• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III AKUNTABILITAS KINERJA

3.1 CAPAIAN KINERJA ORGANISASI

3.2.3 LEARNING AND GROWTH PERSPECTIVE

Capaian kinerja Balitbang KP pada Learning and Growth Perspective berasal dari 4 sasaran strategis diantaranya:

SASARAN STRATEGIS 5 : Terwujudnya aparatur sipil negara BPOL yang kompeten, profesional dan berkepribadian

Sasaran strategis tersedianya ASN BPOL yang kompeten, profesional dan berkepribadian, terdiri 2 (dua) indikator kinerja yang digunakan untuk mengukur keberhasilan sasaran strategis tersebut yaitu indeks kompetensi dan integrasi di BPOL dan jumlah ASN yang ditingkatkan kompetensinya.

IKU 8 : Indeks kompetensi dan integritas di BPOL

Kompetensi adalah kemampuan untuk melaksanakan tugas sesuai dengan kemampuan dan pengetahuan. Integritas adalah kecenderungan untuk sikap yang patuh pada aturan dan norma. Indeks kompetensi dan integritas dimaksud terdiri dari kompetensi hasil assessment, kehadiran pegawai, capaian kinerja (SKP), LHKASN, LHKPN terhadap pejabat yang telah dilakukan asesmen. Adapun capaian IKU ini adalah sebagai berikut:

19

IKU Target

Tahunan Target TW 1

Realisasi

Tahunan Realisasi TW 1 Indeks kompetensi dan integritas di

BPOL 80% 80% 80% 80%

Formula penghitungan IKU ini merupakan agregasi dari variabel dibawahnya:

Dengan membandingkan kompetensi hasil rekomendasi penilaian kompetensi/asesmen dari Asesor dengan jenis standar kompetensi yang dipersyaratkan sesuai Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 03A/KEPMEN-SJ/2014. Persentase capaian output pegawai pada SKP dihitung dengan menggunakan variebel nilai SKP kinerja baik dan sangat baik per 31 Januari tahun berikutnya. Persentase tingkat kehadiran pegawai diukur dengan jumlah kehadiran Aparatur Sipil Negara/PNS Balitbang KP per bulan selama satu tahun. LHKASN dan LHKPN (prosentase pegawai yang melaporkan LHKASN dan LHKPN; LHKASN oleh seluruh pegawai, LHKPN oleh pejabat pengelola anggaran, dipilih salah satu).

IKU 9 : Jumlah ASN yang ditingkatkan kompetensinya di BPOL

Definisi dari IKU tersebut adalah SDM BPOL baik PNS maupun tenaga kontrak yang menempuh pendidikan gelar (tugas belajar), non gelar (diklat fungsional tertentu) dan pelatihan (kursus teknis) dalam rangka untuk meningkatkan dan mengembangkan kompetensi untuk menunjang tugas dan fungsinya. IKU ini menggunakan klasifikasi maximize dimana capaian yang diharapkan adalah melebihi target yang ditetapkan. Adapun capaian IKU ini adalah sebagai berikut:

Tabel 12. Capaian Jumlah SDM BPOL yang Ditingkatkan Kompetensinya

IKU Target

Tahunan Target TW 1

Realisasi

Tahunan Realisasi TW 1 Jumlah ASN yang ditingkatkan

kompetensinya di BPOL 15 10 - 10

SDM BPOL baik PNS, CPNS maupun tenaga kontrak yang menempuh pendidikan gelar (tugas belajar dalam dan luar negeri) yang sedang berjalan dan baru, non gelar (diklat prajabatan, fungsional tertentu/diklatpim), dan pelatihan (kursus teknis dalam dan luar negeri) dalam rangka meningkatkan dan mengembangkan kompetensi untuk menunjang tugas dan fungsinya. IKU ditetapkan untuk mengetahui jumlah ASN yang ditingkatkan kompetensinya untuk mendukung pelaksanaan tugas dan fungsi organisasi/instansi. Jumlah SDM BPOL yang dikembangkan kompetensinya pada Triwulan I tahun 2017 adalah sebanyak 10 orang. Dimana jumlah tersebut adalah pegawai yang mengikuti Tugas Belajar sebanyak 5 orang dan pada bulan Januari sebanyak 2 Orang peneliti serta 1 orang pegawai BPOL mengikuti pelatihan Tailor Made Trainning Marine Spatial Planning di Belanda, pada bulan Februari 1 orang pegawai mengikuti Diklat Perencana di Yogyakarta dan pada bulan Maret 1 orang peneliti mengikuti pelatihan Water Quality Assesment di Belanda.

