• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Perekonomian Indonesia seperti banyak negara berkembang, saat ini sedang berada dalam situasi yang sulit, dimana Indonesia telah mengalamiperlambatan ekonomi dalam empat tahun terakhir dikarenakan krisis keuangan global.Sisi pertamayang mempengaruhi ekonomi Indonesia adalah perlambatan ekonomi China, yang merupakan salah satu mitra dagang utama Indonesia. Sisi kedua berasal dari krisis finansial yang terjadi di Amerika dimana faktor terbesar pemicu krisis tersebut berasal dari dua perusahaan besar yaitu Lehman Brothers dan Dow Jones. 1

Meskipun di Indonesia ada persepsi yang kuat dikalangan pemerintah bahwa krisis keuangan global tidak akan terlalu berpengaruh pada perekonomian nasional.

Namun mau tidak mau Indonesia tetap terkena imbas krisis ekonomi global. Persepsi pemerintah tersebut didasari karena adanya anggapan bahwa fundamental ekonomi Indonesia kuat dan sektor perbankan tidak serentan 10 tahun lalu.Padahal, situasi perekonomian negara yang fundamental ekonominya lebih kuat dari Indonesia-pun juga mengalami imbas bahkan lebih parah seperti Cina dan Korea.2

1Bank Lehman Brothers dengan CEO-nya, Richard Severein Fuld, Jr. atau sering dipanggil Dick Fuld meminjam dengan sangat agresif dari Federal Reserve, Bank Sentral Amerika Serikat (disini Bank Indonesia/BI) dengan jumlah sangat banyak, melebihi dari bank-bank lainnya, kurang lebih dua kali dari bank-bank yang lain pada umumnya, hal inilah awal dari krisis kredit perumahan macet atau lebih dikenal dengan subprime mortgage crisis. Muhammad Hambali, Sub Prime Mortgage:Akumulasi Kegagalan Sistem Kapitalisme(Analisis Program Penyelamatan Krisis Financial Global),Memahami Subprime Mortgage AS, http://www.detikfinance.com (Akses tgl 15 April 2016).

2Krisis di Amerika Serikat akan menyebabkan Indonesia terseret krisis melalui dua cara.

Pertama, financial liquid (keterkaitan finansial).Bank Indonesia (BI) dan beberapa perusahaan swasta Indonesia juga membeli saham atau memperoleh investasi dari investment bank-nya Amerika dan

Tentu saja krisis global yang melanda dunia sangat berdampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi suatu negara, tidak tertutup kemungkinan juga berimbas kepada industri pasar modal negara tersebut.3 Industri Pasar Modal dapat dijadikan indikator ekonomi suatu negara bahkan secara ekstrim dapat dijadikan tolok ukur kemajuan suatu negara, artinya suatu bangsa atau negara baru berhak menyandang predikat negara maju kalau industri pasar modalnya mumpuni .

Salah satu kelebihan pasar modal adalah kemampuannya menyediakan modal dalam jangka panjang dan tanpa batas. Misalnya, keberadaan pasar modal sangat bermanfaat untuk membiayai investasi pada proyek-proyek jangka panjang dan memerlukan modal yang besar.4

Sebagaimana telah diketahui Pasar Modal adalah jembatan bagi suatu perusahaan untuk bisa tetap eksis dari segi permodalan dan menjadi perusahaan kelas global.5 Dalam industri pasar modal, harga saham suatu perusahaan dapat dijadikan sebagai salah satu tolok ukur baik tidaknya kinerja keuangan perusahaan tersebut, sehingga dapat dikatakan dalam kondisi yang wajar dan normal, semakin baik kinerja keuangan suatu perusahaan, harga sahamnya juga semakin membaik (meningkat).

Eropa yang sekarang collapse. Otomatis, ini akan berdampak bagi BI dan perusahaan swasta yang bersangkutan. Rontoknya Institusi Wall Street, dalam http://www.kompas.com (Akses tgl 15 April 2016).

