• Tidak ada hasil yang ditemukan

Layanan Purna Jual

Dalam dokumen BAB IV. HASIL dan PEMBAHASAN (Halaman 54-59)

24 jam + 3 jam + 24 jam + 87 jam

6 jam MCE =

138 jam

= 0.043 = 4.3%

Dalam hal ini perusahaan masih kurang dalam hal memenuhi kebutuhan para pelanggannya atau memenuhi pesanan para pelanggannya dalam hal pemasangan listrik yang baru karena masih jauh dari angka 1. Karena dalam hal ini ketika rasio MCE yang dipakai mendekati angka 1, maka perusahaan mengetahui bahwa waktu yang terbuang untuk menanggapi permohonan dari pelanggan, melakukan survei ke tempat tinggal pelanggan, mengevaluasi, dan memberitahukan kepada pelanggan dan kemampuan perusahaan dalam melakukan sambungan ditempat pelanggan, tetapi pada kenyataannya rasio MCE yang didapat dalam perhitungan diatas adalah 0,043 yang artinya perusahaan masih kurang dalam hal memenuhi kebutuhan para pelanggannya atau menanggapi pesanan para pelanggannya dengan cepat, sehingga diperlukan perbaikan dalam hal kualitas pelayanannya.

C. Layanan Purna Jual

Untuk mengukur layanan purna jual pada Unit Induk PT PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten, dalam hal ini layanan purna jual yang dilakukan adalah dengan sistem SAIFI (System Average Interruption Frequency) adalah Indikator Kinerja untuk mengukur rata-rata kali pelanggan padam, satuannya (kali/ pelanggan). Rumusnya :

Jumlah pelanggan = 15.937.857

7.318.712 = 2 kali/Tahun

4.7 Implikasi Hasil Penelitian

a. Penilaian Kinerja perusahaan berdasarkan perspektif tradisional

• Pengukuran kinerja yang dilakukan Unit Induk PT PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten dengan menggunakan perspektif tradisional dinilai masih dikatakan stabil. Ini bisa dilihat dari berbagai data keuangan yang dianalisis dari tahun 2003-2006. Dari Laporan Laba/Rugi dalam hal ini dapat dilihat dari penjualan bersih dan laba bersih. Dari penjualan bersih tahun 2003-2004 persentase yang di dapat 24,35%, tahun 2004-2005 persentase yang didapat 18,95%, dan tahun 2005-2006 persentase yang didapat 37,26%. Laba bersih tahun 2003-2004 persentase yang didapat 260,7%, tahun 2004-2005 persentase yang didapat -82%, dan tahun 2005-2006 persentase yang didapat 39,36%.

Dari neraca keuangan Unit Induk PT PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten dapat juga dilihat kestabilan terjadi kenaikan dan penurunan setiap tahunnya. Total aktiva lancar tahun 2003-2004 dengan persentase 8.15%, tahun 2004-2005 persentasenya -16,8% dan tahun 2005-2006 persentasenya -6.5%. Total Aktiva tetap tahun 2003-2004 persentasenya -1.19, tahun 2004-2005 persentasenya 6.26% dan tahun 2005-2006 pesentasenya 1%. Total kewajiban lancar tahun 2003-2004 persentasenya 5.9%, tahun 2004-2005 persentasenya 20.4%, dan tahun 2005-2006 persentase yang didapat 1.28%. Total ekuitas tahun 2003-2004 persentasenya -

0.01 %, tahun 2004-2005 persentasenya -0.02% dan tahun 2005-2006 persentase yang didapat 0.02%.

b. Penilaian kinerja perusahaan berdasarkan perspektif Balanced Scorecard : • Perspektif Keuangan

Dalam perspektif keuangan dinilai hampir sama dengan perspektif tradisional yang hanya melihat dari segi keuangan perusahaan. Keseluruhan rata-rata indikator yang ada dalam perspektif keuangan berkategori baik, dengan bobot keseluruhan 28. Dapat dilihat bahwa Current ratio berbobot 5 (sangat baik), Quick ratio berbobot 5 (sangat baik), rasio hutang atas modal berbobot 5 (sangat baik), rasio hutang atas aktiva berbobot 4 (baik), profit margin berbobot 5 (sangat baik), gross margin ratio berbobot 5 (sangat baik), dan ROI berbobot 3 (cukup baik).

• Perspektif Pelanggan

Dari perspektif pelanggan dapat dilihat keseluruhan rata-rata indikator yang ada berkategori cukup baik, dengan bobot keseluruhan 17. Dapat dilihat bahwa mutu dan keandalan pasokan berbobot 3 (cukup baik), kemudahan dan kenyaman dalam pembayaran berbobot 3 (cukup baik), akurasi catat meter berbobot 3 (cukup baik), transparasi informasi berbobot cukup baik (3), pandangan masyarakat berbobot 2 (kurang baik), dan komunikasi dengan pelanggan berbobot 3 (cukup baik).

