• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG KONDISI

2.3 Setting Novel “Pembunuhan Sang Shogun”

2.3.2 Latar Tempat

Latar tempat mengindikasikan terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi. Unsur tempat yang dipergunakan mungkin berupa tempat-tempat dengan nama tertentu, inisial tertentu, mungkin lokasi tertentu tanpa nama yang jelas. Penggunaan latar tempat dengan nama-nama tertentu haruslah mencerminkan, atau tidak bertentangan dengan sifat dan keaadaan geografis tempat yang bersangkutan. Deskripsi tempat secara teliti dan realistis ini penting untuk mengesani pembaca seolah-olah hal yang diceritakan itu sungguh-sungguh ada terjadi yaitu di tempat dan waktu seperti yang diceritakan itu. Latar tempat pada novel “Pembunuhan Sang Shogun” ini tepatnya adalah di kota Edo, pusat pemerintahan Tokugawa Ieyasu pada masa itu. Kota Edo adalah tempat dimana masyarakat kota benar-benar bertindak sebagaimana orang kota yang feodal, individual, materialistis. Di kota ini juga lah Tokugawa membangun kastil sebagai kantor pemerintahannya.

2.3.3 Latar Sosial

Latar sosial adalah hal-hal yang berhubungan dengan perilaku kehidupan sosial masyarakat disusatu tempat yang diceritakan dalam karya fiksi. Tata cara

kehidupan sosial masyarakat mencakup berbagai masalah dalam lingkup yang cukup kompleks, dapat berupa kebiasaan hidup, adat istiadat, tradisi, keyakinan, pandangan hidup, cara berfikir dan bersikap dan lain-lain. Disamping itu, latar sosial juga berhubungan dengan status sosial tokoh yang bersangkutan, misalnya rendah, menengah atau atas. Di dalam novel “Pembunuhan Sang Shogun” ini tercermin jelas adanya diskriminasi akibat dari pengelompokan masyarakat menurut kelas sosial itu sendiri.

2.4 Biografi Pengarang Novel “Pembunuhan Sang Shogun”

Biografi pengarang adalah salah satu unsur ekstrinsik dalam suatu karya sastra. Pengarang merupakan unsur ekstrinsik yang paling berpengaruh akan bangun cerita dari sebuah karya fiksi. Walaupun unsur ekstrinsik bukan merupakan unsur yang membangun cerita dari dalam karya sastra itu sendiri tetapi keberadaan unsur ekstrinsik dalam hal ini pengarang secara tidak langsung dapat mempengaruhi hasil dari karya sastra fiksi tersebut.

Pengarang novel “Pembunuhan Sang Shogun” ini adalah Dale Furutani. Ia lahir di Hilo, Hawaii, Pada 1 Desember 1946. Dale Furutani adalah generasi ketiga Jepang-Amerika, atau disebut juga sansei. Keluarganya berasal dari Pulau Oshima, selatan Hiroshima. Kakek dan neneknya datang dari Hawaii pada 1896 sebagai pekerja di sebuah pabrik gula, tetapi kakeknya memutuskan kontrak karena bisnis ikan yang digelutinya lebih berhasil.

Ketika berusia enam tahun, Dale kecil diadopsi oleh John Flanagan, dan mereka pindah ke California. Laki-laki yang mengadopsinya ini tidak diberkahi

kecerdasan intelektual. Dale masih ingat saat John mengatakan kepadanya dengan penuh rasa malu kalau IQ-nya hanya 75. Bahkan sebagai seorang anak kecil, Dale tahu rasa malunya akan angka itu sangat tidak adil dan tidak diharapkan.

John bekerja di perkapan. Saat itu tidak banyak yang bisa dikerjakan di laut kecuali membaca. Ia tumbuh menjadi seseorang yang suka membaca meski itu bukan perkara mudah baginya. Dale masih ingat saat John duduk di meja dapur di rumah pada suatu sore, dengan buku atau majalah di hadapannya dan sebuah kamus untuk anak SMP. Dengan begitu, John bisa mengartikan kata yang tidak dipahaminya.

Karena John berusaha begitu keras, Dale paham kalau membaca dan juga menulis adalah sesuatu yang sangat penting. Buku-buku yang ditulisnya adalah hasil dari wujud kecintaannya membaca yang kemudian membuat Dale mencintai menulis.

Di california, pengalaman buruknya adalah memdapata perlakuan rasialis dari teman-teman sekelasnya karena dia satu-satunya orang Asia di sekolahnya. Hal itu tidak menghalangi Dale muda untuk melambungkan imajinasinya.

