2.5. Elemen dan komponen geometrik.
2.6.3. Lengkung Vertikal Cekung.
Dalam menentukan panjang lengkung vertikal cekung,harus memperhatikan antara lain:
Jarak penyinaran lampu kendaraan.
Jarak pandangan bebas di bawah bangunan.
Persyaratan drainase.
Kenyamanan mengemudi.
Keluwesan bentuk.
Jarak penyinaran lanpu kendaraan.
Jangkauan lampu depan kendaraan pada lengkung vertikal cekung merupakan batas jarak pandangan yang dapat dilihat oleh pengemudi pada malam hari. Di dalam perencanaan umumnya tinggi lampu depan diambil setinggi 60cm, dengan sudut penyebaran sebesar 1o. Letak penyinaran lampu dapat dibedakan
dalam 2 keadaan yaitu:
1. Jarak pandangan akibat penyinaran lampu depan < L 2. Jarak penyinaran akibat penyinaran lampu depan > L
Jarak pandangan bebas dibawah bangunan pada lengkung vertikal cekung. Jarak pandangan bebas pengemudi pada jalan raya yang melintasi bangunan-bangunan lainnya seperti jalan raya lainnya, jembatan penyeberangan, viaduct,aquaduct seringkali terhalangoleh bagian bawah dari bangunan tersebut. Panjang lengkung vertikal cekung minimum diperhitungkan berdasarkan jarak pandangan henti minimum dengan mengambil tinggi mata pengemudi kendaraan truk, yaitu 1,80 meter dan tinggi objek 0,50 meter ( tinggi lampu belakang
kendaraan).ruang bebas vertikal minimum 5m. Sedangkan dalam perencanaan disarankan untuk mengambil ruang bebas 5,50 meter, untuk memberi kemungkinan adanya lapis tambahan (overlay) di kemudian hari.
Kenyamanan mengemudi pada lengkung vertikal cekung.
Adanya gaya sentrifugal dan gravitasi pada lengkung vertikal cekung, menimbulkan rasa tidak nyaman kepada pengemudi, yang akan menyebabkan percepatan sentripetal. Percepatan sentripetal yang bersangkutan adalah:
A = A.V2 / 1300 L
Dimana: a = percepatan sentipetal (m/det) V = kecepatan rencana (km/jam) A = perbedaan aljabar landai
L = panjang lengkung vertikal cekung
Panjang lengkung vertikal cekung minimum adalah ditentukan oleh percepatan sentripetal, yang dibatasi tidak melebihi 0,30 m/det2, dengan demikian
rumus diatas menjadi:
L = 390 .V2 A ...(2.26) Persyaratan drainase.
Landai minimum untuk keperluan drainase adalah 0,5%. Pada lengkung vertikal cekung, dimana ada bagian hampir datar, pada puncak lengkung, diperlukan pengkajian khusus untuk hal ini. Untuk jalan- jalan yang tidak mempunyai kerb, bagian yang mendatar tersebut, tidak terlalu memberikan masalah karena fungsi lereng jalan sudah menjamin kelancaran drainase. Untuk jalan-jalan menggunakan kerb, dengan diberikan kelandaian 0,5% pada jarak 20 meter dari puncak lereng sudah memadai.
Jadi, syarat panjang maksimum adalah:
LV = 40 A...(2.27)
Keluwesan bentuk jalan pada lengkung cekung
Keluwesan bentuk jalan, dihubungkan terhadap kecepatan, yaitu menurut AASTHO : L = 3V, dimana L = panjang minimum lengkung dalam feet, dan V= kecepatan rencana, dalam mph. Sehingga bila L dalam meter, dan V dalam km/jam, didapatkan:
L = 0,6 V...(2.27)
Nilainya adalah pendek jika perbedaan kelandaiannya kecil, hal ini akan mengakibatkan alinemen vertikal kelihatan melengkung. Untuk menghindari hal tersebut maka, panjang lengkung vertikal cekung diambil 3 detik perjalanan.
Maka dalam perencanaan alinemen vertikal perlu diperhatikan beberapa hal sebagai berikut.
1) Pada alinemen vertikal yang relatif datar dan lurus perlu dihindari adanya hidden clip, yaitu lengkung-lengkung vertikal cekung yang pendek dan tidak terlihat mata dari jarak yang jauh.
2) Pada landai menurun yang panjang dan tajam, sebaiknya diikuti oleh pendakian , sehinnga kecepatan kendaraan yang terlalu besar dapat dikurangi. 3) jika direncanakan serangkaian kelandaian, maka sebaiknya kelandaian yang paling curam diletakkan di bagian awal, yang diikuti oleh kelandaian yang lebih kecil.
4) sedapat mungkin dihindari perencanaan lengkung vertikal yang sejenis ( cembung atau cekung) dengan hanya dipisahkan oleh tangen yang pendek. 2.6. Pencegahan kecelakaan jalan raya.
Kecelakaan kendaraaan bermotor di seluruh dunia memakan korban yang luar biasa besarnya, dan akibat kecelakaan ini banyak sekali kerugian material. Tetapi walaupun banyak desakan masyarakat dan usaha badan pemerintah untuk mengurangi kecelakaan seperti memerintahkan penggunaan sabuk pengaman, batas kecepatan, penghalang median, rambu pengatur dan peringatan, pagar pengaman, perlengkapan keselamata peredam benturan tepi jalan,tiang rambu yang mudah patah dan sebagainya namun sampai sekarang kecelakaam kendaraan adalah masalah yang paling kritis yang belum terselesaikan.
