• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB X. PEDOMAN TRANSISI DAN KAIDAH PELAKSANAAN

ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS

4.1 Permasalahan Pembangunan

4.1.1 Lingkungan Internal

Di dalam lingkungan internal terdapat dua faktor penting yang berpengaruh, yaitu faktor-faktor yang berkaitan dengan kekuatan atau potensi dan faktor-faktor yang berkaitan dengan kelemahan yang dimiliki Kabupaten Flores Timur.

Pertama, Faktor Kekuatan (Strength). Kabupaten Flores Timur memiliki sejumlah

potensi yang berfungsi sebagai kekuatan yang dapat digunakan dalam mewujudkan misi dan misi pembangunan daerah periode 2012-2016. Potensi-potensi yang dimilki Kabupaten Flores Timur adalah sebagai berikut :

1. Potensi Wilayah Darat Flores Timur

Kabupaten Flores Timur merupakan sebuah Kabupaten Kepulauan dengan Luas wilayah seluruhnya 5.983,38 km², terdiri dari luas daratan 1.812,85 km² (31 persen luas wilayah) yang tersebar pada 3 pulau besar dan 19 pulau kecil sedangkan luas lautan 4.170,53 km² (69 persen luas wilayah). Wilayah darat merupakan daerah potensial untuk pengembangan pertanian baik lahan kering maupun lahan basah dan peternakan. Pada daerah-daerah sekitar 4 gunung api

sangat cocok untuk Pengembangan pertanian hortikultura dan perkebunan, karena umumnya daerah-daerah dengan ketinggian beragam tersebut mempunyai iklim (suhu) yang cocok untuk berbagai jenis tanaman. Secara keseluruhan kawasan pertanian di kabupaten Flores Timur seluas 17.641,34 Ha dengan rincian pertanian sawah seluas 128,43 Ha, tegal seluas 3.624,17 Ha dan perkebunan seluas 13.888,74 Ha. Selain itu wilayah darat Kabupaten Flores Timur masih sangat potensial untuk pengembangan ternak kecil dan unggas. Dari segi hidrologi, Kabupaten Flores Timur memiliki 79 mata air yang tersebar di seluruh kecamatan dengan debit antara 0,5–20 liter perdetik.

2. Potensi Wilayah Laut Flores Timur

Wilayah Laut Flores Timur merupakan bagian terbesar dari total luas wilayah Flores Timur (69%). Hamparan wilayah laut Flores Timur yang terbentang antara pulau-pulau besar dan pulau-pulau kecil, dengan selat dan teluk-teluk, mengandung potensi perikanan dan kelautan yang kaya. Potensi dan kondisi sumber daya perikanan dan kelautan, terlihat dari jenis ikan hasil tangkapan dan jenis ikan hasil budi daya. Ikan hasil tangkapan terklasifikasi menurut jenis, yaitu ikan pelagis dan domersal. Jenis ikan pelagis, terdiri dari : ikan tuna, cakalang, tongkol, layang, selar, tembang, kembung, julung-julung dan lain sebagainya. Potensi ikan lestari yaitu ikan pelagis dan ikan domersal masih sangat menjanjikan untuk dikembangkan secara baik. Jenis ikan domersal, seperti lencam, kurisi, pari, ikan merah, karapu, beronang, kakap dan lain sebagainya. Sedangkan jenis ikan hasil budi daya, yaitu mutiara, anakan kerang mutiara dan rumput laut. Potensi yang ada tersebut telah didukung dengan sarana tangkapan ikan, baik yang dimiliki oleh masyarakat melalui usaha swadaya maupun melalui bantuan Pemerintah daerah. Selain itu juga telah dibangun sebuah prasarana pendukung bagi pengembangan usaha perikanan tangkap yaitu Pelabuhan Pendaratan Ikan di Kota Larantuka.