Dia mendapat gelar akademis di bidang penulisan kreatif dari California State Universit, Long Beach, dan gelar MBA di bidang pemasaran dan sistim informasi dari UCLA. Pada tahun 1993, novel pertamanya, Death in Litle Tokyo, meraih Anthoni Award dan Macavity Award untuk Novel Misteri Debutan terbaik.

BAB III

KESETIAAN TOKOH KAZE DALAM NOVEL “PEMBUNUHAN SANG

SHOGUN” KARYA DALE FURUTANI

3.1 Sinopsis Cerita

Cerita novel ini terjadi pada awal zaman Edo. Kota Edo yang baru memasuki tahap perkembangannya menuju kota pusat dari pemerintahan Tokugawa, Shogun pada masa itu. Kaze, seorang samurai yang tidak bertuan yang sedang melaksanakan kesetian terakhirnya kepada tuannya dengan mencari putri tuannya yang diculik. Kaze dituduh sebagai orang yang menembakkan bedil saat shogun Tokugawa Ieyasu melakukan tinjauan ke kastil Edo yang sedang dibangun. Pastinya dituduh mencoba membunuh Shogun. Kastil itu akan dibangun sesuai keinginan sang shogun, yang akan dibuat sebagai tembok pertahanan pada masa pemerintahannya di Edo. Selain menjadi kastil pemerintahan, tembok kastil ini juga yang akan melindungi shogun beserta keluarganya dari sifat kesetiaan para samurai(bushi) dari daimyo. Demikian pemikiran sang shogun, jikalau bushi anak buah setia melewati batas hidup dan mati tuannya, maka diragukan bahwa tuan wilayah akan tetap kuat. Sehingga kemungkinan suatu saat para daimyo yang tidak suka dengan pemerintahannya atau yang sebelumnya menjadi musuhnya pasti akan menyerangnya.

Kaze dituduh sebagai orang yang mencoba membunuh shogun karena Kaze berada pada tempat yang salah pada saat peristiwa penembakan tersebut. Kejadian itu membuat salah satu samurai shogun yang bernama Nakamura terbunuh karena tembakan itu meleset dan mengenainya. Begitulah perkiraan

semua pihak akan pelaku percobaan pembunuhan itu. Pada saat kejadian penembakan itu Kaze memang berada disana dan sedang mencari penghidupan sebagai seorang seniman jalanan. Itulah yang membuat anggapan semua pihak untuk Kaze sebagai orang yang paling memungkinkan untuk melakukan percobaan pembunuhan itu. Sama halnya dengan dugaan para pengawal shogun.

Mulai saat itu, Kaze adalah orang yang paling dicari di seluruh Edo, ibukota Jepang pada saat itu. Dari gambar wajahnya yang disebar di seluruh Edo hingga penyergapan yang beberapa kali didapatinya yang hampir merenggut nyawanya menandakan bahwa Kaze adalah buronan shogun. Sungguh menderitanya Kaze pada saat itu. Namun sebagai seorang samurai, Kaze menghadapinya dengan tegar dan sabar. Hal ini dicampur aduk dengan misi utamanya mencari putri dari tuannya yang dibawa ke Edo oleh musuh saat klan Kaze kalah dalam perang Sekigahara.

Dalam penyamarannya sebagai pemain kabuki, Kaze menghindari kejaran para samurai sang Shogun. Ia juga harus berjuang membuktikan dirinya bukanlah pembunuh, menunggu waktu yang tepat untuk menyelesaikannya. Sekaligus menyelamatkan sang putri, Kiku-chan.

Dengan petunjuk yang Kaze dapatkan dari beberapa interaksinya di kota Edo, Kaze mengerahkan seluruh kemampuannya untuk menemukan tuan putri, sembari menyamar dari kejaran pihak shogun. Pertarungan pedang sebagai seorang samurai yang ahli pedang pun sering dihadapinya. Bukti kesetiaannya kepada tuannya ditunjukkan dengan melakukan apa saja, diantaranya dengan menurunkan kelasnya sebagai seniman jalanan, sebagai pemain kabuki, sebagai gelandangan, hingga sebagai seorang hidung belang yang pergi ke rumah bordil

demi mencari Kiku-chan. Kesetiaan samurai untuk menjaga keutuhan keluarga apabila salah seorang anggota keluarga tuannya yang masih hidup ditawan, ataupun diculik. Setelah dengan perjuangan berat, ia pun berhasil menemukan tuan putrinya di rumah bordil di kota Edo. Ia mendapati Kiku-chan dipekerjakan sebagai pelacur yang menemani Kaze pada saat penyamarannya itu. Sungguh pertemuan yang sangat memilukan. Kaze menenangkan tuan putrinya, membawanya pulang, yang sebelumnya Kaze rela dipukuli tanpa perlawanan oleh pengawal rumah bordil tersebut asalkan kesepakatan dengan pemilik usaha bejat itu berujung pada pulangnya Kiku-chan.

