BAB II LANDASAN TEORI
B. Lingkungan Kerja
3. Lingkungan Kerja Psikis
Lingkungan kerja psikis adalah lingkungan kerja yang tidak bisa dikenali dengan indera oleh para karyawan karena bersifat psikomental dan psikospiritual misalnya relasi dengan atasan dan rekan kerja. Ada beberapa faktor yang berkaitan dengan lingkungan kerja psikis yaitu: hubungan bawahan dengan atasan, hubungan karyawan dengan rekan kerja, jaminan keamanan kerja dan kecocokan pekerja dengan pekerjaannya.
Lingkungan kerja psikis yang terdapat dalam perusahaan dapat dijelaskan sebagai berikut :
a. Hubungan Bawahan dengan Atasan (Supervisi)
Pembinaan hubungan yang baik dengan pimpinan bisa membantu meningkatkan potensi kerja secara lebih baik dan mempermudah jalinan komunikasi yang selaras di dalam ruang lingkup perusahaan. (Robbins, 2001: 27). Untuk itu dibutuhkan beberapa sifat pemimpin yang efektif antara lain:
1) Harus cakap memotivasi bawahannya. Manajer yang baik akan memotivasi semua bawahan, tidak hanya mereka yang melapor secara langsung kepadanya. Manajer juga harus menyadari perbedaan-perbedaan individual, harus terus menerus berusaha
untuk meyakinkan, membujuk dan menghibur bawahannya (Kimes, 1988: 37).
2) Harus menjadi pengikut yang baik dan tidak menentang kritik yang membangun. Selalu berada dalam lingkungan bawahan pada saat diperlukan (Kimes, 1988: 37).
3) Harus dapat dipercaya dan mempunyai sifat tenang. Manajer mengetahui secara tepat apa yang diinginkan dan cara memperolehnya tanpa menimbulkan kebencian atau kemarahan para karyawan (Kimes, 1988: 37).
4) Harus memberikan kepercayaan penuh kepada karyawan dan terutama untuk mengembangkan karyawan (Handoko, 2000: 300). 5) Harus mengajukan tantangan-tantangan dengan tujuan yang
menarik bagi karyawan dan merangsang bawahan untuk mencapai tujuan tersebut serta melaksanakannya dengan baik (Handoko, 2000: 300).
6) Harus mempunyai kemampuan berkomunikasi dengan baik, dapat menulis dengan singkat dan jelas, berbicara dengan singkat dan tepat, sehingga bawahan mengetahui apa yang diharapkan dari atasannya (Kimes, 1988: 37).
b. Hubungan dengan Rekan Kerja
Kerjasama dengan rekan kerja dapat juga membantu kelancaran komunikasi saat akan maupun sesudah melakukan pekerjaan, sehingga hasil pekerjaan dapat menjadi baik bahkan lebih baik. Pada dasarnya
apabila hubungan dengan rekan kerja dapat terbina dengan baik maka akan memunculkan ide-ide atau gagasan yang lebih baik. Oleh sebab itu diharapkan hasil kerja dari para karyawan dapat dijadikan peluang utama bagi perkembangan perusahaan di masa depan (Robbins, 2001: 30).
Menurut Soerjono Soekanto (Anoraga, 1995: 230) suatu interaksi sosial tidak akan mungkin terjadi apabila tidak memenuhi dua syarat. Dua syarat itu adalah :
1) Adanya Kontak Sosial :
Orang mengadakan hubungan dengan orang lain, misalnya berbicara dengan orang lain.
2) Adanya Komunikasi :
Seseorang memberikan tanggapan pada perilaku orang lain (yang berwujud pembicaraan, sikap), perasaan apa yang ingin disampaikan oleh orang tersebut. Orang yang bersangkutan kemudian memberikan reaksi yang ingin disampaikan kepada orang lain tersebut.
Sementara itu Anoraga mengemukakan dua jenis lingkungan sosial sebagai berikut (Anoraga, 1995: 12-13) :
1) Lingkungan Sosial Primer :
Lingkungan sosial dimana terdapat hubungan erat antara anggota yang satu dengan anggota yang lain, anggota yang satu saling
mengenal dengan baik dengan anggota yang lain. (Anoraga, 1995: 12)
2) Lingkkungan Sosial Sekunder :
Lingkungan sosial yang hubungan anggota yang satu dengan anggota yang lain agak longgar. Pada umumnya anggota yang satu dengan anggota yang lain agak kurang atau tidak saling kenal mengenal.(Anoraga, 1995: 13)
c. Keamanan Kerja
Perusahaan dapat memberikan jaminan terhadap keamanan para pekerjanya sehingga para pekerja dapat dengan tenang dan serius melaksanakan pekerjaannya. Dengan demikian diharapkan dapat mendatangkan hasil kerja yang maksimal.
