BAB III METHODE PENELITIAN
C. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini akan dilakukan di Pondok Pesantren Baitussalam Simpang Mangga Simalungun Sumatra Utara Tahun 2015.
2. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei sampai dengan Juni 2015 D. Defenisi Operasional
Tabel 3.1 Defenisi Oprasional
Variabel Defenisi oprasional Alat ukur Hasil ukur Skala ukur Scabiosis Penyaakit kulit yang
disebabkan oleh Sarcoptes didaerah sela-sela jari, siku tangan, lipatan paha,
Pengetahuan Segala sesuatu yang diketahui oleh santri mengenai Scabies,
34
E. Metode Penelitian Data
1. Data Primer : data yang diperoleh oleh hasil observasi dan wawancara kuisoner langsung pada subjek peneliti.
2. Data Sekundar: data yang diperoleh dari bagian tata usaha yaitu jumblah Santri yang ada di Pesantren dengan banyak santri 175 orang.
F. Aspek Pengukuran
1. Untuk mengukur kejadian Scabiosis dengan kategori baik dan buruk penulis menggunakan kuesioner sebanyak 3 buah pertanyaan dengan alternatif jawaban ya dan tidak. Kuesioner telah diuji kevaliditasannya oleh penguji sebelumnya yaitu Muzakir (2008). Dimana instrumen telah disusun bersifat dapat dipercaya atau reliabeble dengan Cronbach’s alpha bernilai 0,93 maka dinyatakan instrumen yang digunakan dalam penelitian ini dapat dipercaya atau reliable.Dimana jawaban ya diberi nilai 2 dan tidak diberi nilai 1. Maka nilai tertinggi adalah 4 dan nilai terendah adalah 1, pada kuesioner ini terdapat satu pertanyaan negatif yaitu nomor 3
Keterangan :
P : Nilai yang dicari (panjang kelas) R (Rentang) : (skor tertinggi – skor terendah) BK : Banyak Kelas
Kriteria kuesioner scabiosis
Diketahui berdasarkan diagnosa klinis yaitu:
gatal terutama pada malam hari
adanya vesikel-vesikel kecil dengan garis merah berkelok-kelor didaerah sela-sela jari, siku tangan, lipatan paha, seputaran ketiak, tumit, scrotum, penis dan bokong.
Jumlah yang diperoleh responden dapat dikategorikan sebagai berikut:
scabies : 5-6
tidak scabies : 3-4
2. Untuk mengukur Personal hygiene santri itu baik atau buruk penulis menggunakan kuesioner sebanyak 36 buah pertanyaan dengan alternatif jawaban ya dan tidak. Kuesioner telah diuji kevaliditasannya oleh penguji sebelumnya yaitu Mushallina Latifah (2014). Dimna instrumen telah disusun bersifat dapat dipercaya atau reliabel dengan Cronbach’s alpha 0,69 maka dinyatakan instrument yang digunakan dalam penelitian ini dapat dipercaya dan reliabel. Dimana jawaban Ya diberi nilai 2 dan Tidak diberi nilai 1 maka nilai tertinggi adalah 72 dan nilai terendah adalah 36 (hidayat, 2009).
Pertanyaan yang bersifat positif (1, 3, 4, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20, 21, 22, 23, 25, 26, 29, 30, 32, 35) dan pertanyaan yang bersifat negatif ( 2, 5, 12, 24, 27, 28, 31, 33, 34 dan 36).
Keterangan :
P : Nilai yang dicari (panjang kelas) R ( Rentang) : (skor tertinggi – skor terendah) BK : Banyak Kelas
36
Kriteria kuesisoner untuk personal hygiene
Meliputi usaha tiap santri untuk menjaga kebersihan diri:
a. Khususnya kulit b. Tangan dan kuku c. Genetalia
d. Pakaian e. Handuk
f. Tempat tidur dan sprai.