Setelah selesai dengan misinya yang utama, Kaze pun harus membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah kepada Shogun. Dengan kata lain, Kaze harus menunggu saat yang tepat untuk bertemu kepada shogun. Tentu bukanlah hal yang mudah bertemu dengan orang nomor satu di Jepang itu. Dengan melalui pengamatan, pengintaian, hingga pada saat memata-matai shogun, Kaze pun berada pada percobaan pembunuhan kedua, dimanan Kaze lah yang melumpuhkan penembak yang bersiap membidik ke arah Shogun. Pada saat itu pula, Kaze berada dihadapan orang yang mecarinya selama ini, yaitu Tokugawa. Keterkejutan shogun dan para pengawal saat menemukan hal baru ini, menuju pada suatu kesimpulan bahwa salah satu pengawal shogun yang bernama Yoshida lah dalang dari semua ini.

Setelah semuanya terbukti, Tokugawa Ieyasu menghapus nama Kaze dari daftar pencariannya. Nama Kaze pun bersih di Edo dan ia kembali pada kehidupannya seperti layaknya seorang samurai yang mungkin nantinya akan mengambil jalan terhormat dengan merobek perutnya di depan kuil makam

tuannya sebagai kehormatan baginya. Mati sebagai samurai dengan tercapainya tugas terakhirnya yang merupakan wujud kesetiannya kepada tuannya.

3.2 Kesetiaan Kaze dalam Novel “Pembunuhan Sang Shogun” Karya Dale Furutani

Pada bagian ini akan diungkapkan analisis kesetiaan tokoh Kaze pada novel “Pembunuhan Sang Shogun” karya Dale Furutani terlebih di dalam masyarakat kota Edo. Dalam novel ini banyak membahas pola interaksi atasan dan bawahan ataupun sebaliknya dalam proses pembentukan karakteristik tokoh Kaze terhadap lingkungannya serta menunjukkan bagaimana peranan kondisi sosial suatu masyarakat di dalam pembentukan karakteristik seseorang.

Dalam novel ini terungkap beberapa contoh pola interaksi yang sangat kompleks baik itu secara keseluruhan cerita maupun dalam beberapa tindakan atau perilaku.

Cuplikan 1, Bab 2 (Kejutan Saat Kunjungan)

“ Wajah lelaki (Kaze) ini seperti wajah seorang ronin. Tapi, tidak mudah bagi sang kapten untuk membayangkan seorang samurai sejati akan turun derajatnya dan menjadi seorang seniman jalanan...entah apakah yang ada ronin ini mengalami peristiwa kemunduran yang sangat tragis dari posisinya yang terdahulu...

Para penonton bertepuk tangan dengan meriah dan panjang dan beberapa orang melemparkan kepingan uang di atas sehelai kain yang dibentangkan di kaki lelaki itu. Lelaki itu menundukan kepalanya sebagai bentuk terima kasihnya dan atas

tepuk tangan. Kemudian ia menatap sang kapten patroli kota Edo dan tersenyum...”

Analisis

Pada cuplikan cerita di atas, terlihat bahwa seorang Kapten yag menjadi samurai salah satu daimyo melihat di hadapannya seorang yang dulunya samurai yang rela menurunkan kelasnya menjadi seorang seniman jalanan. Sang kapten tidak bisa membayangkan seorang samurai sejati akan turun derajatnya menjadi seorang yang jauh dibawahnya. Seorang seniman jalanan yang bermain pedang dengan gasing di kerumunan banyak orang di kota Edo. Setelah dia melakukan atraksinya, orang-orang akan melempar uang recehan kepadanya.