3. Potensi Pariwisata

Panorama alam Flores Timur yang tercermin melalui topografi wilayah dan sumberdaya alam yang khas, pesisir pantai dan hamparan selat diantara pulau-pulau besar dan kecil yang indah dan menarik merupakan potensi untuk pengembangan pariwisata. Selain itu, Flores Timur juga memiliki kekayaan dan keragaman budaya daerah yang dapat dikembangkan sebagai bagian integral pembangunan pariwisata Flores Timur. Salah satu even penting yang dimiliki saat ini adalah Perayaan Pekan Semana Santa setiap tahun, yang dapat dijadikan sebagai entripoint kegiatan pengembangan pariwisata Flores Timur. Setiap tahun, Kabupaten Flores Timur dikunjungi banyak wisatawan baik Domestik maupun mancanegara pada Pekan Semana Santa tersebut untuk mengikuti Prosesi Jumad Agung. Even ini merupakan kekuatan bagi Flores Timur untuk mengembangkan obyek-obyek wisata lainnya. Secara keseluruhan Potensi pariwisata sebanyak 50 obyek terdiri dari 26 potesi wisata alam dan 24 potensi wisata budaya yang bersentuhan dengan seremonial adat istiadat dan wisata religius (Samana Santa,

Prosesi Jumad Agung, Benda-benda bersejarah warisan Protugis). Potensi wisata alam yang memiliki daya tarik adalah danau Waibelen, danau Kotakaya, Pantai Kawaliwu, Pantai Oa, Pantai Rako dan Pantai Deri. Pantai Rako sangat potensial untuk dikembangkan kegiatan Selancar.

4. Sarana Prasarana Wilayah.

Dukungan sarana-prasarana wilayah bagi mobilitas orang, barang dan jasa dalam dan luar wilayah Kabupaten Flores Timur semakin baik dari tahun ke tahun. Perhubungan laut dengan adanya empat pelabuhan regional, pelabuhan fery dan JTP yang tersebar di beberapa wilayah kecamatan, perhubungan darat dengan prasarana jalan dan jembatan, serta perhubungan udara dengan Bandara Gewayan Tanah. Kondisi sarana prasarana wilayah yang semakin baik tersebut merupakan kekuatan untuk menggerakan tumbuh kembangnya perkonomian Flores Timur berbasis potensi lokal.

5. Jumlah Penduduk yang Cukup Besar

Berdasarkan hasil Sensus Penduduk 2010, jumlah penduduk Flores Timur sebanyak 232.605 orang, yang terdiri atas laki-laki sebanyak 111.492 orang dan perempuan sebanyak 121.117 orang. Total penduduk tersebut tersebar pada tiga pulau yang secara administrasi terdiri dari 19 kecamatan, 230 desa dan 20 kelurahan. Secara ekonomi, ini merupakan salah satu potensi untuk menggerakkan berbagai kekuatan ekonomi, sekaligus berfungsi sebagai pasar dari produk-produk yang dihasilkan oleh kabupaten Flores Timur sendiri. Penduduk Flores Timur tersebut sebagian besarnya bekerja sebagai petani baik petani lahan basah, lahan kering maupun sebagai nelayan. Penduduk yang bekerja sebagai petani-nelayan telah memiliki budaya kerja yang militan.

6. Sarana dan Prasarana Pendidikan dan Kesehatan

Tersedianya sarana dan prasarana di bidang pendidikan dan kesehatan yang tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Flores Timur, merupakan kekuatan untuk menggerakkan upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia Flores Timur, baik dalam rangka meningkatkan output kualitas pendidikan maupun untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

7. Budaya Gotong Royong dan Kerukunan antar Umat Beragama

Penduduk Flores Timur memiliki modal sosial, seperti tingginya budaya gotong royong, solidaritas sosial, ikatan sosial antar anggota masyarakat dan kehidupan religius dan kerukunan antar umat beragama. Kondisi sosial budaya kemasyarakatan tersebut merupakan potensi untuk menggerakan partisipasi masyarakat dalam pembangunan, menggerakkan usaha ekonomi produktif masyarakat dalam kelompok melalui program-program pemberdayaan, dan terkendalinya trantibmas.