Berdasarkan jumlah yang diperoleh responden dapat dikategorikan sebagai berikut:
Baik : 55-72 Kurang : 36-54
3. Untuk mengukur Pengetahun Santri diukur dari 12 pertanyaan tentang scabiosis. Kuesioner ini telah diuji kevaliditasanya oleh penguji sebelumnya yaitu Muzakir (2008). Dimana instrumen telah disusun bersifat dapat dipercaya atau reliable dengan cronbach’s alpha bernilai 0,90 maka dinyatakan instrumen yang digunakan dalam penelitian ini dapat dipercaya dan reliabel. pilih jawaban benar dan salah, jawaban yang benar diberi nilai 2, dan jawaban salah diberi nilai 1, nilai tertinggi adalah 24 dan terendah adalah 12 (Hidayat,2009).
Keterangan :
P : Nilai yang dicari (panjang kelas) R ( Rentang) : ( skor tertinggi – skor terendah)
BK : Banyak Kelas
Kriteria kuesioner untuk pengetahuan
Meliputi segala sesuatu yang diketahui oleh santri mengenai Scabies, diantaranyameliputi :
a. Definisi Scabies b. Penyebab, c. Faktor resiko,
d. Gejala dan pencegahan penularannya
Berdasarkan jumlah yang diperoleh responden dapat dikategorikan sebagai berikut:
Baik : 21-24
Sedang : 17-20
Kurang : 12-16
G. Etika penelitian
Dalam penelitian ini, peneliti mengajukan permohonan ijin kepala yayasan Pondok Pesantren Baitussalam Simpang Mangga, kab. Simalungun untuk mendapatkan persetujuan, kemudian lembar observasi diberikan kepada responden dengan menekankan masalah etika yang meliputi:
1. Lembar persetujuan (Informed consent)
Diberikan kepada responden yang ditelitih dan memenuhi kriteria inklusi.
Tujuannya agar responden mengetahui maksud dan tujuan penelitian serta dampat yang diteliti selama pengumpulan data. Jika subjek bersedia menjadi responden, maka harus menandatangani lembar persetujuan menjadi responden.
Jika subjek menolak menjadi responden, maka penelitian tidak akan memaksa dan tetap menghormati haknya.
2. Tanpa nama (anonimity)
Untuk menjaga kerahasiaan. Namun lembar tersebut diberi kode pengganti nama responden.
38
3. Kerahasiaan (confidentiality)
Kerahasiaan informasi responden dijamin peneliti, hanya kelompok data tertentu saja yang akan dilaporkan sebagai hasil peneliti.
H. Pengumpulan Data
Pengelolahan data merupakan salah satu bagian rangkaian kegiatan penelitian setelah pengumpulan data (Noroadmojo, 2010). Setelah data dianalisa, terlebih dahulu dilakukan pengelolahan data dengan cara sebagai berikut:
1. Editing/memeriksa
Memeriksa atau mengevaluasi kelengkapan dan konsentrasi dari semua jawaban responden terhadap kuisioner yang diberikan responden.
2. Koding /memberikan tanda kode
Koding pada penelitian ini dilakukan setelah pengisian kuesioner. Untuk Scabiosis kode 1 yaitu Scabiosis, kode 2 yaitu tidak Scabiosis. Untuk Personal hygiene kode 1 yaitu baik, dan kode 2 yaitu kurang. Untuk pengetahuan kode 1 yaitu baik, kode 2 yaitu sedang, kode 3 yaitu kurang.
3. Scoring
Menentukan tingkat kejadian Scabiosis diberi tanda 1 untuk kategori Scabiosis dengan skore 5-6 dan 2 kategori tidak Scabiosis 3-4, menentukan skor baik dan buruk pada Personal higiene santri diberi tanda 1 untuk kategori baik dengan skor 55-72 dan 2 untuk kategori kurang dengan skor 36-54, menentukan skor pengetahuan santri diberi tanda 1 untuk kategori baik dengan skor 21-24 untuk kategori sedang diberi skor 17-20 dan untuk kategori kurang diberi skor 12-16 . 4. Entry data
Meng-entry data dari kuesioner dan lembar tabel dengan menggunakan program komputer. Pada penelitian ini, penulis menggunakan SPSS 17.
