• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II ANALISIS STRUKTURAL NOVEL CERMIN MERAH

2.2 Analisis Latar ( Setting)

2.2.1 Latar Tempat

Dalam novel ini ada dua latar tempat, yaitu latar kota C dan Jakarta.

Latar kota C dalam novel Cermin Merah adalah situasi kota tempat Arsena lahir dan menghadapi situasi dengan latar belakang peristiwa G-30S/PKI.

Latar Jakarta adalah situasi kota modern yang penuh dengan kemajuan

teknologi.

2.2.1.1Kota C

Kota C adalah tempat tokoh Arsena bersekolah dan suka

dalam dunia teater. Hobi yang sama persis dengan kakaknya

Herman. Ini terlihat dalam kutipan berikut.

"Anto pindah ke kota C sebulan sesudah SMA membuka kelas baru dan aku masuk kelas satu” (Riantiarno, 2004: 65).

“Aku duduk anteng di salah satu ruang kelas. Berusaha menyelesaikan soal aljabar yang sangat rumit. Aku murid kelas satu. tiga bulan lagi kenaikan kelas. Sekolahku satu-satunya SMA Negeri di kota C. Terbaik dibanding SMA lain” (Riantiarno, 2004: 61).

“Kakakku, Herman, di situ. Tengah berlatih sandiwara” (Riantiarno, 2004: 71).

“Makeup korektif. Riasan beauty. Sekarang wajahku sesuai peran” (Riantiarno, 2004: 114).

“Memang permainanku payah.Padahal setiap kali hendak masuk panggung aku menarik napas seratus kali berturut-turut dengan penuh konsentrasi, sesuai nasihat Tosin. Tapi nyatanya, aku tiga kali lupa teks dan tetap gugup” (Riantiarno, 2004: 130).

Saat masa SMA di Kota C, Arsena juga mempunyai teman

dekat bernama Anto, seorang lai-laki namun seperti gadis kecil

yang membuat Arsena memiliki perasaan lain. Ini terlihat dalam

kutipan berikut.

“Anto berwajah cantik, bersih dan mulus. Dari lima saudara perempuannya, dia satu-satunya laki-laki dan bungsu. Orang tuanya kaya-raya. Sesudah pensiun sebagai diplomat, ayah Anto mudik ke kota C dan meneruskan usaha di lereng Gunung Crm” (Riantiarno, 2004: 65).

“Di tebing sungai yang landai, di atas hamparan tebal rumput gajah, kami rebahan. Pohon asem rindang melindungi kami dari cahaya matahari.Tak ada orang di sekitar kami. Hanya satu dua yang lewat di seberang kali dan melihat kami dengan tatapan mata aneh. Bagi Anto mungkin seperti piknik di country sambil menghindari kegaduan kota. Tapi bagiku, siksaan. Ya, meski siksaan yang manis” (Riantiarno, 2004: 82-83).

Saat masa SMA nya lah pertama kali ia bermain cinta

bersama Anto. Teman satu kelasnya tersebut. Ia masuk dalam

pesona Anto sehingga ia mengalami percintaan yang tak

bermain perasaan, kota C juga merupakan tempat Ayah dan

Ibunya tinggal serta bekerja disana. Ini terlihat dalam kutipan

berikut.

“Ayahku pegawai DKA, Djawatan Kereta Api. Bukan pegawai tinggi, tapi kedudukannya cukup penting. Dia pengatur utama lalu lintas kereta api. Sebelum pindah ke kota C, dia pernha menjabat juru tulis sebuah stasiun kecil di KT” (Riantiarno, 2004: 8).

“Ibuku suka bunga. Dia membuka toko bunga di beranda rumah kota C” (Riantiarno, 2004: 9).

Itulah kota tempat ia tingga bersama kelaurganya. Keluarga

yang sederhana bersama Ayah dan Ibunya. Kota C juga

merupaka kota tempat Arsena hidup dalam latar belakang

peristiwa G30S/PKI. Peristiwa yang membuatnya trauma karena

harus kehilangan ayahnya. Ini terlihat dalam kutipan berikut.

“Pada suatu malam berhujan, sebuah pikap Gaz dan dua truk tentara menggerebek rumah kami. Dengan keramahan yang menakutkan, mereka membawa ayah” (Riantiarno, 2004: 9).

