ILMU PENGETAHUAN - SAINS
Pasal 2. LOGIKA TERHADAP: QUALITY DAN QUANTITY
Terhadap single-proposition, simpulan yang tunggal, kita sudah tahu bagaimana Logika berlaku. Kalau dikata “kuda itu seluruhnya dipandang dari sudut ini warnanya putih, ini tidak mengandung arti “kuda itu seluruhnya dipandang dari sudut itu juga hitam”. (Ingat definisi Ueberweg!).
Terhadap “Universal-proposition”, simpulan bulat, yakni yang akan dibicarakan pada pasal ini, maka Logika mengadakan pembagian, yang terpisah seperti berikut:
1. Simpulan yang bulat dan ber-ya, mengesahkan atau genaral and affirmative proposition. 2. Simpulan bulat dan ber-tidak, membatalkan negative; general negative proposition. 3. Simpulan pecahan dan mengesahkan particular affirmative proposition.
4. Simpulan-pecahan dan membatalkan, particular negative proposition.
(Peringatan: Simpulan bukan kalimat. Dengan simpulan atau putusan saja maksud ialah sesuatu pemeriksaan, a judgment, Inggrisnya. Umpamanya: Semua yang bernyawa mesti akan mati. Kalimat itu tiadalah perlu satu kesimpulan. Umpamanya: si Ahmad menendang bola). Perhatikan:
A. Simpulan bulat yang ber-ya. Formule-ya: semua S (ter) masuk P. B. Simpulan pecahan yang ber-ya, sebagian S (ter) masuk P.
C. Simpulan bulat yang ber-tidak, tak ada S (ter) masuk P. D. Simpulan pecahan ber-tidak, sebagian S (tidak) masuk P.
(Peringatan: Buku Logika biasanya tidak memakai huruf diatas melainkan berikut-ikut A E I dan O. Saya pikir lebih mudah diperingatkan dengan huruf A B C D).
Misal:
A. Semua manusia itu cerdik. B. Tak ada manusia cerdik.
C. Sebagian manusia cerdik. D. Sebagian manusia tak cerdik.
Menurut Logika, kalau A benar, B mesti salah. Kalau benar bahwa “semua manusia itu cerdik” maka simpulan “tak ada manusia itu cerdik” mesti salah. Begitu juga sebaliknya. Kalau B itu benar, maka A mesti salah. Kalau benar bahwa “tak-ada manusia itu cerdik”, maka simpulan semua manusia itu cerdik, mesti salah. Menurut Logika A dan B itu incompatible tak bisa benar, kedua berselisih. A dan B dinamai contrarty proposition, simpulan yang bertentangan.
Tetapi kalau A itu salah, maka B boleh jadi salah, tetapi boleh pula jadi benar. Kalau salah simpulan kita bahwa “semua manusia itu cerdik”, maka boleh jadi salah juga simpulan, bahwa “Tak ada manusia itu cerdik”. Karena boleh jadi “sebagian” saja manusia yang tak cerdik dan sebagian cerdik. Jadi tidak benar, ialah salah kalau dikatakan, bahwa “tak ada manusia itu cerdik”. Tetapi boleh jadi juga benar, bahwa tak ada manusia itu cerdik. Pendeknya kalau A itu salah B boleh benar dan boleh jadi salah. Begitu juga sebaliknya, kalau B itu salah, A boleh benar dan boleh salah. Kalau diuji dengan formule kita peroleh: Kalau semua S masuk P benar, maka “tak ada S masuk P” itu salah. Tetapi kalau semua “S masuk P” itu salah, maka “tak ada S masuk P” boleh jadi benar dan boleh jadi salah. Jadi mungkin A dan B salah keduanya. Definisi: Contrary proposition, simpulan bertentangan, ialah simpulan yang incompatible, berselisih tak bisa berna keduanya, tetapi bisa salah keduanya.
