien determinasi dapat dilihat out put SPSS Model Summary.

b. Partial Test (Uji-t)

Pengujian hipotesis dilakukan melalui Uji-t, yaitu untuk mengetahui signifikansi statistik koefisien regresi secara parsial. Adapun rumusan pengujian hipotesis adalah :

1. Hubungan Pembangunan Kawasan Industri Sei Mangkei terhadap Penyerapan Tenaga Kerja

H0 : α = 0 Pembangunan Kawasan Industri Sei Mangkei tidak berperanan secara parsial terhadap Penyerapan Tenaga Kerja.

H1 : α ≠ 0 Pembangunan Kawasan Industri Sei Mangkei mempunyai peranan secara parsial terhadap Penyerapan Tenaga Kerja.

2. Hubungan Pembangunan Kawasan Industri Sei Mangkei terhadap Perkembangan Tempat-tempat Usaha

H0 : α = 0 Pembangunan Kawasan Industri Sei Mangkei tidak berperanan secara parsial terhadap Perkembangan Tempat-tempat Usaha.

H1 : α ≠ 0 Pembangunan Kawasan Industri Sei Mangkei mempunyai peranan secara parsial terhadap Perkembangan Tempat-tempat Usaha.

3. Hubungan Pembangunan Kawasan Industri Sei Mangkei terhadap Pendapatan Masyarakat

H0 : α = 0 Pembangunan Kawasan Industri Sei Mangkei tidak berperanan secara parsial terhadap Pendapatan Masyarakat.

H1 : α ≠ 0 Pembangunan Kawasan Industri Sei Mangkei mempunyai peranan secara parsial terhadap Pendapatan Masyarakat.

sedangkan kriteria pengujian hipotesis adalah :

 Jika thitung > ttabel, maka H0 di tolak atau H1 di terima.

 Jika thitung < ttabel, maka H0 di terima atau H1 di tolak.

3.7. Defenisi Variabel Operasional Penelitian

Dalam penelitian ini digunakan beberapa variabel antara lain :

1. Pembangunan Kawasan Industri adalah pembangunan tempat pemusatan kegiatan industri yang dilengkapi dengan prasarana dan sarana yang disediakan.

2. Penyerapan tenaga kerja adalah kemampuan menyerap tenaga kerja dari jumlah penduduk (dalam satuan orang).

3. Perkembangan tempat-tempat usaha adalah berkembangnya tempat-tempat usaha akibat pembangunan Kawasan Industri Sei Mangkei (dalam satuan unit).

4. Pendapatan masyarakat adalah berupa perolehan gaji atau penghasilan dari berusaha yang timbul dari kesempatan bekerja dan membuka usaha sendiri dengan adanya pembangunan Kawasan Industri Sei Mangkei (dalam satuan rupiah).

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian 4.1.1. Kabupaten Simalungun

Kabupaten Simalungun secara geografis letaknya berada di antara 02o 36’

00” - 03o 18’ 00” Lintang Utara (LU) dan 98o 32’ - 99o 35’ Bujur timur (BT), dengan luas 4.386,6 Km2 atau 6,12 persen dari luas Provinsi Sumatera Utara dan merupakan Kabupaten terluas ke-3 setelah Kabupaten Mandailing Natal dan Kabupaten Langkat. Batas-batas wilayah Kabupaten Simalungun adalah sebagai berikut :

 Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Serdang Bedagai dan Deli Serdang;

 Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Toba Samosir;

 Sebelah Timur berbatasan dengan dengan Kabupaten Asahan dan Kabupaten Batubara;

 Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Karo.

Suhu udara rata‐rata di Kabupaten Simalungun Tahun 2010 adalah 25,5°C, dengan suhu terendah 21,1°C. dan suhu tertinggi 31,5°C. Suhu udara rata‐rata naik setiap tahunnya. Seperti halnya suhu udara maksimum dimana pada Tahun 2007 suhu maksimum 29,8°C naik menjadi 30,5°C di Tahun 2008, selanjutnya naik kembali menjadi 31,1°C Tahun 2009 dan 31,5°C di Tahun 2010.