“Para tetangga menyebar bisik-bisik, Ayah

komunis. Ayah pimpinan terasa partai yang resmi sudah dilarang. Dan karena ayah dianggap komunis, mereka mulai menjauh” (Riantiarno, 2004: 14).

“Meski masih dalam pemeriksaan, tidak diragukan lagi, suami Ibu komunis. Anggota inti partai komunis. Anggota inti barisan bawah tanah yang jadi penghubung

anggota bawah tanah lain diseluruh kota C” (Riantiarno, 2004: 18).

“Air sungai Jtb di kota C, dan banyak air sungai di Indonesia, berubah merah karena darah. Bau anyir.Mayat korban dikubur sembarangan” (Riantiarno, 2004: 20).

“Aku tidak mungkin bisa memiliki surat bebas G- 30S/PKI sebab ayahku ditahan karena dianggap terlibat PKI” (Riantiarno, 2004: 29)

2.2.1.2Kota Jakarta

Jakarta adalah ibu kota. Pembangunan berjalan pesat.

Jakarta kota yang sanggup mengubah seseorang menjadi lebih

baik dari kehidupan sebelumnya. Ini terlihat dalam kutipan

berikut.

“Jakarta, Jakarta. Ya. Jakarta sanggup mengubah seseorang. Aku merasa, Hilman memang sukses” (Riantiarno, 2004: 171).

“Lukisan Tosin digemari, dan harganya pun dipatok dalam dolar Amerika. Bukan main. Penggemar karya lukisannya kebanyakan orang kaya Jakarta dan ekspatriat” (Riantiarno, 2004: 173).

Jakarta, kota tempat Arsena mengadu nasib serta

melupakan trauma pahit yang dialami semasa di kota C karena

Arsena berkeyakinan jika ia tetap berada di kota C maka

hidupnya akan terus terbayang-bayang oleh perasaan trauma

“Surat Johari melahirkan minat yang sebelumnya tak terpikirkan. Kenapa tidak ke Jakarta, mengadu nasib? Siapa tahu peruntungan lebih baik. Makin hari makin keras. Ya, Jakarta” (Riantiarno, 2004: 31).

“Aku ingin maju. Dan harapanku, kerja hanya bisa diperoleh di kota besar macam Jakarta” (Riantiarno, 2004: 37).

“Sejak tinggal di Jakarta aku mencoba sekuat daya melupakan peristiwa ayah. Kenangan malam berhujan di kota C, sangat menyakitkan” (Riantiarno, 2004: 177).

Selama di Jakarta, Arsena tinggal bersama Hilman, sahabat

dekat kakaknya. Ini terlihat dalam kutipan berikut.

“Sudah empat jam mencari, akhirnya rumah hilman kutemukan” (Riantiarno, 2004: 162).

“Setelah beberapa hari tinggal bersama, aku tahu dia bekerja sebagai perancang seni pertunjukan, yang hamper semuanya masih menggunakan istilah asing, Hilman Art Director” (Riantiarno, 2004: 171).

“Sudah empat tahun aku tinggal di rumah hilman.Segala lancar” (Riantiarno, 2004: 232).

Jakarta memang tempat orang mencoba mengadu nasib,

namun karena tidak memiliki surat bebas G-30S/PKI, Arsena sulit

mencari pekerjaan, akhirnya ia bekerja membantu Hilman.

Pekerjaan ini juga membawanya berkenalan dengan

terlihat dalam kutipan berikut.

“Begini, kalau mau kau boleh kerja denganku, Tenagamu akan kuusulkan kepada Paman” (Riantiarno, 2004: 180).

“Kerja dalam sebuah produksi film barangkali menarik juga” (Riantiarno, 2004: 180).

“Tapi sejak itu kami sering bersama. Mempelajari scenario Hilman dengan tekun lalu coba menguraikan adegan demi adegan dan memainkannya. Aku membantu Nancy dan menjadi stand in actor pemeran utama” (Riantiarno, 2004: 197).

“Eduard! Panggil saja Edu ..” Dia menggenggam tanganku erat-erat ketika kami bersalaman” (Riantiarno, 2004: 239).

Jakarta memang kota yang keras, banyak permasalahan

yang akan dihadapi oleh Arsena. Masalah percintaan dan

masalah pribadi lainnya yang akan memunculkan berbagai

macam masalah dalam hidupnya.

Dokumen terkait