5. Tabulating
Memasukan semua jawaban kedalam tabel distribusi frekuensi untuk mempermuda analisa data lalu diinterprestasikan.
I. Analisa Data
1. Analisis Univariat
Untuk melihat gambaran kejadian Scabiosis, Personal hygiene,Pengetahuan, Kelembaban, Ventilasi, Kepadatan Hunian di Pondok Pesantren Baitussalam Simpang Mangga Simalungun Sumatra Utara tahun 2015.
2. Analisis Bivariat
Untuk mengetahui hubungan antara tiap faktor dengan terjadinya Scabiosis di Pondok Pesantren Baitussalam Simpang Mangga Simalungun Sumatra Utara menggunakan Ujii Chi square dengan derajat kemaknaan 5% sehingga jika p value < 0,05 maka menunjukan ada hubungan antara variabel independen dengan variabel dependent, sedangkan jika nilai p value > 0,05 maka menunjukan tidak ada hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen
40
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Pondok Pesantren Modern Baitussalam terletak di Desa Simpang Mangga Kecamatan Bandar huluan Kabupaten Simalungun. Kampus PPMB ( Pondok Pesantren Modern Baitussalam) terdiri dari 9 kamar tidur yang berukuran 4x6 meter setiap kamar nya, memiliki 2 kamar mandi utama yang berukuran 2x7 meter, dan 2 kamar mandi khusus tamu. 1 kamar tidur santri mampu menampung 20-22 santri, setiap kamar tidur berisikan 1 lemari pakaian, kasur (tanpa tempat tidur), dan bantal. Setiap pagi hari para santri selalu menyusun kasurnya ditumpuk menjadi satu, sehingga kebiasaan tersebut menjadi salah satu faktor penyebaran penyakit Scabiosis.
Faktor yang lain yang menjadi sumber penularan penyakit Scabiosis di Pondok Pesantren Baitussalam ini adalah kebiasaan mereka mandi didalam satu kamar mandi secara bersamaan, saling bertukar perlengkapan mandi seperti sabun dan handuk. Jadwal pembersihan kamar mandi yang tidak terjadwal mejadikan kamar mandi santri menjadi kotor dan tidak tertata rapi, padahal sumber air di Pondok Pesantren ini sangat baik.
Selain fasilitas umum yang diberikan seperti masjid, kamar tidur, kamar mandi dan dapur, Pimpinan Pondok Pesantren juga menyediakan ruang belajar yang cukup repsentatif, laboratorium Komputer dan laboratorium Bahasa yang dapat dijadikan sebagai pengembangan bakat setiap Santri.
2. Analisa Univariat
Analisis univariat dilakukan untuk melihat Distribusi dari variabel atau besarnya proporsi masing-masing variabel yang diteliti.
a. Distribusi Frekuensi Responden dengan Kejadian Scabiosis
Gambaran kejadian Scabiosis di Pondok Pesantren Modern Baitussalam Kecamatan Bandar Huluan Kabupaten Simalungun Provinsi Sumatera Utara diperoleh dari hasil wawancara dan pemeriksaan kulit terhadap responden. Adapun hasil yang diperoleh mengenai Kejadian Scabiosis di Pondok Pesantren Modern Baitussalam Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara dapat dilihat pada tabel.