3Krisis ekonomi saat ini telah membuat para pemimpin dunia sibuk mencari jalan ke luar untuk mengatasi krisis. Paket penyelamatan krisis telah disiapkan dengan total dana yang luar biasa yaitu 3,4 trilyun dolar AS. Di Amerika sendiri sebesar 700 milyar dolar, Inggris 691 milyar dolar, Jerman 680 milyar dolar, Irlandia 544 milyar dolar, Perancis 492 milyar dolar, Rusia 200 milyar dolar dan negara-negara Asia 80 milyar dolar, Rontoknya Institusi Wall Street dalam http://www.kompas.com (Akses tgl 15 April 2016).

4Sawidji Widoatmojo, Pasar Modal Indonesia : Pengantar dan Studi Kasus, ( Bogor : Ghalia Indonesia, 2009), hlm. 4.

5Ibid, hlm. 3.

Di dalam industri pasar modal, harga saham sangat menentukan nilai jual suatu perusahaan di mata investor. Perusahaan dengan harga saham yang tinggi pada umumnya merefleksikan bahwa kondisi perusahaan tersebut sedang baik dan cukup diminati investor. Karakteristik perusahaan dengan harga saham tinggi biasanya ditandai dengan ciri-ciri laba perusahaan yang selalu surplus setiap tahunnya, kondisi keuangan dan permodalan yang kuat, manajemen perusahaan yang mumpuni dan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas. Dengan demikian,wajar jika perusahaan perlu menjaga harga sahamnya agar mencerminkan kondisi yang sebenarnya meskipun situasi ekonomi sedang mengalami krisis ekonomi global.

Harga saham suatu perusahaan dapat dibaca melalui indeks harga saham yang biasanya selalu fluktuatif. Naik turunnya indeks suatu bursa dapat dibaca sebagai cermin dinamika ekonomi negara tersebut. Itulah sebabnya, dalam publikasi indikator kunci suatu negara sering dijumpai data tentang indeks harga saham. Bila orang menilai perekonomian suatu negara, maka dia akan melihat juga perkembangan indeks harga saham ini, disamping angka inflasi, neraca transaksi berjalan, pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) dan data-data ekonomi makro lainnya.

Dengan demikian terjadinya krisis ekonomi global dapat membuat penilaian terhadap situasi perokonomian suatu negara tercermin buruk di indeks harga saham.

6Krisis ekonomi global dapat menghambat pertumbuhan ekonomi suatu negara

6Menurut ekonom INDEF, Iman Sugema, indikasinya adalah laju penurunan saham di Bursa Efek Indonesia (47,1%) jauh lebih besar dari pada laju penurunan Dow Jones AS (30%). Indikasi lain, suspense yang dilakukan BEI selama tiga hari merupakan langkah yang tidak dilakukan AS.

Oleh karena itu menurutnya adalah suatu kesalahan bila Indonesia mengatakan fundamental ekonomi Indonesia aman-aman saja dan tidak akan berpengaruh terhadap kemiskinan.

(AgungNusantara, Selamatkan Sektor Riil Indonesia dalam Dinamika Keuangan dan Perbankan, Pebruari 2009, Vol. 1 No. 1,hlm. 39-46.)

termasuk industri pasar modalnya karena keduanya sangat menunjukkan korelasi positif atau berhubungan erat. 7

Di Indonesia, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merupakan indeks yang merangkum perkembangan harga-harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). IHSG ini dapat dibaca sebagai gambaran situasi ekonomi nasional. Jadi kalau IHSG menunjukkan peningkatan, maka ini menjelaskan ekonomi Indonesia sedang dalam siklus membaik. Sebaliknya, bila IHSG menurun, ini menjelaskan ekonomi Indonesia sedang mengalami kesulitan.