8. Kekuatan Birokrasi

Pemerintah Daerah Kabupaten Flores Timur memiliki peran sentral dalam mewujudkan masyarakat Flores Timur sesuai Visi dan Misi Daerah periode 2012-2016. Peran tersebut pada dasarnya berkaitan dengan tiga hal pokok, yaitu memberikan pelayanan (to serve), melakukan pengaturan (to regulate) dan memberdayakan (empowering). Keputusan-keputusan politik, berupa kebijakan-kebijakan publik, yang dibuat oleh pemerintah, tidak akan bermakna dan berdayaguna tanpa diimplementasikan secara baik. Untuk itu, posisi birokrasi sebagai pemberi pelayanan publik memiliki peranan penting. Pemerintah Kabupaten Flores Timur memiliki potensi birokrasi yang memiliki kemampuan yang cukup memadai untuk mengimplementasikan kebijakan-kebijakan yang akan dibuat tersebut.

9. Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Flores Timur

Tersedianya dokumen resmi yang menjadi acuan dalam pelaksanaan pembangunan Daerah di semua sektor, terutama berkaitan dengan pemanfaatan ruang Wilayah Kabupaten Flores Timur.

Kedua, Faktor Kelemahan (Weakness). Di samping memiliki kekuatan, Kabupaten

Flores Timur juga memiliki sejumlah kelemahan yang harus ditanggulangi dalam upaya mewujudkan visi dan misi pembangunan daerah periode 2012-2016. Kelemahan-kelemahan yang dimiliki oleh Kabupaten Flores Timur adalah sebagai berikut :

1. Rendanya Produktivitas Pertanian (dalam arti luas).

Sektor Pertanian merupakan sektor unggulan bagi Kabupaten Flores Timur dilihat dari kondisi geografis dan mata pencaharian penduduk. Walaupun demikian kenyataan lain menunjukkan bahwa kontribusi sektor pertanian terhadap total PDRB cenderung menurun dari tahun ke tahun. Hal ini disebabkan karena sektor pertanian belum dikelola secara optimal melalui pola pertanian modern, baik ekstensifikasi maupun intensifikasi sehingga mengakibatkan rendahnya produktivitas pertanian.

2. Nilai Tambah Produk-Produk Pertanian Rendah

Kabupaten Flores Timur memiliki kelemahan berkaitan dengan pemanfaatan produksi pertanian pasca panen. Hasil produksi pertanian (tanaman holtikultura

dan perkebunan), masih belum dimanfaatkan menjadi bahan-bahan olahan. Hal

serupa juga pada sektor perikanan. Hasil ikan tangkapan para nelayan itu masih belum dikelola secara maksimal, yang memungkinkan adanya nilai tambah (added

values) dari produk-produk itu. Hasil produksi pertanian (dalam arti luas) pada

umumnya dipasarkan dalam bentuk barang mentah atau setengah jadi dengan nilai tambah produknya yang rendah bahkan tidak ada nilai tambah sehingga mempengaruhi harga komoditas pertanian di pasaran, baik lokal maupun regional.

3. PDRB Perkapita yang tergolong rendah

PDRB ADHB Per Kapita Flores Timur tahun 2008 sebesar Rp. 4.717.475; 2009 sebesar Rp. 5.178.079 dan 2010 sebesar Rp. 5.762.854. PDRB ADHB Per Kapita Flores Timur tersebut masih tergolong rendah dan jauh tertinggal dengan pendapatan Per Kapita Nasional.

4. Kualitas SDM yang Masih Rendah

Kualitas SDM Flores Timur yang masih rendah ini dilihat dari Indeks Pembangunan Manusia (IPM), sebagai indeks komposit dari gabungan 3 (tiga) indikator, yaitu angka harapan hidup, angka melek huruf serta rata-rata lama sekolah dan pengeluaran per kapita. IPM mengukur secara spesifik pencapaian masyarakat di bidang pendidikan, kesehatan dan ekonomi, untuk mencapai dan mempertahankan standar kehidupan yang layak. IPM Kabupaten Flores Timur pada tahun 2007 sebesar 66,74, 2008 sebesar 67,34 dan 2009 sebesar 67,77 serta berada di atas rata-rata IPM kabupaten/kota di NTT, namun secara nasional, IPM NTT berada pada urutan 31 dari 33 Propinsi di Indonesia. Berdasarkan pernbandingan IPM secara Nasional tersebut, maka kualitas SDM NTT, termasuk SDM Flores Timur sesungguhnya masih sangat rendah. Kondisi Ini merupakan konsekuensi logis dari rendahnya kualitas SDM dan pelayanan di bidang pendidikan dan kesehatan, serta di bidang ekonomi berkaitan dengan kualitas SDM Tani dan Nelayan dalam meningkatkan produktivitas pertanian berdasarkan potensi-potensi lokal, sehingga berdampak pada rendahnya pendapatan per Kapita masyarakat.

