TINJAUAN PUSTAKA 2.1Uraian Teoritis
3 Brunei Darussalam
1.1 Latar BelakangPenelitian
Dalam era industrialisasi yang semakin kompetitif sekarang ini, setiap pelaku bisnis yang ingin memenangkan kompetisi dalam dunia industri harus memberikan perhatian penuh pada kualitas. Usaha untuk memantapkan kondisi diperumit lagi dengan berlakunya era perdagangan bebas AFTA (2003) dan akan berlakunya APEC (2020). Hal ini berakibat semakin banyaknya pesaing baru, di samping pesaing lama yang turut terlibat di bisnis untuk memperebutkan pangsa yang juga meluas.
Suatu perusahaan kecil maupun besar, dalam rangka pencapaian tujuan usahanya sangat mengandalkan sumber daya manusia sebagai sumber daya penggerak pencapaian tujuan. Peningkatan daya saing organisasi dapat dicapai bila sumber daya manusia dikembangkan kualitasnya. Dengan pengembangan kualitas tersebut, sangatlah penting bagi sebuah untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia sebagai aset yang dapat mendukung keberhasilan usaha, yaitu menghasilkan produk berkualitas yang bebas dari kerusakan dan berharga kompetitif. Hal ini akan meningkatkan penjualan dari produk-produk tersebut yang berarti pula meningkatkan pangsa pasar sehingga pada akhirnya akan meningkatkan daya saing.
Salah satu pelaku usaha di Indonesia yang memiliki eksistensi penting namun terkadang terlupakan dalam percaturan kebijakan adalah Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Padahal jika mengenal lebih jauh dan dalam, peran UMKM bukanlah sekedar pendukung dalam kontribusi ekonomi nasional.Data BPS menunjukkan bahwa UMKM dalam perekonomian nasional memiliki peran yang penting dan strategis. Kondisi tersebut dapat dilihat dari berbagai data empiris yang mendukung bahwa eksistensi usaha tersebut cukup dominan dalam perekonomian Indonesia, yaitu: (1) jumlah industri yang besar dan
terdapat dalam setiap sektor ekonomi. Pada tahun 2012 tercatat jumlah UMKM adalah 56,53 unit dari jumlah total unit usaha nasional, (2) potensinya yang besar dalam penyerapan tenaga kerja. Setiap unit investasi pada sektor UMKM dapat menciptakan lebih banyak kesempatan kerja bila dibandingkan dengan investasi yang sama pada usaha besar (UB). Sektor UMKM menyerap 107,66 juta tenaga kerja atau 91,20% dari total angkatan kerja yang bekerja, dan (3) kontribusi UMKM dalam pembentukan PDB cukup signifikan yakni sebesar 57,46% dari total PDB (BPS, 2012).
Usaha Miro Kecil dan Menengah (UMKM) sebagai salah satu komponen dalam industri nasional, mempunyai peranan yang sangat penting dalam perekonomian nasional, penyerapan tenaga kerja, pemerataan distribusi hasil-hasil pembangunan, dan penanggulangan kemiskinan. Oleh karena itu, pemerintah telah memiliki pilar-pilar kebijakan strategis yang diimplementasikan melalui berbagai kebijakan/program dan kegiatan tahunan untuk mendukung pengembangan dan penguatan UMKM di Indonesia. Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) umumnya memiliki keunggulan dalam bidang yang memanfaatkan sumberdaya alam dan padat karya, misalnya pertanian tanaman pangan, perkebunan, peternakan, perikanan, perdagangan dan restoran.
Belum kokohnya fundamental perekonomian Indonesia saat ini, mendorong pemerintah untuk terus memberdayakan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Sektor ini mampu menyerap tenaga kerja cukup besar dan memberi peluang bagi UMKM untuk berkembang dan bersaing dengan perusahaan yang lebih cenderung menggunakan modal besar (capital intensive). Eksistensi UMKM memang tidak dapat diragukan lagi karena terbukti mampu bertahan dan menjadi roda penggerak ekonomi, terutama pasca krisis ekonomi. Disisi lain, UMKM juga menghadapi banyak sekali permasalahan, yaitu terbatasnya modal kerja, Sumber Daya Manusia yang rendah, dan minimnya penguasaan ilmu pengetahuan serta teknologi (Sudaryanto dan Hanim, 2002).