Hal itu terjawab dengan satu alasan yang ada dalam benak kaze yang dianggapnya sebagai tugas suci. Tugas terakhir yang harus dilaksanakannya dengan mencari putri tuannya yang diculik dan dibawa ke Edo. Dalam melaksanakan misinya itu Kaze tentunya perlu penghidupan dengan caranya yang hina di mata samurai seperti ini. Sebenarnya Kaze pun tidak ingin hidup lagi di dunia yang tidak dihuni oleh Tuannya ini. seharusnya ia mengambil jalan terhormat dengan mengakhiri hidupnya mengikuti kematian tuannya. Namun Kaze harus menemukan putri tuannya terlebih dahulu.

Dalam cuplikan cerita diatas, terlihat bentuk kesetiaan Kaze terhadap tuannya dalam interaksinya dengan masyarakat Edo yang tidak perduli dengan status sosilnya saat itu. Dimana dalam Situmorang (1995:62) bahwa kelompok masyarakat selalu didasarkan pada Ie, pemikiran seperti ini dimulai pada kelompok bushi, yang diikuti oleh kelompok lainnya. Untuk memantapkan

kedudukan dan golongan kelompok diwujudkan dalam cara berbahasa maupun cara berpakaian. Oleh karena itu zaman Edo disebut juga sebagai zaman dimana masyarakat benar-benar menyadari golongan.

Cuplikan 2, Bab 5 (Tiba di Edo)

“Sebagai seorang yang lebih senang menutup diri, Kaze merasakan bahwa dirinya sebenarnya menikmati kesibukan kota ini untuk beberapa alasan. Ada sesuatu yang menular dari energi, rasa ingin tahu, serta optimisme Edokko yang tidak pernah ia sadari sebelumnya bahwa itu dibutuhkannya dan menjadi angin segar baginya. Itu karena selama beberapa tahun ini ia menghabiskan waktu kesendirian menyelesaikan tugas yang sulit.

Hampir selama tiga tahun, Kaze mencari putri tuannya. anak itu sekarang usianya sembilan tahun dan Kaze tahu kalau anak itu dikirim ke Edo dari Kamakura. Kaze bahkan tahu ke mana bocah itu dikirim. Edo Yakusa Kobanaya, “Rumah Bordil Bunga Kecil Edo”....

Analisis

Dari cuplikan cerita novel di atas terlihat keunikan dari tokoh Kaze. Dimana ajaran kesetiaan bushi yang dikombinasikannya dengan kesebaran diri dalam wataknya. Dia menunggu waktu yang tepat untuk melakukan tugas yang diperintahkan tuannya, namun tidak berpikir untung atau rugi terhadapnya. Satu pikiran yang ada dalam benaknya yaitu mencari putri tuannya. Boleh dikatakan bahwa setiap langkah dalam perjalanan hidupnya selama tiga tahun pencariannya hanya telintas dan terngiang di pikirannya untuk melaksanakan tugas itu. Suatu

bentuk kesetiaan yang terakhir dilakukannya terhadap tuannya. Sungguh kesetiaan yang unik dan luar biasa.

Hal ini sesuai dengan apa yang dikemukakan Sagara dalam Situmorang (2006:103) kesetiaan bushi dalam melaksanakan pengabdian dirinya kepada tuannya tidak boleh menunggu waktu. Maksudnya adalah apabila menunggu waktu akan disebut dengan bushi pengecut. Kemudian apabila menunggu sampai bertahun-tahun, berarti sudah sempat memikirkan untung rugi jikalau melakukan perintah tuannya.

Cuplikan 3, Bab 7 (Benih Kebencian di Masa Lalu)

(Di masa hidup Tuan/Daimyo yang menjadi atasan Kaze, terjadi pecakapan antara Kaze dengan Tuannya untuk menanyakan alasan Kaze memukuli tamu tuannya, anak seorang daimyo lain yang bernama Okubo)

Tuan : Okubo Muda mengeluh karena kau memukulinya Kaze : memang saya yang memukulinya tuan

Tuan : kenapa kau memukulinya?

Kaze : Tuan Okubo muda mengikat seekor anjing di panci panas berisi air berniat untuk merebusnya hidup-hidup

Tuan : jadi, menyiksa anjing mu? Kaze : itu bukan anjing saya, Tuan Tuan : itu bukan anjing mu?

Kaze : Bukan, Tuan. Saya kira mungkin itu anjing liar.

Tuan : Kalau begitu kenapa kau bersemangat untuk melindunginya? Apa kau tahu kalau beberapa daimyo berburu anjing, menembaknya dari

punggung kudadengan busur dan anak panah? Kaze : Ya, Tuan

Tuan : Lalu, kenapa kau memukuli anak daimyo itu kalau dia melakukannya? Kaze : Mungkin tidak, Tuan.

