• Tidak ada hasil yang ditemukan

Linguistik: Sejarah Singkat Perkembangannya

BAB 2 BAHASA DAN ILMU BAHASA

2.3 Linguistik: Sejarah Singkat Perkembangannya

Linguistik, cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari fenomena kebahasaan secara ilmiah, sudah diakui keberadaannya secara universal. Meskipun pada mulanya kajian kebahasaan berada di bawah filsafat, logika, atau filologi, namun dalam perkembangannya linguistik mampu berdiri sendiri dengan mengembangkan cabang-cabang yang cukup memberi pengaruh bagi dunia ilmu pengetahuan. Sebagaimana dikemukakan di atas, linguistik sebagai cabang ilmu sudah memenuhi ketentuan ontologis, epistemologis, dan aksiologis sehingga keberadaannya dapat bertahan dan berkembang sampai saat ini. Sejarah perkembangan linguistik, seperti juga dialami oleh bidang ilmu pengetahuan lain, ditandai oleh pasang surut dan perdebatan yang beragam. Sebagai bagian dari hasil peradaban manusia, linguistik dirintis dan dikembangkan oleh para pemerhati dan ilmuwan bahasa sebagai bukti keawasannya akan bahasa sebagai fenomena budaya dan manusiawi.

Ilmu (pengetahuan) tidak dari satu rantaian asumsi atau hipotesis yang harus setiap kali diuji dengan fakta dan data. Asumsi dan hipotesis dalam penelitian dan kajian linguistik memerlukan langkah pengujian dan/atau verifikasi lebih sering karena bahasa mempunyai kecenderungan untuk berubah dari waktu ke waktu seiring dengan perubahan peradaban masyarakat penuturnya. Dalam kajian kebahasaan, peneliti dan ilmuwan bahasa tidak dapat meninggalkan begitu saja teori-teori atau konsep yang pernah ada karena semua itu merupakan rantai yang berkesinambungan sepanjang sejarah pengkajian bahasa. Asumsi, hipotesis, dan teori-teori itu akan selalu diuji ulang, diverifikasi, dibanding dan dipertentangkan, ditolak, diper- baharui, diperhalus, dikembangkan, atau ditidakberlakjukan lagi sesuai dengan data dan fakta bahasa sebagai gejala alamiah dan manusiawi. Ini berarti bahwa kajian dan ilmu kebahasaan mempunyai kecenderungan untuk terus berkembang dan berubah

sebagaimana perubahan itu adalah salah satu keniscayaan dalam hidup manusia (lihat Parera, 1991; Schendl, 2001).

Mengapa perlu belajar linguistik itu? Pertanyaan ini telah mengusik pikiran dan daya nalar pemerhati dan ilmuwan bahasa untuk meletakkan dasar filosofis akan pentingnya ilmu yang mempelajari (tentang) bahasa, yang secara terminologis disebut linguistik. Berdasarkan berbagai pendapat dan simpulan filosofis, Freeman dan Freeman (2004:x – xi) merangkum alasan-alasan penting mengapa (belajar) linguistik itu perlu. Menurut mereka, sekurang-kurangnya, ada lima alasan mengapa belajar linguistik itu perlu dalam peradaban manusia dan perkembangan ilmu pengetahuan. Pertama adalah bahwa bahasa adalah gejala yang menjadikan manusia hadir sebagai makhluk hebat; tanpa bahasa, manusia tidak akan bisa mempunyai kelebihan sosial-budaya seperti yang ada saat ini. Keberadaan bahasa telah dan terus memungkinkan manusia dapat berkomunikasi secara verbal yang tidak dimiliki oleh makhluk lain. Ini berarti bahwa dengan belajar linguistik, kita bisa mempelajari salah satu gejala yang memanusiakan manusia.

Alasan kedua adalah dengan semakin banyaknya manusia, terutama guru bahasa, mengetahui tentang bagaimana bahasa bekerja, akan semakin tepat-guna mereka menggunakan bahasa untuk membantu murid-murid dalam belajar bahasa. Guru-guru dan para pemakai bahasa yang peduli dan mengetahui dengan baik sistem gramatikal yang menjadi “kaidah” bagaimana seharusnya bahasa bekerja akan mampu menggunakan bahasa dengan baik dan tepat-guna. Alasan ketiga adalah bahwa sesungguhnya belajar bahasa itu menarik. Alasan ketiga ini menjadi bagian penting dan mendasar yang harus dimiliki oleh peneliti dan ilmuwan bahasa; mempelajari dan menelaah berbagai gejala dengan berbagai kekhasannya adalah menarik, menantang, dan menyenangkan. Begitu seorang peneliti dan ilmuwan bahasa menemukan kaidah dan membuat penjelasannya secara sahih, dia akan merasa puas dan ingin lebih jauh lagi menelaah hakikat bahasa tersebut.

