PERKEMBANGAN PENDIDIKAN ISLAM PADA MASA DINASTI BANI ABBASYIAH
B. Lembaga-Lembaga Pendidikan Pada Masa Bani Abbasiyah
Sebelum timbulnya sekolah dan universitas yang kemudian dikenal sebagai lembaga pendidikan formal, dalam dunia Islam sebenarnya telah berkembang lembaga-lembaga pendidikan Islam yang bersifat non fomal.Lembaga-lembaga ini berkembang terus dan bahkan bersamaan dengannya tumbuh dan berkembang bentuk-bentuk lembaga pendidikan non formal yang semakin luas. Diantara lembaga-lembaga pendidikan Islam yang becorak non formal tersebut adalah27:
1) Kuttab Sebagai Lembaga Pendidikan Dasar
Kuttab atau maktab berasal dari kata dasar kataba yang berarti menulis atau tempat menulis.Jadi kataba adalah tempat belajar menulis. Sebelum datangnya Islam Kuttab telah ada di negeri Arab, walaupun belum banyak dikenal.28
Inti pokok pendidikan di Kuttab pada mulanya adalah membaca dan menulis, karena masih terbatasnya lembaga Kuttab sebelum Islam. Maka ketika Islam lahir baru 17 orang penduduk Makkah yang pandai membaca dan menulis. Kemudian pada akhirnya, pada abad pertama Hijriyah mulailah timbul jenis Kuttab, yang disamping memberikan pelajaran menulis dan membaca, juga mengajarkan membaca al-Qur’an dan pokok- 26Suwito, Sejarah Sosial Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana, 2008), hlm. 46.
27Zuhairi Muchtarom, Sejarah Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Aksara, 1995), hlm. 89.
pokok ajaran Islam. Pada mulanya, Kuttab jenis ini, merupakan pemindahan dari pengajaran al-Qur’an yang berlangsung di Masjid, yang sifatnya umum. Diantara penduduk Makkah yang mula-mula belajar menulis huruf Arab di Kuttab ialah Sufyan ibnu Umayyah ibnu Abdu Syams dan Abu Qais Ibnu Abdi manaf ibnu Zuhroh ibnu Kilab.
2) Pendidikan Rendah di Istana
Corak pendidikan anak-anak di Istana berbeda dengan pendidikan anak-anak di Kuttab-kuttab, pada umumnya di Istana para orang tua siswa (para pembesar istana) yang membuat rencana pembelajaran selaras dengan anaknya dan tujuan yang ingin dicapai orang tuanya. Rencana pelajaran untuk pendidikan di Istana pada garis besarnya sama dengan pelajaran pada Kuttab-kuttab hanya sedikit ditambah dan dikurangi sesuai dengan kehendak orang tua mereka29.
Guru yang mengajar di Istana disebut Muaddib.Kata muaddib berasal dari kata adab yang berarti budi pekerti atau meriwayatkan. Guru pendidikan di Istana disebut Muaddib karena berfungsi mendidik budi pekerti dan mewariskan kecerdasan dan pengetahuan-pengetahuan orang- orang terdahulu kepada anak-anak pejabat30.
3) Rumah-Rumah Para Ulama’ (Ahli Ilmu Pengetahuan)
Walaupun sebenarnya, rumah bukanlah merupakan tempat yang baik untuk tempat memberikan pelajaran namun pada zaman kejayaan perkembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan Islam, banyak juga rumah-rumah para ulama’ dan ahli ilmu pengetahuan menjadi tempat belajar dan pengembangan ilmu pengetahuan. Hal ini disebabkan karena ulama’ dan ahli yang bersangkutan yang tidak mungkin memberikan pelajaran di masjid, sedangkan pelajar banyak yang berminat untuk mempelajari ilmu pengetahuan daripadanya.
29Suwito, Sejarah Sosial Pendidikan ..., hlm. 13. 30Zuhairi Muchtarom, Sejarah Pendidikan …, hlm. 92.
Diantara rumah ulama’ terkenal yang menjadi tempat belajar adalah rumah Ibnu Sina, Al-Gazali, Ali ibnu Muhammad Al-Fasihi, Ya’kub Ibni Killis, Wazir khalifah Al-Aziz Billah Al-fatimy, dan lain-lainnya.
4) Toko-toko kitab
Pada permulaan masa Dinasti Abbasiyah, ilmu pengetahuan dan kebudayaan Islam sudah tumbuh dan berkembang dan diikuti oleh penulisan kitab-kitab dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan, maka berdirilah toko- toko kitab.
5) Perpustakaan
Para ulama’dan sarjana dari berbagai macam keahlian, pada umumnya menulis buku dalam bidangnya masing-masing dan selanjutnya untuk diajarkan atau disampaikan kepada para penuntut ilmu. Bahkan para ulama’dan sarjana tersebut memberikan kesempatan kepada para penuntut ilmu untuk belajar diperpustakaan pribadi mereka.
