• Tidak ada hasil yang ditemukan

Menurut Fussel (2006) kerentanan adalah sebuah konsep utama dalam penelitian perubahan iklim sama seperti dengan peneitian komunitas yang berhadapan dengan bencana alami, manajemen bencana, ecology, kesehatan publik, kemiskinan dan perkembangan, keamanan nafkah dan kelaparan, ilmu berkelanjutan, serta perubahan lahan. Menurut Smit dan Wandel (2006) konsep dari adaptasi, kapasitas adaptasi, resiliensi, keterpaparan dan sensitifitas berhubungan. Lanjut menurut Smit dan Wandel (2006) adaptasi merupakan sebuah konsep yang berasosiasi dengan kapasitas adaptasi dan kerentanan. Lebih lanjut lagi (Smit dan Wandel 2006) kapasitas adaptasi merupakan kemampuan untuk adaptasi yang dipengaruhi oleh memampuan managerial, akses ke finansial, teknologi dan informasi, infrastruktur, serta lingkungan institusional. Secara garis besar konsep kerentanan dibagi menjadi 3, yaitu keterpaparan, sensitivitas dan kapasitas adaptasi. Desa Karangligar memiliki dua wilayah yang di teliti dalam penelitian ini yaitu dusun pangasinan serta dusun kampek dimana kedua wilayah tersebut merupakan wilayah banjir dan non banjir. Oleh karena itu bab ini akan menjelaskan bagaimana kerentanan di kedua wilayah tersebut.

Analisis Perhitungan Livelihood Vulnerability Index di Wilayah Banjir Kerentanan nafkah merupakan merupakan kondisi ketika suatu individu atau rumatangga mengalami tekanan dan guncangan sumber-sumber nafkah yang dimilikinya, sehingga keberlanjutan penghidupan dan kehidupan terancam (Hahn et al., 2009 dalam Amalia 2016). Nilai Komponen pada Livelihood Vulnerability Index (LVI) yaitu -1 sampai dengan 1. Nilai -1 berarti semakin mendekati nilai -1 maka akan semakin rendah nilai kerentanannta, sebaliknya semakin tinggi nilainya hingga mencapai 1 maka semakin rentan daerah tersebut.

Kerentanan di dusun pangasinan di Desa Karangligar diukur melalui keterpararan yaitu banjir. sensitivitasnya yaitu diukur dengan ketidak pastian terhadap bantuan, ketidak pastian terhadap jaminan, dan banyaknya anggota keluarga non produktif. Kapasitas adaptasinya diukur dengan tabungan cash,tabungan emas, tabungan ternak, persentase penjualan harta benda untuk perbaikan lahan, serta tingkat pemanfaatan teknologi. Penjelasan LVI akan di jelaskan di tabel berikut.

Dari perhitungan dari tabel 2 dari tiap – tiap komponen yang menyusun LVI di dapatkan nilai LVI bagi rumahtangga di wilayah banjir di Dusun Pangasinan, Desa Karangligar yaitu sebesar 0,26 dan nilai ini berarti bernilai tinggi. Nilai tersebut diambil dari exposure (0,70) bernilai tinggi, sensitivity (0,69) bernilai tingi dan adaptice capacity(0,44) dan tergolong rendah.

Nilai kerentananan pada komponen-komponen yang terdapat di banjir merupakan tinggi. Persentase sawah yang rusak bernilai 1. Nilai ini tergolong sangat tinggi, hal ini berarti seluruh tumahtangga terkena paparan banjir dan menyebabkan sawahnya rusak. Persentase produksi sawah yang rusak bernilai sangat tinggi juga sama seperti persentase sawah yang rusak, persentase turunnya produksi sawah bernilai 1. Hal ini berarti seluruh rumahtangga yang terkena banjir

pasti produksi sawahnya menurun akibat banjir yang membawa limbah dan menyebabkan puso. Jarak lahan dengan sungai bernilai 0,096 hal ini berarti lahan yang dimiliki tidak berada dekat dengan dengan sungai yang menyebabkan banjir.

