HASIL DAN PEMBAHASAN
9. Lenggade (Bruguiera parviflora) Bahan makanan
Kulit kayu dari Lenggade dapat dipergunakan sebagai penyedap rasa ataupun bumbu bagi ikan mentah. Penggunaannya relatif mudah, kulit kayu lenggade dikupas dari batangnya kemudian dicampurkan pada ikan mentah. Kulit kayu lenggade yang tidak berbau dan dapat menjadi bumbu menjadikan kulit kayu ini bisa menambah cita rasa makanan (Kusmana dkk, 2008).
Sumber Energi
Pada beberapa daerah kayu lenggade dipergunakan sebagai kayu bakar. Hal ini pada dasarnya dikarenakan ukuran kayu yang relati kecil, sehingga jenis ini jarang dipergunakan untuk keperluan lain (Noor, 2006). Selanjutnya, berbagai pemanfaatan aktual masyarakat dan alternatif pemanfaatannya terhadap mangrove di Desa Kayu Besar dapat dilihat pada lampran 12.
Pemanfaatan Ekosistem Mangrove
Pemanfaatan ekosistem mangrove dapat dikategorikan manjadi pemanfaatan ekosistem secara keseluruhan (nilai ekologi) dan pemanfaatan produk – produk yang dihasilkan ekosistem tersebut (nilai sosial ekonomi dan budaya). Secara tradisional, masyarakat setempat menggunakan mangrove untuk memenuhi berbagai kebutuhan. Tetapi, meningkatnya jumlah penduduk dan pemanfaatan yang berlebihan dapat menyebabkan terjadinya tekanan pada sumberdaya ini.
Nilai ekonomi kawasan mangrove yang muncul sebagai akibat dari peran ekologi dan produk yang dihasilkannya sering diabaikan sehingga kawasan ini banyak diubah menjadi kawasan pertambakan, pertanian dan perkebunan. Dalam penelitian ini, pemanfaatan yang dilakukan masyarakat terhadap mangrove di Desa Kayu Besar masih sederhana dan bersifat tradisional. Jika dibandingkan dengan beberapa daerah lainnya yang juga memanfaatkan ekosistem mangrove, terdapat bentuk pemanfaatan lain yang bisa memberikan kontribusi kepada masyarakat.
Penggunaan Lahan disekitar Ekosistem Mangrove
Penggunaan lahan disekitar ekosistem mangrove Desa Kayu Besar meliputi pertambakan udang, kebun masyarakat disekitar tambak, pemukiman serta jalan sebagai akses menuju kawasan mangrove. Kawasan mangrove Desa Kayu Besar memiliki sungai yang merupakan jalur nelayan menuju laut. Kawasan disekitar mangrove juga dijadikan lokasi persinggahan kapal – kapal nelayan. Penebangan yang dilakukan pihak yang tidak bertanggung jawab merupakan penyebab utama kerusakan ekosistem mangrove Desa Kayu Besar. Disamping itu terdapat pula kerusakan akibat dari perubahan lahan mangrove ke pertambakan dan pemanfaatan mangrove yang berlebihan seperti kayu bakar dan nipah yang juga berpotensi menimbulkan kerusakan pada ekosistem mangrove.
Perikanan
Perikanan pada umumnya merupakan sumber daya ekonomi paling utama di kawasan mangrove. Akan tetapi, pemanfaatan sumberdaya perikanan di
pengelolaan tambak udang. Untuk perikanan tangkap langsung, masyarakat Desa Kayu Besar umumnya menggunakan pancing. Kelompok masyarakat tersebut dapat mencoba metode lain seperti jaring apung/karamba dan perangkap ikan (bubu) seperti yang diterapkan masyarakat di Wulan dan Segara Anakan (Setyawan dan Kusumo, 2006). Jaring apung dan bubu digunakan untuk menangkap anakan biota laut yang menggunakan lingkungan mangrove untuk berkembangbiak, seperti udang dan ikan sehingga dalam sudut pandang konservasi jaring apung dapat mengganggu suplai bibit ke perairan laut di tepi pantai. Untuk itu perlu perbaikan yang berkelanjutan pada ekosistem mangrove sebagai tempat pemijahan bagi biota mangrove tersebut. Perbaikan pada ekosistem mangrove akan meningkatkan produksi perikanan baik secara kuantitas maupun kualitas. Perikanan tangkap merupakan produk mangrove yang bernilai ekonomi paling tinggi (Hamilton, dkk.,1989). Perikanan tangkap juga dilakukan di dalam kawasan mangrove, khususnya pada kawasan yang memiliki perairan luas.