Kabupaten Simalungun terkenal sebagai daerah penghasil (lumbung) beras dan perkebunan dengan mata pencaharian penduduk yang terutama adalah usaha pertanian tanaman pangan dan perkebunan, baik skala besar maupun perkebunan rakyat.

Wilayah Kabupaten Simalungun berada pada ketinggian 0 – 1.600 meter di atas permukaan laut (dpl). Luas Wilayah Kabupaten Simalungun berdasarkan ketinggian dapat dilihat pada Tabel 4.1. dan Grafik 4.1. berikut ini.

Tabel 4.1. Luas Wilayah Kabupaten Simalungun Berdasarkan Ketinggian No. Ketinggian (m dpl) Luas (Ha) Persentase (%)

Sumber : BPS Kabupaten Simalungun Dalam Angka, 2011

Grafik 4.1. Luas Wilayah Kabupaten Simalungun Berdasarkan Ketinggian

Penyebaran kemiringan lahan/lereng di wilayah Kabupaten Simalungun terdiri dari : kemiringan datar (0 – 2 %), landai (2 – 15 %), bergelombang/berbukit (15 – 40 %) dan curam ( > 40 %). Luas lahan berdasarkan penyebaran kemiringan lahan/lereng dapat dilihat pada Tabel 4.2. dan Grafik 4.2.

berikut ini.

Tabel 4.2. Luas Wilayah Kabupaten Simalungun Berdasarkan Penyebaran Kemiringan Lahan/Lereng

No. Kemiringan Lahan/Lereng Luas (Ha) Persentase (%) 1.

2.

3.

4.

Datar (0 – 2 %) Landai (2 – 15 %) Bergelombang/Berbukit

(15 – 40 %) Curam (> 40%)

117.558 160.613

100.684 59.805

26,80 36,61

22,95 13,63

Jumlah 438.660 100,00

Sumber : BPS Kabupaten Simalungun Dalam Angka, 2011

Grafik 4.2. Luas Wilayah Kabupaten Simalungun Berdasarkan Kemiringan Lahan/Lereng

Kabupaten Simalungun terdiri dari 31 Kecamatan dengan luas wilayah masing-masing kecamatan dapat dilihat pada Tabel 4.3. dan Grafik 4.3. berikut ini.

Tabel 4.3. Luas Wilayah Kecamatan di Kabupaten Simalungun No. Kecamatan Luas (Km2) Rasio Terhadap Luas

12.

Jawa Maraja Bah Jambi Pematang Bandar

Sumber : BPS Kabupaten Simalungun Dalam Angka, 2011

Grafik 4.3. Luas Wilayah Kecamatan di Kabupaten Simalungun

Penggunaan lahan terluas di Kabupaten Simalungun terdiri dari : perkebunan besar seluas 141.623 Ha (32,28 %), hutan belukar seluas 87.924 (20,04 %), tegalan/ladang seluas 76.834 Ha (17,56 %), sawah 59.893 Ha (13,65

%), sedangkan yang terkecil terdiri dari padang rumput seluas 265 Ha (0,06 %), sungai/danau seluas 1.887 Ha (0,43 %) dan semak seluas 2.974 Ha (0,67 %).

Perincian penggunaan lahan di Kabupaten Simalungun dapat dilihat pada Tabel 4.4. dan Grafik 4.4. berikut ini dan Peta Penggunaan Lahan pada lampiran 5.

Tabel 4.4. Luas Penggunaan Lahan di Kabupaten Simalungun No. Penggunaan Lahan Luas (Ha) Persentase (%)

1.

Sumber : Kantor Pertanahan Kabupaten Simalungun, 2009

Grafik 4.4. Penggunaan Lahan Kabupaten Simalungun 4.1.2. Kecamatan Bosar Maligas

Kecamatan Bosar Maligas merupakan salah satu kecamatan dari 31 kecamatan yang ada di Kabupaten Simalungun. Letak Kecamatan Bosar Maligas berada pada ketinggian sekitar 0 - 150 meter di atas permukaan laut (dpl). Luas Kecamatan Bosar Maligas adalah 294,40 Km2 (6,71 %) yang merupakan kecamatan terluas kedua setelah Kecamatan Raya dari seluruh kecamatan yang ada di Kabupaten Simalungun.