Nilai kerentanaan pada komponen-komponen jaringan sosial terdapat persentase ketidak pastian terhadap jaminan, yang bernilai 0,97 hal ini bernilai sangat tinggi dan berarti bahwa rumahtangga tidak menjaminkan lahannya ketika banjir tiba tetapi hanya membiarkan lahnnya seperti itu saja. Tingkatketidak pastian terhadap bantuan bernilai rendah (0,28). Nilai ini berarti bantuan sering didapatkan oleh rumahtangga ketika banjir tiba, entah dari desa, ataupun dari sumber lainnya. Nilai anggota keluarga yang tidak bekerja sebesar 0,83. Nilai ini berarti bahwa anggota yang tidak produktif berjumlah banyak atau yang tidak bekerja berjumlah banyak.

Tingkat Keberfungsian lembaga bernilai 0,50. Hal ini berartu lembaha yang terjadi di daerah banjir dianggap oleh rumahtangga tidak bekerja 100% dan bernilai sedang saja. Tabungan cash bernilai 0,17. Nilai ini berarti rumahtangga hanya sedikit yang memiliki tabungan berupa uang cash dalam wilayah banjir dan nilai ini berupa rendah. Tabungan ternak bernilai 0,22 tabungan emas bernilai 0,33. Hal ini berarti bahwa petani lebih sering menabung emas dibandingkan menabung dengan cash ataupun ternak untuk menghadapi krisis. persentase penjualan harta benda untuk perbaikan lahan bernilai 0,44 nilai ini bersifat rendah karena petani cenderung mendiamkan lahannya ketika banjir dan menyebabkan puso. tingkat pemanfaatan teknologi bernilai 0,98 yang berarti rumahtangga mengandalkan teknologi untuk mengetahui terkait banjir dan mengantisipasi banjir yang akan datang.

Tabel 2. Livelihood Vulnerability Index Dusun Pangasinan, Desa Karangligar tahun 2014 – 2015

Variabel Sub Komponen Nilai Sub Komponen

Komponen utama nilai komponen Utama

Exposure Jarak lahan Dengan Sungai 0,096 Banjir 0,70

Presntase Sawah Yang rusak 1 Persentase turunnya produksi sawah

1 Sensitivy persentase ketidakpastian

terhadap jaminan

0,97 Jaringan Sosial 0,57

Tingkat Ketidakpastian terhadap bantuan

0,28 anggota keluarga yang tidak bekerja

0,46 Adaptive

Capacity

Tingkat Keberfungsian Lembaga 0,5 Lembaga 0,44

Tabungan Cash 0,17 Tabungan

Tabungan Ternak 0,22

Tabungan emas 0,33

Persentase Penjualan harta benda untuk perbaikan lahan

0,44 Pola Penggunaan Lahan

Tingkat Pemanfaatan Teknologi 0,98 Penggunaan Teknologi

Tabel 3. Livelihood Vulnerability Index lapisan atas Dusun Pangasinan, Desa Karangligar tahun 2014 – 2015.

Variabel Sub Komponen Nilai Sub Komponen

Komponen utama nilai komponen Utama

Exposure Jarak lahan Dengan Sungai 0,13 Banjir 0,71 Presntase Sawah Yang rusak 1

Persentase turunnya produksi sawah

1 Sensitivy persentase ketidakpastian

terhadap jaminan

0.92 Jaringan Sosial 0,49 Tingkat Ketidakpastian terhadap

bantuan

0,22 anggota keluarga yang tidak bekerja

0,34 Adaptive

Capacity

Tingkat Keberfungsian Lembaga 0,50 Lembaga 0,49

Tabungan Cash 0,33 Tabungan

Tabungan Ternak 0,31

Tabungan emas 0,19

Persentase Penjualan harta benda untuk perbaikan lahan

0,6 Pola Penggunaan Lahan

Tingkat Pemanfaatan Teknologi 1 Penggunaan Teknologi

Nilai LVI 0,11

Rumahtangga di wilayah banjir (tabel 3) memiliki nilai Livelihood Vulnerability Index (LVI) yang berbeda – beda akibat banjir. Kerentanan tersebut dapat dilihat dari perhitungan LVI dari masing – masing rumahtangga (Tabel 3, Tabel 4 dan Tabel 5). Nilai Livelihood Vulnerability Index lapisan atas adalah 0,11. Nilai ini mennunjukan lapisan atas memiliki arti kerentanan yang rendah akibat adanya banjir. Nilai kerentanan lapisan atas di wilayah banjir desa Karangligar memiliki nilai yang rendah karena nilai adaptive capacity yang dimiliki oleh oleh lapisan atas tergolong sedang (0,49) sehingga dapat menekan exposure (0,71) akibat banjir.