20

SASARAN STRATEGIS 6 : Tersedianya manajemen pengetahuan BPOL yang handal dan mudah diakses

Sasaran strategis tersedianya manajemen pengetahuan yang handal dan mudah diakses terdiri dari 1 (satu) indikator kinerja yang digunakan untuk mengukur keberhasilan sasaran strategis tersebut yaitu presentase penerapan sistem manajemen pengetahuan yang terstandar.

IKU 10 : Presentase unit kerja BPOL yang menerapkan sistem manajemen pengetahuan yang terstandar

Sistem Manajemen Pengetahuan adalah suatu rangkaian yang memanfaatkan teknologi informasi yang digunakan oleh instansi pemerintah ataupun swasta untuk mengidentifikasi, menciptakan, menjelaskan, dan mendistribusikan pengetahuan untuk digunakan kembali, diketahui dan dipelajari, dimana menggunkan klasifikasi maximize dimana capaian yang diharapkan adalah melebihi target yang ditetapkan. Adapun capaian IKU ini adalah sebagai berikut:

Tabel 13. Capaian Presentase Penerapan Sistem Manajemen Pengetahuan yang Terstandar

IKU Target

Tahunan Target TW 1

Realisasi

Tahunan Realisasi TW 1 Presentase unit kerja BPOL yang

menerapkan sistem manajemen pengetahuan yang terstandar

65% 16% 0 29,01%

Penghitungan presentase penerapan sistem manajemen pengetahuan yang terstandar dihitung dengan membandingkan unit kerja level 4 yang menerapkan sistem manajemen pengetahuan pengguna bitrix24 dengan total unit kerja level 4 BPOL secara keseluruhan. IKU ini telah dapat dicapai oleh BPOL dikarenankan ketiga unit telah menggunakan aplikasi Bitrix24 dari tahun 2016. Dikarenakan IKU ini merupakan adopsi langsung dari level 1 sehingga presentase penerapan sistem manajemen pengetahuan yang terstandar di triwulan I adalah sebanyak 16%.

SASARAN STRATEGIS 7 : Terwujudnya pranata dan kelembagaan birokrasi BPOL yang efektif, efisien dan berorientasi pada layanan prima

Sasaran strategis terwujudnya reformasi birokrasi BPOL yang efektif, efisien dan berorientasi pada layanan prima diwujudkan dari 4 (empat) indikator kinerja, yaitu

IKU 11 : Nilai kinerja reformasi birokrasi BPOL

Reformasi Birokrasi merupakan suatu proses untuk merubah bentuk birokrasi yang lama dengan bentuk birokrasi yang baru sehingga aparatur negara mampu bekerja secara lebih professional, efektif, dan akuntabel dalam menyelenggarakan pemerintahan dan pelayanan kepada masyarakat. Penilaian atas implementasi RB di KKP dilaksanakan melalui Penilaian Mandiri Pelaksanaan Reformasi Birokrasi (PMPRB) secara online oleh masing-masing unit yang telah di verifikasi oleh inspektorat jenderal. Upaya yang dilakukan terfokus pada:

a. Panel I PMPRB online b. Panel II PMPRB online c. Panel III PMPRB online

21 melalui dalam 8 (delapan) Area Perubahan Reformasi Birokrasi, yaitu:

a. Organisasi; yang tepat fungsi dan tepat ukuran (right sizing);

b. Tata Laksana; sistem, proses, dan prosedur kerja yang jelas, efektif, efisien, terukur, dan sesuai dengan prisip-prinsip good governance;

c. Peraturan Perundang-undangan; regulasi yang tertib, tidak tumpang tindih, dan kondusif;

d. SDM Aparatur; SDM aparatur yang berintegritas, netral, kompeten, kapabel, professional, berkinerja tinggi, dan sejahtera;

e. Pengawasan; meningkatnya penyelenggaraan pemerintahan yang bersih dan bebas KKN;

f. Akuntabilitas; meningkatnya kapasitas dan akuntabilitas kinerja birokrasi;

g. Pelayanan Publik; Pelayanan prima yang sesuai kebutuhan dan harapan masyarakat h. Pola Pikir dan Budaya Kerja Aparatur; birokrasi dengan integritas dan kinerja

yang tinggi.