d. Kecocokan Pekerja dengan Pekerjaannya
Pekerja dapat bekerja secara maksimal serta dapat menghasilkan kerja yang maksimal apabila pemimpin perusahaan menempatkan pekerjanya sesuai dengan keahlian dan keterampilannya. Oleh karena ditempatkan sesuai dengan keahlian dan keterampilannya, seorang pekerja pasti akan merasa cocok dan enjoy dengan pekerjaanya itu. Dengan demikian diharapkan pekerja dapat melakukan pekerjaannya dengan senang hati karena merasa cocok, sehingga dapat mendatangkan hasil kerja yang maksimal bagi perusahaan.
e. Otonomi Kerja
Otonomi kerja berarti seberapa besar tugas itu memberikan kebebasan, bersifat tidak tergantung dan diskresi pada seseorang untuk menjadwalkannya (Robbins, 2001: 35). Dengan demikian pekerja diharapkan dapat dengan bebas mengembangkan ide-ide atau gagasannya sesuai dengan bidang pekerjaannya sehingga dapat bermanfaat bagi perkembangan dan kemajuan perusahaan.
C. Komunikasi
Istilah komunikasi atau dalam bahasa Inggris communication berasal dari kata bahasa Latin, yaitu kata communicare, yang berarti sama. Jadi apabila kita akan mengadakan komunikasi dengan pihak lain, maka kita harus menentukan terlebih dahulu suatu sasaran sebagai dasar untuk memperoleh suatu pengertia yang sama. Dengan kata lain, komunikasi minimal harus memiliki kesamaan makna antara dua pihak yang terlibat. Dikatakan minimal karena kegiatan komunikasi tidak hanya informatif, yakni agar orang lain mengerti dan tahu, tetapi juga persuasif, yakni agar orang lain bersedia menerima suatu paham atau keyakinan, melakukan suatu perbuatan atau kegiatan.
1. Pengertian Komunikasi
Bermacam-macam definisi yang dikemukakan para ahli untuk memberikan batasan terhadap apa yang dimaksud dengan komunikasi seperti di bawah ini;
a. Edwin B. Flippo
“Komunikasi adalah tindakan yang menyalurkan gagasan-gagasan dan membuat diri seseorang dipahami dan dimengerti orang lain.”
(Flippo, 1993: 227) b. Garet R. Jones
“Communication is the sharing of information between two or more groups to reach a common understanding.” (Jones, 1996: 398)
c. Carl I. Hovland
“Komunikasi adalah proses untuk mengubah orang lain.” (Onong Uchjana Effendy: 1990: 10)
Dari berbagai pengertian tentang komunikasi di atas dapat disimpulkan bahwa :
1) Komunikasi selalu menyangkut usaha mentransmisikan informasi/gagasan dari seseorang kepada orang lain sehingga penerima
(receiver) mengerti akan informasi yang dikirim oleh pengirim
(sender)
2) Komunikasi selalu menyangkut dua pihak yaitu pengirim (sender) dan penerima (receiver).
3) Komunikasi merupakan suatu usaha untuk menciptakan pengertian di antara receiver dan sender.
4) Komunikasi menekankan juga pada tujuan untuk merubah tingkah laku orang lain yang meliputi perubahan pengetahuan, sikap dan tindakan
2. Komponen Dasar Komunikasi
Komunikasi adalah proses memberikan dan menerima pesan verbal dan non verbal, dengan harapan muncul tanggapan atau reaksi dari si penerima pesan. Komunikasi dapat dikatakan efektif apabila pesan yang diberikan dapat dimengerti sepenuhnya oleh penerimanya dan si penerima memberikan reaksi atau tanggapan seperti yang diharapkan si pemberi pesan.
Proses komunikasi antar orang perorangan atau perusahaan melibatkan lima elemen pokok, yaitu:
a. Pemberi Pesan
Pemberi pesan adalah orang atau individu atau orang yang mengirim pesan. Salah satu tanggung jawab pemberi pesan adalah memformulasikan pesan akan diberikan sedemikian rupa sehingga dapat dimengerti sepenuhnya oleh penerima pesan. Apabila pesan itu tidak tidak dapat dimengerti sepenuhnya oleh si penerima, ada resiko terjadi kesalahan pengertian atau mis-komunikasi. Akibatnya si pemberi pesan tidak akan menerima tanggapan yang sesuai.
b. Pesan
Pesan adalah informaasi yang diberikan kepada penerima pesan. Pesan yang diberikan terdiri dari simbol-simbol yang menggambarkan informasi, pendapat, introduksi, petunjuk, penjelasan, perintah, usul, pertanyaan dan larangann yang ingin disampaikan. Simbol-simbol tersebut dapat berbentuk verbal (menggunakan kata-kata secara lisan
maupun tulisan) atau non-verbal (tanpa kata-kata, misalya dengan mimik muka atau isyarat).
c. Jalur dan Media
Pesan yang ingin diberikan pemberi pesan dapat disampaikan melaui dua jalur utama, yaitu: jalur tulisan dan jalur lisan. Dengan demikian komunikasi dapat dikelompokkan menjadi dua golongan utama yaitu komunikasi lisan dan komunikasi tertulis.
