• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE PENELITIAN

3.5 Lokasi dan Subjek Penelitian

Lokasi Penelitian

Penelitian dilaksanakan di SMA Negeri 1 Majenang yang beralamat di jalan Raya Pahonjean Kotak Pos 07 Majenang, Cilacap, Jawa Tengah. Penelitian ini dilaksanakan pada semester genap tahun ajaran 2014/2015. SMA Negeri 1 Majenang merupakan salah satu SMA negeri di kecamatan Majenang sehingga sebagian besar siswa SMP di sekitar kecamatan Majenang mendafatar ke sekolah ini untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA. Berdasarkan hal tersebut, maka dapat diasumsikan bahwa dengan melakukan penelitian di SMA Negeri 1 Majenang dapat mewakili keadaan SMA atau yang sederajat di kecamatan Majenang dan sekitarnya.

Populasi

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: obyek/ subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan (Sugiyono, 2010: 61). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh peserta didik kelas XI SMA Negeri 1 Majenang program IPA dengan rincian populasi dapat dilihat pada Tabel 3.3.

Tabel 3.3 Rincian Jumlah Siswa Kelas XI IPA SMA Negeri 1 Majenang No Kelas Jumlah Siswa

1 XI IPA 1 29 2 XI IPA 2 29 3 XI IPA 3 28 4 XI IPA 4 29 5 XI IPA 5 28 Jumlah 143

*Sumber: Administrasi Kesiswaan SMA Negeri 1 Majenang Tahun Ajaran 2014/2015

Homogenitas populasi dapat diketahui dengan uji homogenitas terhadap nilai raport semester gasal kelas XI IPA SMA Negeri 1 Majenang tahun ajaran 2014/2015. Berdasarkan perhitungan uji homogenitas diperoleh nilai

=4,1 sedangkan =9,448. Nilai maka diterima artinya varians populasi homogen. Perhitungan selengkapnya terdapat pada Lampiran 3.

Sampel dan Teknik Sampling

Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling. Menurut Sugiyono (2010: 68), purposive sampling adalah teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu. Teknik ini biasanya dilakukan karena beberapa pertimbangan, misalnya alasan keterbatasan waktu, tenaga, dan dana sehingga tidak dapat mengambil sampel yang besar dan jauh (Arikunto, 2010: 183). Sampel dalam penelitian ini adalah kelas XI IPA 2 dan XI IPA 3 SMA Negeri 1 Majenang tahun ajaran 2014/2015.

Normalitas kemampuan awal siswa dapat diketahui dengan uji normalitas terhadap nilai raport semester gasal kelas XI IPA 2 dan XI IPA 3 SMA Negeri 1 Majenang tahun ajaran 2014/2015. Berdasarkan perhitungan uji normalitas, diperoleh hasil bahwa kemampuan awal siswa kelas XI IPA 2 dan XI IPA 3 berdistribusi normal. Perhitungan selengkapnya terdapat pada Lampiran 2.

3.6 Variabel Penelitian

Menurut Sugiyono (2010: 3), variabel penelitan adalah suatu atribut atau sifat atau nilai dari orang, obyek atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu

yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan ditarik kesimpulannya. Pada penelitian ini terdapat dua variabel yaitu sebagai berikut.

Variabel Bebas

Menurut Sugiyono (2010: 4), variabel bebas merupakan variabel yang mempengaruhi atau menjadi penyebab timbulnya variabel dependen (terikat). Variabel independen (bebas) dalam penelitian ini adalah model pembelajaran guided inquiry berbantuan student handout pada materi fluida statis.

Variabel Terikat

Menurut Sugiyono (2010: 4), variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya variabel bebas. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah peningkatan penguasaan konsep dan kerja ilmiah peserta didik setelah menggunakan model pembelajaran guided inquiry berbantuan student handout pada materi fluida statis.