Adapun batas-batas wilayah Kecamatan Bosar Maligas adalah sebagai berikut :

a. Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Asahan;

b. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Ujung Padang;

c. Sebelah Timur berbatasan dengan dengan Kecamatan Ujung Padang;

Wilayah Kecamatan Bosar Maligas berada pada ketinggian 0 – 150 meter di atas permukaan laut (dpl). Luas Wilayah Kecamatan Bosar Maligas berdasarkan ketinggian dapat dilihat pada Tabel 4.5. dan Grafik 4.5. berikut ini.

Tabel 4.5. Luas Wilayah Kecamatan Bosar Maligas Berdasarkan Ketinggian No. Ketinggian (m dpl) Luas (Ha) Persentase (%)

1.

2.

3.

4.

≤ 25 26 – 50 51 – 100 101 – 150

525 5.660 14.600

8.655

1,78 19,22 49,59 29,41

Jumlah 29.440 100,00

Sumber : BPS Kabupaten Simalungun Dalam Angka, 2011

Grafik 4.5. Luas Wilayah Kecamatan Bosar Maligas Berdasarkan Ketinggian

Penyebaran kemiringan Lahan/lereng di Kecamatan Bosar Maligas dapat dilihat pada Tabel 4.6. dan Grafik 4.6. berikut ini.

Tabel 4.6. Luas Wilayah Kecamatan Bosar Maligas Berdasarkan Penyebaran Kemiringan Lahan/Lereng

No. Kemiringan Lahan/Lereng Luas (Ha) Persentase (%) 1.

2.

3.

4.

Datar (0 – 2 %) Landai (2 – 15 %) Bergelombang/Berbukit (15 – 40 %)

Curam (> 40%)

14.085 7.350

8.005 -

47,84 24,96

27,20 -

Jumlah 29.440 100,00

Sumber : BPS Kabupaten Simalungun Dalam Angka, 2011

Grafik 4.6. Luas Wilayah Kecamatan Bosar Maligas Berdasarkan Kemiringan Lahan/Lereng

Kecamatan Bosar Maligas terdiri dari 17 nagori/kelurahan. Luas Kecamatan Bosar Maligas berdasarkan nagori/kelurahan adalah sebagai berikut (Tabel 4.7. dan Grafik 4.7.).

Tabel 4.7. Luas Kecamatan Bosar Maligas Berdasarkan Nagori/Kelurahan No. Nagori/Kelurahan Luas (Km2) Rasio Terhadap Luas

Kecamatan (%)

Sumber : BPS Kecamatan Bosar Maligas Dalam Angka, 2011

Keterangan : n = nagori, k = kelurahan

Grafik 4.7. Luas Kecamatan Bosar Maligas Berdasarkan Nagori/Kelurahan

4.1.3. Nagori Sei Mangkei

Nagori Sei Mangkei merupakan Nagori yang diklasifikasikan sebagai Nagori Swasembada. Nagori Sei Mangkei mempunyai luas 19,56 Km2 atau 6,64

% dari rasio terhadap luas Kecamatan Bosar Maligas. Jumlah Penduduk di Nagori Sei Mangkei sebanyak 3.124 jiwa dengan perincian laki-laki 1.591 jiwa dan perempuan 1.533 jiwa. Penggunaan Lahan di Nagori Sei Mangkei terdiri dari lahan kering seluas 1.813 Ha dan halaman pekarangan seluas 143 Ha (Sumber : Kantor Pangulu Nagori Sei Mangkei, 2012).

Jumlah fasilitas umum dan fasilitas sosial yang ada di Nagori Sei Mangkei terdiri dari : Taman Kanak-kanak sebanyak 1 lokasi; Sekolah Dasar sebanyak 2 lokasi; Madrasah sebanyak 2 lokasi; Mesjid sebanyak 5 lokasi; Gereja sebanyak 1 lokasi; Poliklinik sebanyak 1 lokasi dan praktek kesehatan sebanyak 1 lokasi (Sumber : Kantor Pangulu Nagori Sei Mangkei, 2012).

Jumlah usaha menurut lapangan usaha yang ada di Nagori Sei Mangkei sebanyak 102 kegiatan. Perincian berdasarkan jumlah usaha menurut lapangan usaha di Nagori Sei Mangkei Tahun 2010 adalah sebagai berikut (Tabel 4.8.).