Sekarang kita bandingkan A dengan D. Kalau A benar, D mesti salah. Dan kalau D itu salah, maka A itu mesti benar. Kalau benar bahwa “Semua manusia itu cerdik”, maka salahlah kalau kita katakan, bahwa “sebagian manusia itu tak cerdik”. Dan kalau benar, bahwa “sebagian manusia itu tak-cerdik”, maka salahlah pula putusan kita, bahwa “semua manusia itu cerdik”. A dan D dinamai contradictory, berlawanan betul-betul, bertentangan.
Dengan formula: Kalau “semua S masuk P” itu benar, maka “sebagian S tidak masuk P” salah. Dan kalau “sebagian S itu tidak masuk P” benar, maka salahlah “semua S masuk P”. Definisi: Contradictory proposition, simpulan berlawanan, ialah dua simpulan yang salah satunya mesti benar, dan salah satunya mesti salah.
(Peringatan: Incompatible sementara saya Indonesiakan dengan berselisih:contrary dengan pertentangan; contradictory dengan berlawanan. Jadi bertentangan lebih tajam dari berselisih dan berlawanan lebih tajam dari bertentangan).
Pada penguraian Logika diatas tercantum lagi A itu, ialah A bukan non-A. Kritik atas pengertian bulatnya “in the board sense” tentang perkara ini sudah cukup dijalankan! Tetapi arti terkhusus “A=A” itu yang oleh Ilmu Bukti mesti diperhatikan, tiadalah pula boleh kita lupakan. Lebih-lebih pada sesuatu karangan yang panjang atau pada suatu buku kita mudah melupakannya. Orang sering lupa dan kadang-kadang sengaja melupakan, bahwa pada permulaan karangan orang artikan sesuatu kata kalimat atau undang dengan arti lain dari arti pada pertengahan atau ujung karangannya. Pada hal ini kita bisa peringatkan, bahwa A mesti tinggal A. Arti yang kita pakai pada permulaan karangan mesti terus-menerus sampai ke ujung. A mesti terus A saja. Sekali-kali A itu tak boleh jadi lawannya, yakni non-A. Science, Ilmu Bukti, accurate thought, hasil pikiran yang tepat, sudahlah tentu tiada bisa mengabaikan arti terkhususnya dan A = A dan A bukan non-A: memakai sesuatu kata, kalimat atau undang yang berselisihan artinya pada berlainan tempat dan tempo. Sesuatu karangan atau buku yang scientific, menurut hukum Ilmu Bukti mesti pertama sekali self-consistent, mesti consequent, arti tak boleh berlawanan dengan dirinya sendiri. Selain dari itu dia tak boleh berlawanan, melainkan cocok, mesti self-consistent dengan undang yang syah, dan bukti yang diakui syah dan pengalaman biasa, yang syah pula.
Pada sesuatu pekerjaan scientific, artinya terkhusus dari A = A dan A itu bukan non-A mesti sebagai pedoman buat si-pengarang dari pangkal sempai keujung.
Pasal 3. CONVERSION (PEMBALIKAN).
Hari ini Hari-Raya, Lebaran! Dikiri-kanan kelihatan dan kedengaran tanda permulaan dari kaum-Muslimin. Tiada mengherankan, kalau pikiran saya melayang pada perkara yang berhubungan dengan hal ini: ke rumah, lumbung dan halaman keluarga saya di seberang dan mesjid dan langgar yang didirikan oleh keluarga itu. Pelayangan pikiran itu akhirnya membentuk simpulan ini: “Semua Muslimin itu diwajibkan berpuasa”. Menurut ilmu saraf, gramatika, semua Muslim itu jadi pokok, subyek kalimat “diwajibkan berpuasa” jadi sebutan kalimat, predicate. Kalau simpulan itu dibalikkan artinya pokok dijadikan sebuah dan sebutan dijadikan pokok, maka kita peorleh: Yang diwajibkan berpuasa itu semuanya kaum Muslimin.
Teranglah salahnya pembalikan, conversion itu. Kita tahu bahwa tidak saja kaum Muslimin, tetapi ada kaum lain seperti di antara pendeta Hindu dan Budha yang diwajibkan berpuasa. Jadi pembalikan diatas sudah bermakna lain. Pembalikan yang benar mesti berbunyi: Sebagian dari yang diwajibkan berpuasa itu ialah kaum Muslimin.