3.7 Metode Pengumpulan Data

Metode Dokumentasi

Metode dokumentasi yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, lengger, agenda dan sebagainya (Arikunto, 2010: 274). Pada penelitian ini, peneliti menggunakan metode dokumentasi dengan cara mengambil data meliputi nilai raport peserta didik kelas XI IPA SMA Negeri 1 Majenang pada semeseter gasal tahun ajaran 2014/2015. Nilai raport peserta didik tersebut dapat dilihat pada Lampiran 1.

Metode tes

Metode tes dapat digunakan untuk mengukur kemampuan objek yang diteliti (Arikunto, 2010: 266). Menurut Sudijono (2009: 67), ada dua macam fungsi yang dimiliki oleh tes, yaitu: sebagai alat pengukur tingkat perkembangan atau kemajuan yang telah dicapai oleh peserta didik setelah menempuh proses belajar mengajar dalam jangka waktu tertentu dan sebagai alat pengukur keberhasilan program pengajaran. Pada penelitian ini digunakan tes bentuk pilihan ganda untuk mengetahui kemampuan penguasaan konsep peserta didik. Tes ini dilaksanakan sebelum dan setelah diberikan perlakuan terhadap kelas eksperimen.  Metode observasi

Observasi adalah cara menghimpun data yang dilakukan dengan mengadakan pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap fenomena yang sedang dijadikan sasaran pengamatan (Sudijono, 2009: 76). Pada penelitian ini, peneliti akan menggunakan cara pengamatan langsung terhadap proses pembelajaran. Observasi ini dilakukan untuk menilai kerja ilmiah dan proses pembelajaran guided inquiry peserta didik.

3.8 Instrumen Penelitian

(1) Naskah Tes

Tes yang diberikan kepada peserta didik berbentuk pilihan ganda. Menurut Sudijono (2009: 305), pemberian skor pada tes objektif bentuk multiple choice yang tidak memperhitungkan denda adalah sebagai berikut:

Keterangan:

S = Skor yang sedang dicari. R = Right (jumlah jawaban betul)

Cara pemberian skor pada penelitian ini adalah jawaban benar bernilai 1 dan jawaban salah bernilai 0.

Sebelum naskah tes digunakan sebagai soal pretes dan postes maka dilakukan uji coba soal dengan tujuan untuk mendapatkan soal yang baik sesuai dengan kriteria validitas, reabilitas, daya pembeda dan taraf kesukaran. Peneliti merancang soal uji coba sebanyak 30 butir dengan kisi-kisi soal dapat dilihat pada Lampiran 4. Dari 30 butir soal hanya akan digunakan 20 butir sebagai soal pretes postes. Soal uji coba dapat dilihat pada Lampiran 5 sedangkan kunci jawaban soal uji coba terdapat pada Lampiran 6.

Tes yang diberikan akan dianalisis tiap-tiap butir soal yang meliputi: validitas, reliabilitas, tingkat kesukaran, dan daya pembeda. Kriteria instrumen tes yang baik menurut Arikunto (2009: 57-63) antara lain sebagai berikut. Tes harus valid, artinya tes itu dapat tepat mengukur apa yang hendak diukur. Tes harus reliabel, dapat dipercaya, yakni dapat memberikan hasil yang tetap apabila diteskan berkali-kali atau dalam arti lain hasil-hasil tes tersebut menunjukkan ketetapan. Tes harus obyektif, artinya apabila dalam melaksanakan tes itu tidak ada faktor subjektif yang mempengaruhi. Tes harus praktis, artinya tes tersebut mudah dilaksanakan, mudah pemeriksaannya, dan dilengkapi dengan petunjuk-petunjuk yang jelas. Tes harus ekonomis, artinya pelaksanaan tes tersebut tidak

membutuhkan ongkos atau biaya yang mahal, tenaga yang banyak, dan waktu yang lama.