Alasan keempat mengapa linguistik itu penting adalah bahwa orang yang berpendidikan dan terpelajar harus

mengetahui hal-ihwal tentang bahasa. Bahasa adalah cerminan jiwa dan lambang jati-diri seseorang. Tingkat kecerdasan dan pendidikan seseorang sering diukur dengan pengetahuannya tentang bahasa dan bagaimana dia menggunakan bahasa dengan lazim dan baik. Meskipun ukuran ini bukan bersifat mutlak, namun kadar keberterimaan pemakaian bahasa seseorang boleh jadi dijadikan ukuran tingkat kecerdasan dan pendidikannya. Alasan terakhir, kelima, mengapa linguistik itu penting adalah bahwa mempelajari bahasa berarti mempelajari jiwa dan pikiran manusia. Alasan ini berkenaan dengan adanya aspek kebahasaan yang berkenaan dengan jiwa dan pikiran manusia. Hal ini sesuai dengan pernyataan Chomsky (1975) seperti dikutip Freeman dan Freeman (2004:xi) bahwa bahasa adalah cerminan pikiran dalam pengertian yang dalam dan menentukan. Bahasa adalah hasil kecerdasan manusia, dicipta dari semula oleh setiap orang melalui perlakuan yang ada jauh di balik keterjangkauan atau kesadaran.

Pentingnya belajar linguistik dan bahasa, bukan hanya berkaitan dengan perihal keilmuan tetapi juga berhubungan dengan aspek perkembangan bahasa dalam diri manusia. Halliday (1984) seperti dikutip oleh Freeman dan Freeman (2004:xi) menandaskan manusia, secara alamiah, belajar bahasa, belajar melalui bahasa, dan mempelajari tentang bahasa. Rangkaian proses yang terjadi dalam perkembangan bahasa manusia ini menyiratkan bahwa bahasa adalah bagian hidup manusia dan sangat berperan dalam berbagai sisi kehidupan dan peradaban manusia. Tidak ada manusia normal yang menghindar dari keberadaan dan penggunaan bahasa.

Masa pasti kapan telaah bahasa dimulai dilakukan belum dapat dipastikan oleh para ahli. Namun besar kemungkinan, bahasa telah mulai dijadikan bahan kajian secara ilmiah (pada zaman itu) sejak abad ke-4 atau ke-5 sebelum Masehi. Zaman inilah yang dirujuk oleh ahli sejarah linguistik sebagai periode tatabahasa kuno (the ancient grammarians). Dalam catatan sejarah, masa linguistik kuno ditandai oleh lahirnya tatabahasa Panini yang mendeskripsikan tatabahasa bahasa Sanskerta, di India. Tatabahasa Panini ini dianggap sebagai tonggak penting

kelahiran linguistik awal yang sudah memperlihatkan ciri-ciri telaah ilmiah. Deskripsi tatabahasa bahasa Sanskerta pada periode linguistik awal (kuno) ini sudah menelaah tatabunyi, tatakata, dan tatakalimat secara sederhana. Penekanannya adalah pada pendefinisian yang dilakukan secara logika dan filosofis. Dipercayai bahwa tatabahasa Panini ini diikuti oleh beberapa kajian kebahasaan terhadap bahasa Kopti, Persia, China, dan Ibrani oleh ahli bahasa di Mesir, Iran, China, dan Babilonia seiring dengan pengaruh sosial-budaya India ke daerah sekitarnya (lihat Crane dkk., 1981; Robin, 1990).

Masa linguistik kuno ini juga meliputi kajian kebahasaan yang tumbuh dan berkembang di benua Eropa yang ada di Athena, Yunani. Ahli-ahli filsafat, logika, metafisika, atau teologi sekitar abad ke-3 sampai ke-1 sebelum Masehi menjadikan bahasa Yunani, Latin, dan beberapa bahasa Indo- Eropa lainnya sebagai sasaran kajiannya. Filosuf dan pemikir besar kaum Yunani-Latin seperti Plato, Aristoles, Dionysius Thrax, Priscian, Donatus, dan beberapa ahli lainnya melahirkan telaah bahasa yang lebih maju untuk deskripsi tatabahasa dan pemakaian bahasa. Meskipun masih didasarkan pada pandangan filosofis dan logika, kajian kebahasaan di universitas/sekolah Yunani ini sudah lebih rinci dan sistematis sebagai landasan pengkajian kebahasaan yang melahirkan Linguistik sebagai cabang ilmu pengetahuan pada masa-masa selanjutnya. Kelas kata dan telaah tatakalimat disertai kajian makna secara logika bahasa menjadi keunggulan telaah linguistik pada masa itu (Crane dkk., 1981; Robin, 1990; Parera, 1991).