Ketiga nilai komponen LVI pada rumahtangga lapisan atas yaitu. Keterpaparan, sensitifitas dan kapasitas adaptasi mempunyai nilai kerentanan yang berbeda – beda. Dalam keterpaparan nilai kerentanan yang ada tergolong tinggi (0,71) hal ini akibat persentase sawah yang rusak dan persentase turunnya produksi sawah bernilai mutlak (1) yang menghantam rumahtangga lapisan atas terkena banjir layaknya rumahtangga lapisan bawah dan rumahtangga lapisan menengah. Sensitifitas yang berupa persentase terhadap ketidakpastian terhadap jaminan, tingkat ketidak pastian terhadap bantuan, serta anggota rumahtangga yang tidak bekerja. Tingkat ketidak pastian terhadap jaminan yang tinggi akibat rumahtangga hanya menjaminkan lahannya kepada “gadai” untuk mendapatkan uang. Tingkat ketidak pastian terhadap bantuan bersifat rendah karena rumahtangga lapisan atas selain mendapat bantuan dari desa dan kerabat berupa bibit, makanan, atapun pakaian, rumahtangga lapisan atas juga mendapatkan bantuan berasal dari perusahaan dimana anggota rumahtangganya bekerja. Jumlah anggota keluarga yang bekerja bernilai tidak terlalu tinggi, ini berarti banyak anggota keluarga yang bekerja dibandingkan yang tidak bekerja. Nilai dari

adaptive capacity dari LVI lapisan atas terbilang sedang dengan poin sebanyak (0,49). Dengan nilai tertingggi dari kapasitas adaptasi merupakan dari pemanfaatan teknologi yang berarti rumahtangga untuk menanggulangi banjir atau menangani banjir memanfaatkan teknologi yang mereka punya.

Tabel 4. Livelihood Vulnerability Index lapisan menengah Dusun Pangasinan, Desa Karangligar tahun 2014 – 2015.

Variabel Sub Komponen Nilai Sub Komponen

Komponen utama Nilai komponen utama

Exposure Jarak lahan Dengan Sungai 0,15 Banjir 0,72 Presntase Sawah Yang rusak 1

Persentase turunnya produksi sawah

1 Sensitivy persentase ketidakpastian

terhadap jaminan

0,97 Jaringan Sosial 0,56 Tingkat Ketidakpastian terhadap

bantuan

0,28 anggota keluarga yang tidak bekerja

0,44 Adaptive

Capacity

Tingkat Keberfungsian Lembaga 0,55 Lembaga 0,41

Tabungan Cash 0,2 Tabungan

Tabungan Ternak 0,2

Tabungan emas 0,2

Persentase Penjualan harta benda untuk perbaikan lahan

0,36 Pola Penggunaan Lahan

Tingkat Pemanfaatan Teknologi 0,94 Penggunaan Teknologi

Nilai LVI 0,31

Rumahtangga lapisan menengah memiliki kerentanan akibat banjir yang berbeda dengan kerentanan rumahtangga lapisan atas dan lapisan bawah. Nilai Livelihood Vulnerability Index dari lapisan menengah bernilai 0,31. Dimana nilai dari exposure bernilai 0,72, sensitivity bernilai 0,56, dan Adaptice capacity bernilai 0,41.

Ketiga nilai komponen LVI pada rumahtangga lapisan atas yaitu. Keterpaparan, sensitifitas dan kapasitas adaptasi mempunyai nilai kerentanan yang berbeda – beda. Dalam keterpaparan nilai kerentanan yang ada tergolong tinggi (0,72) hal ini akibat persentase sawah yang rusak dan persentase turunnya produksi sawah bernilai mutlak (1) yang menghantam rumahtangga lapisanmenengah sama seperti lapisan atas dan lapisan bawah. Sensitifitas yang berupa persentase terhadap ketidakpastian terhadap jaminan, tingkat ketidak pastian terhadap bantuan, serta anggota keluarga yang tidak bekerja. Tingkat ketidak pastian terhadap jaminan yang tinggi akibat rumahtangga hanya menjaminkan lahannya kepada “gadai” untuk mendapatkan uang seperti dengan tindakan rumahtangga lapisan atas. Tingkat ketidak pastian terhadap bantuan bersifat rendah karena rumahtangga menengah selain mendapat bantuan dari desa dan kerabat berupa bibit, makanan, atapun pakaian, rumahtangga lapisan atas juga mendapatkan bantuan berasal dari perusahaan dimana anggota rumahtangganya bekerja. Jumlah anggota keluarga yang bekerja bernilai tidak terlalu tinggi, ini