Validitas Isi dan Validitas Konstruk

Pengujian instrumen tes menggunakan validitas isi dan validitas konstruk. Validitas isi yaitu validitas yang dilakukan dengan membandingkan isi instrumen dengan materi pelajaran yang telah diajarkan (Sugiyono, 2010: 353). Validitas konstruk yaitu validitas yang disesuaikan dengan berlandaskan teori tertentu dan dikonsultasikan dengan ahli (Sugiyono, 2010: 353). Dalam hal ini ahli yang dimaksud adalah dosen pembimbing I, dosen pembimbing II dan guru mitra.  Validitas Butir Soal Tes

Pada penelitian ini digunakan rumus product moment untuk menentukan validitas butir soal tes. Rumus product moment yang digunakan menurut Arikunto (2009: 72) adalah sebagai berikut:

√ ∑ ∑ ∑ ∑

(3.3)

Keterangan:

: Koefisien korelasi antara X dan Y.

N : Banyaknya subjek/peserta didik yang diteliti.

∑ : Jumlah skor tiap butir soal.

∑ : Jumlah skor total.

∑ : Jumlah kuadrat skor butir soal.

Hasil perhitungan dikonsultasikan pada tabel kritis r product moment, dengan

taraf nyata . Jika maka item tersebut valid.

Berdasarkan perhitungan validitas butir soal terdapat 19 soal valid dan 11 soal tidak valid. Perhitungan selengkapnya terdapat pada Lampiran 7.

Reliabilitas Tes

Menurut Arikunto (2009: 86), suatu tes dapat dikatakan mempunyai taraf kepercayaan yang tinggi jika tes tersebut dapat memberikan hasil yang tetap. Pada penelitian ini akan digunakan tes objektif untuk mengukur kemampuan penguasaan konsep peserta didik. Menurut Sudijono (2009: 213), pada tes hasil belajar bentuk objektif penentuan reabilitas tes dapat dilakukan dengan pendekatan single test-single trial method.

Reliabilitas tes pada penelitian ini dihitung dengan menggunakan formula Richard-son (KR20). Menurut Sudijono (2009: 254-257), formula Kuder-Richard-son (KR20) yaitu sebagai berikut:

(3.4) dapat dicari dengan rumus:

(3.5)

dapat dicari dengan rumus:

= -

(3.6) Keterangan:

N : jumlah peserta tes. : banyaknya butir item. : varians total.

: jumlah kuadrat skor total.

pi : Proporsi testee yang menjawab dengan betul butir item yang bersangkutan. qi : Proporsi testee yang jawabannya salah, atau qi = 1-pi.

piqi : Jumlah dari hasil perkalian antara pi dengan qi.

Kriteria pengujian reliabilitas tes yaitu nilai dikonsultasikan dengan harga

tabel, jika dengan taraf kesalahan 5% maka item tes yang diujicobakan reliabel.

Berdasarkan perhitungan reabilitas soal dengan N=28 diperoleh

=1,019734327 dan rtabel= 0,374. Nilai > , maka dapat

disimpulkan soal tes reliabel. Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 7.

Taraf Kesukaran

Menurut Sudijono (2009: 372), angka indek kesukaran item itu dapat diperloeh dengan menggunakan rumus yang dikemukakan oleh Du Bois, yaitu:

(3.7) Keterangan:

P : Proportion= proporsi= proporsa= difficulty index= angka indek kesukaran item.

B : Banyaknya testee yang dapat menjawab dengan betul terhadap butir item yang bersangkutan.

JS : Jumlah testee yang mengikuti tes hasil belajar.

Menurut Sudijono (2009: 372), cara memberikan penafsiran (interpretasi) terhadap angka indek kesukaran item dapat dilihat pada Tabel 3.4.

Tabel 3.4. Kriteria Tingkat Kesukaran Item Nilai P interpretasi

0.30 Terlalu sukar

Cukup (sedang)

> 0.70 Terlalu mudah

Berdasarkan perhitungan taraf kesukaran soal uji coba, diperoleh hasil bahwa terdapat 12 soal dengan kriteria terlalu mudah, 12 soal dengan kriteria sedang dan 6 soal dengan kriteria terlalu sukar. Perhitungan selengkapnya terdapat pada lampiran 7.