Tuan : Kenapa tidak?

Kaze : karena itu bukan kekejaman yang dilakukan yang dilakukan atas dasarkekejaman semata. Saya diajarkan bahwa semua mahluk hidup akan mati, termasuk manusia. Kematian itu tidak bisa dihindarkan oleh apapun. Cara untuk mati itulah yang penting. Direbus hidup-hidup untuk memberikan kesengan pada pihak lain bukanlah cara mati yang baik, bahkan untuk seekor anjing sekalipun. Klan kita tidak pernah memperlihatkan kekejaman seperti itu. Tuan Muda Okubo adalah daimyo di masa datang, tapi dia juga tamu klan kita. Dia seharusnya tunduk pada kebiasaan klan kita. Itu termasuk tidak menyakiti untuk alasan yang tidak penting, bahkan pada seokor anjing.

Tuan : Tak diragukan lagi di Klan Okubo memiliki kebiasaan sendiri. Kau pikir kenapa Okubo mengeluh kepadaku tentang kau yang memukulinya? Kaze : Supaya saya berada dalam masalah karena dia kalah...

Tuan : Sampaikan semua yang ada dalam kepalamu!

Kaze : Baik, Tuan. Saya yakin Tuan Okubo mengadu pada Tuan karena dia belum dilatih bushido, jalan hidup seorang kesatria. Seorang kesatria

Analisis

Sebagai seorang samurai yang menjujung tinggi nilai-nilai bushido, harus pasrah menerima takdirnya sebagai anak buah. Dia harus menerima keputusan apapun dari tuannya atas kesalahan maupun pengabdiannya.

Disituasi ini, terbersit rasa malu yang terlihat di wajah Kaze karena memukuli anak daimyo lain yang menjadi tamu tuannya pada saat itu. Namun sebagai seorang samurai di klan tuannya, Kaze setia dan tunduk kepada kebiasaan Klan tuannya tersebut.

Pada cuplikan dari cerita novel di atas, terlihat pada kasus seperti ini seharusnya Kaze dihukum. Itu merupakan tanggung jawab karena telah melakukan kesalahan yang membuat malu Tuan, bahkan seluruh klannya pada akhirnya. Namun Kaze tidak jadi dihukum karena dia melakukan itu untuk menunjukkan kalau saju kebiasaan dan sikap dari klannya tidak dipatuhi orang lain, bahkan anak daimyo sekali pun. Kaze pun tahu tuannya punya kuasa atas hidup dan mati Kaze,keluarga Kaze dan semua orang di daerah kekuasaan tuannya. karena itulah bentuk kesetiaan Samurai terhadap Tuannya. Hal ini sesuai dengan apa yang dinyatakan dalam Situmorang (1995), dikatakan bahwa salah satu sikap yang harus dimiliki oleh bushi didalam mewujudkan moral pengabdian diri adalah kejujuran. Yaitu tidak mengubah kepatuhan terhadap pengabdiannya. Tidak dipengaruhi oleh keakraban, memperbaharui apa yang harus diperbaharui, membenarkan apa yang harus dibenarkan. Tidak boleh mengambil muka, dan tidak boleh mengikuti perasaan duniawi.

Cuplikan 4, Bab 17 (Pengakuan Seorang Gadis)

Terjadi percakapan antara Kaze dengan seorang gadis bernama Momoko. Momoko adalah gadis yang bekerja untuk teman lama Kaze tempat Kaze tinggal sementara di Edo.

Momoko : Aku akan pergi denganmu

Kaze : Tidak, kau tetap disini saja. Aku akan kembali lagi karena harus menyelesaikan urusanku di Edo. Itu adalah sumpah suci dan aku harus memenuhinya. Tapi, sebelum melakukan itu aku harus berpikir dan harus sendirian untuk sementara waktu...sudah menjadi karmamu untuk tinggal disini, bukan berkelana dengan ku

Momoko : Tapi...

Kaze : aku akan kembali dalam beberapa hari....

Analisis

Dari cuplikan di atas dapat dilihat bahwa ada seorang wanita yaitu Momoko yang menaruh hati kepada Kaze. Momoko berharap bisa mendampinginya dalam segala perkaranya.