berarti banyak anggota keluarga yang bekerja dibandingkan yang tidak bekerja. Nilai dari adaptive capability dari LVI menengah terbilang sedang dengan poin sebanyak (0,41). Dengan nilai tertingggi dari kapasitas adaptasi merupakan dari pemanfaatan teknologi yang berarti rumahtangga untuk menanggulangi banjir atau menangani banjir memanfaatkan teknologi yang mereka punya.

Nilai LVI dari rumahtangga lapisan menengah lebih besar daripada lapisan atas, hal ini diakibatkan kapasitas adaptasi dari lapisan rumahtangga menengah lebih kecil dari pada lapisan atas. Lapisan atas memiliki sensitifitas yang lebih kecil juga dari pada lapisan menengah, dimana sensitifitas pada lapisan memengah memiliki persentase anggota keluarga yang tidak bekerja lebih banyak dibandingkan dengan persentase dari rumahtangga lapisan atas. Nilai kapasitas adaptasi pada rumahtangga lapisan menengah juga lebih rendah daripada rumahtangga lapisan atas, pada bagian tingkat pemanfaatan teknologi dimana rumahtangga lapisan atas pada setiap rumahtangga mampu memiliki teknologi yang memberitahukan akan adanya bencanya yang datang dan rumahtangga mampu bersiap – siap namun pada rumahtangga lapisan menengah hal tersebut tidak ada.

Tabel 5.Livelihood Vulnerability Index lapisan bawah Dusun Pangasinan, Desa Karangligar tahun 2014 – 2015.

Variabel Sub Komponen Nilai Sub Komponen

Komponen utama nilai komponen Utama

Exposure Jarak lahan Dengan Sungai 0,03

Banjir

0,68 Presntase Sawah Yang rusak 1

Persentase turunnya produksi

sawah 1

Sensitivy persentase ketidakpastian terhadap jaminan 1,00

Jaringan Sosial

0,62 Tingkat Ketidakpastian terhadap

bantuan 0,32

anggota keluarga yang tidak

bekerja 0,55

Adaptive Capacity

Tingkat Keberfungsian Lembaga 0,46 Lembaga 0,43

Tabungan Cash 0,04

Tabungan Tabungan Ternak 0,19

Tabungan emas 0,38

Persentase Penjualan harta benda untuk perbaikan lahan 0,52

Pola Penggunaan Lahan

Tingkat Pemanfaatan Teknologi 1

Penggunaan Teknologi

Nilai LVI 0,16

Rumahtangga lapisan bawah memiliki nilai Livelihood Vulnerability Index akibat banjir memiliki nilai yang berbeda dengan rumahtangga lapisan atas dan rumahtangga lapisan menengah. Nilai kerentanan di lapisan rumahtangga lapisan bawah terbilang rentan yaitu bernilai 0,16.

Nilai Livelihood Vulnerability Index lapisan bawah adalah 0,16. Nilai ini mennunjukan lapisan bawah memiliki arti kerentanan yang rendah akibat adanya banjir. Nilai kerentanan lapisan atas di wilayah banjir Desa Karangligar memiliki

nilai yang rendah karena nilai adaptice capacity yang dimiliki oleh oleh lapisan atas tergolong sedang (0,43) sehingga dapat menekan exposure (0,68) akibat banjir. Keterpaparan dari lapisan bawah lebih rendah dari pada kedua lapisan diatas akibat jarak lahan dengan sungai bernilai rendah yaitu 0,03. Nilai dari sensivity bernilai 0,62 dan besar pada ketidakpastian terhadap jaminan, dimana jaminannya bernilai (1) yang berarti rumahtangga lapisan bawah tidak pernah menjaminkan lahannya. Rumahtangga lapisan bawah pada adaptive capacity memiliki nilai yang tinggi pada pemanfaatan teknologi yaitu bernilai mutlak (1).

Nilai Livelihood Vulnerability Index dari lapisan bawah lebih rendah dibandingkan lapisan menengah, hal ini disebabkan lapisan bawah mendapatkan lebih banyak bantuan dibandingkan lapisan menengah, hal ini yang menyebabkan lapisan bawah lebih mampu survive ketika terjadi banjir.

