• Tidak ada hasil yang ditemukan

57 Lembar Kerja Siswa

Dalam dokumen MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STUDE (Halaman 66-69)

LKS merupakan salah satu jenis alat bantu pembelajaran. Lembar Kerja Siswa berupa lembaran kertas yang berupa informasi maupun soal-soal (pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab oleh siswa). Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan Widyatini (2013:3) bahwa “Lembar Kegiatan Siswa (student work sheet) adalah lembaran-lembaran berisi tugas yang harus dikerjakan oleh siswa. Lembar kerja ini berisi petunjuk dan langkah- langkah untuk menyelesaikan suatu tugas yang diberikan oleh guru kepada siswanya. Tugas-tugas yang diberikan

kepada siswa dapat berupa tugas teori dan atau tugas praktik”. METODE

Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh metode problem posing menggunakan lembar kerja siswa terhadap hasil belajar matematika siswa teknik pengambilan sample menggunakan teknik purposive sampling. Desain penelitian ini dimana ada 2 (dua) kelompok yang di pilih berdasarkan criteria tertentu. Kelompok pertama diberi perlakuan dengan metode problem posing menggunakan lembar keja siswa kemudian dilakukan pengukuran sedangkan kelompok kedua diberi perlakuan dengan metode ekspositori kemudian dilakukan pengukuran. Untuk lebih jelas, desain penelitian dapat digambarkan sebagai berikut :

E: X11 Y11 K: X12 Y12 Keterangan:

E : Kelas Eksperimen K : Kelas Kontrol

X11 : Penggunaan metode pembelajaran problem posing menggunakan lembar kerja siswa pada kelas eksperimen

X12 : Penggunaan metode pembelajaran ekspositori Y11 : Hasil belajar pada kelas eksperimen

Y12 : Hasil belajar pada kelas kontrol

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas Eksperimen

Tabel 1 Tabel Distribusi Frekuensi

Nilai F Fk Fr Fp fk% xi f.xi (xi-x) (xi - x)2 f(xi - x)2

65 – 70 4 4 0,18 18 18,18 67,5 270 -12,55 157,39 629,55 71 – 76 4 8 0,18 18 36,36 73,5 294 -6,55 42,84 171,37 77 – 82 5 13 0,23 23 59,09 79,5 398 -0,55 0,30 1,49 83 – 88 6 19 0,27 27 86,36 85,5 513 5,45 29,75 178,51 89 – 94 1 20 0,05 5 90,91 91,5 91,5 11,45 131,21 131,21 95 – 90 2 22 0,09 9 100 97,5 195 17,45 304,66 609,32 ∑ 22 1,00 100 1761 1721,45

Dari uraian diatas dapat dikatakan bahwa hasil belajar kelompok eksperimen yaitu peserta didik yang diajarkan dengan menggunakan metode pembelajaran problem posing menggunakan lembar kerja siswa terlihat nilai rata-rata sebesar 80,05, dan nilai median serta modus yang besarnya diatas nilai rata-rata yaitu 80,1 dan 83,5. Maka nilai siswa didalam kelas tersebut dapat dikatakan baik.

Hasil Belajar Matematika Kelas Kontrol

Tabel 2 Tabel Distribusi Kelas Kontrol

Nilai F Fk Fr Fp fk% Xi f.xi (xi-x) (xi-x)2 f(xi-x)2

60 – 65 5 5 0,23 22,73 22,73 62,5 312,5 -11,5 131,21 656,03 66 – 71 3 8 0,14 13,64 36,36 68,5 205,5 -5,57 31,041 93,12 72 – 77 7 14 0,32 31,82 63,64 74,5 521,5 0,55 0,30 2,08 78 – 83 4 18 0,18 18,18 81,82 80,5 322 6,55 42,84 171,37 84 – 89 2 21 0,09 9,091 95,45 86,5 173 12,55 157,39 314,78 90 – 95 1 22 0,05 4,545 100 92,5 92,5 18,55 343,93 343,93 22 1627 1581,32

58

Dari uraian diatas dapat dikatakan bahwa hasil belajar kelompok kelas kontrol yaitu peserta didik yang diajarkan dengan menggunakan metode pembelajaran ekspositori terlihat nilai rata-rata sebesar 73,95, dan nilai median 74,07 serta modus 74,5 yang besarnya diatas nilai rata-rata. Maka nilai siswa didalam kelas tersut dapat dikatakan cukup

Uji persyaratan Analisis data Uji Normalitas

Dalam penelitian ini uji normalitas menggunakan uji Lilliefors. Dengan kaidah keputusan : - jika L0 > L tabel, maka Distribusi data tidak normal

- jika L0 < L tabel, maka Distribusi data normal

pengujian normalitas kelas eksperimen dan kelas kontrol masing - masing menggunakan α = 0,05 dan n = 22. Didapat kan nilai Ltabel = 0,1832. Sedangkan untuk nilai Lhitung pada kelas eksperimen dan Lhitung kelas kontrol masing-masing adalah 0,1378 dan 0,1466.