Sebagaimana telah diketahui, beberapa tahun terakhir, ekonomi Indonesia menunjukkan kesulitan sebagai akibat dari Krisis ekonomi global yang ditandai dengan merosotnya harga saham perusahan-perusahaan go public.8 Dapat dilihat di

7Siklusnya adalah demikian : Seandainya oleh suatu sebab (misalnya terpengaruh oleh resesi dunia), kondisi ekonomi makro suatu negara mengalami surut, yang ditandai dengan rendahnya pertumbuhan PDB, maka ini menunjukkan kemampuan berproduksi dan berkonsumsi masyarakat negara itu menurun. Perusahaan-perusahaan yang go public adalah termasuk kedalam kelompok masyarakat tersebut. Dengan demikian, perusahaan go public juga akan mengalami penurunan produksi yang selanjutnya akan menurunkan tingkat pendapatan perusahaan tersebut. Pada gilirannya, penurunan pendapatan tersebut akan mempengaruhi kinerja perusahaan untuk mencetak laba, dan sangat mempengaruhi kemampuan perusahaan memberikan dividen pada pemegang saham. Yang terakhir ini akan melahirkan opini bahwa kinerja perusahaan tersebut jelek, yang berakibat jatuhnya harga saham di bursa efek. Kalau sebagian besar perushaaan go public mengalami hal tersebut, maka sebagian besar saham juga akan mengalami tren yang menurun juga, dengan demikian penurunan pada angka indeks harga saham dapat dibaca sebagai penurunan kinerja ekonomi secara nasional.

8Akar penyebab masalah (root of causes)dari krisis disebabkan oleh lima faktor. Pertama boom investasi swasta pada tahun 1990-an dan timbul asset bubles yang dipicu adanya anggapan kredit luar negeri murah yang sebahagian besar dalam bentuk jangka pendek bank kepada lembaga keuangan dan perusahaan. Kedua, semakin membesarnya defisit transaksi berjalan yang terjadi berdasarkan rejim nilai tukar tetap atau hampur tetap.Ketiga menurunnya produktifitas investasi yang memanisvestasikan dalam peningkatan yang cepat Incremental CapitalOutput Rations (ICOR), danmelemahnya daya saing produk ekspor.Kempat, lemah dan tidak memadainya peraturan sistem lembaga keuangan sehingga tidak dapat secara berhati-hati (prudent)menyerap pertumbuhan risiko kredit dan harga domestik yang cepat.Kelima , tidak transparannya praktik dan pengolahan (practies and governance) perusahaan.Bagi Indonesia, krisis ekonomi itu menjadi krisis yang berkepanjangan di berbagai bidang.

Berbagai kalangan telah mencoba mengamati penyebab krisis di Asia, seperti antara lain lembaga keuangan intemasional dan berbagai pengamat. Hasilnya, mereka berkesimpulan bahwa sistem hukum dari negara-negara yang terkena krisis itulah yang menjadi salah satu faktor yang memberikan kontribusi.(Javad K. Shirazi, The east Asian Crisis Financial Sector Restructuring : Progress &

IHSG, harga saham perusahaan banyak mengalami penurunan yang cukup signifikan sebagai dampak dari krisis. Menyikapi hal tersebut, pemerintah telah mengambil langkah yakni dengan menganjurkan perusahaan-perusahaan untuk melakukan pembelian kembali (buyback) saham.

Tujuan dari buybacksaham adalah agar harga saham perusahaan lebih stabil.

Manajemen perusahaan melakukanbuybackuntuk melakukan stabilisasi harga9 dan sebagai salah satu alternatif yang dapat dipakai oleh perusahaan untuk meningkatkankembali harga sahamnya yang telah jatuh di pasar.10

Pada dasarnya, buybacksaham adalah pembelian kembali saham-saham yang telah diterbitkan oleh suatu perseroan dan dimiliki oleh perseroan untuk jangka waktu tertentu, maksimum selama 3 tahun. Pasal 37Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (selanjutnya disebut UUPT) mengizinkan perusahaan untuk membeli kembali saham yang telah dikeluarkan melalui persetujuan RUPS.Buyback saham merupakan bentuk tanggung jawab dari perseroan dengan tujuan untuk memberikan perlindungan atas modal dan kekayaan perseroan namun

Issues, paper presented to Asian Corporate Recovery : Corporate Governance, Government Policy, Regional Confernce based on firm-level Survey in Indonesian, Korea, Malaysia, the Philiphines and Thailand financed by The World Bank, Bangkok, Macrh 31 April 1, 1999).