Simpulan Asal (Original).
Semua S masuk P “Pembalikan: Sebagian dari P masuk S. Ahli matematika Euler, membentuk
formule ini dengan gambaran Disini kita lihat S itu semuanya masuk ke dalam P. Tetapi pembalikannya tiada semua P, melainkan sebagian saja dari P diliputi oleh S. Pembalikan semacamnya ini dinamakan: Pembalikan sebagian (part conversion). Ini tentang Perkara A, yakni semua S masuk P. Sekarang kita periksa pembalikan dari perkara B, yakni tak ada S masuk P.
Umpamanya: Tak ada Nasrani yang masuk di Mekah. Pembalikannya: Tak ada yang masuk di Mekah itu orang Nasarni. Dengan Formule:
Simpulan Asal : Tak ada S masuk P. Pembalikan : Tak ada P masuk S
Gambaran Euler: S P
(Disini nampak tak ada S masuk ke daerah P dan dalam pembalikannya tak ada P meliputi S. keduanya tak tahu menahu. Kedua kalimat sama nilai dan kedudukannya). Pembalikan ini dinamai “pembalikan biasa” (Conversion simply).
Perkara C, yakni sebagian S masuk P.
Ump: Sebagian orang Nippon beragama Budha.
Pembalikannya: Sebagian dari yang beragama Budha ialah orang Nippon.
(Jadi tidak umumnya yang beragama Budha itu orang Nippon, orang Birma, Thai, Annam, dan Cylon banyak yang beragama Budha).
Dengan formule:
Simpulan asal : Sebagian S masuk P. Pembalikan : Sebagian P masuk S.
Gambaran Euler: S P
Kelihatan cuma sebagian dari S yang diliputi oleh P. Dan sebaliknya juga sebagian dari P yang diliputi oleh S. tetapi kebenaran tidak terperkosa. Pembalikan semacam ini dinanami “pembalikan biasa”, seperti perkara B diatas. Perkara D, terakhir tiada dengan begitu saja bisa dibereskan. Simpulan D ini tidak mempunyai pembalikan.
Dalam hal balik-membalik itu, kita tidak saja mesti tukar tempat pokok dengan sebutan dan sebutan dengan pokok. Tetapi kita mesti awasi dua undang dalam balik-membalikkan. Kalau undang ini terlanggar, tiadalah syah pembalikan itu. Berlainanlah makna simpulan yang kita peroleh.
Undang pertama: Quality, “ya atau tidak” mesti tetap. Jadi ya atau tidak, syah atau betul pada “simpulan asal” mesti syah atau batal, ya atau tidak juga pada pembalikan. Dalam pembalikan kita diatas A, B, C undang itu ada diikuti. (Periksalah).
Undang kedua: Quantity mesti tetap pula. Tak boleh dimasukkan “term” berhubung dengan pokok atau sebutan kalimat atau simpulan! Kepada Pembalikan kalau term itu tak ada dalam simpulan asal. Sekarang kita periksa perkara D.
Umpamanya: Simpulan Asal: Sebagian orang beragama itu tidak (bukan) orang Islam. Pembalikan: Sebagian orang Islam itu tidak beragama.
Teranglah salahnya pembalikan itu, karena tidak ada bagian atau seorangpun dari Kaum Muslimin yang tidak beragama Islam. Islam itu artinya Agama. Sebagian orang Islam artinya orang beragama Islam. Kalau orang beragama Islam itu dikatakan tidak beragama, maka simpulan semacam itu bertentangan dengan dirinya sendiri. Undang apakah yang dilanggar dalam pembalikan (D) ini? (Lihat kembali pembalikan diatas!).
Quality, ya atau tidaknya, memang tidak dilanggar. Pada simpulan Asal kita dapati kata “tidak” dan pada pembatalan juga kata “tidak”. Jadi kedua simpulan berdasarkan negative, bertidak. Begitulah undang pertama tidak dilanggar.