Semua kelompok hasil belajar matematika yang diuji normalitasnya dengan uji Liliefors memberikan nilai Lo atau nilai liliefors untuk hasil observasi lebih kecil dibandingkan dengan nilai Ltabel pada taraf signifikan 0,05 dengan n = 22, nilai L tabel= 0,1832;sehingga disimpulkan bahwa seluruh kelompok data hasil belajar matematika dalam penelitian ini dari populasi yang berdistribusi normal.

Homogenitas

Pengujian homogenitas dengan uji F dapat dilakukan apabila data yang akan diuji hanya dua kelompok / sampel. Uji F dilakukan dengan cara membandingkan varians data terbesar dibagi dengan varians data terkecil.

Menentukan Ftabel :

Diperoleh perhitungan dengan dkpembilang = 22 -1 = 21 ( untuk varians terbesar) dan dkpenyebut = 22 – 1 = 21 ( untuk varans terkecil ), serta taraf signifikan α = 0,05 maka diperoleh Ftabel = 2,084189

Dengan kriteria pengujian : Fhitung < Ftabel terima H0 Fhitung > F tabel tolak H0

Diperoleh perhitungan Fhitung = 1,803 , dan Ftabel = 2,084189. Karena nilai Fhitung < Ftabel, amak H0 diterima, dengan deikian dapat disimpulkan bahwa kedua kelompok memiliki varians yang sama atau homogen.

Pengujian Hipotesis Penelitian

Berdasarkan hasil pengujian hipotesis statistik setelah diberi perlakuan yang berbeda pada kedua kelompok diperoleh data nilai t hitung = 2,2913 dan t tabel = 2,0231 pada taraf signifikan α = 0,05 dan dk = 42 yang berarti nilai thitung > ttabel. Hasil tersebut menunjukan bahwa Ho ditolak. Dengan demikian hipotesis setelah diberi perlakuan yang berbeda pada kedua kelompok tersebut yakni rata-rata hasil belajar siswa yang menggunakan metode problem posing menggunakan lembar kerja siswa lebih tinggi dari pada rata-rata hasil belajar siswa yang menggunakan metode ekspositori.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa, terdapat pengaruh positif hasil belajar siswa yang menggunakan metode problem posing menggunakan lembar kerja siswa lebih tinggi dari pada rata-rata hasil belajar siswa yang menggunakan metode ekspositori dibandingkan dengan hasil belajar siswa yang menggunakan metode ekspositori. HASIL DAN PEMBAHASAN

Selama pembelajaran pada kelas kontrol dengan menggunakan metode ekspositori, awalnya situasi terlihat terkontrol karena siswa hanya mendengarkan penjelasan yang disampaiakan oleh guru, sehingga tidak terjadi kekacauan. Namun situasi tersebut hanya akan berlangsung di awal pembelajaran, selain itu dengan menggunakan metode ekspositori siswa hanya pasif mendengarkan sehingga guru juga tidak dapat mengetahui pasti pemahaman siswa terhadap materi yang disampaikan oleh guru. Permasalahan lain adalah siswa tidak dapat berbagi tentang kesulitan yang dihadapi ketika mengerjakan soal kepada temantemannya, karena siswa mengerjakan soal tidak secara kelompok.

Berbeda dengan kelas kontrol, kelas eksperimen yang menggunakan metode problem posing cenderung bisa mengaktifkan siswa dalam pembelajaran yang diberikan oleh guru. Pembelajaran problem posing menuntut siswa untuk bisa membuat soal sendiri berdasarkan contoh yang ada, dan siswa juga harus bisa menjawab soal yang telah mereka buat. Dengan diberikannya tugas, banyak siswa yang aktif bertanya kepada guru tentang kesulitan yang mereka hadapi dalam membuat soal beserta jawabannya. Dengan demikian guru juga bisa mengontrol dan tahu sampai batas mana tingkat pemahaman dari siswa nya. Hal tersebut juga diungkapkan oleh Suryosubroto (2009:

203) “salah satu model pembelajaran yang dapat memotivasi peserta didik untuk berfikir kritis sekaligus dialogis,

kreatif dan interaktif yakni problem posing atau pengajuan masalah yang berbetuk soal untuk membuat soal dan menjawabnya sendiri.

Dengan dibentuknya kelompok, siswa dapat saling bertukar pikiran, berbagi kesulitan pada materi yang sedang disampaikan maupun soal yangdiberikan oleh guru. Selain itu, penggunaan alat peraga dan/atau LKS

59

mandiri dalam pembelajaran juga dapat meningkatkat dan memudahkan siswa dalam menerima materi yang diberikan oleh guru. Dan LKS juga bisa digunakan menghemat waktu karena siswa hanya akan mencatat seperlunya yang belum ada pada LKS. Kondisi inilah yang menyebabkan pembelajaran problem posing menggunakan LKS lebih baik dibandingkan model pembelajarn ekspositori.