Tabel 14. Capaian Indeks Nilai Kinerja Reformasi Birokrasi BPOL

IKU Target

Tahunan Target TW 1

Realisasi

Tahunan Realisasi TW 1

Nilai Kinerja Reformasi Birokrasi BPOL A (80) 80 0 89,60

Profil PMPRB yang baik apabila komponen hasil lebih tinggi daripada komponen pengungkit. Komponen pengungkit adalah berbagai kriteria dan berbagai pendekatan yang telah dilakukan oleh suatu unit kerja untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Komponen hasil adalah : 1) capaian yang diperoleh dari hasil pengukuran atas persepsi pegawai dan masyarakat terhadap suatu unit kerja, 2) pengukuran atas indikator kinerja internal dan eksternal yang menunjukkan seberapa baik suatu unit kerja mencapai tujuan dan sasaran yang ditetapkan.

Beberapa hal yang harus diperbaiki untuk peningkatan reformasi birokrasi adalah penerapan program RB BPOL secara menyeluruh dan dilakukan monev pelaksanaan RB BPOL secara berkala. Nilai kinerja reformasi Birokrasi BPOL yang merupakan adopsi langsung dari IKU level I sudah dapat terlihat dari capaian triwulan I yaitu sebesar 89,60. Sedangkan untuk perhitungan nilai kinerja Reformasi Birokrasi, BPOL belum melakukan penghitungan mandiri, dan akan dilakukan penghitungan mandiri pada akhir tahun.

IKU 12 : Nilai Maturitas SPIP BPOL

Tingkat maturitas penyelenggaraan SPIP adalah tingkat kematangan/kesempurnaan penyelenggaraan sistem pengendalian intern pemerintah dalam mencapai tujuan pengendalian intern di lingkungan KKP. Pedoman tingkat maturitas SPIP ditetapkan melalui peraturan kepala BPKP nomor 4 tahun 2016 tentang pedoman penilaian dan strategi peningkatan maturitas SPIP. Tingkatan level maturitas SPIP adalah sebagai berikut :

22

Level Tingkat Maturitas Interval Skor Keterangan

0 Belum ada

(dalam penataan) 0 < skor < 1.0

Belum memiliki kebijakan dan prosedur

1 Rintisan 1.0 < Skor < 2.0

Ada praktik pengendalian intern – ada kebijakan dan prosedur tertulis. Namun masih bersifat ad-hoc dan tidak terorganisasi dengan baik tanpa komunikasi dan pemantauan

2 Berkembang 2.0 < Skor < 3.0

Ada praktik pengendalian intern tapi tidak terdokumentasi dengan baik. Pelaksanaan tergantung pad individu dan belum melibatkan semua unit organisasi. Efektivitas pengendalian belum dievaluasi

3 Terdefinisi 3.0 < Skor < 4.0

Ada praktik pengendalian intern yang terdokumentasi dengan baik. Evaluasi atas pengendalian intern dilakukan tanpa dokumentasi yang memadai

4 Terkelola dan

Terukur 4.0 < Skor < 4.5

Ada Praktik pengendalian internal yang efektif. Evaluasi formal dan terdokumentasi

5 Optimum 4.5 < Skor < 5

Menerapkan pengendalian intern yang berkelanjutan. Terintegrasi dalam pelaksanaan kegiatan. Pemantauan otomatis menggunakan aplikasi computer.

Tabel 15. Capaian Nilai Maturitas SPIP

IKU Target

Tahunan Target TW 1

Realisasi

Tahunan Realisasi TW 1

Nilai Maturitas SPIP 2 2 0 0

Berdasarkan hasil evaluasi tingkat maturitas SPIP oleh BPKP pada eselon I dengan mengadopsi langsung hasil evaluasi oleh BPKP.