Tabel 4.1
Gambaran Kejadian Scabiosis di Pondok Pesantren Modern Baitussalam, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara
Tahun 2015 (n=26)
Kejadian Scabiosis Frekuensi (n) Persentase (%)
Ya 19 73,1
Tidak 7 26,9
Dari tabel 4.1 diatas menunjukan, mayoritasSantri yang mengalami Scabiosis sebanyak 19 orang (73,1%).
b. Distribusi Frekuensi Responden denganPersonal Hygiene
Hasil penelitian mengenai personal hygiene santri di Pondok Pesantren Modern Baitussalam Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara diperoleh dari hasil observasi terhadap responde. Adapun hasil yag diperoleh mengenai personal hygiene di Pondok Pesantren Modern Baitussalam Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara Tahun 2015.
42
Tabel 4.2
Gambaran personal hygiene di Pondok Pesantren Modern Baitussalam Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara
Tahun 2015 (n=26)
Personal hygiene Frekuensi (n) Persentase (%)
Baik 15 57,7
Kurang 11 42,3
Berdasarkan tabel 4.2 diketahui, mayoritas Personal hygiene Santri dengan kategori Baik sebanyak 15 orang (57,7%).
c. Distribusi Frekuensi Responden denganPengetahuan
Pengukurang pengetahuan Santri di Pondok Pesantren Modern Baitussalam Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara diperoleh dari hasil pengisian kuesioner secara mandiri oleh responden. Adapun hasil yang diperoleh mengenai pengetahuan di Pondok Pesantren Modern Baitussalam Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara dilihat dari tabel berikut:
Tabel 4.3
Gambaran Pengetahuan Santri di Pondok Pesantren Modern Baitussalam Kabupaten Simalungun Sumatera Utara
Tahun 2015 (n=26)
Pengetahuan Santri Frekuensi (n) Persentase (%)
Baik 5 19,2
Sedang 8 30,8
Kurang 13 50,0
Berdasarkan tabel 4.3 diatas dapat dilihat mayoritas Pengetahuan Santri akan Scabiosisdengan kategori Kurang 13 orang (50,0%).
3. Analisis Bivariat
Analisis Bivariat merupakan analisis lanjutan dari Analisis Univariat yang bertujuan untuk melihat hubungan antara variabel Independen dengan variabel Dependen. Uji yang digunakan untuk menganalisis hubungan faktor resiko dengan kejadian Scabiosis menggunakan uji chi squareyang hasilnya dijelaskna di bawah ini:
a. Hubungan antara Personal Hygiene dengan Kejadian Scabiosis
Hasil penelitian mengenai hubungan antara personal hygiene dengan kejadian Scabiosis di Pondok Pesantren Modern Baitussalam Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara Tahun 2015 sebagai berikut:
Tabel 4.4
Hubungan Personal Hygiene Santri dengan kejadian Scabiosis di Pondok Pesantren Modern Baitussalam Kabupaten Simalungun,
Dari tabel 4.4 diatas dapat diketahui bahwa sebagian besar responden yang mengalami Kejadian Scabiosis memiliki Personal Hygiene Baik yaitu sebesar 57,7%. Sedangkan hasil Uji statistik di dapat p value sebesar, 0,658 (p>0,05), artinya pada α= 5% didapatkan hasil bahwa tidak ada hubungan antara Personal Hygiene dengan Kejadian Scabiosis.
b. Hubungan antara Pengetahuan dengan Kejadian Scabiosis
Hasil penelitian mengenai hubungan antara pengetahuan dengan kejadian Scabiosis di Pondok Pesantren Modern Baitussalam Kabupaten Simalungun Sumatera Utara Tahun 2015 sebagai berikut:
44
Tabel 4.5
Hubungan Pengetahuan Santri dengan Kejadian Scabiosis di Pondok Pesantren Modern Baitussalam Kabupaten Simalungun
Sumatera Utara Tahun 2015 (n=26)
Pengetahuan
Kejadian Scabiosis Total P
value
Berdasarkan tabel 4.5 dapat diketahui bahwa sebagian besar responden yang mengalami kejadian Scabiosis memiliki pengetahuan yang kurang yaitu sebesar, 13 orang (50,0%). Sedangkan hasil uji statistik di dapat p value sebesar, 0,001 (p>0,05), artinya pada α= 5% didapatkan hasil bahwa ada hubungan antara pengetahuan dengan Kejadian Scabiosis