Analisis Perhitungan Livelihood Vulnerability Index di Wilayah Non Banjir Kerentanan nafkah merupakan merupakan kondisi ketika suatu individu atau rumatangga mengalami tekanan dan guncangan sumber-sumber nafkah yang dimilikinya, sehingga keberlanjutan penghidupan dan kehidupan terancam (Hahn et al., 2009 dalam Amalia 2016). Nilai Komponen pada Livelihood Vulnerability Index (LVI) yaitu -1 sampai dengan 1. Nilai -1 berarti semakin mendekati nilai -1 maka akan semakin rendah nilai kerentanannta, sebaliknya semakin tinggi nilainya hingga mencapai 1 maka semakin rentan daerah tersebut.

Kerentanan di dusun kampek di desa Karangligar diukur melalui keterpararan yaitu banjir. sensitivitasnya yaitu diukur dengan ketidak pastian terhadap bantuan, ketidak pastian terhadap jaminan, dan banyaknya anggota keluarga non produktif. Kapasitas adaptasinya diukur dengan tabungan cash,tabungan emas, tabungan ternak, persentase penjualan harta benda untuk perbaikan lahan, serta tingkat pemanfaatan teknologi. Penjelasan LVI akan di jelaskan di tabel berikut.

Tabel 6. .Livelihood Vulnerability Index Dusun Kampek, Desa Karangligar tahun 2014 – 2015.

Variabel Sub Komponen

Nilai Sub

Komponen Komponen utama

nilai komponen

Utama Exposure

Jarak lahan Dengan Sungai 0,25

Banjir

0,08

Presntase Sawah Yang rusak 0

Persentase turunnya produksi sawah 0

Sensitivy persentase ketidakpastian terhadap

jaminan 1

Jaringan Sosial

0,60

Tingkat Ketidakpastian terhadap

bantuan 0,46

anggota keluarga yang tidak bekerja 0,51

Adaptive

Capacity Tingkat Keberfungsian Lembaga 0,56 Lembaga

0,44

Tabungan Cash 0,08

Tabungan

Tabungan Ternak 0,38

Tabungan emas 0,38

Persentase Penjualan harta benda

untuk perbaikan lahan 0,23

Pola Penggunaan

Lahan

Tingkat Pemanfaatan Teknologi 1

Penggunaan Teknologi

Nilai LVI -0,23

Dari perhitungan dari tiap – tiap komponen yang menyusun LVI di dapatkan nilai LVI bagi rumahtangga di wilayah banjir di Dusun Kampek, Desa Karangligar yaitu sebesar – 0,23 dan nilai ini berarti resiliensi rumahtangga di wilayah non banjir di dusun kampek terhitung rendah atau nilai vulnerability yang dimiliki sangat rendah. Nilai tersebut diambil dari exposure (0,08) bernilai rendah, sensitivity (0,60) bernilai tingi dan adaptice capacity(0,44) dan tergolong rendah.

Nilai kerentananan pada komponen-komponen yang terdapat di banjir merupakan tinggi. Persentase sawah yang rusak bernilai 0. Nilai ini tergolong sangat rendah, hal ini terjadi karena rumahtangga wilayah non banjir tidak terkena banjir. Persentase produksi sawah yang rusak bernilai sangat rendah juga sama seperti persentase sawah yang rusak, persentase turunnya produksi sawah bernilai 0.nilai rendah ini berarti rumahtangga di wilayah non banjir tidak mengalami penurunan produksi karena tidak terkena banjir. Jarak lahan dengan sungai bernilai 0,25 hal ini berarti lahan yang dimiliki tidak berada dekat dengan dengan sungai yang menyebabkan banjir.

Nilai kerentanaan pada komponen-komponen jaringan sosial terdapat persentase ketidak pastian terhadap jaminan, yang bernilai 1 hal ini bernilai sangat tinggi dan berarti bahwa rumahtangga tidak menjaminkan lahannya ketika banjir tiba tetapi hanya membiarkan lahnnya seperti itu saja. Tingkat ketidak pastian terhadap bantuan bernilai sedang 0,46. Nilai ini berarti bantuan jarang di dapatkan antar ruahtanggga petani. Nilai anggota keluarga yang tidak bekerja sebesar 0,51. Nilai ini berarti bahwa anggota yang tidak produktif berjumlah sedang.