• Perspektif pembelajaran dan pertumbuhan

Dalam perspektif ini dapat disimpulkan bahwa karyawan Unit Induk PT PLN (Persero) DIistribusi Jawa Barat dan Banten cukup puas dengan apa yang diberikan perusahan sampai saat ini, dapat dilihat keseluruhan indikator berbobot 28, dengan rata-rata keseluruhan indikator adalah berkategori cukup baik. Dapat dilihat gaji dan tunjangan yang diberikan berbobot 3 (cukup baik), fasilitas yang ada dikantor berbobot 3 (cukup baik), hubungan kerjasama antar sesama pegawai berbobot 3

(cukup baik), pelatihan yang diberikan didalam perusahaan berbobot 2 (kurang baik), jabatan yang ditempati sekarang berbobot 3 (cukup baik), ketepatan informasi yang didapat selama bekerja berbobot 3 (cukup baik), penghargaan atas prestasi kerja berbobot 3 (cukup baik), kenyaman di tempat kerja berbobot 3 (cukup baik), pembagian tugas yang ada berbobot 3 (cukup baik), dan kemampuan teknis dan manajerial karyawan berbobot 2 (kurang baik).

• Perspektif Bisnis Internal

Dalam perspektif bisnis internal, rata-rata dari keseluruhan indikator berkategori cukup baik, dengan total keseluruhan indicator berbobot 7. Dapat dilihat Proses inovasi yang ada berbobot 4 (baik), proses operasi yang ada dalam perusahaan berbobot 1 (sangat kurang baik), dan Layanan Purna Jual (SAIFI) berbobot 2 (kurang baik)

4.8 Pembahasan Penelitian

Hasil penelitian pada Unit Induk PT PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten secara keseluruhan yang dilihat dari empat perspektif dalam Balanced Scorecard yaitu :

Tabel 4.26

Pembahasan Penelitian

Unit Induk PT PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten menggunakan empat perspektif dalam Balanced Scorecard

No Indikator Target Rata-rata Penc. (%) Bobot

I Perspektif Pelanggan 17

1 Mutu dan keandalan pasokan 5 3.635 72.7 3

2 Kemudahan dan kenyaman Dalam pembayaran

5 3.65 73 3

4 Transparasi informasi 5 3.72 74.4 3

5 Pandangan masyarakat 5 3.22 64.4 2

6 Komunikasi dengan pelanggan 5 3.43 68.6 3

II Perspektif Pembelajaran

dan Pertumbuhan 28

1 Gaji dan Tunjangan yang diberikan 5 3.63 72.6 3

2 Fasilitas yang ada di kantor 5 3.7 74 3

3 Hubungan Kerjasama antar sesama pegawai 5 3.44 68.8 3 4 Pelatihan yang diberikan di dalam perusahaan 5 3.1 62 2

5 Jabatan yang ditempati sekarang 5 3.43 68.6 3

6 Ketepatan informasi yang didapat selama

Bekerja 5 3.43 68.6 3

7 Penghargaan atas prestasi Kerja 5 3.48 69.6 3

8 Kenyamanan di tempat kerja 5 3.58 71.6 3

9 Pembagian tugas yang ada 5 3.41 68.2 3

10 Kemampuan teknis dan

manajerial karyawan 3 2 66 2

III Perspektif Keuangan 32

1 Current Ratio 1.09 1.4 128 5

2 Quick Ratio 1.07 1.37 128 5

3 Rasio Hutang atas modal 0.22 0.19 115 5

4 Rasio Hutang atas aktiva 0.15 0.14 107 4

5 Profit margin 0.015 0.04 266 5

6 Gross Margin Ratio 0.013 0.049 376 5

7 ROI 0.05 0.04 80 3

IV Perspektif Bisnis Internal 6

1 Proses Inovasi 5 3.8 76 3

2 Proses Operasi 1 0.043 4.3 1

3 Layanan Purna Jual (SAIFI) 3 kali

/plngan plngan 2 kali/ 66.6 2

JUMLAH 83 Sumber: Hasil analisis penulis

Hasil penelitian yang terdapat pada Tabel 4.25 menunjukan bahwa skor keseluruhan yang didapat dari seluruh perspektif yang ada pada Balanced Scorecard dari perspektif pelanggan dengan bobot 17, perspektif pembelajaran dan pertumbuhan dengan bobot 28, perspektif keuangan dengan bobot 32 dan perspektif bisnis internal dengan bobot 6, maka keseluruhan bobotnya adalah 83, sedangkan bobot tertinggi yang

dapat diperoleh 130 dan bobot minimum yang dapat diperoleh 26, maka hasil tersebut bila dikategorikan dalam 5 interval seperti:

4.27

Tabel Kategori Skor dan Interval Kelas NO Interval Kategori skor Bobot

1 110-130 Sangat Baik 5

2 89-109 Baik 4

3 68-88 Cukup Baik 3

4 47-67 Kurang Baik 2

5 26-46 Sangat Kurang baik 1 Sumber : Unit Induk PT PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten

Maka dari hasil tersebut pengukuran kinerja Unit Induk PT PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten menggunakan metode Balanced Scorecard tergolong dalam kategori cukup baik berbobot 3 karena terletak antara interval 68-88.

Dalam dokumen BAB IV. HASIL dan PEMBAHASAN (Halaman 54-59)

Dokumen terkait