B. Pembahasan
1. Hubungan Personal Hygiene Santri dengan Kejadian Scabiosis di Pondok Pesantren Modern Baitussalam.
Berdasarkan hasil dari uji statistik dengan menggunakan Uji chi square, hasil penelitian ini didapat tidak ada hubungan antara personal hygien santri dengan kejadian Scabiosis di Pondok Pesantren Modern Baitussalam Simpang Mangga Kabupaten Simalungun Sumatera Utara, hal ini dapat diperkuat dengan hasil p value = 0,658 (p value >0,05).
Personal hygiene adalah berasal dari bahasa yunani, berasal dari kata personal yang artinya perorangan dan hygene berarti sehat. Dari pernyataan tersebut dapat diartikan bahwa kebersihan perorangan atau Personal hygiene adalah suatu tindakan untuk memelihara kebersihan dan kesehatan seseorang untuk kesejahteraan, baik fisik maupun psikisnya (Laily dan Sulistyo, 2012).
Pada tinjauan teoritis hal 10 terdapat beberapa jenis Scabies, salah satunya Scabies pada orang bersih : bentuk ini ditandai dengan lesi berupa papula dan terowongan yang sedikit jumlahnya sehingga sangat sukar di temukan. Pada penelitiannya Sahgal hanya ditemukan 7% terowongan dari 1000 kasus penderita Scabies. Dapat disimpulkan bahwa scabiosis tidak hanya di derita kepada individu dengan personal hygiene yang buruk saja, melainkan dapat juga di derita kepada individu dengan personal hygiene yang baik.
Pada penelitian ini, diketahui bahwa salah satu indikator personal hygiene Santri baik berupa kebersihan genetalia menunjukan bahwa semua Santri mengganti pakaian dalamnya sesudah mandi, tidak meminjamkan pakaian dalam nya kepada teman nya sehingga hal ini menjadi sesuatu yang dapat meminimalkan penyebaran Scabiosis ini. Selain itu juga para santri juga menjaga kebersihan kulitnya dengan cara mandi 2x sehari, mandi menggunakan sabun, dan tidak meminjamkan sabun nya kepada temennya, sehingga hal tersebut juga termasuk sebagai pencegahan penularan Scabiosis.
Hal ini bertentangan dengan penelitian yang dilakukan oleh putri (2011), Siregar (2012), dan Ma’ruf, dkk (2003), bahwa ada hubungan antara Higiene perorangan dengan kejadian Scabiosis pada anak. Hygiene perorangan berperan dalam penularan penyakit Scabiosis, dimana sebagian besar santri (213 orang) mempunyai hygiene perorangan yang buruk dengan prevalensi penyakit Scabiosis (73,70%).
Hasil penelitian ini diperkuat juga oleh Mosby (1994) dalam Siregar (2012), yang menyatakan bahwa personal hygiene menjadi penting karena personal hygiene yang baik akan meminimalkan pintu masuk mikroorganisme yang ada dimana-mana dan pada akhirnya mencegah seseorang terkena penyakit, dalam hal ini termasuk penyakit Scabiosis. Personal hygiene merupakan kebutuhan dasar manusia yang harus senantiasa terpenuhi. Personal hygiene termasuk kedalam tindakan pencegahan primer yang spesifik. Hal ini juga sesuai dengan teori segitiga epidemiologi yang menyatakan bahwa sesuatu penyakit terjadi
46
karena ketidak seimbangan antara Host (dalam hal ini manusia), Agen ( dalam hal ini Scabies) dan lingkungan dalam hal ini termasuk personal hygiene.