Jenis perhitungan data melalui nilai posisi akhir sehingga rincian target indikator kinerja ini didapatkan pada akhir tahun. Berdasarkan hal tersebut maka pada triwulan I ini belum adanya capaian yang didapatkan.

IKU 13 : Jumlah Inovasi pelayanan public Pusat Riset Kelautan

Inovasi pelayanan public adalah terobosan jenis pelayanan yang merupakan gagasan/ide kreatif orisinal dan/atau adaptasi/modifikasi yang memberikan manfaat bagi masyarakat, baik secara langsung maupun tidak langsung (permenPAN & RB No.30/2014).

Kriteria suatu inisiatif inovasi adalah memeberikan perbaikan pelayanan public, memberikan manfat bagi masyarakat, dapat dan/atau sudah direplikasi (role model), Berkelanjutan, Inovasi sudah dilaksanakan minimal 1 (satu) tahun.

Tabel 16. Jumlah Inovasi Pelayanan Publik Pusat Riset Kelautan

IKU Target

Tahunan Target TW 1

Realisasi

Tahunan Realisasi TW 1 Jumlah Inovasi pelayanan Publik Pusat

Riset Kelautan 1 - - -

Pelayanan yang diterapkan di BPOL dengan kriteria SMART terdiri dari 10 jenis layanan yang terdiri dari Pengujian Kualitas Air, Peminjaman Peralatan Survey Kualitas Air, Permintaan

23 Magang Mahasiswa, Penelitian Skripsi / Thesis, penginapan Mess dan Guest House serta peminjaman Buku Ilmiah.

Inovasi pelayanan public lingkup riset kelautan diusulkan ke dalam bentuk 1 buah proposal yang didapatkan pada akhir tahun kegiatan, sehinga pada triwulan I ini belum adanya capaian proposal yang dapat diajukan.

IKU 14 : Nilai AKIP BPOL

Nilai AKIP merupakan penilaian atas akuntabilitas kinerja KKP. Akuntabilitas kinerja yaitu perwujudan kewajiban suatu instansi pemerintah untuk mempertanggungjawabkan keberhasilan/kegagalan pelaksanaan program dan kegiatan yang telah diamanatkan para pemangku kepentingan dalam rangka mencapai misi organisasi secara terukur dengan sasaran/target kinerja yang telah diteapkan melalui laporan kinerja instansi pemerintah yang disusun secara periodik. Tujuan dari pengukuran nilai SAKIP ini adalah untuk mendapatkan nilai akuntabilitas kinerja instansi dalam rangka meningkatkan pelaksanaan pemerintah yang lebih berdaya guna, bersih dan bertanggung jawab serta mengukur kemampuan pemerintah dalam pencapaian visi, misi dan tujuan organisasi.

Tabel 17. Capaian Nilai AKIP BPOL

IKU Target

Tahunan Target TW 1

Realisasi

Tahunan Realisasi TW 1

Nilai AKIP BPOL 86 - - -

Pemberian penilaian atas SAKIP BPOL dilakukan dengan memberikan bobot indikator-indikator sebagai berikut:

a. Perencanaan kinerja bobot 35%; b. Pengukuran kinerha bobot 20%; c. Pelaporan kinerja bobot 15%; d. Evaluasi kinerja bobot 10%; e. Pencapaian kinerja bobot 20%.

Masing-masing indikator tersebut memiliki sub indikator dan hasil penilaian atas SAKIP didapatkan pada akhir tahun. Pada triwulan I ini nilai capaian realisasi masih 0 dikarenakan belum bisa dihitungnya sub indikator diatas. Capaian nilai AKIP juga merupakan adopsi langsung dari level 1, namun dari BPOL sendiri dapat melakukan penghitungan mandiri nilai AKIP di akhir tahun.