Tabel 4.8. Jumlah Usaha Menurut Lapangan Usaha di Nagori Sei Mangkei

No. Lapangan Usaha/Sektor Jumlah Keterangan

1.

Perdagangan Besar dan eceran Akomodasi dan Makan Minum Transportasi, Penggudangan dan Komunikasi

Real Estate, Usaha Persewaan Jasa Pendidikan

Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial

Jasa Kemasyarakatan, Sosial Budaya, Hiburan dan Perorangan Lainnya

Sumber : BPS Kecamatan Bosar Maligas Dalam Angka, 2011

Jumlah tenaga kerja menurut lapangan usaha yang ada di Nagori Sei Mangkei sebanyak 3.190 orang. Perincian berdasarkan jumlah tenaga kerja menurut lapangan usaha di Nagori Sei Mangkei Tahun 2010 adalah sebagai berikut (Tabel 4.9.).

Tabel 4.9. Jumlah Tenaga Kerja Menurut Lapangan Usaha di Nagori Sei Mangkei

No. Lapangan Usaha/Sektor Jumlah (orang)

Perdagangan Besar dan eceran Akomodasi dan Makan Minum Transportasi, Penggudangan dan Komunikasi

Real Estate, Usaha Persewaan Jasa Pendidikan

Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial

Jasa Kemasyarakatan, Sosial Budaya, Hiburan dan Perorangan Lainnya

Sumber : BPS Kecamatan Bosar Maligas Dalam Angka 2011

4.2. Karakteristik Responden 4.2.1. Jenis Kelamin

Pada Tabel 4.10. dan Grafik 4.8. dapat dilihat bahwa jenis kelamin responden laki-laki sebanyak 44 orang (88 %) dan perempuan sebanyak 6 orang (12 %).

Tabel 4.10. Jenis Kelamin Responden

No. Jenis Kelamin Jumlah (Jiwa) Persentase (%) 1.

2.

Laki-laki

Perempuan

44

6

88

12

Jumlah 50 100

Sumber : Data Primer diolah, 2012

Grafik 4.8. Jenis Kelamin Responden

4.2.2. Umur Responden

Pada Tabel 4.11. dan Grafik 4.9. dapat dilihat bahwa umur responden 30 – 39 tahun sebanyak 8 orang (16 %), umur responden 40 – 49 tahun sebanyak 22 orang (44 %), umur responden 50 – 59 tahun sebanyak 14 orang (28 %) dan umur responden ≥ 60 tahun sebanyak 6 orang (12 %).

Tabel 4.11. Umur Responden

No. Umur (Tahun) Jumlah (Jiwa) Persentase (%) 1.

2.

3.

4.

30 – 39 40 – 49 50 – 59

≥ 60

8 22 14 6

16 44 28 12

Jumlah 50 100

Sumber : Data Primer diolah, 2012

Grafik 4.9. Umur Responden

4.2.3. Tingkat Pendidikan

Pada Tabel 4.12. dan Grafik 4.10. dapat dilihat bahwa tingkat pendidikan tamat Sekolah Dasar (SD) sebanyak 5 orang (10 %), tamat Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) sebanyak 19 orang (38 %) dan tamat Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) sebanyak 26 orang (52 %).

Tabel 4.12. Tingkat Pendidikan Responden

No. Tingkat Pendidikan Jumlah (Jiwa) Persentase (%) 1.

2.

3.

Tamat SD

Tamat SLTP Tamat SLTA

5

19 26

10

38 52

Jumlah 50 100

Sumber : Data Primer diolah, 2012

Grafik 4.10. Tingkat Pendidikan Responden

4.2.4. Jumlah Anggota Keluarga

Pada Tabel 4.13. dan Grafik 4.11. dapat dilihat bahwa jumlah anggota keluarga responden 1 – 2 sebanyak 3 orang (6 %), jumlah anggota keluarga responden 3 – 4 sebanyak 29 orang (58 %), jumlah anggota keluarga responden 5 – 6 sebanyak 16 orang (32 %) dan jumlah anggota keluarga responden ≥ 7 sebanyak 2 orang (4 %).

Tabel 4.13. Jumlah Anggota Keluarga Responden

No. Anggota Keluarga Jumlah (Jiwa) Persentase (%) 1.