2. Hubungan Pengetahuan Santri dengan Kejadian Scabiosis di Pondok Pesantren Modern Baitussalam.
Berdasarkan hasil dari uji statistik dengan menggunakan Uji chi square, hasil dari penelitian menunjukan ada hubungan antara pengetahuan Santri dengan kejadian Scabiosis di Pondok Pesantren Modern Baitussalam Simpang Mangga Kabupaten Simalungun Sumatera Utara, hal ini dapat diperkuat dengan hasil p value= 0,001 (p value<0,05).
Pengetahuan merupakan hasil “tahu” yang terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indra manusia yakni penglihatan, pendengaran, pencium, rasa dan raba (Notoadmojo, 2013).
Menurut Notoadmojo (2003), pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkat. Yaitu : Tahu, Memahami, Aplikasi, Analisis, Sintesi dan Evaluasi. Pada penelitian ini para responden tidak memiliki sikap kognitif “Tahu” dan “Memahami”. Dimana para santri tidak tidak pernah diberi penyuluhan tentang penyakit Scabiosis yang menyebabkan santri tidak mengetahui apa penyebab, bagaimana penularan dan bagaimana pengobatan jika mereka terinfeksi oleh Scabiosis. Kurangnya pengetahuan mereka menyebabkan penularan penyakit Scabiosis menjadi sangat tinggi di Pondok Pesantren Baitussalam, hal tersebut dapat dilihat dari distribusi frekuensi yang menunjukan bahwa (50%) responden memiliki pengetahuan yang buruk.
Hasil ini juga di dukung oleh pendapat Khotimah (2006) didapati bahwa terdapat hubungan antara pengetahuan, sikap dan hygiene personal dengan kejadian penyakit scabies dengan hasil statistik p<0,005.
Menurut Muzakir (2008) yang menjelaskan dalam penelitiannya bahwa pengetahuan berhubungan dengan Scabiosis karena santri yang menderita penyakit ini lebih banyak yang berpengetahuan kurang (73,3%) dibandingkan dengan santri yang tidak menderita Scabiosis (26,7%). Berdasarkan hasil pengamatan, disimpulkan bahwa penyakit ini merupakan penyakit yang biasa terjadi di pondok pesantren sehingga mereka sudah tidak asing lagi tentang penyakit tersebut, akan tetapi tidak ada usaha mereka untuk mengetahui hal-hal mengenai Scabiois.
Penelitian ini berbanding terbalik dengan penelitian yang dilakukan oleh Dwi Setyowati (2014) yang menjelaskan bahwa tidak ada hubungan antara pengetahuan dengan terjadinya Scabies dengan distribusi frekuensi menunjukan pengetahuan baik sebanyak (80,3%).
Menurut Iskandar (2000)Scabiosis merupakan penyakit yang sulit diberantas, terutama pada masyarakat dengan lingkungan hunian padat dan tertutup, karna serangga ini cepat menular dalam keadaan tersebut, hal ini sesuai dengan kondisi hunian di Pondok Pesantren Modern Baitussalam Simpang Mangga Kabupaten Simalungun Sumatera Utara.
Pernyataan ini berbanding terbalik dengan pernyataan Warner dan Bower (2010) yaitu bila seseorang pernah mengalami penyakit atau sedang menderita, jika ada informasi yang berkaitan dengan penyakit yang diderita maka akan lebih tertarik untuk mendengarkanya.
Tingkat pengetahuan santri tentang Scabiosis adalah berbanding terbalik dengan prilaku kebersihan diri. Santri memiliki kebersihan diri yang baik tetapi tidak diimbangin dengan pengetahuan yang baik pula, sehingga mereka menganggap penyakit ini hanya menular kepada individu yang personal hygiene nya buruk saja, tanpa mengetahui penyebab yang lain yang dapat menularkan penyakit ini seperti tidur dalam satu tempat tidur, saling meminjam peralatan pribadi, seperti handuk, sabun.