Undang kedua: Quantity. Pada simpulan Asal, kita lihat orang Islam sebagai sebutan (predicate) itu dimaksudkan semua orang Islam. Tetapi pada pembalikan orang Islam yang dimaksudkan itu cuma sebagian saja. Disinilah pelanggarannya terjadi, yaitu pada Undang kedua Quantity, banyak bilangan. Menurut undang bilangannya term (istilah) itu mesti tetap jumlahnya.
Dengan Formula, maka pembalikan itu juga tidak bisa dinyatakan dengan pasti, karena memang dalam pembalikan itu boleh jadi: (1) tak ada yang P masuk S (2) semua P itu S atau (3) sebagian P = sebagian S.
S P S P S P (1) (2) (3)
Keterangan:
Pada gambar 1. P dan S tak ada bersangkutan satu sama lainnya. Pada gambar 2 Semua P menutupi S.
Pada gambar 3 Sebagian P menutupi sebagian S.
Tiga kemungkinan semacam itu tidak bisa dipastikan dengan ya atau tidak saja dalam satu simpulan. Kalau berbuat begitu makna mesti terperkosa. Walaupun “conversion” itu sudah dicatat diatas, tak ada salahnya kalau disini kita kasih definisi cukup. Pembalikan ialah: Satu proses atau perubahan, dimana pokok pada simpulan (proposition) asal jadi sebutan pada pembalikan dan sebutan pada simpulan asal menjadi pokok pada pembalikan, pembalikan mana sama kebenarannya dengan simpulan asal.
Pembentukan semangat Revolusi Perancis tahun 1754, Rousseau mahaguru Filsafat Hegel dan Bapa Historical Materialis Marx banyak sekali menggunakan pembalikan itu. Dengan begitu daerah penyelidikan mereka bertambah dalam, arti bertambah luas dan bunyi bertambah merdu. Pasal 4. OBVERSION (PERLIPATAN).
Permulaan kata, conversion, kata technical yang mengandung seluk-beluk yang dalam itu, saya terjemahkan dengan “pembalikan”. Kata obversion dengan “perlipatan”. Kalau kita membalikkan sesuatu barang, kain umpamanya, muka di bawah terbalik ke atas. Tetapi kalau melipat cuma sebagian kain saja yang terbalik.
Perlipatan kalau di-definisikan: ialah perubahan bentuk (bukan arti!) satu simpulan kepada simpulan lain, dimana “sebutan”pada simpulan asal bertukar jadi “sebutan yang berlawanan arti” pada perlipatan. Perlipatan juga mempunyai Undang: “Sebutan pada perlipatan itu mesti berlainan dengan arti sebutan pada simpulan asal”. A mesti ditukar dengan non-A. Tak boleh dipakai arti setengah-setengah, yang mengandung kompromis, permufakatan pada kedua belah pihak yang berlawanan.
Kita periksa sekarang 4 perkara yang sudah kita kenal . A. Simpulan Asal. Misal: Semua Haji pernah ke Mekah. Perlipatan: Tak satu Haji yang tak pernah ke Mekah.
Kata “semua” dan “tak satu” bukan berlawanan pokok, melainkan berhubungan dengan kalimat seluruhnya. Kalau berlawan dengan pokok, yakni Haji, mestinya berbunyi semua tak Haji, jadi yang bukan Haji. Jadi perlipatan dari A ialah B.
B. Simpulan Asal, Misal: Tak satu Kafir yang suci. Perlipatan: Semua kafir tak suci (berdosa).
(Tak ada dan semua juga berhubungan dengan kalimat seluruhnya tidak melawan pokok simpulan! “Tak suci” itu ialah kata majemuk! Maksud saya dengan kafir bukan Kafir menurut Islam saja, tetapi Kafir dipandang dari penjuru tiap-tiap agama. Jadi perlipatan dari B itu ialah A.