Ada tiga faktor – faktor yang sering menyebabkan tejadinya kecelakaan yaitu pengemudi, kendaraan, lingkungan ( cuaca, desain jalan)
Adanya kecelakaan menunjukkan bahwa pengendaraan yang tidak baik, seringkali disertai dengan pelanggaran hukum. Banyak sekali kecelakaan terjadi akibat membuat keputusan yang keliru. Aspek aspek yang sering menyebabkan tejadinya kecelakaan antara lain:
1. Karakteristik fisik pengemudi.
Manusia memiliki aneka warna kemampuan, dari penelitian yang pernah dilakukan di Amerika yaitu pengemudi yang telah mempunyai SIM. Sejumlah pengemudi tersebut dimamafaatkan untuk menetapkan standart desain jalan raya. Tetapi, apakah ada orang yang tidak memiliki kemampuan ini atau kemampuan lainnya atau memiliki kekurangan serupa sehingga tidak berhak untuk mengemudi dalam hal mengurangi kecelakaan. Satu pertanyaan adalah menyangkut usia, dalam bertambahnya usia, refleks pengemudi menjadi lebih lambat dan kemampuan fisik tertentu akan menurun namun biasanya orang yang lebih tua akan lebih berhati- hati hati dalam menentukan keputusan saat mengendarai kendaraan.
2. Pendidikan pengemudi.
Banyak sekali kecelakaan terjadi akibat kurangnya pengetahuan pengemudi dalam hal mengenai aturan rambu lalu lintas. Maka untuk itu kiranya pengemudi dilatih dalam hal mengemudi sabagai contoh pendidikan sebelum mendapatkan SIM, ini akan megurangi erjadinya kecelakaan.
3. Kerangka pemikiran pengemudi
Terdapat bukti yang kuat bahwa pengendaraan yang aman, tertib dan sopan adalah berhubungan erat dengan timbulnya emosi, kecukupan sosial, dan
sikap terhadap pengambilan resiko. Orang yang sering mengalami kecelakaan mungkin agresif dan tidak toleran pada lainnya, mereka cenderung benci akan kewenangan, meraka cenderung melebih-lebihkan opini tentang kemampuan mereka dan mereka agaknya tidak memiliki tanggungjawab serta bertindak impulsif dan tanpa pemikiran terlebih dahulu.
4. Kondisi pengemudi sementara.
Kelelahan dan perasaan ngantuk mengurangi kemampuan serang pengemudi mengendarai kendaraan secara aman maka kesimpulan seperti ini nampaknya sudah jelas, namun demikian baik tindakan maupun pendidikan dan pemaksaan mungkin diperlukan apabila jumlah kecelakaaan ingin dikurangi.
Pengemudi yang peminumdan pejalan kaki mengakibatkan masalah yang paling serius dalam kecelakaan. Efek alkohol adalah kompleks dan sangat bervariasi di tiap individu, kadar alkohol dalam darah yang sedikit bisa memberikan ketenangan, namun apabila berlebih maka akan mengakibatkan ketidakmampuan mengkooordinasikan visual scanning (penginderaan) dan mengendalikan kendaraan, alkohol juga bisa mempengaruhi penglihatan. Alkohol juga dapat penekan, yaitu dengan mempengaruhi bagian otak yang menghasilkan penekanan diri, sehingga menyebabkan perubahan perilaku yang meningkatkan keyakinan pengemudi akan kemampuan mereka, sehingga selanjutnya mereka berani mengambil kesempatan yang dalam biasa tidak bisa mereka lakukan. Maka untuk itu pendekatan yang perlu dilakukan adalah ”berlaku keras” yaitu dengan proses hukum.
Kecepatan yang terlalu besar merupakan faktor terjadinya kecelakaan , jika terjadi sebuah kecelakaan ini akan berdampak ke tingkat keparahan si pengemudi karena makin cepat maka makin kuat pula benturan yang disebabkan akibat kecelakaan itu.
6. Perijinan mengemudi.
Pemberian ijin mengemudi adalah wewenang dari kepolisian, yang bertujuan untuk melindungi kesehatan dan keselamatan masyarakat. Tetapi karena transporstasi dengan mobil adalah penting bagi kehidupan dan mencari penghasilan, maka hak untuk mengemudi adalah merupakan pengakuan dan perlindungan hukum.
7. Pelaksanaan rambu lalu lintas.
Umumnya telah disadari bahwa kekwatiran akan penahanan dan hukuman menyebabkan pengemudi mematuhi undang-undang dan peraturan lalu lintas. Maka dengan demikian apabila rambu-rambu itu ditaati maka kemungkinan akan terjadinya kecelakaan bisa dikurangi.
Kendaraan ( The Vehicle)
Usaha- usaha yang dilakukan oleh pabrik mobil adalah menghasilkan kendaraan yang lebih aman dan tidak terlalu rusak apabila terjadi kecelakaan, aspek- aspek masalah pratabrakan dan selama tabrakan termasuk dalam usaha ini. Meskipun dalam kacamata umum dapat dilihat bahwa kekurangan dalam desain kendaraaan dan ban bukanlah penyebab utama dalam terjadinya kecelakaan.
Desain jalan raya sehubungan dengan kecelakaan.
Kecelakaan adalah satu diantara perhatian utama dalam seluruh tahapan perencanaan, ekonomi, pembiayaan, desain, pengoperasian, dan pemeliharaan jalan raya. Pendekatan spesifik yang dapat dilakukan untuk mengurangi kecelakaan adalah membuat jalan dan jalan raya yang ada menjadi lebih aman. Teknik untuk menentukan ruas jalan atau lokasi dimana sering terjadi kecelakaan telah kita bahas di depan maka timbullah masalah bagaimana cara mengatasi masalah tersebut. Untuk lokasi setempat, analisis yang teliti dari kecelakaan masa lalu, mungkin memakai diagram tabrakan dan kondisi, dan menghasilkan pendekatan yang lebih mungkin.