Pada masa itu dibangunlah perpustakaan-perpustakaan di negeri- negeri Islam. Bangunan-bangunan ini dilengkapi dengan kamar-kamar dan ruang-ruang yang banyak untuk bermacam-macam keperluan.
Perpustakaan-perpustakaan pada masa ini banyak yang dihasilkan oleh pemerintah atau merupakan wakaf dari para ulama dan sarjana. Baitul Hikmah di Baghdad yang didirikan oleh Khalifah Harun al-Rasyid, adalah salah satu contoh dari perpustakaan Islam yang lengkap, yang berisi buku- buku islam dan bahasa Arab, bermacam-macam ilmu pengetahuan yang berkembang pada masa itu, dan berbagai buku terjemahan dari bahasa- bahasa Yunani, Persia, India, dan Aramy31.
Baitul hikmah di Baghdad yang didirikan khalifah Al-Rasyid adalah merupakan salah satu contoh dari perpustakaan Islam yang lengkap, yang berisi ilmu-ilmu agama Islam dan bahasa Arab, bermacam-macam ilmu pengetahuan yang telah berkembang pada masa itu.32 Perpustakaan pada
31Zuhairi Muchtarom, Sejarah Pendidikan ..., hlm. 98 32Zuhairi Muchtarom, Sejarah Pendidikan…, hlm. 98.
masa itu lebih merupakan sebuah universitas karena disamping terdapat kitab-kitab, disana orang juga dapat membaca, menulis dan berdiskusi.33
6) Masjid
Pada masa Bani Abbas dan masa perkembangan kebudayaan Islam, masjid-masjid yang didirikan oleh para pengusaha pada umumnya di lengkapi dengan berbagai macam sarana dan fasilitas untuk pendidikan.34
Di dunia Islam, di zaman Dinasti Abbasiyah masjid-masjid berkembang dengan pesatnya. Di Kota Baghdad saja ada 30.000 masjid, di Kota Iskandaria 12.000 masjid, Damaskus 500 masjid. Masjid-masjid tersebut telah berubah fungsi, tidak hanya untuk tempat beribadah juga dipakai tempat kegiatan sosial kemasyarakatan. Materi pelajaran yang diajarkan di masjid tidak hanya terbatas kepada ilmu-ilmu naqliyah saja, tetapi juga mencakup ilmu-ilmu ‘Aqliyah35.
Fungsi masjid pada masa Abbasiyah umumnya dilengkapi dengan berbagai macam sarana dan fasilitas untuk pendidikan. Tempat pendidikan anak-anak, tempat-tempat untuk pengajian dari ulama-ulama yang merupakan kelompok-kelompok halaqah, tempat untuk berdiskusi dan munazarah dalam berbagai ilmu pengetahuan, dan juga dilengkapi dengan ruangan perpustakaan dengan buku-buku ilmu pengetahuan dari berbagai macam ilmu yang cukup banyak.
7) Madrasah
Dalam sejarah, madrasah ini mulai muncul di zaman khalifah Bani Abbas, sebagai kelanjutan dari pendidikan yang dilaksanakan di masjid dan tempat lainnya. Minat masyarakat untuk mempelajari ilmu di Halaqah yang ada di masjid makin meningkat dari tahun ke tahun, dsan menimbulkan kegaduhan akibat dari suara para pengajar dan siswa yang berdiskusi dan lainnya yang mengganggu kekhusukan shalat. Selain itu, berdirinya madrasah ini juga karena ilmu pengetahuan dan berbagai keterampilan semakin berkembang, dan untuk mengajarkannya diperlukan guru yang 33Badri Yatim, Sejarah Peradaban …, hlm. 55.
34Zuhairi Muchtarom, Sejarah pendidikan…, hlm. 99. 35Zuhairi Muchtarom, Sejarah pendidikan…, hlm. 99.
banyak, peralatan belajar mengajar yang lebih lengkap, serta pengaturan administrasi yang lebih tertib. Selain itu, madrasah juga didirikan dengan tujuan untuk memasyarakatkan ajaran atau paham keagamaan dan ideologi tertentu.
8) Al-Ribath
Secara harfiah al-ribath berarti ikatan yang mudah di buka. Sedangkan dalam arti yang umum, al ribath adalah tempat untuk melakukan latihan, bimbingan, dan pengajran bagi calon sufi. Di dalam al-ribath tersebut terdapat beberapa ketentuan atau komponen yang terkait dengan pendidikan tasawuf, misalnya komponen guru yang terdiri dari syekh (guru besar), mursyid (guru utama), mu’id (asisten guru), dan mufid (fasilitator). Murid pada al-ribath dibagi sesuai dengan tingkatannya, mulai dari ibtidaiyah, tsanawiyah dan aliyah. Adapun bagi yang lulus diberikan pengakuan berupa ijazah36.