Perjalanan panjang sejak abad ke-3 sampai ke masa kegelapan, Renaisanse, dan abad pencerahan, linguistik terus berkembang dan memasuki periode kedua yang dikenal sebagai linguistik traditional (traditional linguistics). Pada masa ini Linguistik mengalami masa perubahan dan pengembangan yang cukup berarti dengan tetap menjadikan bahasa Latin dan bahasa Romawi sebagai bahasa utama yang ditelaah. Sampai abad ke-13 Linguistik Tradisional berkembang sebagai bidang kajian yang mulai berdiri sendiri. Linguistik, yang di antaranya dipelopori oleh Priscian dan Donatus, sudah mulai melihat bahasa dan

sistem kebahasaan sebagai bentuk tersruktur dan ditelaah melalui tatabahasa spekulatif atau modistik. Tatabahasa spekulatif dihasilkan dari tubrukan tatabahasa deskriptif bahasa Latin tradisional dan filsafat sekolah yang diwakili oleh filosuf Khatolik seperti St. Thomas Aquinas. Selain bahasa Latin, Romawi, atau Yunani, aliran linguistik tradisional ini juga dianut oleh ilmuwan bahasa Ibrani dan bahasa Arab. Pada masa ini mulai dikenal sistem alfabetik atau huruf hijaiyyah yang dijadikan tatatulis ortografis. Kajian kelas kata, fonetis-fonologis, tatakalimat dan tatamaknayang dideskripsikan melalui batasan- batasan metabahasa dan konseptual menjadi ciri utama telaah kebahasaan aliran tradisional (lihat Crane dkk., 1981; Robin, 1990; Parera, 1991).

Aliran linguistik modern, telaah kebahasaan yang diakui sebagai cabang ilmu pegentahuan, mulai lahir pada abad ke-19. Perkembangan baru dalam linguistik ini dipicu oleh perhatian yang mendalam terhadap data nyata dan struktur kebahasaan yang membentuk bahasa secara lahiriah. Bentuk kajian linguistik yang paling mendasar pada masa awal lahirnya linguistik modern ini adalah linguistik bandingan-historis yang diikuti oleh dialektogi geografis tradisional. William Jones (1747 – 1794) adalah salah seorang ahli lingusitik yang dikenal sebagai orang pertama sebagai peneliti di bidang linguistik historis-bandingan. Dia meneliti perbandingan dan sejarah-hubungan genetis bahasa- bahasa Yunani, Latin, Gothik, dan Sanskerta. Ilmuwan lain yang berada dalam aliran linguistik modern awal ini antara lain Franz Bopp, Rasmus Rask, dan rekan-rekannya yang mengembangkan kajian mereka pada perbandingan bahasa Indo-Eropa lainnya. Selanjutnya, pada akhir abad ke-19 lahir aliran neo-grammarian yang lebih memperhatikan dan mengutamakan kajian sistem struktur lahiriah bahasa pada setiap lapisan bentuk bahasa manusia. Wilhelm von Humbolt (1767 – 1835) adalah ilmuwan yang dikenal pada masa itu dalam mengembangkan kajian ketatabahasaan dan pengkaidahannya berdasarkan data empiris. Itulah sebabnya, aliran linguistik yang menandai lahirnya linguistik modern dikenal juga dengan Linguistik Struktural

(Structural Linguistics) (Crane dkk., 1981; Robin, 1990; Parera, 1991).

Aliran pembaharuan dalam linguistik struktural yang lebih sistematis dan didasarkan pada logika filsafat bahasa muncul pada akhir abad ke-19 dan dikembangkan lebih jauh pada awal abad ke-20. Pada masa ini lahir aliran linguistik struktural sinkronik dan diakronik yang merupakan bentuk kajian kebahasaan berdasarkan periode waktu, sebagai pengembangan dari linguistik historis. Linguistik sinkronik adalah bentuk kajian kebahasaan dalam satu periode waktu, sedangkan linguistik diakronik adalah bentuk kajian kebahasaan yang dilakukan secara lintas waktu. Pada masa ini juga termahsyur istilah linguistik deskriptif dan linguistik preskriptif. Linguistik deskriptif adalah bentuk kajian kebahasaan yang didasarkan pada data dan fakta empiris apa adanya, sedangkan linguistik preskriptif adalah bentuk kajian linguistik normatif-idealis yang mengarah ke telaah apa yang seharusnya secara logika dan normatif. Ilmuwan seperti Otto Jesperson, Ferdinand de Saussure, dan Leonard Bloomfield adalah orang berjasa meletakkan dasar-dasar linguistik modern dengan aliran struktural (lihat lebih jauh Crane dkk., 1981; Robin, 1990; Parera, 1991).

Inovasi baru teori dan model kajian linguistik modern yang lebih bersifat psikologis-mentalis lahir pada pertengahan abad ke-20 yang dipelopori oleh Noam Chomsky melalui aliran tatabahasa transformasi generatif. Inovasi linguistik modern ini muncul sebagai reaksi atas ketidakpuasan ilmuwan bahasa atas hasil kajian linguistik struktural. Linguistik modern selanjutnya terus berkembang ke bentuk-bentuk kajian linguistik aliran fungsional dan tipologi linguistik yang merupakan bentuk kajian perbandingan lintas-bahasa. Teori tatabahasa seperti Tatabahasa Penguasaan dan Pengikatan, Tatabahasa Leksikal Fungsional, Tatabahasa Relasional, Tatabahasa Peran dan Referensi, dan Tipologi Linguistik Gramatikal dan Fungsional adalah teori-teori kajian ketatabahasaan yang lahir pada akhir abad ke-20. Kemungkinan perkembangan teori tatabahasa ini terus terlihat

dan boleh jadi akan terus melahirkan aliran-aliran lain pada abad ke-21 ini (Crane dkk., 1981; Jufrizal, 2012).