9Kemungkinan terjadinya stabilisasi harga saham di bursa sebagai akibat dari upaya Buyback disebabkan adanya kepastian atau jaminan yang akan diberikan investor (penanam modal) kepada perushaaan publik. http://www.rekomendasi-jd.com/2015/08/mengenal-lebih-jauh-aksi-Buyback-saham.html (Akses Tanggal 13 Desember 2015).

10Dana Rp 25 triliun yang rencananya akan digunakan untuk menyuntik sektor keuangan dan Buyback saham BUMN, harusnya hanya untuk Buyback BUMN, menggerakan sektor riil dan menciptakan lapangan kerja yang masif di seluruh negeri. Dengan buyback BUMN maka keuntungan dari BUMN tersebut akan kembali ke kas negara sehingga nantinya bisa digunakan untuk menggerakkan sektor riil. Agung Nusantara, Op. Cit., hlm.40.

upaya buybacksaham dapat juga dilakukan untuk menjaga stabilitas harga saham di bursa saham terutama disaat-saat krisis sedang melanda. 11

Buyback saham perusahaan dapat mendatangkan nilai positif bagi perusahaan diantaranya yakni dapat menjaga stabilitas nilai saham di Pasar Modal, dapat menjaga asset perusahaan, menjaga nilai reputasi perusahaan di mata masyarakat terutama investor, dan terutama menjaga kepercayaan investor terhadap perusahaan tersebut.

Namun dibalik nilai positif, buybacksaham perusahaan juga memiliki dampak negatif bagi perusahaan misalnya, dengan dilakukannya buybacksaham, laba perusahaan bisa terkuras, menimbulkan sentimen negatif kepada investor, investor cenderung akan lebih selektif dalam memilih saham-saham yang prospektif, dan yang paling utama beban penyertaan modal negara yang harusnya dapat dicadangkan untuk pembangunan justru tergerus untuk menyelamatkan perusahaan BUMN yang melakukan buybacksaham. 12

Dalam hal tertentu misalnya untuk menghadapi krisis ekonomi dan atau krisis pasar modal, perlu dimungkinkan buybackatas saham-saham yang beredar dalam masyarakat. Atas alasan inilah, tampaknya aksi buybacksaham ini dapat ditolerir hanya untuk waktu temporer. Artinya manakala keadaan sudah membaik, maka saham ini harus dilepaskan kembali. Dalam hubungan inilah, maka menurut Pasal 37

11Republik Indonesia, Pasal 37 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 106, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4756).

12Rai Widjaja, Hukum Perusahaan Perseroan Terbatas, (Bekasi : Megapoin, 2006), hlm. 31-31

ayat (4) UUPT bahwa saham yang dibeli kembali ini hanya boleh dikuasai perseroan paling lama tiga tahun.13

Dalam rangka menyikapi krisis global yang berdampak pada merosotnya pertumbuhan ekonomi khususnya di industri pasar modal, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang merupakan otoritas yang berwenang untuk melakukan pengawasan di bidang industri keuangan baik perbankan maupun bukan perbankan mengambil kebijakan yang merupakan inisiatif untuk memudahkan perusahaan public (emiten) menyelamatkan diri dari krisis ekonomi yang melanda. Alasan lainnya adalah untuk melindungi investor dari merosotnya harga saham yang signifikan untuk menjaga kepercayaan investor publik.

Pada tanggal 23 Agustus 2013, OJK melalui Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal menerbitkan Peraturan Nomor 2/POJK.04/2013 tentang Pembelian Kembali Saham yang Dikeluarkan oleh Emiten atau Perusahaan Publik dalam Kondisi Pasar yang Berfluktuasi secara Signifikan.Penetapan kondisi lain sebagai kondisi pasar yang Berfluktuasi secara Signifikan ini berdasarkan Surat Edaran (SE) OJK NO.