2.

3.

4.

1 – 2 3 – 4 5 – 6

≥ 7

3 29 16 2

6 58 32 4

Jumlah 50 100

Sumber : Data Primer diolah, 2012

Grafik 4.11. Jumlah Anggota Keluarga Responden

4.2.5. Lama Tinggal (Bermukim)

Pada Tabel 4.14. dan Grafik 4.12. dapat dilihat bahwa lama tinggal (bermukim) responden 6 – 10 tahun sebanyak 6 orang (12 %), lama tinggal (bermukim) responden 11 – 15 tahun sebanyak 10 orang (20 %), lama tinggal (bermukim) responden 16 – 20 tahun sebanyak 13 orang (26 %) dan lama tinggal (bermukim) responden ≥ 21 tahun sebanyak 21 orang (42 %).

Tabel 4.14. Lama Tinggal (Bermukim) Responden

No. Umur (Tahun) Jumlah (Jiwa) Persentase (%) 1.

2.

3.

4.

6 – 10 11 – 15 16 – 20

≥ 21

6 10 13 21

12 20 26 42

Jumlah 50 100

Sumber : Data Primer diolah, 2012

Grafik 4.12. Lama Tinggal (Bermukim) Responden

4.3. Pembangunan Kawasan Industri Sei Mangkei di Kecamatan Bosar Maligas

Pembangunan kawasan industri di tinjau dari aspek kependudukan mempunyai nilai penting, dimana letak kawasan industi yang biasanya berada di pinggiran kota atau di luar kota dapat mengurangi arus urbanisasi. Masyarakat dari desa tidak lagi hanya menargetkan kota sebagai tempat mencari pekerjaan, tetapi cukup ke kawasan industri yang menyediakan lapangan lapangan kerja cukup banyak. Para warga kota yang bekerja di kawasan industri juga cenderung akan memilih tinggal di daerah kawasan industri apabila kawasan industri telah menyediakan fasilitas permukiman yang layak. Sehingga peluang arus migrasi dari kota ke daerah pinggiran kota menjadi semakin besar yang tentu saja dapat mengurangi kepadatan penduduk kota sebagai nilai positifnya.

Di samping memberikan pengaruh positif, pembangunan kawasan industri juga memberikan dampak negatif yaitu berkaitan dengan aspek lingkungan, misalnya : terjadi polusi atau pencemaran dan kerusakan lingkungan akibat limbah yang dihasilkan dari pabrik-pabrik kawasan industri. Pencemaran dari pabrik-pabrik di kawasan industri ini biasanya berupa polusi udara, air, kebisingan ataupun degradasi tanah dan yang langsung menerima dampak negatif itu adalah warga yang bermukim di sekitar lokasi kawasan industri. Untuk itu, pembangunan kawasan industri harus memperhatikan aspek-aspek di atas, agar tidak ada masyarakat yang dirugikan.

Kehadiran pembangunan kawasan industri mendorong penduduk pendatang untuk menetap di desa tempat industri didirikan dengan tujuan bekerja.

Hal ini diakibatkan banyaknya peluang kerja yang ditawarkan, kondisi ini

menyebabkan terjadinya interaksi antara penduduk pendatang dengan masyarakat setempat, sehingga keadaan ini memberikan pengaruh terhadap kondisi dan corak kehidupan masyarakat. Kawasan Industri ini pada tahap operasional, nantinya akan memberikan pengaruh terhadap sosial budaya masyarakat setempat.

Pengaruh positif yaitu masuknya teknologi yang lebih modern dari penduduk pendatang dan inovasi-inovasi terbaru yang ditawarkan, sedangkan pengaruh negatif yaitu terjadinya pergeseran kebiasaan, sikap dan gaya hidup. Kebiasaan

Pengaruh positif yaitu masuknya teknologi yang lebih modern dari penduduk pendatang dan inovasi-inovasi terbaru yang ditawarkan, sedangkan pengaruh negatif yaitu terjadinya pergeseran kebiasaan, sikap dan gaya hidup. Kebiasaan

Dalam dokumen T E S I S. Oleh DAUD WIJAYA SITORUS /PWD (Halaman 46-0)

Dokumen terkait