Hampir semua tambak pada ekosistem mangrove Desa Kayu Besar menggunakan sistem tambak intensif, hampir tidak ada yang melakukan penglolaan dengan sistem empang parit (tambak tumpang sari/Sylvo-fishery). Pada tambak intensif, semua tumbuhan mangrove dibersihkan, tumbuhan mangrove hanya disisakan ditepian tambak khususnya yang berbatasan dengan sungai untuk mencegah abrasi. Sedangkan pada sistem empang parit luasan tambak dan luasan vegetasi mangrove yang disisakan relatif sama (Hartina, 1996) sehingga tetap memungkinkan tumbuhnya vegetasi mangrove. Pengelolaan tambak dengan sistem empang parit merupakan salah satu bentuk pemanfaatan ekosistem
mangrove yang ramah lingkungan. Teknik pengelolaan tambak empang parit ini dapat dijadikan sebagai alternatif pengelolaan tambak di Desa Kayu Besar. Ekosistem mangrove berperan penting dalam mendukung usaha pertambakan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Setyawan dan Kusmono (2006) menyebutkan vegetasi mangrove yang subur dapat mencegah erosi, menjaga area dari banjir, badai dan bencana alam lain sehingga tidak diperlukan biaya tinggi untuk membangun infrastruktur tambak. Disisi lain mangrove juga dapat mengurangi tingkat polusi secara alamiah, sehingga mencegah jatuhnya usaha tambak.
Bahan Pakan Ternak
Pakan ternak dari tumbuhan mangrove umumnya mencakup daun/ranting Rhizophora, Soneratia, Avicennia serta jenis rumput – rumputan (Gramineae). Hal ini dilakukan baik di Pantai Utara maupun Pantai Selatan Pulau Jawa. Di Pantai Selatan, kawasan yang sering tergenang banjir di musim hujan atau dikenal dengan nama boronowo, biasa digunakan sebagai lokasi penggembalaan ternak, baik sapi maupun kerbau seperti di Bogowonto dan Lukulo (Setyawan dan Kusumo, 2006). Dalam penelitian ini sendiri tidak ditemukan pemanfaatan ekosistem untuk pakan ternak yang dilakukan masyarakat di Desa Kayu Besar. Pemanfaatan kawasan mangrove Desa Kayu Besar untuk pengembangan peternakan relatif kurang berkembang. Hal ini antara lain disebabkan karena orientasi masyarakat cenderung ke arah pemanfaatan kayu bakar dan pengolahan nipah. Pengelolaan ekosistem mangrove untuk pengembangan peternakan menjadi salah satu peluang yang bisa dimanfaatkan masyarakat Desa Kayu Besar.
Obat – Obatan
Secara tradisional, kandungan bioaktif tumbuhan mangrove banyak digunakan sebagai bahan obat yang mencakup anti-helmintik, anti mikrobia, antivirus, anti jamur;kanker, tumor;diare, pendarahan;analgestik, inflamasi, disinfektan, serta antioksidan dan astringen. Disamping itu digunakan pula sebagai racun yang mencakup moluskisida, insektisida, racun ikan dan spermisida (Bandaranayake, 1998 dalam Setyawan dan Kusmono, 2006).
Pemanfaatan tumbuhan mangrove di kawasan mangrove Desa Kayu Besar masih sangat minim. Dalam penelitian ini, bahkan masyarakat belum memanfaatkan tumbuhan mangrove untuk keperluan obat – obatan. Potensi tumbuhan mangrove sebagai bahan obat – obatan sangatlah besar, pada saat ini kandungan metabolit sekunder tumbuhan mangrove sudah mulai banyak terungkap. Tumbuhan ini kaya akan stereoid, triterpen, saponin, flavonoid, alkaloid dan tannin yang banyak digunakan sebagai bahan obat – obatan (Bandaranyake, 1995 dalam Setyawan dan Kusmono, 2006). Perkembangan ini diharapkan dapat membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat di kawasan mangrove Desa Kayu Besar sebagai penyuplai bahan baku, sehingga memacu upaya perlindungan ekosistem mangrove.