C. Simpulan Asal. Misal: Sebagian orang Islam itu murtad. Perlipatan: Sebagian orang Islam itu bukan tak murtad.
(“Tak murtad” itu berarti takluk pada undang Islam. Jadi “bukan murtad” itu berarti dan takluk lagi. Begitulah arti perlipatan tiada berlawanan dengan arti simpulan asal. Dalam Algebra negative (-) dari negative itu jadi positive (+). Perlipatan C jadinya D.
D. Simpulan Asal, Misal: Sebagian orang Islam itu tidak jujur. Perlipatan: Sebagian orang Islam itu tak jujur (munafik).
dengan “-“ jadi kata majemuk. Artinya sama dengan munafik, ialah tak jujur terhadap undang agamanya. Diluar lain dari di dalam. “Haram riba” itu kata pada umum, tetapi riba lebih dari 1800% setahun diterima juga, malah jadi penghidupan bagi golongannya turun temurun. Perlipatan D ialah C.
Jumlah ujian: Perlipatan A ialah B, Perlipatan B ialah A, perlipatan C ialah D dan perlipatan D ialah C. Dengan lipat-melipat ini sekarang marilah kita hadapi Alam (universe) ini. Semua di Alam ini ialah Islam atau tak Islam. (Islam dipakai sebagai nama sifat), menurut filsafat Islam atau tidak, betul atau salah, P atau Non-P. Apa yang P bukan masuk non-P. Formulanya: P atau tak P. (Non-P)
Kalau “S itu P” maka “S itu bukan tak-P”; kalau S itu berada dikiri, maka S itu tidak dikanan. Sebaliknya kalau “S tak P” maka S itu tidak P; kalau tidak di kanan, maka ia dikiri.
Di Eulerkan.
Kalau S-P : maka S itu tidak masuk tak P
bukan:
S tak P
Kalau S – tak P : maka S itu tidak P
bukan:
S P
Sekarang kita sebentar balik kepada conversion, pembalikan. Tadi kita katakan D itu tidak bisa dibalikkan. Tetapi dengan memakai cara perlipatan, kita bisa mendapatkan hasil. Marilah kita ambil contoh yang dahulu:
Simpulan : Sebagian orang beragama itu tidak orang Islam. Pembalikan : Sebagian orang Islam itu tidak beragama. Kita ingat pembalikan itu salah.
Sekarang kita jadikan, tidak orang Islam itu kata majemuk seperti tak P. Kita peroleh sebagai ganti, tidak orang Islam itu kata majemuk tak Islam. Simpulan Asal sekarang kita tukar bentuknya dengan tidak menukar artinya. Kita dapati:
Simpulan Asal : Sebagian orang beragama itu tak Islam (non-Islam). Pembalikan : Sebagian tak Islam (non-Islam) itu orang beragama.
Ini benar! Sebagian tak Islam, bukan Islam itu, seperti orang Kristen dan Yahudi memang dianggap beragama juga, walaupun oleh kaum Muslimin sendiri meskipun Kafir Nasrani dan Yahudi itu dianggap oleh Muslimin Cuma Kafir Kitabi, ialah memperkosa makna Kitab Injil dan Kitab Talmud masing-masing.
Formulanya:
Simpulan Asal : Sebagian S itu tidak P. Ini sama dengan sebagian S itu tak P. Pembalikan : Sebagian tak-P itu S
Eulernya :
S tak P
(Kelihatan sebagian dari S ditutupi oleh sebagian tak-P).
Seperti pembalikan, maka perlipatan juga banyak dipakai oleh para pujangga yang jaya dan bergemilang.
Pasal 5. CONTRAPOSITION (PERLIPATAN-TERBALIK).
Menurut pelipatan terbalik itu suatu simpulan lebih dahulu, mesti kita lipat, kemudian lipatan itu kita balikkan. Pemeriksaan:
A. Misal:
Simpulan Asal : Tak ada barang di Alam ini yang tak berubah. Perlipatan : Semua barang yang di Alam ini berubah.
Eulernya :
Pembalikannya: Sebagian dari yang berubah di Alam ini, ialah barang. B. Misal:
Simpulan Asal : Tak ada Muslim yang makan riba. Perlipatan : Semua Muslim tak makan riba.