Kendala lain yang dihadapi UMKM adalah keterkaitan dengan prospek usaha yang kurang jelas serta perencanaan, visi dan misi yang belum mantap. Hal ini terjadi karena umumnya UMKM bersifat income gathering yaitu menaikkan pendapatan, dengan ciri-ciri sebagai berikut: merupakan usaha milik keluarga, menggunakan teknologi yang masih relatif sederhana, kurang memiliki akses permodalan (bankable), dan tidak ada pemisahan modal usaha dengan kebutuhan pribadi. Pemberdayaan UMKM di tengah arus globalisasi dan tingginya persaingan membuat UMKM harus mampu mengadapai tantangan global, seperti meningkatkan inovasi produk dan jasa, pengembangan sumber daya manusia dan teknologi, serta perluasan area pemasaran. Hal ini perlu dilakukan untuk menambah nilai jual UMKM itu sendiri, utamanya agar dapat bersaing dengan produk-produk asing yang kian membanjiri sentra industri dan manufaktur di Indonesia, mengingat UMKM adalah sektor ekonomi yang mampu menyerap tenaga kerja terbesar di Indonesia (Sudaryanto,2011).
Pengembangan UMKM perlu mendapatkan perhatian yang besar baik dari pemerintah maupun masyarakat agar dapat berkembang lebih kompetitif bersama pelaku ekonomi lainnya. Kebijakan pemerintah kedepan perlu diupayakan lebih kondusif bagi tumbuh dan berkembangnya UMKM. Pemerintah perlu meningkatkan perannya dalam memberdayakan UMKM di samping mengembangkan kemitraan usaha yang saling menguntungkan antara pengusaha besar dengan pengusaha kecil, dan meningkatkan kualitas sumber daya manusianya.
UMKM merupakan potensi bisnis yang sangat digalakkan oleh pemerintah; karena semakin banyak masyarakat berwirausaha maka semakin baik dan kokohnya perekonomian suatu daerah karena sumber daya lokal, pekerja lokal, dan pembiayaan lokal dapat terserap dan bermanfaat secara optimal. Meskipun UMKM memiliki sejumlah kelebihan yang memungkinkan UMKM dapat berkembang dan bertahan dalam krisis, tetapi sejumlah fakta juga menunjukkan bahwa tidak semua usaha kecil dapat bertahan dalam menghadapi krisis
ekonomi. Ada banyak faktor yang dapat mempengaruhi kegiatan usaha mikro yang ada di Indonesia ini, baik faktor internal (dari usaha mikro sendiri) maupun dari faktor eksternal disekitar lingkungan usaha mikro tersebut. Keberhasilan tergantung dari kemampuan dalam mengelola kedua faktor ini melalui analisis faktor lingkungan serta pembentukan dan pelaksanaan strategi usaha.
Berdasarkan data yang diperoleh,menunjukkan bahwa terjadi pertambahan jumlah UMKM dari 2.877.765 pelaku usaha pada tahun 2012 menjadi 3.065.731 usaha pada tahun 2013 atau tumbuh sebesar 6,53%.Sementara itu keberadaan UMKM di Indonesia berhasil menyerap 4.676.143 tenaga kerja pada tahun 2012 dan meningkat sebesar 5,88% pada tahun 2013 menjadi 4.950.955tenagakerja.
Pada penelitian yang dilakukan oleh peneliti, adapun faktor – faktor yang mempengaruhi daya saing pelaku usaha mikro rotan yang ada di kota Medan, antara lain, 1) sumber daya manusia, 2) modal, 3) pemasaran produk, dan 4) Dukungan dari pemerintah daerah.
Keempat faktor tersebut merupakan bagian dari persaingan usaha yang cenderung dihadapi dalam kegiatan usaha mikro rotan yaitu laba usaha dan kemajuan di bidang usaha mikro rotan. Namun demikian, tidak semua usaha mikro rotan di kota Medan dapat mengikuti perubahan yang terjadi terhadap daya saing usaha. Ada sebagian yang mampu mengikuti perubahan tersebut dan mencari solusi yang tepat sasaran sehingga UMKM dapat bertahan dan bersaing secara sehat, akan tetapi ada sebagian lagi UMKM tidak mampu mengikut perubahan dan tidak mencari solusi untuk mengatasi daya saing tersebut sehingga cukup banyak usaha mikro yang bangkrut ataupun beralih pada bidang usaha lainnya. Oleh sebab itu, faktor-faktor yang dapat mempengaruhi terhadap daya saing tersebut haruslah
diperhatikan dan diantisipasi secara optimal agar kegiatan usaha di UMKM tetap stabil dan berjalan lancar baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang.
Koperasi Industri dan Kerajinan (Kopinkra) Rotan Medan Koperasi berdiri pada tahun 1970 dan beralamat di Jl. Titipapan Gg. Pertama No. 15 K Medan. Koperasi ini pada awalnya memiliki 50 anggota, tetapi seiring berjalannya waktu, anggota koperasi yang masih aktif berjumlah 30 anggota.