Berdasarkan analisis deskriptif tes hasil belajar dua kelas, dapat diketahui bahwa pada kelas eksperimen terlihat dari nilai rata-rata sebesar 80,05, dan nilai median serta modus yang besarnya diatas nilai rata-rata yaitu 80,1 dan 83,5. Maka nilai siswa didalam kelas tersebut dapat dikatakan baik. Sedangkan pada kelas kontrol terlihat nilai rata-rata sebesar 73,95, dan nilai median 74,07 serta modus 74,5 yang besarnya diatas nilai rata-rata. Maka nilai siswa didalam kelas tersut dapat dikatakan cukup. Hal ini menunjukkan bahwa siswa yang diajarkan dengan menggunakan metode problem posing menggunakan lembar kerja siswa memiliki nilai lebih tinggi pada nilai hasil belajar dibanding dengan siswa yang diajarkan dengan menggunakan metode ekspositori.

Perbedaan rata-rata hasil belajar kelas kontrol dan kelas eksperimen dimungkinkan karena adannya beberapa faktor. Faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut : 1) Penyampaian materi dengan melibatkan siswa aktif menggali kemampuan pada kelas eksperimen dapat meningkatkan daya ingat dan pemahaman, sehingga ketika diberikan soal dapat mengerjakan dengan baik dan tidak hanya menghafal. 2) Pembentukan kelompok pada kelas eksperimen memudahkan siswa untuk dapat saling bertukar pemahaman dan bantuan pada permasalahan yang dihadapi mengenai materi yang disampaikan oleh guru maupun soal yang harus diselesaikan. Dan guru juga lebih mudah untuk mengontrol kelas. 3) Penggunaan alat bantu belajar seperti LKS juga dapat meningkatkan pemahaman siswa, dan mempermudah siswa dalam melaksanakan pembelajaran dikelas.

Berdasarkan hasil pengujian hipotesis statistik setelah diberi perlakuan yang berbeda pada kedua kelompok diperoleh data nilai t hitung = 2,2913 dan t tabel = 2,0231 pada taraf signifikan α = 0,05 dan dk = 42 yang berarti nilai thitung > ttabel. Hasil tersebut menunjukan bahwa Ho ditolak. Dengan demikian hipotesis setelah diberi perlakuan yang berbeda pada kedua kelompok tersebut yakni rata-rata hasil belajar siswa yang menggunakan metode problem posing menggunakan lembar kerja siswa lebih tinggi dari pada rata-rata hasil belajar siswa yang menggunakan metode ekspositori.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa, terdapat pengaruh positif hasil belajar siswa yang menggunakan metode problem posing menggunakan lembar kerja terhadap hasil belajar matematika siswa.

PENUTUP Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian pengaruh penggunakan metode pembelajaran problem posing menggunakan lembar kerja siswa terhadap matematika siswa pokok bahasan turunan pada siswa kelas XII di SMK Kahuripan 2 Jakarta tahun pelajaran 2014/2015 dapat disimpulkan : 1) Rata-rata hasil belajar siswa yang diajarkan menggunakan metode problem posing menggunakan lembar kerja siswa lebih tinggi dibanding dengan hasil belajar siswa yang diajarkan menggunakan metode ekspositori. 2) Terdapat pengaruh penggunaan metode pembelajaran problem posing menggunakan lembar kerja siswa terhadap hasil belajar matematika siswa lebih tinggi dibandingkan dengan penggunaan metode belajar ekspositori . Sehingga dapat disimpulkan bahwa H1 diterima, yaitu adanya pengaruh penggunaan metode pembelajaran problem posing menggunakan lembar kerja siswa terhadap hasil belajar Matematika.

Saran

Berdasarkan kesimpulan dari penelitian ini, saran-saran yang diajukan sebagai berikut.

Bagi Guru, 1) Metode pembelajaran problem posing menggunakan lembar kerja siswa dapat dikembangkan untuk diterapkan pada materi pokok matematika lainnya dengan variasi dan inovasi dalam pembelajaran. 2) Dalam penggunaaan model pembelajaran problem posing menggunakan lembar kerja siswa guru diharapkan mampu membentuk kelompok yang heterogen.

DAFTAR PUSTAKA

Herawati.2010. Pengaruh Pembelajaran Problem Posing Terhadap Kemampuan Pemahaman Konsep Matematika Siswa Kelas Xi Ipa Sma Negeri 6 Palembang. Jurnal Pendidikan Matematika volume 4. No.1 Juni 2010 Jihad, A dan Haris A. 2008. Evaluasi Pembelajaran. Yogyakarta: Multi Pressindo

Kusmaryono. 2013. Kapita Selekta. Semarang : UNISSULA Press

Sardiman. 2012. Interaksi & Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Rajawali Press

Sukmadinata, Nana Syaodih. 2005. Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Suryosubroto, B. 2009. Proses Belajar Mengajar Disekolah. Jakarta: Rineka Cipta

U.S, Supardi. 2012. Pengaruh Pembelajaran Matematika Realistik Terhadap hasil Belajar Matematika ditinjau dari Motivasi Belajar. Cakrawala Pendidikan, Juni 2012, Th. XXXI, No. 2. Jakarta: UNINDRA

60

PENGARUH FREKUENSI PEMBERIAN TES FORMATIF

Dalam dokumen MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STUDE (Halaman 66-69)

Garis besar

Dokumen terkait