Daya Pembeda

Menurut Sudijono (2009: 385-386), daya pembeda item adalah kemampuan suatu butir item tes hasil belajar untuk dapat membedakan (mendiskriminasi) antara testee yang berkemampuan tinggi dengan testee yang kemampuannya rendah.

Menurut Arikunto (2009: 213-214), daya pembeda pada penelitian ini dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:

Keterangan:

J : Jumlah peserta tes.

: Banyaknya peserta kelompok atas. : Banyaknya peserta kelompok bawah.

: Banyaknya peserta kelompok atas yang menjawab soal itu dengan benar. : Banyaknya peserta kelompok bawah yang menjawab soal itu dengan benar.

: Proporsi peserta didik di kelompok atas yang menjawab benar. : Proporsi peserta didik di kelompok bawah yang menjawab benar.

Menurut Arikunto (2009: 218), untuk menginterpretasikan indeks daya pembeda digunakan kriteria seperti pada Tabel 3.5.

Tabel 3.5. Kriteria Daya Pembeda Daya Pembeda (D) Keterangan

0,00-0,20 Jelek (poor) 0,20-0,40 Cukup (satisfactory) 0,40-0,70 Baik (good) 0,70-1,00 Baik sekali (excellent)

negatif Tidak baik

Berdasarkan perhitungan daya pembeda soal ujicoba, terdapat 6 soal dengan kriteria tidak baik, 6 soal dengan kriteria jelek, 7 soal dengan kriteria cukup, 10 soal dengan kriteria baik dan 1 soal dengan kriteria baik sekali. Perhitungan selengkapnya terdapat pada Lampiran 7.

Soal Pretes Postes

Berdasarkan hasil analisis validitas, reabilitas, taraf kesukaran dan daya pembeda, dari 30 soal ujicoba diperoleh 20 soal yang dapat digunakan sebagai soal pretes postes. Nomor Soal yang dapat digunakan adalah 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9,

10, 12, 15, 18, 19, 21, 22, 23, 25, 27, 29, 30. Penjelasan selengkapnya terdapat pada Lampiran 7.

Dua puluh soal yang digunakan akan dibuat dalam kisi-kisi soal baru yang terdapat pada Lampiran 10. Soal yang telah direvisi dan dijadikan sebagai soal pretes postes terdapat pada Lampiran 11 sedangkan kunci jawaban soal tersebut terdapat pada Lampiran 12.

(2) Instrumen Non-Tes

Instrumen non-tes yang digunakan dalam penlitian ini meliputi: silabus. rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), student handout, kisi-kisi dan lembar observasi kerja ilmiah peserta didik, kisi-kisi dan lembar observasi proses pembelajaran guided inquiry peserta didik dan lembar pengamatan aktivitas guru.

Lembar observasi untuk menilai kerja ilmiah disusun berdasarkan tahapan kerja ilmiah menurut Suparno (2006: 77), yaitu sebagai berikut: (1) mengamati gejala yang ada (eksplorasi pustaka), (2) mengajukan pertanyaan mengapa gejala itu terjadi (merumuskan masalah), (3) membuat hipotesis untuk menjawab persoalan yang diajukan atau menjelaskan alasannya, (4) merencanakan suatu eksperimen untuk menguji hipotesis dan (5) menarik kesimpulan.

Lembar observasi untuk menilai proses pembelajaran guided inquiry peserta didik dan aktivitas guru disusun berdasarkan tahapan-tahan inkuiri menurut Eggen dan Kauchak dalam Trianto (2007:141-142), yaitu: (1) menyajikan pertanyaan atau masalah, (2) menyusun hipotesis, (3) merancang percobaan, (4) melakukan percobaan untuk memperoleh informasi, (5) mengumpulkan dan menganalisis data dan (6) membuat kesimpulan.