Tingkat Keberfungsian lembaga bernilai 0,56. Hal ini berarti lembaga yang terjadi di daerah banjir dianggap oleh rumahtangga tidak bekerja 100% dan bernilai sedang saja. Tabungan cash bernilai 0,08. Nilai ini berarti rumahtangga hanya sedikit yang memiliki tabungan berupa uang cash dalam wilayah banjir dan

nilai ini berupa rendah. Tabungan ternak bernilai 0,38. Nilai ini berarti rumahtangga memiliki ternah untuk dijual kembali ketika terjadi musibah. Tabungan emas bernilai 0,38. Hal ini berarti bahwa petani lebih sering menabung emas dibandingkan menabung dengan cash krisis. persentase penjualan harta benda untuk perbaikan lahan bernilai 0,23 nilai ini bersifat rendah karena petani cenderung mendiamkan lahannya ketikaterjadi krisis. Tingkat pemanfaatan teknologi bernilai 1 yang berarti rumahtangga mengandalkan teknologi untuk mengetahui terkait banjir dan mengantisipasi banjir yang akan datang.

Tabel 7.Livelihood Vulnerability Index lapisan atas Dusun Kampek, Desa Karangligar tahun 2014 – 2015.

Variabel Sub Komponen Nilai Sub Komponen

Komponen utama Nilai komponen utama

Exposure Jarak lahan Dengan Sungai 0,11 Banjir 0,04 Presntase Sawah Yang rusak 0

Persentase turunnya produksi sawah

0 Sensitivy persentase ketidakpastian

terhadap jaminan

1,00 Jaringan Sosial 0,72 Tingkat Ketidakpastian terhadap

bantuan

0,7 anggota keluarga yang tidak bekerja

0,47 Adaptive

Capacity

Tingkat Keberfungsian Lembaga 0,56 Lembaga 0,46

Tabungan Cash 0,08 Tabungan

Tabungan Ternak 0,26

Tabungan emas 0,65

Persentase Penjualan harta benda untuk perbaikan lahan

0,2 Pola Penggunaan Lahan

Tingkat Pemanfaatan Teknologi 1 Penggunaan Teknologi

Nilai LVI -0,30

Dari perhitungan dari tiap – tiap komponen yang menyusun LVI di dapatkan nilai LVI bagi rumahtangga di wilayah non banjir di Dusun Kampek, Desa Karangligar yaitu sebesar -0,30 dan nilai ini berarti bernilai rendah. Nilai tersebut diambil dari exposure (0,04) bernilai rendah, sensitivity (0,72) bernilai tingi dan adaptice capacity(0,46) dan tergolong rendah.

Nilai kerentananan pada komponen-komponen yang terdapat dalam komponen tinggi. Persentase sawah yang rusak bernilai 0. Nilai ini tergolong rendah, hal ini berarti seluruh tumahtangga tidak terkena paparan banjir Persentase produksi sawah yang rusak 0 karena sama sekali tidak ada sawah yang rusak akibat banjir, dikarenakan bencana banjir tidak mengenai Dusun Kampek.

Nilai kerentanaan pada komponen-komponen jaringan sosial terdapat persentase ketidak pastian terhadap jaminan, yang bernilai 1 hal ini bernilai sangat tinggi dan berarti bahwa rumahtangga tidak menjaminkan lahannya dan tidak mempersiapkan lahannya bila ada kemungkinan terburuk. Tingkat ketidak pastian terhadap bantuan bernilai rendah (0,7). Nilai ini berarti bantuan jarang di dapatkan oleh rumahtangga yang tidak terkena banjir akibat petani jarang meminta bantuan

terhadap desa, kerabat atau pihak lain terkait krisis akibat banjir. Nilai anggota keluarga yang tidak bekerja sebesar 0,47. Nilai ini berarti bahwa anggota yang tidak produktif berjumlah lebih sedikit daripada rumahtangga yang terkena banjir.