Bahan Baku Industri
Potensi tumbuhan mangrove sebagai bahan baku industri cukup luas. Menurut Walsh (1977) pneumatofora Sonneratia alba dapat digunakan untuk sol sepatu. Kayu berbagai jenis tumbuhan mangrove seperti Rhizophora spp. dapat digunakan untuk menghasilkan pulp. Menurut Field (1955 dalam Setyawan dan
Kusmono, 2006) beberapa tumbuhan mangrove lainnya juga berpotensi sebagai bahan baku industri, misalnya pneumatofora Bruguiera sexangula dapat menghasilkan parfum dan rempah – rempah, ekstrak Excoecaria agallocha untuk afrodisiak, ekstrak Avicennia spp. untuk sabun, ekstrak Bruguiera sexangula untuk lem. Tumbuhan mangrove juga dikenal sebagai sumber utama tannin untuk bahan pewarna dan penyamak dalam dunia industri.
Dalam penelitian ini, jenis yang terdapat di mangrove Desa Kayu Besar belum dimanfaatkan sebagai bahan baku industri. Hal ini mungkin disebabkan kurangnya informasi yang didapat masyarakat atau belum adanya industri pengolahan di daerah tersebut. Pemanfaatan jenis mangrove untuk bahan baku industri menjadi salah satu peluang yang bisa dimanfaatkan masyarakat dimana, masyarakat sebagai penyuplai bahan baku industri. Pengembangan potensi ini diharapkan dapat membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan pada akhirnya turut mendorong upaya pelestarian ekosistem mangrove.
Pariwisata dan Pendidikan
Penggunaan kawasan mangrove sebagai lokasi wisata telah dikembangkan sejak lama. Tritih merupakan salah satu lokasi wisata yang dibangun Perhutani pada pertengahan 1970-an untuk tujuan konservasi dan pendidikan ekosistem mangrove. Di kawasan mangrove Desa Kayu Besar, pemanfaatan untuk pariwisata belum terlaksana. Hal ini kemungkinan disebabkan akses, fasilitas, atraksi alam dan sarana akomodasi yang belum memadai. Seperti kita tahu, pembangunan pariwisata membutuhkan peran serta dari berbagi pihak mulai dari
dapat menjadi sumber penghasilan yang besar apabila dikerjakan secara sungguh – sungguh. Bagi masyarakat Desa Kayu Besar peluang untuk menglola pariwisata di mangrove masih terbuka. Dengan kesungguhan, upaya perbaikan dan perhatian dari pemerintah setempat pariwisata mangrove di Desa Kayu Besar bisa terwujud.
Kawasan mangrove dapat menjadi lokasi pendidikan konservasi. Dalam penelitian ini, Kawasan mangrove Desa Kayu Besar telah sering dikunjungi para pelajar dan mahasiswa untuk tujuan pendidikan. Desa Kayu Besar menjadi lokasi praktek lapangan dan penelitian mahasiswa kehutanan Universitas Sumatera Utara. Kondisi mangrove Desa Kayu Besar yang memungkinkan untuk dijadikan sebagai lokasi tujuan pendidikan menjadi salah satu peluang pemanfaatan ekosistem mangrove. Masyarakat sekitar bisa bekerjasama dengan peneliti/pelajar dan menjadi pemandu bagi mereka.
Pertanian
Konversi ekosistem mangrove menjadi lahan pertanian pangan umumnya kurang berhasil, seperti yang dilaksanakan di Kecamatan Kawunganten, Cilacap sejak jaman kolonial. Upaya yang dilakukan dengan mengubah arah aliran sungai, sehingga sedimentasi mengumpul pada area tertentu yang akhirnya menjadi daratan. Selanjutnya, untuk mengurangi salinitas dilakukan penggelontoran secara teratur tanah tersebut dengan air tawar untuk mendesak keluarnya kandungan garam dari dalam sedimen. Upaya ini pada akhirnya berhenti dengan sendirinya akibat sulit menemukan varietas padi dengan produktivitas tinggi untuk lahan tersebut (Winarno dan Setyawan, 2003).
Usaha pertanian di kawasan manngrove Desa Kayu Besar telah dilakukan oleh sebagian masyarakat. Pemanfaatan yang diterapkan berupa penanaman tanaman palawija dan sayuran disekitar areal tambak. Umumnya pengelolanya adalah pemilik tambak itu sendiri. Kegiatan pertanian di kawasan mangrove dapat menyebabkan hilangnya area mangrove karena dikonversi menjadi kebun ataupun sawah. Selain itu penggunaaan pupuk kimia jumlah besar dalam pertanian intensif juga dapat menyebabkan kerusakan ekosistem mangrove. Untuk itu perlu dilakukan penataan tentang lahan yang akan dijadikan areal pertanian dan kawasan mangrove. Hal ini untuk menjaga batasan yang jelas antara kawasan mangrove dan areal pertanian.