Sebagian besar pelaku usaha rotan sudah menganggap dirinya adalah seorang wirausaha dengan alasan telah membuka usaha sendiri kemudian memasarkan barang sendiri serta pengrajin rotan juga. Sebagian kecil mengaku belum dapat disebut sebagai seorang wirausaha karena belum mandiri dan tidak mempunyai sistem keuangan yang pada dasarnya mengakui belum mampu membuat laporan keuangan sehingga keuangan penjualan tercampur dengan keuangan pribadi. Para pelaku usaha rotan ini mengakui dari segi Sumber Daya Manusia (SDM) mereka sudah sangat berkualitas dan kreatif dengan kemampuan masing-masing. Mereka mampu menciptakan produk rotan yang dapat bersaing dengan pesaingnya. Hanya saja mereka belum ahli untuk menggunakan internet untuk melihat contoh desain produk rotan yang terbaru, dikarenakan keterbatasan biaya dan kemampuan sehingga hal ini juga berdampak pada keterbatasan dalam pemasaran.
Modal pelaku usaha rotan sangat terbatas. Hal inilah yang menyebabkan rotan dibuat hanya berdasarkan pesanan. Mereka mengakui tidak berani untuk meminjam uang dari bank manapun dikarenakan takut untuk resiko kedepannya tidak bisa untuk melunasi hutang mereka karena mengingat perputaran siklus keuangan mereka yang macet dan untuk mendapatkan bahan baku yang berkualitas dengan harga bersaing sangat tidak mudah.
Pada zaman pemerintahan presiden Soeharto, para pelaku usaha rotan sangat berjaya. Presiden Soeharto memfasilitasi dengan modal, mesin dan bahan baku. Sehingga mereka
diminta untuk membuat sebanyak- banyaknya hasil rotan untuk kemudian dibeli oleh presiden Soeharto untuk di pasarkan di luar negeri. Tetapi, sayangnya kejayaan mereka berganti pada zaman presiden Megawati Soekarno Putri dengan larangan tidak adanya untuk angkutan barang sehingga membuat usaha rotan ini mengalami kemunduran yang sangat pesat. Di susul dengan kejadian bom bali 1 yang membuat para pembeli luar negeri/wisatawan lari dari indonesia dan memutuskan hubungan karena ketidakpercayaan sehingga banyak dari pengrajin rotan yang mengalami gulung tikar dan beralih profesi.
Menurut pelaku usaha rotan, masalah terbesar yang dihadapi pelaku usaha rotan saat ini ialah pemasaran. Di satu sisi mereka mengakui mampu menghasilkan produk yang berkualitas, namun dengan keadaaan sekarang ini sangat susah menyesuaikan permintaan konsumen yang hanya ingin murah tapi berkualitas sehingga untuk menetapkan harga yang bersaing dengan pesaing lain pun sangat susah. Mereka ingin adanya kerja sama dari pemerintah seperti diikutsertakan dalam pameran - pameran dan acara - acara kebudayaan ataupun lainnya, pemasangan reklame/iklan, serta jaringan kerja sama dengan luar negeri. Karena pada umumnya para pengrajin rotan tidak memiliki stock, sehingga untuk mengikuti pameran harus mengambil barang dari koperasi dengan pembayaran tunai.
Dukungan dari pemerintah daerah juga sangat diharapkan pengrajin rotan tersebut. Selain dari bantuan biaya modal, fasilitas pelayanan umum, serta bantuan tempat usaha,pengrajin rotan juga menginginkan bantuan pemerintah dalam pemenuhan bahan bakunya yaitu rotan. Kendalanya adalah rotan hanya di panen tahunan. Hal ini mengakibatkan bahan baku rotan mahal sehingga membuat harga hasil rotan juga mahal harganya. Ini membuat pelaku usaha rotan dalam negeri kalah bersaing dengan cina yang dapat menjual dengan harga rendah. Selain itu juga pengrajin rotan sangat keberatan dengan tinggi nya pajak yang dibebankan kepada mereka, meskipun pemerintah telah mempermudah dalam mengurus surat izin usaha mereka berdalih pemerintah hanya ingin mengambil
keuntungan dari mereka karena jika telah mengurus surat izin usaha maka otomatis harus membayar pajak. Maka dari itu yang mereka inginkan bukan hanya mempermudah surat izin usaha saja tetapi juga menginginkan dibebaskan pajak.
Berdasarkan penjelasan pada latar belakang penelitian di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul: “FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENINGKATAN DAYA SAING USAHA PELAKU USAHA MIKRO ROTAN DI KOTA MEDAN”.