Di-Eulerkan :
Pembalikan : Sebagian dari yang tak makan riba itu ialah Muslimin.
{Simpulan (Pembalikan) ini rupanya ganjil tetapi benar. Bermacam-macam golongan di Indonesia kita saja masih sederhana sekali hidupnya. Umpamanya orang Papua dan Dayak. Mereka belum tahu memakai uang. Jangankan lagi memakan riba. Jadi di Indonesia ini saja Cuma sebagian saja yang Muslimin, ialah yang tak makan riba; ....andaikata, semuanya Muslimin, juga termasuk Muslimin dari Hadramatu, tak makan riba}
C. Misal : Simpulan Asal : Sebagian Muslimin tidak bisa tak Sembayang. Perlipatan : Sebagian Muslimin sembayang.
{Disini kita berjumpa dengan dua tidak, ialah ,tidak tak sembayang”. {Belum pernah kita berjumpa dengan dua tidak (negative) dalam rangkaian begini}.
Pembalikan : Yang tak sembayang itu tidak sebagian Muslimin. Ini Simpulan tidak bisa di artikan atau di Eulerkan. Tiada ada Sedikit juga kepastian di dalamnya.
Sebutan simpulan ialah, tidak sebagian Muslimin ”Boleh jadi kalimat itu berarti, semuanya” Muslimin. Jadi pembalikan boleh jadi berarti: Yang tidak sembayang itu ialah semuanya. Ini tentulah bertentangan dengan arti Simpulan Asal. Tentulah juga melanggar filsafat Islam. Dalam Logika C itu juga dianggap sebagai simpulan yang tiada bisa dilipat-balik-kan.
D. Misal:
Simpulan Asal : Sebagian Muslimin tak puasa. Perlipatan: Sebagian Muslim itu puasa.
DiEulerkan : M P
Pembalikan : Sebagian yang berpuasa itu ialah sebagian Muslim.
(Kebenarannya nyata. Bukan saja kaum Muslimin, tetapi diantara Yahudi, Pendeta Hindu, atau Budha, ada juga yang berpuasa. Dan tidak semuanya Muslimin itu berpuasa).
Pasal 6. SYLLOGISM.
Bagian 1. PASANGAN SIMPULAN BESAR DAN KECIL.
Bermula diperingatkan yang sudah di uraikan lebih dahulu: Induction, ialah cara berpikir, “dari beberapa bukti naik ke undang”. Kawannya ialah Deduction, yakni cara “dari undang turun ke bukti”. Pada Geometry, cara berpikir Deduction ini mendapat lapang yang luas sekali. Juga dalam Ilmu Kodrat & Co, Deduction mendapat lapang yang luas sekali.
Satu bentuk dari cara berpikir menurun dari undang ke bukti itu, yakni satu bentuk “penglaksanaan”, dalam Logika dinamai SYLLOGISM. Jadi SYLLOGISM ini Cuma bentuk lain dari berpikir menurut cara Deduction.
Perhatikanlah bentuk berpikir dibawah ini: 1. Semua manusia bakal mati.
2. Socrates manusia juga. 3. Socrates itu bakal mati.
Lebih dari 2000 tahun Simpulan tiga serangkai semacam ini tercantum dalam kebanyakan buku Logika, sebagian jatuh dari aliran pikiran menurut SYLLOGISM. Sebagai peringatan dan kehormatan pada maha guru yang maha satria, maka suci dan maha mulia, maha para ahli Logika, dari abad ke abad terus-menerus memegang nama Socrates, guru dari Plato dan Aristoteles itu dalam simpulan tiga serangkai tadi.
2. “Socrates manusia juga”, dinamai minor-premise, simpulan kecil. 3. “Socrates itu bakal mati”, dinamai conclusion, simpulan akibat.