Tingkat Keberfungsian lembaga bernilai 0,56. Hal ini berarti lembaga di daerah banjir bekerja seperti biasa. Tabungan cash bernilai 0,08. Nilai ini berarti rumahtangga hanya sedikit yang memiliki tabungan berupa uang cash dalam wilayah non banjir dan nilai ini berupa rendah. Tabungan ternak bernilai 0,26 tabungan emas bernilai 0,65. Hal ini berarti bahwa rumahtangga lebih sering menabung emas dibandingkan menabung dengan cash ataupun ternak untuk menghadapi krisis. persentase penjualan harta benda untuk perbaikan lahan bernilai 0,2 hal ini berarti rumahtangga di wilayah non banjir tidak bersiap – siap untuk memperbaiki lahan ketika bencana banjir tiba. tingkat pemanfaatan teknologi bernilai 1 yang berarti rumahtangga mengandalkan teknologi untuk mengetahui terkait banjir dan mengantisipasi banjir yang akan datang.

Tabel 8. Livelihood Vulnerability Index lapisan menengah Dusun Kampek, Desa Karangligar tahun 2014 – 2015.

Variabel Sub Komponen Nilai Sub Komponen

Komponen utama nilai komponen Utama

Exposure Jarak lahan Dengan Sungai 0,16 Banjir 0,05 Presntase Sawah Yang rusak 0

Persentase turunnya produksi sawah

0 Sensitivy persentase ketidakpastian

terhadap jaminan

1,00 Jaringan Sosial 0,77 Tingkat Ketidakpastian terhadap

bantuan

0,8 anggota keluarga yang tidak bekerja

0,51 Adaptive

Capacity

Tingkat Keberfungsian Lembaga 0,58 Lembaga 0,44

Tabungan Cash 0,13 Tabungan

Tabungan Ternak 0,58

Tabungan emas 0,16

Persentase Penjualan harta benda untuk perbaikan lahan

0,2 Pola Penggunaan Lahan

Tingkat Pemanfaatan Teknologi 1 PenggunaanTeknologi

Nilai LVI -0,30

Dari perhitungan dari tiap – tiap komponen yang menyusun LVI di dapatkan nilai LVI bagi rumahtangga di wilayah non banjir di Dusun Kampek, Desa Karangligar yaitu sebesar -0,30 dan nilai ini berarti bernilai rendah. Nilai tersebut diambil dari exposure (0,05) bernilai rendah, sensitivity (0,77) bernilai tingi dan adaptice capacity(0,44) dan tergolong rendah.

Nilai kerentananan pada komponen-komponen yang terdapat dalam komponen tinggi. Persentase sawah yang rusak bernilai 0. Nilai ini tergolong rendah, hal ini berarti seluruh tumahtangga tidak terkena paparan banjir Persentase produksi sawah yang rusak 0 karena sama sekali tidak ada sawah yang rusak akibat banjir, dikarenakan bencana banjir tidak mengenai dusun kampek.

Nilai kerentanaan pada komponen-komponen jaringan sosial terdapat persentase ketidak pastian terhadap jaminan, yang bernilai 1 hal ini bernilai sangat tinggi dan berarti bahwa rumahtangga tidak menjaminkan lahannya dan tidak mempersiapkan lahannya bila ada kemungkinan terburuk. Tingkat ketidak pastian terhadap bantuan bernilai tinggi (0,8). Nilai ini berarti hampir tidak pernah di dapatkan oleh rumahtangga yang tidak terkena banjir akibat rumahtangga jarang meminta bantuan terhadap desa, kerabat atau pihak lain terkait krisis akibat banjir. Nilai anggota keluarga yang tidak bekerja sebesar 0,51. Nilai ini berarti bahwa anggota yang tidak produktif berjumlah lebih banyak daripada lapisan atas rumahtangga di wilayah non banjir.

Tingkat Keberfungsian lembaga bernilai 0,58. Hal ini berarti lembaga di daerah banjir bekerja seperti biasa. Tabungan cash bernilai 0,13. Nilai ini berarti rumahtangga hanya sedikit yang memiliki tabungan berupa uang cash dalam wilayah non banjir dan nilai ini berupa rendah. Tabungan ternak bernilai 0,58 tabungan emas bernilai 0,16.Hal ini berarti rumahtangga lapisan menengah lebih memilih untuk memelahara ternak sebagai tabungan bila kritis melanda dibandingkan tabungan emas serta cash. Persentase penjualan harta benda untuk perbaikan lahan bernilai 0,2 hal ini berarti rumahtangga di wilayah non banjir tidak bersiap – siap untuk memperbaiki lahan ketika bencana banjir tiba. tingkat pemanfaatan teknologi bernilai 1 yang berarti rumahtangga mengandalkan teknologi untuk mengetahui terkait banjir dan mengantisipasi banjir yang akan