Cara pemberian skor pada instrumen lembar observasi untuk menilai kerja ilmiah dan proses pembelajaran guided inquiry peserta didik adalah sebagai berikut:

− Skor 1 jika peserta didik tidak melakukan 3 aspek yang diamati. − Skor 2 jika peserta didik melakukan 1 aspek yang diamati. − Skor 3 jika peserta didik melakukan 2 aspek yang diamati. − Skor 4 jika peserta didik melakukan 3 aspek yang diamati.

Cara pemberian skor pada instrumen lembar observasi untuk menilai aktivitas guru pada pembelajaran guided inquiry adalah sebagai berikut:

− Skor 4: sangat baik (jika disampaikan dengan sangat jelas, tepat, terarah dan runtun).

− Skor 3: baik (jika disampaikan dengan jelas, tepat, terarah dan runtun).

− Skor 2: cukup (jika disampaikan dengan cukup jelas, tepat, terarah dan runtun). − Skor 1: kurang (jika disampaikan dengan kurang jelas, tepat, terarah dan

runtun).

− Skor 0: tidak terpenuhi.

Validitas Isi dan Validitas Konstruk

Pengujian instrumen non-tes menggunakan validitas isi dan validitas konstruk. Validitas isi yaitu validitas yang dilakukan dengan membandingkan isi instrumen dengan materi pelajaran yang telah diajarkan (Sugiyono, 2010: 353). Validitas konstruk yaitu validitas yang disesuaikan dengan berlandaskan teori tertentu dan dikonsultasikan dengan ahli (Sugiyono, 2010: 353). Dalam hal ini,

ahli yang dimaksud adalah dosen pembimbing I, dosen pembimbing II dan guru mitra.

Analisis Deskriptif Lembar Observasi

Menurut Depdiknas (2003a), data observasi dapat dianalisis dengan menggunakan rumus:

N =

x 100 % (3.9) Tabel 3.6. Kriteria Penilaian Data Observasi

Nilai Kriteria

< 26% Jelek

26% ≤ N <50% cukup

51% ≤ N < 75% baik

76% ≤ N < 100% baik sekali

Validitas Butir Soal Lembar Observasi

Pada penelitian ini digunakan rumus product moment untuk menentukan validitas butir soal seperti pada persamaan 3.3. Hasil perhitungan

dikonsultasikan pada tabel kritis r product moment, dengan taraf nyata . Jika maka item tersebut valid.

Berdasarkan perhitungan validitas butir soal pada lembar observasi proses pembelajaran guided inquiry dengan N=46, diperoleh bahwa soal nomor 1, 2, 3, 4, 5 dan 6 termasuk kategori valid. Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 27.

Berdasarkan perhitungan validitas butir soal pada lembar observasi kerja ilmiah dengan N=46, diperoleh bahwa soal nomor 1, 2, 3, 4 dan 5 juga termasuk kategori valid. Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 28.

Reabilitas Lembar Observasi

Menurut Ruseffendi (1994: 155), rumus Cronbach Alpha dipergunakan untuk soal-soal yang jawabannya bervariasi, skor jawaban siswa per soal yang bervariasi, seperti soal uraian dan skala sikap dari Likert. Rumusannya dikembangkan dari rumus Kuder-Richardson, yaitu dari KR20. Menurut Arikunto (2009: 109) rumus Alpa adalah sebagai berikut:

(3.10)

Keterangan:

: reabilitas yang dicari

∑ : jumlah variansi skor tiap-tiap item : varians total

Kriteria pengujian reliabilitas tes yaitu nilai dikonsultasikan dengan harga

tabel. Jika dengan taraf kesalahan 5% maka item tes yang diujicobakan reliabel.

Berdasarkan perhitungan reabilitas soal pada lembar observasi proses pembelajaran guided inquiry dengan N=46 diperoleh rxy=0,45628 dan rtabel=0,291. Nilai rxy > rtabel maka lembar observasi tersebut reliabel. Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 27.

Berdasarkan perhitungan reabilitas soal pada lembar observasi kerja ilmiah dengan N=46 diperoleh rxy=0,4173951 dan rtabel= 0,249. Nilai rxy > rtabel maka lembar observasi tersebut reliabel. Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 28.

Dokumen terkait