48
3. Keterbatasan penelitian
Dalam penelitian ini instrumen pengumpulan data yang digunakan adalah kuesioner. Data yang digunakan berdasarkan hasil jawaban responden secara pengisian langsung oleh 26 Santri. Pada penelitian ini terdapat beberapa keterbatasan, diantaranya yaitu:
a. Sumber Data
Data yang diambil merupakan data primer menggunakan kuesioner dengan cara pembagian langsung dan wawancara kepada Santri mengenai pengetahuan akan Scabiosis dan Personal Hygiene. Adapun kelemahan yang mungkin terjadi dalam pengumpulan data ini adalah:
1) Kemungkinan terjadi bias jawaban karena pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan kuesioner bukan dengan observasi sehingga kemungkinan responden mengikuti jawaban responden lain.
2) Untuk besar masalah Scabiosis, hanya bisa memperoleh data kejadian Scabiosis Santri. Karena hanya berdasarkan dari diagnosa klinis(gejalah yang sering dialami), bukan diagnosa dokter atau hasil laboratorium.
49
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti dapat disimpulkan bahwa:
1. Distribusi frekuensi Personal hygiene mayoritas Santri termasuk kedalam kategori Baik dengan persentase sebanyak (57,7%).
2. Distribusi frekuensi Pengetahuan Santri mayoritas termasuk kedalam kategori Kurang dengan persentase sebanyak (50,0%).
3. Tidak ada hubungan bermakna antara Personal hygiene dengan kejadian Scabiosis di Pondok Pesantren Baitussalam Simpang Mangga Kabupaten Simalungun dengan nilai p= 0,658.
4. Ada hubungan bermakna antara Pengetahuan dengan terjadinya Scabiosis di Pondok Pesantren Baitussalam Simpang Mangga Kabupaten Simalungun dengan nilai p= 0,001.
B. Saran
1. Bagi Kepala Yayasan
Disarankan untuk melaksanakan pendataan kesehatan secara aktif dan rutin tiap tahunnya, memberi peraturan tertulis tentang kebersihan, serta memberi sangsi bagi yang melanggar. Untuk Santri yang telah mengalami Scabiosis, dilakukan pengobatan dan Sterilisasi secara serentak. Dan mendatangkan tim kesehatan untuk memberikan penyuluhan terkait dengan Scabiosis.
2. Bagi Peneliti Selanjutnya
a. Disarankan agar dapat menentukan besar masalah Scabiosis melalui diagnosa dokter dan uji laboratorium.
b. Disarankan pada saat pengumpulan data menggunakan alat ukur berupa Observasi.
50
3. Bagi Perawat Puskesmas
Disarankan agar memberikan penyuluhan terkait dengan penyakit Scabiosisdi Pondok Pesantren Baitussalam.
DAFTAR PUSTAKA
Abedin S, Narang M, Grandhi V, Shiva Narang S. (2007). Efficacy of permethrin cream and oral ivermectin in treatment of scabies. Indian journal of Pediatrics.
Oct;74(10):915-6.
Alaudhah, Nelly, dkk. (2009). Faktor Resiko Skabies Pada Siswa Pondok Pesantren ( Kajian Di Pondok Darul Hijrah, Kelurahan Cindai Alus, Kecamatan Martapura, Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan). Jurnal Basuki. Vol. 4, no. 1
Andayani, L, S. 2005. Perilaku santri dalam upaya pencegahan penyakit scabies di pondok pesantren ulumul qur’an stabat. Info kesehatan masyarakat. Vol. IX, Nomor 3, Desember 2005. Halaman 33-38.
Asra, Hajrin Pajri. (2010). Pengaruh Pengetahuan Dan Tindakan Hygiene Pribadi Terhadap Kejadian Skabies Di Pondok Pesantren Ar-Raudhatul Hasanah Medan.
Fakultas Kedokteran. Skripsi, Universitas Sumatera Utara, Medan
Azwar, A. (1995). Pengantar Ilmu Kesehatan Lingkungan. Jakarta: Pt Mutiara Sumber Widya
Badri, Mohammad. 2007. Hygiene perseorangan Santri Pondok Pesantren Wali Songo Ngabar Ponorogo. Artikel Media Litbang Kesehatan Volume XVII Nomor 2 Tahun 2007.