1/SEOJK.04/2013 tanggal 27 Agustus 2013 sebagai landasan bagi Emiten atau Perusahaan Publik untuk melakukan buybacksahamnya. Peraturan ini diterbitkan oleh Otoritas Jasa Keuangan untuk mempermudah sekitar 459 (empat ratus lima puluh sembilan) emiten atau perusahaan publik dalam melakukan buybacksaham tanpa melanggar ketentuan peraturan perundang-undangan tentang perusahaan yang

13 Rudhi Prasetya, Teori& Praktik Perseroan Terbatas, ( Jakarta : Sinar Grafika, 2011), hlm.

130.

berlaku. 14 Kebijakan tersebut memperbolehkan emiten untuk melakukanbuybacksaham tanpa melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).15

Surat Edaran OJK NO. 1/SEOJK.04/2013 sebagai landasan bagi Emiten atau Perusahaan Publik untuk melakukan buybacksahamnya berdasarkan Peraturan OJK Nomor 2/POJK.04/2013 ini pernah dicabut dengan Surat Edaran OJK NO 8/SEOJK .04/2014. Pencabutan Surat Edaran ini di Tahun 2014 dilakukan OJK karena pada saat itu kondisi pasar modal Indonesia sudah mengalami perbaikan dan pertumbuhan, serta sudah tidak berada dalam kondisi pasar saham yang berfluktuasi secara signifikan kembali.

Kemudian ditahun 2015, dimana krisis ekonomi global mulai bergejolak kembali yang mana berdampak negatif kepada Pasar Modal Indonesia, OJK memberlakukan kembali Peraturan Nomor 2/POJK.04/2013 tentang Pembelian Kembali Saham yang Dikeluarkan oleh Emiten atau Perusahaan Publik dalam Kondisi Pasar yang Berfluktuasi secara Signifikan. Pemberlakuan kembali Peraturan OJK tersebut ditandai dengan diterbitkannya Surat Edaran OJK Nomor 22/SEOJK.04/2015 tanggal 21 Agustus 2015 tentang Kondisi Lain sebagai Kondisi Pasar yang Berfluktuasi Secara Signifikan dalam Pelaksanaan Buyback Saham yang dikeluarkan oleh Emiten atau Perusahaan Publik dikarenakan sistuasi perekonomian dunia menuai krisis yang berdampak siginifikan terhadap industri Pasar Modal Indonesia.

14 http://mariotedja.blogspot.co.id/2013/10/pengaturan-pembelian-kembali-Buyback_4413.

html (Akses tgl 13 Desember 2015).

15 Pemberlakuan SE tersebut dimulai sejak 14 Mei

2014.http://market.bisnis.com/read/20150818/194/463461/relaksasi-Buyback-saham-ojk-beri-sinyal-lampu-hijau (Akses 13 Desember 2015).

Penerbitan SE tersebut dimaksudkan guna memberikan stimulus dan mengurangi dampak pasar yang berfluktuasi secara signifikan karena adanya pengaruh dan tekanan dari luar terhadap pasar. Aturan tersebut bisa dilakukan dengan ketentuan, total buybacksaham paling banyak 20% dari modal disetor (termasuk treasury stocks), dan paling sedikit saham yang beredar adalah 7,5% dari modal disetor.16

Sebagaimana diketahui, pada 2015 Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat 4.510,48 per 18 Agustus 2015, menurun sebesar 13,71% dibandingkan dengan penutupan akhir tahun 2014. Sementara kapitalisasi Pasar Modal Indonesia saat ini mencapai hampir Rp5000 triliun. Meskipun mengalami penurunan sebesar -5,89% dari posisi akhir tahun 2014 lalu, namun jika dilihat dari posisi pada 5 tahun terakhir, nilainya sudah meningkat lebih dari 60%.17

Perusahaan publik tidak dapat serta merta melakukan buybacksahamnya tanpa persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Buyback tanpa persetujuan RUPS dapat dilakukan apabila kondisi pasar modal berfluktuasi secara signifikan.