24

SASARAN STRATEGIS 8 : Terkelolanya anggaran pembangunan BPOL secara efisien dan akuntabel

Indikator kinerja yang ditetapkan untuk mengukur keberhasilan sasaran tersebut terdiri dari 2 (dua) IKU yaitu :

IKU 15 : Nilai kinerja anggaran BPOL

IKU ini didefinisikan sebagai proses menghasilkan suatu nilai capaian kinerja untuk setiap indikator yang dilakukan dengan membandingkan data realisasi dengan target yang telah direncanakan sebelumnya. IKU ini menggunakan klasifikasi maximize, dimana capaian yang diharapkan adalah melebihi target yang ditetapkan. Formula yang digunakan untuk menghitung nilai kinerja anggaran berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia No. 249/PMK.02/2011 tentang Pengukuran dan Evaluasi Kinerja Atas Pelaksanaan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga adalah sebagai berikut:

𝑁𝐾 = 𝐼 Γ— π‘ŠπΌ + (𝐢𝐻 Γ— π‘ŠπΆπ») Dengan

𝐼 = 𝑃 Γ— π‘Šπ‘ƒ + 𝐾 Γ— π‘ŠπΎ + 𝑃𝐾 Γ— π‘Šπ‘ƒπΎ + (𝑁𝐸 Γ— π‘ŠπΈ) Keterangan:

NK : Nilai Kerja

I : Nilai apsek implementasi

P : Penyerapan anggaran οƒ  dilakukan dengan membandingkan antara realisasi anggaran dengan pagu anggaran

K : Konsistensi antara perencanaan dan impelentasi οƒ  dilakukan berdasarkan rata-rata keteapan waktu penyerapan anggaran setiap bulan yaitu dengan membandingkan realisasi anggaran bulanan dengan rencana penarikan dana bulanan

PK : Pencapaian keluaran οƒ  dilakukan dengan membandingkan antara rata-rata realisasi volume keluaran dengan target volume keluaran rata-rata realisasi indikator kinerja keluaran dengan target indikator kinerja keluaran

NE : Nilai Efisiensi οƒ  dilakukan berdasarkan rata-rata efisiensi untuk setiap jenis keluaran yang diperoleh dari hasil perbandingan antara realisasi anggaran per volume keluaran dengan pagu anggaran per volume keluaran

CH : Capaian Hasil

WI : Bobot aspek implementasi (33,3%) WCH : Bobot capaian hasil (66,7%)

WP : Bobot penyerapan anggaran (9,7%)

WK : Bobot konsistensi antara perencanaan dan implementasi (18,2%) WPK : Bobot pencapaian keluaran (43,5%)

WE : Bobot efisiensi (28,6%)

Tabel 18. Capaian Nilai Kinerja Anggaran BPOL

IKU Target

Tahunan Target TW 1

Realisasi

Tahunan Realisasi TW 1

Nilai kinerja anggaran BPOL 83% 30% 0 32,85%

Pengukuran nilai kinerja anggaran dilakukan pada akhir tahun 2017 setelah laporan capaian output diterima dan laporan realisasi keuangan selesai. Adapun dikarenakan Indikator

25 triwulan I tahun 2017 adalah sebesar 32,85% dan dikaterogikan melebihi target triwulan yang ditentukan sebesar 30%. Sedangkan berdasarkan laporan realisasi BPOL per triwulan I, progress kinerja anggaran BPOL adalah 5,74%.

IKU 16 : Presentase kepatuhan terhadap SAP BPOL

Persentase kepatuhan terhadap Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) didefinisikan sebagai proses terselenggaranya laporan keuangan yang relevan, dapat dipahami, dapat diperbandingkan dan tepat waktu sesuai dengan ketentuan yang berlaku yang ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah No. 71 Tahun 2010 sebagai pengganti Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 2005. Formulasi penghitungan IKU ini adalah dengan presentase penyelesaian laporan keuangan.

Tabel 19. Capaian Presentase Kepatuhan Terhadap SAP BPOL

IKU Target

Tahunan Target TW 1

Realisasi

Tahunan Realisasi TW 1 Presentase kepatuhan terhadap SAP

BPOL 100% 100% - 100%

Presentase kepatuhan terhadap SAP BPOL triwulan I tahun 2017 adalah 100% sesuai dengan adopsi langsung capaian presentase kepatuhan terhadap SAP di level I yang artinya sampai dengan triwulan I tidak terdapat catatan dalam pelaporan baik kegiatan maupun anggaran kegiatan.

Dokumen terkait