Jalur komunikasi mana yang akan digunakan tergantug dari kebutuhan atau kondisi yang sedang dihadapi pemberi pesan. Apabila pesan yang akan diberikan cukup penting, rahasia atau membutuhkan tanggapan yang cepat dari penerima pesan, jalur lisan lebih cocok untuk dipergunakan. Media yang dipergunakan antara lain percakapan tatap muka, rapat, pertemuan formal lainnya, pesawat telepon dan
teleconference.
Sedangkan apabla pesan yang ingin disampaikan cukup rumit, panjang lebar, sangat teknis, tidak membutuhkan tanggapan cepat atau membutuhkan laporan tertulis untuk arsip, jalur tulisan lebih cocok untuk dipergunakan. Media yang dipergunakan antara lain memorandum, surat, telefax letter, e-mail, laporan singkat tertulis atau laporan panjang tertulis, dan lain-lain.
d. Penerima Pesan
Penerima pesan adalah mereka yang menerima pesan tetulis dan lisan. Mereka menerima pesan melalui pendengaran atau penglihatan, kadang-kadang juga melalui sentuhan.
Bagaimana penerima pesan mengartikan atau bereaksi terhadap pesan-pesan yang mereka terima, antara lain dipengaruhi oleh persepsi dan sikap mereka terhadap pesan itu dan terhadap pembawa pesan. Sedangkan persepsi dan sikap tiap orang juga dipengaruhi oleh pengalaman dan lingkungan hidup mereka. Faktor lain yang mempengaruhi persepsi dan sikap penerima pesan adalah latarbelakang pendidikan, tingkat inteligensia, profesi, budaya, agama, ras dan suku. e. Tanggapan
Tanggapan adalah respon penerima pesan terhadap pesan yang diterima dari si pemberi pesan. Tanggapan atau reaksi penerima pesan dipengaruhi oleh seberapa jauh mereka dapat memahami arti atau makna pesan yang diberikan. Tanggapan dapat berbentuk lisan, tulisan, tindakan atau kombinasi dari dua atau ketiga-tiganya. Ia dapat berupa persetujuan, penolakan, permintaan penjelasan lebih lanjut, keputusan yang diinginkan atau tidak diinginkan pembawa pesan. Tanggapan juga dapat berbentuk laporan panjang atau pendek. Efektivitas komunikasi juga ditentukan oleh tanggapan yang diberikan penerima pesan.
3. Bentuk Komunikasi
Bentuk-bentuk komunikasi dalam organisasi atau perusahaan dapat dikelompokkan menjadi beberapa jenis, yaitu:
a. Ditinjau dari unsur formalitas, komunikasi dapat dibagi menjadi dua yaitu:
1) Komunikasi Formal
Komunikasi formal merupakan penyebaran informasi yang dilakukan secara resmi dalam perusahaan, misalnya memo intern
untuk para karyawan. 2) Komunikasi Nonformal
Komunikasi nonformal lebih mengarah pada komunikasi yang tidak berhubungan dengan urusan kantor, umumnya bersifat pribadi.
b. Dilihat dari tingkatan, komunikasi dapat dibagi menjadi dua yaitu: 1) Komuniksi Vertikal
Komunikasi vertikal menggambarkan penyebaran informasi yang dilakukan antar karyawan dari tingkatan yang berbeda , baik dari atasan ke bawah (downward communication) maupun dari bawah ke atas (upward communiation).
a) Komunikasi ke Bawah (Downward Communication)
Komunikasi ke bawah adalah pesan yang mengalir dari atasan kepada bawahnnya yang berkenaan dengan tugas-tugas (A. Mulyono dan H. Indriyo, 1998: 170). Pesan tersebut
berhubungan dengan pengarahan, tujuan, disiplin, perintah, pertanyaan dan kebijaksanaan umum.
b) Komunikasi ke Atas (Upward Communiation)
Menurut A. Mulyono dan H. Indriyo (1998: 170) komunikasi ke atas adalah pesan yang mengalir dari bawahan ke atasan atau dari tingkat yang lebih rendah ke tingkat yang lebih tinggi. Tujuan dari komunikasi ini adalah untuk memberikan balikan, saran, dan mengajukan pertanyaan.
2) Komuniksi Horizontal
Komuniksi horizontal merupakan komunikasi antar karyawan pada tingkatan yang sama dalam perusahaan. Komunikasi horisontal yang efektif membantu individu dan bagian perusahaan dalam bekerjasama memecahakan problem yang dihadapi bersama. Ia juga merupakan sarana untuk menyamakan persepsi, pendapat dan pola berpikir antar bagian. Dengan demikian ia dapat menjadi sarana untuk membangun keharmonisan hubungan dan kerjasama antar bagian dalam perusahaan.
c. Ditinjau dari sifat, komunikasi dapat dibagi menjadi dua yaitu: 1) Komunikasi Personal
Komunikasi personal merupakan komunikasi antara individu-individu di dalam perusahaan. Percakapan individu-individu merupakan salah satu contoh bentuk komunikasi personal.
2) Komunikasi Non-Personal
Komunikasi non-personal merupakan komunikasi yang tidak terjadi antara individu di dalam perusahaan. Komunikasi non-personal bisa bisa dilakukan perusahaan dengan media masa atau melalui papan pengumuman yang dapat dibaca semua karyawan.