Baur, dkk. (2013). The Pattern Of Dermatological Disorders Among Patients Attending The Skin O.P.D of A Tertiary Care Hospital In Kolkata, India. Journal Of Dental And Medical Sciences 3, 1-6
Brown , dkk. (2002). Lecture Notes Dermatologi. Edisi ke-8. Jakarta: Penerbit Erlangga. Pp:42-47
Burkhart CG. (1983) Scabies: an epidemiologic reassessment. Ann Intern Med.
Catatan Medik UPF Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo 1988-1990.
Dinas Kesehatan Kabupaten Simalungun. (2013). Profil kesehatan Kabupaten Simalungun 2013.
Dinas Kesehatan Kota Padang. (2010). Profil Kesehatan Kota Padang 2010
Dinas Kesehatan Prop Sumber. (2010). Profil Kesehatan Propinsi Sumatera Barat 2010
Djunda, A. (2007). Ilmu Penyakit kulit dan Kelamin. Edisi Kelima. Cetakan kedua.
Jakarta: FKUI.
Falk ES, Thorsby E. (1981). HLA antigens in patients with scabies. BJR.;104:317-20.
Faust, Beaver, Jung. (1973).Animal agent and vector of human disease. Philadelphia:
lea and febiger,
Frenki. (2011). Hubungan Personal Hygiene Santri Dengan Kejadian Penyakit Kulit Infeksi Skabies dan Tinjauan Sanitasi lingkungan Pesantren Darel Hikmah Kota Pekanbaru Tahun 2011. Skripsi, USU.
Gandahusada,dkk. (2000). Parasitologi Kedokteran. Edisi ketiga. FKUI. jakarta.
Greenberg, B. (2000). Forensic entomologi case studie. Bull entomol;45:55-81.
Grorden, Lavopierre. (1972). Entomology for students of medicine. Oxford and edinburgh: blackwell scientific publications;
Haeri, Ummul. (2011). Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Scabies di Pondok Pesantren Darul Huffadh Diwilayah Kerja Puskesmas Kajuara Kab.Bone. Makasar: Fakultas Kesehatan Nanin Hasanuddin Makasar.
Handoko, R. (2007). Ilmu Penyakit Kulit Dan Kelamin. Edisi Kelima. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 1123-125
Harahap M. (1987). Penyakit Kulit dan Kelamin di Indonesia. Maj Kedokt Indo.;37:403-10.
Hartini, Eko. (2013). Hubungan Antara Personal Hygene Perorangan dengan Kejadian Scabies diPondok Pesantrn Raudlatul Muttaqin Mijen Semarang. Semarang:
Fakultas Kesehatan Universitas Dian Nuswantoro.
Hidayat, A. (2010). Konsep Personal Hygene. Yogyakarta: Graha ilmu.
Iskandar. (2000). Masalah Skabies Pada Hewan Dan Manusia Serta Penanggulaangannya. Wartazoa. Vol. 10, No. 1th 2000. Hal 28-34
Isro;in, Laily dkk. (2012) . Personal Hygiene. Yogyakarta: Graha Ilmu Juanda A. (1992). Skabies. Maj Kedokteran Indonesia.;42:261.
Karthikeyan K. (2005) Tretment of scabies: newer perspectives. Prostagrad Med J.;81:7-11.
Khotimah, Ulfatusyifah Husnul. (2013). Hubungan Sanitasi Lingkungan Dan Hygiene Perorangan Dengan Kejadian Skabies Di Pondok Pesantren Al-Bahroniyyah Ngemplak, Mranggen, Kabupaten Demak. Skripsi UNAIR
Kusmarinah, Siti Aisah. Skabies MDVI. 1985;33:20-7.
Kusmarinah, Siti Aisah. Skabies MDVI. 1985;33:20-7.