5. Masih Tingginya Angka Kemiskinan dan Angka Pengangguran

Angka kemiskinan di Kabupaten Flores Timur masih tergolong tinggi. Jumlah penduduk dengan kategori sangat miskin dan miskin masih cukup besar. Jumlah penduduk miskin Flores Timur tahun 2009 sebesar 24.840 orang dan tahun 2010 sebesar 22.400 orang. Faktor-faktor yang teridentifikasi sebagai penyebab kemiskinan di Kabupaten Flores Timur antara lain : rendahnya pendapatan per kapita penduduk, rendahnya nilai tukar petani, meningkatnya pola hidup konsumtif dan tingginya angka pengangguran. Angkatan kerja Flores Timur yang sedang mencari pekerjaan (pengangguran terbuka) pada tahun 2010 sebesar 4.048 orang atau 1,74% dari total penduduk Flores Timur, atau 3,87% dari total angkatan kerja Flores Timur yakni sebesar 104.551 orang.

6. Kualitas Infrastruktur Strategis Masih Rendah

Infrastruktur di Kabupaten Flores Timur, khususnya infrastruktur fisik, sudah tersedia, tetapi masih belum memadai. Kualitas jalan-jalan poros desa, yang menghubungkan desa yang satu dengan desa yang lain, antara pedesaan dengan perkotaan, serta jalan-jalan menuju kantong produksi dan lokasi obyek wisata, relatif masih rendah. Selain itu, infrastruktur pokok lainnya, seperti embung-embung dan saluran irigasi juga belum tersedia secara memadai. Padahal,

infrastruktur tersebut sangat dibutuhkan untuk meningkatkan produktivitas sektor pertanian dan sektor-sektor terkait lainnya.

7. Masih Rendahnya Pendapatan Asli Daerah

Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Flores Timur tergolong rendah. Rata-rata setiap tahun masih sekitar 6%. Hal ini berpengaruh terhadap daya dukung pembiayaan program-program pembangunan yang direncanakan. Sedangkan pada sisi lain sumber keuangan Pemerintah Kabupaten Flores Timur masih sangat tergantung pada pemerintah pusat, baik melalui DAU, DAK, dana Tugas Pembantuan maupun bantuan langsung dari Pemerintah Pusat.

8. Rendahnya Kesadaran dan Kepatuhan Terhadap Hukum

Angka kriminalitas seperti perkelahian antar pemuda/remaja yang memicu konflik antara kampung, konflik batas wilayah dan/hak ulayat yang mengarah ke perang tanding antar desa cenderung meningkat di Kabupaten Flores Timur. Di samping itu, tingkat pelanggaran hukumpun semakin meningkat, baik di lingkungan pemerintahan maupu di masyarakat.

9. Masih rendahnya ketaatan terhadap RTRW Kabupaten Flores Timur.

Dokumen RTRW Kabupaten Flores Timur belum dimanfaatkan secara optimal dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan Daerah. Ketaatan masyarakat terhadap rencana pemanfaatan ruang, khususnya di Ibukota Kabupaten Flores Timur masih tergolong tinggi, antara lain pemanfaatan ruang pada kawasan-kawasan yang tergolong ruang terbuka hijau, pada kawasan-kawasan-kawasan-kawasan rawan bencana dan atau pada kawasan-kawasan yang tidak sesuai dengan peruntukannya sebagaimana di atur dalam dokumen RTRW Kabupaten Flores Timur.

10. Cenderung Ditinggalkannya Budaya Lokal

Kabupaten Flores Timur memiliki budaya lokal yang khas, baik adat kebiasaan dan religiositas masyarakat, peralatan dan seni musik, seni suara, dan seni tari. Budaya lokal dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya mengalami kemunduran dalam praktek hidup keseharian. Ada kecenderungan masyarakat memanfaatkan budaya modern dalam praktek hidup keseharian, di antaranya hedonisme, individualisme, hubungan impersonal ditinggalkan dan digantikan dengan hubungan yang transaksional.