Akibat, yakni simpulan ketiga, menurun dari kedua simpulan dahulu, ialah simpulan besar, (1) dan simpulan kecil, (2) Kedua simpulan dibelakang ini (1 dan 2) pasti dipasang menurut hukum yang tetap. Simpulan 1 dan 2 ada mempunyai term (yakni salah satu dari pokok atau sebutan) yang bersamaan, bernama Commonterm atau middle-term yakni term bersama, kata persamaan. Pada simpulan 1 dan 2 kita lihat term kata yang bersamaan itu ialah kata “manusia”.
Pada akibat kata persamaan itu hilang, tak ada lagi. Kita lihat pula, bahwa simpulan pertama mengandung bukti lebih besar, lebih luas dari yang kedua. Pada simpulan pertama, kita berjumpa “semua” manusia, sedangkan pada simpulan kedua kita berjumpa dengan satu manusia saja, ialah Socrates. Sebab (luas artinya) umumnya simpulan pertama itu, maka ia dinamai dalam Logika, simpulan besar yang mengenai seorang saja, ialah simpulan 2 dinamai simpulan kecil. Pasangan tiga serangkai mesti takluk pada hukum dibawah ini:
1. Simpulan Umum (Universal proposition) mesti dipakai sebagai simpulan besar (mayor premise).
2. Kata persamaan (common-term) mesti jadi sebutan dari simpulan kecil (minor-premise). Kalau “kata persamaan” (dalam hal ini manusia) kita pendekkan saja dengan huruf M, sembarang huruf pun boleh. Dan bakal mati dengan huruf B, akhirnya Socrates dengan S, maka formula yang kita peroleh:
Semua M B S M
Jadi S B
Di Eulerkan : Perhatikanlah SYLLOGISM dibawah ini:
1. Semua manusia itu berakal.
2. Tetangga saya berpikir morat-marit. 3. Tetangga saya ini berakal.
Benarkah akibat dari SYLLOGISM ini?
Marilah kita pasang satu persatu simpulan menurut hukum M B
1. Semua manusia itu berakal. M
2. Tetangga saya, yang berpikir morat-marit ini, ialah manusia. 3. Tetangga saya, yang berpikir morat-marit ini (S) ialah berakal (B). Jadi cocok dengan formula:
Semua M B S M Jadi S B
Rupanya salah, tetapi sebetulnya benar dan pasangan simpulan bisa dibetulkan. Orang boleh berpikir morat-marit. Tetapi bagaimana juga ia masuk golongan (binatang) berakal. Kalau tidak begitu, berapa bagian manusia diatas bumi kita yang berpikir menurut Logika Mistika, kaki ke atas, kepala ke bawah, yang mesti kita keluarkan dari golongan “berakal”. Dalam arti umumnya, bulat, in the board sense, memang semua manusia itu berakal. Tetapi pada arti terkhususnya, in the narrow sense, ada diantara manusia itu yang mempunyai akal miring dari akal sempurna. Bagian 2. PASANGAN 2 SIMPULAN BESAR.
Misal (saja) : Semua Muslimin mesti sabar (terima nasib dari Tuhan). Semua orang sabar mesti juga terima kezaliman.
Diatas ada dua simpulan besar, mayor premise, bagiamana kita mesti susun?
Dalam hal ini kita mesti cari pasangan yang bisa menimbulkan akibat. Hukuman yang pertama tiada bisa kita jalankan, karena kedua simpulan itu tidak berbesar dan berkecil, melainkan keduanya besar. Jadi kita mesti lari kehukum kedua.
Lebih baik kita formulakan lebih dahulu, supaya mudah ditinjau. Semua Muslimin dipendekkan jadi B, sabar dengan M dan penerima kedaliman C.
Kita peroleh formula:
Semua B M Semua M C Di Eulerkan: Semua C M Semua M C
Bagaimana perhubungan C sama B?
Pada formula itu kita tak bisa lihat perhubungan C dengan B. Pada gambaran Euler perhubungan itu nyata sekali.
Pada Euler, kelihatan dikiri B masuk M, dan dikanan M masuk C. Jadi B mestinya masuk C, yang terbesar diantara itu. Jadi akibat boleh di Eulerkan dengan:
Apakah sebabnya maka pada formule kita tak bisa mengambil akibatnya?