TINJAUAN PUSTAKA

1.1 Latar Belakang

Semakin meningkatnya kebutuhan manusia terhadap barang dan jasa mendorong meningkatnya berbagai sektor industri saat ini. Salah satu sektor industri yang mengalami perkembangan yang cukup pesat adalah sektor indusri makanan dan minuman. Hal ini terlihat dari data yang dirilis dalam Laporan Kinerja Kementerian Perindustrian Tahun 2014 pertumbuhan cabang industri non migas pada tahun 2014 yang tertinggi dicapai oleh industri makanan dan minuman sebesar 9,54 persen, industri pengolahan tembakau sebesar 8,85 persen, industri mesin dan perlengkapan sebesar 8,80 persen, serta industri pengolahan lainnya sebesar 7,30 persen.

Industri makanan dan minuman nasional memberikan kontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Oleh karena itu, Kementerian Perindustrian terus mendorong pengembangan industri makanan dan minuman nasional Pada triwulan I tahun 2015, pertumbuhan industri makanan dan minuman nasional mencapai 8,16% atau lebih tinggi dari pertumbuhan industri non migas sebesar 5,21%. Sedangkan, pertumbuhan ekonomi nasional mencapai 4,71%.

Dari nilai kontribusi industri manufaktur sebesar 17,87 persen pada tahun 2014 terhadap PDB nasional, yang 5 (lima) cabang industri yang memberikan kontribusi terbesar secara berturut-turut adalah cabang industri makanan dan minuman sebesar 29,76 persen, disusul cabang industri alat angkutan 10,96

persen. Industri barang logam, komputer, barang elektronik, optik dan peralatan listrik memiliki kontribusi sebesar 10,46 persen terhadap PDB Nasional. Industri kimia, farmasi dan obat tradisional sebesar 9,52 persen dan cabang industri tekstil dan pakaian jadi menyumbang sebesar 7,37 persen.

Melihat prosepek industri makanan dan minuman yang semakin baik, tentunya pasar modal memiliki peran penting Sebagai lembaga perantara, pasar modal menghubungkan pihak yang membutuhkan dana dengan pihak yang mempunyai kelebihan dana. Sebagai pencipta alokasi dana yang efisien, pasar modal menyediakan alternatif investasi yang memberikan return yang paling optimal.

Bursa Efek Indonesia merupakan pasar saham atau pasar modal bagi para investor jika ingin berinvestasi. Tandelilin (2010: 26) menyatakan bahwa pasar modal adalah pertemuan antara pihak yang memiliki kelebihandana dengan pihak yang membutuhkan dana dengan cara memperjualbelikan sekuritas. Dengan demikian, pasar modal juga bisa diartikan sebagai pasar untuk memperjualbelikan sekuritas yang umumnya memiliki umur lebih dari satu tahun, seperti saham dan obligasi. Sedangkan tempat di mana terjadinya jual-beli sekuritas disebut dengan bursa efek.

Dengan adanya Bursa Efek Indonesia, maka para pelaku bisnis dapat mengoptimalkan pertumbuhan perusahaannya dengan menarik investor untuk berinvestasi melalui penjualan saham. Dalam pasar modal (capital market) terdapat berbagai instrument keuangan jangka panjang yang bisa diperjualbelikan,

baik surat utang (obligasi), ekuitas (saham), reksa dana, instrument derivative, maupun instrument lainnya. Menurut Shook (dalam Fahmi, 2012:55).

Perkembangan pasar modal di Indonesia merupakan indikator bahwa pasar modal merupakan alternatif investasi disamping perbankan, selain itu dengan semakin berkembanganya pasar modal juga menunjukkan bahwa kepercayaan pemodal akan investasi dipasar modal Indonesia cukup baik Pertumbuhan kembali pasar modal ini dapat dijadikan sebagai sarana bagi pihak-pihak yang berkepentingan, misalnya: investor maupun pemerintah untuk memanfaatkannya secara optimal sehingga dapat membawa keuntungan bagi semua pihak.