Kondisi pasar modal yang berfluktuasi secara signifikan adalah kondisi dimana Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)di bursa efek selama 3 (tiga) hari berturut-turut secara kumulatif turun sebanyak 15% (lima belas persen) atau lebih; atau kondisi lain yang ditetapkan oleh Otoritas Jasa Keuangan. Permulaan dan berakhirnya kondisi iniakan ditetapkan oleh Otoritas Jasa Keuangan.

16Siti Komaeroh, Reaksi Pasar Terhadap Pengumuman Buyback Saham (Buyback) Pada Perusahaan yang Terdaftar di BEI tahun 2013-2014(Malang : Fakultas Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya, 2015), hlm.2-3.

17Ibid, hlm. 4.

Perusahaan Publik dapat melakukan buybacksaham setelah menyampaikan keterbukaan informasi kepada OJK dalam waktu paling lama 7 (tujuh) hari bursa setelah terjadinya kondisi pasar modal yang berfluktuasi secara signifikan.Jangka waktu buybacksaham oleh perusahaan publik hanya dapat dilakukan paling lama 3 (tiga) bulan setelah keterbukaan informasi disampaikan kepada OJK.

Dengan buybacksaham maka berakibat pada naiknya laba per saham (earning per share) yang dapat berakibat menaikkan harga saham di pasar. Di samping itu, dengan buyback, saham yang dimiliki oleh masyarakat akan berkurang (supply berkurang), akibatnya adalah harga saham akan naik (dengan asumsi jumlah permintaan terhadap saham tersebut tetap.18

Dalam situasi yang sulit, dimana harga saham perusahaan yang dijual di bursa saham mengalami penurunan harga, maka perusahaan menerapkan strategi untuk membeli kembali saham yang telah dijual. Saham-saham yang telah dibeli kembali perusahaan nantinya akan dicatat sebagai treasury stock dan perusahaan yang telah membeli kembali saham yang dijual bisa mengalihkan saham itu dengan berbagai cara. Dengan demikian dapat dikatakan permintaan akan naik dan otomatis harga saham pun akan naik.19

Dalam keadaan wajar (diluar krisis), alasan perusahaan melakukanaksi korporasi buybacksaham tersebut lantaran perusahaan berhasilmeningkatkan laba dan memelihara kecukupan likuiditas, serta kegiatan usahayang memperlihatkan pertumbuhan pesat dan arus kas signifikan. Di samping itu, perusahaan memiliki

18Ibid.

19 http://akuntansi-teori-praktek.blogspot.co.id/2014/03/keputusan-dan-dampak-treasury-stock.html( Akses Tanggal 13 Desember 2015).

tingkat utang (leverage) yang relatif lebih rendah dibandingperusahaan sejenis.Diharapkan buybacksaham perseroan di publik dapatmeningkatkan harga saham dalam jangka panjang.

Kondisi buybacksaham ini dibatasi oleh ketentuan-ketentuan sebagai berikut:

1. Buyback saham tersebut tidak menyebabkan kekayaan bersih perusahaan menjadi lebih kecil daripada jumlah modal yang ditempatkan ditambah cadangan wajib yang telah disisihkan. Kekayaan bersih di sini adalah seluruh harta perusahaan yang telah dikurangi seluruh kewajiban perusahaan sesuai dengan laporan keuangan terbaru yang disahkan oleh RUPS dalam 6 (enam) bulan terakhir.

2. Selain ketentuan di atas, besaran persentase buybacksaham ini juga dibatasi.

Pasal 37 ayat (1)Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (UUPT) berbunyi sebagai berikut:20

“Perseroan dapat membeli kembali saham yang telah dikeluarkan dengan ketentuan:

a) Buyback saham tersebut tidak menyebabkan kekayaan bersih Perseroan menjadi lebih kecil dari jumlah modal yang ditempatkan ditambah cadangan wajib yang telah disisihkan; dan

b) Jumlah nilai nominal seluruh saham yang dibeli kembali oleh perusahaan dan gadai saham atau jaminan atas saham yang dipegang oleh perusahaan sendiri dan/atau perusahaan lain yang sahamnya secara langsung atau tidak langsung dimiliki oleh perusahaan, tidak melebihi 10% dari jumlah modal yang ditempatkan dalam perusahaan, kecuali diatur lain dalam peraturan perundang-undangan di bidang pasar modal.”