Kaze menolak permintaan Momoko dengan halus untuk tidak melukai hati seorang wanita yang perhatian kepadanya. Tidak bisa dipungkiri, seorang ronin adalah manusia biasa yang tidak menutup kemungkinan untuk berhubungan dengan lawan jenisnya. Menjalin asmara, menikah dan berketurunan merupakan hal yang harus dialami setiap samurai. Namun kaze telah memilih jalan hidupnya dengan berkelana sendiri menjalankan tugas yang diperintahkan tuannya. Jalan

untuk menjalankan kesetiaan terhadap tuannya lebih penting dibandingkan membangun lembaran baru dengan seorang gadis.

Cuplikan 5, Bab 19 (Teman Baru)

Terjadi percakapan antara Kaze dengan Bos Nobu, seorang tangan kanan bandar judi di kota Edo.

Nobu : kau memang iblis, Matsuyama san...(berkata sambil tersenyum kagum) tidak sehat berpikir seperti itu, bawahan yang berpikir akan melawan atasan itu artinya tidak setia.

Kaze : (kaze membuat perbandingan untuk dipertimbangkan Nobu)Nobunaga menyingkirkan Imagawa. Ieyasu, sekutu Imigawa, bergabung dengannya untuk meraih kepentingan mereka. Akechi, sekutu Nobunaga, membunuhnya. Hideyosi mengatakan ia membalaskan dendam kematian Nobunaga. Tapi akhirnya dia digantikan kedudukannya oleh anak lelaki Nobunaga sebagai penguasa Klan mereka dan penguasa Jepang. Ieyasu adalah daimyo utama Hideyoshi, tapi dia melawan anak lelaki Hideyoshi dan sekarang memerintah sebagai Shogun.

Nobu : Lalu bagaimana denganmu? Apa kau setia pada tuanmu?

Kaze : Ya, Tapi aku agak kuno. Itu hanya diriku saja. Tidak berarti kalau kau harus seperti itu.

Nobu : Kau memang iblis (sambil tersenyum karena kekagumannya) Kaze : Mungkin, tapi mungkin juga iblis yang masuk akal, Bos Nobu....

Analisis

Dalam cuplikan percakapan di atas, seorang tangan kanan bandar judi di Edo yang kagum akan kesetiaan samurai ini. Kaze telah dianggapnya sebagai orang yang istimewa, bekas samurai yang setia menjalankan tugas dari tuannya yang sudah meninggal.

Dalam cuplikan ini terlihat, Kaze memberikan pengajaran kepada rekannya ini tentang kesetiaan yang diterapkan oleh orang-orang besar hanya untuk unsur kepentingan. Mereka mengabdi ataupun bergabung satu sama lain dengan tujuan mendapatkan kedudukan dengan strategi yang mengatasnamakan pengabdian. Tidak halnya dengan Kaze yang memberikan seluruhnya kesetiaan mutlak kepada tuannya meskipun dianggap kuno pada masa itu.

Cuplikan 6, Bab 20 ( Membebaskan si Gadis Kecil)

Terjadi percakapan di rumah bordil Bunga Kecil dengan seorang mucikari yang disebut Jitotenno dimana transaksi yang blak-blakan dengan para hidung belang lainnya, layaknya lelang pelacur.

Kaze : Kudengar kalian melayani, eh, selera khusus di tempat ini. Selera segar. Muda

Jitotenno : Yah benar, Tuan. Tapi, Anda harus tahu kalau hiburan macam itu mahal tarifnya. Saya yakin tamu-tamu terhormat kami sangat mampu. Tapi karena anda belum pernah datang kesini sebelumnya, saya ingin menyarankan Anda untuk menonton hiburan malam hari yang menyenangkan...

Jitotenno : untung sekali Tuan datang sekarang, kami akan memperlihatkan pertunjukan.

Kaze : pertunjukan...?

(kaze melihat putrinya meniup seruling dalam pertunjukan yan mempertontonkan anak-anak untuk dijadikan pemuas nafsu para hidung belang)

Jitotenno : Kuharap Anda telah menemukan orang yang membuat anda senang tinggal di tempat kami

Lelaki 1 : Aku pilih peniup seruling mu, aku akan ambil dia....

Kaze : Aku bayar dua kali lipat (mengeluarkan uang dalam kantong serta menguncang-guncangnya )

Lelaki 1 : Kalau kau mengijinkanku berutang , aku akan tambah lagi

Analisis

Kaze adalah samurai dari Klan yang terhormat dan juga memiliki kebiasaan yang terhormat pula. Dengan kebiasaan yang terhormat ini Kaze tentu sangat menghargai kedudukan seorang wanita yang telah melahirkannya. Terlebih

Dokumen terkait