Perusahaan-perusahaan di Bursa Efek Indonesia mempublikasikan laporan keuangan yang telah diaudit secara lengkap pada setiap periode pelaporan. Dengan melihat laporan keuangan perusahaan, maka berbagai pihak terkait yang berkepentingan dengan perusahaan khususnya para pemegang saham. Semakin lengkap dan akurat informasi yang tersedia di pasar modal maka semakin banyak referensi bagi para pemegang saham dalam pengambilan keputusan.

Manajemen perusahaan harus berhati-hati dalam pengambilan keputusan berinvestasi, karena setiap investor yang menginvestasikan dananya di pasar modal pasti memiliki harapan dan keinginan untuk memperoleh keuntungan di masa depan berupa pengembalian atau return yang sesuai dengan besarnya dana yang ditanamkan. Menurut Brigham dan Houston (2006: 215), return atau tingkat pengembalian adalah selisih antara jumlah yang diterima dan jumlah yang diinvestasikan, dibagi dengan jumlah yang diinvestasikan.

Tandelilin (2010: 102) menyatakan bahwa return merupakan salah satu faktor yang memotivasi investor berinvestasi dan juga merupakan imbalan atas keberanian investor menanggung resiko atas investasi yang dilakukannya. Return saham dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor baik faktor makro diluar perusahaan maupun faktor mikro dari dalam perusahaan. Faktor mikro dari dalam perusahaan diantaranya adalah leverage, profitabilitas, nilai pasar, dan ukuran perusahaan (Firm Size).

Leverage mencerminkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi seluruh kewajibannya yang ditunjukkan oleh beberapa bagian modal sendiri yang digunakan untuk membayar hutang (Rodoni dan Ali, 2010: 123). Dalam penelitian ini, leverage diukur dengan Debt to Equity Ratio (DER). Menurut Van Horne dan Wachowicz (2005 : 200), Debt to Equity Ratio adalah rasio utang dengan ekuitas menunjukkan sejauh mana pendanaan dari utang digunakan jika dibandingkan dengan pendanaan ekuitas. Oleh karena itu, semakin rendah Debt to

Equity Ratio (DER) akan semakin tinggi kemampuan perusahaan untuk

membayar seluruh kewajibannya. Selanjutnya menurut Samsul (2006: 200) menyatakan bahwa salah satu faktor mikro dalam perusahaan yang dapat mempengaruhi return saham adalah rasio hutang terhadap ekuitas.

Rasio profitabilitas merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba secara keseluruhan. Rasio profitabilitas dalam penelitian ini diukur dengan Return on Assets (ROA). Brigham dan Houston (2010: 148) menyatakan bahwa Return on Assets adalah rasio laba bersih terhadap total aset mengukur pengembalian atas total aset.

Brigham dan Houston (2010:148), menyatakan jika memperoleh Return on Assets lebih tinggi dari rata-rata industri, maka perusahaan dianggap baik karena memperoleh tingkat pengembalian yang lebih tinggi atas aset yang diinvestasikan. Perusahaan dengan tingkat Return on Assets yang tinggi mencerminkan efektivitas dan efisiensi manajemen perusahaan dalam mengelola aset sehingga menghasilkan keuntungan.

Rasio nilai pasar mencerminkan nilai perusahaan dimata investor. Semakin tinggi rasio nilai pasar, menunjukkan tingginya kepercayaan investor terhadap prosepek perusahaan dimasa mendatang. Rasio nilai pasar pada penelitian ini diukur dengan parameter Price to Book Value (PBV). Menurut Brigham dan Houston (2010:151) nilai perusahaan dapat diukur dengan Price

book Value (PBV) atau market/book (M/B) ratio. Rasio ini mengukur nilai yang

diberikan pasar keuangan kepada manajemen dan organisasi perusahaan sebagai sebuah perusahaan yang terus tumbuh. Perusahaan yang dipandang baik oleh investor yaitu perusahaan dengan laba dan arus kas yang aman, hal itu dapat dicerminkan melalui Price to Book Value.