20Republik Indonesia, Pasal 37 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 106 dan Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4756). Selanjutnya disingkat UUPT.

Pasal 37 ayat (2) UUPT :

“Buyback saham, baik secara langsung maupun tidak langsung, yang bertentangan dengan ayat (1) batal karena hukum."

Pasal 37 ayat (3) UUPT :

“Direksi secara tanggung renteng bertanggung jawab atas kerugian yang diderita pemegang saham yang beritikad baik, yang timbul akibat Buyback yang batal karena hukum sebagaimana dimaksud pada ayat (2)”

Pasal 37 ayat (4) UUPT :

Saham yang dibeli kembali Perseroan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya boleh dikuasai Perseroan paling lama 3 (tiga) tahun.

Berdasarkan ketentuan Pasal 37 UUPT, maka dapat ditarik pemahaman bahwa : 1. Nilai nominal seluruh saham yang di Buyback;

2. Gadai saham/jaminan atas saham dipegang oleh perusahaan sendiri;

3. Gadai saham/jaminan atas saham yang dipegang oleh afiliasi perusahaaan.

Berdasarkan ketentuan Pasal 37 UUPT tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa proses buybacktidak boleh melebihi 10 % dari jumlah modal ditempatkan dalam perusahaan, kecuali diatur lain dalam ranah pasar modal.

Proses buybacksaham ini harus sesuai dengan kondisi tersebut di atas. Jika bertentangan, maka buybacksaham ini menjadi batal demi hukum.Tentunya ketika buybacksaham menjadi batal karena hukum, direksilah yang bertanggung jawab secara tanggung renteng atas kerugian yang diderita pemegang saham yang beritikad baik tersebut.

Selain itu, buybacksaham ini juga memiliki jangka waktu yaitu saham buybackhanya bisa dikuasai perusahaan paling lama 3 (tiga) tahun. Dalam kurun

waktu inilah, perusahaan memiliki waktu untuk menentukan apakah saham tersebut akan dijual atau ditarik kembali dengan cara pengurangan modal.

Berdasarkan ketentuan Pasal 37 dan 38 UUPT, dapat disimpulkan bahwa ketentuan suatu perusahaan untuk menyelenggarakan aksi korporasi berupa buybackharuslah mengikuti ketentuan permodalan mininum perusahaan dan harus terlebih dahulu mendapatkan persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), meskipun pada akhir kalimat di Pasal 38 UUPT, Perundangan-undangan mengizinkan buybacktanpa terlebih dahulu dilaksanakannya RUPS namun harus mengikuti ketentuan peraturan undang-undang. Dalam hal ini OJK sebagai Otoritas Pasar Modal telah mengizinkan perusahaan melakukan buybacktanpa RUPS dalam rangka mensiasati jatuhnya harga saham di pasar modal. Kemudahan yang diberikan OJK kepada perusahaan publik ini tidak serta merta dapat dieksekusi dengan mudah mengingat buybackadalah aksi korporasi yang eksekusinya harus disertai dengan alasan yang cukup fundamental dan krusial mengingat RUPS adalah salah satu organ perseroan yang sangat penting untuk dilaksanakan terlebih lagi dalam rangka mengambil keputusan-keputusan penting untuk perseroan.

Timbul pertanyaan meskipun keberadaan Peraturan OJK No. 2/POJK.04/2013 yangpemberlakuannya ditandai dengan diterbitkanya SE OJK No.

Timbul pertanyaan meskipun keberadaan Peraturan OJK No. 2/POJK.04/2013 yangpemberlakuannya ditandai dengan diterbitkanya SE OJK No.

Dokumen terkait