Tingginya rasio Price to Book Value (PBV) suatu perusahaan menunjukkan semakin tinggi pula perusahaan dinilai oleh para investor. Apabila suatu perusahaan dinilai lebih tinggi oleh investor, maka harga saham perusahaan yang bersangkutan akan semakin meningkat di pasar modal, sehingga berakibat pada meningkatnya return saham perusahaan yang bersangkutan.

Faktor lainnya yang dapat mempengaruhi return saham adalah Firm Size. Menurut Riyanto (2008: 313) ukuran perusahaan (Firm Size) adalah besar

kecilnya perusahaan dilihat dari besarnya nilai equity, nilai penjualan, atau nilai aktiva. Dengan demikian maka pada perusahaan yang besar di mana sahamnya tersebar sangat luas akan lebih berani mengeluarkan saham baru dalam memenuhi kebutuhannya untuk membiayai pertumbuhan penjualan dibandingkan dengan perusahaan yang kecil. Semakin besar ukuran suatu perusahaan kemungkinan akan mampu menghasilkan tingkat return yang tinggi sehingga tingkat pengembalian dari investasi yang dilakukan diperusahaan besar akan lebih terjamin dibanding perusahaan kecil.

Meningkatnya kinerja industri manufaktur khususnya industri makanan dan minuman serta dukungan dari pasar modal ternyata tidak serta merta mampu menciptakan return saham yang stabil atau meningkat. Pada beberapa perusahaan meskipun memiliki kemampuan yang tinggi dalam melunasi kewajibanya dengan modal sendiri, Return on Assets yang meningkat, dan Price to Book Value yang tinggi, serta Firm Size yang besar, belum tentu searah dengan meningkatnya

return sahamnya justru berfluktuasi bahkan dapat bernilai negatif Kondisi ini

tentunya menjadi fenomena menarik untuk diteliti terlebih return merupakan hal yang paling penting bagi investor dalam berinvestasi dipasar modal.

Pada Tabel 1.1 berikut dapat dilihat nilai Debt to Equity Ratio, Return on

Assets, Price to Book Value, Firm Size dan Return Saham pada beberapa

perusahaan makanan dan minuman yaitu pada PT. Indofood Sukses Makmur, Tbk (INDF), PT. Nippon Indosari Corporindo, Tbk, (ROTI) dan PT. Sekar Laut, Tbk (SKLT) di Bursa Efek Indonesia Tahun 2011-2014.

Tabel 1.1

DER, ROA, PBV, Firm Size, dan Return Saham pada PT. Indofood Sukses

Makmur, Tbk, PT. Nippon Sari Roti Corporindo, Tbk, dan PT. Sekar Laut, Tbk di Bursa Efek Indonesia

Tahun 2011-2014

Emiten Tahun DER (%) ROA (%) PBV (x) Firm Size (Log) Return Saham (%)

INDF 2011 69,52 11,85 1,28 7,73 -0,06 2012 73,96 10,64 1,50 7,77 0,27 2013 103,51 5,98 1,51 7,89 0,13 2014 113,73 7,37 1,44 7,93 0,02 Rata-Rata 90,18 8,96 1,43 7,83 0,09 ROTI 2011 38,93 20,41 6,16 5,88 0,25 2012 80,76 16,58 10,48 6,08 1,08 2013 131,50 11,57 6,56 6,26 -0,85 2014 123,19 11,80 7,30 6,33 0,36 Rata-Rata 93,59 15,09 7,62 6,14 0,21 SKLT 2011 74,32 3,74 0,79 5,33 0,00 2012 92,88 4,67 0,96 5,40 0,29 2013 116,25 5,50 0,89 5,48 0,00 2014 145,41 7,14 1,35 5,53 0,67 Rata-Rata 107,21 5,26 1,00 5,43 0,24 Sumber:

Pada Tabel 1.1 terlihat bahwa pada PT. Indofood Sukses Makmur, Tbk (INDF) memiliki nilai Debt to Equity Ratio (DER) dan Firm Size mengalami peningkatan selama periode 2011-2014, sedangkan Return on Assets mengalami penurunan dari tahun 2011-2013, dan kembali meningkat ditahun 2014, Price to

Book Value dan Return Saham cenderung fluktuatif bahkan return saham

mengalami penurunan yang signifikan pada tahun 2014. Return saham perusahaan pada tahun 2011 bernilai negatif sebesar -0,06 hal ini mencerminkan menurunnya harga saham dibanding tahun sebelumnya (2010) atau dengan kata lain harga saham ditahun 2010 lebih besar dibanding harga saham tahun 2011 sehingga

Dengan demikian, terlihat bahwa saat nilai Debt to Equity terendah terjadi di tahun 2011, return saham justru bernilai negatif dan saat DER berada pada angka tertinggi ditahun 2014, return saham mengalami sedikit penurunan dibanding tahun 2013. Perubahan nilai ROA tidak searah dengan perubahan yang terjadi pada return saham, artinya peningkatan maupun penurunan pada ROA tidak selalu diikuti oleh peningkatan maupun penurunan pada return saham, sedangkan nilai PBV secara umum relatif searah dengan pergerakan perubahan

return saham, selanjutnya Firm Size secara umum relatif searah dengan

meningkatnya return saham peningkatan yang terjadi pada firm size dari tahun 2011-2013 seiring dengan meningkatnya return saham, namun peningkatan size di tahun 2014 justru return saham mengalami penurunan.

Pada PT. Nippon Sari Roti Corporindo, Tbk (ROTI) terlihat bahwa nilai

Debt to Equity Ratio (DER) dan Firm Size mengalami peningkatan selama

periode 2011-2014 sedangkan ROA cenderung menurun, dan PBV dan return saham berfluktuasi setiap tahunnya dan bernilai negatif pada tahun 2013 hingga mencapai -0,85 hal ini mencerminkan tingginya penurunan harga saham ditahun 2013 dibanding tahun 2012. Harga saham tahun 2012 sebesar Rp. 6.900 kemudian ditahun 2013 menurun signifikan menjadi Rp. 1.020 hal ini menyebabkan return saham bernilai negatif.

Secara umum, meningkatnya nilai Debt to Equity Ratio tidak menyebabkan menurunnya return saham justru saat Debt to Equity Ratio tertinggi ditahun 2014 return saham juga berada pada angka tertinggi, penurunan yang terjadi pada ROA tidak serta merta menyebabkan penurunan pada return saham,

sedangkan setiap perubahan yang terjadi pada PBV dan firm size cenderung searah dengan perubahan pada return saham

Selanjutnya pada PT. Sekar Laut, Tbk (SKLT) terlihat bahwa nilai Debt to

Equity Ratio (DER), Return on Assets (ROA), dan Firm Size mengalami

peningkatan selama periode 2011-2014 sedangkan Price to Book Value (PBV) dan return saham berfluktuasi namun return saham tidak pernah bernilai negatif.

Return saham tertinggi dicapai tahun 2014 seiring dengan meningkatnya Return on Assets, Price to Book Value, dan Firm Size, namun meningkatnya nilai DER

tidak menyebabkan menurunnya return saham bahkan saat DER terendah terjadi di tahun 2011 return saham justru bernilai 0,000.

Berdasarkan berbagai fenomena yang telah diuraikan, Penulis tertarik untuk meneliti lebih lanjut dengan memilih judul “Analisis Pengaruh Rasio Leverage, Rasio Profitabilitas, Rasio Nilai Pasar dan Firm Size Terhadap Return Saham Pada Perusahaan Sub Sektor Makanan dan Minuman Yang

Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2011-2015”.

Dalam dokumen Analisis Pengaruh Rasio Leverage, Rasio Profitabilitas, Rasio Nilai Perusahaan, dan Firm Size Terhadap Return Saham pada Perusahaan Sub Sektor Makanan dan Minuman di Bursa Efek Indonesia Periode 2011-2015 (Halaman 83-91)